• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktik Penghukuman Melalui Pengadilan

Dalam dokumen 2012 Journal Dignitas VIII 2012 (Halaman 58-67)

Negara-negara Lain

B. Pelanggaran HAM yang Berat: Pengalaman Internasional dan Berbagai Negara

1. Praktik Penghukuman Melalui Pengadilan

Sejarah penghukuman terhadap terjadinya berbagai kejahatan serius telah berlangsung lama. Sejumlah pengadilan Internasional telah digelar, disamping berbagai pengadilan untuk kejahatan-kejahatan serius yang dilakukan dalam tingkat domestik. Di antara yang pertama adalah Pengadilan Leipzig tahun 1921, untuk mengadili para penjahat perang Jerman pada perang dunia pertama, yang dilakukan oleh Mahkamah

21

Agung Jerman berdasarkan Perjajian Versailles.

Kemudian, praktik proses penghukuman terhadap para pelaku kejahatan-kejahatan yang serius tersebut berlanjut, di antaranya sejumlah pengadilan yang terkenal, yakni; pengadilan kejahatan internasional setelah perang dunia, yaitu ”International Military Tribunal ” (IMT) atau dikenal sebagai ”Nuremberg Tribunal” pada tahun 1945 dan ”International Military Tribunal for the Far East (IMTFE)” atau dikenal

22

sebagai ”Tokyo Tribunal” pada 1946. Pengadilan Nurenberg mengadili 24 para pimpinan Nazi yang didakwa dengan; turut serta dalam suatu perencanaan atau konspirasi untuk melaksanakan kejahatan terhadap perdamaian (crime against peace), merencanakan, memprakarsai, dan mengadakan peperangan agresi militer dan ataupun kejahatan lainnya terhadap perdamaian, melakukan kejahatan perang (war crime) dan kejahatan kemanusiaan. Sementara Pengadilan Tokyo mendakwa 28 orang yang kebanyakan terdiri dari pejabat militer dan pemerintahan Jepang dengan dakwaan terlibat dalam kejahatan perang dan kejahatan

23

terhadap kemanusiaan.

Kemudian setelah usai perang dingin, menghadapi kekejaman

21. Tobias Lock dan Julia Riem, ”Judging Nurenberg: The Laws, The Rallies, The Trial”, Dokumen dapat diakses di http://www.germanlawjournal.com/pdfs/Vol06No12/PDF_Vol_06_No_12_1819-1832_v Developments_LockRiem.pdf

22. Pembentukan IMT didasarkan pada insiatif sekutu yang memenangkan perang untuk mengadili para pemimpin Nazi-Jerman, baik sipil maupun militer, sebagai penjahat perang dengan terlebih dahulu dituangkan dalam London Agreement tanggal 8 Agustus 1945. Sedangkan IMTFE dibentuk berdasarkan Proklamasi Panglima Tertinggi Tentara Sekutu Jenderal Douglas MacArthur pada 1946.

yang terjadi di Bekas Negara Yugoslavia dan Rwanda dibentuk Mahkamah Pidana Internasional untuk Bekas Negara Yugoslavia atau ”the International Criminal Tribunal for fomer Yugoslavia (ICTY)” dan atau Mahkamah Pidana Internasional untuk Rwanda ”the International

24

Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR)”.

ICTR merupakan pengadilan bentukan PBB untuk mengadili para pelaku kejahatan perang yang terjadi selama konflik Balkan pada tahun 1990an. Pengadilan ini telah mendakwa lebih dari 160 pelaku, termasuk kepala negara, perdana menteri, pimpinan militer, pejabat pemerintah, dan lainnya dengan tuduhan atas tindakan pembunhan, penyiksaan, pemerkosaan, perbudakan, perusakan properti dan

25

kejahatan-kejahatan lainnya sebagainya diatur dalam Statuta ICTY. Sementara ICTR, yang juga merupakan pengadilan bentukan PBB, yang berlokasi di Aruza Tanzania, mengadili para pelaku kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional lainnya atas peristiwa yang terjadi di Rwanda

26

pada tahun 1994, dan telah mendakwa sekitar 72 pelaku.

Pada tahun 1998, masyarakat Internasional sepakat membentuk Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC) yang

27

didirikan berdasarkan Statuta Roma 1998. Semangat pembentukan ICC sebagaimana disebutkan dalam Statuta Roma 1998 diantaranya untuk memerangi impunitas dan bahwa kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang dan kejahatan agresi sebagai ”the most serious crimes of concern to the international community as a whole”.

Statuta Roma mengatur kewenangan untuk mengadili kejahatan-kejahatan paling serius (the most serious crimes), yaitu kejahatan genosida (the crime of genocide), kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity), kejahatan perang (war crimes), dan kejahatan agresi (the

28

crime of aggression). Berbeda dengan pengadilan internasional sebelumnya yang bersifat ad hoc, Mahkamah Pidana Internasional

29

merupakan pengadilan yang permanen.

24. Kedua pengadilan ini juga memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya, kedua pengadilan dibentuk oleh lembaga yang sama, yaitu Dewan Keamanan PBB melalui sebuah resolusi. ICTR dibentuk berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB No.955, tanggal 8 November 1994 .

25. http://www.icty.org/sid/3.

26. http://www.unictr.org/AboutICTR/GeneralInformation/tabid/101/Default.aspx

27. Statuta ini diadopsi pada tanggal 17 Juli 1998 oleh 120 negara yang berpartisipasi dalam ”United Nations Diplomatic Conference on Plenipotentiaries on the Establishment of an International Criminal Court” di kota Roma, Italia

28. Pasal 5 Statuta Roma 1998. 29. Pasal 3(1) Statuta Roma.

Sejak pendiriannya, ICC setidaknya telah memeriksa 16 kasus atas tujuh peristiwa yang terjadi di Uganda, Kenya, Kongo, Sudan, Afrika Tengah, Libya, dan Pantai Gading. Terdakwa pertama yang dijatuhi hukuman oleh ICC adalah Thomas Lubanga Dyilo dari Kongo, yang didakwa melakukan kejahatan perang, dimana dia diduga memerintahkan anak buahnya melakukan pelanggaran HAM yang massif, termasuk kekejaman etnis, pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan, mutilasi dan memaksa anak-anak untuk menjadi tentara. Lubaga Dyilo akhirnya dijatuhi hukuman 14 tahun penjara dengan terbuktinya melakukan pemaksaan kepada anak-anak untuk menjadi

30

tentara.

Pengalaman sejumlah pengadilan tersebut telah jelas memberikan pesan bahwa para pelaku kejahatan-kejahatan serius harus dibawa ke pengadilan dan diadili. Sejumlah instrumen HAM internasional telah dibentuk untuk memastikan adanya penghukuman bagi para pelaku kejahatan-kejahatan serius. Pelanggaran hak asasi manusia yang berat, misalnya genosida dan penyiksaan, juga telah diakui sebagai ”jus cogens” atau ”peremptory norms” yang karenanya pelaku kejahatan tersebut merupakan adalah musuh semua umat manusia (hostis humanis generis) dan penuntutan terhadap para pelakunya merupakan

31

kewajiban seluruh umat manusia (obligatio erga omnes).

Hal ini juga berarti bahwa untuk kejahatan-kejahatan serius tidak diperkenankan adanya amnesti. Sejumlah dokumen PBB menyebutkan secara tegas bahwa amnesti tidak dapat diberikan kepada pelaku

32

pelanggaran HAM berat. Resolusi Komisi Hak Asasi Manusia PBB tahun 2004, dalam Point 3 menegaskan sebagai berikut:

”…amnesties should not be granted to those who commit violations of human rights and international humanitarian law that constitute crimes,

30. http://www.icc-cpi.int/Menus/ICC/Situations+and+Cases/

31.Lihat ”Report of the Independent Expert to Update the Set of Principles to Combat Impunity (E/CN.4/2005/102/Add.1 08 Februari 2005).

32. Lihat General Comment 20 Pasal 7 [Kovenan Hak Sipil dan Politik] menyatakan bahwa "that some States have granted amnesty in respect of acts of torture. Amnesties are generally incompatible with the duty of the States to investigate such acts” (General Comment 20 concerning Article 7, replaces General Comment 7 concerning Prohibition of Torture and Cruel Treatment or Punishment); lihat juga Laporan Sekjen PBB mengenai pembentukan Pengadilan Khusus untuk Sierra Leone S/200/915), 4 Oktober 2000 dalam paragraph 22-24, Laporan Sekjen PBB tentang The Rule of Law and Transitional Justice in Conflict and Post-Conflict Societies, (S/2004/616), 23 Agustus 2004, Independent Study on Best Practices, Including Recommendations, to Assist States In Strengthening Their Domestic Capacity to Combat All Aspects Of Impunity (E/CN.4/2004/88).

urges States to take action in accordance with their obligations under international law and welcomes the lifting, waiving, or nullification of

33

amnesties and other immunities”.

Kewajiban untuk melakukan penghukuman ini, yang tertuang dalam sejumlah instrumen HAM internasional, juga yurisdiksi internasional, yaitu berdasarkan pelanggaran-pelanggaran tertentu, mewajibkan untuk dituntut di dalam negeri, maupun memberikan kemungkinan pelaku pelanggaran tersebut dapat diproses di pengadilan di luar negeri. Hal ini misalnya dalam Konvensi Pencegahan dan Penghukuman terhadap Kejahatan Genosida (The Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide), yang memberikan kewajiban utama untuk penuntutan pelaku kepada negara dimana pelanggaran terjadi, tetapi juga menentukan bahwa pengadilan lainnya,

34

termasuk pengadilan internasional, memiliki yurisdiksi.

35

Demikian juga dengan Konvensi Anti Penyiksaan, yang menentukan adanya yurisdiksi internasional atas kejahatan penyiksaan yang lebih luas dan spesifik. Menurut Konvensi ini, negara-negara mempunyai kewajiban untuk mengekstradisi atau mengadili seorang yang diduga melakukan tindakan penyiksaan.

Di Amerika Serikat, sebuah produk hukum yang disebutkan sebagai Alien Tort Claims Act (1789) memberikan peluang untuk kesalahan atas kejahatan apapun yang ”melanggar the law of nations” dapat disidangkan di pengadilan federal perdata Amerika Serikat. Demikian juga, Torture Victim Protection Act (1992) memungkinkan warga negara Amerika Serikat dan keluarganya yang menjadi korban penyiksaan dan pembunuhan di luar proses hukum yang dilakukan oleh pejabat di negara lain, dapat disidangkan di Amerika Serikat.

Di Inggris, sebuah ketentuan yang dikeluarkan tahun 1988 memberikan kewenangan yurisdiksi ekstra-teritorial pada pengadilan pidana untuk menyidangkan pelaku penyiksaan dari negara mana pun yang dilakukan kepada korban dari negara mana pun dan tidak tergantung di mana penyiksaan dilakukan. Negara-negara lain yang sudah pernah mengajukan permohonan ekstradisi atau sudah pernah

33. (Resolution : 2004/72, Impunity, E/CN.4/RES/2004/72), 21 April 2004.

34. Kemungkinan ini telah diakui berdasarkan beberapa keputusan hukum pengadilan Amerika Serikat (kasus Demjanjuk), Israel (kasus Eichmann) dan House of Lords di Inggris (kasus Pinochet).

35. Lengkapnya The International Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment.

menghukum pelaku pelanggaran HAM seperti ini termasuk Spanyol, Belanda, Jerman, Perancis dan Italia.

Sejumlah model pertanggungjawaban pelanggaran HAM yang terjadi terus mengalami perkembangan, yang dapat dilakukan dalam berbagai bentuk pertanggungjawaban dan proses penuntutan melalui pengadilan baik dalam level internasional, regional, maupun domestik.

a. Pengadilan Nasional-Internasional (hybrid)

Pada tahun 2002 sebuah pengadilan khusus (special court) yang bersifat hibrida (nasional dan internasional) dibentuk di Sierra Leone atas dukungan PBB untuk melengkapi kerja Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Yurisdiksi pengadilan ini mencakup kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan-kejahatan tertentu yang diatur dalam hukum internasional, dan akan mengadili orang-orang yang paling bertanggung jawab atas pelanggaran hukum internasional dan hukum Sierra Leone yang dilakukan di

36

wilayah Sierra Leone, sejak 30 November 1996. Jaksa penuntut dan Hakim dalam pengadilan ini ditunjuk oleh PBB dan dari Sierra Leone, yang dalam pemilihannya dilakukan

37

melalui konsultasi antara PBB dan Pemerintah Sierra Leone. Sejumlah pelaku kejahatan telah diadili, diantaranya tiga komandan Revolutionary United Front (RUF), Issa Hassan Sesay, Morris Kallon and Augustine Gbao atas dakwaan melakukan kejahatan perang (war crimes) dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity) atas peranan mereka dalam perang sipil yang berakhir tahun 1999. Issa dijatuhi pidana 52 tahun atas 16 dakwaan, Kallon dijatuhi pidana 39

38

tahun, dan Gbao mendapatkan hukuman 25 tahun.

Di Kamboja, PBB dan Pemerintah Kamboja menyepakati pembentukan pengadilan pada bulan Oktober tahun 2004. Pengadilan tersebut akan menjadi mekanisme untuk mengadili para pemimpin rezim Khmer Merah dan ”mereka yang paling bertanggung jawab” atas tindakan kejahatan kemanusiaan.

36. http://www.icrc.org/ihl.nsf/INTRO/605?OpenDocument. 37. http://www.sc-sl.org/

Sebagaimana dengan pengadilan khusus Sierra Leone, ”Khmer Rouge Tribunal ” juga akan beranggotakan hakim dari Kamboja dan dari luar negeri. Kasus pertama yang disidangkan adalah terdakwa mantan anggota senior Khmer Merah, Kaing Guek Eav yang dikenal sebagai Duch. Di persidangan Duch terbukti bersalah terlibat dalam pembunuhan dan penyiksaan serta kejahatan terhadap kemanusiaan sewaktu memimpin penjara Tuol Sleng, tempat terjadinya penyiksaan yang dilakukan rezim ultra komunis yang dituduh menyebabkan 1,7 juta orang tewas tahun 1975-1979, dan merupakan salah satu tragedi terburuk pada abad ke-20. Duch kemudian dihukum 35 tahun penjara dan pada tingkat banding Duch dijatuhi

39

pidana penjara seumur hidup.

b. Inter-American Human Right Court

Pengadilan Inter-Amerika memiliki dua jurisdiksi: mengadili (adjudicatory jurisdiction) dan memberikan opini hukum (advisory jurisdiction). Dalam kapasitasnya mengadili kasus, maka hanya dua jenis pihak yang berhak untuk mengajukan kasus mengenai interpretasi dan implementasi isi Konvensi: Komisi HAM Inter-Amerika dan negara pihak dari Konvensi tersebut. Namun Komisi HAM hanya boleh mengajukan kasus bila semua prosedur Komisi yang dinyatakan dalam Konvensi HAM Inter-Amerika Pasal 48-50 (termasuk dengan mengusahakan penyelesaian domestik) telah dilakukan.

Peranan Pengadilan Inter-Amerika dalam pengembangan konsep-konsep HAM sangat berarti dalam masa-masa transisi banyak negara di wilayah Amerika Latin. Salah satu peranannya adalah dalam pengentasan impunitas, dimana baik pengadilan tersebut dan Komisi Pengadilan HAM secara konsisten menyatakan bahwa penerapan undang-udang amnesti kepada kasus-kasus pelanggaran serius HAM tidak sesuai dengan Konvensi HAM Amerika.

Misalnya, sebuah kasus yang terjadi di El-Savador dimana tentara membunuh enam pastur Jesuit dan dua orang

perempuan. Pengadilan menyatakan bahwa UU Amnesti tahun 1993 El-Savador melanggar kewajiban negara itu dalam Konvensi HAM Amerika, sehingga negara El-Savador harus menyidik dan mengadili mereka yang bertanggung jawab.

Pengadilan HAM Inter-Amerika menekankan bahwa Komisi Kebenaran, walaupun memiliki peranan relevan, tidak boleh dianggap sebagai pengganti yang memadai dari proses pengadilan sebagai metode pencapaian kebenaran. Komisi kebenaran bukan didirikan dengan presumsi bahwa tidak akan ada pengadilan setelahnya, namun harusnya menjadi suatu langkah untuk mengetahui kebenaran dan pada akhirnya

40

memastikan keadilan akan ditegakkan.

c. Pengadilan Pidana Domestik

Pada bulan April tahun 2004, sebuah pengadilan di Belanda menjatuhkan hukum 30 tahun penjara kepada bekas kolonel dari Republik Demokratik Congo, Sebastian Nzapali, atas keterlibatannya dalam kejahatan perang, khususnya penyiksaan seorang tahanan yang berada dalam perlindungannya pada tahun 1996. Perkara ini dapat disidangkan di Belanda berdasarkan Konvensi Anti Penyiksaan, di mana pengadilan domesik negara yang telah meratifikasi konvensi tersebut (dan optional protocols-nya), boleh mengusut orang yang dicurigai melakukan beberapa jenis

41

pelanggaran HAM di negara lain.

Tahun 2004 lalu merupakan tahun pertama perkara pelanggaran HAM yang terjadi di luar negeri yang disidangkan di Inggris. Pada bulan Oktober, perkara seorang komandan Perang Afghanistan, Faryadi Sarwar Zardad, yang dituduh berkonspirasi dalam penyiksaan dan penyanderaan antara tahun 1991 dan tahun 1996 dibuka di Pengadilan Pidana Pusat Old Bailey di London. Zardad berpindah ke Inggris pada 1998 dan setelah tinggal beberapa waktu, kemudian ditangkap.

42

Zardad akhirnya dijatuhi pidana 20 tahun penjara.

40.Laporan No. 136/99 (El Salvador), paragraf. 229-230. Lihat juga http://www.cidh.oas.org /annualrep/99eng/Merits/ElSalvador10.488.htm

41.http://www.asser.nl/default.aspx?site_id=36&level1=15248&level2=&level3=&textid=39989 42.http://news.bbc.co.uk/2/hi/uk_news/4695353.stm, lihat juga http://www.guardian.co.uk/uk

Pada bulan Juni tahun 2004, Belgia berhasil menangkap mantan anggota senior kelompok milisi yang bertanggung jawab atas genosida di Rwanda pada tahun 1994. Ephrem Nkezabera ditangkap berdasarkan UU Kejahatan Perang yang memungkinkan pengadilan Belgia untuk mengadili mereka

43

yang dituduh sebagai ”genocidaire” di luar negara tersebut.

Saat ini sejumlah negara di Amerika Latin juga melakukan proses penghukuman kepada para pelaku pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu. Pada Oktober 2011, Mahkamah Agung Argentina menghukum Alfredo Astiz, mantan tentara Agrentina, dengan penjara seumur hidup atas kejahatan terhadap kemanusiaan selama masa ”Dirty War”. Artiz terbukti ikut serta dalam penculikan dan pembunuhan terhadap suster Alice Demon dan Leonie Duquet, dan juga Azucena Villaflor, seorang pendiri ”the Mothers of Plaza de Mayo”, sebuah kelompok yang meminta adanya penyelidikan untuk

kasus-44

kasus penghilangan paksa.

Pada Juli 2012, mantan pimpinan militer Argentina, Jorge Videla dan Reynaldo Bignone dijatuhi hukuman masing-masing 50 tahun dan 15 tahun penjara atas kejahatan melakukan pencurian bayi dan anak-anak dari tahanan politik, dimana ketika itu setidaknya 400 bayi telah diambil dari orang

45

tua mereka ketika dipenjara.

d. Gugatan Perdata

Mekanisme gugatan perdata, yang sering dilakukan dengan menuntut pejabat negara untuk memperoleh ganti rugi, kompensasi dan rehabilitasi. Gugatan ini dilakukan biasanya sebagai jalan terakhir ketika proses penuntutan dan penghukuman dihalang-halangi. Hal ini misalnya terjadi di

43. http://www.trial-ch.org/en/ressources/trial-watch/trial-watch/profils/profile/627 /action/show/controller/Profile.html

44. http://www.independent.co.uk/news/world/americas/argentina-finally-serves-justice-on-the-angel-of-death-2376896.html.

Uruguay tahun 1990, dimana beberapa anggota keluarga orang yang dibunuh dan dihilangkan paksa memperoleh ganti rugi dari negara berdasarkan keputusan pengadilan perdata.

Di tingkat internasional, gugatan perdata juga bisa diajukan di berbagai negara, misalnya seperti Alien Tort Claims Act di Amerika Serikat yang memungkinkan permohonan untuk ganti-rugi dapat diajukan kepada pengadilan federal negara tersebut. Kendati tindakan kejahatan dilakukan di luar negeri, para pelaku tetap bisa diadili di Amerika Serikat sepanjang tergugat memiliki kontak dengan Amerika Serikat. Sejumlah gugatan dengan prosedur ini misalnya, gugatan yang diajukan oleh Center for Justice and Accountability di San Fransisco atas nama keluarga Uskup Agung Romero, yang dibunuh oleh militer di El Salvador pada tahun 1980.

Setelah hampir 25 tahun sejak pembunuhan Romero, sama sekali belum ada upaya oleh pemerintah El Salvador untuk menyelesaikan pembunuhan tokoh HAM ini. Pengadilan Federal Fresno, California, memutuskan bahwa salah satu orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut adalah seorang pensiunan kapten angkatan udara, Alvaro Saravia, yang telah tinggal di Amerika Serikat selama hampir 20 tahun. Saravia diperintahkan untuk membayar USD 10 juta

46

sebagai ganti rugi kepada keluarga Uskup Agung Romero.

Juga gugatan korban rezim bekas Presiden Filipina, Ferdinand Marcos. Meskipun Marcos, yang sudah pindah ke A.S. dan tinggal di Hawaii, meninggal selama proses gugatan ini berlalu, pengadilan tetap memerintahkan 'estate' Marcos untuk membayar ganti rugi kepada para penggugat sebesar USD 150

47

juta.

e. Permintaan Ekstradisi

Penahanan bekas diktator Chile, Jendral Pinochet, ditahan di

46. http://www.cja.org/article.php?list=type&type=77

47. Sandra Collver, ”Bringing Human Rights Abuses to Justice in U.S. Courts: Carrying Forward the Legacy of the Nurenberg Trial”. Dokumen dapat diakses di: http://www.cardozolawreview.com/content/27-4/COLIVER.WEBSITE.pdf

Inggris pada bulan Oktober 1998 berdasarkan surat perintah internasional yang dikeluarkan oleh hakim Spanyol, Baltasar Garzon, yang meminta Pinochet diekstradisi ke Spanyol berdasarkan beberapa tuduhan penyiksaan warga negara Spanyol. Pinochet ditahan di Inggris selama 16 bulan, namun akhirnya permintaan ekstradisi ditolak dan Pinochet diijinkan balik ke Chile.

Spanyol juga menerima tuntutan Yayasan Rigoberta Menchu yang ditujukan kepada bekas diktator Guatemala, Jendral Efrain Rios Mott, atas tuduhan melakukan pelanggaran kejahatan kemanusiaan, dengan catatan hanya kasus yang melibatkan warga negara Spanyol sebagai korban yang dapat

48

diproses.

Argentina telah menjadi sasaran gugatan berdasarkan yurisdiksi internasional, dan persidangan in absentia yang pernah dilakukan di Perancis, Spanyol, Itali dan Jerman. Pada Juli 2003, Spanyol meminta 46 petinggi militer diekstradisi atas

49

tuduhan penyiksaan dan genosida dan pada tahun 2007 Spanyol juga meminta Argentina untuk mengekstradisi 40 orang, termasuk mantan Presiden Agentina, yang didakwa melakukan genosida, terrorisme and penyiksaan selama masa

50

kediktatoran tahun 1976 dan 1983.

Pada Maret 2004, giliran Pemerintah Jerman meminta bekas Presiden Argentina, Jorge Videla, untuk diekstradisi bersama dengan dua petinggi militer lain, yaitu Emilio Massera dan Buillermo Suarez Mason yang semuanya dituduh ikut terlibat dalam pembunuhan tiga mahasiswa Jerman pada tahun 1976

51

dan 1977.

Dalam dokumen 2012 Journal Dignitas VIII 2012 (Halaman 58-67)