1. Moralitas
Moralitas sebagai suatu terma yang menjadi kajian dan terma yang terus diupayakan agar dapat dibangun melalui proses pendidikan, baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Aspek moral menjadi perhatian utama dalam sistem pendidikan di Indonesia, sebagaimana tujuan pendidikan yang terdapat dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003, bahwa tujuan pendidikan nasional yaitu “untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”.
Moral merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk, dalam hal ini Syahidin (2009) mengungkapkan bahwa
“moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu, maka tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi”. Lebih lanjut Syahidin menyatakan bahwa moral sebagai nilai absolut yang terdapat dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh”. Oleh karena itu bahwa penilaian terhadap moral dapat diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral juga sebagai tingkah laku atau perbuatan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa moral sebagai produk dari budaya dan agama, dalam hal ini Azyumardi (1999) mengatakan bahwa “setiap budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun sejak lama. Dalam hal ini moral dapat diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta nasihat”.
Atas dasar dua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembangunan moralitas melalui pendidikan merupakan usaha yang dilakukan secara terencana untuk mengubah sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan peserta didik agar mampu berinteraksi dengan lingkungan masyarakatnya sesuai dengan nilai moral dan kebudayaan masyarakat setempat.
2. Globalisasi
Globalisasi sebagai suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. Dalam hal ini Azyumardi (1999) mengatakan bahwa “globalisasi memengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat”.
Selanjutnya Zainur (2011) mengatakan bahwa“globalisasi sebagai suatu era atau jaman yang ditandai dengan perubahan tatanan kehidupan masyarakat di dunia”. Selanjutnya globalisasi menurut afandi Kusuma (Ikhsan, 2009) yaitu “proses penyebaran unsur-unsur baru khususnya yang menyangkut informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronik”. Globalisasi berarti pula suatu suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa globalisasi adalah suatu proses atau tindakan yang menjadikan sikap universal atau tatanan kehidupan manusia yang universal dan tanpa batas. Globalisasi ini mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari ekonomi, ideologi, politik, sampai teknologi. Pada dasarnya merupakan fenomena yang pasti terjadi. Hal ini disebabkan karena konsekuensi dari kemajuan jaman dan ilmu pengetahuan itu
sendiri. Manusia dituntut untuk saling
berhubungan dan menciptakan hal-hal yang baru, sehingga nantinya bisa membuat manusia itu bertahan hidup (Hendrowibowo, 2007). Oleh karena itu merupakan kemustahilan untuk
menghentikan arus globalisasi atau
menghambatnya. Menghentikan arus
globalisasi sama saja membunuh hasrat kreatifitas manusia dan kodrat manusia yang selalu ingin menciptakan hal yang baru. Namun, bukan berarti kita harus mengikuti arus globalisasi itu secara “mentah”. Kita harus mampu memilih mana dampak positif dan dampak negatif dari globalisasi tersebut.
PEMBAHASAN
Globalisasi memiliki sisi positif dan negatif terhadap pembangunan moralitas suatu bangsa. Disatu sisi, arus globalisasi merupakan harapan yang akan memberikan berbagai kemudahan bagi kehidupan manusia. Namun di sisi yang lain, globalisasi juga memberikan dampak yang sangat merugikan. Dengan perkembangan sektor teknologi dan informasi, manusia tidak lagi harus menunggu waktu, untuk bisa mengakses berbagai informasi dari
seluruh belahan dunia, bahkan yang paling pelosok sekalipun. Kondisi ini menjadikan tidak adanya sekat serta batas yang mampu untuk menghalangi proses transformasi kebudayaan.
John Neisbitt (Azyumardi, 1999), menyebutkan kondisi seperti ini sebagai “gaya hidup global”, yang ditandai dengan berbaurnya budaya antar bangsa, seperti terbangunnya tatacara hidup yang hampir sama, kegemaran yang sama, serta kecenderungan yang sama pula, baik dalam hal makanan, pakaian, hiburan dan setiap aspek kehidupan manusia lainnya. Kenyataan semacam ini, akan membawa implikasi pada hilangnya kepribadian asli (Karakter) suatu bangsa, yang “terpoles” oleh budaya yang cenderung lebih berkuasa. Dalam konteks ini, kebudayaan barat yang telah melangkah jauh dalam bidang industri serta teknologi informasi, menjadi satu-satunya pilihan, sebagai standar modernisasi, yang akan diikuti dan dijadikan kiblat oleh setiap individu. Globalisasi menyebabkan perubahan sosial dan memunculkan nilai-nilai yang bersifat pragmatis, materialistis dan individualistik. Tidak terkecuali, bagi masyarakat Indonesia yang telah memiliki budaya lokal, terpaksa harus menjadikan budaya universal yang dipromosikan oleh kalangan barat sebagai ukuran gaya hidupnya, untuk bisa disebut sebagai masyarakat modern. Disamping itu, sebagai bangsa yang berpenduduk mayoritas muslim, yang telah memiliki acuan suci, yakni Al-Qurán dan hadist, masyarakat Indonesia juga telah menggantikan budaya Islam yang telah mampu mengangkat martabat serta derajat masyarakat jahiliyah Arab dengan budaya yang ditawarkan oleh kalangan barat, yang juga merupakan produk revolusi industri. Dengan kebebasan individu dalam faham barat, telah menjadikan masyarakat muslim melepaskan kontrolnya dari kepercayaan moralitas serta spiritualitas (agama). Berbagai perilaku destruktif, seperti alkohol, seks bebas, aborsi sebagai penyakit sosial yang harus diperangi secara bersama-sama. Sehingga kenyataan ini menjadikan banyak orang yang
tidak lagi mempercayai kemampuan pemerintah, untuk menurunkan angka kriminalitas serta berbagai penyakit sosial lainnya. Gambaran diatas, terlepas dari mana yang paling signifikan, namun kenyatan tersebut, telah menjadikan pendidikan moral serta agama sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi penyakit serta krisis sosial yang ada ditengah masyarakat.
Dalam kontek Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), runtuhnya nilai moralitas serta norma agama dikalangan masyarakat dan para pemimpin bangsa, sebenarnya sangat pantas untuk kita kemukakan kepermukaan, dalam upaya menemukan solusi bagi penyelesaian krisis multidimensional ini. Karena ketidak mampuan bangsa ini bangkit dari keterpurukan, lebih diakibatkan oleh kurangnya kebersamaan serta rasa saling menang dan meraih keuntungan sendiri, diantara setiap elemen bangsa. Kesadaran dari masing-masing individu serta kelompok akan kemaslahatan bersama-lah, yang akan menjadi solusi paling tepat bagi upaya penyembuhan penyakit sosial yang ada.
Dengan demikian, pendidikan moral dan agama, menjadi sangat mutlak bagi terbangunnya tata kehidupan masyarakat yang damai, adil makmur dan bermartabat. Terlebih lagi, dalam konteks kehidupan global yang semakin transparan dan penuh kompetisi, moralitas merupakan benteng agar setiap individu tidak terjerumus dalam prakti kesewenag-wenangan dan ketidak adilan. Oleh karena itu, moral bukan saja bersifat personal, seperti jujur, adil dan bertanggungjawab, akan tetapi juga berdimensi publik, yakni terciptanya etika kolektif, serta kehidupan sosial yang santun. Dengan etika kolektif inilah, akan terbangun etika organisasi yang mengharuskan setiap individu untuk berjalan bersama, menurut landasan etika kolektif tersebut. Namun demikian, pada dasarnya etika publik ini terbentuk dari etika individu, sehingga tidak mungkin akan tercipta etika publik, tanpa adanya kesadaran masing- masing pribadi akan nilai moralitas.
Pendidikan moral merupakan pedoman sangat penting bagi proses belajar mengajar sebagai salah satu antisipasi agar anak-anak didik kita terhindar hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ada. Dikatakan, dengan kuatnya pendidikan moral, akan menciptakan generasi yang bermoral dan berkualitas. Pendidikan moral merupakan pendidikan nilai- nilai luhur yang berakar dari agama, adat- istiadat dan budaya bangsa Indonesia dalam rangka mengembangkan kepribadian supaya menjadi manusia yang baik. Secara umum, ruang lingkup pendidikan moral adalah penanaman dan pengembangan nilai, sikap dan perilaku sesuai nilai-nilai budi pekerti luhur sebagaimana yang termaktum dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di antara nilai-nilai yang perlu ditanamkan adalah sopan santun, berdisiplin, berhati lapang, berhati lembut, beriman dan bertakwa, berkemauan keras, bersahaja, bertanggung jawab, bertenggang rasa, jujur, mandiri, manusiawi, mawas diri, mencintai ilmu, menghargai karya orang lain, rasa kasih sayang, rasa malu, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, semangat kebersamaan, setia, sportif, taat asas, takut bersalah, tawakal, tegas, tekun, tepat janji, terbuka, dan ulet.
Jika anggota masyarakat telah memiliki karakter dengan seperangkat nilai budi pekerti tersebut, diyakini ia telah menjadi manusia yang baik. Dalam hal ini Elmubarok (2009) berkeyakinan bahwa sentral pendidikan nilai adalah keluarga dan lembaga pendidikan. Menurutnya, keluarga dan lembaga pendidikan adalah satu-satunya sistem sosial yang diterima di semua masyarakat, baik yang agamis maupun yang non-agamis. Sebagai lembaga dalam masyarakat, keluarga dan lembaga pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan sosial umat manusia. Para pakar meyakini bahwa keluarga adalah lingkungan pertama dimana jiwa dan raga anak akan mengalami pertumbuhan dan kesempurnaan. Untuk itulah keluarga memainkan peran yang amat mendasar dalam menciptakan kesehatan kepribadian anak dan
remaja. Tentu saja status sosial dan ekonomi keluarga di tengah masyarakat berpengaruh pada pola berpikir dan kebiasaan anak (Budi 2007). Dengan demikian, berdasarkan bentuk dan cara interaksi keluarga dan masyarakat, anak akan memperoleh suasana kehidupan yang lebih baik, atau sebaliknya, akan memperoleh efek yang buruk darinya.
Tantangan yang akan menghadang dalam upaya menanggulangi kemerosotan moral dan budi pekerti dalam era globali antara lain sebagai berikut:
1. Arus globalisasi dengan teknologinya yang berkembang pesat merupakan tantangan tersendiri dimana informasi baik positif maupun negatif dapat langsung diakses oleh siapapun. Jika tanpa adanya bekal moralitas yang maka hal itu akan berdampak negatif jika tidak di saring dengan benar.
2. Pola hidup dan perilaku yang telah bergeser sedemikian serempaknya di tengah-tengah masyarakat juga merupakan tantangan yang tidak dapat diabaikan. 3. Moral para birokrat yang memang suda
amat melekat seperti “koruptor”, curang, tidak peduli dengan kesusahan orang lain, dan lain-lain ikut menjadi tantangan tersendiri karena bila mengeluarkan kebijakan, diragukan ketulusan dan keseriusan diimplementasikan secara benar.
4. Kurikulum sekolah mengenai dimasukannya materi moral dan budi pekerti ke dalam setiap mata pelajaran juga cukup sulit. Ini terjadi karena ternyata tidak semua guru dapat mengaplikasikan
model integrated learning tersebut ke
dalam mata pelajaran lain yang sedang diajarkannya atau yang diampunya. 5. Kondisi ekonomi Indonesia juga menjadi
tantangan yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Karena bagaimanapun, setiap ada kebijakan pasti memerlukan dana yang tidak sedikit
PENUTUP
Arus globalisasi sebagai konsekuensi yang harus dihadapi oleh semua manusia di dunia, namun demikian, bukan berarti tatanan nilai yang ditawarkan oleh globalisasi ini dapat diadopsi secara serta merta, akan tetapi berdasarkan seleksi tertentu agar moralitas bangsa dapat tumbuh berdasarkan norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia dan ciri khas (karakter bangsa juga dapat dilestarikan).
Oleh karena itu, atas dasar inilah penulis menyarankan solusi sebagai exit strategy untuk menaggulangi masalah moralitas bangsa kita, diantara lain adalah menerapkan pendidikan karakter di setiap jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan dasar sampai pada pendidikan tinggi. Dengan penerapan pendidikan karakter, maka karakter dari peserta didik akan terbentuk sejak mereka berada di bangku sekolah dasar, kemudian dilanjutkan pada sekolah menengah dan perguruan tinggi. Dengan terbentuknya karakter tersebut, maka akan menjadi perisai atau kontrol dalam diri seseorang, sehingga akan mengendalikan perilaku orang tersebut. Intinya adalah, jika karakter sudah terbentuk, maka akan sulit untuk mengubah karakter tersebut.
Dengan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam setiap proses pendidikan, akan membantu proses pembentukan karakter dari peserta didik yang bermoral dan bermartabat. Dengan terbentuknya karakter tersebut juga, maka karakter tersebut akan sulit hilang sehingga akan menjadi watak perilaku seseorang dalam menjalani masa yang akan datang. Penerapan pendidikan karakter dalam sistem kurikulum pendidikan dapat dilaksanakan dengan cara:
1. Menyisipkan nilai–nilai moral di setiap proses belajar mengajar
2. Membentuk kelas motivasi (motivation
class), yang dalam hal ini lebih
menekankan pada penggugahan motivasi internal peserta didik
3. Menambah mata pelajaran tentang pendidikan moral, dan peserta didik
dipersyaratkan lulus mata pelajaran tersebut
4. Mata pelajaran yang substansinya sudah mengandung nilai-nilai moral hendaknya lebih aplikatif, tidak hanya text book semata
5. Menyeimbangkan porsi antara materi belajar akal (cerdas) dan hati (moral). Dalam hal ini guru, Departemen Pendidikan Nasional, dan masyarakat pemerhati pendidikan untuk bersama-sama mengupayakan penerapan pendidikan karakter ke dalam sistem kurikulum pendidikan.
REFERENSI
Azyumardi, Azra.1999. Pendidikan Islam
Tradisi dan Modernisasi Menuju
Mellenium Baru. Jakarta:Logos
Wacana Ilmu.
Ikhsan, Muh. 2009. Islam dan Globalisasi
Terhadap Krisis Identitas Muslim. Jakarta : mizan
Syahidin, dkk. 2009. Moral dan Kognisi
Islam.Bandung: Alfabeta.
Zainur Roziqin. 2007. Moral Pendidikan di Era Global. Jakarta: Averroes Press.
Toufiqoh, Romi. 2007. Pentingnya Pendidikan
Moral. Yogyakarta: FBS, UNY.
Hendrowibowo. 2007. Pendidikan Moral.
Majalah Dinamika. FIP, UNY.
Istanto, Budi. 2007. Pentingnya Pendidikan
Moral Bagi Generasi Penerus. Yogyakarta: FIP. UNY.
KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DALAM MENGINTEGRASIKAN