Hukum Sabat, yang sangat dipatuhi masyarakat Yahudi, berasal bukan hanya dari Hukum Taurat, melainkan dari kisah penciptaan juga. Sabat mengatur agar orang berhenti bekerja pada hari ketujuh. Namun dalam waktu-waktu kemudian ada berbagai aturan tambahan yang sifatnya mengikat sehingga orang, seolah tak boleh bergerak sedikit pun pada hari Sabat.
Itu sebabnya orang Farisi melancarkan protes ketika melihat murid-murid Yesus memetik bulir gandum dan memakannya (1). Padahal Taurat sendiri mengizinkan orang memetik bulir gandum dengan tangan, bila melalui ladang gandum yang belum dituai (Ul. 23:26). Namun orang Farisi lebih menyoroti tindakan para murid sebagai memanen sementara menggisar gandum dengan tangan dianggap sebagai tindakan untuk mempersiapkan makanan. Menjawab pertanyaan orang Farisi, Yesus membandingkan tindakan para murid dengan tindakan Daud yang tidak disalahkan
(1Sam. 21:1-6; bdk. 2Taw. 30:18-20). Apa yang dilakukan oleh para murid tidaklah bertentangan
dengan Taurat, maka seharusnya orang Farisi tidak menyalahkan para murid. Jika Daud saja boleh melakukannya, apalagi Anak Manusia yang memiliki otoritas atas Sabat.
Dalam kesempatan Sabat yang lain, ahli Taurat dan orang Farisi menunggu-nunggu kesempatan untuk mengkritik Yesus. Dan itu terjadi ketika Yesus menyembuhkan orang yang tangan
kanannya lumpuh (6). Menanggapi apa yang dipikirkan oleh ahli Taurat dan orang Farisi, Yesus menanyakan tentang perbuatan yang boleh dilakukan pada hari Sabat: perbuatan baik atau jahat? Allah memaksudkan Sabat untuk kesejahteraan umat manusia. Maka umat Tuhan seharusnya menjadikan hari itu sebagai hari untuk melayani dan menjadi berkat bagi orang lain.
Aturan-aturan agama dibuat untuk ditaati, tetapi bukan secara kaku, melainkan dengan pertolongan Roh Kudus serta dengan motivasi untuk menyenangkan hati Allah. Bila kita taat sementara orang lain tidak, janganlah kita menjadi hakim atas dia. Bicarakanlah baik-baik dan doakanlah.
Diskusi renungan ini di Facebook:
32 Kamis, 15 Januari 2015 Bacaan : Lukas 6:12-19
(15-1-2015)
Lukas 6:12-19
Layanilah
Judul: LayanilahBerlatar belakang konflik dengan para pemimpin Yahudi serta adanya kebutuhan untuk memilih murid-murid, Yesus pergi ke bukit untuk berdoa semalaman (12). Dari fakta bahwa Tuhan membutuhkan persekutuan dengan Bapa, mengajar kita tentang bagaimana kita seharusnya menunjukkan ketergantungan total kepada Allah melalui doa.
Kemudian Yesus memilih dua belas orang dari sejumlah orang yang mengikuti Yesus. Mereka disebut rasul (13-16). Mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda, tetapi disatukan oleh Yesus ke dalam satu komunitas yang baru. Merekalah yang akan melanjutkan pekerjaan Yesus ke seluruh dunia. Sebab itu, Yesus akan memusatkan waktu-Nya serta perhatian-Nya untuk mempersiapkan kedua belas orang itu. Ia akan mengajar dan melatih mereka untuk mengemban misi-Nya karena dunia membutuhkan Dia. Ini nyata dari fakta bahwa, ada orang-orang yang datang dari berbagai penjuru untuk menemui Yesus (17). Bahkan dari wilayah orang-orang nonYahudi seperti Tirus dan Sidon. Mereka meninggalkan pekerjaan dan rutinitas mereka sehari-hari lalu menempuh perjalanan sedemikian jauh untuk bertemu Yesus. Tentu tak sedikit yang membawa serta orang-orang yang mereka kasihi, yang sedang sakit atau kerasukan setan.
Mereka butuh mendengarkan perkataan-Nya, mereka butuh disembuhkan oleh Dia (18-19). Oleh karena itu, bersama para murid, Yesus menemui mereka.
Murid-murid Yesus memang tidak boleh tinggal hanya dalam komunitasnya sendiri. Mereka harus berelasi dengan orang lain dalam cara relasi yang berbeda dengan dunia. Para murid harus memiliki belas kasihan terhadap orang-orang yang membutuhkan Yesus dan kemudian
mengantar mereka kepada-Nya.
Sebagai orang yang telah mengikut Kristus, kita pun sesungguhnya dipanggil untuk ikut serta dan meneruskan karya para rasul Kristus. Karena itu, jangan terus menerus berorientasi hanya kepada diri sendiri. Perluas pandangan pada dunia di sekitar Anda. Lihatlah orang-orang di sekitar Anda sebagaimana Kristus melihat mereka, lalu layanilah.
Diskusi renungan ini di Facebook:
33
Jumat, 16 Januari 2015
Bacaan : Lukas 6:20-26
(16-1-2015)
Lukas 6:20-26
Saya mau ikut Yesus
Judul: Saya mau ikut YesusSekilas, perkataan Yesus dapat membuat kita bertanya-tanya, apakah menjadi miskin, lapar, sedih, dan dikucilkan merupakan suatu berkat? Lalu apakah menjadi kaya, puas, gembira, dan disukai orang merupakan suatu celaka?
Seruan "Berbahagialah..." ditujukan kepada mereka yang mengalami kesulitan dalam hidup berkaitan dengan iman mereka kepada Tuhan. Mereka menjadi miskin, lapar, sedih, dibenci, dikucilkan, dicela, dan ditolak (20-22). Itulah harga yang mereka harus bayar karena komitmen mereka untuk mengikuti Yesus. Kepada orang-orang semacam inilah, Yesus menjanjikan Kerajaan Allah dan berkat-berkat, termasuk kecukupan makanan, sukacita, dan upah besar di surga. Yesus sendiri memilih kemiskinan, kelaparan, kesedihan, dan penolakan supaya Ia menjadi Juruselamat dunia dengan mati di kayu salib. Maka orang yang mengikut Dia
seharusnya mengikuti pula jalan-Nya. Lalu apakah mereka yang ikut Yesus harus hidup melulu dalam penderitaan? Bukan begitu. Maksudnya, sukacita dan berkat karena ikut Yesus begitu besar sehingga meskipun kita menyerahkan segala sesuatu yang kita miliki, itu takkan berarti apa-apa buat kita. Karena Yesus menganugerahkan pengampunan dosa, damai dengan Allah, serta sukacita dalam mengikut Dia.
Seruan "Celakalah..." ditujukan kepada mereka yang kaya, kenyang, tertawa, dan dipuji orang (24-26). Mereka merasa nyaman dengan hidup mereka dan dengan apa yang mereka miliki, sehingga bukan tidak mungkin mereka merasa tidak perlu tergantung pada apapun, bahkan kepada Allah. Sebagai upah, mereka akan mengalami kelaparan, dukacita, dan kehidupan seperti para pengikut nabi palsu.
Di dalam hidup, kita akan menghadapi aneka pilihan. Setiap pilihan mendatangkan manfaat atau berkat, di samping ada juga harga yang harus kita bayar. Bila kita memilih ikut Yesus, tentu ada harga yang harus dibayar. Namun ingatlah bahwa ada upah yang menanti kita. Maka camkanlah bahwa mengikut Dia jelas jauh lebih baik daripada apapun yang ditawarkan dunia ini, berapapun harga yang harus kita bayar.
Diskusi renungan ini di Facebook:
34
Sabtu, 17 Januari 2015
Bacaan : Lukas 6:27-36
(17-1-2015)
Lukas 6:27-36
Kasih yang radikal
Judul: Kasih yang radikalYesus menetapkan standar kasih yang sangat tinggi. Ia berkata bahwa kasih kita kepada orang lain haruslah setara dengan kasih Allah, yang juga baik kepada orang-orang jahat. Selain menyuruh kita untuk mengasihi kawan dan keluarga, secara radikal Yesus meminta kita untuk mengasihi musuh yang membenci kita dan bahkan yang mengambil barang milik kita.
Yesus memberikan contoh konkret. Ketika bicara tentang memberikan pipi yang lain setelah pipi yang satu ditampar (29), Yesus bukan sedang menganjurkan orang untuk bersikap pasif dan tidak melindungi diri bila menghadapi serangan fisik. Jika nyawa kita terancam bahaya, kita tentu harus menghindar dan cari perlindungan. Lalu apa maksudnya? Yang Yesus tidak perkenankan adalah tindakan membalas dendam.
Jika ada orang yang mengambil jubah, Yesus menganjurkan untuk membiarkan orang itu mengambil baju juga, karena pada masa itu orang memakai dua potong pakaian (29-30). Tidak dimaksudkan untuk membiarkan pintu rumah kita tidak terkunci sehingga mengundang pencuri beraksi. Maksudnya, hati kita tidak boleh demikian melekat pada harta benda kita sehingga kita menjadi begitu marah dan membenci orang yang mengambil barang milik kita. Jangan sampai kita lebih peduli pada benda daripada kepada orang yang sedang membutuhkan.
Kasih seorang pengikut Yesus harus melampaui kasih yang biasa ditawarkan dunia ini (32-34). Para pendosa melakukan perbuatan baik demi keuntungan diri sendiri, misalnya menolong orang agar dalam kesempatan lain, orang itu pun bersedia menolong. Yesus memanggil kita untuk mengasihi, bagaimanapun respons orang terhadap kita.
Standar kasih yang begitu tinggi itu mungkin terasa sulit untuk dilakukan karena begitu radikal dan butuh penyangkalan diri. Namun itulah standar Allah bagi kita, murid-murid-Nya yang sejati. Sebagai anak-anak-Nya, kasih kita kepada orang-orang yang memperlakukan kita dengan buruk, seharusnya mencerminkan kasih Allah kepada kita.
Diskusi renungan ini di Facebook:
35
Minggu, 18 Januari 2015
Bacaan : Mazmur 3