• Tidak ada hasil yang ditemukan

Korban Memonumenkan Kebenaran

Dalam dokumen 2012 Journal Dignitas VIII 2012 (Halaman 39-53)

Di tingkat bawah, masyarakat memiliki ikhtiarnya sendiri dalam mengingat pelanggaran hak asasi manusia sepanjang konflik berlangsung. Warga Pusong di Kota Lhokseumawe bersama dengan Komunitas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia Aceh Utara dan Lhokseumawe (K2HAU) mengadakan ritual tahunan berupa doa bersama dan menyantuni anak yatim dalam mengenang tragedi penyiksaan di Gedung KNPI, pada 9 Januari 1999. Dalam peristiwa ini lima warga sipil meninggal, 23 luka berat dan 21 luka ringan. Mereka juga mendesak Pemerintah di Jakarta dan Gubernur Aceh untuk membentuk pengadilan HAM dan KKR sesuai amanat MoU Helsinki.

23. Serambi, 28 Agustus 2009. 24. Serambi, 1 Oktober 2009.

25. Materi disampaikan pada diskusi politik dengan tema: Menjaring Aspirasi Rakyat Aceh dalam Revisi UUPA, bertempat di Anjong Mon Mata Banda Aceh tanggal 21 April 2010 yang dilaksanakan DPP Partai Rakyat Aceh (PRA).

Berbagai organisasi masyarakat sipil, masyarakat dan keluarga korban tragedi Simpang KKA yang terjadi pada 3 Mei 1999 di Aceh Utara juga mengkonstruksi ritual peringatan atas tragedi tersebut. Selain

26

peringatan tahunan, mereka juga mendirikan monumen dengan grafiti:

lPemerintahan Aceh dan Pusat harus mengambil langkah-langkah kongkrit misalnya dengan membentuk tim-tim pencari fakta terhadap kasus masa lalu di Aceh untuk adanya sebuah pendomentasian kasus secara menyeluruh di Aceh, pemerintahan Aceh segera membentuk Qanun KKR Aceh.

lPemerintahan di tingkat Nasional harus segera mengesahkan undang-undang KKR Nasional yang sudah dicabut.

lPembentukan pengadilan HAM untuk Aceh menjadi

bahagian dari penyelesaian kasus pelanggaran HAM Aceh, mekanisme pengadilan HAM dan KKR saling berhubungan dalam proses pemberian rasa keadilan bagi korban.

Demikian pula yang dilakukan oleh masyarakat dan korban serta ahli warisnya di Jamboe Keupok, Bakongan, Aceh Selatan. Mereka mendirikan sebuah monumen untuk mengenang 16 warga sipil yang menjadi korban massal. Saburan, salah seorang anak korban, mengatakan:

Negara melakukan kejahatan, kami tidak ingin melupakan. Apalagi sampai sekarang keadilan dan tanggung jawab negara belum terwujud… Tugu ini penting sebagai bukti sejarah. Setidaknya menjadi pengobat hati

27

kami para korban dan kami tetap menuntut hak.

Di Banda Aceh, Keluarga korban penghilangan paksa se-Aceh (Kagundah) meminta agar Pemerintah Aceh membentuk qanun KKR. Hasil Kongres, menurut sekretaris jenderal Kagundah, Rukaiyah:

Orang-orang yang hilang semasa konflik itu merupakan tulang punggung bagi keluarga. Sekarang mereka tidak ada lagi, sehingga para keluarga korban kesulitan memenuhi nafkahnya… Ini harus ditunjukkan sebagai wujud kepedulian pemerintah untuk mendukung keberlangsungan

28

perdamaian yang berkeadilandi Aceh.

26. http://atjehlink.com/tragedi-simpang-kka-keadilan-bukan-sebatas-tugu/ 27. VHRmedia, 28 Oktober 2011.

Penutup

Berkaca pada kasus Aceh, penyelesaian pelanggaran HAM di Indonesia memang sudah menjadi satu hal yang kusut. Instrumen-instrumen hukum yang tersedia—apalagi dengan dibatalkannya UU KKR—tidak mampu menerobos stagnasi ini. Bahkan, bukan para korban dan ahli warisnya saja yang semakin sukar untuk memperoleh kebenaran sebagai haknya, akan tetapi Presiden SBY pun tidak memiliki mekanisme yang legal ketika dia hendak meminta maaf kepada para korban. Ini suatu kondisi yang berlaku secara nasional, sementara pelanggaran HAM terus terjadi dan akumulatif, sebagaimana yang terjadi di Papua (konflik vertikal) dan kasus-kasus sengketa pertanahan (konflik horizontal).

Untuk konteks Aceh, penyelesaian pelanggaran di masa konflik dapat dilihat sebagai arena politik di mana terjadi kontestasi antara persekongkolan elite berhadapan dengan para korban bersama organisasi masyarakat sipil. Sejak di meja perundingan Helsinki, masalah kejahatan masa lalu telah dimasukkan dalam laci perundingan oleh Martti Ahtisaari, dengan persetujuan pihak GAM dan RI. Hal ini lantas dilegalkan oleh Pansus RUU Pemerintahan Aceh. Apalagi, tidak lama kemudian MK membatalkan UU KKR. Kondisinya, pengadilan HAM belum dibentuk dan UU KKR—sebagai tempat sandaran hukum nasional bagi pembentukan KKR Aceh menurut pandangan elite politik Aceh dan Jakarta—dicabut.

Namun, para korban dan OMS terus berikhtiar untuk adanya pembahasan dan pengesahan terhadap draf rancangan Qanun KKR yang sudah lama mereka formulasikan. Terakhir, dalam konteks Pemilukada 2012, ada negosiasi politik antara anggota parlemen dari Partai Aceh dan para pihak untuk membahas draf tersebut sebagai hak inisiatif DPRA, yang mana hal ini tidak terlepas dari janji politik saat pemilukada. Namun, korban dan OMS hendaknya tetap bersikap waspada dan kritis terhadap kemungkinan tindakan politik mereka di parlemen Aceh untuk mengorientasikan KKR sesuai dengan kepentingannya sebagai salah satu pihak yang potensial sebagai pelaku pelanggaran ham.

Meskipun demikian, sebenarnya cukup penting untuk terus memperluas ikhtiar para korban dalam memonumenkan pelanggaran HAM, misalnya para korban dan OMS membentuk sebuah komisi historis, yang merupakan setengah perwujudan dari komisi kebenaran

yang sedang diperjuangkan tersebut. Korban dan OMS harus meneruskan pencarian bentuk komisi kebenaran yang tidak tergantung pada kebijakan politik pemerintah dan tidak terjangkau oleh intervensi golongan politik mana pun.

Satu hikmah yang penting untuk disadari bahwa perundingan di Helsinki–dari perspektif HAM—merupakan negosiasi politik di antara para pihak yang sama-sama potensial sebagai pelaku pelanggaran HAM, yang difasilitasi oleh pihak yang memiliki sikap politik untuk memasukkan ”karpet Martti” ke dalam gudang sejarah masa lalu. Memang dari sudut politik bernegara, harapan menjadi pupus; tetapi ikhtiar para korban sendiri harus terus dipupuk dan dilanjutkan karena suatu waktu kebenaran diyakini akan terbit, dan sejarah akan mencatatnya.

Abstract

Every mass political violence always brings deep trauma in various layers of victims. Direct victims were very likely to experience shock when they faced situation that has completely changed or situation that they never imagined before.

This article seeks to explain the different lived experiences of the three wives of the former political prisoners of the '1965 Tragedy' when their husbands were

released from prison.

Keywords:Political Violence, Victims Budiawan

Perang atau kekerasan politik massal hampir senantiasa menciptakan janda-janda dan anak-anak yatim piatu, entah untuk selamanya atau untuk sementara. Sebab, kebanyakan korban langsung dari kekerasan itu, entah dibunuh atau dipenjarakan, adalah laki-laki dewasa, yang notabene suami atau ayah. Begitu pula dengan tragedi 1965-66, di mana, menurut perkiraan kasar yang paling sering dilontarkan orang, sekitar setengah juta anggota atau simpatisan PKI (dan ormas-ormasnya), atau mereka yang sekadar dituduh sebagai anggota atau simpatisan PKI, dibunuh dalam periode waktu antara akhir 1965 hingga pertengahan 1966. Sementara lebih dari satu juta anggota atau mereka yang dituduh sebagai anggota PKI (atau ormas-ormasnya) dipenjarakan tanpa proses pengadilan sama sekali.

Jika sebagian besar mereka yang dibunuh atau dipenjarakan adalah laki-laki dewasa, yang kebanyakan di antaranya adalah suami atau

1. Tulisan ini merupakan versi Indonesia yang lebih ringkas dari bab saya yang berjudul ”Living with the Spectre of the Past: Traumatic Experiences among wives of former political prisoners of the '1965 Event' in Indonesia”, dalam Roxana Waterson and Kwok Kian Woon (eds.), Contestation of Memory in Southeast Asia (Singapore: Singapore University Press, 2012); hal. 270 – 291.

ayah, maka bisa dibayangkan berapa anak yang kemudian menjadi yatim, dan berapa istri yang kemudian menjadi janda. Dalam masyarakat di mana laki-laki umumnya berperan sebagai satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga, maka dalam situasi semacam itu bisa dibayangkan bagaimana para istri yang kemudian menjadi janda (entah karena suaminya dibunuh atau dipenjarakan) harus berjuang untuk mempertahankan hidup dirinya dan anak-anaknya.

Kisah dalam tulisan ini bersumber dari penuturan orang-orang yang cukup dekat dengan istri-istri mantan tahanan politik dan karena itu tahu banyak pengalaman hidup mereka. Kisah mereka itu menarik untuk diperbincangkan bukan hanya untuk memahami seberapa jauh tragedi 1965-66 telah menciptakan berlapis-lapis korban, tetapi juga untuk memahami bagaimana kultur patriarkhi telah membentuk beragam memori di kalangan perempuan yang terkena dampak tidak langsung dari tragedi tersebut. Beragam memori itu termanifestasikan dalam berbagai respons terhadap situasi masa kini, situasi di mana menuturkan penderitaan masa lalu secara publik telah menjadi sesuatu yang mungkin, walau terkadang bukannya tanpa resiko.

Berikut ini pengalaman tiga istri mantan tahanan politik (tapol) yang mengalami jalan hidup yang berbeda dalam bertahan hidup, bukan hanya secara ekonomi tetapi juga secara sosial. Untuk memudahkan penuturan, ketiga istri itu saya sebut Bu Surti, Bu Siti, dan Bu Sri.

Kisah Bu Surti

Bu Surti adalah istri seorang tentara berpangkat rendah. Suaminya ditahan selama empat belas tahun karena menjadi bagian dari resimen yang dianggap mendukung Gerakan 30 September pimpinan Letkol. Untung Samsuri. Ketika suaminya mulai ditahan, dia harus menghidupi dirinya dan kedua anaknya yang masing-masing putra berusia enam tahun dan putri berusia empat tahun.

Pada mulanya Bu Surti bekerja sebagai buruh pada industri rumahan yang memproduksi tepung beras. Dia harus bekerja dari subuh hingga petang, sementara kedua anaknya dia tinggal di rumah dan dijaga oleh tetangga yang masih ada hubungan kerabat dengannya. Selama sepuluh tahun dia menjalani kerutinan hidup seperti itu. Begitulah dia dan kedua anaknya bisa bertahan hidup. Bahkan lebih dari itu, dia mampu menyekolahkan anak sulungnya ke sekolah menengah atas,

sementara anak keduanya ke sekolah menengah pertama.

Tetapi dalam bayangannya, problem biaya pendidikan pasti akan menghadang kelak ketika anak sulungnya lulus sekolah menengah atas dan hendak melanjutkan ke perguruan tinggi. Untuk mengantisipasi hal itu, alih-alih terus-menerus menjadi buruh, Bu Surti mulai merintis usaha sendiri. Dengan modalnya yang kecil plus pinjaman lunak dari bekas majikannya, dia pun membuka usaha pembuatan tepung beras sendiri. Usahanya ini ternyata berkembang. Dari semula mempekerjakan tiga orang, tiga tahun kemudian dia mempekerjakan sepuluh orang. Dan dengan bisnisnya yang berkembang ini dia pun tidak kesulitan membiayai pendidikan anak sulungnya ke perguruan tinggi, dan anak keduanya ke sekolah menengah atas.

Pada tahun 1979 suami Bu Surti dilepas dari rumah tahanan. Istilah ”dibebaskan” sebenarnya jelas tidak tepat, sebab para mantan tapol 'Peristiwa 1965' itu senantiasa diawasi gerak-geriknya oleh aparat keamanan, serta sangat terbatas ruang gerak mereka. Pelepasan ini tentu merupakan hal yang membahagiakan Bu Surti dan kedua anaknya. Mereka kini kembali utuh sebagai sebuah keluarga.

Akan tetapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Keberhasilan Bu Surti dalam berjuang mempertahankan hidup dan bahkan sukses merintis usaha sendiri ternyata tidak disambut dengan kebanggaan oleh suaminya, tetapi malah dipandang sebagai pengambilalihan atas otoritasnya sebagai kepala keluarga. Dalam situasi di mana ekonomi keluarga bertumpu pada usaha istrinya, dia merasa kehilangan wibawa sebagai kepala keluarga. Dia merasa tidak mampu meraih kembali wibawa masa lalu, masa sebelum dia di-tapol-kan, di mana dia bisa dan biasa memerintah istrinya seperti halnya komandannya memerintah dirinya. Pendek kata, wibawa dirinya sebagai kepala keluarga dia taruh lebih penting daripada keberhasilan istri dan kedua anaknya dalam berjuang menyambung hidup.

Dalam situasi di mana suaminya tak sanggup menatap realitas yang telah berubah, hubungan Bu Surti dengan suaminya semakin sering diwarnai ketegangan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk hidup secara terpisah, tetapi tidak bercerai. Suaminya hidup bersama putranya, sementara Bu Surti bersama putrinya.

Bagi Bu Surti, pengalaman pahit yang mengendap dalam ingatannya bukanlah saat-saat dimana dia harus bekerja keras selama

bertahun-tahun untuk mempertahankan hidup dirinya dan kedua anaknya, tetapi saat suaminya tidak mampu melihat realitas yang telah berubah. Ingatan atas sikap dan perilaku suaminya selepas dari penjara itu senantiasa dia coba simpan untuk dirinya. Sebab, setiap kali ingatan itu muncul, dia tak kuasa menahan kekecewaannya yang mendalam terhadap suaminya. Dalam kekecewaan semacam itu, dia pun bertanya-tanya apakah setiap suami selalu ingin menang sendiri, seperti suaminya itu.

Kisah Bu Siti

Bu Siti adalah istri seorang guru sekolah menengah atas. Dia mempunyai dua anak, yang masing-masing putra berusia tiga setengah tahun dan putri berusia satu setengah tahun ketika suaminya mulai ditahan pada akhir Oktober 1965. Pada mulanya dia adalah seorang ibu rumah tangga. Tetapi ketika suaminya mulai dipenjara, dengan modal pinjaman dari orang tuanya dia mencoba membuka warung kelontong di bagian teras rumahnya. Usaha itu dia kerjakan sambil mengasuh kedua anaknya yang masih balita.

Pada suatu hari ada seorang polisi datang hendak membeli sesuatu di warung kelontong Bu Siti. Pada mulanya dia hanya hendak membeli sesuatu. Tetapi ketika Pak Polisi itu tahu bahwa suami pemilik warung kelontong tersebut tengah menjadi tahanan politik, dia pun bersimpati. Bermula dari rasa simpati, polisi itu pun mulai menaruh hati. Semenjak itu Pak Polisi tersebut semakin sering berbelanja di warung kelontong Bu Siti. Dalam perkembangan selanjutnya, dia datang bukan untuk membeli sesuatu, tetapi sekedar bertandang untuk mengobrol kesana-kemari.

Bu Siti bukannya tidak tahu kalau Pak Polisi tersebut telah jatuh hati kepadanya. Tetapi, dalam situasi di mana dia tidak tahu, dan tak seorang pun tahu sampai kapan suaminya akan berada di tahanan, dia pun bingung. Di satu sisi dia memang mendambakan seorang laki-laki yang selain bisa membantu upaya untuk bertahan hidup juga bisa menciptakan rasa aman bagi dirinya dan kedua anaknya yang masih balita, sementara di hadapannya telah ada seorang laki-laki yang menawarkan diri sebagai pengganti suaminya.

Di sisi lain, Bu Siti tahu kalau suaminya masih hidup. Hanya saja dia tidak tahu sampai kapan suaminya akan berada di tahanan. Dalam

situasi penuh kebimbangan itu dia hamil. Tanpa seizin suaminya yang masih berada di tahanan, Bu Siti membiarkan Pak Polisi itu hidup bersama dirinya dan kedua anaknya, tanpa ikatan perkawinan dengan dirinya.

Menjelang akhir 1969 tersiar kabar akan terjadi pelepasan besar-besaran para tapol yang termasuk kategori golongan C. Bu Siti pun bertanya-tanya apakah suaminya termasuk yang akan segera dilepaskan. Ternyata betul. Dia mendapat informasi dari kerabat suaminya bahwa suaminya akan dilepaskan pada akhir 1969. Lalu Bu Siti meminta pengertian kepada Pak Polisi itu agar pergi meninggalkan dirinya dan ketiga anaknya—termasuk anak hasil hubungan tidak sah dengannya—karena suaminya akan segera pulang.

Ketika suaminya pulang, Pak Polisi itu memang telah pergi. Tetapi kini suami Bu Siti mendapati tiga anak di rumahnya, di mana anak ketiga itu bukan hasil hubungan antara dirinya dengan istrinya. Suami Bu Siti tidak terkejut akan hal itu. Sebab, sewaktu masih di tahanan dia sudah mendengar kabar tentang perselingkuhan istrinya dari tetangga yang sering dititipi kiriman makanan untuk dirinya. Mendengar kabar tak sedap itu, suami Bu Siti langsung menderita depresi berat, bahkan dia hampir—dalam istilah di kalangan para tapol—terkena ”PA” atau pikiran abnormal.

Suami Bu Siti waktu itu disadarkan oleh teman-temannya sesama tapol bahwa apa yang terjadi dengan keluarga di rumah sungguh berada di luar kendali mereka. Bahkan apa yang terjadi pada mereka pun juga tidak berada dalam kendali mereka. Semuanya itu harus diterima sebagai kenyataan. Dan kini, selepas dari penjara, dia langsung menghadapi kenyataan tersebut.

Suami Bu Siti sebenarnya rela menghadapi kenyataan istrinya telah berselingkuh sewaktu dia di penjara, dan dari hasil perselingkuhan itu lahir seorang anak. Dia memaafkan perbuatan istrinya walau istrinya tidak pernah meminta maaf. Tetapi masalahnya, istrinya bukan hanya tidak pernah meminta maaf, melainkan malah menyalahkan dirinya. Bu Siti mengatakan bahwa dia telah berselingkuh dan kemudian membuahkan seorang anak adalah akibat suaminya ditahan, dan penahanan dirinya karena dia ikut-ikutan berpolitik. Dengan kata lain, bagi Bu Siti, sumber segala kenyataan pahit itu adalah 'politik'.

selalu mengontrol segala hal yang dibaca, didengar, ditonton dan dibicarakan oleh suaminya. Tindakan ini dilakukan Bu Siti agar sang suami tidak mengikuti perkembangan situasi politik. Suaminya dilarang membaca surat kabar, dilarang mendengarkan atau menonton siaran berita radio maupun televisi. Begitu pula suaminya juga dia kontrol agar jangan terlalu sering bertemu dan berbicara dengan kakak iparnya, yang sejak kecil selalu menjadi panutan suaminya sampai dalam soal ideologi politik. (Kakak iparnya itu juga ditahan dan dilepaskan pada akhir 1969). Pendek kata, Bu Siti mengendalikan hampir segala gerak langkah suaminya, sesuatu yang tidak terjadi sebelum suaminya ditahan.

Tetangga dan kerabat dekatnya bukannya tidak melihat adanya perubahan relasi komunikasi antara Bu Siti dan suaminya. Dengan sinis mereka melihat hal itu sebagai upaya Bu Siti menutupi kesalahannya. Bu Siti bukannya tidak sadar akan sinisme mereka itu. Hal itu tampak dalam sikap tertutup terhadap tetangga dan kerabat dekatnya. Kalau toh ada komunikasi, biasanya komunikasi itu penuh kepuraan-puraan atau sekadar basa-basi. Bu Siti hingga kini cenderung mengurung diri. Suaminya pun terkurung dalam pengurungan diri istrinya itu.

Kisah Bu Sri

Sama dengan Bu Surti dan Bu Siti, Bu Sri adalah seorang ibu rumah tangga sebelum suaminya ditahan. Dia memiliki empat anak, yang terdiri dari dua putri dan dua putra. Ketika suaminya masuk penjara pada akhir Oktober 1965, anaknya yang sulung berusia tujuh tahun, sedangkan yang bungsu setengah tahun.

Berbeda dari pengalaman hidup Bu Surti dan Bu Siti, pengalaman hidup Bu Sri sewaktu ditinggal suaminya di penjara relatif tidak berliku-liku. Untuk menyambung hidup dirinya dan keempat anaknya dia sepenuhnya ditopang oleh orang tuanya dan mertuanya. Dua putrinya dia titipkan di rumah mertuanya, sedangkan dia bersama kedua putranya tinggal bersama orang tuanya. Selain menyandarkan pada uang pensiun ayahnya, Bu Sri juga bersandar pada hasil kerja ibunya, yang mulai membuka usaha jual beli pakaian bekas semenjak ketempatan anak dan kedua cucunya. Bu Sri sendiri sepenuhnya mengurusi kedua putranya yang masih balita.

Setelah suaminya dilepas dari penjara pada akhir 1969, Bu Sri dan keempat anaknya serta suaminya kembali hidup bersama. Mereka

tinggal di rumah mertua Bu Sri. Mereka hidup bertani, dan menjalani taraf hidup yang serba pas-pasan, sampai akhirnya suami Bu Sri mendapatkan pekerjaan di Jakarta kembali pada profesi semula, yaitu guru.

Kisah hidup Bu Sri barangkali yang paling lazim terjadi di kalangan para istri mantan tapol. Artinya, kemampuan untuk bertahan hidup sewaktu suami di penjara sangat bergantung pada topangan ekonomi orang tua atau kerabat dekat, bahkan sampai pada masalah tempat tinggal. Boleh jadi kondisi semacam inilah yang membuat orang seperti Bu Sri tidak perlu 'terjatuh' pada situasi seperti yang dialami Bu Siti, dan juga terhindar dari pengalaman seperti yang dialami Bu Surti.

Korban Tidak Langsung dan Kultur Patriarkhi

Para istri tapol seperti dituturkan di atas jelas bukan korban langsung dari kekerasan politik massal 1965-66. Mereka sendiri tidak pernah diinterogasi dan dipenjara. Mereka juga tidak mengalami ancaman fisik dari pihak manapun. Namun, akibat yang mereka (dan anak-anak mereka) alami sebagai dampak dari ditahannya suami mereka jelas tidak bisa diremehkan. Masalah yang langsung menghadang mereka jelas adalah problem berjuang untuk menyambung hidup.

Namun seperti terlihat dalam kasus Bu Surti, keberhasilan dalam berjuang untuk survival ternyata tidak mendapat apresiasi sama sekali dari suaminya. Keberhasilan istri untuk survival dipandang sebagai ancaman buat wibawa suami. Dan itulah momen yang traumatis bagi istri, karena kemudian dia kehilangan rasa hormat kepada suami, bahkan mungkin juga rasa hormat kepada laki-laki.

Keberhasilan seorang istri untuk bertahan hidup seperti lumer dan nyaris tak berarti ketika bertabrakan dengan tembok kultur patriarkhi. Padahal, dengan keberhasilan itu sebenarnya yang dituntut adalah kesetaraan, bukan pembalikan relasi kuasa antara suami dan istri. Dalam kasus Bu Siti, tampak bahwa bayangan bagaimana masyarakat nyaris tidak menyisakan ruang untuk memahami 'perselingkuhannya' telah membuat Bu Siti menempatkan suaminya, orang terdekatnya, sebagai sasaran pemberontakannya terhadap kultur patriarkhi. Ongkos yang harus dia bayar adalah isolasi yang dilakukan lingkungan terdekatnya atas dirinya.

pengalaman traumatis dengan suami maupun lingkungan tetangga serta kerabatnya, karena sejak awal dia tetap patuh berada dalam kultur patriarkhi.

Ketiga kasus di atas membentuk politik memori yang berbeda. Bagi Bu Surti, ingatan yang kelam dan karena itu menjadi beban bukanlah saat-saat dia harus bekerja keras menghidupi diri dan kedua

Dalam dokumen 2012 Journal Dignitas VIII 2012 (Halaman 39-53)