• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelantikan Fasilitator

B. MENGGERAKKAN PERANAN MASYARAKAT DALAM KEGIATAN 3R

II. PENGELOMPOKAN SAMPAH :

1. Pupuk Kompos Alami

Pupuk kompos alami sebenarnya ada di sekitar kita, alam sudah menyediakannya. Untuk mendapatkannya pergilah ke tempat2 pembuangan sampah lalu lakukan hal2 di bawah ini

1. Gali tumpukan sampah yang sudah halus, yang sudah mirip tanah

2. Kemudian lakukan pemisahan antara bahan2 yang mudah lapuk dengan yang tidak mudah lapuk.

3. Setelah kita pisahkan lalu saring dengan menggunakan ayak.

4. terkahir, siapkan sekitar 50 hingga 100 gram belerang lalu taburkan di atas hasil ayakan tadi.

Bahan Pembuatan Pupuk Kompos :

1. Siapkan 2 1 /4 hingga 4 m3 sampah yang mudah lapuk, sangat di sarankan menggunakan sampah organik basah.

2. Siapkan kulit buah kopi kira2 6,5 m3 (alternatif pengganti kulit kopi bisa menggunakan daun lamtoro)

3. Siapkan kotoran ternak mamah biak sebanyak 750 kg (atau sekitar ± 50 kaleng ukuran 20 liter)

4. Siapkan 30 kg abu kayu atau abu dapur. Panduan Cara Membuat Pupuk Kompos

1. Langkah pertama siapkan bak dari semen untuk pengomposan. Perlu di perhatikan untuk desain baknya harus memiliki dasar yang cekung dengan ukuran 2.5 x 1 x 1 m (p x l x t).

2. Selanjutnya campur semua bahan diatas ke dalam box pengomposan lalu aduk hingga merata. Kemudian taburi bagian atas adonan bahan tadi dengan abu kayu. 3. Setelah itu tutup bagian atas bak pengomposan menggunakan plastik transaparan,

Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-65

pengomposan. Setelah kira2 4-5 hari siramkan hasil tampungan nitrogen tadi, hal ini di maksudkan untuk enambah kandungan nitrogen pada adonan bahan agar proses pengomposan bisa lebih cepat.

4. Lakukan step 3 hingga 2 atau 3 minggu secara rutin, setelah itu aduk kembali adonan agar merata dan ulangi step 3 lagi.

5. Terus lakukan step diatas hingga kira2 2-3 bulan agar adonan benar-benar matang, dalam step ini pupuk seharusnya sedikit berair.

6. Setelah 2-3 buan tadi angkatlah adonan karena sudah siap jadi, dan lakukanlah pengeringan dengan cara menjemur kompos hingga kadar airnya kira-kira 50 -60 % saja.

7. Pupuk kompos siap di gunakan. 2. Kompos Rumah Tangga

Bahan Yang Perlu di siapkan :

1. Siapkan 2 tempat sampah yang berbeda warna (misalnya merah dan putih), hal ini kita gunakan nantinya sebagai wadah pembuatan dan pembeda antara organik dan non organik.

2. Siapkan pula 1 wadah bak plastic atau drum bekas lalu berilah beberapa lubang pada bagian dasarnya untuk menggunakan paku/bor, hal ini berguna untuk mengeluarkan kelebihan air. Agar kelembaban udara tetap terjaga usahakab di bagian atas dapat ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu sehingga tetap ada sirkulasi udara.

3. Alternatif lain bisa menggunakan dasar bak pengomposan dapat tanah atau paving block, sehingga kelebihan air dapat meresap ke dalam tanah. Usahakan bak pengomposan tidak kena air hujan, dan sangat di sarankan bak berada di bawah atap.

Cara Membuat :

1. Campur 1 bagian sampah merah dan 1 bagian sampah putih.

2. Selanjutnya campurlah dengan kompos yang sudah jadi untuk memancing penyampuran agar lebih merata. Jika ada kotoran ternak ( ayam atau sapi ) dapat pula dicampurkan .

3. Pembuatan pupuk kompos ini bisa dilakukan sekaligus, atau bisa juga selapis demi selapis dan bertahap setiap 2 hari sekali, namun pastikan setiap 7 hari selalu mengaduknya agak merata,

4. Proses pengomposan bisa dikatakan selesai jika campuran sudah tidak berbau dan mulai berubah warna menjadi kehitaman. Jika step demi step di lakukan dengan

Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-66

benar maka perkiraan sekitar minggu ke-5 dan ke-6 suhu sudah kembali normal, dan kompos sudah jadi.

5. Kunci dari berhasil atau tidaknya pengomposan ini terletak pada bagaimana kita mengendalikan suhu, kelembaban dan oksigen. Hal ini di tujukan agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimal untuk berkembang biak.

6. Sampah organik sebaiknya di ayak untuk memisahkan bagian yang halus dan kasar, bagian yang kasar bisa kita gunakan lagi sebagai aktivator jika ingin melakukan pengomposan lagi nantinya. Untuk mempercepat proses pengomposan, dapat ditambahkan bio-activator berupa larutan effective microorganism (EM) yang bisa kita beli di toko pertanian.

b. Sampah non organic yang masih bisa didaur ulang dikumpulkan di tiap keluarga, RT, Dusun, kemudian di jual kepada pengepul, hasilnya untuk mendukung kebutuhan sosial bersama di lingkungan setempat.

3. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman kepada semua pihak untuk bertanggung jawab menangani / mengelola dengan baik terhadap semua persoalan sampah yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan hidup di sekitar lingkungannya, antara lain dengan cara :

 Sampah (dikelola sistem 3 R : Pembatasan timbulan sampah ( reduce ), Pendauran ulang sampah ( recycle ), Pemanfaatan kembali sampah (reuse) PP 81/2012 psl 11 ayat 1 )

a. Reduce : Mengurangi Jumlah Sampah dengan cara mengurangi penggunaan mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah termasuk bahan – bahan sekali pakai yang dapat menambah jumlah sampah, dll.

Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-67

b. Reuse : Menggunakan kembali Bahan – bahan yang bisa digunakan ulang, misal botol kemasan sabun/shampoo dan tumbler atau paper cup.

c. Recycle : Mendaur Ulang sampah agar bisa digunakan kembali dengan melalui proses tertentu.

 Pemeliharaan sarana dan prasarana serta sumberdaya alam dan makhluk hidup

Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-68

lainnya. (Revitalisasi, Konservasi, Reboisasi).

 Melestarikan budaya perilaku hidup bersih mengingat tanggung jawab untuk mengolah sampah bukan hanya pada pemerintah sehingga perlu adanya peran serta pihak penghasil sampah dalam pengelolaan tersebut.

Adapun Peran serta masyarakat dlm pengelolaan sampah

• Melakukan penanganan sampah rumah tangga secara mandiri dengan 3 R atau bermitra dengan Pemerintah

• Memberikan usul dan pertimbangan kepada Pemerintah dalam kegiatan pengelolaan sampah

• Memberikan saran dan pendapat dalam perumusan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah

• Turut serta dalam pendidikan dan pelatihan, kampanye dan pendampingan kepada masyarakat dlm pengelolaan sampah untuk merubah perilaku

Adapun manfaat dalam pengelolaan sampah secara 3R antara lain : 1. Mengurangi jumlah/volume sampah

2. Menjadi Lingkungan Bersih dan sehat

3. Memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat dari hasil penjualan sampah, kompos juga hasil daur ulang sampah oleh masyarakat.

Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-69

5.7. TAHAPAN LEGALISASI RENCANA INDUK

Rencana Induk Pengelolaan Persampahan Kota Malang perlu melewati tahap legalisasi dengan tujuan substansi dari Rencana Induk mengikat dan berlaku untuk umum. Agar mengikat dan berlaku untuk umum maka perlu disahkan dalam bentuk Peraturan Walikota (Perwali). Nomenklatur Perwali digunakan (daripada nomenklatur Peraturan Daerah) karena proses pengundangannya yang lebih efisien secara prosedural sehingga jika terdapat review terhadap Rencana Induk dapat dilakukan perubahan. Selain itu substansi Rencana Induk lebih menyangkut aspek teknis sehingga perlu diposisikan sebagai peraturan pelaksana, khususnya pelaksana dari Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah. Dokumen Rencana Induk akan menjadi Lampiran dari Perwali tentang Rencana Induk Pengelolaan Persampahan Kota Malang, sedangkan batang tubuh Perwali akan mengatur mengenai mekanisme perubahan Rencana Induk dan aspek-aspek lainnya.

Penyusunan Perwali Rencana Induk Pengelolaan Persampahan Kota Malang akan melewati tahapan sebagai berikut:

1. Tahap Penyusunan: Pimpinan perangkat daerah pemrakarsa menyusun Rancangan Perwali. Rancangan Perwali setelah disusun disampaikan kepada Bagian Hukum Setda Pemerintah Kota Malang untuk dilakukan pembahasan. 2. Tahap Pembahasan: Walikota kemudian membentuk tim pembahasan

Rancangan Perwali untuk melakukan pembahasan bersama Bagian Hukum. Ketua tim melaporkan perkembangan pembahasan kepada Sekretaris Daerah. Sekretaris daerah dapat melakukan perubahan dan/atau penyempurnaan terhadap Rancangan Perwali. Hasil penyempurnaan disampaikan pimpinan perangkat daerah pemrakarsa kepada Sekretaris Daerah setelah dilakukan paraf koordinasi setiap halaman oleh tim. Sekretaris Daerah kemudian menyampaikan Rancangan Perwali kepada Walikota untuk ditandatangani.

3. Tahap Penetapan: Penandatanganan Rancangan Perwali dilakukan oleh Walikota.

4. Tahap penomoran: Bagian Hukum melakukan penomoran setelah Rancangan Perwali ditandatangani oleh Walikota.

5. Tahap Pengundangan: Sekretaris Daerah mengundangkan Perwali ke dalam Berita Daerah.

Setelah Perwali masuk dalam Berita Daerah maka telah mempunyai kekuatan hukum mengikat dan berlaku untuk umum. Setiap pelanggaran terhadap ketentuan dalam Perwali akan memiliki akibat hukum. Sifatnya yang berlaku untuk umum

Laporan Akhir-Rencana Program Pengelolaan Sistem Persampahan V-70

berimplikasi dokumen Rencana Induk yang menjadi lampiran dari Perwali tersebut bukan hanya mengikat bagi SKPD tetapi juga bagi setiap pemangku kepentingan.

LAPORAN AKHIR –KESIMPULAN DAN REKOMENDASI VI-1

BAB VI

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI