• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kriteria Keluarga Penerima Rumah Tidak Layak Huni

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : RAISA AFNI SIRAIT (Halaman 58-0)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni

4.3.4. Kriteria Keluarga Penerima Rumah Tidak Layak Huni

1. Warga negara Indonesia dan sudah berkeluarga.

2. Termasuk dalam kategori masyarakat berpendapatan rendah (MBR) yang layak diberikan bantuan program pengembangan perumahan

3. Memiliki/menguasai hak milik tanah.

4. Belum memiliki rumah/memiliki dan menempatkan rumah satu-satunya dengan kondisi tidak layak huni.

5. Belum pernah memperoleh bantuan program pengembangan perumahan dari pemerintah atau program sejenis.

6. Memiliki keswadayaan dan berencana meningkatkan kualitas rumah.

4.4. Evaluasi Program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kelurahan Kapias Pulau Buaya

Evaluasi merupakan kegiatan untuk menilai suatu program yang telah dilaksanakan, mengenai keberhasilan suatu program dan kendala atau hambatan-hambatan yang terjadi pada tahap-tahap pelaksanaan. Tujuan evaluasi adalah memperoleh keterangan tentang tingkat pencapaian sasaran dan tujuan dari pelaksanaan program perbaikan RTLH. Sasaran Evaluasi adalah Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai sebagai penanggung jawab/pelaksana dan pendamping kegiatan program tersebut. Dalam pelaksanaan program perbaikan RTLH di Kelurahan Kapias Pulau Buaya terdapat kategori-kategori terkait dengan keberhasilan dalam evaluasi program yang meliputi:

4.4.1 Efektivitas

Untuk mengetahui sejauhmana keberhasilan suatu program yang telah dijalankan, efektif atau tidak sebuah sasaran yang dituju. Efektivitas merupakan hubungan antara output dengan tujuan, semakin besar kontribusi (sumbangan) output terhadap pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program atau kegiatan (Mahmudi, 2005:92).

Berdasarkan maksud dari tujuan program perbaikan menurut tim pelaksana program perbaikan RTLH di Kota Tanjungbalai, tujuan dari program perbaikan RTLH adalah untuk meminimalisir permukiman kumuh, meningkatkan harkat dan martabat masyarakat berpendapatan rendah, meningkatkan kemampuan keluarga dalam melakukan peran dan fungsi keluarga untuk memberikan perlindungan, bimbingan dan pendidikan, meningkatkan

kualitas kesehatan lingkungan pemukiman. Kualitas hidup yang diharapkan adalah dengan kondisi rumah yang layak huni, lingkungan yang bersih dan asri, tidak ada atap yang bocor serta MCK yang bersih. Kebutuhan masyarakat merasa terpenuhi dengan adanya bantuan program tersebut.

Pernyataan di atas senada dengan yang dikatakan informan bahwa:

“Dengan adanya program ini yang jelas masyarakat sangat terbantu sekali, karena secara langsung masyarakat dapat imbasnya. Program ini adalah salah satu untuk menangani rumah kumuh, dari tahun ketahun dengan adanya program ini si alhamdulillah rumah yang tidak layak huni semakin berkurang ya, walupun di Tanjungbalai sendiri rumah yang tidak layak huni dihitung sangat tinggi. Setidaknya program ini benar-benar

berguna dan bermanfaat bagi masyarakat berpendapatan rendah.”

(Hasil Wawancara dengan Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai, 21 Mei 2019, Transkrip wawancara hal.78)

Informan lain juga mengatakan bahwa:

“Bantuan yang diberikan dalam bentuk material bahan bangunan yang diperlukan, jadi sebelumnya masyarakat penerima bantuan membuat proposal mengenai bahan bangunan yang diperlukan. Dengan adanya kebijakan ini, masyarakat penerima bantuan tidak salah menggunakan bantuan yang diberikan, jadikan tujuan program tercapai untuk mengurangi rumah tidak layak huni. Masyarakat juga mengetahui bahwa biaya tukang ditanggung sama mereka dan kalo mereka mau meningkatkan kualitas rumah lebih baik lagi ya keperluan bahan lainnya ditanggung sama mereka juga.” (Hasil wawancara dengan Kepala Bidang perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kumuh Kota tanjungbalai, 31 Mei 2019, Transkrip wawancara hal.83)

Informan lainnya juga mengatakan bahwa:

“Saya terbantu dengan adanya program ini walaupun bantuan yang berikan hanya sebesar Rp. 15.000.000/KK, namun bantuan yang diberikan dalam bentuk material sehingga bantuan tersebut jelas kegunaan nya.” (Hasil wawancara dengan Ibu Mariati pada tanggal 1 Juli 2019, Transkrip wawancara hal.97)

Informan lainnya juga mengatakan bahwa:

“Program RTLH ini terbatas sehingga tidak semua masyarakat bisa mendapatkan bantuan, Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai tidak mengetahui secara pasti masyarakat yang layak mendapatkan bantuan itu, maka dari itu pihak kelurahan yang

mengusulkan ke dinas tersebut untuk mendapatkan bantuan RTLH tersebut. Selanjutnya bagian dari petugas Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai turun ke lapangan meninjau lokasi rumah yang akan diperbaiki.”(Hasil wawancara dengan Ibu Mariati pada tanggal 1 Juli 2019, Transkrip wawancara hal.97)

Hal senada juga dikatakan informan lain bahwa:

“Dengan adanya program RTLH, saya merasa terbantu dengan program ini, karena kami bisa memperbaiki rumah menjadi lebih baik, ya walaupun tidak semua bisa diperbaiki, bagian yang paling penting, seperti MCK.

Masyarakat yang berpendapatan rendah yang layak mendapatkan bantuan, jadi pihak dinas yang langsung melihat kondisi rumah mana yang berhak menerima bantuan program RTLH.” (Hasil wawancara dengan Ibu Wani pada tanggal 1 Juli 2019, Transkrip wawancara hal.99)

Pengukuran kriteria efektivitas berhubungan dengan apakah alternatif kebijakan yang digunakan mencapai hasil yang diharapkan atau mencapai tujuan (goal). Efektivitas sebagai hubungan rasional teknis yang diukur dari hasil produk atau layanan tanpa memperhitungkan biaya. Semakin baik produk yang dihasilkan dengan meminimalisir biaya maka tingkat efektivitas mencapai tujuan dengan baik. Alternatif kebijakan pemberian bantuan secara tepat yang dilakukan oleh pelaksana kebijakan melalui pemberian informasi terkait program kebijakan, tujuan dari program, serta manfaat dari pelaksanaan program. Adapun yang menjadi latar belakang dari program perbaikan RTLH di Kelurahan Kapias Pulau Buaya sebagai alternatif kebijakan pengentasan rumah kumuh dengan pemberian bantuan melalui pemberian material bangunan untuk proses perbaikan rumah.

Sedangkan berdasarkan maksud dari tujuan program perbaikan RTLH menurut tim pelaksana program rahabilitasi RTLH di Kota Tanjungbalai, tujuan dari program perbaikan RTLH adalah untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih layak dengan menempati rumah layak huni. Kualitas hidup yang diharapkan adalah dengan kondisi rumah dan lingkungan yang bersih dan asri, tidak ada atap

bocor serta MCK yang bersih. Program perbaikan RTLH merupakan program pengentasan rumah kumuh yang dikhususkan untuk masyarakat berpendapatan rendah di Kota Tanjungbalai.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan beberapa informan di Kelurahan Kapias Pulau Buaya sudah cukup baik dan efektif dalam memiminalisir permukiman kumuh. Dimana menurut Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai, program tersebut sangat membantu masyarakat berpendapatan rendah dalam mewujudkan kualitas rumah yang lebih baik, hal yang sama juga dikatakan Kepala Bidang perumahan Rakyat dan kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai bahwa tujuan program yang dilaksanakan terlaksana dengan jelas, dimana bantuan yang diberikan tidak lagi dalam bentuk uang melainkan dalam bentuk barang material yang dibutuhkan sehingga masyarakat tidak salah menggunakan bantuan yang diberikan.

Masyarakat juga setuju dengan kebijakan yang diterapkan, sehingga mereka bisa memperbaiki kualitas rumah menjadi lebih baik.

Berdasarkan Keputusan Walikota Tanjungbalai No.050/140/K/2018 tentang Tenaga Fasilitator Program Pengembangan Perumahan Kegiatan Fasilitasi dan Stimultan Pembangunan Perumahan Masyarakat Kurang mampu Kota Tanjungbalai Tahun 2018, hasil pengamatan penulis dilapangan pada tanggal 1 Juli 2019 terkait efektivitas program RTLH di Kelurahan Kapias Pulau Buaya Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai sudah cukup efektif. Berdasarkan hasil lapangan penulis masyarakat yang menerima bantuan program RTLH sudah tepat sasaran, dimana masyarakat yang mendapatkan program RTLH tersebut sebelum mendapatkan bantuan pihak kelurahan meninjau langsung ke masyarakat

yang layak mendapatkan bantuan, selanjutnya pihak kelurahan mengajukan proposal bantuan kepada Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai, dan ditindaklanjuti oleh Tim Evaluasi Perumahan apakah masyarakat tersebut layak mendapatkan program RTLH, dimana kriteria masyarakat yang mendapatkan perbaikan rumah masyarakat yang berpengasilan rendah.

Gambar 4.3 Tenaga Fasilitator Program Pengembangan Perumahan Kegiatan Fasilitasi dan Stimulan Pembangunan Perumahan Masyarakat Kurang Mampu Tahun 2018

Sumber: Kantor Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai, 31 Mei 2019

Dokumentasi di atas merupakan Tenaga Fasilitator Program Pengembangan Perumahan Kegiatan Fasilitasi dan Stimulan Pembangunan Perumahan Masyarakat Kurang Mampu Tahun 2018. Tenaga Fasilitator dibentuk untuk melakukan sosialisasi, penyuluhan, dan perbekalan masyarakat, melakukan seleksi calon penerima bantuan program pengembangan perumahan, mendampingi calon penerima bantuan program pengembangan perumahan dalam penyusunan dan pengajuan proposal, mendampingi penerima bantuan program pengembangan perumahan dalam pemanfaataan bantuan, mendampingi penerima bantuan program pengembangan perumahan dalam penyusunan laporan pertanggungjawaban dan menyusun laporan kegiatan.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dokumentasi yang telah dikemukakan dalam program RTLH di Kelurahan Kapias Pulau Buaya Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjung Balai sudah cukup efektif, dimana tujuan program sesuai terlaksana dengan jelas, adanya tenaga fasilitator dalam pengembangan perumahan dan bantuan yang diberikan dalam bentuk barang sangat mendukung proses berjalannya program.

4.4.2 Efisiensi

Seberapa besar usaha yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat efektivitas tertentu. Efisiensi biasanya ditentukan melalui perhitungan biaya per unit produk atau layanan. Kebijakan yang mencapai efektivitas tertinggi dengan biaya terkecil dinamakan efisien. Efisiensi merupakan ukuran yang digunakan mengukur keberhasilan suatu kegiatan yang dinilai dari segi sumberdaya atau nilai untuk mencapai keberhasilan dari kegiatan tersebut. Lebih sederhananya Dunn mengatakan bahwa efisiensi dapat diketahui dengan menjawab

pertanyaan”Seberapa besar usaha yang diperlukan untuk mencapai usaha yang diinginkan?”

Pernyataan di atas senada dengan yang dikatakan informan bahwa:

“Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai sebelumnya telah melakukan sosialiasi kepada penerima program RTLH berkaitan dengan swadaya masyarakat terkait pembangunan rumah tersebut. Jika ada biaya diluar bantuan yang diperlukan, masyarakat sudah mengetahui hal tersebut, maka dari itu sebelumnya, masyarakat penerima bantuan ditanyakan kesiapan mereka jika terjadi penambahan”. (Hasil wawancara dengan Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai, 21 Mei 2019, Transkrip wawancara hal.78)

Informan lainnya juga mengatakan bahwa:

“Sebelumnya pihak dari Kelurahan yang mengajukan permohonan proposal RTLH kepada Dinas Perumahan Rakyat dan kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai, setelah berkas dipriksa dan memenuhi syarat maka kami akan mengidentifikasi lokasi rumah, lalu dievalusi apakah sesuai dan memenehi syarat untuk mendapatkan bantuan program tersebut”. (Hasil wawancara dengan Kepala Seksi Pemantauan dan Evaluasi Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai, pada tanggal 29 Mei 2019, Transkrip wawancara hal.91) Hal senada dikemukakan oleh informan lain bahwa:

“Bantuan dalam bentuk material yang diberikan Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai dapat mengurangi beban pengeluaran kami, jadi kami tidak sepenuhnya mengeluarkan biaya untuk memperbaiki rumah menjadi lebih layak. Lagi pula bantuan yang diberikan itu dalam bentuk material bangunan, jadi tujuan program jelas, mungkin kalo dalam bentuk material uang tidak dipergunakan untuk memperbaiki rumah melainkan hal lain.” (Hasil wawancara dengan Ibu Wani, 1 Juli 2019, Transkrip wawancara hal.99)

Adapun menurut informan lain mengatakan bahwa:

“Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai terlebih dahulu melakukan sosialisasi terkait hal tersebut, sosialisasi yang diberikan tentang bentuk bantuan dan kesanggupan penerima bantuan. Bantuan yang diterima dalam bentuk material bahan bangunan, jadi kami hanya diberikan bahan bangunan senilai Rp. 15.000.000, kami membuat proposal pengajuan bahan-bahan yang diperlukan, lebih dari itu, kami yang menanggung semua”. (Hasil wawancara dengan Ibu Sarifah, 1 Juli 2019, Transkrip wawancara hal.101)

Keberhasilan program perbaikan RTLH ini tidak lepas dari strategi yang diterapkan oleh para pelaksana program. Salah satu strategi yang dilaksanakan melalui sosialisasi kepada Seksi Pemantauan dan Evaluasi Perumahan, Kelurahan dan masing-masing ketua kelompok yang mendapatkan bantuan. Tugas dan tanggung jawab dilaksanakan dengan yang telah disepakati, strategi dan mekanisme yang diterapkan mampu melaksanakan program dengan baik.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan di atas dapat disimpulkan bahwa program dilaksanakan cukup efisien. Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai melakukan sosialisasi kepada Seksi Pemantauan dan Evaluasi Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai, Lurah dan Ketua Kelompok (Fasilitator) mengenai program tersebut, sehingga masyarakat memahami maksud dan tujuan dari program yang diberikan.

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di Kelurahan Kapias Pulau Buaya sudah cukup efisien. Masyarakat mengetahui program RTLH yang dilaksanakan untuk masyarakat berpendapatan rendah, dan usaha Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai program RTLH dari bentuk bantuan, biaya tukang dan tingkat swadaya masyarakat Kelurahan Kapias Pulau Buaya.

Sumber: Laporan Dokumentasi Tim Pemantauan dan Evaluasi, 1 Juli 2019

Dokumentasi diatas merupakan rumah masyarakat yang layak menerima bantuan. Sosialisasi yang dilakukan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dengan Lurah dan Seksi Pemantauan dan Evalusi menghasilkan kerja sama yang baik. Pihak Lurah mengajukan permohonan proposal RTLH kepada Dinas Perumahan dan permukiman dan ditindaklanjuti oleh Tim Seksi Pemantauan dan Evalusi untuk melihat lokasi rumah layak untuk dibantu.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi yang dilakukan oleh penulis bahwa masyarakat memahami program RTLH yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Tanjungbalai dimana masyarakat sudah mengetahui tujuan program RTLH dan sasarannya program tersebut. Sehingga tujuan dari program perbaikan rumah tidak layak huni terlaksana dengan baik.

4.4.3. Kecukupan

Indikator kecukupan menguatkan pada hubungan antara alternatif kebijakan dan hasil yang ingin dicapai. Kriteria kecukupan pada program perbaikan RTLH tidak hanya bagaimana pencapaian sasaran dengan biaya

tertentu, melainkan juga dilihat dari bagaimana strategi dan mekanisme yang dijalankan mampu melaksanakan program dengan baik. Seperti keterlibatan atau kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan program, sehingga tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat berpendapatan rendah dapat terlaksana dengan baik.

Dalam rangka mewujudkan lingkungan permukiman yang baik dan untuk mencapai keberhasilan dalam kegiatan program perbaikan RTLH melalui upaya pemberdayaan masyarakat adalah melakukan penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat, yaitu melibatkan masyarakat sebagai pengelola kegiatan dan menempatkan masyarakat sebagai objek mulai dari identifikasi lokasi dan kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan sehingga masyarakat betul-betul berperan aktif dalam setiap kegiatan. Program perbaikan RTLH yang dilakukan oleh Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai memberikan fasilitas teknis berupa bantuan sosial RTLH kepada masyarakat yang dikerjakan secara swakelola oleh masyarakat secara gotong royong. Dalam pelaksanaanya Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai memberi bantuan sebesar Rp. 15.000.000 setiap rumah /KK, secara nyata bahwa dengan dana yang diperoleh untuk masyarakat tidak mencukupi untuk memperbaiki rumah menjadi sangat layak, Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai percaya swadaya masyarakat bisa membantu dalam melaksanakan perbaikan rumah agar meringankan keluarga yang menerima bantuan sehingga dana yang diperoleh mencukupi untuk perbaikan rumah yang layak huni.

Dari wawancara dengan Informan mengatakan bahwa:

“Bantuan yang diberikan sebesar Rp. 15.000.000, secara nyata memang tidak mencukupi dilihat dari tingginya tingkat harapan masyarakat, akan

tetapi jika swadaya masyarakat sekitar sangat tinggi, tidak mengeluarkan biaya tukang, sedikit meringankan bagi penerima bantuan”. (Hasil wawancara dengan Kepala Seksi Penyediaan dan Pembiayaan Perumahan Kota Tanjungbalai pada tanggal 22 Mei 2019, Transkrip wawancara hal.88)

Informan lain mengatakan bahwa:

“Dengan uang Rp. 15.000.000 yang diberikan Dinas Perumahan dan Permukiman dalam bentuk material bahan bangunan, menurut saya belum mencukupi, lain lagi saya harus mengeluarkan uang makan dan minum untuk pekerja yang melakukan pekerjaan perbaikan rumah tersebut, lain lagi bahan bangunan masih kurang mencukupi sehingga saya harus mengeluarkan uang untuk tambahan tersebut. Tapi balik lagi kepada masing-masing orang, kadang dengan bantuan sebesar itu ya sudah cukup, mau gamau harus di cukup-cukupkan”. (Hasil wawancara dengan Ibu Mariati, 1 Juli 2019, Transkrip Wawancara hal.98)

Informan lainnya juga mengatakan bahwa:

“Sebenarnya uang Rp. 15. 000.000 tersebut tidak mencukupi, tetapi tingkat swadaya masyarakat bisa sedikit terbantu jadi biaya untuk tukang kami tidak perlu mengeluarkan biaya. Dari segi kualitas rumah bantuan material belum mencukupi, tetapi setidaknya ada peningkatan. Menurut saya tidak semua mendapatkan kesempatan dalam program RTLH, jadi saya sangat

senang menerima bantuan ini”. (Hasil wawancara dengan Ibu Sarifah, 27 Mei 2019, Transkrip Wawancara hal.101)

Hal senada juga dikatakan informan lain bahwa:

“Kalau uang Rp. 15.000.000 yang diberikan dalam bentuk material bahan bangunan belum mencukupi dalam hal perbaikan rumah, karena masih banyak kebutuhan yang harus ditanggung oleh penerima bantuan program RTLH, seperti makan dan minum tukang walaupun pekerjaan dikerjakan secara swadaya tetapi masih mengeluarkan uang untuk peningkatan kualitas rumah yang lebih baik. Tidak semua warga yang mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan bantuan program RTLH walaupun tergolong berpenghasilan rendah. Sebenarnya tergantung masing-masing orang, dia menilai kualitas rumah bagaimana, kalo saya yang penting, bersih, nyaman, bisa digunakan, gak harus dengan bahan yang mahal, atau ukiran, hiasan seperti itu, yang penting atap gak bocor, dinding gak ada yg berlobang, bisa ditempati sudah syukur” (Wawancara dengan Ibu Rabiah, 1 Juli 2019, Transkrip wawancara hal.103)

Hal senada juga dikatakan informan lainnya bahwa:

“Walaupun kami menerima uang sebesar Rp. 15.000.000,- kami sangat terbantu karena dengan biaya sebesar itu sangat meringankan kami untuk meningkatkan kualitas rumah atau memperbaiki rumah menjadi lebih baik atau layak huni, kami sangat senang menerima bantuan ini karena bantuan ini terbatas, jadi tidak semua masyarakat berpendapatan rendah mendapatkan bantuan”. (Hasil wawancara dengan Ibu Linda, 1 Juli 2019 Transkrip wawancara hal.105)

Dalam melaksanakan program perbaikan RTLH supaya berjalan lancar dan sesuai dengan target yang telah ditentukan tentu saja ada strategi khusus yang dilakukan Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai. Sebelum mengusulkan proposal program perbaikan RTLH dari pihak Kelurahan harus melakukan pendekatan kepada keluarga yang rumahnya akan diperbaiki, apakah keluarga tersebut sudah siap memperbaiki rumahnya. Pemerintah juga harus melihat swadaya masyarakat sekitar untuk membantu dalam pelaksaan perbaikan rumah, dan juga memiliki keluarga sanak maupun saudara untuk memperlancar pelaksanaan program ini, itu trik yang diterapkan dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman.

Dana Rp. 15.000.000 yang diberikan dari pemerintah untuk masyarakat yang menerima bantuan program perbaikan RTLH diberikan dalam bentuk material, sehingga dana itu benar-benar untuk keperluan memperbaiki rumah bukan lagi untuk keperluan lain.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan dapat disimpulkan bahwa bantuan yang diterima belum cukup memuaskan masyarakat, dikarenakan masih banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki rumah menjadi layak huni. Untuk meningkatkan kualitas rumah menjadi lebih baik masing-masing dari masyarakat sangat antusias dengan bantuan program

yang diberikan walaupun harus mengeluarkan baiaya tambahan. Namun karena bantuan yang diberikan hanya terbatas mereka sangat senang menerima bantuan tersebut. Untuk mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat dalam memenuhi rumah layak huni masih belum cukup, karena tidak semua masyarakat berpendapatan rendah mendapatkan bantuan tersebut, dan yang mendapatkan bantuan tersebut juga mengeluarkan biaya tambahan untuk menjadikan rumah layak huni.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis di lapangan, sebagian masyarakat yang berpendapatan rendah belum mendapatkan bantuan tersebut dikarenakan bantuan yang diberikan terbatas dan masyarakat yang belum memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan tersebut. Penulis melihat bahwa, penerima bantuan program sangat antusias dalam memperbaiki rumah nya, bahkan penerima mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki rumah lebih baik.

Gambar 4.4 Keadaan Rumah 0%

Sumber: Laporan Tim Evaluasi Dinas Perumahan Rakyat dan permukiman Kota Tanjungbalai, 29 Juni 2019

Keadaan rumah 30%

Sumber: Laporan Tim Evaluasi Dinas Perumahan Rakyat dan permukiman Kota Tanjungbalai, 29 Juni 2019

Keadaan Rumah 100%

Sumber: Laporan Tim Evaluasi Dinas Perumahan Rakyat dan permukiman Kota Tanjungbalai, 29 Juni 2019

Berdasarkan gambar kondisi rumah penerima bantuan RTLH di Kelurahan Kapias Pulau Buaya kualitas rumah jauh lebih baik dan layak dihuni, sebelum memeberikan bantuan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman melakukan evaluasi terhadap rumah yang akan diberi bantuan, sehingga tujuan program terlaksana dengan baik. Berdasarkan laporan Tim Evaluasi Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman yang dipaparkan, terlihat dimana kondisi awal rumah penerima bantuan sangat layak untuk menerima bantuan. Tingkat swadaya masyarakat sekitar melancarkan proses pengembangan rumah menjadi lebih baik,

dikarenakan sebelum menerima bantuan pihak Dinas melakukan sosialisasi terhadap masyarakat mengenai tujuan dan sasaran program. Tim Evaluasi akan memantau proses berjalannya program agar pengembangan rumah berjalan dengan lancar.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi bahwa program RTLH di Kelurahan Kapias Pulau Buaya Kecamatan Teluk Nibung sudah cukup membantu dalam memimalisir permukiman kumuh untuk memenuhi kebutuhan pokok walaupun dengan biaya yang diberikan tidak akan cukup memenuhi dalam memperbaiki rumah menjadi lebih baik, akan tetapi tingginya tingkat swadaya masyarakat sangat membantu untuk memperbaiki rumah menjadi lebih layak.

4.4.4. Perataan

Untuk melihat apakah biaya dan manfaat dari program sudah didistribusikan dengan merata pada setiap kelompoknya. Perataan dalam kebijakan publik menurut Dunn (2003:434) yaitu kesamaan erat kaitannya dengan rasionalitas legal dan sosial dan usaha antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam masyarakat. Perataan dalam indikator ini harus dapat menjawab pertanyaan tentang “apakah biaya dan manfaat yang didistribusikan dengan merata kepada kelompok-kelompok yang berbeda?”

Dana Program Perbaikan RTLH yang disalurkan kepada kelompok sasaran adalah sesuai dengan manfaat dan tujuan yang diperlukan dalam pelaksanaan program. Selain itu manfaat dari Program Perbaikan RTLH juga

Dana Program Perbaikan RTLH yang disalurkan kepada kelompok sasaran adalah sesuai dengan manfaat dan tujuan yang diperlukan dalam pelaksanaan program. Selain itu manfaat dari Program Perbaikan RTLH juga

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : RAISA AFNI SIRAIT (Halaman 58-0)