• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. KERAGAAN PENGELOLAAN DAD CITANDUY PERMASALAHAN

5.1. Pengelolaan pada sumber daya lahan private goods

Secara teoritis terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya erosi, yaitu dari kegiatan pengelolahan lahan (usahatani yang dilakukan masyarakat pada lahan yang dikuasainya (private goods), pengolahan lahan oleh pemerintah (terutama Perhutani) pada lahan hutan produksi (public/commons goods) di daerah aliran sungai, terjadinya bencana alam, serta erosi alami karena hujan. Dari berbagai faktor penyebab tersebut tercatat bahwa total erosi yang dibawa DAS Citanduy sekitar 5 juta m³ setiap tahunnya. Hal ini tampak jelas bahwa hampir semua anak sungai pada DAS Citanduy selalu keruh hampir sepanjang tahun, kecuali sekitar 2 bulan pada saat musim kemarau. Erosi yang demikian tinggi tersebut sebagai besar mengendap berupa lumpur di muara Sungai Citanduy, yaitu kawasan Segara Anakan. Akhirnya luas bagian yang menggenangi air perairan di kawasan Segara Anakan pun semakin tahun semakin menyempit. Menurut PWS Citanduy-Ciwulan (2005), pada tahun 1903 luas perairan Segara Anakan tercatat masih 6.450 Ha, pada tahun 1992 tinggal 1.800 Ha, tahun 2000 menjadi 1.200 Ha dan data terakhir 2004 catat tinggal sekitar 600 ha saja.

Ketiga faktor penyebab terjadinya erosi, diduga aktivitas masyarakat di sekitar DAS merupakan penyebab utama. Yang disebut aktivitas masyarakat ini dapat dibagi menjadi aktivitas masyarakat desa secara sendiri-sendiri di lahan usahanya dan aktivitas pembangunan proyek infrastruktur dari berbagai institusi pemerintah atau swasta. sebagai contohnya, pada tahun 1996 terjadi pembukaan areal (jalan dan pengeboran) di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dengan Garut dalam rangka proyek gas alam.

Menurut masyarakat Desa Citamba, Tasikmalaya yang berbatasan dengan kegiatan proyek tersebut, kegiatan ini telah menjadi sumber erosi yang relatif besar pada saat itu karena membelah gunung dan menebangi pohon kayu yang ditanami di lahan Perhutani.

Pengelolaan sumberdaya lahan oleh masyarakat desa dipengaruhi oleh institusi maupun pola-pola kelembagaan yang berlaku di masyarakat. Pola kelembagaan yang dimaksud antara lain pola penguasaan lahan oleh masyarakat, berupa sewa-menyewa atau sistem bagi hasil.

Kelembagaan kelembagaan seperti ini berhubungan dengan sistem pengelolaan sumber daya air. Pola bagi hasil yang terdapat di masyarakat lebih banyak

22 | P a g e berlaku di lahan sawah dibanding lahan kering dan pembagiannya pun umumnya adalah dibagi dua kadang hujan pun bisa membawa bencana dan perasaan juga sering kali jika terluka (maro). Pola ini tampaknya saling menguntungkan antara pemilik dan penggarap, dimana pemilik biasanya turut membantu menyediakan bibit sampai pupuk. Setelah panen maka biaya bibit dan pupuk tersebut dikeluarkan dan sisanya baru dibagi dua titik dulunya biaya saprodi ditanggung oleh penggarap namun sejak masa krisis ekonomi dimana biaya produksi khususnya pupuk meningkat tajam, maka bagian penggarap jauh berkurang. Akhirnya sistem bagi hasil tersebut mengalami penyesuaian, dimana biaya-biaya saprodi menjadi tanggung jawab bersama.

Walaupun secara umum, kegiatan bagi hasil hanya memberi manfaat yang sedikit kepada penggarap karena sangat terbatasnya lahan yang diolah, namun demikian kegiatan ini tetap dilakukan karena keterbatasannya alternatif usaha di desa (terpaksa). Demikian juga dengan langkah yang harus dilakukan untuk meminimalisasi kerugian atau biaya hampir tidak ada, misalnya meningkatkan intensitas pertanaman menjadi 3 kali hampir tidak bisa karena keterbatasan air.

Akhirnya kegiatan tanam hanya didapat dilakukan dua kali, kecuali sebagai tempat saja.

Sementara itu, sementara itu pola bagi hasil di lahan kering memberikan keuntungan yang jauh lebih rendah dibandingkan lahan sawah. Penting hal ini dikarenakan produktivitas lahan kering lebih rendah dibanding lahan sawah.

Perkiraan semula bahwa salah satu penyebab tingginya erosi adalah lahan masyarakat karena pola bagi hasil yang tidak seimbang, sehingga menyebabkan penggarap mengoptimalkan pengusahaannya menjadi tidak terbukti. Apalagi kelembagaan bagi hasil sendiri tidak terlalu banyak di desa karena memang lahannya sendiri yang sudah demikian terbatas.

Di samping erosi, yang juga menjadi masalah besar dalam pengelolaan daerah aliran sungai adalah berkurangnya atau rusaknya daerah tangkapan air (catchment area) di bagian Hulu. Wilayah-wilayah yang dimaksud adalah dataran tinggi yang sebagian besarnya berada di Tasikmalaya Ciamis dan sebagian kecil Banjar dan Cilacap. Karena jumlah penduduk yang makin banyak, maka daerah terbangun meningkat, demikian juga karena tekanan ekonomi, maka daerah-daerah yang tingkat kemiringannya tinggi pun terpaksa digarap. Disamping itu kayu-kayu yang telah berumur tua yang notabene nya banyak menyimpan air semakin berkurang, ditebangi karena memiliki nilai jual yang tinggi. Tidak hanya kayu, pohon enau pun ikut ditebangi masyarakat karena laku dijual sebagai sumber sagu. Kondisi inilah yang menyebabkan ketersediaan air di hulu otomatis menjadi berkurang terutama pada musim kemarau. sementara pada saat musim hujan,

23 | P a g e aliran permukaan (run off) menjadi lebih besar yang sekaligus membawa erosi.

Menurut masyarakat desa, pada saat musim hujan akan menyebabkan selokan dan mata air meluap dan sekitar dua-tiga hari kemudian sudah surut kembali seperti semula.

Hal yang luput dari perhatian adalah pola pengelolaan kolam yang dilakukan masyarakat. Di samping memberi manfaat yang besar sebagai salah satu andalan usaha yang memberi pendapat bagi masyarakat, ternyata kolam juga menyumbang erosi yang besar, diduga melebihi erosi yang disebabkan oleh pengelolaan saat mempersiapkan lahan di pertanian sawah. Diperkirakan minimal 1 kali setahun setiap kolam dikeringkan untuk diambil hasilnya. Saat membedah kolam tersebut banyak penduduk menggelontorkan endapan lumpur yang ada di kolamnya tanpa pernah memikirkan bagaimana akibatnya di hilir.

Untuk ke depan, dan hal seperti ini juga perlu jadi perhatian.

Dari berbagai kondisi pengelolaan sumberdaya alam di lahan masyarakat tersebut tampaknya sangat kurang dukungan kelembagaan yang dimiliki bersama, apalagi kelembagaan di tingkat desa dan yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya air tampaknya relatif sedikit. Kurangnya intensif ekonomi menjadi salah satu penyebab ketidakkontinuan keberadaan lembaga tersebut di masyarakat. Untuk itu beberapa institusi yang masih ditemui dan perlu pembenahannya antara lain:

1. Petani dan kelompok tani.

Petani secara individu dan kelompok tani secara kolektif dikembangkan fungsi dan perannya sebagai subjek kegiatan, mereka menjadi perencana, pelaksana, pengawas dan evaluator di tingkat lapangan.

2. Lembaga konservasi desa

Lembaga ini setingkat desa yang berfungsi sebagai lembaga koordinasi dan konsultasi kegiatan konservasi. LDK ini terdiri dari komponen petani, perwakilan kelompok tani dan lembaga ekonomi lain sebagai Mitra.

3. Kemitraan Industri Kayu dan petani

Fakta menunjukkan bahwa industri penggergajian kayu memberikan nilai tambah tersendiri bagi perkembangan ekonomi desa, namun disisi lain intensitas penebangan kayu yang cukup tinggi merupakan kekhawatiran tersendiri bagi kelestarian hutan, lahan dan air.

Untuk itu konsep kerjasama diusulkan:

a. Dibentuk dan dikembangkan ikatan kemitraan antara petani atau kelompok tani dengan industri penggergajian.

24 | P a g e b. Industri penggergajian berkewajiban menyediakan sarana pengembangan

kegiatan hutan rakyat dalam bentuk penyediaan bibit tanaman tahunan terutama kayu-kayuan, buah-buahan dan sarana pendukung lainnya.

c. Petani berkewajiban menjual kayu kepada industri penggergajian sebagai mitra usaha dengan harga yang sesuai dengan mekanisme pasar.

Dokumen terkait