• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontrol Diri pada Anak Tunagrahita Ringan

Dalam dokumen TESIS. Oleh ZULAIDAH MAISYARO LUBIS /IKM (Halaman 96-103)

HASIL PENELITIAN

4.2 Deskripsi Informan

5.1.6 Kontrol Diri pada Anak Tunagrahita Ringan

Kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan dalam dirinya. Individu mempunyai kebutuhan untuk

memuaskan keinginan dan kebutuhannya agar tidak mengganggu dan melanggar kenyamanan dan keselamatan orang lain, individu harus mengontrol perilakunya. Jika individu mampu menghindari situasi-situasi yang dapat memicu sifat-sifat negatif berarti individu tidak membiarkan diri menyerah pada kecendrungan-kecendrungan untuk bereaksi secara negatif ketika individu menghadapi realitas keras dalam hidupnya.

Pada anak tunagrahita ringan ini pun terjadi perilaku yang tidak benar akibat tidak adanya kontrol diri pada anak tersebut hal ini di pengaruhi oleh peran orang tua yang kurang dalam hal memberikan bimbingan dan pengawasan pada anak tersebut, sehingga anak tidak tahu mana yang benar dan yang salah. Lingkungan yang berada disekitar anak tidak selamanya memberikan dampak yang positif terhadap perilakunya. Jika tidak diberikan pengetahuan yang benar tentang kesehatan seksual maka yang dia dapat dilingkungannya itulah yang dianggap benar.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian sebayang bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kontrol diri sebagian besar adalah terdiri dari faktor internal dan eksternal. Dimana faktor eksternal, salah satunya terdapat dalam keluarga. Dalam lingkungan keluarga terutama orang tua akan menentukan bagaimana kemampuan mengontrol diri seseorang. Pola asuh orang tua dalam menerapkan sikap disiplin kepada anaknya secara intens sejak dini dan orang tua bersikap konsisten terhadap semua konsekuensi yang dilakukan anak bila ia menyimpang dari yang sudah ditetapkan, maka sikap ini akan internalisasi oleh anak dan kemudian akan menjadi kontrol diri bagi anak. Orang tua dalam hal ini menempati posisi penting dan sangat

menentukan pembentukan kepribadian anak. Dengan kata lain, baik buruknya anak ditentukan oleh cara atau perilaku orang tua.

5.1.7 Peran Orang Tua

Peran orang tua dalam memberikan informasi tentang kesehatan seksual terhadap anak tunagrahita ringan. Seksualitas merupakan kebutuhan setiap individu sejak kecil dan tidak dilarang, namun ditekan dan tetap dialihkan maupun diarahkan jika memang sudah tidak dapat dikendalikan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai upaya orang tua sejak dini dalam penanaman nilai-nilai seksualitas, memberikan pemahaman, mengajak ngobrol tentang seksualitas, mengajak aktifitas yang positif dan produktif.

Pada penelitian ini peran ibu dalam memberikan informasi tentang kesehatan seksual pada anaknya yang tunagrahita ringan masih sangat rendah. Hal ini dikarenakan ibu menganggap anak memiliki IQ yang rendah sehingga akan sulit menerima hal yang baru. Hal tersebut sama dengan hasil penelitian menurut Tanjung, ibu belum memberikan pemahaman tentang perilaku seksual dengan jelas, benar dan detail kepada anak tunagrahita baik mengenai organ reproduksi, perkembangan fisik anak saat memasuki remaja, mimpi basah, menstruasi, pergaulan dengan lawan jenis dan pelecehan seksual. Hal ini terjadi karena ibu menganggap materi kesehatan seksual adalah materi yang tidak cocok diberikan kepada anak tunagrahita, karena belum cukup umur dan mereka belum mengerti mengenai hal tersebut serta kemampuan anak tunagrahita yang susah menerima hal baru.

Anak tunagrahita dianggap belum cukup umur untuk menerima materi kesehatan reproduksi karena memang chronological age dan mental age pada anak tunagrahita berbeda. Misalnya dari segi umur kronologisnya sudah berumur 18 tahun, namun dari segi mental age kemampuan anak tunagrahita di sesuaikan dengan IQ dari anak tunagrahita itu sendiri.

Padahal bila materi ini tidak diberikan sedini mungkin membuat anak tidak mengetahui perbedaan antara laki-laki dan perempuan (ditandai dengan anak bertanya kenapa alat kemaluan dia berbeda dengan kakaknya), perkembangan fisik dan seksual saat memasuki remaja (ini terlihat remaja yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah mentruasi, dan bertanya kenapa ada bulu di kemaluannya). Pada saat mimipi basah terjadi anak tidak mengetahuinya dan bahkan sampai terjadi masturbasi di sembarang tempat.

Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa peran orang tua dalam upaya memberikan pemahaman dan mencegah munculnya perilaku-perilaku seksual memiliki kesamaan antar orang tua walaupun ada beberapa orang tua yang secara mendalam dalam upaya penanganan penyaluran dorongan seksual anaknya, sedangkan yang sebahagian orang tua hanya memberikan yang umumnya saja.

Sebahagian anak yang dimiliki informan sudah mulai menunjukkan perilaku yang negatif, tapi yang lainnya belum, namun orang tua tetap melakukan pemantauan yang ketat.

Menurut Triatnawati, A.1999, mengatakan bahwa pembicaraan seks bagi remaja sering dikonotasikan sebagai hal yang porno, jorok, atau bahkan tabu. Di area

arus, informasi yang serba cepat serta rangsangan-rasangan yang muncul di sekitar remaja, menyebabkan mereka yang tidak mempunyai pengetahuan yang benar mengenai seks, cendrung menjadi korban dari rasa keinginyahuannya sendiri. Tanpa pendidikan dan informasi yang terarah, baik secara formal maupun informal, dapat di pastikan bahwa remaja akan tetap melihat seks sebagai suatu misteri. Mereka akan mengeksplorasi seksualitas tanpa bimbingan dan menjadi konsumen rakus dari berbagai informasi yang bias dan tidak akurat, yang disajikan media massa. Remaja mudah terjerumus dalam perilaku seks menyimpang.

Anak tunagrahita memiliki kekuatan meniru, merekam yang sangat kuat sehingga orang tua harus betul-betul menanamkan konsep-konsep yang tepat. Sesuai pandapat Dr Rose, AP, M.Psi seorang psikolog mengatakan bahwa pendidikan seks bagi anak wajib diberikan orang tua sedini mungkin.

Anak tunagrahita sulit untuk mengerti dan apabila sudah mengerti pun anak tunagrahita mudah lupa terhadap materi yang diajarkan kepada mereka. Pendapat ibu tersebut juga dipengaruhi oleh pandangan masyarakat yang menganggap bahwa memberikan materi tersebut ke anak itu tidak pantas dan dapat memberikan dampak negatif kepada anak seperti anak akan berpikir yang macam-macam mengenai seks.

Selain itu, masyarakat juga menganggap bahwa materi mengenai kesehatan reproduksi tidak perlu dan tidak akan diberikan kepada anak karena selain tabu, anak juga pasti tahu sendiri. Namun, jika anak tunagrahita diberikan pemahaman kesehatan reproduksi, mereka menganggap anak tunagrahita tidak akan mengerti karena kecerdasannya kurang.

Dalam praktiknya ibu telah memberikan pemahaman mengenai menstruasi dan pelecehan seksual, namun hal tersebut hanya materi umumnya saja. Contohnya dalam hal menstruasi, ibu terpaksa memberikan materi menstruasi karena anaknya sudah mengalami. Sedangkan dalam hal pelecehan seksual, ibu memberikan materi pelecehan seksual karena mendapat laporan dari gurunya karena anaknya hampir saja ingin melakukan hubungan seksual dengan teman laki-lakinya yang mengalami tunagrahita juga di sekolah tersebut. Sehingga ibu menasehati anak tersebut untuk tidak main jauh-jauh atau tidak main ke tempat dimana kejadiaan itu terjadi dan ibu terus memantau anaknya selama di sekolah. Untuk menjelaskan materi pelecehan seksual dan menstruasi tersebut ibu lebih menunggu waktu yang tepat seperti saat anak sudah mengalaminya dulu.

5.2 Peran Guru

Secara umum, anak-anak dimasukkan orang tua ke sekolah dasar ataupun lanjut adalah untuk mendapatkan pendidikan sekolah ataupun pendidikan perilaku yang baik. Sekolah sebagai dasar untuk melaksanakan program promosi kesehatan dapat digunakan untuk memengaruhi perilaku remaja. Sekolah dapat dijadikan tempat untuk menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga dapat membangun kebahagian dan membantu anak-anak mengembangkan perilaku hidup sehat dan menghindari perilaku negatif.

Guru dan personil kesehatan sekolah lainnya perlu menyiapkan harapan normatif untuk perilaku kesehatan dan berperan sebagai role model gaya hidup yang

memengaruhi kesehatan. Menciptakan peer yang positif dengan promosi kesehatan lebih baik dibandingkan dengan perilaku yang merusak kesehatan. Khususnya pendidikan seks secara umum diharapkan berakar kuat sebagai bagian program pendidikan kesehatan sosial dan pribadi sekaligus menjadi kerangka kerja warga negara. Semua sekolah saat ini harus memiliki kebijakan yang mengatur pendidikan seks dan hubungan yang terkini.

Apa yang telah terjadi di sekolah-sekolah sangat beragam, diujung skala yang satu sekolah tidak memiliki kebijakan dan hanya bisa di paksa untuk membuatnya.

Sekolah seperti ini biasanya mulai melihat pentingnya pendidikan seks ketika terjadi krisis, misalnya bila murid wanitanya hamil. Hal ini yang terjadi di UPT SLB Negeri Pembina tempat saya meneliti, sekolah tidak memiliki kurikulum yang baku dan jam kelas untuk mengajarkan pendidikan seks pada anak tunagrahita tersebut. Para guru hanya memberikan pendidikan seks pada anak tunagrahita apabila ada kejadian pada anak didiknya. Seperti kemarin anak tunagrahita tersebut ketahuan melihat dan menyebarkan video porno dari Handpone dan menyebarkannya pada teman-teman yang lain. Disitulah baru guru memberikan pengertian pada anak yang melakukan nya, tapi anak yang lain bagaimana. Akibat dari hal itu hampir saja terjadi pelecehan seksual pada anak perempuan oleh teman laki-lakinya yang sama-sama tunagrahita.

Pihak sekolah hanya memberikan materi kesehatan reproduksi mengenai gambaran umum, hanya seputar mengenalkan nama organ tubuh dan kebersihan alat kelamin ketika menstruasi. Sekolah tidak memberikan materi kesehatan reproduksi secara menyeluruh.

Dalam dokumen TESIS. Oleh ZULAIDAH MAISYARO LUBIS /IKM (Halaman 96-103)

Dokumen terkait