• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Aspek Ekolog

4. Konsep Vegetas

Konsep penataan vegetasi di kawasan Waduk Koto Panjang dibedakan berdasarkan fungsi penanamanya di tapak. Fungsi penanaman vegetasi tersebut adalah fungsi konservasi, fungsi peneduh, fungsi, pengarah, fungsi ekstetika, dan fungsi budi daya.

a. Fungsi Konservasi

Fungsi konservasi diperoleh melalui penanaman jenis vegetasi yang mampu mengkonservasi tanah dan air terutama di area sempadan waduk sejauh 100 meter dan kawasan dengan kemiringan lebih dari 40%. Pemilihan vegetasi konservasi diutamakan yang berasal dari daerah sekitar waduk karena telah terbukti sesuai dengan habitatnya dan dapat dijadikan sebagai habitat satwa lokal yang ada di kawasan.

b. Fungsi Peneduh

Vegetasi peneduh berfungsi sebagai penaung dan mengendalikan iklim mikro. Karakteristik vegetasi peneduh adalah berdaun lebat dengan tajuk lebar. Vegetasi peneduh diutamakan di area bermain, camping ground, meeting point dan area terbuka yang berpontensi untuk tempat orang berkumpul.

c. Fungsi Pengarah

Vegetasi pengarah ditujukan untuk mengarahkan sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki. Fungsi pengarah akan lebih terasa jika tanaman ditanam dengan pola linier mengikuti jalur sirkulasi. Karakteristik vegetasi disesuaikan dengan suasana yang ingin ditekankan pada suatu area.

d. Fungsi Estetika

Vegetasi untuk fungsi estetika bertujuan untuk meningkatkan kualitas visual suatu area. Fungsi estetika diutamakan pada area penerimaan dan pelayanan sebagai kesan pertama kawasan bagi pengunjung. Kombinasi warna, bentuk, tekstur tanaman dan jenis tanaman yang kaya mampu menambah nilai visual sebuah area. e. Fungsi Budidaya

Vegetasi berfungsi sebagai komoditas pertanian masyarakat setempat dan sebagai objek edukasi pertanian bagi pengunjung. Vegetasi utama yang digunakan adalah karet, vegetasi yang memang telah banyak ditanam oleh masyarakat setempat.

f. Fungsi Pembatas dan Screen

Vegetasi berfungsi sebagai pembatas area yang tidak boleh dilalui oleh pengunjung. Vegetasi juga difungsikan untuk menutupi bagian yang tidak diharapkan dilihat pengunjung seperti ruang perkakas, tempat pengumpulan sampah dan lain-lain.

Gambar 47 Konsep vegetasi Perencanaan Lanskap

Penelitian ini menyajikan rencana lanskap sebagai hasil akhir perencanaan kawasan Waduk Koto Panjang. Rencana lanskap diperoleh dari penggabungan rencana ruang, rencana aktivitas dan fasilitas, rencana sirkulasi dan rencana vegetasi. Rencana daya dukung kawasan dibuat agar kegiatan wisata di kawasan waduk tidak menimbulkan kerusakan lingkungan yang permanen.

Rencana Ruang

Kawasan Waduk Koto Panjang akan dibagi menjadi tiga ruang sesuai dengan konsep ruang yang telah direncanakan, yaitu ruang konservasi, ruang penyangga dan ruang pemanfaatan. Masing-masing ruang memiliki pembagian sub ruang untuk mengakomodasi kebutuhan ruang aktivitas yang berbeda-beda. Luas masing- masing ruang di kawasan waduk dapat dilihat pada Tabel 32.

Tabel 32 Rencana alokasi pembagian ruang perencanaan

Ruang Sub Ruang Luas

(km2) (%)

Konservasi - 267,38 82,55

Penyangga Area penyangga 4,66 1,44

Wisata pendukung 1,75 0,54

Pemanfaatan Wisata darat 3,47 1,07

Wisata air 45,61 0,19

Wisata edukasi 1,28 0,39

Wisata budi daya 42,04 12,98

Area pendukung wisata 2,73 0,84

Total 368,92 100,00

Ruang konservasi dialokasikan lahan seluas 267,38 km2. Besar luas area

tersebut meliputi 82,55% dari luas kawasan perencanaan. Perencanaan ruang penyangga dibagi menjadi sub ruang penyangga dan sub ruang wisata pendukung. Sub ruang penyanga dialokasikan seluas 4,66 km2 atau 1,44% dari luas kawasan

0,54% dari luas kawasan perencanaan. Ruang pemanfaatan terbagi menjadi sub ruang wisata utama meliputi wisata darat, wisata air, wisata edukasi, wisata budi daya dan sub ruang pendukung wisata. Sub ruang wisata utama dialokasikan seluas 47,4 km2 atau 14,63% dari luas kawasan perencanaan. Sub ruang pendukung wisata dialokasikan seluas 2,73 km2 atau 0,84% dari luas kawasan perencanaan.

Ruang konservasi berfungsi untuk menjaga kelestarian lingkungan kawasan waduk melalui pencegahan terhadap bahaya erosi dan longsor yang berdampak kepada sumber daya waduk. Penanaman vegetasi konservasi dilakukan pada lahan yang curam untuk meningkatkan kestabilan tanah. Ruang konservasi diciptakan juga untuk meningkatkan kemampuan tanah untuk menimpan air sehingga ketersediaan air di sekitar waduk dapat terjaga.

Ruang penyangga terbagi kedalam dua sub ruang yaitu sub ruang peyangga dan sub ruang wisata pendukung. Ruang penyangga ini memiliki karakter untuk menunjang ruang wisata utama melalui aktivitas wisata yang bersifat pasif seperti

sight seeing dan pengamatan satwa dan vegetasi lokal. Kegiatan pada ruang ini dilakukan sejalan dengan upaya konservasi. Fasilitas yang diperlukan pada ruang ini berupa jalur interpretasi dan media interpretasi.

Beberapa bentuk aktivitas intensif akan dilakukan pada sub ruang wisata utama. Bentuk wisata yang akan diakomodasi oleh sub ruang ini adalah wisata darat dan rekreasi air, wisata edukasi dan wisata budi daya ikan dan karet. Sub ruang pendukung wisata akan dijadikan sebagai area penerimaan dan pelayanan bagi pengunjung meliputi welcome area, lahan parkir, penginapan, pusat kuliner, pusat souvenir, dan pusat informasi.

Ruang wisata rekreasi pada kawasan waduk akan direncanakan menjadi dua, yaitu wisata darat dan rekreasi air. Kegiatan wisata darat meliputi berkemah, bersepeda, piknik, fotografi, sightseeing, jalan-jalan, bersantai, berkunjung ke candi Muara Takus, dan outbound. Untuk mendukung kegiatan-kegiatan tersebut, disediakan beberapa fasilitas seperti infrastruktur jalan dan jalur pedestrian, penerangan, bangku, gazebo, lapangan, playground, mobil wisata, panggung wisata dan jlaur sepeda. Bentuk kegiatan rekreasi air meliputi berperahu keliling danau, memancing, sightseeing, dan kuliner di tengah waduk. Fasilitas pendukung rekreasi air antara lain dermaga, perahu, dek pemancingan, shelter peristirahatan, dan restoran di tengah waduk. Ruang wisata darat dan rekreasi air direncanakan seluas 4.908,98 ha dengan rincian ruang wisata darat seluas 347,98 ha dan ruang rekreasi air seluas 4.561,00 ha.

Ruang wisata edukasi bertujuan untuk menarik minat calon pengunjung melalui pemberian wawasan mengenai keunikan alam dan kebudayaan daerah di sekitar waduk. Ruang ini mengakomodasi bentuk kegiatan wisata berupa kegiatan penelitian dan pengamatan vegetasi satwa lokal, pameran budaya setempat, fotografi, sightseeing, dan jalan-jalan. Fasilitas yang disediakan antara lain media interpretasi, struktur jalur pedestrian, gazebo/shelter, dan menara pandang. Ruang wisata edukasi direncanakan di area kantor operasional waduk dan di area seluas 127,61 ha.

Ruang wisata budi daya direncanakan seluas 4.204,00 ha secara keseluruhan. Ruang ini dibagi menjadi ruang budi daya karet seluas 3868,67 ha, ruang pengolahan hasil karet seluas 195,95 ha dan ruang budi daya perikanan seluas 139,65 ha. Ruang ini dimanfaatkan sebagai lahan budi daya oleh masyakat yang diintegrasikan kedalam program wisata waduk. Sistem perkebunan yang diterapkan

adalah agroforestri. Sistem agroforestri karet atau Rubber Agroforestry System

(RAS) yaitu suatu pola agroforestri pada karet yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas hasil panen, termasuk karet itu sendiri sebagai hasil utama dan juga hasil sampingan seperti buah-buahan, kayu, dan lain-lain dengan suatu sistem intensifikasi dan untuk kepentingan kelestarian karet tersebut (Budiman et al, 1994). Pada awal penanaman, karet dapat ditumpangsarikan dengan tanaman semusim seperti terung, kacang tanah, dan cabe. Ketika tajuk karet mulai menaungi, tanaman sela yang dapat ditanam antara lain tanaman petai, jengkol, durian, rambutan dan cengkeh. Melalui program ini diharapkan kepentingan masyarakat dan pengelola dapat diselaraskan.

Sub ruang pendukung wisata dikembangkan sebagai area penerimaan dan pelayanan yang berisi sarana prasaran yang mendukung wisata. Sub ruang ini menjadi image pertama yang dilihat oleh pengunjung. Oleh karena itu prioritas area ini bersifat estetik dan menarik dalam pengembangannya. Terdapat tiga ruang penerimaan pada kawasan waduk. Area penerimaan pertama terletak di area Candi Muara Takus. Area ini ditujukan bagi pengunjung yang ingin melakukan wisata sejarah. Area penerimaan kedua terletak di Desa Batu Bersurat. Area ini ditujukan bagi pengunjung yang ingin melakukan wisata alam. Dan area penerimaan ketiga terletak di kantor operasional waduk. Area ini ditujukan bagi pengunjung yang ingin melakukan wisata edukasi dan sejarah bendungan. Ketiga area ini dikembangkan menjadi welcome area dan pelayanan. Area penerimaan di Batu Bersurat dan Candi Muara Takus juga dikembangkan untuk mengakomodasi wisata belanja. Khusus pada area kedua difasilitasi oleh guest house.

Rencana Aktivitas dan Fasilitas

Aktivitas utama yang akan dikembangkan disesuaikan dengan konsep aktivitas yang telah dibuat sebelumnya. Aktivitas wisata dibagi menjadi aktivitas wisata darat dan air. Kemudian aktivitas wisata darat terbagi menjadi aktivitas wisata berbasi konservasi dan sosial budaya. Segala bentuk aktivitas wisata dikembangkan kearah rekreasi dan edukasi.

1. Aktivitas Wisata Rekreasi

Dokumen terkait