• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTRIBUSI SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DALAM PROGRAM PERUBAHAN IKLIM

Pengelolaan sampah sebagai bentuk mitigasi perubahan iklim sangat berkontribusi terhadap program perubahan iklim. Sampah dapat menghasilkan emisi gas methane. Emisi CH4 dari sampah merupakan hasil dekomposisi anaerobik dari materi organik dalam sampah. Sampah terdekomposisi perlahan dan waktu dekomposisi dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Kebijakan mitigasi perubahan iklim Indonesia diatur oleh UU No.32 tahun 2009. Melalui UU tersebut mulai diatur arahan penanganan mitigasi terhadap perubahan iklim dan sebagai upaya mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan. Bahkan, Pemerintah Indonesia berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26% dengan usaha sendiri dan mencapai 41% jika mendapat bantuan internasional pada tahun 2020 (Perpres RI No. 6 Tahun 2011).

Salah satu sektor yang dikembangkan dalam mitigasi adalah pengelolaan sampah. Tujuan mitigasi sektor persampahan adalah untuk mengurangi volume sampah perkotaan dan mereduksi emisi gas rumah kaca terutama konsentrasi CO2 dan CH4 sehingga mengurangi pemicu perubahan iklim. Pengembangan mitigasi di sektor persampahan di negara berkembang ditekankan karena pengelolaan sampah di TPA yang masih belum stabil dan masih berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca yang besar sehingga diperlukan penerapan sistem pengelolaan sampah yang dikembangkan dengan strategi pengelolaan limbah alternatif yang disediakan terjangkau dan berkelanjutan (Bogner, et al, 2008 : 11). Tujuan mitigasi perubahan iklim di sektor persampahan adalah untuk

mengurangi volume dan konsentrasi emisi gas rumah kaca di atmosfer sehingga mampu tercipta kestabilan di atmosfer.

Emisi gas rumah kaca dari sektor persampahan pada umumnya berupa metana (CH4) yang dihasilkan dari TPA dan CO2 yang dihasilkan dari kegiatan pembakaran terbuka. Emisi dari pembakaran terbuka lebih sulit untuk dikontrol dibandingkan emisi dari TPA. Selain itu, pembakaran dan daur ulang kertas dan plastik menghasilkan gas N2O yang jika dikonversikan menjadi CO2 ekuivalen (Eq.) adalah 310 kalinya.

Mayoritas pengelolaan sampah di Indonesia sampah adalah dengan dikompos, dibakar, dibuang ke sungai, diurug, dibuang ke landfill, dan sebagainya. Potensi gas rumah kaca yang dihasilkan berbeda tergantung dari proses yang terjadi tersebut. Untuk pembakaran terbuka dan dekomposisi natural, proporsi sampah yang dapat terurai secara biologi di Indonesia adalah lebih tinggi. Dalam proses pembakaran terjadi reaksi aerob yang menghasilkan CO, namun tidak ada gas rumah kaca yang dilepaskan ke udara. Emisi CH4

dari landfill merupakan hasil dekomposisi anaerobik dari materi organik dalam sampah. Sampah dalam landfill terdekomposisi perlahan, dan waktu dekomposisi dapat berlangsung dalam beberapa dekade. Pada dasarnya gas yang terbentuk terdiri atas gas metana dan gas karbondioksida.

Pengelolaan sampah ke depan harus mulai memperhitungkan konversi sampah menjadi sumber energi. Selain itu, pengelolaan sampah harus terintegrasi dengan kegiatan mitigasi perubahan iklim sehingga terjadi co-benefit yang menguntungkan.

Perhatian yang lebih besar baik dari sisi program maupun anggaran merupakan tantangan bagi setiap kota/kabupaten dalam rangka menciptakan pembangunan daerah yang lebih berwawasan lingkungan. Jika sektor persampahan mampu diintervensi, maka volume gas CH4 pemicu perubahan iklim akan berkurang. Intervensi sektor persampahan penting untuk Kota Malang karena sistem pengolahan sampah di TPA Bulusan masih menggunakan controlled landfill, yang masih mengakibatkan tumpukan sampah yang tinggi tanpa proses pengolahan lebih lanjut. Atas dasar inilah, intervensi sektor persampahan perlu dilakukan untuk mengurangi timbunan sampah di TPA sebagai sumber utama penghasil emisi gas CH4.

Intervensi sekor persampahan dilakukan dengan melakukan inovasi kegiatan pengolahan sampah sehingga dapat mengurangi timbunan sampah yang berada di TPA SupitUrang Kota Malang. Bentuk intervensi terhadap sektor persampahan adalah mengembangkan beberapa strategi pengelolaan sampah sebelum sampah tersebut ditimbun di TPA, yaitu kegiatan pengolahan sampah yang dilakukan pihak ketiga (perusahaan swasta) dan kegiatan pengelolaan sampah skala komunitas di TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu).

Inovasi dalam pengolahan sampah tersebut disebut upaya mitigasi terhadap perubaan iklim. Mitigasi terhadap perubahan iklim adalah upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim dengan cara mencari cara untuk memperlambat atau menahan emisi gas rumah kaca (Klein dan Huq, 2007:750). Jika pengelolaan sampah dapat dioptimalkan untuk mengurangi emisi CH4 maka dapat mengurangi emisi gas tersebut ke atmosfer. Kondisi tersebut diharapkan mampu memberikan pengaruh pada pengurangan dampak perubahan iklim dan menciptakan Kota Malang yang berketahanan iklim. Untuk mewujudkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu keberhasilan dalam penurunan emisi gas rumah kaca, khususnya CH4, dukungan urban system (infrastruktur perkotaan) dalam tindakan mitigasi tersebut.

Berdasarkan beberapa dokumen yang terkait dengan perubahan iklim di Indonesia, sektor limbah, termasuk persampahan di dalamnya, merupakan salah satu prioritas dalam upaya pengurangan emisi GRK. Meskipun kontribusi emisi GRKnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan sektor-sektor lain seperti kehutanan dan pertanian, sektor limbah merupakan salah satu sumber emisi GRK yang penting (Gambar 2.10). Berdasarkan dokumen ICCSR (2010), emisi GRK dari sektor persampahan diperkirakan mencapai 43 juta ton pada tahun 2010 dan diprediksi akan semakin meningkat seiring dengan waktu. Sebagian besar emisi ini timbul dari pengolahan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah yang sebagian besar masih dioperasikan dengan open dumping.

Dalam TPA baik yang terkelola maupun yang tidak terkelola, proses anaerobik yang akan terus terjadi. Dengan demikian berbagai upaya mitigasi emisi GRK sangat perlu dilakukan dalam sektor persampahan.

Gambar 2.8 Proporsi Emisi GRK dari Berbagai Sektor di Indonesia Tahun 2010

Gambar 2.9 Alur Sampah dan GRK yang dihasilkan dari tiap Proses

(Sumber: Elaborasi Elemen NAMAs (Nationally Appropriate Mitigation Actions) Dalam Pengembangan Aksi Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Pengelolaan Sampah Perkotaan Dengan Pendekatan Integrasi Vertikal, 2014)

Gambar 2.9 memperlihatkan emisi GRK yang dihasilkan dari setiap alur proses pengelolaan sampah, dari mulai timbulan sampah sampai dengan tempat pemrosesan akhir.

GRK yang dihasilkan dari proses pengelolaan sampah perkotaan didominasi oleh gas karbon dioksida (CO2) dan gas metana (CH4). Menurut penelitian Shindell, et al. (2009), gas metana mempunyai kekuatan sekitar 25 kali lebih kuat untuk menghasilkan efek rumah kaca dibandingkan dengan karbon dioksida. Namun gas metana memiliki potensi lebih besar untuk dimanfaatkan, misalnya sebagai sumber energi. Untuk mengurangi efek rumah kaca dari sektor sampah, maka GRK yang dihasilkan harus diturunkan/dimitigasi.

Berdasarkan kompilasi dari RAD-GRK yang disusun oleh pemerintah provinsi, estimasi potensi emisi GRK dari limbah domestik adalah sebesar 29,8 juta ton CO2 eq di tahun 2010 dan 58 juta ton CO2 eq di tahun 2020. Hasil perhitungan ini berbeda dengan perhitungan dalam dokumen SNC (2010). Hal tersebut terjadi karena sumber data yang digunakan berbeda. Perhitungan pada SNC (2010) dilakukan dengan menggunakan data yang terdapat di tingkat pemerintah pusat. Sementara itu perhitungan emisi GRK yang dilakukan dalam rangka penyusunan RAD-GRK dilakukan berdasarkan data yang diberikan oleh seluruh pemerintah provinsi dengan mencakup seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Data- data tersebut mencakup data jumlah penduduk dan proyeksinya; timbulan dan komposisi sampah kabupaten/kota; cakupan pelayanan penanganan sampah; jenis penanganan sampah dan perkiraan proporsinya; jenis

pengelolaan TPA serta estimasi kondisi eksisting TPA; perkiraan proporsi tingkat sosial ekonomi masyarakat; perkiraan proporsi jenis pengelolaan air limbah yang digunakan oleh masyarakat. Distribusi potensi emisi GRK setiap provinsi dapat dilihat pada Gambar 2.10.

Secara umum pengelolaan sampah di Indonesia mengacu pada Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Kementerian yang terlibat langsung adalah Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Lingkungan Hidup. Sementara itu Kementerian Dalam Negeri berperan dalam koordinasi dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam pengelolaan sampah.

Kementerian Pekerjaan Umum telah menyusun konsep pengelolaan sampah yang terkait dengan pengurangan emisi GRK sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2.10. Pada gambar tersebut dijelaskan bahwa pengelolaan sampah yang akan dilaksanakan berangkat dari UU 18/2008 mengenai pengelolaan sampah dan PP 81/2012 tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan rumah sakit serta didukung dengan peraturan yang terkait. Program tersebut direncanakan untuk didanai oleh APBN dalam bentuk dana stimulan untuk membantu Pemerintah Daerah dalam pengelolaan sampah.

Program tersebut ditujukan untuk fasilitas TPS 3R, TPA sampah, FPSA (Fasilitas Pengolahan Sampah Antara), dan SPA (Stasiun Peralihan Antara). Untuk mendukung keberhasilan program tersebut, Kementerian PU melaksanakan juga bantuan teknis perencanaan, bantuan pendampingan, kelembagaan, kampanye dan edukasi, pengembangan peraturan dan pedoman teknis untuk mendukung keberhasilan program tersebut.

Menurut Peraturan Presiden Nomor 61/2011, kebijakan yang dilaksanakan untuk menunjang mitigasi GRK sektor sampah adalah sebagai berikut:

• Peningkatan kapasitas kelembagaan dan peraturan di daerah; • Pengurangan timbulan sampah melalui kegiatan 3R;

• Perbaikan proses pengelolaan sampah di TPA sampah; • Peningkatan/pembangunan/rehabilitasi TPA sampah;

Gambar 2. 10 Program Kementrian PU dalam Pengelolaan Emisi GRK Sektor Sampah

(Sumber: Elaborasi Elemen NAMAs (Nationally Appropriate Mitigation Actions) Dalam Pengembangan Aksi Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Pengelolaan Sampah Perkotaan Dengan Pendekatan Integrasi Vertikal, 2014)

Dengan mencermati pertumbuhan emisi yang tidak terkendali dan dampak negatif yang disebabkannya, pemerintah telah menerbitkan panduan kepada pemerintah provinsi untuk mengembangkan serangkaian strategi mitigasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang timbul dari sektor limbah. Berdasarkan dokumen RAN/RAD-GRK, opsi mitigasi tersebut dibagi dalam 3 kategori sebagai berikut:

Rencana aksi mitigasi 1: Pengembangan Perencanaan Pengelolaan Limbah

Kategori ini dapat terdiri dari berbagai kegiatan seperti pengembangan rencana induk pengelolaan sampah, studi kelayakan dan desain rekayasa rinci tempat pemrosesan akhir sampah, evaluasi dampak lingkungan dari tempat pemrosesan akhir, perencanaan untuk tempat penampungan sementara secara fasilitas 3R terpadu dll.

Rencana aksi mitigasi 2: Minimisasi Limbah

Kategori kedua aksi mitigasi ini mencakup kegiatan antara lain pembangunan fasilitas 3R terpadu, sosialisasi kegiatan 3R, operasional pemilahan sampah, pengembangan bank sampah, kegiatan pengomposan, pengenalan program Kampung Iklim dan Desa Iklim, dll.

Rencana aksi mitigasi 3: Peningkatan Fasilitas Pengelolaan Limbah dan Pengolahan Gas

Kegiatan aksi mitigasi dalam kategori ini difokuskan pada rehabilitasi tempat penmrosesan akhir, pembangunan TPA dengan lahan urug terkendali atau lahan urug saniter, pengoperasian tempat pemrosesan akhir semi aerobik dan pengolahan gas metana di TPA

Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-1

BAB V

RENCANA PROGRAM PENGEMBANGAN SISTEM