• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pusat Studi Pembangunan-Institut Pertanian Bogor bekerjasama dengan Partnership for Governance Reform in Indonesia-UNDP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pusat Studi Pembangunan-Institut Pertanian Bogor bekerjasama dengan Partnership for Governance Reform in Indonesia-UNDP"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

ENVIRONMENTAL GOVERNANCE PARTNERSHIP SYSTEM PROYEK STUDI-AKSI SISTEM TATA-PEMERINTAHAN LINGKUNGAN BERMITRA

Project Working Paper Series No. 07 DESENTRALISASI DAN SISTEM PENGELOLAAN

SUMBERDAYA ALAM DAS CITANDUY:

Pendekatan Ekonomi Kelembagaan

Yeti Lis Purnamadewi dan Dahri Tanjung

Edisi ke-2 September 2021

Pusat Studi Pembangunan-Institut Pertanian Bogor

bekerjasama dengan

Partnership for Governance Reform in Indonesia-UNDP

(2)

ISBN: 979-8637-20-8

Project Working Paper Series No. 07 DESENTRALISASI DAN SISTEM PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAS CITANDUY:

Pendekatan Ekonomi Kelembagaan

Yeti Lis Purnamadewi dan Dahri Tanjung

Edisi ke-2 September 2021

Pusat Studi Pembangunan-Institut Pertanian Bogor

bekerjasama dengan

Partnership for Governance Reform in Indonesia-UNDP

(3)

i | P a g e

KATA PENGANTAR EDISI KEDUA

Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu sistem ekologi yang tersusun atas komponen-komponen biofisik dan sosial (human systems) yang hendaknya dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah satu sama lain. Namun secara administratif pemerintahan, wilayah DAS habis terbagi dalam satuan wilayah administrasi pembangunan kabupaten dan kota yang sangat terkotak- kotak. Kondisi ini menyebabkan penanganan DAS menjadi tersekat-sekat dan sangat tidak efisien. Banyak program pemerintah yang dilakukan untuk menyelamatkan kondisi DAS dari kerusakan lingkungan yang semakin hari justru semakin bertambah sulit diatasi. Pernyataan ini juga seringkali memicu dan mempertajam konflik sosial antara stakeholder yang ada di dalamnya.

Terlebih setelah UU No. 22/1999 dan 25/1999 mengenai otonomi daerah yang diberlakukan. Jarak kepentingan antar daerah administratif semakin terasa sementara derajat tekanan terhadap sumberdaya DAS semakin kuat. Akibatnya pengelolaan terhadap DAS juga semakin terpecah-pecah dan dilakukan sangat segmented menurut kepentingan masing-masing pemangku otoritas wilayah administratif yang dilalui DAS tersebut. Akibat kelemahan integritas (kesatuan) penanganan DAS di setiap wilayah administrasi menyebabkan penanganan kerusakan sumber daya alam memasuki wilayah politik administrasi organisasional yang sulit penanganannya.

Citanduy merupakan salah satu dari 22 DAS yang tergolong kritis dan menghadapi masalah krisis-ekologi (erosi dan sedimentasi serta bahaya banjir) yang serius di Indonesia. Berkenaan dengan itu, Pusat Studi Pembangunan, Institut Pertanian Bogor didukung oleh Partnership for Governance Reform in Indonesia - UNDP tahun 2004/2005 melakukan studi-aksi "Desentralisasi Pengelolaan dan Sistem Tata-Pamong Sumberdaya Alam (Decentralized Natural Resources Management and Governance System) DAS Citanduy" dengan mengedepankan konsep Environmental Governance Partnership System (EGPS) atau sistem tata pemerintahan lingkungan bermitra (STLB). Kegiatan ini mencoba menemukan sistem pengelolaan DAS secara bersama-sama (multipihak/- multistakeholders) dengan pendekatan partisipatif. Empat prinsip yang hendak ditegakkan pada konsep Tata-sumberdaya alam bermitra, adalah: (1) prinsip berkelanjutan (sustainability), (2) partisipasi; (3) kemitraan (Partnership); dan (4) desentralisasi. Tulisan ini merupakan bagian dari kegiatan besar tersebut.

Uraikan kondisi pengelolaan kawasan dengan pendekatan ekonomi kelembagaan. Dari kajian yang dilakukan ditemukan beberapa institusi atau kelembagaan yang berkaitan dengan pengelolaan DAS Citanduy, baik di aras

(4)

ii | P a g e lokal maupun regional. Namun keberadaan institusi tersebut masih kurang efektif untuk mengurangi terjadinya kerusakan ekologi di kawasan DAS. Faktor utama penyebab ketidakefektifan tersebut adalah kurangnya koordinasi antara stakeholder dan Pemerintah kabupaten/kota terkesan melakukan pengelolaan sesuai "gayanya" sendiri-sendiri terutama setelah era otonomi daerah. Penulis menyarankan membentuk institusi sebagai pengelolaan DAS secara bersama.

Penulis menyadari berbagai kelemahan bagian tulisan ini untuk itu berbagai saran dan kritik diharapkan untuk perbaikannya ke depan. Semoga ini memberi manfaat.

Terimakasih

Penulis

(5)

iii | P a g e

DAFTAR ISI

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang dan Permasalahan... 1

1.2. Tujuan dan Keguanaan ... 2

1.3. Ruang Lingkup ... 3

BAB II. KERANGKA PEMIKIRAN ... 4

BAB III. METODE PENELITIAN ... 8

3.1. Arah Kegiatan ... 8

3.2. Lokasi penelitian ... 8

3.3. Rancangan Penelitian... 9

3.4. Jenis dan sumber data... 9

3.5. Kerangka Analisis ... 10

BAB IV. KERAGAAN UMUM KAWASAN DAS CITANDUY ... 13

4.1. Keragaan Lokasi ... 13

4.2. Kondisi Masyarakat ... 14

4.3. Sumber Pendapatan Petani ... 17

BAB V. KERAGAAN PENGELOLAAN DAD CITANDUY PERMASALAHAN KELEMBAGAAN ... 21

5.1. Pengelolaan pada sumber daya lahan private goods ... 21

5.2. Pengelolaan pada Sumberdaya Lahan Public Goods ... 24

5.3. Kondisi Kelembagaan ... 25

5.4. Lembaga yang terlibat dalam Pengelolaan DAS Citanduy ... 28

BAB VI. KONSEP MODEL PENGELOLAAN DAS SECARA BERSAMA... 31

6.1. Tujuan institusi pengelolaan DAS ... 31

6.2. Pembentukan Institusi Pengelolaan DAS ... 32

BAB VII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 34

7.1. Kesimpulan ... 34

7.2. Rekomendasi ... 35

(6)

1 | P a g e

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang dan Permasalahan

Pengolahan sumberdaya alam yang sifatnya barang publik (common proverty) seringkali menghadapi beberapa masalah karena sumberdaya tersebut cenderung dieksploitasi bahkan secara berlebihan (over-exploitation). Kondisi pengolahan seperti ini umumnya menimbulkan terjadinya inefisiensi dalam alokasi. Dalam kaitannya dengan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy kenyataan dan beberapa hasil penelitian menunjukan telah terjadi kerusakan ekologi. Bahkan menurut data yang diperoleh bahwa DAS Citanduy termasuk salah satu DAS yang kritis dan masuk kelompok prioritas di Indonesia. Indikator kerusakan yang terjadi antara lain berkurangnya ketersediaan air pada musim kemarau dan sebaliknya terjadi banjir pada musim hujan. Disamping itu kawasan Segara Anakan di wilayah hilir sudah semakin berkurang karena sedimentasi yang dibawa sungai-sungai dari hulu wilayah DAS Citanduy demikian besar, yaitu sekitar 1 juta m³ yang diendapkan setiap tahun (PWS Citanduy-Ciwulan, 2005).

Berbagai kegiatan dalam upaya perbaikan sistem pengelolaan DAS tersebut telah dilakukan, namun laju erosi tampaknya tetap tinggi. Dengan demikian beberapa pertanyaan pokok yang muncul adalah, bagaimanakah krisis ekologi di DAS Citanduy dapat diatasi atau paling tidak direduksi melaui pola pengelolaan sumberdaya alam yang partisipatif-kolaboratif. Bagaimanakah bentuk tata- penglolaan sumber daya alam (natural resource management regime and governance system) di tingkat bergam cluster ekosistem lokal seyogianya dibangun? Apakah pola-pola kelembagaan pengelolaan sumberdaya alam berbasis kekuatan lokal atau community-based natural resources management system layak dikembangkan?

Dalam hal apa kelembagaan tersebut bisa tumbuh dan dalam hal apa pertumbuhannya terkendala?

Sebagaimana diketahui bersama, tantangan terbesar dalam pengelolaan sumberdaya alam bersama (common pool resources – CPR) seperti kawasan DAS Citanduy, adalah “bermainnya” kekuatan dan kebebasan individu-individu di setiap komunitas lokal, untuk melakukan penguasaan terhdap CPR (yang juga bersifat sebagai open access resources) yang makin besar. Pengusaan dan pemanfaatan sumberdaya akan mengarah pada pengrusakan bila tidak disertai dukungan kelembagaan (rule of the game) yang memadai. Akibatnya, kecenderungan berlangsungnya konflik agraria dan tumpang tindih klaim serta berlangsungnya fenomena tragedi bersama (“the tragedy of the commons”), akan

(7)

2 | P a g e makin besar peluangnya untuk muncul ke permukaan. Ditambah dengah lemahnya sistem-sistem kelembagaan lokal asli (indigenous institutional arrangement system), maka proses perusakan sumberdaya milik bersama CPR akan makin serius berlangsung.

Salah satu alternatif pemecahnya adalah melakukan koordinasi antar stakeholders atau resources users untuk mencapai suatu kesepakatan dalam pengelolaan sda tersebut. Hanya saja, konsekuensi dari pengembangan koordinasi ini adalah timbulnya biaya yang disebut “transactation cost” (biaya untuk pelaksanaan koordinasi, biaya monitoring dan evaluasi) serta kemungkinan adanya

“opportunistic behavour”.

Disamping itu kerusakan sumberdaya alam akan makin serius, bila memperhatikan kenyataan adanya pertambahan penduduk yang makin mempersempit ruang gerak kehidupan komunitas lokal (local community livelihoods system). Dalam arti lain, terdaoat kaitan yang sangat erat antara kemiskinan (poverty) dan kerusakan alam. Hal ini berarti bahwa, upaya pelestarian alam dan pengamanan sumberdaya alam (natural resources security) akan sia-sia tanpa menangani masalah kemiskinan secara tuntas.

Di masa otonomi daerah, persoalan ketegangan sosial dan konflik (kepentingan) antar pihak/komunitas akan terus meningkat Sejak diberlakukanya Undang-undang Otonomi Daerah No 22/1999 dan UU No 25/1999, persoalan otoritas pengelolaan (termasuk pendanaan pengelolaan) sumberdaya alam CPR memiliki dimensi persoalan baru (dimensi politik otonomi daerah). Dikhawatirkan dengan adanya otonomi derah ini pengelolaan DAS bukannya bertambah baik akan tetapi justru bertambah parah karena kemungkinan koordinasi akan semakin sulit sehingga akan menimbulkan biaya transaksi yang semakin besar dan peluang untuk timbulnya opportunistic behavour juga semakin besar.

Oleh karena itu, tantangannya adalah ditemukannya inovasi dan bentuk rancangan sistem pengelolaan (institutional arrangement on natural resources management) dan governance system of CPR, yang diharapkan dapat mengatasi persoalan di atas.

1.2. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan umum kegiatan “Desentralisasi Pengelolaan dan Sistem Tata- pemerintahan Sumberdaya Alam Daerah Aliran Sungai Citanduy” dalam perspektif kelembagaan adalah mengkaji peran sistem kelembagaan yang mewadahi beragam kepentingan di tingkat lokal/regional dalam tata- pengelolaan CPR dan menerapkan model yang efektif untuk menjamin

(8)

3 | P a g e keberlanjutan sistem sosial-ekonomi dan ekologi ekosistem lokal. Secara khusus tujuan yang ingin dicapai, adalah:

1. Identifikasi sistem pengelolaan SDA yang dilandasi oleh pola-pola kelembagaan yang berkembang di masyarakat.

2. Menganalisis aturan/kebijakan formal yang berkaitan dengan pengelolaan SDA Citanduy

3. Merancang model pengelolaan SDA DAS Citanduy secara bersama yang lebih efisien dan berkelanjutan dengan berlandaskan kepada biaya transaksi yang lebih rendah antar kelembagaan birokrasi pemerintah dengan organisasi sosial masyarakat.

Working paper ini diharapkan mampu memberi masukan kepada stakeholder dalam pembentukan suatu lembaga baik berupa dewan atau forum yang disepakati bersama oleh stakeholder dalam rangka pengelolaan sumberdaya alam DAS Citanduy yang berkelanjutan.

1.3. Ruang Lingkup

Cakupan wilayah kegiatan ini meliputi seluruh kabupaten-kota di Kawasan DAS Citanduy, yaitu Kabupaten-Kota Tasikmalaya di bagian (zona) hulu, Ciamis dan Kota Banjar di zona tengah dan Kabupaten Cilacap di Jawa Tengah sebagai zona hilir.

Penekanan kegiatan difokuskan kepada berbagai faktor yang terkait dengan sistem pengelolaan DAS Citanduy terutama setelah era OTDA yang dipandang dari aspek ekonomi kelembagaan. Institusi atau norma yang dikaji antara lain yang berkembang di tingkat masyarakat selama ini, peraturan yang berlaku di tingkat daerah kabupaten-kota serta institusi tingkat provinsi.

(9)

4 | P a g e

BAB II. KERANGKA PEMIKIRAN

Fakta menunjukan bahwa pengelolaan DAS Citanduy belum dilakukan secara maksimal. Indikator yang tampak jelas adalah terjadi pendangkalan Segara Anakan di hilir, kekeringan pada musim kemarau dan banjir pada musin hujan di sebagian zona tengah dan hilir. Indikator di hulu adalah makin banyaknya daerah tandus seta kurang terpelihara (diduga karena tingkat kesuburannya sudah berkurang), makin banyaknya hutan gundul (kritis) sera makin berkurangnya ketersediaan air baik untuk pertanian maupun keperluan rumah tangga.

Sementara pengelolaan DAS dikatakan baik apabila segala usaha yang dilakukan untuk memelihara kualitas dan kuantitas air sungai dan kawasannya telah memberi hasil. Hasil tersebut tercermin dari kualitas air yang aman untuk digunakan pada berbagai kepentingan kehidupan secara langsung maupun tidak langsung serta kuantitas yang mencukupi untuk keperluan tersebutbaik di musim penghujan maupun di musim kemarau.

Tinjauan dari aspek ekonomi kelembagaan akan mengarah kepaada menganalisis kaitan kelembagaan yang berlaku di wilayah DAS dan perubahan kelembagaan yang terjadi sehingga mengancam sustainability dari pengelolaan DAS tersebut.

Disamping itu dengan diterapkannya OTDA, maka kolaborasi apa yang bisa dilakukan antar Pemda di Kawasan DAS Citanduy sehingga pengelolaan DAS tersebut saling menguntungkan sejak di wilayah hulu sampai di wilayah hilir.

Pendekatan ekonomi kelembagaan sendiri merupakan pendekatan yang relatif baru dalam studi sistem ekonomi yang oleh Eggertsson (1992) disebut dengan Neo Institutional Economics. Pendekatan ini didasarkan pada atau lebih tepatnya sebagai kritik terhadap teori ekonomi klasik yang merupakan pemikiran Adam Smith, terutama terhadap asumsi-asumsinya yang tidak berkesesuaian dengan kodisi riil. Menurut Nirwana Fallacy, setiap yang menyimpang dari pasar bersaing sempurna atau perfect competition market adalah tidak efisien.

Dalam teori ekonomi klasik, apabila asumsi dapat terpenuhi maka pertukaran dapat dilakukan tanpa biaya transaksi (transaction cost) yang berarti terjadi economic efficiency. Sebaliknya pada kondisi yang umumnya terjadi yakni asumsi- asumsi dari teori ekonomi klasik tersebut tidak terpenuhi atau apa yang dikenal dengan imperfect competition market yang berarti costly information, maka terjadi positive transaction cost. Pada kondisi imperfect competition dan asimetri information, dapat menimbulkan ketidakpastian dan ketidakpastian yang tinggi akan menciptakan peluang bagi munculnya perilaku opportunistik (opportunistic behavour) yang pada akhirnya menciptakan moral hazard.

(10)

5 | P a g e Transaction cost didefinisikan sebagai biaya-biaya yang muncul ketika seseorang melakukan pertukaran hak milik (ownership rights) atas aset-aset ekonomi tersebut (Eggertson, 1992). Pada situasi dimana pertukaran memerlukan biaya transaksi, apalagi dengan nilai yang cukup besar maka diperlukan cara alternatif untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan ekonomi. Dalam hal ini suatu lembaga (institutions) diharapkan hadir dalam upaya untuk meminimalkan biaya transaksi tersebut. Fungsi dasar dari suatu lembaga adalah (1) memfasilitasi kerjasama diantara orang-orang, (2) melindungi hak otonomi individu, dan (3) mencegah dan memecahkan konflik yang mungkin terjadi dalam kerjasama.

Institutions atau lembaga didefinisikan sebagai aturan-aturan, norma-norma dan bentuk-bentuk consensus sosial lainya yang sifatnya kokoh yang mengatur prilaku individu. Aturan-aturan tersebut dibuat untuk menghambat kemungkinan munculnya prilaku oportunistik dan sewenang-wenang dalam interaksi kehidupan manusia. Hal senada yang dikemukakan pleh North (1999), bahwa institutions adalah aturan main dalam suatu masyarakat atau secara lebih formal adalah hambatan-hambatan yang direncanakan secara manusiawi yang membentuk interaksi dalam kehidupan manusia. Jadi seperti yang dikemukakan oleh Hutagaol (2003) bahwa suatu lembaga dapat disertai atau berbentuk organisasi dan sistem, dan bisa juga tanpa organisasi, atau tanpa sistem. Dalam hal ini North (1999), menegaskan bahwa terdapat perbedaan yang krusial antara lembaga dengan organisasi dimana suatu organisasi dibentuk dengan secara sengaja sebagai konsekuensi terhadap kesempatan yang dihasilkan dari adanya hambatan-hambatan dan tentu saja usaha-usaha untuk menyempurnakan tujuan merupakan tugas utama dari perubahan yang sifatnya institutional. Sementara masih menurut North, institutional are a creationof human beings dimana institutions mempengaruhi keragaan perekonomian melalui pengaruhnya terhadap biaya pertukaran dan produksi.

Hal yang senada tentang kelembagaan juga dikemukakan oleh Rachbini (2001) dimana kelembagaan merupakan suatu aturan yang dikenal dan diikuti dengan baik oleh anggota masyarakat. Kelembagaan ini memberi dorongan ataupun hambatan bagi individu dan anggota masyarakat dalam bertindak. Sementara menurut Syahyuti (2003), kelembagaan lebih kurang sama dengan organisasi formal1, yaitu memiliki kesadaran dengan jenis yang sama, adanya hubungan sosial dan memiliki orientasi pada tujuan yang ditentukan.

Suatu lembaga yang efektif akan mampu memprediksi perilaku dari pihak-pihak yang melakukan kerja sama karena adanya lembaga tersebut ketidakpastian menjadi berkurang. Adanya kemampuan dalam memprediksi perilaku tersebut

(11)

6 | P a g e selanjutnya akan menimbulkan adanya kepercayaan atau saling percaya dari masing-masing pihak yang artinya timbul rasa aman diantara pihak yang bekerja sama sehingga akhirnya kerjasama yang terjadi menjadi lebih produktif. Adapun kriteria dasar dari suatu lembaga yang efektif adalah: (1) mudah difahami atau harus sesederhana mungkin, (2) “fair” atau bersifat “adil”, (3) relative stabil sepanjang waktu, dan (4) “enforced”atau aturan diberlakukan.

Dalam tinjauan ekonomi kelembagaan ini eksistensi kelembagaan (inititutions) yang ada dapat memberi penjelasan terhadap mekanisme bekerjanya sistem ekonomi. Dengan mempelajari dan menganalisis lebih dalam institusi, maka persoalan-persoalan kritis di lokasi kajian dapat terdeteksi, sehingga kebijakan yang diambil lebih mendasar dan lebih mengarah pada akar permasalahan.

Kerusakan DAS pada dasarnya disebabkan oleh berbagai faktor. Antara lain karena kesalahan dalam pemanfaatan sumberdaya, yang baik secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan ketersediaan air Sungai Citanduy.

Kesalahan dalam pengelolaan tersebut sebagian besar disebabkan oleh perilaku semua pihak yang memanfaatkan sumberdaya tersebut. Dalam hal ini, perilaku seseorang pada dasarnya diatur oleh suatu norma atau aturan baik yang bersifat formal maupun non formal dan baik bersifat lokal maupun regional. Seharusnya dengan adanya norma-norma yang menjadi pegangan bersama tersebut mampu meninimalkan transaction cost atau memelihara kondisi DAS yang baik. Norma tersebut akan berjalan dengan baik jika merupakan keinginan bersama (common prenference) dari berbagai pihak terkait. Oleh karena itu, penting untuk mempelajari sejauh mana kelembagaan (norma, aturan baik yang bersifat organisasi formal maupun non formal) mampu menjaga perilaku masyarakat yang peduli (aware) terhadap DAS.

Jika kelembagaan yang ada lemah atau bahkan tidak ada pembangunan kelembagaan yang memadai, maka dapat dipastikan kondisi ini berimplikasi terhadap kelemahan sistem ekonomi itu sendiri. Sebalikanya jika kelembagaan yang ada cukup kuat untuk mendukung sistem ekonomi, maka sistem ekonomi tersebut akan lebih kuat dan perkembangannya akan cukup prospektif. Dalam konteks ekonomi kelembagaan ini, institusi merupakan tulang punggung dari sistem.

Untuk itu akan disinggung biaya-biaya transaksi yang bisa dihemat bila organisasi konservasi berbasiskan masyarakat dapat ditumbuhkan menggantikan birokrasi yang berbasiskan dana public/APBN/APBD. Selanjutnya dibandingkan juga tentang aktivitas-aktivitas konservasi sumberdaya alam mana yang lebih efisien antara biokrasi pemerintah atau organisasi kemasyarakatan (community

(12)

7 | P a g e based natural resourse management system sebagai pengganti bureaucracy based natural resources management system).

Kerangka berfikir diatas dapat diringkas dalam bagan berikut ini.

Gambar 1. Kerangka Berfikir Pengelolaan DAS Citanduy

Kondisi Existing DAS Citanduy

Pengelolaan Sumberdaya Privat Goods

Identifikasi Masalah

Analisis Masalah

Rumusan Model Kelembagaan

Pengelolaan Sumberdaya Common/Public Goods

(13)

8 | P a g e

BAB III. METODE PENELITIAN

3.1. Arah Kegiatan

Studi-aksi yang dilakukan mengarah kepada kegiatan menginventarisasi, memetakan, dan selanjutnya merancang-bangun sistem tata-pemerintahan sumberdaya alam dan lingkungan berbasiskan pada potensi sosio-ekologi ekonomi dan budaya lokal. Pengembangan sistem pengelolaan dan tata- pemerintahan sumber daya alam dan lingkungan dibangun berdasarkan asas atau prinsip-prinsip kemitraan (partnership), pelibatan multipihak perencanaan hingga evaluasi keputusan kebijakan lingkungan partisipatif-kolaboratif serta berideologikan berkelanjutan (sustainability). Ideologi berkelanjutan mengarahkan setiap keputusan untuk memenuhi tiga prinsip sekaligus, yaitu: (1) secara ekonomi menguntungkan, (2) secara ekologis dapat dipertanggungjawabkan, dan (3) secara Sosio-budaya diterima oleh sistem norma dan kepercayaan masyarakat. Beberapa 'kerumitan sistemik ' yang dihadapi oleh studi-aksi ini dan perlu diperhitungkan secara cermat adalah bahwa kesatuan wilayah administratif di kawasan DAS Citanduy tidak selalu sama dengan kesatuan ekologi sistem DAS secara keseluruhan. Kawasan ekosistem DAS Citanduy terbagi kedalam beberapa wilayah administratif kabupaten/kota yang di setiap wilayah administratif tersebut dijalankan pola pengelolaan dan tata-pemerintah sumber daya alam dan lingkungan yang khas dan berbeda. Bahkan pada setiap satuan komunitas, sistem pengelolaan pun sangat khas dan bisa berbeda sekalipun komunitas tersebut bertetangga. Dengan kondisi demikian, maka potensi konflik kepentingan sangat besar dan sangat mungkin untuk meletupkan konflik agraria terbuka yang kontra-produktif. Penguatan semangat ego-regional sejak bergulirnya Undang-Undang 22/1999 dan politik desentralisasi, membuat koordinasi dan kerjasama penanganan pengelolaan ekologi DAS dan sumber daya alam di kawasan tersebut justru memasuki tahap kesulitan baru yang tak mudah dikendalikan. Tantangannya adalah menemukan formulasi/bentuk kolaborasi antara pemerintah Kabupaten/Kota yang kolaboratif yang bersandarkan pada semangat saling memahami posisi masing-masing pihak. Konflik kepentingan dan konflik aspirasi inilah tantangan bersama sistem pengelolaan dan pengelolaan dan tata-pemerintahan sumberdaya alam dan lingkungan DAS Citanduy di masa depan.

3.2. Lokasi penelitian

Secara umum kegiatan ini meliputi seluruh kawasan DAS Citanduy, yaitu Kabupaten Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar dan Kabupaten

(14)

9 | P a g e Cilacap. Untuk kegiatan pengumpulan data primer, di masing-masing daerah kabupaten kota dipilih secara sengaja (purposive) satu sampai dua kecamatan dan masing-masing kecamatan ditentukan masing-masing satu desa. Secara lengkap data lokasi kegiatan ditampilkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Titik Lokasi Studi dan Kriteria Lokasi Studi

Zona Kabupaten Kritis, Padat, Miskin Makmur, tidak kritis, padat Hulu Kota Tasikmalaya Kota Tasikmalaya -

Tasikmalaya Desa Citamba, Kecamatan Ciawi

-

Tengah Ciamis Desa Margajaya, Kec.

Pamarican

Desa Payung Agung, Kec.

Panumbangan Banjar Desa Batu Lawang, Kec.

Pataruman

- Hilir Cilacap Desa Jeruk Legi Kulon,

Kec. Jeruk Legi

Desa Bingkeng, Kec.

Dayeuhluhur

Dasar yang digunakan untuk pemilihan lokasi penelitian lebih ditekankan kepada kondisi tingkat kemiskinan, kondisi agraris, kerentanan ekologis/kekritisan ekologis pada suatu desa yang mewakili wilayah bagian hulu, tengah dan hilir.

3.3. Rancangan Penelitian

Instrumen penilaian dengan metode survey menggunakan kuesioner rancang untuk memperoleh data primer kuantitatif dari sumber primer. Unit sasaran untuk memperoleh data tersebut adalah responden dari berbagai lembaga yang tumbuh dan terkait dengan DAS, yang dipilih secara random-proporsional berdasarkan jenis lembaga. Sedangkan data kualitatif diperoleh dengan menggunakan metode-metode partisipatif, seperti menggunakan wawancara mendalam, pengamatan, dan focus group discussion (FGD) yang unit sasarannya adalah informan yang dipilih menggunakan snowballing technique.

3.4. Jenis dan sumber data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dan menjadi bagian pokok dari instrumen meliputi data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dari pada responden petani, diantaranya adalah tentang:

a. Karakteristik petani b. Informasi lahan

(15)

10 | P a g e c. Data pendapatan petani dari berbagai sumber

d. Informasi kelembagaan di tingkat lokal (kelembagaan koperasi, kelompok tani, bagi hasil sewa-menyewa, lembaga pengelolaan sungai, dan lain-lain)

e. Biaya biaya transaksi (transaction cost) dalam environmental governance Partnership system (EGPS)-oriented common pool resources (CPR)

f. Hak pemilikan sumber daya, masalah kelangkaan dan evolusi kelembagaan dalam pengelolaan SDA

g. Environment-competitive advantage for CPR

h. Lembaga and yang efisien secara ekonomi dalam CPR

i. Type of behavior and economically-driven rationality of collective action.

Sementara data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait atau hasil penelitian, lain di antaranya adalah:

a. Data tentang kawasan DAS Citanduy

b. Data tentang kondisi pemanfaatan lahan, tingkat erosi lahan, tingkat sedimentasi, debit air dan lainnya

c. Informasi kelembagaan di tingkat pemerintah yang berkaitan dengan pengelolaan SDA, seperti aturan atau kebijakan merupakan SK Bupati, Perda, dan lain-lain.

3.5. Kerangka Analisis

Beberapa tahapan penelitian yang akan diterapkan dalam kegiatan ini adalah:

Identifikasi kelembagaan

Dalam kegiatan ini akan digali informasi yang berkaitan dengan aspek kelembagaan yang berkembang di wilayah DAS Citanduy. Kelembagaan ini terdiri dari kelembagaan sosial maupun kelembagaan ekonomi. Demikian juga kelembagaan tersebut mulai dari formal sampai non formal (norma adat) serta meliputi Aras pemerintah dan masyarakat.

Kegiatan pada aspek ekonomi kelembagaan adalah yang berkaitan dengan:

a. Sustainability dan Partnership

1. Identifikasi kelembagaan pemerintah berupa kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pengelolaan DAS.

(16)

11 | P a g e 2. Identifikasi kelembagaan masyarakat lokal baik yang berbentuk organisasi

maupun nilai-nilai atau norma yang berlaku dalam masyarakat dan berkaitan dengan pengelolaan DAS.

3. Identifikasi aturan yang berlaku dari setiap kelembagaan/norma, apakah aturan tersebut merupakan common preference dari semua stake holder. Bila merupaka common prenference, maka ditunjukan sebagai suatu collective action oleh masyarakat.

4. Identifikasi proses pembentukan aturan atau norma, Apakah semua stakeholder dilibatkan dalam proses pembuatan aturan tersebut,

5. Apakah norma atau aturan yang ditetapkan dalam kelembagaan tersebut dilaksanakan sebagaimana mestinya

b. Economically profitable: Koperasi, kelompok tani dan kebijakan ekonomi

c. Ecologically sound: farming system, gotong royong, sistem bagi hasil, sistem penguasaan lahan, kebijakan-kebijakan pengelolaan DAS, OTDA

d. Sosio culturally acceptable: Upacara/selamatan panen dan sumber air.

Pendekatan kegiatan pendekatan yang dilakukan dalam mengkaji sistem pengelolaan DAS Citanduy dalam era ekonomi daerah ini adalah dengan kombinasi antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Metode penilaian menggunakan pendekatan kuantitatif adalah metode survey, sedangkan dengan pendekatan kualitatif adalah dengan metode evaluasi partisipatif (participatory evaluation).

(17)

12 | P a g e Gambar 2. Kerangka Pendekatan Kegiatan

Tujuan

1. Identifikasi pengelolaan DAS Citanduy 2. Analisis institusi dan aturan yang berlaku 3. Konsep model pengelolaan DAS secara

bersama

1. Kelembagaan yang berlaku 2. Norma/aturan yang digunakan 3. Kerusakan lahan

Responden masyarakat di Kawasan DAS Citanduy, key informant, lembaga-lembaga

pemerintah

Data primer tentang kelembagaan/norma yang hidup dalam masyarakat dan data sekunder tentang

aturan/kelembagaan yang dibuat pemerintah

1. Statistik Sederhana 2. Deskriptif Kualitatif

1. Deskripsi ekonomi kelembagaan yang berperan dalam kehidupan masyarakat dan yang berkaitan dengan pengelolaan SDA DAS Citanduy

2. Konsep Model Institusi bersama dalam mengelola DAS Citanduy

Interpretasi Hasil Analisis

SOLUSI

MODEL KELEMBAGAAN PENGELOLAAN DAS YANG BERKELANJUTAN Variabel

Sumber Data

Jenis Data

Analisis

Output

(18)

13 | P a g e

BAB IV. KERAGAAN UMUM KAWASAN DAS CITANDUY

4.1. Keragaan Lokasi

Daerah aliran sungai (DAS) Citanduy termasuk DAS yang melintasi dua provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Daerah kabupaten/kota yang termasuk daerah aliran sungai (DAS) Citanduy meliputi Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, sebagian kecil Kabupaten Kuningan, Garut dan Majalengka di Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Cilacap di Provinsi Jawa Tengah. Luas kawasan DAS tersebut sekitar 352.080 Ha yang terbagi ke dalam beberapa sub DAS, yaitu subDAS Citanduy Hulu, Cimuntur, Ciseel, Cijolang, Cikawung, dan sub DAS Segara Anakan (Gambar 3 dan Gambar 4).

Dengan membagi kawasan DAS Citanduy menjadi 3 bagian (Hulu, Tengah dan Hilir), maka akan tampak bahwa bagian hulu lebih bergunung-gunung dan melandai sampai ke hilir. Curah hujan tahunan di wilayah hulu sedikit tinggi (3000-5000 mm) dibanding Tengah dan Hilir (2500-4000 mm). Kepadatan penduduk antara ketiga zona tersebut juga relatif beda jauh, yaitu wilayah Hulu (Tasikmalaya 617 jiwa Km²) dan wilayah Tengah (Ciamis 620 jiwa/ km²) dan wilayah Hilir (Cilacap 793 jiwa/ km²).

Gambar 3. Letak dan Pembagian Sub DAS Citanduy

Dari perbandingan data satelit landsat 1991 dan 2013 serta kondisi lapangan tampak bahwa kawasan daerah aliran Sungai Citanduy beserta sub DAS yang membentuknya lebih hijau dengan daerah tutupan tanaman yang lebih luas.

Namun kondisi air yang mengalir di semua sub DAS tersebut hampir selalu keruh

(19)

14 | P a g e sepanjang tahun. Kekeruhan makin meningkat terutama di musim hujan akibat gerusan hujan ditambah dengan dimulainya musim mengolah lahan sawah.

Luas total: 352.080 Ha

Gambar 4. Luas masing-masing SubDAS di Citanduy (%)

4.2. Kondisi Masyarakat

Apabila kondisi masyarakat di kawasan DAS Citanduy ditelaah secara lebih dalam, yaitu dari kegiatan survey lapang diperoleh hasil bahwa rata-rata kepala keluarga memiliki umur sekitar 51 tahun. Apabila dibagi per zona, maka responden yang berada di zona Hilir, Desa Jeruk legi Kulon dan Bingkeng, Kabupaten Cilacap memiliki umur diatas rata-rata. Sementara yang dibawah rata- rata adalah Desa Margajaya di Kabupaten Ciamis dan Desa Ditamba di Kabupaten Tasikmalaya. Yang berkaitan dengan tingkat pendidikan, tampak pada Tabel 2 bahwa secara umum, masyarakat di kawasan DAS Citanduy berpendidikan setingkat SD (70, 7%) dan SLTP (14,5%). Namun demikian masih ada juga yang tidak sekolah, seperti di Desa Margajaya, Batulawang (Kota Banjar -zona Tengah) dan Bingkeng yang umumnya mereka adalah penduduk yang sudah berusia lanjut. Rata-rata jumlah anggota keluarga di seluruh desa penelitian sebanyak 3 orang, yang terdiri dari dua anak dan seorang istri. Relatif rendahnya anggota keluarga di pedesaan tersebut karena yang dihitung sebagai anak hanyalah yang masih menjadi tanggungan kepala keluarga. Seperti umumnya ciri pedesaan di Indonesia, ketergantungan penduduk terhadap pertanian sampai sekarang masih sangat tinggi. Demikian juga dengan kondisi di wilayah pedesaan sekitar kawasan DAS Citanduy, jenis pekerjaan kepala keluarga yang utama adalah petani (72,9%).

Disamping itu kegiatan wiraswasta seperti berdagang juga memiliki peran yang

0 5 10 15 20 25 30

1 Citanduy Hulu 2 Cimuntur 3 Cijolang 4 Ciseel 5 Cikawung

%

Subdas

(20)

15 | P a g e makin penting, Selain sebagai pekerja utama juga pekerjaan sampingan kepala keluarga (Tabel 3). pekerjaan di bidang pertanian, baik sebagai petani maupun Buruh Tani, paling banyak dilakukan oleh masyarakat di wilayah Hulu (Desa Citamba, Tasikmalaya maupun Desa Payung Agung Ciamis bagian Hulu).

Sementara di zona Hilir (Desa Jeruk legi Kulon dan Bingkeng), pekerjaan sebagai petani relatif paling kecil dibanding desa lain. Sehingga pekerjaan lain-lain memiliki porsi yang relatif besar, yaitu usaha pengolahan gula dari pohon enau atau kelapa. Bila ditelaah lebih lanjut keragaan rumah tangga penduduk desa, tampak bahwa rata-rata kepala keluarga menekuni pekerjaan utama mereka sudah relatif lama (25 tahun). Namun demikian sebagai penduduk mengalami perubahan pekerjaan baik pekerjaan utama maupun sampingan. Selanjutnya sebanyak 66% penduduk yang mengalami perubahan pekerjaan diluar pertanian sebelumnya mengerjakan pekerjaan yang terkait dengan pertanian.

Tabel 2. Peragaan Rumah tangga Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan

No Wilayah Usia KK

(thn) Pendidikan

Anggota Kabupaten/Kota/

dan Desa

Tidak sekolah

SD SLP SLA PT (org)

1. Tasikmalaya:

Citamba-Ciawi

49 3,33 63,33 16,67 6,67 6,67 3

2. Ciamis:

Payung Agung- Panumbangan

52 3,45 93,10 0,00 0,00 0,00 3

3. Margajaya- Pamarican

50 0,00 86,67 6,67 0,00 0,00 3

4. Banjar:

Batulawang

51 0,00 68,18 18,18 9,09 4,55 3

5. Cilacap:

Jeruk Legi Kulon

52 3,45 65,52 13,79 17,24 0,00 3

6. Bingkeng-Dayeuh Luhur

55 0,00 47,37 31,58 10,53 0,00 3

Rataan 51 1,7 70,7 14,5 7,3 1,9 3

Sumber: Data Primer, Tahun 2004

Tabel 3. Titik Keragaan Rumah tangga Responden berdasarkan Pekerjaannya

(21)

16 | P a g e

No Wilayah Pekerjaan Utama (%) Pekerjaan Sampingan (%)

Kabupaten/Ko- ta/ dan Desa

Peta- ni

Buruh tani

Wiras- wasta

PNS Lain Peta- ni

Buruh tani

Wiras wata

Lain Tidak ada 1. Tasikmalaya:

Citamba-Ciawi

74,07 14,81 3,70 3,70 3,70 13,33 33,33 20,00 10,00 23,33 2. Ciamis:

Payung Agung- Panumbangan

89,66 0,00 3,45 0,00 6,90 3,45 34,48 24,14 0,00 37,93

Margajaya- Pamarican

80,00 6,67 6,67 6,67 0,00 13,33 13,33 33,33 0,00 40,00 3. Banjar:

Batulawang

72,73 4,55 4,55 4,55 13,64 29,41 0,00 17,65 5,88 47,06 4. Cilacap:

Jeruk Legi

62,07 0,00 17,24 0,00 20,69 23,33 0,00 13,33 16,67 46,67 Bingkeng-

Dayeuh Luhur

58,82 0,00 5,88 5,88 29,41 35,29 5,88 5,88 5,88 47,06 Rataan 72,90 4,30 6,90 3,50 11,40 19,70 14,50 19,10 5,80 40,30 Sumber: Data Primer, Tahun 2004

Luas lahan. Tabel 4 menunjukkan bahwa rata-rata luas penguasaan lahan sebesar 1,11 ha yang umumnya merupakan lahan kering (71,2%) dan sisanya (28,8%) berupa lahan sawah. Sementara dibandingkan antara lahan milik dengan lahan garapan, maka sebagian besar merupakan lahan milik (90,54%) dan lahan garapan sekitar 9,46%. dari beberapa desa yang diteliti, maka desa yang paling sedikit kepemilikan lahan nya adalah Desa Citamba, Kabupaten Tasikmalaya, yaitu lahan sawah maupun lahan kering masing-masing kurang dari 200 Bata². Sementara pemilikan lahan terluas terdapat di Desa Margajaya Kabupaten Ciamis (1,42 ha) dan Batulawang Kota Banjar, yaitu 1,3 ha.

Tabel 4. Luas Penguasaan Lahan (Ha)

No Wilayah Milik Sendiri Garapan Total

Kabupaten/Kota/ dan Desa Sawah Tegalan Sawah Tegalan Kuasai

1. Tasikmalaya: Citamba-Ciawi 0,23 0,21 0,03 0,02 0,49

2. Ciamis:

Payung Agung-Panumbangan 0,22 0,80 0,03 0,02 1,08

Margajaya-Pamarican 0,36 1,06 0,00 0,00 1,42

3. Banjar: Batulawang 0,40 0,90 0,00 0,17 1,46

4. Cilacap:

Jeruk Legi 0,19 0,80 0,04 0,13 1,16

Bingkeng-Dayeuh Luhur 0,26 0,60 0,15 0,03 1,04

Rataan 0,28 0,73 0,04 0,06 1,11

Sumber: Data Primer, Tahun 2004

(22)

17 | P a g e Berdasarkan Tabel 4, tampak bahwa peranan lahan kering atau tegalan relatif besar. Hal ini ditunjukkan oleh luas lahan tegalan yang jauh lebih besar dibandingkan lahan sawah baik lahan milik sendiri maupun lahan garapan, kecuali di Desa Citamba. Selanjutnya ditinjau dari cara perolehan lahan menunjukkan bahwa sebagian besar lahan yang dimiliki penduduk diperoleh dari warisan suami (41,1%). Selain itu relatif banyak responden yang memperoleh lahannya dari berbagai sumber (31%), yaitu sebagian dari warisan dan bagian dari hasil membeli. Sementara yang sumbernya khusus dari membeli lahan ada sebanyak 24,4%. Dari Tabel 5 di bawah juga tampak bahwa sumber perolehan lahan dari warisan istri relatif kecil, bahkan untuk zona Hilir kawasan DAS Citanduy (Desa Bengkeng dan Jeruk legi Kulon) hampir tidak ada. Penduduk desa yang memperoleh lahan dari warisan suami paling banyak di Desa Payung Agung Kabupaten Ciamis, serta yang perolehan lahannya dari membeli paling banyak di Desa Jeruklegi Kulon Kabupaten Cilacap. Penduduk Jeruklegi Kulon sebagian besar merupakan pendatang dari Banyumas dan Gunung Kidul yang membeli lahan usaha di Jeruk legi Kulon sekitar tahun 60-an karena adanya program landreform (pembatasan pemilikan lahan).

Tabel 5. Cara Perolehan Lahan

No Kabupaten/Kota/ dan Desa Warisan suami

Warisan istri

Beli Kombinasi

1. Tasikmalaya: Citamba-Ciawi 50,00 3,57 10,71 35,71

2. Ciamis: Payung Agung- Panumbangan

67,86 10,71 21,43 0,00

Margajaya-Pamarican 26,67 6,67 26,67 40,00

3. Banjar:

Batulawang

36,36 0,00 22,73 40,91

4. Cilacap:

Jeruk Legi-Jeruk Legi

21,43 0,00 53,57 25,00

Bingkeng-Dayeuh Luhur 44,44 0,00 11,11 44,44

Rataan 41,1 3,5 24,4 31,0

Sumber: Data Primer, Tahun 2004

4.3. Sumber Pendapatan Petani

Berdasarkan luas pemilik lahan yang diuraikan di atas dapat dibandingkan sumber pendapatan masyarakatnya Gambar 4 (sumber: Sinaga/White, 1979) mencoba menunjukkan pengaruh luas dan distribusi penguasaan tanah serta ragam sumber nafkah atas distribusi pendapatan. Segitiga berwarna abu-abu menunjukkan distribusi luas tanah di antara petani di mana yang tak bertanah tak

(23)

18 | P a g e termasuk segitiga itu. Di sebelah kanan digambarkan distribusi pendapatan dan sumber-sumber pendapatan, ada yang dari usaha tani "berdasar lahan" dan dari potensi bukan lahan (misalnya: usaha ayam berteknologi "batere") dan dari usaha luar pertanian. Gambar 5 ini menunjukkan kasus desa di mana dari 3 sumber pendapatan itu, rumah tangga dengan luas tanah lebih yang selalu unggul.

Sebaliknya rumah tangga tanpa tanah memperoleh pendapatan terkecil, bahkan tergolong rumah tangga defisit bila dibandingkan tingkat pendapatan "biaya hidup" sebagai patokan titik pada gambar tersebut petani tanah terluas mempunyai pendapatan dari usahatani yang melebihi biaya hidup.

Gambar 5. Luas dan Distribusi Penguasaan Tanah terhadap Sumber dan Distribusi Pendapatan

Bisa disimpulkan, di pedesaan Jawa Barat khususnya di kawasan DAS Citanduy di wilayah sawah padi yang padat penduduk, tanpa peluang suatu re-distribusi tanah (reforma agraria) peluang di luar pertanian (sering di luar desa sendiri) yang membuka peluang lebih meningkatkan pendapat dan mengatasi kemiskinan. Hal ini tampak dari alternatif usaha anggota masyarakat desa yang di dalam Desa maupun di luar Desa titik jenis pekerjaan sebagai anggota masyarakat di dalam desa yang relatif baru adalah pekerjaan yang terkait dengan industri perkayuan, baik sebagai pengangkut kayu maupun pemotong. Industri perkayuan banyak berkembang di dalam desa karena ketersediaannya potensi kayu industri (yang utama adalah Sengon dan Mahoni) serta pasar yang terbuka lebar. Hampir semua bagian kayu yang ditebang dapat dimanfaatkan, yaitu kayu utamanya dipotong-

(24)

19 | P a g e potong untuk kebutuhan industri atau bahan furniture serta kayu sisa dijual ke Jatiwangi, Cirebon sebagai bahan bakar industri genting. Pekerjaan di luar desa baik di kota-kota sekitar Jawa Barat maupun Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi sangat membantu perekonomian masyarakat desa. Mengenai jenis pekerjaan tersebut umumnya adalah sektor informal seperti berdagang makanan, industri kerupuk, pekerja bangunan atau kredit barang kebutuhan rumah tangga, karena dengan SDM dan modal yang terbatas, maka usaha-usaha tersebut yang mudah untuk dimasuki. Hal ini juga menunjukkan bahwa tingkat migrasi penduduk desa relatif besar. Sirkulasi penduduk tersebut didukung oleh banyaknya jalur kendaraan umum sebagai alat transportasi ke kota-kota tujuan.

Selanjutnya apabila kondisi keragaan desa-desa penelitian dibandingkan, maka secara umum dapat dikategorikan menjadi dua bagian besar, yaitu Desa Makmur (outstanding) dan desa miskin. Dari analisis yang dilakukan di lapangan tampak bahwa suatu desa menjadi miskin salah satunya karena jumlah penduduk yang relatif padat sementara alternatif sumber ekonomi terbatas. Misalnya Desa Payung Agung, Kabupaten Ciamis yang bila dibandingkan dengan Desa Citamba, Tasikmalaya yang jaraknya relatif dekat dengan kondisi topografinya relatif sama, akan kelihatan perbedaan yang mencolok, Desa Payung Agung lebih makmur, pengelolaan lahannya lebih baik, tanaman kayu-kayuannya lebih banyak, sehingga air kebutuhan pertanian maupun rumah tangga pun tersedia sepanjang tahun. Sumber mata pencaharian yang terdapat di desa tersebut selain yang berbasis lahan ( bertani dan kolam ikan) juga pertanian berbasis non lahan ( ternak ayam "batere") banyak memberi andil kepada masyarakat.

Sementara di Desa Citamba, sebagian besar wilayahnya merupakan lahan sawah lahan kering, perumahan, sedikit kolam ikan dan hampir tidak ada peternakan apalagi usaha memelihara ternak ayam batere. Karena kebutuhan lahan pertanian yang terus meningkat, maka penduduk Citamba menanam lahan keringnya dengan tanaman semusim ( padi ladang, cabe dan lain-lain). Padahal Jika ditinjau dari kemiringannya dan posisinya yang persis membatasi desa dengan lahan Perhutani, seharusnya lahan kering tersebut dijadikan kebun rakyat dengan tanaman utama kayu-kayuan yang sekaligus berfungsi sebagai catchment area (daerah tangkapan). Namun karena keterbatasan sumber ekonomi menyebabkan masyarakat secara sadar untuk mengusahakan lahan kering tersebut menjadi tanaman semusim. Karena keterbatasan sumber ekonomi juga menyebabkan keinginan menebang kayu lebih tinggi, sampai-sampai kayu muda yang belum cukup umur pun ingin ditebang untuk menutupi kebutuhan. Akibatnya tampak bahwa pada saat kemarau sebagian sawah dan kolam di tambah menjadi kering dan air kebutuhan rumah tangga menjadi sangat terbatas. Pada musim kemarau masyarakat harus menyisihkan waktu untuk mengatur dan membagi air secara

(25)

20 | P a g e bergilir. Demikian juga dengan desa-desa lain, faktor kepadatan penduduk dan ketersediaannya berbagai alternatif usaha sangat berpengaruh performa kelestarian lingkungan alamnya. Dengan semakin meningkat kesejahteraan masyarakat, diduga tingkat kesadarannya untuk menjaga lingkungan pun menjadi semakin tinggi.

(26)

21 | P a g e

BAB V. KERAGAAN PENGELOLAAN DAD CITANDUY PERMASALAHAN KELEMBAGAAN

5.1. Pengelolaan pada sumber daya lahan private goods

Secara teoritis terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya erosi, yaitu dari kegiatan pengelolahan lahan (usahatani yang dilakukan masyarakat pada lahan yang dikuasainya (private goods), pengolahan lahan oleh pemerintah (terutama Perhutani) pada lahan hutan produksi (public/commons goods) di daerah aliran sungai, terjadinya bencana alam, serta erosi alami karena hujan. Dari berbagai faktor penyebab tersebut tercatat bahwa total erosi yang dibawa DAS Citanduy sekitar 5 juta m³ setiap tahunnya. Hal ini tampak jelas bahwa hampir semua anak sungai pada DAS Citanduy selalu keruh hampir sepanjang tahun, kecuali sekitar 2 bulan pada saat musim kemarau. Erosi yang demikian tinggi tersebut sebagai besar mengendap berupa lumpur di muara Sungai Citanduy, yaitu kawasan Segara Anakan. Akhirnya luas bagian yang menggenangi air perairan di kawasan Segara Anakan pun semakin tahun semakin menyempit. Menurut PWS Citanduy-Ciwulan (2005), pada tahun 1903 luas perairan Segara Anakan tercatat masih 6.450 Ha, pada tahun 1992 tinggal 1.800 Ha, tahun 2000 menjadi 1.200 Ha dan data terakhir 2004 catat tinggal sekitar 600 ha saja.

Ketiga faktor penyebab terjadinya erosi, diduga aktivitas masyarakat di sekitar DAS merupakan penyebab utama. Yang disebut aktivitas masyarakat ini dapat dibagi menjadi aktivitas masyarakat desa secara sendiri-sendiri di lahan usahanya dan aktivitas pembangunan proyek infrastruktur dari berbagai institusi pemerintah atau swasta. sebagai contohnya, pada tahun 1996 terjadi pembukaan areal (jalan dan pengeboran) di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dengan Garut dalam rangka proyek gas alam.

Menurut masyarakat Desa Citamba, Tasikmalaya yang berbatasan dengan kegiatan proyek tersebut, kegiatan ini telah menjadi sumber erosi yang relatif besar pada saat itu karena membelah gunung dan menebangi pohon kayu yang ditanami di lahan Perhutani.

Pengelolaan sumberdaya lahan oleh masyarakat desa dipengaruhi oleh institusi maupun pola-pola kelembagaan yang berlaku di masyarakat. Pola kelembagaan yang dimaksud antara lain pola penguasaan lahan oleh masyarakat, berupa sewa- menyewa atau sistem bagi hasil.

Kelembagaan kelembagaan seperti ini berhubungan dengan sistem pengelolaan sumber daya air. Pola bagi hasil yang terdapat di masyarakat lebih banyak

(27)

22 | P a g e berlaku di lahan sawah dibanding lahan kering dan pembagiannya pun umumnya adalah dibagi dua kadang hujan pun bisa membawa bencana dan perasaan juga sering kali jika terluka (maro). Pola ini tampaknya saling menguntungkan antara pemilik dan penggarap, dimana pemilik biasanya turut membantu menyediakan bibit sampai pupuk. Setelah panen maka biaya bibit dan pupuk tersebut dikeluarkan dan sisanya baru dibagi dua titik dulunya biaya saprodi ditanggung oleh penggarap namun sejak masa krisis ekonomi dimana biaya produksi khususnya pupuk meningkat tajam, maka bagian penggarap jauh berkurang. Akhirnya sistem bagi hasil tersebut mengalami penyesuaian, dimana biaya-biaya saprodi menjadi tanggung jawab bersama.

Walaupun secara umum, kegiatan bagi hasil hanya memberi manfaat yang sedikit kepada penggarap karena sangat terbatasnya lahan yang diolah, namun demikian kegiatan ini tetap dilakukan karena keterbatasannya alternatif usaha di desa (terpaksa). Demikian juga dengan langkah yang harus dilakukan untuk meminimalisasi kerugian atau biaya hampir tidak ada, misalnya meningkatkan intensitas pertanaman menjadi 3 kali hampir tidak bisa karena keterbatasan air.

Akhirnya kegiatan tanam hanya didapat dilakukan dua kali, kecuali sebagai tempat saja.

Sementara itu, sementara itu pola bagi hasil di lahan kering memberikan keuntungan yang jauh lebih rendah dibandingkan lahan sawah. Penting hal ini dikarenakan produktivitas lahan kering lebih rendah dibanding lahan sawah.

Perkiraan semula bahwa salah satu penyebab tingginya erosi adalah lahan masyarakat karena pola bagi hasil yang tidak seimbang, sehingga menyebabkan penggarap mengoptimalkan pengusahaannya menjadi tidak terbukti. Apalagi kelembagaan bagi hasil sendiri tidak terlalu banyak di desa karena memang lahannya sendiri yang sudah demikian terbatas.

Di samping erosi, yang juga menjadi masalah besar dalam pengelolaan daerah aliran sungai adalah berkurangnya atau rusaknya daerah tangkapan air (catchment area) di bagian Hulu. Wilayah-wilayah yang dimaksud adalah dataran tinggi yang sebagian besarnya berada di Tasikmalaya Ciamis dan sebagian kecil Banjar dan Cilacap. Karena jumlah penduduk yang makin banyak, maka daerah terbangun meningkat, demikian juga karena tekanan ekonomi, maka daerah-daerah yang tingkat kemiringannya tinggi pun terpaksa digarap. Disamping itu kayu-kayu yang telah berumur tua yang notabene nya banyak menyimpan air semakin berkurang, ditebangi karena memiliki nilai jual yang tinggi. Tidak hanya kayu, pohon enau pun ikut ditebangi masyarakat karena laku dijual sebagai sumber sagu. Kondisi inilah yang menyebabkan ketersediaan air di hulu otomatis menjadi berkurang terutama pada musim kemarau. sementara pada saat musim hujan,

(28)

23 | P a g e aliran permukaan (run off) menjadi lebih besar yang sekaligus membawa erosi.

Menurut masyarakat desa, pada saat musim hujan akan menyebabkan selokan dan mata air meluap dan sekitar dua-tiga hari kemudian sudah surut kembali seperti semula.

Hal yang luput dari perhatian adalah pola pengelolaan kolam yang dilakukan masyarakat. Di samping memberi manfaat yang besar sebagai salah satu andalan usaha yang memberi pendapat bagi masyarakat, ternyata kolam juga menyumbang erosi yang besar, diduga melebihi erosi yang disebabkan oleh pengelolaan saat mempersiapkan lahan di pertanian sawah. Diperkirakan minimal 1 kali setahun setiap kolam dikeringkan untuk diambil hasilnya. Saat membedah kolam tersebut banyak penduduk menggelontorkan endapan lumpur yang ada di kolamnya tanpa pernah memikirkan bagaimana akibatnya di hilir.

Untuk ke depan, dan hal seperti ini juga perlu jadi perhatian.

Dari berbagai kondisi pengelolaan sumberdaya alam di lahan masyarakat tersebut tampaknya sangat kurang dukungan kelembagaan yang dimiliki bersama, apalagi kelembagaan di tingkat desa dan yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya air tampaknya relatif sedikit. Kurangnya intensif ekonomi menjadi salah satu penyebab ketidakkontinuan keberadaan lembaga tersebut di masyarakat. Untuk itu beberapa institusi yang masih ditemui dan perlu pembenahannya antara lain:

1. Petani dan kelompok tani.

Petani secara individu dan kelompok tani secara kolektif dikembangkan fungsi dan perannya sebagai subjek kegiatan, mereka menjadi perencana, pelaksana, pengawas dan evaluator di tingkat lapangan.

2. Lembaga konservasi desa

Lembaga ini setingkat desa yang berfungsi sebagai lembaga koordinasi dan konsultasi kegiatan konservasi. LDK ini terdiri dari komponen petani, perwakilan kelompok tani dan lembaga ekonomi lain sebagai Mitra.

3. Kemitraan Industri Kayu dan petani

Fakta menunjukkan bahwa industri penggergajian kayu memberikan nilai tambah tersendiri bagi perkembangan ekonomi desa, namun disisi lain intensitas penebangan kayu yang cukup tinggi merupakan kekhawatiran tersendiri bagi kelestarian hutan, lahan dan air.

Untuk itu konsep kerjasama diusulkan:

a. Dibentuk dan dikembangkan ikatan kemitraan antara petani atau kelompok tani dengan industri penggergajian.

(29)

24 | P a g e b. Industri penggergajian berkewajiban menyediakan sarana pengembangan

kegiatan hutan rakyat dalam bentuk penyediaan bibit tanaman tahunan terutama kayu-kayuan, buah-buahan dan sarana pendukung lainnya.

c. Petani berkewajiban menjual kayu kepada industri penggergajian sebagai mitra usaha dengan harga yang sesuai dengan mekanisme pasar.

5.2. Pengelolaan pada Sumberdaya Lahan Public Goods

Selain aktivitas masyarakat di lahan usahanya, maka penyebab lain dari rusaknya sumberdaya alam adalah pengelolaan lahan Perhutani. Hutan produksi yang merupakan barang publik (public goods) yang dikelola oleh Perhutani sering bermasalah, seperti terjadinya pencurian kayu, atau penebangan yang dilakukan Perhutani dalam skala yang luas sehingga menyebabkan tingkat erosinya yang cukup tinggi. Karena sistem pemanenan kayu yang dilakukan oleh Perhutani biasanya tebang habis sekaligus karena umurnya sama, akan menyebabkan erosi yang meningkat hujan turun. Saat menunggu tanaman baru tumbuh dibutuhkan waktu sekitar 2-3 tahun dan selama itu pula terjadi erosi yang relatif besar.

Terjadinya erosi makin diperparah oleh kegiatan masyarakat yang melakukan budidaya tanaman berumur pendek (padi ladang palawija dan hortikultura) di lahan bekas tebangan Perhutani masuknya pesanggem terkadang menyalahi aturan/kesepakatan dengan pihak Perhutani. Di beberapa daerah Perhutani yang ditanami masyarakat desa (pesanggem) tampak bahwa proses pembersihan lahan (sebelum ditanami) dilakukan mulai dari puncak sampai ke kaki bukit dan pinggir mata air. Apabila hujan turun akan menyebabkan erosi tanpa ada tanaman yang dapat menahan untuk mengurangi lajunya dan langsung terbawa ke sungai sungai kecil dan selanjutnya ke Citanduy.

Beberapa bukti yang menunjukkan laju erosi yang tinggi adalah kondisi beberapa cek-dam yang dibangun di sekitar hutan Perhutani yang berumur pendek (sekitar 5 tahun) padahal saat dibangun perkirakan umurnya akan mencapai 20 tahunan.

Kasus seperti ini dapat ditemui di Desa Batu lawang, Kecamatan Petaruman.

Cekdam tersebut telah penuh dengan lumpur dan akhirnya dimanfaatkan masyarakat menjadi lahan persawahan. proses pembentukan sawahnya sendiri telah menyebabkan erosi karena menghanyutkan tanah lumpur yang tidak perlu

(30)

25 | P a g e ke mata air yang mengalir (semacam ngaguguntur2). Disamping menjadi sawah ada juga cek-dam yang rusak atau jebol karena tidak kuat menahan banjir.

5.3. Kondisi Kelembagaan

Kelembagaan yang terdapat di tingkat local terdiri dari kelembagaan/organisasi koperasi, kelompok tani dan bagi hasil atau sewa-menyewa lahan. Lembaga koperasi seperti Koperasi Unit Desa (KUD) tampaknya masih kurang memberi peran yang signifikan dalam pengembangan ekonomi masyarakat tani, bahkan saat ini KUD sudah kurang populer dalam menunjang kelembagaan ekonomi di pedesaan.

Mengutip hasil penelitian Purnamadewi (2003), yang menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan KUD sebagai suatu Collective action tidak efektif dalam meningkatkan ekonomi masyarakat, yaitu: 1) tujuan organisasi, 2) ukuran organisasi, 3) struktur organisasi dan keanggotaan, 4) banyaknya fungsi atau kegiatan, dan 5) ideologi.

Suatu organisasi akan efektif sejauh tujuan organisasi tersebut merupakan self- interested atau common interest dari anggota organisasi yang bersangkutan.

Sementara dalam kebanyakan koperasi lebih menonjol peran agen kebijakan nasional atau subjek dari program komprehensif pemerintah. Di samping itu adanya berbagai penyimpangan dan munculnya rent-seeker (pencari rente) oleh orang-orang terdekat koperasi menyebabkan terjadinya conflict of Interest dan sekaligus masalah principal-agency yang pada akhirnya lebih banyak melayani kepentingan para rent-seeker dari pada self-interest anggota koperasi.

Organisasi yang semakin besar akan makin berkurang tingkat efektivitasnya.

Pada kenyataannya sebagian besar KUD berusaha meningkatkan jumlah anggotanya. Dalam keadaan jumlah anggota yang besar maka kontribusi anggota dalam pencapaian mencapai bentuk public good menjadi lebih kecil dibanding jika dalam organisasi yang kecil (Olson, 1972). Sebagian besar petani anggota KUD adalah petani kecil dengan tingkat kemampuan ekonomi dan pendidikan yang relatif rendah. Dengan demikian sulit diharapkan partisipasi mereka untuk mengembangkan KUD. Ditambah lagi bahwa kebanyakan mereka dicirikan dengan pola nafkah ganda dan mereka harus mencari usaha keluar desa.

2 ngaguguntur adalah proses pencetakan sawah dengan membuang tanah yang kurang berguna ke aliran air dan menyebabkan erosi. Tingkat erosi makin tinggi bila proses pencetakan sawah tersebut terjadi dilahan yang miring.

(31)

26 | P a g e Disamping itu banyaknya fungsi-fungsi atau kegiatan yang dilakukan oleh KUD semakin mengurangi efektivitas dalam melayani anggota.

Demikian juga halnya dengan organisasi kelompok tani, semakin hilang di pedesaan, kalaupun ada pada kenyataannya sudah kurang aktif. Apalagi kelompok tani yang berkaitan dengan pengelolaan hutan akan semakin jarang ditemui. Karena kebanyakan pendekatan pembentuknya adalah top-down, yaitu dibentuk dari atas untuk menyalurkan program-program pemerintah, maka kelompok tani tersebut kurang memiliki akar yang kuat untuk terus exist di tengah masyarakat tani.

Transaction cost dengan makin rusaknya kawasan hutan telah menyebabkan ketersediaan air baik untuk pertanian sawah, perikanan darat (kolam) maupun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga menjadi jauh berkurang. Indikator yang jelas kelihatan adalah semakin sulitnya mendapatkan air ketika terjadi musim kemarau. Bila sekitar 10 tahun yang lalu terjadi kemarau selama 3 bulan, air masih relatif tersedia, sementara belakangan ini ketika kemarau Baru berlangsung 2 bulan saja sudah mulai kesulitan air.

Makin sulitnya air yang tersedia telah menyebabkan petani harus mengalokasikan waktu untuk memelihara dan mengurus air, baik untuk keperluan pertanian maupun rumah tangga. Dengan demikian biaya transaksi dalam pengelolaan common pool resources menjadi meningkat. dimana dahulu biaya untuk mengurus air dapat dikatakan sedikit sekali, namun sekarang menjadi sebaliknya.

Selain biaya transaksi yang harus dikeluarkan oleh petani berupa penyediaan waktu, maka pemerintah juga mengeluarkan biaya transaksi yang tidak sedikit berupa biaya untuk melakukan pengerukan sedimentasi di zona Hilir, tepatnya di kawasan Segara Anakan. Kegiatan pengerukan ini terpaksa dilakukan setiap tahun untuk mengurangi pendangkalan yang terjadi akibat tingginya sedimentasi yang dibawa aliran sungai. Data dari PT SAC Nusantara (2004) biaya yang

Kelompok Tani Muktisari di Desa Citamba, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya

Kelompok tani tersebut berdiri sejak lama, dan sudah lama juga tidak berkegiatan. Saat ini karena akan ada kegiatan penanaman bambu dalam program GNRHL, maka kelompok tani tersebut diaktifkan kembali. Ketika sebagian masyarakat yang disebut anggota ditanya tentang keberadaannya dalam kelompok, maka dia sendiri tidak tahu apa kegiatan kelompok dan tidak tahu bahwa dirinya menjadi salah satu anggota.

(32)

27 | P a g e dikeluarkan pemerintah untuk mengeruk sedimen di Segara Anakan sebesar Rp8.300/m³. Apabila ingin mengeruk sedimen sebanyak 1 juta m³ setiap tahun untuk mempertahankan kondisi perairan yang ada, maka biayanya harus dikeluarkan Rp.8,3 Milyar.

Apabila penduduk merasa kesulitan memperoleh air pada musim kemarau, maka pada musim hujan kesulitan yang muncul adalah bagaimana mengelola kelebihan air. Tampaknya hampir setiap tahun wilayah wilayah Hilir Ciamis (Kecamatan Banjarsari) dan Cilacap (Kecamatan Kawunganten dan Sidareja) menjadi langganan banjir yang terkadang sampai menimbulkan kerusakan.

Beberapa areal persawahan penduduk yang terkena banjir telah merusak tanaman dan menyebabkan kerugian karena gagal panen. Dari data Dinas Pertanian dan peternakan Cilacap (2004), akibat bencana banjir tahun 2004 di Kabupaten Cilacap telah menyebabkan kerugian sebesar Rp7.85 Milyar.

Pabrik penggergajian. Sekitar 3 tahun belakangan ini banyak bermunculan pabrik penggergajian kayu di desa-desa sepanjang kawasan DAS Citanduy.

Sementara ditingkat yang lebih tinggi (Kabupaten) juga telah lebih dahulu berdiri pabrik kayu skala besar (di Kabupaten Tasikmalaya Cilacap dan kota Banjar).

Keberadaan pabrik-pabrik penggergajian kayu tersebut telah menjadi salah satu alternatif usaha baru di tingkat desa yang dapat mempekerjakan sebagai anggota masyarakat sebagai tenaga di pabrik, pengangkut (transportasi) dari petani ke pabrik, tengkulak kayu atau buruh pemotong serta pengangkut kayu dari lahan petani ke pinggir jalan. Demikian menariknya usaha penggergajian kayu tersebut sampai-sampai di satu desa saja terdapat tiga sampai empat pabrik penggergajian.

Disamping dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh keberadaan industri penggergajian kayu dari tingkat desa sampai kabupaten/kota tersebut juga menyebabkan dampak negatif. Penebangan kayu meningkat tajam bahkan kayu yang sebenarnya masih tergolong muda juga ditebang masyarakat. Akhirnya pohon-pohon penyerapan air menjadi berkurang dan ketersediaan air menjadi rendah. Saat musim hujan aliran air permukaan menjadi tinggi dan saat kemarau mata air hampir kering. Di samping itu saat musim hujan banyak tanah dan lumpur yang terbawa air sehingga tampak keruh dari hulu hingga Hilir.

Saat ini kayu telah menjadi komoditas yang penting bagi masyarakat di sepanjang kawasan DAS Citanduy. Bila ada kebutuhan yang mendesak maka dengan mudah masyarakat desa dapat menjual kayunya ke tengkulak kayu yang ada di desa.

Bahkan terkadang tengkulak yang mendatangi pemilik untuk menawar kayunya salah satu masalah adalah apabila kegiatan menebang sangat mudah dilakukan masyarakat maka tidak demikian halnya untuk kegiatan penanaman. Dalam

(33)

28 | P a g e masyarakat menebang satu pohon, maka belum tentu akan menggantikannya dengan menanam satu pohon baru. Padahal Untuk tetap menjaga kelestarian alam dan keberadaan tegakan pohon, maka sebaiknya harus menanam lebih dari 10 batang baru.

Kegiatan penebangan yang tidak diimbangi dengan penanaman tampaknya disebabkan oleh beberapa hal seperti ketersediaan bibit yang tidak ada setiap saat di desa mengadakan bibit yang tumbuh alami, kurangnya kesadaran dan menunda-nunda untuk menanam kembali.

5.4. Lembaga yang terlibat dalam Pengelolaan DAS Citanduy 5.4.1. Skala regional

Karena demikian besarnya kerusakan ekologi yang disebabkan oleh cara-cara pengelolaan sumber daya alam yang kurang memperhatikan kaidah konservasi, maka berbagai lembaga memberikan perhatian yang besar. Di kawasan DAS Citanduy beberapa lembaga yang turut terlibat mulai dari skala nasional, regional maupun daerah, pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat. Di tingkat propinsi dikenal Balai pengelolaan daerah aliran sungai (BP DAS) Cimanuk- Citanduy sebagai ganti dari Balai rehabilitas lahan konservasi tanah (BRLKT).

Lembaga ini merupakan unit pelaksana teknis dari Departemen Kehutanan dan berlokasi di tingkat propinsi (Bandung). Tupoksi dari BP-DAS Cimanuk-Citanduy adalah melakukan perencanaan serta monitoring dan evaluasi kegiatan rehabilitasi dan juga konservasi. Sementara pelaksanaan kegiatan teknis di lapangan dilakukan oleh masing-masing Dinas Kehutanan kabupaten/kota sebagai hasil perencanaan dari BP-DAS. Kegiatan sipil teknis yang dilakukan oleh BP DAS antara lain membuat cek-dam atau dam penahan sampai kepada membuat Bendungan dengan ketinggian dibawah sembilan meter.

Disamping itu terdapat proyek induk Wilayah Sungai (PWS) Ciwulan-Citanduy sebagai unit pelaksanaan teknis dari Departemen kimpraswil yang berlokasi di Kota Banjar. Kegiatan Lembaga ini lebih difokuskan kepada sipil teknis di sepanjang DAS Citanduy. Lembaga ini berskala regional antara lain Balai pendayagunaan sumberdaya air (BPSDA) Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan yang berlokasi di Tasikmalaya. BPSDA merupakan pelaksanaan teknis dari dinas pengelolaan sumber daya air Provinsi Jawa Barat. Lembaga ini dibentuk dengan tupoksi yang lebih khusus pada masalah pengaturan perairan antara kabupaten/

kota di kawasan Citanduy.

Secara umum lembaga-lembaga tersebut berjalan dengan baik sesuai dengan tupoksi masing-masing. Demikian juga kondisi di lapangan telah menunjukkan

Gambar

Gambar 1.  Kerangka Berfikir Pengelolaan DAS Citanduy
Tabel 1.  Titik Lokasi Studi dan Kriteria Lokasi Studi
Gambar 3. Letak dan Pembagian Sub DAS Citanduy
Tabel 2. Peragaan Rumah tangga Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan
+4

Referensi

Dokumen terkait

Melihat peluang bisnis di bidang kesehatan di Kabupaten Tangerang, untuk itu maka perlu dilakukan analisis kelayakan bisnis untuk mengetahui kelayakan dari

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah lama penyimpanan telur itik setelah perendaman dalam larutan teh hitam (Camellia sinensis) selama

Jenis Heat Exchanger (HE ) yang akan digunakan dalam desain ini adalah Double pipe Heat Exchanger atau Shell and Tube Heat Exchanger bergantung pada flow area

Masalah sosial budaya terjadi karena adanya kesenjangan antara yang diharapkan dengan realita yang terjadi. Salah satu masalah sosial budaya adalah konflik

Untuk menambahkan beat, Anda dapat COPY beat yang telah dibuat, caranya pilih object selection , lalu klik pada beat drum (area merah gambar 10) dan tekan Ctrl + C

ketebalan yang lebih bagus dari pada umumnya dengan pelapisan permukaan seperti paint films (Hourston, 2010). Istilah plastik dan polimer seringkali dipakai secara

Dengan ini menyatakan bahwa tesis yang saya ajukan dengan judul: Pengaruh Konflik Pekerjaan-Keluarga Terhadap Turnover Intentions dengan Kepuasan Kerja sebagai