D. KONSERVASI ARSITEKTUR DAN PERANCANGAN KOTA
2. KONSERVASI ARSITEKTUR DAN PERANCANGAN KOTA,
2.1 PENDAHULUAN
A. DESKRIPSI SINGKAT
Di beberapa tempat di Indonesia khusunya, keberadaan rumah atau bangunan belanda masih banyak kita jumpai. Bangunan – bangunan tersebut adalah salah satu bukti jejak kolonialisme Belanda pada masa lampau. Banyak bangunan – bangunan tersebut yang masih di rawat utuh dan ada juga yang di tinggali. Bangunan-bangunan tersebut memiliki karakteristik yang kuat dan nilai historis yang mendalam. Desain karakteristik ini mampu memberikan kesan hubungan dengan masa lampau. Salah satunya arsitektur kolonial, karena bangsa Belanda telah menjajah hingga 300 tahun lebih oleh sebab itu terjadi perubahan gaya arsitektur untuk menyesuaikan kondisi iklim indonesia yang tropis, serta penjelasan penyesuaian elemen arsitektur pada bangunan kolonial. Oleh sebab itu warisan / karakteristik bangunan tersebut bisa dipelajari melalui sub bab ini yang ada di kawasan Kota Lama di Indonesia.
B. RELEVANSI
Sub-Pokok Bahasan ini menjelaskan arsitektur kolonial Belanda di Indonesia, karena merupakan penggabungan budaya yang unik, antara Belanda dan Arsitektur Tropis Indonesia sehingga muncul percampuran budaya yang dibawa oleh bangsa Belanda pada arsitektur bangunan dan bentuk kota yang ada di Indonesia.
2.2 PENYAJIAN
A. URAIAN
Arsitektur kolonial merupakan sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang berkembang selama masa pendudukan Belanda di tanah air. Masuknya unsur eropa ke dalam komposisi kependudukan menambah kekayaan ragam arsitektur di Nusantara, seiring berkembangnya peran dan kuasa, kampung-kampung eropa yang ada di Indonesia berkembang dan mendominasi pemukiman lokal hingga akhirnnya berekspansi dan menimbulkan tipologi baru. Modernisasi
70 dengan penemuan baru dalam bidang teknologi dan perubahan sosial akibat dari kebijakan politik pemerintah kolonial pada saat itu mengakibatkan perubahan bentuk dan gaya dalam bidang arsitektur. Terdapat bangunan-bangunan besar, modern yang berfungsi sebagai bangunan militer, administrasi, pemerintahan dan rumah sakit. Bangunan – bangunan besar tersebut yang dikenal sekitar sebagai bangunan kolonial.
Menurut Menurut (Handinoto, 1996a), arsitektur modern merupakan proses yang dilakukan oleh arsitektur Belanda setelah tahun 1900, banyak Arsitek Belanda yang berpendidikan akademis mulai berdatangan ke Hindia Belanda, mereka mendapatkan suatu gaya arsitektur yang cukup asing, karena gaya arsitektur Empire
Style. Arsitektur modern atau kolonial memiliki ciri-ciri denah yang
lebih bervariasi, perbedaan karakter visual pada bangunan dapat kita lihat berdasarkan gaya arsitektur pada bangunan tersebut.
Berdasarkan Handinoto (2010), bahwa karakteristik dari arsitektur bisa terbagi dari 4 elemen utama yang terdiri dari: denah, kemudian tampak, bentuk bangunan itu sendiri serta sistem konstruksinya.
Denah
Menurut Handinoto (2010), elemen denah pada gaya arsitektur Indische Empire (Abad 18-19) ditentukan oleh bentuk denah yang simetri penuh, ada central room dan ada teras mengelilingi denah. Sedangkan Arsitektur Peralihan (1890-1915) ditentukan oleh denah simetri penuh dan ada teras mengelilingi denah. Denah pada gaya arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940) ditentukan oleh tidak simetri (lebih bervariasi), tidak ada teras mengelilingi denah dan menggunakan elemen penahan sinar (Tabel 3.1).
71
Tabel 3. 1 Elemen Denah Indische Empire (Abad 18-19) Arsitektur Peralihan (1890-1915) Arsitektur Kolonial Moderen (1915- 1940)
Simetri Penuh Simetri Penuh Tidak simetri (lebih bervariasi) Ada central room Ada teras
mengelilingi denah
Tidak ada teras mengelilingi denah Ada teras
mengelilingi denah
Menggunakan Elemen penahan sinar
Sumber: Handinoto (2010)
Tampak
Menurut Handinoto (2010), elemen pada fasad yang memiliki gaya Indische Empire Style yang sudah ada pada abad 18-19 yang memiliki karakteristik dengan kolom yang bergaya Yunani, kemudian pada teras depan atau voor galerij, serta terdapat teras belakang, teras tersebut memiliki bentuk yang simetris. sedangkan gaya arisitektur peralihan yang populer pada tahun 1890 -1915 dengan elemen tampak yang memiliki gavel yang menghiasi juga terdapat menara pada pintu masuk. sedangkan gaya arsitektur modern yang dimulai pada tahun 1915-1940 terlihat karakteristik yang ditentukan yaitu tampak yang tidak simetri juga tampak yang terlihat clean design (Tabel 3.2)
Tabel 3. 2 Elemen Tampak Indische Empire (Abad 18-19) Arsitektur Peralihan (1890-1915) Arsitektur Kolonial Moderen (1915- 1940) Dominasi kolom gaya Yunani
Ada usaha menghilang kan kolom gaya Yunan
Tidak simetri
Ada teras depan (voor galerij)
Terdapat Gevel-gevel
Clean Design
Ada Teras Belakang Tampak
Ada menara (tower) pada pintu masuk Tampak Simetri
Sumber: Handinoto (2010)
Bahan Bangunan
Menurut (Handinoto., 2010), karakteristik dari asritektur indische empire yang dimulai pada abad 18-19, yang dapat ditemukan ialah bahan konstruksi yang digunakan adalah batu bata, mereka menggunakan bahan tersebut dari kolom hingga tembok, bahan
72 bangunan kayu dapat ditemukan pada struktur kuda-kuda, juga kusen dan pintu, untuk kaca masih belum banyak digunakan. sedangkan pada karakteristik aristektur peralihan yang dimulai pada tahun 1890-1915 dengan menggunakan bahan bangunan seperti batu bata pada kolom serta tembok, bahan kayu masih digunakan untuk kusen dan pintu, penggunaan kaca masih terbatas. dan penggunaan bahan bangunan pada arsitektur kolonial modern yang terkenal pada tahun 1915-1940, yaitu bahan bangunan tersebut menggunakan beton dan pada penggunaan kaca masih cukup lebar (salah satunya pada jendela) (Tabel 3.3).
Tabel 3. 3 Elemen Bahan Bangunan Indische Empire (Abad 18-19) Arsitektur Peralihan (1890-1915) Arsitektur Kolonial Moderen (1915- 1940)
Batu bata pada kolom dan tembok
Batu bata pada kolom dan tembok
Bahan bangunan beton
Bahan utama kayu pada kuda-kuda,
kusen dan pintu
Bahan utama kayu pada kuda-kuda, kusen dan
pintu
Pemakaian bahan kaca cukup lebar (terutama
pada jendela) Belum Pemakaian kaca pada
jendela masih sangat terbatas
Sumber: Handinoto (2010)
Sistem Konstruksi
Menurut (Handinoto, 2010), karakteristik yang terdapat sistem konstruksi untuk bangunan bergaya Indische Empire yang berkembang pada abad 18-19 yaitu dengan menggunakan dinding pemikul, serta pada kolom barisan yang terdapat di teras depan dan belakang dengan menggunakan konstruksi kolom dan balok, juga penggunaan konstruksi atap perisai dilengkapi dengan penutupnya untuk atap genteng
Sedangkan arsitektur peralihan yang populer pada tahun 1890-1915 dengan penggunaan sistem konstruksi dinding pemikul yang dilengkapi dengan gevel depan yang terlihat mencolok, penggunaan gaya atap pelana serta perisai dengan penggunaan penutup untuk atap gentengnya, juga terdapat penggunaan konstruksi tambahan misalnya ventilasi pada bagian atap. sedangkan karakteristik arsitektur modern pada tahun 1915-1940
73 dengan penggunaan sistem konstruksi rangka, oleh sebab itu dinding hanya memiliki fungsi sebgai penutup yang masih didominasi oleh atap pelana dengan penggunaan bahan penutu yang terbuat dari genteng atau sirap, serta pada bagian bangunan masih menggunakan konstruksi beton, dengan penggunaan atap datar yang terbuat dari bahan beton, yang tidak pernah digunakan ( tabel 3.4)
Tabel 3. 4 Elemen Sistem Konstruksi Indische Empire (Abad 18-19) Arsitektur Peralihan (1890-1915) Arsitektur Kolonial Moderen (1915- 1940) Dinding pemikul, dengan barisan kolom di teras depan dan belakang
Dinding pemikul dengan gevel-gevel depan yang mencolok
Sistem konstruksi rangka, sehingga dinding hanya berfungsi sebagai penutup Menggunakan sistem konstruksi kolom dan balok
Atap: bentuk atap pelana dan perisai dengan mengguna-kan penutup atap genteng
Atap: masih didominasi oleh atap pelana dengan bahan penutup atap genteng atau sirap
konstruksi atap perisai dengan penutup atap genteng.
Ada usaha menggunakan
konstruksi tambahan sebagai ventilasi pada atap
Ada bagian bangunan menggunakan
konstruksi beton, menggunakan atap datar dari bahan beton, yang belum pernah ada
Sumber: Handinoto (2010)
Arsitektur kolonial telah menyesuaikan desain dengan iklim lokal, terutama terhadap panas matahari dan hujan, dan ventilasi yang baik. Masalah-masalah ini biasanya diantisipasi dengan membangun galeri di sekeliling bangunan. Yang perlu dicatat adalah bahwa desain arsitektur kolonial telah mempertimbangkan iklim tropis lembab yang, secara keseluruhan, modern ini Arsitektur kolonial yang berciri khas sangat berbeda jika dibandingkan dengan arsitektur modern yang tersedia di Belanda dan Eropa pada umumnya. (Handinoto, 1996)
Ada tiga perspektif prinsip arsitektur kolonial terhadap iklim tropis lembab di Indonesia Mereka termasuk persepsi angin, matahari dan pengaruh curah hujan. (Prianto, Bonneaud, Depecker, & Peneau,
74 2000). Elemen konstruksi dibuat untuk mengatasi masalah stabilitas gerakan angin dan perlindungan hujan, seperti:
Atap pitch untuk mengantisipasi curah hujan
Koridor di sekitar gedung untuk mengisolasi panas, menghubungkan bangunan dan berfungsi sebagai area gelap
Langit-langit tinggi dengan kisi-kisi
Sistem ventilasi dan jendela yang terbuka lebar dan hampir menutupi dinding bangunan.
Ada beberapa kasus kantor kolonial Belanda modern di Indonesia yang dirancang oleh arsitek terkenal Belanda pada waktu itu yang telah mempertimbangkan masalah iklim tropis. Kantor Nederlandsch Indische Spoorweg Mij (NIS) di Semarang (sekarang dikenal sebagai gedung Lawang Sewu), yang dirancang oleh JF. Klinkkramer dan BJ Quindag pada tahun 1902, terdapat salah satu gedung perkantoran modern pertama di Semarang. Ruang kantor di dalam bangunan dirancang untuk memiliki banyak pintu tetapi tidak ada jendela. Jendela hanya tersedia di ruangan tertinggi yang berfungsi sebagai aula. Ada koridor yang mengelilingi gedung untuk menembus panas matahari dan untuk menyegarkan udara di dalam gedung. Bangunan NIS ini dirancang dengan mempertimbangkan iklim tropis. Karakteristik arsitektur Eropa masih terlihat jelas pada bangunan ini, yang terlihat dari bentuk dan ornamen bangunan. Namun demikian, keberadaan koridor di sekelilingnya dengan kamar-kamar dengan banyak pintu menggambarkan adaptasi besar-besaran terhadap kondisi iklim tropis. Gambar 3.22 merupakan perbandingan Lawang Sewu di Semarang dulu dan sekarang.
Gambar 3. 22 Lawang Sewu di Semarang Sumber: (Abyyusa, Sudianto, S, & Arch, 2019)
75 Kantor Javasche Bank, yang dirancang oleh ED. Cuypers dan Hulswit, dibuka di Batavia (Jakarta) sekarang menjadi Bank Indonesia di Surabaya. Bangunan ini ditandai oleh arsitektur
Renaissance yang ditandai oleh ornamen (lihat gambar 3.23). Selain
itu Bangunan ini memiliki pintu dan jendela besar yang dirancang secara harmonis untuk mencapai fungsi estetika dan optimal fungsi ventilasi di dalam ruangan. Bangunan lantai yang ditinggikan dari permukaan tanah dan langit-langit yang tinggi di kantor adalah dirancang untuk mendapatkan kenyamanan di dalam ruangan. Di belakang gedung, ada koridor dengan ruangan yang berfungsi sebagai area sirkulasi dan penetrasi panas matahari dan area perlindungan hujan.
Gambar 3. 23Kantor Javasche Bank sekarang menjadi Bank Indonesia
Sumber: Kitlv.nl
Di Kota Lama Semarang, gedung kantor Asuransi Jiwasraya adalah salah satu contoh bangunan yang telah disesuaikan dengan iklim tropis. Kantor Jiwasraya Semarang adalah bangunan tertinggi di Kota Lama, Kota Tua Semarang. Bangunan tersebut berbentuk L dengan tangga di ruang tengah adalah batal 3 lantai, bangunan ini menghadap ke utara tepat di depan Gereja Blenduk, yang merupakan
76 tengara Kota Lama. Bangunan kantor Jiwasraya dirancang oleh Thomas Karsten pada tahun 1918 dengan teknologi struktur beton. Massa bangunan di selatan dikelilingi oleh koridor, dan deretan pintu dan jendela dipasang sebentar-sebentar di dinding bangunan. Di atas pintu dan jendela bagian bawah, ada deretan jendela yang memperbesar ruang terbuka bangunan untuk memperlancar sirkulasi udara di dalam gedung (lihat gambar 3.24). Koridor atau gang yang mengelilingi bangunan berfungsi sebagai area sirkulasi di luar ruang kantor dan sebagai area untuk menembus panas matahari dan untuk melindungi dari hujan yang mungkin memasuki ruangan.
Gambar 3. 24gedung kantor Asuransi Jiwasraya
Sumber : (Antonius Ardiyanto, Achmad Djunaedi, Ikaputra, 2015)
B. LATIHAN
Kerjakan latihan ini sebagaimana intruksi dibawah:
1. Masing-masing mahasiswa membuat kelompok Jelaskan apa yang dimaksud dengan Arsitektur modern pada era kolonial berdasarkan teori (Handinoto, 1996a)
2. Pada tahun berapakah arsitektur modern mulai marak di Indonesia? 1900an
77 3. Ada berapa gaya yang ada di arsitektur modern colonial dan
sebutkan tahun masa desain itu populer?
4. Elemen denah pada gaya Indische Empire (Abad 18-19) apa yang menarik dari gaya tersebut?
5. Pada bagian tampak pada arsitektur gaya Indische Empire memiliki kemiripan karakter arsitektur manakah?
6. Pada tahun berapakah gaya gaya Indische Empire mulai popular? 7. Pada bagian bahan kosntruksi, material mana saja yang digunakan
pada arsitektur gaya Indische Empire?
8. Sebutkan elemen konstruksi pada arsitektur colonial modern untuk mengatasi hujan dan hal lainnya?
9. Bangunan manakah di Indonesia yang telah menerapkan arsitektur modern colonial? Sebutkan!
10. Apa yang membuat gaya desain Thomas karsten manarik pada desain arsitektur modern?
C. KUNCI JAWABAN
Kunci jawaban latihan ini dijelaskan dibawah ini:
1. Arsitektur kolonial merupakan sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang berkembang selama masa pendudukan Belanda di tanah air
2. Tahun 1900an
3. Indische Empire (Abad 18-19), Arsitektur Peralihan (1890-1915), dan Arsitektur Kolonial Moderen (1915- 1940)
4. ditentukan oleh bentuk denah yang simetri penuh, ada central room dan ada teras mengelilingi denah
5. Yunani
6. Tahun 1890-1915
7. batu bata, mereka menggunakan bahan tersebut dari kolom hingga tembok, bahan bangunan kayu dapat ditemukan pada struktur kuda-kuda, juga kusen dan pintu, untuk kaca masih belum banyak digunakan
8. Atap pitch untuk mengantisipasi curah hujan, koridor untuk mengurangi panas bangunan, langit-langit berupa kisi-kisi, system ventilasi terbuka lebar
9. Kantor Nederlandsch Indische Spoorweg Mij (NIS) di Semarang (sekarang dikenal sebagai gedung Lawang Sewu), Kantor
78 Javasche Bank, yang dirancang oleh ED. Cuypers dan Hulswit, dibuka di Batavia (Jakarta), gedung kantor Asuransi Jiwasraya 10. Teknik dan teknologi yang digunakan dan pemahaman dalam
menyesuaikan arsitektur belanda dan local, pemasangan Massa bangunan di selatan dikelilingi oleh koridor, dan deretan pintu
2.3 PENUTUP
A. RANGKUMAN
Elemen pada arsitektur kolonial terdapat tiga jenis yaitu bergaya Indische Empire (Abad 18- 19), Gaya bangunan Arsitektur Peralihan (1890-1915), dan Kolonial Moderen (1915-1940). Ketiga gaya bangunan tersebut terjadi disesuaikan dengan keadaan iklim, dan penyesuaian budaya lokal. Desain bangunan kolonial Belanda telah mempertimbangkan desain arsitektur tradisional untuk menyesuaikan diri dengan iklim tropis. Adaptasi meliputi ketinggian lantai, atap bernada tinggi, bukaan jendela lebar untuk memudahkan sirkulasi udara sebagai ventilasi alami. Penyesuaian tersebut menimbulkan tipologi yaitu konsep yang dapat dideskripsikan oleh kelompok objek yang didasarkan kepada kesamaan dari sifat dasar yang mencoba memilah atau mengelompokkan dari bentuk keberagaman dan kesamaan jenis. Oleh sebab itu mahasiswa arsitektur pada matakuliah konservasi memahami bagaimana pentingnya perubahan gaya bangunan kolonial dalam riset / penelitian untuk kedepannya.
B. UMPAN BALIK
Untuk dapat melanjutkan ke materi berikutnya, mahasiswa harus mampu menjawab semua pertanyaan paling tidak 75% benar. Selamat bagi anda yang telah lolos ke materi berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Handinoto. (2010). Arsitektur dan kota-kota di Jawa pada masa kolonial /
Handinoto (Ed. 1., cet. 1.). Graha Ilmu Yogyakarta.
Handinoto. (1996a). Perkembangan kota dan arsitektur kolonial Belanda di
Surabaya, 1870-1940. Diterbitkan atas kerjasama Lembaga Penelitian
dan Pengabdian kepada~….
Handinoto. (1996b). Perkembangan Kota Malang pada Jaman Kolonial (1914-1940). Dimensi, 22(September), 1–29.
79 Prianto, E., Bonneaud, F., Depecker, P., & Peneau, J. P. (2000).
Tropical-humid architecture in natural ventilation efficient point of view.
International Journal on Architecture Science, 1(2).
SENARAI
Gaya Indische Empire Style : suatu gaya arsitektur kolonial yang berkembang pada abad ke 18 dan 19, sebelum terjadinya “westernisasi” pada kota- kota di Indonesia di awal abad ke 20.
Kolonial Modern : bentuk penjajahan yang akan tidak pasti bersifat materiil tapi juga bersifat umum atau budaya
Gevel : merupakan hiasan berbentuk segitiga yang mengikuti bentuk atap
Atap pitch : Istilah resmi untuk sudut, atau miring, atap Anda. Atap pitch sebutan adalah dua angka yang dipisahkan oleh sebuah garis miring, seperti 2/12 atau 7/12. Usus besar dapat menggantikan garis miring, seperti dalam 2:12 atau 7:12. Makna adalah sama
Renaissance : adalah sebuah gerakan budaya yang berkembang pada periode kira-kira dari abad ke-14 sampai abad ke-17, dimulai di Italia pada Akhir Abad Pertengahan dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa. Gerakan Renaissance tidak terjadi secara bersamaan di seluruh Eropa, gerakan ini juga tidak terjadi secara serentak melainkan perlahan-lahan mulai dari abad ke 15. Persebaran itu ditandai dengan pemakaian kertas dan penemuan barang metal. Kedua hal tersebut mempercepat penyebaran ide gerakan Renaissance dari abad ke-15 dan seterusnya.
80
3. KONSERVASI ARSITEKTUR DAN PERANCANGAN
KOTA, TENTANG ETNIC KAMPONG HERITAGE
3.1 PENDAHULUAN
A. DESKRIPSI SINGKAT
Indonesia adalah negara dengan keindahan alam luas yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, keragaman budaya dan pariwisata yang dikombinasikan dengan karakteristik unik dari setiap komunitas lokal. Salah satu contoh warisan budaya Indonesia adalah Arsitektur Tradisional. Bahkan keberadaan komunitas lokal tersebut sudah ada bahkan sebelum kedatangan kolonial Belanda. Komunitas – komunitas tersebut membentuk sebuah pemukiman yaitu kampung heritage / lama. Kampung lama merupakan embrio perkembangan kota yang sarat nilai kesejarahan, budaya, dan memiliki identitas. Keberadaan kampung tersebut menghasilkan kearifan dan pengetahuan lokal sebagai karakteristiknya. Kearifan lokal merupakan gagasan lokal, nilai, norma, pandangan hidup, serta pengetahuan lokal yang tumbuh dan berkembang secara dinamis dalam kehidupan masyarakat dan diteruskan secara turun temurun karena mengandung makna baik dan benar sehingga patut dilestarikan. Oleh sebab itu pada sub bab ini karakteristik atau tipologi kampung heritage.
B. RELEVANSI
Sub-Pokok Bahasan ini menjelaskan keragaman arsitektur heritage di beberapa kawasan / kota di Indonesia dengan tujuan untuk mengetahui keberlanjutan kampung heritage melalui potensi kearifan lokal yang dimilikinya. Beberapa kota yang diambil yaitu kampung melayu, kampung kauman, dan kampung pecinan semarang karena Semarang memiliki sebuah kehidupan etnik yang beragam.
3.2 PENYAJIAN
A. URAIAN
Warisan arsitektur di Indonesia dapat dirangkum dari kursus Arsitektur Indonesia yang mewakili setiap periode dalam sejarah Indonesia, berbagai bentuk dan teknik yang mencerminkan
81 keragaman budaya di setiap wilayah. Kontribusi tradisi yang beragam juga memiliki peran penting dalam mencirikan arsitektur Indonesia. Berikut kronologi umum Arsitektur Indonesia mencoba menggambarkan semua pengaruh yang berkontribusi pada pembentukan arsitektur Indonesia.
Vernacular Architecture
Arsitektur vernakular Indonesia adalah bagian dari tradisi bangunan kuno di Asia Tenggara serta nenek moyang orang Austronesia. Arsitektur Indonesia vernakular ini berarti rumah-rumah tradisional Indonesia dalam semua variannya dari banyak bentuk daerah. (gambar 3.25) Terlepas dari beragam bentuk dan teknik yang mewakili keragaman budaya di seluruh kepulauan, ia dapat diabstraksikan dalam sejumlah tema dan prinsip umum. Yaitu: Struktur Kayu, Atap yang ditinggikan, Fondasi Batu, Atap Dominan, Adaptasi terhadap Iklim dan Kontur dan Ruang yang Diatur Secara Ritual (Widodo, 2004). Bentuk atap arsitektur vernakular, kemudian diadopsi dalam desain oleh beberapa arsitek Belanda yang bekerja di Indonesia awal abad ke-20. Di banyak daerah melalui nusantara, orang masih tinggal di rumah dan desa tradisional ini.
Gambar 3. 25 Toraja dan Nias Sumber: (Ziegler, 1993)
82
Classical Heritage of Indonesia
Warisan arsitektur klasik di Indonesia dipengaruhi oleh budaya Hindu dan Budha. Candi menara seperti struktur yang terbuat dari batu atau batu bata adalah bentuk utama bangunan dari periode ini. (gambar 3.26). Pada periode ini, arsitektur Indonesia bertemu dengan prinsip baru - prinsip pemesanan - yang mengatur hirarki spasial, poros dan orientasi. Meskipun sebagian besar bangunan peninggalan pada periode ini tidak dihuni sebagai monumen hidup (sebagian besar berfungsi sebagai kuil pemujaan), ia memiliki peran penting dalam arsitektur Indonesia. Kemudian, prinsip-prinsip dan ornamen-ornamen candi ini mempengaruhi desain beberapa arsitek Belanda yang bekerja di Indonesia awal abad ke-20. Bangunan-bangunan dari periode ini sekarang menjadi objek wisata serta objek untuk belajar dan penelitian.
Gambar 3. 26 Candi Borobudur dan Prambanan, dua warisan
arsitektur klasik paling terkenal di Indonesia dipengaruhi oleh budaya Hindu (Prambanan) dan budaya Budha (Borobudur)
Sumber: (Ziegler, 1993)
Islamic Tradition
Penyebaran Islam ke seluruh kepulauan sejak abad ke-12 memengaruhi Arsitektur Indonesia dan memperkenalkan jenis bangunan baru masjid, makam, dan Keraton (istana). Dengan munculnya Islam, Arsitektur Indonesia memiliki prinsip baru - arah baru (arah Qiblat) - yang dipandu untuk membangun Masjid. Munculnya arsitektur makam, istana khas dan pengembangan
kota-83 kota pesisir adalah yang paling signifikan dari periode ini. (gambar 3.27) Islam masuk ke Indonesia melalui adaptasi dan interpretasi ulang terhadap budaya lokal yang telah ada sebelumnya. Diciptakan kembali dan ditafsirkan kembali arsitektur yang ada sesuai dengan persyaratan Muslim telah terjadi.
Gambar 3. 27 Menara Masjid di Kudus (Jawa Tengah),
menyerupai adaptasi dan interpretasi ulang budaya lokal oleh agama Islam. Ini terlihat dari bentuk candi Hindu dari menara ini
Sumber: (Ziegler, 1993)
Chinese Tradition
Kontak antara Cina dan Indonesia dimulai dari abad ke-5. Orang-orang Tionghoa ini membawa arsitektur tradisional mereka dan menyebarkannya ke seluruh kepulauan. Monumen Cina tradisional di Indonesia terdiri dari; Tempat tinggal orang Cina, rumah toko dan kuil (gambar 3.28). Bangunan-bangunan tersebut memiliki karakteristik atap melengkung, rumah-rumah petak dan warna merah dominan di candi.
84
Gambar 3. 28Kuil Klenteng yang menyerupai arsitektur chinese Sumber: (Ziegler, 1993)
Studi Kasus Kampung Heritage
Semarang memiliki beberapa kampung etnis, yaitu kampung kauman, kampung melayu, dan kampung pecinan. ketiga kawasan tersebut memiliki peran yang sangat penting karena masing-masing memiliki nilai sejarah sebagai perkampungan etnis. Kampung tersebut mewakili perkembangan kota semarang pada masa itu
Kampung Kauman
Kauman merupakan nama sebuah kampung yang selalu ada dalam tata ruang kota- kota di Jawa. Sistem pengaturan kota-kota di Jawa pada umumnya mempunyai bentuk dasar yang hampir sama yaitu, selalu dibentuk dengan adanya alun-alun yang dikelilingi pusat pemerintahan dan masjid besar. Pada masjid besar tersebut biasanya selalu dikelilingi rumah- rumah tinggal yang kemudian disebut dengan nama Kampung Kauman (Wijanarka, 2007). Masyarakat Kauman adalah sekelompok masyarakat yang wilayahnya berada di sekitar masjid dan mempunyai aturan-aturan yang menjadi kesepakatan bersama. Aturan tersebut bersumber dari ajaran Islam