• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSERVASI ARSITEKTUR DAN PERANCANGAN KOTA. 47

D. KONSERVASI ARSITEKTUR DAN PERANCANGAN KOTA

1. KONSERVASI ARSITEKTUR DAN PERANCANGAN KOTA. 47

1.1 PENDAHULUAN

A. DESKRIPSI SINGKAT

Pada umumnya kota besar baik di Indonesia maupun kota-kota besar di belahan dunia mempunyai perjalanan sejarah yang cukup panjang. Kota – kota besar yang berasal di eropa salah satunya Paris, London, Mandrid, Amsterdam, dsb. Sedangkan kota-kota besar di Indonesia seperti: Jakarta, Medan, Semarang, Surabaya, Bandung, Bogor, Malang, Makassar, dsb. diperkirakan mempunyai perjalanan sejarah lebih dari dua ratus atau terbentuk sekitar abad 17-18. Kota-kota besar di berbagai wilayah di Indonesia ada yang sudah tumbuh sebelum masuknya VOC (cikal bakal pemerintahan Hindia Belanda) ke wilayah Nusantara, seperti : Banten (Lama), Jakarta (Batavia), Cirebon, Semarang, Lasem, Tuban, Gresik dan Surabaya.(R. S. Rukayah & Malik, 2012; R. S. Rukayah, Susilo, Abdullah, & Saputro, 2018). Untuk itu materi ketiga ini akan dijelaskan mengenai kota-kota yang memiliki kisah perjalanan heritage dan bukti-bukti bangunan bersejarah yang terdapat di kota tersebut.

B. RELEVANSI

Sub-Pokok Bahasan ini menjelaskan daftar kota-kota yang memiliki kawasan heritage atau bukti bangunan bersejarah yang ada di dunia / Indonesia. Baik sejarah kolonial maupun sejarah budaya setempat yang harus dilindungi dan menjadi sebuah pusaka penting di kota tersebut. Pada kota yang dijelaskan ini kemudian di ambil beberapa kawasan yang memiliki objek bangunan yang kemudian dideskripsikan sejarahnya maupun keadaanya sekarang. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai kota heritage sangat diperlukan karena memiliki kandungan dalam mata kuliah Konservasi dan

48 Revitalisasi yang diberikan dalam proses belajar mengajar di semester ini.

1.2 PENYAJIAN

A. URAIAN

Indonesia tentu memiliki sejarah panjang dalam perkembangan hingga kemerdekaan, terutama kisah panjang mengenai kisah kolonial. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan sejarah dan budaya. Tentu tidak sedikit bangunan bersejarah yang menyimpan cerita-cerita penting dan tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Bahkan hampir di setiap daerah mempunyai bangunan bersejarah yang dijadikan sebagai identitas dari daerah tersebut.

Salah satu kota yang memiliki beragam cagar budaya adalah Kota Semarang. Kota Semarang merupakan kawasan yang sangat strategis untuk menjadikan kawasan konservasi. salah satunya Kota Lama, yang merupakan kota Belanda yang pada masa dahulunya merupakan pemukiman kolonial Belanda (Lihat Gambar 3.3), juga kawasan pecinan merupakan kawasan masyarakat tionghoa dan kampung sekayu sebagai kampung islam di Semarang yang memiliki sejarah yang perlu dan dilestarikan sebagai kawasan konservasi (Hendro, 2015). Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang Tahun 2011–2031, Kota Semarang memiliki 14 kawasan cagar budaya. Ke empat belas kawasan tersebut meliputi:

(1) Kawasan Kota Lama;

Kawasan yang bisa disebut oleh kota lama semarang pasa masa itu kawasan tersebut berkembang pada tahun 1741 (Murtomo, 2008). Pada saat itu kawan yang terkenal akan bangunan eropa tersebut hanya berupa area gedung perkantoran dan gudang namun sejalan waktu kemudian kawasan tersebut berkembang pesat menjadi pusat budaya serta perdagangan yang strategis ditandai dengan bangunan hotel, perumahan yang elit, serta bangunan yang lain. karakteristik dasar pada bangunan eropa yaitu desain mereka dengan model arsitektur art deco (lihat gambar 3.2). Orang-orang belanda yang bermukim disana jumlahnya tidak sebanyak masyarakat tionghoa, tetapi mereka mampu menguasai dari aspek pemerintahan serta perdagangan oleh sebab itu

49 mereka bisa melakukan hal apapun salah satunya pertukaran budaya. (I. Dewi & Sari, 2012). Pada gambar 3.1 menunjukkan peta eksisting Kota Lama.

Gambar 3. 1: Peta Kota Lama

(Sumber: Google Maps)

Gambar 3. 2: Keadaan Kota Lama Tempo dulu

50

Gambar 3. 3peta Kota Semarang dulu (Sumber: kitliv)

51

(2) Kampung Pecinan

Pada masa itu masyarakat tionghoa bermukim di Kota Lama dan sekitar kuil sam po kong tetapi pada tahun 1695 terjadilah pembatasan akses masyarakat tionghoa oleh pemerintah hindia belanda sehingga dipindahkan ke area sekitar pemukiman kampung pecinan. Hal tersebut dilakukan agar peristiwa geger pecinan yang berdampak pada mereka mulai meluas dari Jakarta hingga Jawa Tengah. Masyarakat tionghoa kemudian berkembang dan semakin meluas sehingga mereka membangun kawasan serta perumahan sendiri dengan mendirikan rumah-rumah yang dibuat dengan atap genting serta dilengkapi dengan pagar yang tinggi (lihat gambar 3.5). masyarakat tionghoa banyak melakuka kegiatan perdagangan yang berasal dari asal mereka cina misalnya, perhiasan, sutra, keramik, dan sebagainya. Dahulu hingga saat ini, aktivitas berdagang masih diterapkan di kawasan pecinan, salah satunya di kawasan perdagangan perhiasan serta kain di jalan Wahid Hasyim. (Tjiook, 2017). Pada gambar 3.4 menunjukkan peta eksisting kawasan Pecinan.

Gambar 3. 4: Peta Pecinan

52

Gambar 3. 5:Gambaran Keadaan Pecinan sekarang dan dahulu (Sumber: (Nany, 2011 dan kitlv.nl)

(3) Pasar Johar

Pasar Johar, yang sudah tercatat oleh Valentijn pada awal abad ke-18 dapat dikategorikan sebagai warisan budaya yang memiliki nilai tradisi tinggi, karena telah menempuh waktu dan berfungsi dalam waktu ratusan tahun. Pasar Johar, bahwa pada awal abad ke-18, Kota Semarang sudah menunjukkan kehidupan perdagangan yang ramai ditandai dengan keberadaan pasar dan pedagang-pedagang yang kala itu (lihat gambar 3.7) pasar tersebut berada di sisi timur alun-alun serta berada di tepi sungai (S. Rukayah & Supriadi, 2017). Di pasar ini dijual berbagai komoditi seperti kain (Theresia, 2017), barang-barang kelontong, bahan-bahan pangan, dan lain-lain. setelah mengalami kebakaran pata tahun 2015, pasar ini sangat berpotensi untuk dikembangkan dengan wawasan wisata budaya. Pada gambar 3.6 menunjukkan peta eksisting Pasar Johar.

Gambar 3. 6Lokasi Pasar Johar (Sumber: Google maps)

53

Gambar 3. 7: Pasar Johar dulu

(Sumber: kitliv)

Sedangkan di Kota Surabaya, Berdasarkan RTRW Kota Surabaya tahun 2014 terdapat di sepanjang sungai Kalimas timur dan barat, jalan sekitar sungai tersebut termasuk kedalam wilayah yang diarahkan sebagai wisata bangunan kota lama atau historis karena didalamnya (F. L. Dewi, 2016). Terdapat bangunan kuno seperti Ruko Tirta, kantor PTP, Pantja Niaga, Korps veteran RI, Show Room Timor, PT Tjiwi Kimia, Gedung BNI 46, PT Perkebunan, BNI 46 Syariah, Hotel Ibis, Gedung Internatiol, Bank Mandiri, Gedung BBD, Kantor Jawa Pos, Gedung X4, Asahi, KADIN Hotel Kemadjuan, Yayasan Al-Irsyad, dan Benteng BBI. Beberapa bangunan kuno bersejarah peninggalan kolonial kini cukup banyak beralih fungsi menjadi bangunan perdagangan, jasa, perkantoran, rumah tinggal, peribadatan dan pendidikan (lihat gambar 3.10). Selain itu terdapat area pecinan yaitu pecinan kya kya Kembang Jepun, sedangkan untuk kampung heritage yaitu kampung lawas maspati.

(1) Kawasan Kota Lama Surabaya;

Surabaya, karena satu dan lain hal, menjadi salah satu kota penting dan terbesar kala itu. Dengan moda transportasi yang relatif lengkap seperti jalur kereta, pelabuhan yang mampu menampung banyak kapal, Surabaya berhasil menjadi salah satu kota pelabuhan terbesar di Asia bersandingan dengan Calcutta, Rangoon, Singapore, Bangkok, Hong Kong, dan Shanghai. Berbagai macam aktivitas-aktivitas perekonomian di atas dapat ditemukan di Surabaya pada tahun 1900an awal (Mayangsari & Hariadi, 2017). Lebih-lebih, berkat komoditas gula, Surabaya menjadi kota paling besar transaksi

54 ekonominya ketimbang kota-kota lain, termasuk Jakarta. Konstruksi pabrik gula pun menjadi sangat massif di Surabaya, karena, sebagai salah satu kota pengekspor gula, Surabaya harus bisa menjawab kebutuhan konsumsi gula masyarakat dunia. Pada gambar 3.8 menunjukkan peta eksisting Kota Lama Surabaya yang yang berada disepanjang sungai serta perbandingan dengan peta kolonial pada gambar 3.9. sedangkan foto pada gambar 3.10 menunjukkan kawasan kota lama Surabaya.

Gambar 3. 8 Lokasi Kota Lama Surabaya (Sumber: Google maps)

55

Gambar 3. 9peta Kota Lama Surabaya dulu (Sumber: kitliv.nl)

56

Gambar 3. 10: Kota Lama Surabaya tempo dulu

(Sumber: kitliv.nl)

(2) Kawasan Pecinan Kembang Jepun;

Kembang Jepun adalah kawasan Pecinan dengan fungsi sentra perdagangan pertama yang terdapat di Surabaya. Pada masa kepemimpinan Daendels pada abad ke 18. Kawasan Kembang Jepun merupakan salah satu kawasan kota lama yang dikenal dengan nama Kota Bawah atau Beneden Stad. Sejarah panjang Kota Bawah dapat dilihat melalui keberadaan bangunan yang didirikan pada periode yang berbeda, mulai tahun 1870-an sampai dengan tahun 1900-an dengan langgam arsitektur yang beragam. Salah satu ciri kota lama bentukan Pemerintah Kolonial Belanda adalah pembagian cluster berdasarkan etnis. Kota bawah atau beneden Stad terdiri dari Kawasan Eropa, Kawasan Tionghoa dan kawasan Arab. Kawasan Pecinan Kembang Jepun dianggap sebagai kawasan paling bersejarah bagi perkembangan etnis Tionghoa di Surabaya. Pada gambar 3.11 menunjukkan peta eksisting dan keadaan Pecinan Kembang Jepun Surabaya tempo dulu Pada gambar 3.12.

57

Gambar 3. 11Kawasan Pecinan Kembang Jepun (Sumber: Google maps)

Gambar 3. 12: Pecinan Kembang Jepun Surabaya tempo dulu

(Sumber: kitliv)

(1) Kawasan Kampung Lawas Maspati

Kampung Lawas Maspati merupakan sebuah kampung yang memiliki predikat sebagai kampung wisata. Kampung wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. Kampung juga identik dengan adanya ikatan tradisional khas Indonesia, ditandai ciri kehidupan yang terjalin dalam ikatan kekeluargaan erat dalam lingkungan kampung. Pada gambar 3.13

58 menunjukkan peta eksisting dan keadaan Kawasan Kampung Lawas Maspati Pada gambar 3.14

Gambar 3. 13Kawasan Kampung Lawas Maspati (Sumber: Google maps)

Gambar 3. 14 Kawasan Kampung Lawas Maspati

Sumber: (Dyah Eka Noviyanti et al., 2018)

Kota Jakarta sebagai ibu kota Negara Indonesia dikenal sebagai kota metropolitan. Namun, di balik kesan kota modern itu ada sebuah sisi lain dari kota ini juga memiliki kawasan kota heritage seperti kota-kota lainnya, karena pada saat itu, perjalanan sejarah, tempat ini juga meninggalkan berbagai macam warisan budaya. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya bangunan peninggalan zaman Kolonial Belanda yang dapat dirasakan dari gaya arsitektur serta penataan kotanya. Kota Jakarta memiliki beberapa wisata heritage meliputi:

59

(1) Kawasan Kota Tua Jakarta;

Kawasan Kota Tua Jakarta memiliki 281 bangunan tua. Bangunan di Kawasan Kota Tua Jakarta yang sudah masuk Benda Cagar Budaya (BCB) yaitu sebanyak 86 bangunan yang ditetapkan oleh SKGub. 475/1993 dan ada 196 bangunan yang belum masuk Benda Cagar Budaya (BCB). Lingkungan di sekitar Taman Fatahillah dan Kali Besar merupakan jantung dari Lingkungan Cagar Budaya Kawasan Kota Tua Jakarta (lihat gambar 3.17). Batas-batas yang masih tersisa yaitu Sungai Ciliwung di timur, Sungai Krukut di barat, Jalan Kereta Api di utara dan Jalan Jembatan Batu/Asemka selatan. Bagian utara kota dinding Batavia, sekarang merupakan Kawasan Cagar Budaya (UPK 2014). Kawasan Kota Tua Jakarta sebagai Kawasan Cagar Budaya (sebuah living heritage) dan kawasan revitalisasi memproyeksikan kawasan tersebut menjadi salah satu tempat dari kegiatan utama skala kota bagi warga DKI Jakarta untuk berekreasi, berbudaya, bertinggal (pemukiman), dan bekerja dengan tetap menjaga kelestarian kawasan sebagai Kawasan Cagar Budaya. Pada gambar 3.16 menunjukkan peta eksisting Kota Tua Jakarta yang yang berada disepanjang sungai serta perbandingan dengan peta kolonial pada gambar 3.15.

60

Gambar 3. 15peta Kota Jakarta dulu (Sumber: kitliv)

61

Gambar 3. 16Kawasan Kampung Lawas Maspati (Sumber: Google maps)

Gambar 3. 17: Kota Tua Jakarta tempo dahulu

(Sumber: kitliv)

(2) Kawasan Kampung Melayu di Jakarta;

Kawasan Kampung Melayu merupakan kampung yang memiliki sejarah panjang. Pada masa kolonial atas usul Mayor Isaac St Martin dan van Hoorn, pada 21 Oktober 1688, maskapai dagang Hindia Timur Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)

62 membuat aturan khusus untuk pribumi. Orang-orang diharuskan tinggal hanya dengan orang-orang satu suku dalam sebuah kampung (Sugihartoyo & Widagdo, 2010). Orang Ambon harus tinggal di Kampung Ambon, orang Bali harus di Kampung Bali dan, dan orang Melayu di Kampung Melayu. Di masa VOC, orang-orang dari etnis-etnis tersebut ditempatkan mengelilingi benteng VOC di sekitar Jakarta dan Kampung Melayu di Jakarta tempo dahulu (lihat gambar 3.19). Orang-orang Ambon ditempatkan di timur benteng. Orang-orang Bali di arah barat dan orang-orang Melayu di selatan. Kampung-kampung itu seolah membentengi VOC dari serangan pribumi di pulau Jawa. Pada gambar 3.18 menunjukkan peta eksisting Kawasan Kampung Melayu di Jakarta

Gambar 3. 18Kawasan Kampung Melayu di Jakarta (Sumber: Google maps)

63

Gambar 3. 19Kampung Melayu di Jakarta tempo dahulu (Sumber: kitliv)

(3) Kawasan Pecinan Glodok di Jakarta;

Glodok juga memiliki sejarah panjang pada masa perekonomian Kota Jakarta dahulu hingga sekarang area tersebut masih penuh hiruk-pikuk aktivitas ekonomi. Sejarahnya tak bisa lepas dari orang-orang Tionghoa yang kerap dicap spesialis dunia perdagangan. Banyak orang Tionghoa berdatangan pada masa awal Batavia dibangun oleh kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) (lihat gambar 3.21). Pada masa itu orang-orang Tionghoa sudah tinggal di Glodok pada pertengahan 17. Kawasan Glodok dan sekitar akhirnya menjadi daerah Pecinan (Chinatown) di Batavia dan menjadi sentra perdagangan selama lebih dari dua ratus tahun. Pada gambar 3.20 menunjukkan peta eksisting Kawasan Kampung Glodok di Jakarta

64

Gambar 3. 20Kawasan Kampung Glodok di Jakarta (Sumber: Google maps)

Gambar 3. 21 Pecinan Glodok sekarang dan tempo dahulu

65

B. LATIHAN

Kerjakan latihan ini sebagaimana intruksi dibawah:

1. Sebutkan kawasan heritage di beberapa kota di Pada tahun berapakah Kawasan Kota Lama semarang berkembang berdasarkan (Murtomo, 2008).

2. Jelaskan alasan pemerintah hindia belanda melakukan pemindahan terhadap masyarakat cina di kota semarang 3. Pasar johar merupakan bangunan pasar karena menunjukkan

kehidupan berdagang, pada tahun berapakan pasar johar dibangun?

4. Sebutkan bangunan-bangunan bersejarah yang ada di Kota Surabaya

5. Apa yang membuat Kawasan pecinan kembang jepun menjadi Kawasan bersejarah yang penting

6. Apa nama lain dari Kawasan pecinan kembang jepun?

7. Berapakah jumlah bangunan bersejarah yang ada di Kota Tua Jakarta?

8. Kampung melayu Jakarta merupakan kampung multi etnis yang ada di Jakarta, dari etnis manakah pendatang yang datang dan menetap di Kampung Melayu Jakarta?

9. Jelaskan pendatang tersebut datang ke Kawasan tersebut? 10. Pada abad ke berapakan Kawasan pecinan glodok dibangun,

apa yang membuat Kawasan tersebut sangat penting untuk dilestarikan?

C. KUNCI JAWABAN

Kunci jawaban latihan ini dijelaskan dibawah ini: 1. Tahun 1741

2. Hal tersebut dilakukan agar peristiwa geger pecinan yang berdampak pada mereka mulai meluas dari Jakarta hingga Jawa Tengah

3. Tahun 1936

4. Ruko Tirta, kantor PTP, Pantja Niaga, Korps veteran RI, Show Room Timor, PT Tjiwi Kimia, Gedung BNI 46, PT Perkebunan, BNI 46 Syariah, Hotel Ibis, Gedung Internatiol, Bank Mandiri,

66 Gedung BBD, Kantor Jawa Pos, Gedung X4, Asahi, KADIN Hotel Kemadjuan, Yayasan Al-Irsyad, dan Benteng BBI.

5. Kembang Jepun merupakan Kawasan pecinan yang ada di Surabaya dan sebagai sentra perdagangan pertama Pada masa kepemimpinan Daendels pada abad ke 18 selain itu merupakan Kawasan prestigiud dan awal pada etnis tionghoa

6. Kota Bawah atau Beneden Stad

7. Kawasan Kota Tua Jakarta memiliki 281 bangunan tua dan 86 bangunan yang ditetapkan oleh SKGub

8. Orang – orang yang berasal dari ambon dan melayu dari arah selatan dan penduduk jawa pribumi.

9. Karena terhindar dari serangan VOC di Batavia

10. Karena merupakan Kawasan yang ada sejak 200 tahun lebih dan menjadi menjadi sentra perdagangan selama lebih dari dua ratus tahun.

1.3 PENUTUP

A. RANGKUMAN

Beberapa kota yang dijelaskan tersebut merupakan kawasan heritage yang berada di kawasan pesisir, yang pada dahulunya merupakan persinggahan Kolonial Belanda sehingga kota-kota tersebut memiliki potensi menjadi pusat kota dan perdagangan. Seiring perkembangan kota, tak sedikit bangunan lama yang hancur total atau berubah fungsi. Oleh sebab itu konservasi sangat dibutuhkan untuk menunjang atau menyelamatkan bangunan sebagai bentuk apreasiasi pada perjalanan sejarah suatu bangsa, terutama di Kota Besar Indonesia yang telah menyebar dan menjadi bukti bagian dari sejarah kolonial Belanda dengan kedepannya bangunan itu untuk bisa dipersembahkan kepada generasi mendatang.

B. UMPAN BALIK

Untuk dapat melanjutkan ke materi berikutnya, mahasiswa harus mampu menjawab semua pertanyaan paling tidak 75% benar. Selamat bagi anda yang telah lolos ke materi berikutnya.

67

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, I., & Sari, R. (2012). Kota Lama Semarang ’ Situs Sejarah Yang Terpinggirkan ‘ Old City Of Semarang ’ The Abandoned Historical Site,

32(2), 195–208.

Dyah Eka Noviyanti, U., Nilzam Aly, M., Fiatiano, E., Studi DII Kepariwisataan, P., Wisata, B., Vokasi, F., & Srikana No, J. (2018). Potensi Pengembangan Kampung Wisata Lawas Maspati Sebagai Destinasi Wisata Baru Surabaya. Jurnal Sains Terapan Pariwisata, 3(2), 218–231. Retrieved from www.surabaya.go.id

Hendro, E. P. (2015). Pelestarian Kawasan Konservasi di Kota Semarang.

Pelestarian Kawasan Konservasi Di Kota Semarang, 17–28.

Mayangsari, S., & Hariadi, M. D. (2017). Keselarasan antara Baru dan Lama Eks-Bioskop Indra Surabaya. Jurnal Sains Dan Seni ITS, 6(2), 6–8. https://doi.org/10.12962/j23373520.v6i2.26273

Murtomo, B. A. (2008). Arsitektur kolonial kota lama semarang. Jurnal

Ilmiah Perancangan Kota Dan Permukiman, 7(2), 69–79.

Rukayah, R. S., & Malik, A. (2012). Between Colonial, Moslem, and Post-Independence Era, Which Layer of Urban Patterns should be Conserved?

Procedia - Social and Behavioral Sciences, 68, 775–789.

https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2012.12.266

Rukayah, R. S., Susilo, E. S., Abdullah, M., & Saputro, S. (2018). Exploring The Position of Old Semarang Sea Prt : Based on Javanese City Pattern.

IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 116(1), 0–8.

https://doi.org/10.1088/1755-1315/116/1/012036

Rukayah, S., & Supriadi, B. (2017). Pasar Di Sudut Tiga Koridor Lama Semarang Sebagai Pembentuk Place Dan Lingkage Ekonomi. Tataloka,

19(2), 82.

Sugihartoyo, S., & Widagdo, W. (2010). Strategi Pengembangan Wisata Kota Tua Sebagai Salah Satu Upaya Pelestarian Urban Heritage (Studi Kasus : Koridor Kali Besar, Jakarta Barat). Planesa, 1(1).

Tjiook, W. (2017). Pecinan as an inspiration The contribution of Chinese Indonesian architecture to an urban environment. Wacana, V, 556–580. https://doi.org/10.17510/wacana.v18i2.596.Wiwi

Theresia, S. (2017). Revitalisasi Pasar Johar Semarang Dengan Pendekatan Arsitektur Indische, 1–14.

SENARAI

Art Deco : Art Deco adalah gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II yang banyak diterapkan dalam berbagai bidang, misalnya

68 eksterior, interior, mebel, patung, poster, pakaian, perhiasan dan lain-lain dari 1920 hingga 1939

Geger Pacinan : berarti "Pembunuhan orang Tionghoa") merupakan sebuah pogrom terhadap orang keturunan Tionghoa di kota pelabuhan Batavia, kota berlangsung dari 9 Oktober hingga 22 Oktober 1740, sedangkan berbagai pertempuran kecil terjadi hingga akhir November tahun yang sama.

Komoditi :sesuatu benda nyata yang relatif mudah diperdagangkan, dapat diserahkan secara fisik, dapat disimpan untuk suatu jangka waktu tertentu dan dapat dipertukarkan dengan produk lainnya dengan jenis yang sama, yang biasanya dapat dibeli atau dijual oleh investor melalui bursa berjangka. Secara lebih umum, komoditas adalah suatu produk yang diperdagangkan, termasuk valuta asing, instrumen keuangan dan indeks. Integrasi : sebagai cara bagaimana kelestarian nasional dalam arti luas dapat didamaikan dengan hak menentukan nasib sendiri.

Heritage : adalah sesuatu yang seharusnya diestafetkan dari generasi ke generasi, umumnya karena dikonotasikan mempunyai nilai sehingga patut dipertahankan atau dilestarikan keberadaannya.

69

2. KONSERVASI ARSITEKTUR DAN PERANCANGAN

Dokumen terkait