RENCANA PROGRAM PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH
5.1. RENCANA TAHAPAN PELAKSANAAN
5.1.1. Pemilahan / Pewadahan
Pertimbangan – pertimbangan dalam pemilihan jenis pewadahan didasarkan pada :
Tidak mudah rusak dan kedap air
Mudah untuk dibersihkan
Harga terjangkau;
Ringan dan mudah diangkat;
Bentuk dan warna estetis
Memiliki tutup supaya higienis;
Mudah diperoleh
Volume pewadahan untuk sampah yang dapat digunakan ulang, untuk sampah yang dapat didaur ulang, dan untuk sampah lainnya minimal 3 hari serta 1 hari untuk sampah yang mudah terurai.
Persyaratan Sarana Pewadahan
1. Jumlah sarana harus sesuai dengan jenis pengelompokan sampah 2. Diberi label atau tanda
3. Dibedakan berdasarkan warna, bahan, dan bentuk
Sistem pewadahan di permukiman tidak harus disediakan oleh pemerintah, dapat disediakan sendiri oleh masyarakat dengan beberapa pola, yaitu:
Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-3
- Disediakan oleh masyarakat dengan model ditentukan oleh pemerintah - Disediakan oleh pemerintah daerah
- Disediakan oleh organisasi swadaya masyarakat
Penerapan pola pewadahan harus mengikuti pola pelayanan yang akan direncanakan sebagai berikut :
a. Pola Individual
Pola individual diterapkan untuk daerah pemukiman teratur, pertokoan, perkantoran dan bangunan besar lainnya. Masing – masing sumber sampah menyediakan pewadahan sampah sendiri, tidak harus menunggu bantuan pewadahan dari pemerintah daerah. Untuk pemukiman, institusi, disarankan menggunakan bin terbuat dari plastik dengan volume 40-60 atau kantong plastik volume 10 – 40 liter. Penggunaan bin terbuat dari plastik mempunyai beberapa kelebihan daripada bin dari kayu, antara lain kedap air, mudah dan cepat dikosongkan. Sedangkan penggunaan kantong plastik bertujuan agar proses pengumpulan sampah dari sumber ke gerobak lebih cepat.
Pengumpulan sampah menggunakan gerobak pada jam jam tertentu, sehingga setiap sumber sampah hendaknya meletakkan sampahnya di pewadahan terdekat atau diletakkan di halaman rumah masing masing sehingga memudahkan petugas untuk memudahkan petugas untuk mengambilnya. Alternatif lain bagi masyarakat yang belum mampu menyediakan jenis pewadahan, dapat menggunakan :
Kotak, silinder Kontainer
Bin (tong) yang bertutup Kantong plastik
Pewadahan jangka pendek
Pola pewadahan yang sudah pada saat ini untuk tahap mendesak tetap dipertahankan, untuk menampung sampah dari sumber sumber sampah yang ada. Model pewadahan individual bebas, akan tetapi mengikuti syarat – syarat tentang pemilihan pewadahan yang baik.
Pewadahan jangka menengah dan panjang
Untuk pewadahan yang ditempatkan di jalan – jalan protokol dan daerah komersial, hendaknya mempunyai model dan bentuk yang sama, hal ini bertujuan untuk memperindah wajah kota. Untuk tahap jangka menengah dan jangka panjang masyarakat diharapkan untuk menyediakan 5 jenis pewadahan yang berbeda yakni
Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-4
untuk sampah B3 (merah), sampah organik (hijau), sampah Guna ulang (kuning), sampah daur ulang (biru), residu (abu abu).
Gambar 5.1. Contoh Pewadahan Menurut Permen PU 3 tahun 2013
2. Pola Komunal
Penghasil atau sumber sampah membawa sendiri sampahnya ke lokasi bak komunal terdekat dengan menggunakan kantung plastik supaya mudah dalam pemindahannya. Untuk tahap mendesak pewadahan komunal menggunakan pewadahan yang terbuat dari kontainer. Untuk tahap – tahap selanjutnya menggunakan pewadahan dari kontainer yang digunakan untuk beberapa penghasil sampah secara bersama – sama seperti pasar dan pemukiman yang sangat padat yang selanjutnya diangkut truk menuju TPA. Untuk pasar, penggunaan Transfer Depo tipe II sangat dianjurkan, karena selain kebersihannya dapat dikontrol, proses pemindahan sampah dari gerobak ke kontainer dapat dilakukan dengan cepat. Sedangkan untuk pewadahan di masing – masing pedagang di pasar disarankan untuk menggunakan pewadahan dari kantong plastik , keranjang ataupun kardus bekas.
Dengan demikian maka sub sistem Pewadahan sampah yang direncanakan untuk diusulkan bagi Kota Malang adalah sebagai berikut :
Permukiman :
Untuk pewadahan individual : menggunakan bin dari karet ban V = 40/60 liter
Khusus untuk permukiman diupayakan juga dengan model pewadahan sampah basah dan sampah kering.
Untuk pewadahan komunal : dengan gerobak 1500 liter /1,5 m3,atau container sekaligus untuk pola pengumpulan yang dipersiapkan melalui sistem komunal
Pertokoan
tempat sampah plastik dengan pemisahan volume @ 60 liter dengan sistem semi tetap (pewadahan dengan penyangga)
Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-5
tempat tempat sampah plastik dengan pemisahan volume @ 60 liter, dapat menggunakan model tidak tetap (dapat dipindah) dan atau sistem semi tetap (diberi penyangga) dan pewadahan dengan 5 jenis sampah sesuai aturan yang berlaku.
Pasar :
tempat tempat sampah plastik dengan pemisahan volume @ 60 liter pada setiap stand pasar dan langsung container volume 4 m3.
Jalan :
Bin 100 liter dengan sistem pemisahan 5 jenis sampah dan dibuat dalam model sistem pewadahan semi tetap (pewadahan dengan penyangga). Pewadahan pada jalan menjadi tanggung jawab pemerintah Kota Malang.
Hotel/retoran/sekolah :
tempat tempat sampah plastik dengan pemisahan volume @ 60 liter dan dibuat dalam model semi tetap (pewadahan dengan penyangga).
Rumah sakit :
khusus untuk rumah sakit maka terdapat perlakuan khusus dalam melakukan pewadahan sampah yaitu untuk sampah non medis (domestik) menggunakan tempat tempat sampah plastik dengan pemisahan volume @ 60 liter dan untuk sampah medis menggunakan peraturan khusus yaitu :
Pada dasarnya sampah rumah sakit dibedakan dalam empat kategori yaitu : - sampah radioaktif
- sampah infeksius - sampah citotoksis
- sampah domestic (umum)
Uraian sistem Pewadahan Sampah Rumah Sakit tersebut adalah sebagai berikut:
Untuk itu setiap unit pelayanan hendaknya disediakan tempat penampung dangan bentuk, ukuran dan jumlah yang disesuaikan dengan jenis dan jumlah sampah serta kondisi setempat. Untuk jenis sampah radioaktif menggunakan tempat warna merah, untuk sampah infeksius menggunakan wadah warna kuning, untuk sampah citotoksis menggunakan cat warna ungu dan untuk sampah domestic menggunakan cat warna putih. Penempatan tempat sampah dilakukan setiap 20 meter pada ruang tunggu dan ruang terbuka. Pada setiap ruangan minimal tersedia 1 buah atau minimal 1 buah tempat sampah setiap radius 10 meter
Untuk sampah infeksius dan citotoksis, wadahnya setiap kali dikosongkan harus disiram desinfektan terlebih dahulu
Hendaknya sampah tidak dibiarkan di tempat penampungan atau pewadahan tersebut terlalu lama. Pada wadah tempat sampah yang telah dilapisi plastik, kantong palstik
Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-6
tersebut harus diangkat apabila 2/3 bagian volumenya telah terisi sampah. Hal ini untuk menghindari terjadinya ceceran sampah pada waktu pengumpulan sampah.
Bak penampung sampah harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: - bahan tidak mudah berkarat
- kedap air, terutama untuk menampung sampah basah - bertutup rapat
- mudah dibersihkan
- mudah dikosongkan atau diangkut - tidak menimbulkan bising
- tahan terhadap benda tajam dan runcing
Pewadahan sampah sebaiknya diberi kantong plastik pelapis dalam bak sampah. Untuk memudahkan pengosongan dan pengangkutan , penggunaan kantong plastik pelapis dalam bak sampah sangat disarankan. Kantong plastik tersebut membantu membungkus sampah waktu pengangkutan sehingga mengurangi kontak langsung mikroba dengan manusia dan mengurangi bau tidak terlihat sehingga dapat diperoleh rasa estetis dan memudahkan pencucian bak sampah. Penggunaan kantong plastik ini terutama bermanfaat untuk sampah laboratorium. Ketebalan plastik disesuaikan dengan jenis sampah yang dibungkus karena kadang-kadang petugas pengangkut bisa terciderai oleh benda tajam seperti jarum dan lain-lain ditampung di kaleng, kotak karton, atau tempat khusus untuk dibakar di incinerator yang bersuhu minimal 1000 derajat Celcius.
Untuk bak sampah laboratorium, paling tidak diperlukan tiga tipe tempat penampung sampah di laboratorium, yaitu untuk tempat penampung sampah, gelas dan pecahan gelas untuk mencegah cidera. Sampah yang basah dengan solvent untuk mencegah penguapan bahan bahan solvent Perkakas laboratorium yang terinfeksi hendaknya dimusnahkan dengan incinerator. Incinerator harus dioperasikan di bawah pengawasan bagian sanitasi atau bagian laboratorium.
LOKASI PELETAKAN PEWADAHAN : 1. Wadah Individual ditempatkan :
Di halaman muka (tidak diluar pagar)
Di halaman belakang untuk sumber sampah dari restoran atau rumah makan 2. Wadah komunal ditempatkan :
Tidak mengambil lahan trotoar (kecuali untuk wadah sampah pejalan kaki)
Tidak dipinggir jalan protokol
Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-7 Tidak mengganggu pemakai jalan atau sarana umum lainnya
Di tepi jalan besar, pada suatu lokasi yang mudah untuk pengoperasiannya. 5.1.2. Pengumpulan
Jenis peralatan pengumpulan sampah yang direncanakan adalah gerobak dan sepeda motor (TOSSA), karena pola pengumpulan sampah di Kota Malang selama ini masih banyak menggunakan pola individual tidak langsung. Untuk permukiman sistem pengumpulan menggunakan gerobak dengan kapasitas 1,5 m3 dengan 1 petugas dengan ritasi 2 kali sehari, sedangkan pengumpulan dengan sepeda motor roda 3 direncanakan dengan ritasi 2 kali sehari. Berat jenis sampah untuk Kota Malang rata-rata adalah 200 kg/m3 (dari berbagai sumber penghasil sampah) dan berat jenis sampah dalam gerobak adalah 150 kg/m3.
Selengkapnya pengelolaan sistem pengumpulan pada masing-masing sumber diusulkan sebagai berikut :
a. Pemukiman
Pengumpulan sampah di daerah pemukiman teratur dilakukan menggunakan pola individual tidak langsung, yaitu dengan cara mengambili sampah dari rumah ke rumah dengan menggunakan gerobak sampah, baik yang ditarik petugas, ataupun motor roda 3 (gerobak motor) . Pemakaian gerobak motor digunakan untuk daerah yang mempunyai kondisi jalan yang sempit dan tidak dapat dilalui oleh truk pengangkut sampah dan juga kondisi jalan yang tidak datar yang tidak memungkinkan gerobak yang ditarik petugas. Pengumpulan sampah di daerah pemukiman kumuh /permukiman sederhana dilakukan secara komunal tidak langsung, yaitu pengambilan sampah di tempat pewadahan komunal yang disediakan untuk sekelompok masyarakat di suatu wilayah untuk di bawa ke TPS terdekat yang selanjutnya menuju TPA. Alat pengumpul dapat berupa gerobak manual. Pemakaian truk pengangkut untuk mengumpulkan sampah dari sumber sampah sekaligus pengangkutan sampah menuju TPA secara langsung (pola komunal langsung) dapat dilakukan untuk daerah daerah yang memasang pewadahan secara komunal berupa TPS beton atau container.
Untuk permukiman di sepanjang bantaran sungai karena ketinggian daerah > 5% dapat menggunakan alat pengumpulan berupa pikulan, kontainer kecil beroda dan karung.
Untuk tahap mendesak, gerobak tetap dipertahankan sebagai peralatan pengumpulan individual tidak langsung, hanya saja perlu ditambahkan pola komunal langsung untuk
Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-8
daerah dengan kepadatan rendah. Untuk tahap II dan III menggunakan TPS dari kontainer , gerobak dan sepeda motor roda 3.
Jumlah Gerobak yang disediakan oleh pemerintah dapat dilihat pada Tabel 5.1. Penyediaan gerobak sampah, container maupun sepeda motor roda 3 yang dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan adalah sebagai stimulan untuk masyarakat untuk selalu merawat dan memelihara seluruh sarana persampahan yang digunakan minimal mencapai usia pakainya.
b. Pasar
Pengumpulan sampah di lokasi pasar yakni para pedagang di pasar dapat langsung meletakkan sampahnya ke dalam TPS pasar atau kontainer pasar yang telah tersedia di area sekitar pasar. Untuk mengantisipasi sampah yang timbul secara terus menerus dan menumpuknya sampah di satu tempat, pengumpulan sampah dilakukan minimal 2 ritasi tiap hari dan diletakkan kontainer di area pasar.
c. Jalan Protokol
Model pengumpulan sampah dijalan protokol dan taman yang diusulkan adalah bahwa pengumpulan sampah jalan dan taman harus dilakukan dengan penyapuan terlebih dahulu. Sampah yang terkumpul di letakkan di pewadahan terdekat (komunal langsung), akan tetapi apabila sampah yang terkumpul cukup banyak dan pewadahan tidak mencukupi, maka petugas penyapu dapat menggunakan gerobak atau kendaraan sepeda motor roda 3 untuk pengumpulan sampah dan kemudian di bawa ke transfer depo atau TPS terdekat (individual tidak langsung).
d. Sekolah dan gedung perkantoran
Model pengumpulan sampah untuk kegiatan sekolah diusulkan dengan menggunakan sistem individual langsung apabila sekolah tersebut terletak di pinggir jalan atau mudah dijangkau oleh kendaraan pengangkut sampah ke TPA, dan menggunakan menggunakan gerobak atau kendaraan sepeda motor roda 3 untuk sekolah yang terletak pada gang yang dekat maupun yang jauh dari keberadaan TPS. Untuk yang tidak lebih dari radius 200 meter, maka sampah sekolah dapat dikumpulkan dengan pola individual tidak langsung dengan gerobak, namun jika jauh maka dapat menggunakan kendaraan bermotor.
Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-9
e. Hotel/penginapan dan Restoran
Model pengumpulan sampah untuk kegiatan hotel dan restoran diusulkan dengan menggunakan sistem individual langsung dengn apabila kegiatan tersebut tersebut terletak di pinggir jalan atau mudah dijangkau oleh kendaraan pengangkut sampah ke TPA, dan menggunakan menggunakan gerobak atau kendaraan sepeda motor roda 3 untuk pengelolaan yang menjadi satu dengan sistem atau pola pengumpulan individual tidak langsung.
f. Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan Lainnya
Khususnya untuk kegiatan rumah sakit, maka pengumpulan sampah rumah sakit adalah menggunakan pola komunal langsung karena didalam rumah sakit harus disediakan container tersendiri dan armada pengangkutan yang langsung dapat membawa sampah domestik rumah sakit ke TPA . Khusus untuk sampah medis maka seluruh ketentuan penanganan sampah harus mengikuti aturan aturan sebagai berikut :
Tempat pengumpulan sementara sebelum sampah diangkut oleh petugas, harus memenuhi syarat-syarat yaitu mudah dikosongkan, tidak terbuat dari beton permanent, terletak di lokasi yang mudah terjangkau truk pengangkut dan harus segera dikosongkan sekurang-kurangnya satu kali 24 jam. Sangat disarankan yang mempunyai model tidak tetap atau mudah dipindah seperti sistem container
Untuk sampah infeksius, tajam, patologis, jaringan tubuh padat harus dimusnahkan langsung pada incinerator dan untuk sampah farmasi yang sudah rusak harus dikembalikan kepada distributor. Syringe, jarum dan cartridges hendaknya dibuang dengan keadaan tertutup.
Sampah benda tajam hendaknya ditampung dalam bak tahan benda tajam yang bilamana penuh (atau dengan interval maksimal tidak lebih dari satu minggu) hendaknya diikat dan ditampung di dalam bak sampah infeksius sebelum diangkut dan dimusnahkan dengan incinerator yang memenuhi syarat suhu pembakaran minimal > 1000 derajat Celsius.
Pengumpulan sampah dengan gerobak atau motor dengan bak terbuka atau mobil bak terbuka tanpa sekat dikerjakan sebagai berikut :
Pengumpulan sampah yang mudah terurai dari sumbernya minimal 2 (dua) hari sekali lalu diangkut ke TPS atau TPS 3R.
Pengumpulan sampah yang mengandung bahan B3 dan limbah B3, sampah guna ulang, sampah daur ulang, dan sampai lainnya sesuai dengan jadwal yang telah
Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-10
ditetapkan dan dapat dilakukan lebih dari 3 hari sekali oleh petugas RT atau RW atau oleh pihak swasta.
5.1.3. Pengangkutan
Program-program yang direncanakan agar kinerja sub sistem pengangkutan optimal adalah sebagai berikut:
1.
Pengadaan armada. Pengadaan armada pengangkutan dilakukan dengan memperhitungkan volume sampah untuk mengetahui kebutuhan armada serta mempertimbangkan biaya operasional. Dengan penambahan armada ini diharapkan kontainer terisi sampah di TPS-TPS dapat segera diangkut ke TPA.2.
Mengatur rute ke TPA. Pengaturan rute menuju TPA yang efisien dengan mempertimbangkan waktu dan jarak tempuh kendaraan dari TPS ke TPA. Diupayakan rute angkutan sampah tidak melalui jalan yang padat lalu lintas3.
Monitoring optimalisasi pengangkutanArtinya bahwa diperlukan pengawasan terhadap operasional pengangkutan agar tidak terjadi overhaul yang berlebihan pada kegiatan pengangkutan sampah. Sebagai contoh adalah adanya sikap tidak tertib dari sopir truk dan lain-lain.
Perencanaan Sub Sistem Pengangkutan sampah di Kota Malang direncanakan secara bertahap dengan pentahapan sebagai berikut :
a. Tahap mendesak
Pada tahap ini sistem pengangkutan masih menggunakan sistem pengangkutan yang ada sekarang ini, yaitu mengumpulkan sampah dari sumber – sumber penghasil sampah untuk selanjutnya diangkut menuju ke TPA. Pengangkutan sampah direncanakan dengan ritasi minimal 2 kali sehari. Jenis angkutan yang digunakan adalah amroll truk. Penambahan amroll truk dapat dilihat pada tabel 5.2.
b. Tahap menengah
Pada tahap menengah, diharapkan pengoperasian truk dengan sistem individual langsung atau komunal langsung dapat berkurang dengan adanya motor roda 3 yang dapat mengangkut sampah dari sumbernya menuju TD terdekat maupun adanya TPS 3R yang mampu mengurangi jumlah sampah yang masuk TPA sehingga jumlah truk pengangkut juga berkurang.
c. Tahap Jangka Panjang
Sistem pengelolaan pada tahap jangka panjang, tidak banyak berbeda dengan tahap jangka menengah. Akan tetapi pada tahap ini, sejalan dengan diharapkan masyarakat
Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-11
sudah mampu untuk memisahkan sampah kering dan sampah basah, maka pola pengangkutan harus dapat mempertahankan sampah yang sudah terpisah akan tetap terpisah sampai dengan TPA. Secara teknis, pengangkutan dapat dilakukan dengan membuat sekat pada alat angkut untuk memisahkan sampah kering dan sampah basah, dan juga bisa dilakukan pengangkutan secara bergantian.
Sistem operasional sub sistem pengangkutan adalah sebagai berikut :
Sistem yang direncanakan adalah sistem container tetap, kendaraan pengangkut keluar dari pool langsung menuju ke TPS kemudian membawa container yang berisi sampah menuju TPA. Dari TPA, kendaraan truk dengan container kosong menuju container yang berisi sampah di TPS berikutnya sampai dengan ritasi yang terakhir.
Gambar 5.2. Sistem Container Tetap
Selain itu untuk sistem pengangkutan sampah di Kota Malang dapat menggunakan sistem container tidak tetap model arm roll, kendaraan keluar dari pool dengan membawa container kosong menuju TPS untuk mengganti atau mengambil container berisi sampah untuk dibawa ke TPA, selanjutnya dari TPA dengan membawa container yang sudah kosong, truk pengangkut menuju container terisi di TPS berikutnya sampai ritasi terakhir.
Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-12
Gambar 5.3. Sistem Container Tidak Tetap Model Arm Roll
5.1.4. Pengolahan
Sub sistem pengolahan merupakan fase dimana terdapat upaya pengurangan sampah mulai dari sumber sampah sehingga sampah yang ditangani pada sistem berikutnya menjadi lebih kecil volumenya. Untuk sampah domestik maka konsep atau kegiatan 3R yang harus dilakukan baik pada sampah pada permukiman penduduk maupun pada setiap pelaku usaha di Kota Malang.
Perencanaan sistem pengolahan pada wilayah rencana adalah sebagai berikut : a. Pemukiman, Hotel, Restoran, Sekolah, Perkantoran
Pengumpulan sampah di daerah pemukiman teratur secara bertahap direncanakan dengan menggunakan TPS 3R. Khusus untuk setiap pelaku usaha di Kota Malang wajib untuk melakukan pengolahan sampah secara mandiri dengan konsep 3R.
Persyaratan TPS 3R :
1) Luas TPS 3R, lebih besar dari 200 m2
2) Jenis pembangunan penampung residu/sisa pengolahan sampah di TPS 3R bukan merupakan wadah permanen
3) Penempatan lokasi TPS 3R sedekat ,mungkin dengan daerah pelayanan dalam radius tidak lebih dari 1 km
4) TPS 3R dilengkapi dengan ruang pemilah, pengomposan sampah organik, gudang, zona penyangga (buffer zone) dan tidak mengganggu estetika serta lalu lintas
5) Keterlibatan aktif masyarakat dalam mengurangi dan memilah sampah.
b. Pasar
Sistem pengolahan sampah di pasar dapat dikembangkan dengan membawa sampah yang dikumpulkan menuju ke lokasi TPS terdekat. Model container dikembangkan untuk dijadikan 2 pemilahan sampah basah dan sampah kering.
Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-13
c. Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan Lainnya
Khususnya untuk kegiatan rumah sakit, maka sistem pengolahan sampah domestik rumah sakit dilakukan dengan menyiapkan keranjang Takakura atau Komposter Aerob sebagaimana pengolahan sampah pada permukiman dan kegiatan lainnya. Untuk sampah medis disarankan menggunakan sistem pengolahan yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga berijin Kementrian KLHK. Apabila pembakaran kurang dari yang direncanakan akan menyebabkan terjadinya gas Dioksin yang berbahaya bagi kesehatan manusia .