mumpung sedang memiliki kewenangan, mumpung
E. Korupsi dalam Fiqih Jinayah
Tindak pidana korupsi sebagaimana dijelaskan di awal adalah jarimah baru yang tidak dikenal dalam khazanah iqih klasik. Dalam khazanah iqih, setidaknya terdapat 9 (sembilan) jenis tindak pidana yang mirip dengan tindak pidana korupsi. Kesembilan macam jarimah atau tindak pidana tersebut adalah [1] ghulûl (penggelapan), [2] risywah (gratiikasi/ penyuapan), [3] ghashab (mengambil paksa hak/harta orang lain), [4] khiyânat (pengkhianatan), [5] maksu (pungutan liar), [6] ikhtilâs (pencopetan), [7] intihâb (perampasan), [8] sariqah (pencurian), dan [9] hirâbah (perampokan).
Tiga di antara kesembilan tindak pidana atau jarîmah tersebut secara tegas dinyatakan oleh Allah SWT di dalam al-Quran, yaitu ghulûl (penggelapan), sariqah (pencurian), dan hirâbah (perampokan). Sedangkan enam jarîmah yang lain dijelaskan Rasulullah SAW dalam berbagai haditsnya. Beberapa bentuk korupsi mutakhir, berupa mark up, beneicial ownership, money laundering, trading in inluence, kickback, money politics, dan lain- lain, dalam khazanah iqih semuanya masuk ranah jarimah ta’zir, karena tidak disebutkan dalam nash, baik al-Quran maupun hadits secara sharih. Semua jenis dan bentuk korupsi tersebut tidak masuk dalam ranah jarimah hudud. F. Korupsi dalam Sejarah Nabi SAW
Sejarah mencatat, setidaknya telah terjadi empat kali kasus korupsi pada zaman Nabi SAW, yaitu pertama, kasus ghulul atau penggelapan yang dituduhkan oleh sebagian pasukan perang Uhud terhadap Nabi SAW. Kedua, kasus budak bernama Mid’am atau Kirkirah yang menggelapkan mantel. Ketiga, kasus seseorang yang menggelapkan perhiasan seharga 2 dirham. Keempat, kasus hadiah (gratiikasi) bagi petugas pemungut zakat di kampung Bani Sulaim, bernama Ibn al-Lutbiyyah.
Mengenai kasus pertama, ghulul atau penggelapan yang dituduhkan oleh sebagian pasukan perang Uhud terhadap Nabi SAW, Allah berirman di dalam surat Ali Imran ayat 161:
ُلُك ىَف َوُت َمُث ِةَماَيِقْلا َم ْوَي َلَغ اَمِب ِتْأَي ْلُلْغَي نَم َو َلُغَي نَأ ٍّيِبَنِل َناَك اَم َو
نوُمَلْظُي َل ْمُه َو ْتَبَسَك اَم ٍسْفَن
}161 : 3/ نارمع لا{
“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian iap-iap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) seimpal, sedang mereka idak dianiaya.” (QS. Ali Imran (3): 161).
Menurut ulama ahli tafsir dan ahli sejarah, ayat ini turun berkaitan dengan kasus yang terjadi saat perang Uhud tahun ke-2 Hijriah. Kala itu pasukan kaum muslimin menderita kekalahan sangat tragis, para pasukan panah berbondong-bondong turun dari bukit Uhud untuk ikut berebut harta rampasan perang. Padahal Rasulullah SAW sejak semula sudah berpesan jangan sekali-kali meninggalkan bukit Uhud. Apapun yang terjadi
“ءاوس“
انيلع مأ انل
, kata beliau, menang atau kalah, jangan sekali-kali meninggalkan posisi bukit Uhud agar kita bisa melindungi atau membentengi bala tentara yang berada di bagian bawah bukit, termasuk Nabi SAW sendiri yang kala itu menjadi panglima perang.Namun mereka melanggar perintah Nabi SAW, bahkan mencurigai Nabi SAW akan menggelapkan harta rampasan perang yang tampak sangat banyak oleh mereka. Pada saat Rasulullah SAW mengetahui pasukan pemanah turun dari bukit Uhud, beliau bersabda:
ِةَيَ ْأا ِهِذَه ُه َلَزْنَأَف !ْمُكَل ُمِسْقَن َل َو َلُغَن اَنَا ْمُتْنَنَظ
“Kalian pasi mengira bahwa kami akan melakukan ghulul, korupsi terhadap ghanimah, atau harta rampasan perang dan idak akan membagikannya kepada kalian”!
Pada saat itulah turun ayat 161 surat Ali Imran:
ُلُك ىَف َوُت َمُث ِةَماَيِقْلا َم ْوَي َلَغ اَمِب ِتْأَي ْلُلْغَي نَم َو َلُغَي نَأ ٍّيِبَنِل َناَك اَم َو
نوُمَلْظُي َل ْمُه َو ْتَبَسَك اَم ٍسْفَن
}161 : 3/ نارمع لا{
“Pasukan pemanah mencurigai Nabi SAW akan berbuat curang dengan cara menggelapkan harta rampasan perang. Padahal, hal itu sangat idak mungkin, sehingga Allah menurunkan ayat yang menepis anggapan mereka. Akibat dari kecurigaan ini, mereka memperoleh penderitaan yang mengenaskan, berupa kekalahan tragis dalam perang Uhud.”
Kasus korupsi kedua, menimpa seorang budak bernama Mid’am atau Kirkirah. Dia seorang budak yang dihadiahkan untuk Nabi SAW. Kemudian, Nabi SAW mengutusnya untuk membawakan sejumlah harta ghanîmah atau hasil rampasan perang. Dalam sebuah perjalanan, tepatnya di wâdil qurâ, tiba-tiba Mid’am atau Kirkirah, seorang budak itu terkena bidikan nyasar, salah tembak, sebuah anak panah menusuk lehernya sehingga dia tewas. Para sahabat Nabi kaget. Mereka serentak mendoakan sang budak semoga masuk surga. Di luar dugaan, Rasulullah SAW tiba-tiba bersabda bahwa dia tidak akan masuk surga.
ْمَل ِمِناَغَمْلا ْنِم َرَبْيَخ َم ْوَي اَهَذَخَأ يِتَلا َةَلْمَشلا َنِإ ِهِدَيِب يِسْفَن يِذَلا َو َلَك
ٍكا َرِشِب ٌلُجَر َءاَج َكِلَذ اوُعِمَس اَمَلَف اًراَن ِهْيَلَع ُلِعَتْشَتَل ُمِساَقَمْلا اَهْب ِصُت
ىَلَص ِ َل ُلوُسَر َلاَقَف َمَلَس َو ِهْيَلَع ُ َل ىَلَص ِ َل ِلوُسَر ىَلِإ ِنْيَكاَرِش ْوَأ
)دواد وبا هاور( ٍراَن ْنِم ِناَكاَرِش َلاَق ْوَأ ٍراَن ْنِم ٌكاَرِش َمَلَس َو ِهْيَلَع ُ َل
“Tidak demi Allah, yang diriku berada di tanganNya, sesungguhnya mantel yang diambilnya pada waktu penaklukan Khaibar dari rampasan perang yang belum dibagi akan menyulut api neraka yang akan membakarnya. Keika orang-orang mendengar pernyataan Rasulullah itu ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW membawa seutas tali sepatu atau dua utas tali sepatu. Keika itu, Nabi SAW mengatakan: seutas tali sepatu sekalipun akan menjadi
api neraka (HR. Abu Dawud). 41
Pelajaran yang bisa diambil, korupsi sebuah mantel
)ةلمشلا(
dan seutas tali sepatu)كار(
saja, sabda Nabi SAW, pasti akan masuk neraka. Jelaslah, posisi korupsi yang terjadi pada hari ini, dengan modus dan jumlah yang sangat besar, dan dampak yang sangat luas, sistemik, dan terstruktur. Kasus korupsi ketiga adalah kasus seorang yang menggelapkan perhiasan seharga 2 dirham. Hal ini dijelaskan dalam hadits riwayat Abu Dawud:او ُرَكَذَف َرَبْيَخ َم ْوَي َيِّفُوُت َمَلَس َو ِهْيَلَع ُ َل ىَلَص ِّيِبَنلا ِباَحْصَأ ْنِم ًلُجَر َنَأ
ْت َرَيَغَتَف ْمُكِب ِحاَص ىَلَع اوُلَص َلاَقَف َمَلَس َو ِهْيَلَع ُ َل ىَلَص ِ َل ِلوُسَرِل َكِلَذ
اَنْدَج َوَف ُهَعاَتَم اَنْشَتَفَف ِ َل ِليِبَس يِف َلَغ ْمُكَب ِحاَص َنِإ َلاَقَف َكِلَذِل ِساَنلا ُهوُج ُو
ِ
نْيَمَه ْرِد يِواَسُي َل َدوُهَي ِزَرَخ ْنِم اًزَرَخ
Ada seorang sahabat Nabi yang meninggal dunia pada waktu terjadi perisiwa penaklukan Khaibar. Hal ini dibicarakan oleh mereka hingga sampai didengar Rasulullah SAW. Beliau bersabda: “Shalatkanlah saudara kalian ini.” Pada saat itu raut muka orang-orang berubah (karena keheranan dengan perintah Nabi ini). Rasulullah SAW mengatakan, “Sungguh saudara kalian ini menggelapkan harta rampasan perang di jalan Allah.” Keika itu, kami langsung memeriksa harta bawaannya dan ternyata kami menemukan kharazan (perhiasan/manik-manik atau permata orang Yahudi yang harganya idak mencapai dua dirham (HR. Abu Dawud). 42
Perintah Nabi SAW
“ْمُكِب ِحاَص ىَلَع ا ْوُلَص
” (shalatkanlah saudara kalian ini) memberikan isyarat bahwa Nabi SAW tidak berkenan menyalati jenazah seorang koruptor. 43 Imam al-Nawawi mengatakan :Dâwûd, jilid 5, (al-Qâhirah: Dâr al-Hadîts, 2001), hlm. 155.
42 Khalîl Ahmad as-Siharanfûrî, Badzlu al-Majhûd î Halli Abî Dâwûd, jilid 11, (Beirut: Dâr al-Ku-
tub al-’Ilmiyyah, th), hlm. 284-286. Nilai permata atau intan dalam hadits yang harganya idak menca-
pai 2 dirham ini dikontekstualisasikan oleh Syamsul Anwar. Menurutnya, mata uang dirham di zaman Nabi SAW, nilainya sama dengan sepersepuluh dinar, satu dinar adalah 4.25 gram emas murni. Jadi dua dirham berari 2 x 0.415 gram emas = 0.85 gram. Apabila dirupiahkan dengan mengasumsikan harga emas per gram adalah Rp. 100.000,- (tahun 2005) maka korupsi/penggelapan Khaibar itu hanya seki-
tar Rp. 85.000,- kalau tahun 2007 ini harga emas per gram Rp. 150.000,- maka 0.85 x 150.000,- = Rp. 127.500,- sebuah nilai yang sangat idak fantasis bila dikaitkan dengan kasus korupsi BLBI yang hingga
mencapai trilyunan rupiah. (lihat Hermenia, jurnal kajian Islam Interdisipliner vol. 4 nomor 1 Januari –
Juni 2005, hlm. 112). Untuk saat ini, tahun 2016 harga emas Rp. 500.000, maka 0,85 x 500.000 = Rp.
425.000.
44 ْمُهَل اًرْجَز ِقاَسُفْلا ىَلَع َنوُلَصُي َل ِلْضَفْلا َلْهَأ َنَأ َو ...
“…dan orang baik seyogyanya idak perlu ikut menyalai orang yang fasik agar menjadi pelajaran dan mencegah bagi yang lain agar idak meniru menjadi fasik.”Kasus berikutnya adalah korupsi Abdullah bin al-Lutbiyyah (atau Ibn al- Atbiyyah), petugas pemungut zakat di Bani Sulaim. Kasus ini terjadi pada tahun 9 H. Sebagai petugas pemungut zakat, dia menjalankan tugasnya di Bani Sulaim. Sekembalinya dari bertugas, Ibn al-Lutbiyyah melaporkan hasil penarikan zakat yang diperolehnya dan beberapa yang dia anggap sebagai hadiah untuknya (sebagai petugas). Ibnu al-Lutbiyyah berkata kepada Rasulullah SAW, “Ini adalah hasil pungutan zakat untukmu (Rasulullah/Negara); dan yang ini hadiah untuk saya.” Mendengar laporan ini, Rasulullah SAW menolak hadiah yang diperoleh saat seseorang menjadi petugas. Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu duduk saja di rumah bapak dan ibumu, apakah hadiah itu akan datang sendiri untuk kamu?” Kemudian, Rasulullah SAW langsung naik mimbar berpidato di hadapan orang banyak untuk memberitahukan ke publik tentang peristiwa ini.
Hadits tentang kasus Ibn al-Lutbiyyah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan al-Bukhari dengan redaksi Imam Muslim sebagai berikut :
ًلُج َر َمَلَس َو ِهْيَلَع ُ َل ىَلَص ِ َل ُلوُسَر َلَمْعَتْس َلاَق ِّيِدِعاَسلا ٍدْيَمُح يِبَأ ْنَع
اَذَه َلاَق ُهَبَساَح َءاَج اَمَلَف ِةَيِبْتُللا َنْبا ىَعْدُي ٍمْيَلُس يِنَب ِتاَقَدَص ىَلَع ِد ْزَ ْأا ْنِم
ِتْيَب يِف َتْسَلَج َلَهَف َمَلَس َو ِهْيَلَع ُ َل ىَلَص ِ َل ُلوُسَر َلاَقَف ٌةَيِدَه اَذَه َو ْمُكُلاَم
ىَنْثَأ َو َ َل َدِمَحَف اَنَبَطَخ َمُث اًقِداَص َتْنُك ْنِإ َكُتَيِدَه َكَيِتْأَت ىَتَح َكِّمُأ َو َكيِبَأ
ُ َل يِن َل َو اَمِم ِلَمَعْلا ىَلَع ْمُكْنِم َلُجَرلا ُلِمْعَتْسَأ يِّنِإَف ُدْعَب اَمَأ َلاَق َمُث ِهْيَلَع
ِهِّمُأ َو ِهيِبَأ ِتْيَب يِف َسَلَج َلَفَأ يِل ْتَيِدْهُأ ٌةَيِدَه اَذَه َو ْمُكُلاَم اَذَه ُلوُقَيَف يِتْأَيَف
datul ‘Ulamâ`, (Solusi Hukum Islam Keputusan Muktamar Munas dan Kobes NU (1926-2004 M), cet.
ke-3, (Surabaya : Diantama, 2006), hlm. 722.
44 Muhyiddîn Abû Zakariyâ Yahyâ bin Syaraf bin Murrî an-Nawâwî, al-Minhâj î Syarh Sahîh
ِرْيَغِب اًئْيَش اَهْنِم ْمُكْنِم ٌدَحَأ ُذُخْأَي َل ِ َل َو اًقِداَص َناَك ْنِإ ُهُتَيِدَه ُهَيِتْأَت ىَتَح
ُلِمْحَي َ َل َيِقَل ْمُكْنِم اًدَحَأ َنَف ِرْعَ َلَف ِةَماَيِقْلا َم ْوَي ُهُلِمْحَي ىَلاَعَت َ َل َيِقَل َلِإ ِهِّقَح
ُرَعْيَت ًةاَش ْوَأ ٌرا َوُخ اَهَل ًة َرَقَب ْوَأ ٌءاَغُر ُهَل اًريِعَب
Dari Abi Humaid as-Sa’idi ra (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah SAW mengangkat seorang lelaki dari suku al-Azd bernama Ibn al-Lutbiyyah untuk menjadi pejabat pemungut zakat di Bani Sulaim. Keika ia datang (menghadap Nabi SAW untuk melaporkan hasil pemungutan zakat) beliau memeriksanya. Ia berkata: “Ini harta zakatmu (Nabi/Negara), dan yang ini adalah hadiah (yang diberikan kepadaku).” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “jika engkau memang benar, maka apakah kalau engkau duduk di rumah ayahmu atau di rumah ibumu hadiah itu datang kepadamu?” Kemudian Nabi SAW berpidato mengucapkan tahmid dan memuji Allah, lalu berkata: “Selanjutnya saya mengangkat seseorang di antaramu untuk melakukan tugas yang menjadi bagian dari apa yang telah dibebankan Allah kepadaku. Lalu, orang tersebut datang dan berkata: “ini hartamu (Rasulullah / Negara) dan ini adalah hadiah yang diberikan kepadaku.” Jika ia memang benar, maka apakah kalau ia duduk saja di rumah ayah dan ibunya hadiah itu juga datang kepadanya? Demi Allah begitu seseorang mengambil sesuatu dari hadiah tanpa hak, maka nani di hari kiamat ia akan menemui Allah dengan membawa hadiah (yang diambilnya itu), lalu saya akan mengenali seseorang dari kamu keika menemui Allah itu ia memikul di atas pundaknya unta (yang dulu diambilnya) melengkik atau sapi melenguh atau kambing
mengembik… (HR. al-Bukhari dan Muslim dan teks dari Muslim). 45
Tindakan Nabi berpidato di hadapan publik membicarakan ketidakbenaran yang dilakukan oleh bawahannya ini dapat dikatakan bahwa Nabi SAW mempublikasikan tindakan koruptor di media massa atau tempat umum agar menjadi pembelajaran bagi publik, dan agar seorang koruptor dan keluarganya malu dan jera dari tindakan korupsinya.
Tindak pidana korupsi yang terjadi di Indonesia saat ini masuk dalam kategori jarimah ta’zir. Walaupun hanya masuk ke dalam jenis jarimah ta’zir, namun bahaya dan dampak negatifnya bisa lebih besar daripada mencuri dan merampok. Dengan demikian, bentuk hukuman ta’zirnya dapat berupa pidana pemecatan, pidana penjara, pidana penjara seumur
45 Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Murry an-Nawawi, al-Minhaj i Syarh Sahih
hidup, dan bahkan bisa berupa pidana mati. Untuk menindak pelaku korupsi, bisa juga diambil dari jarimah hirâbah. Tindak pidana ini disebutkan dalam QS. Al-Mâidah ayat 33 dengan sanksi hukuman mati, disalib, dipotong tangan dan kaki secara silang atau diasingkan, sebagai berikut:
اًداَسَف ِض ْرَ ْأا يِف َن ْوَعْسَي َو ُهَلوُسَر َو َ َل َنوُب ِراَحُي َنيِذَلا ُءاَزَج اَمَنِإ
ا ْوَفْنُي ْوَأ ٍف َل ِخ ْنِم ْمُهُلُج ْرَأ َو ْمِهيِدْيَأ َعَطَقُت ْوَأ اوُبَلَصُي ْوَأ اوُلَتَقُي ْنَأ
ٌميِظَع ٌباَذَع ِة َر ِخ ْلا يِف ْمُهَل َو ۖ اَيْنُدلا يِف ٌي ْز ِخ ْمُهَل َكِلَٰذ ِۚض ْرَ ْأا َنِم
“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. al-Mâidah: 33).