Pulau Dua, Banggai Foto : Aditya Dimas S
B. KONVERGENSI PERCEPATAN PENCEGAHAN STUNTING
1. Pengertian Stunting dan Penyebabnya
Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan (TNP2K; 2018). Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur (Pusdatin; 2018). Stunting dan kekurangan gizi lainnya yang terjadi pada 1.000 HPK di samping berisiko pada hambatan pertumbuhan fisik dan kerentanan anak terhadap penyakit, juga menyebabkan hambatan perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan.
Seribu HPK merupakan masa yang paling kritis dalam tumbuh kembang anak. Di Indonesia, gangguan pertumbuhan terbesar terjadi pada periode ini. Sebanyak 48,9% ibu hamil menderita anemia dan sebagian lainnya mengalami gangguan Kurang Energi Kronis (KEK). Akibatnya, prevalensi bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) masih tinggi, yaitu sekitar 6,2%. BBLR merupakan salah satu penyebab utama stunting. Pemberian ASI, makanan, dan pola asuh pada periode 0-23 bulan yang tidak tepat mengganggu tumbuh kembang anak. Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya (Tim Nasional Percepatan Penanggulanan Kemiskinan; 2018).
Selain disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita, stunting juga disebabkan oleh faktor multi dimensi lainnya (UNICEF; 1997, IFPRI; 2016B, Bappenas; 2018). Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi pervalensi stunting oleh karenanya perlu dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. Secara lebih detil, beberapa faktor yang menjadi penyebab stunting dapat digambarkan dalam bagan dibawah.
Gambar 7.1Faktor-Faktor Penyebab Stunting
Sumber: UNICEF; 1997, IFPRI; 2016B, Bappenas; 2018 (disesuaikan dengan konteks)
Anak-anak yang kekurangan gizi lebih mungkin mengalami kognitif, fisik, dan gangguan perkembangan metabolisme yang dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular di kemudian hari, berkurangnya kemampuan intelektual dan pencapaian sekolah, dan berkurangnya ekonomi produktivitas di masa dewasa.
Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga
ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa.
2. Langkah-langkah yang Diambil Pemerintah, Kendala, dan Konvergensi Pada tahun 2012, Pemerintah Indonesia bergabung dalam gerakan global yang dikenal dengan nama Scalling- Up Nutrition (SUN) dan kemudian merancang 2 (dua) kerangka besar Intervensi Stunting. Kerangka intervensi dirancang dengan tujuan mempercepat penurunan stunting. Kerangka tersebut kemudian diterjemahkan menjadi berbagai macam program yang dilakukan oleh Kementerian dan Lembaga (K/L) terkait. Kerangka Intervensi Stunting yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif.
Kerangka pertama adalah Intervensi Gizi Spesifik. Ini merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan berkontribusi pada 30 persen penurunan stunting. Kerangka kegiatan intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan pada sektor kesehatan. Intervensi ini juga bersifat jangka pendek dimana hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek. Kerangka Intervensi Stunting yang direncanakan oleh Pemerintah yang kedua adalah intervensi gizi sensitif. Kerangka ini idealnya dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70
persen Intervensi Stunting. Sasaran dari intervensi gizi spesifik adalah masyarakat secara umum dan tidak khusus ibu hamil dan balita pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan/HPK. Kegiatan terkait Intervensi Gizi Sensitif dapat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan yang umumnya makro dan dilakukan secara lintas Kementerian dan Lembaga. Ada 12 kegiatan yang dapat berkontribusi pada penurunan stunting melalui Intervensi Gizi Spesifik
Walaupun pemerintah telah merancang kerangka intervensi stunting dan menjalankan program-program didalamnya, namun belum efektif dan belum terjadi dalam skala yang memadai (TNP2K; 2018). Kajian Bank Dunia dan Kementerian Kesehatan menemukan terdapat kendala dalam pelaksanaannya, diantaranya sebagai berikut:
1. Penyelenggaraan intervensi gizi spesifik dan sensitif masih belum
terpadu, baik dari proses perencanaan dan penganggaran,
pelaksanaan, pemantauan, maupun evaluasi.
2. Kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh berbagai sektor belum memprioritaskan intervensi yang terbukti efektif. Stunting yang telah ditetapkan sebagai prioritas nasional di dalam RPJMN 2015-2019 belum dijabarkan menjadi program dan kegiatan prioritas oleh sektor/lembaga terkait.
3. Pengalokasian dan pemanfaatan sumber daya dan sumber dana belum
efektif dan efisien. Belum ada kepastian pemenuhan kebutuhan sumber dana untuk pencegahan stunting di tingkat kabupaten/kota. Potensi
sumber daya dan sumber dana tersedia dari berbagai sumber, namun belum diidentifikasi dan dimobilisasi secara optimal.
4. Terdapat keterbatasan kapasitas penyelenggara program,
ketersediaan, kualitas, dan pemanfaatan data untuk mengembangkan kebijakan. Program advokasi, sosialisasi, kampanye stunting, kegiatan konseling, dan keterlibatan masyarakat masih sangat terbatas.
5. Di tingkat lapangan (desa) berbagai kegiatan yang terkait dengan
stunting belum terpadu, baik dalam penetapan sasaran, perencanaan
kegiatan, peran dan tugas antarpihak. Akibatnya cakupan dan kualitas berbagai pelayanan kurang optimal.
6. Secara umum, koordinasi program diberbagai tingkat administrasi sangat lemah.
Untuk mengatasi kendala tersebut dibutuhkan konvergensi dalam rangka percepatan pencegahan stunting. Konvergensi percepatan pencegahan
stunting adalah intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terpadu, dan
bersama-sama mensasar kelompok sasaran prioritas yang tinggal di desa untuk mencegah stunting. Penyelenggaraan intervensi, baik gizi spesifik maupun gizi sensitif, secara konvergen dilakukan dengan mengintegrasikan dan menyelaraskan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan pencegahan
stunting.
Sumber pembiayaan dalam kegiatan pencegahan stunting mengikuti skema pembiayaan pemerintah yang sudah ada, baik berasal dari dana desa (APBDes), dana kabupaten/kota (APBD kabupaten/kota), dana provinsi (APBD Provinsi) dan dana kementerian/lembaga (APBN). Konvergensi pembiayaan pada setiap tingkat pemerintahan, dilakukan pada saat penyusunan dan penetapan dokumen pelaksanaan anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) maupun Organisasi Perangkat Daerah (OPD).