• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.1 PENDAHULUAN

A. DESKRIPSI SINGKAT

Di Indonesia, banyak beragam etnik/suku bangsa dan budaya serta kekayaan di bidang seni di bidang seni dan sastra dengan berbagai pengembangan-pengembangannya, oleh karena itu perlu adanya perlindungan hukum terhadap kekayaan intelektual yang lahir dari keanekaragaman tersebut. Untuk dapat melahirkan suatu karya yang mempunyai nilai seni yang tinggi bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, sesorang memerlukan pengorbanan baik waktu, biaya, tenaga, maupun pikiran, sehingga sudah merupakan suatu keharusan jika haknya dirumuskan sebagai property rights (hak milik) yang bersifat eksklusif dan diberi penghargaan yang tinggi dalam wujud perlindungan hukum. Oleh sebab itu diperlukan perlindungan undang-undang dalam Hukum di Indonesia maupun peraturan adat. Untuk itu materi kedua ini akan dijelaskan mengenai undang-undang konservasi yang mendukung cagar budaya yang dilindungi oleh negara, baik dengan cara menguasai karya arsitektur, maupun sebagai pemegang hak cipta atas karya arsitektur tersebut.

B. RELEVANSI

Sub-Pokok Materi kedua ini menjelaskan Undang-undang ketentuan berdasarkan Piagam dari International Council of Monuments and

Site (ICOMOS) atau (Burra Charter, 1981), kemudian UU No 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung, Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia dan Peraturan Konservasi Cagar Budaya daerah misalnya Kota Surabaya, Jakarta, dan Kota Semarang. Oleh karena itu, pengetahuan

mengenai undang-undang konservasi sangat diperlukan karena memiliki kandungan dalam mata kuliah Konservasi dan Revitalisasi yang diberikan dalam proses belajar mengajar di semester ini.

34

C. CAPAIAN PEMBELAJARAN

C.1 Sub Capaian Pembelajaran Mata Kuliah

Pada Capaian pembelajaran pada Mata Kuliah ini memiliki posisi yang sangat penting sebagai pengetahuan dasar mnegenai peraturan / kebijakan dalam melakukan konservasi dan revitalisasi di mata kuliah Konservasi Arsitektur. Langkah awal dalam materi ini yaitu mengenalkan kebijakan dari beberapa daerah maupun nasional kepada mahasiswa semester II Program Studi Magister Arsitektur, Jurusan Arsitektur. Pada akhir penyampaian materi Mata Kuliah Konservasi Arsitektur mahasiswa mampu menguraikan kembali secara detail dan menganalisa mengenai kebijakan-kebijakan konservasi.

1.2 PENYAJIAN

A. URAIAN

Pada penjelasan sub materi dijelaskan mengenai peraturan Cagar Budaya menjadi penting perannya untuk dipertahankan keberadaannya. Berdasarkan Piagam dari International Council of Monuments and

Site (ICOMOS), kemudian UU No 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung, Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia, serta peraturan kebijakan pemerintah

wilaya daerah.

Konservasi yang biasa digunakan para arsitek mengacu pada Piagam dari International Council of Monuments and Site

(ICOMOS) tahun 1982 yaitu: Charter for the Conservation of Places of

Cultural Significance, Burra, Australia. Piagam ini lebih dikenal dengan

Burra Charter, yang berisikan sembilan prinsip pelestarian, yaitu:

1. Pelestarian mempunyai tujuan dalam mempertahankan serta mengembalikan signifikasi budaya dalam sebuah bangunan / objek yang perlu disertakan dalam jaminan dan keselamatan suatu objek, baik dalam pemeliharaanya, tahan lama dan keutuhananya

2. kegiatan dalam melakukan konservasi perlu dilakukannya didasarkan pada pengharagaan kepada kondisi suatu eksisting suatu fabrik atau obyek dan layaknya menggunakan suatu intervensi baik fisik atau non fisik seminimal mungkin. intervensi fisik tersebut tidak

35 diperkenankan sampai merusak keunikan, dan khas dari obyek tersebut.

3. Upaya konservasi selayaknya dilakukan dengan melibatkan berbagai disiplin keilmuan, sejauh dapat memberikan kontribusi dalam hal penyelamatan dan kelanggengan objek/kawasan. Dimungkinkan untuk menetapkan teknik maupun teknologi modern, di samping teknologi yang ada dalam upaya konservasi.

4. kegiatan dalam upaya konservasi di suatu obyek / kawasan perlu dipertimbangkan dalam aspek yang sangat signifikan budaya, tanpa perlu membebani lingkungan disekitarnya atau berdampak negatif pada suatu wilayah

5. kebijakan dalam sebuah konservasi bisa disusun dalam suatu obyek/ kawasan yang diperlukan untuk komprehensif dengan mempertimbangkan signifikasi budaya serta kondisi objyek dari kawasan tersebut

6. Kebijakan dalam konservasi tersbut perlu dipertimbangkan hal hal yang memungkinkan dalam memanfaatkan bangunan lama dengan mewadahinya denga fungsi yang baru.

7. Upaya konservasi memerlukan pemeliharaan visual setting yang tepat, misalnya bentuk, skala, warna, tekstur, bahan. Penambahan struktur (infill) dan bahan baru tidak boleh sampai merusak visual

setting lingkungan sekitarnya.

8. Bangunan atau obyek yang diperlukan dalam konservasi baiknya perlu berada di lokasi asli / eksisting. Pemindahan sebagian area ataupun keseluruhan bagian tersebut hanya dimungkinkan jika didukungnya oleh sebuah alasan yang jelas dan kuat.

9. Memindahkan atau menghilangkan area tertentu dari bangunan atau obyek dengan memiliki sebuah peran dengan menentukan signifikasi kultural yang tidak diperkenankan, namun tetapi pemindahan tersebut merupakan satu-satunya cara dalam penyelamatan dari bangunan/objek tertentu

36

UU No 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

Didalam Undang-Undang No 28 Tahun 2002 Pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. Pasal 2 ayat (1) menyatakan bahwa bangunan gedung diselenggarakan berlandaskan asas kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan, serta keserasian bangunan gedung dengan lingkungannya. (Undang-undang republik Indonesia nomor 28 tahun 2002 tentang bangunan gedung, 2002)

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaanberupa Benda

Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. (BPKP, 2010)

Pasal 5

Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria:

1. berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;

2. mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun; 3. memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan,

agama, dan/atau kebudayaan; dan

4. memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa

BAB VII PELESTARIAN Pasal 53

1. Pelestarian Cagar Budaya dilakukan berdasarkan hasil studi kelayakan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, teknis, dan administratif.

37 2. Kegiatan Pelestarian Cagar Budaya harus dilaksanakan atau dikoordinasikan oleh Tenaga Ahli Pelestarian dengan memperhatikan etika pelestarian.

3. Tata cara Pelestarian Cagar Budaya harus mempertimbangkan kemungkinan dilakukannya pengembalian kondisi awal seperti sebelum kegiatan pelestarian.

4. Pelestarian Cagar Budaya harus didukung oleh kegiatan pendokumentasian sebelum dilakukan kegiatan yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan keasliannya.

Selain itu terdapat peraturan menteri Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 01/Prt/M/2015, yang

membahas mengenai “Bangunan Gedung Cagar Budaya Yang Dilestarikan”. yang dibuat sebagai acuan bagi penyelenggara bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan, bertujuan agar bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan memenuhi persyaratan bangunan gedung, (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 12, 2015)

persyaratan pelestarian, dan tertib penyelenggaraan. Adapun pasal-pasal yang lebih ditekankan yaitu;

(1) Bangunan gedung cagar budaya adalah bangunan gedung yang sudah ditetapkan statusnya sebagai bangunan cagar budaya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tentang cagar budaya. (11) Tim Ahli Cagar Budaya adalah kelompok ahli pelestarian dari

berbagai bidang ilmu yang memiliki sertifikat kompetensi untuk memberikan rekomendasi penetapan, pemeringkatan, dan penghapusan cagar budaya.

(12) Tim Ahli Bangunan Gedung Cagar Budaya, yang selanjutnya disingkat TABG-CB, adalah tim yang terdiri atas tim ahli bangunan gedung dan tenaga ahli pelestarian bangunan gedung cagar budaya untuk memberikan pertimbangan teknis dalam tahap persiapan, perencanaan teknis, pelaksanaan, pemanfaatan, dan pembongkaran bangunan gedung cagar budaya dalam rangka Izin Mendirikan Bangunan, perubahan Izin Mendirikan Bangunan, Sertifikat Laik Fungsi, rencana teknis perawatan dan rencana teknis pembongkaran bangunan gedung.

38

Undang Undang Republik Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang (Undang-undang Republik Indonesia Nomor 26

tahun 2007 tentang Penataan Ruang, 2007)

Selain Undang Undang tentang Bangunan Gedung, maka yang tidak boleh kita kesampingkan apabila kita akan membahas tentang cagar budaya, khususnya cagar budaya yang terdapat diperkotaan adalah Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, di dalam beberapa pasal di dalam undang-undang ini menyinggung tentang cagar budaya yaitu yang terdapat pada;

Pasal 4

Penataan ruang diklasifikasikan berdasarkan sistem, fungsi utama kawasan, wilayah administratif, kegiatan kawasan, dan nilai strategis kawasan

Pasal 5

(1) Penataan ruang berdasarkan sistem terdiri dari atas sistem wilayah dan sistem internal perkotaan

(2) Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budi daya

(3) Penataan ruang berdasarkan wilayah administratif terdiri atas penataan ruang wilayah nasional, penataan ruang wilayah provinsi, dan penataan ruang wilayah kabupaten/kota

(4) Penataan ruang berdasarkan kegiatan kawasan terdiri atas penataan ruang kawasan perkotaan dan penataan ruang kawasan perdesaan.

Selain kebijakan –kebijakan negara terdapat kebijakan yang berasal dari daerah yang menetapkan undang-undang cagar budaya, yaitu Jakarta, Semarang, dan Surabaya

Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 5 Tahun 2005 Tentang: Peraturan Daerah Tentang Pelestarian Bangunan Dan/Atau Lingkungan Cagar Budaya yang berisikan mengenai:

1. Daerah adalah Kota Surabaya.

2. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Surabaya.

39 3. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Surabaya.

4. Kepala Daerah adalah Walikota Surabaya.

5. Tim Pertimbangan Pelestarian Bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya yang selanjutnya dapat disingkat dengan Tim Cagar Budaya, adalah Tim yang bertugas memberi pertimbangan kepada Pemerintah Daerah dalam mengambil kebijakan terhadap kelestarian dan pelestarian bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya.

6. Orang adalah orang pribadi atau badan.

7. Bangunan Cagar Budaya adalah bangunan buatan manusia, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan .

8. Lingkungan Cagar Budaya adalah kawasan di sekitar atau di sekeliling bangunan cagar budaya yang diperlukan untuk pelestarian bangunan cagar budaya dan/atau kawasan tertentu yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah,ilmu pengetahuan dan kebudayaan .

9. Pelestarian atau Konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya agar makna budaya yang dikandungnya terpelihara dengan baik dengan tujuan untuk melindungi, memelihara dan memanfaatkan, dengan cara preservasi, pemugaran atau demolisi.

10. Perlindungan adalah upaya mencegah dan menanggulangi segala gejala atau akibat yang disebabkan oleh perbuatan manusia atau proses alam, yang dapat menimbulkan kerugian atau kemusnahan bagi nilai manfaat dan keutuhan bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya dengan cara penyelamatan, pengamanan dan penertiban.

11. Pemeliharaan adalah upaya melestarikan bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya dari kerusakan yang diakibatkan oleh faktor manusia, alam dan hayati dengan cara perawatan dan pengawetan. 12. Preservasi adalah pelestarian suatu bangunan dan/atau lingkungan

cagar budaya dengan cara mempertahankan keadaan aslinya tanpa ada perubahan, termasuk upaya mencegah penghancuran.

40 13. Pemugaran adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan melestarikan bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya dengan cara restorasi (rehabilitasi), rekonstruksi atau revitalisasi (adaptasi).

(Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2005 Tentang Pelestarian Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya, 2005)

Regulasi Pemerintah Kota Semarang Tentang Pelestarian Bangunan Cagar Budaya, peraturan tersebut dijelaskan dalam Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2003 Tentang Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Kota Lama (Badan Perencanaan

Pembangunan Daerah Semarang, 2003) Pasal 1

(1) KAWASAN HISTORIK SEMARANG adalah kawasan tua di Semarang yang merupakan embrio pertumbuhan kota. Yang digolongkan sebagai kawasan historis ini adalah kawasan Kota Lama (bekas kota benteng), kampung Melayu, Pecinan, Kauman, Kampung Kulitan dan Kawasan Gedung Batu / Sam Poo Kong.

(2) SITUS adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya.

(3) KONSERVASI ATAU PELESTARIAN adalah berbagai upaya memelihara, mengembalikan dan meningkatkan wujud dan fungsi suatu kawasan, situs, obyek, bangunan atau tempat dengan mempertahankan nilai historis dan budayanya.

(4) PRESERVASI adalah bagian dari konservasi yang berupa pemeliharaan dan pencegahan suatu tempat atau bangunan dari perubahan atau kehancuran agar tetap sesuai dengan keadaan aslinya. (5) RESTORASI adalah bagian dari konservasi yang berupa pengembalian kondisi fisik bangunan keaslinya dengan cara memasang kembali unsur – unsur asli yanghilang tanpa menggunakan bahan baru atau dengan membuang unsur – unsur baru.

(6) REHABILITASI adalah bagian dari konservasi yang berupa perbaikan dan pengembalian kondisi bangunan yang rusak atau menurun dengan menjaga nilai historisnya sehingga dapat berfungsi kembali.

41 (7) ADAPTASI adalah bagian dari konservasi yang berupa perubahan sebagian kecil bangunan atau tempat – tempat agar dapat digunakan untuk fungsi baru yang lebih diperlukan.

(8) REKONSTRUKSI adalah bagian dari konservasi yang berupa pengembalian suatu tempat atau bangunan semirip mungkin dengan aslinya dengan menggunakan bahan baru yang telah diteliti.

(9) DEMOLISI adalah bagian dari konservasi yang berupa penghancuran atau perombakan suatu bangunan atau tempat karena tingkat kerusakannya dianggap membahayakan atau karena tingkat perubahannya dianggap sudah tidak sesuai lagi.

(10) REVITALISASI adalah upaya menghidupkan kembali kawasan, bangunan–bangunan, jalan – jalan dan lingkungan kuno dengan menerapkan fungsi baru dalam penataan arsitektural aslinya untuk meningkatkan kegiatan ekonomi, sosial, pariwisata dan budaya.

Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030 yang

berisikan mengenai:

Pasal 71

(1) Kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (1) huruf f, sebagai berikut:

a. kawasan pemugaran bangunan dan objek bersejarah; dan b. kawasan warisan budaya.

(2) Lokasi kawasan pemugaran bangunan dan objek bersejarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, ditetapkan sebagai berikut:

a. kawasan Kota Tua; b. kawasan Menteng; c. Rumah Si Pitung;

d. kawasan Kebayoran Baru; dan

e. kawasan pemugaran bangunan dan objek bersejarah lainnya (3) Kepada pemilik tanah dan bangunan yang ditetapkan sebagai

bangunan pemugaran dan/atau objek bersejarah dapat diberikan kompensasi berupa insentif tanpa mengubah status kepemilikan.

42 (4) Lokasi kawasan warisan budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

huruf b, yaitu Kawasan Perkampungan Budaya Betawi di Situ Babakan.

(5) Pemanfaatan dan pengelolaan ruang kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), dilaksanakan berdasarkan arahan sebagai berikut:

a. melestarikan budaya, hasil budaya atau peninggalan sejarah bernilai tinggi dan khusus untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, dan sejarah;

b. memugar hasil budaya atau peninggalan sejarah bernilai tinggi untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, dan sejarah;

c. melarang kegiatan dan pendirian bangunan yang tidak sesuai fungsi kawasan cagar budaya; dan

d. mengemas bangunan dan objek bersejarah untuk dapat mendukung kegiatan pariwisata.

(6) Setiap kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), diwajibkan memiliki Rencana Pelestarian, Pemugaran, dan Pengendalian Ruang Kawasan Cagar Budaya.

(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai Rencana Pelestarian, Pemugaran, dan Pengendalian Ruang Kawasan Cagar Budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (5), diatur dengan Peraturan Gubernur.

B. LATIHAN

Kerjakan latihan ini sebagaimana intruksi dibawah:

1. Jelaskan isi prinsip pelestarian berdasarkan Piagam dari International Council of Monuments and Site (ICOMOS) tahun 1982

2. Jelaskan isi dari Undang-Undang No 28 Tahun 2002 Pasal 1 ayat (1) mengenai konservasi pada bangunan Gedung

3. Jelaskan isi dari Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2010 mengenai Cagar Budaya pada pasal 5

4. Jelaskan isi dari Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 01/Prt/M/2015

5. Jelaskan isi dari Undang Undang Republik Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang

43 6. Jelaskan isi dari Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 5 Tahun

2005 Tentang: Peraturan Daerah Tentang Pelestarian Bangunan 7. Sebutkan undang-undang pemerintah yang membahas mengenai

konservasi / yang berhubungan dengan konservasi bangunan

8. Jelaskan isi dari Peraturan Daerah Kota Semarang Tentang Pelestarian Bangunan Cagar Budaya

9. Jelaskan isi dari Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 10. Pengertian revitalisasi berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun

2003 Tentang Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Kota Lama

C. KUNCI JAWABAN

Kunci jawaban latihan ini dijelaskan dibawah ini:

1. Pelestarian dalam mempertahankan budaya masa lalu, dalam melakukan konservasi diperlukan beberapa tokoh disiplin ilmu lain yang dilibatkan, kebijakan dalam konservasi perlu diperhatikan, bangunan bersejarah harus berada di lokasi asli tempat awal (tidak dipindah), dan perlu banyak pertimbangan dan alasan yang terdesak untuk memindahkan bangunan.

2. Bangunan Gedung merupakan hasil dari pekerjaan konstruksi yang menyatu dalam tempat kedudukannya

3. Berusia 50 tahun, memiliki arti untuk ilmu kesejarahan, dan kebudayaan

4. Bangunan Gedung cagar budaya adalah bangunan yang sudah ditetapkan statusnya sebagai cagar dan sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang cagar budaya, tim dari cagar budaya memiliki sertifikat yang khusus, tim ahli dalam bangunan Gedung terdiri atas tim ahli bangunan gedung dan tenaga ahli pelestarian bangunan gedung cagar budaya

5. Penataan terdiri dari system internal dan wilayah, berdasarkan fungsi utama Kawasan, wilayah administrtif, dan kegiatan Kawasan perkotaan dan pedesaan

6. Lokasi di Surabaya, dan segala administrative ada di Surabaya, tim ahli cagar budaya memberi pendapat terhadap pelestariaan kepada pemerintah, bangunan bersejarah harus dibuat seumur

sekurang-44 kurangnya 50 tahun, kemudian penjelasan pengertian mengenai Konservasi, Perlindungan, Pemeliharaan, Preservasi, Pemugaran 7. Kawasan histori berasal dari kota semarang, lokasi situs diperlukan

perhatian khusus, kemudian beberapa pengertian mengenai Konservasi, Perlindungan, Pemeliharaan, Preservasi, Pemugaran, Rehabilitasi, Adaptasi, Rekonstruksi, Demolisi, dan Revitalisasi 8. Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 5 Tahun 2005, peraturan

daerah kota semarang Nomor 8 Tahun 2003, dan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1 Tahun 2012

9. Kawasan yang dimaksud merupakan objek bersejarah / warisan budaya, lokasi yang ditetapkan sebagai objek bersejarah, untuk pemilik bangunan bersejarah diberikan kompensasi, melestarikan bidaya yang bernilai tinggim setiap bangunan yang ingin dilestrikan harus memiliki rencana, kemudian info mengenai cagar budaya bisa didapatkan pada peraturan gubernur

10. Merupakan mengembalikan dan menghidupakan Kembali Kawasan bangunan dan lingkungan dalam menerapkan fungsi baru.

1.2 PENUTUP

A. RANGKUMAN

Bangunan gedung di Indonesia telah diatur dalam dasar hukum yang kuat, yaitu dalam bentuk undang-undang yang memiliki aturan pelaksanaan berupa peraturan pemerintah. Undang-undang dimaksud adalah UU No 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung yang diundangkan dan mulai berlaku pada tanggal 16 Desember 2002. Sebagai aturan pelaksanaannya, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005, tentang Peraturan Pelaksanaan UU No 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung yang ditetapkan mulai berlaku pada tanggal 10 September 2005, dan selanjutnya pada tanggal 18 Februari 2015, kembali Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2015 yang mengatur tentang Bangunan Cagar Budaya Yang Dilestarikan, dan Undang Undang Republik Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.

45

B. UMPAN BALIK

Untuk dapat melanjutkan ke materi berikutnya, mahasiswa harus mampu menjawab semua pertanyaan paling tidak 75% benar. Selamat bagi anda yang telah lolos ke materi berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Semarang. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Kota Lama No 8 Tahun 2003, Bappeda, Semarang § (2003).

BPKP. (2010). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Burra Charter. (1981). The Burra Charter : the Australia ICOMOS charter for

places of cultural significance 1999 : with associated guidelines and code on the ethics of co-existence / Australia ICOMOS. Burwood, Vic:

Australia ICOMOS.

Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2005 Tentang Pelestarian Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya, Surabaya: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya § (2005).

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 12. (2015).

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. (2007). Jakarta. Pemerintah Republik Indonesia.

Undang-undang republik Indonesia nomor 28 tahun 2002 tentang bangunan gedung (2002). Panca Usaha.

SENARAI

Visual Setting : dapat dilihat dengan indra penglihat (mata); berdasarkan penglihatan sedangkan dalah penggambaran mengenai waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita. Tokoh-tokoh dalam cerita hidup pada tempat dan waktu (masa) tertentu. Oleh karena itu peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh-tokoh cerita terjadi pada waktu dan tempat tertentu pula.

Cultural : Aktivitas manusia yang berhubungan dengan budaya. konstitusional adalah Suatu naskah yang didalamnya memuat keseluruhan peraturan-peraturan yang

46 mengatur dengan mengikat dalam penyelenggaraan ketatanegaraan dalam suatu negara.

Pemugaran : proses, cara, perbuatan memugar; pembaharuan kembali; pemulihan kembali; perbaikan kembali Fabric : masuk ke dalam bahasa inggris yaitu bahasa Jermanik

yang pertama kali dituturkan di Inggris pada Abad Pertengahan Awal dan saat ini merupakan bahasa yang paling umum digunakan di seluruh dunia. Bisa berarti buatan pabrik, kain, tenunan atau struktur.

Intervensi : Istilah dalam dunia politik di mana ada negara yang mencampuri urusan negara lainnya yang jelas bukan urusannya

47

D. KONSERVASI ARSITEKTUR DAN

Dokumen terkait