• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh : RAISA AFNI SIRAIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh : RAISA AFNI SIRAIT"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM PERBAIKAN RUMAH TIDAK LAYAK HUNI DALAM MEMINIMALISIR PERMUKIMAN KUMUH

DI KELURAHAN KAPIAS PULAU BUAYA KECAMATAN TELUK NIBUNG KOTA TANJUNGBALAI

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S-1) Administrasi Publik Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Sumatera Utara

Oleh :

RAISA AFNI SIRAIT 150903157

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)

ABSTRAK

Tingginya tingkat kepadatan penduduk di kota Tanjungbalai menyebabkan penduduk tersebar di seluruh wilayah, bahkan sampai memadati wilayah pesisir.

Banyak diantara mereka yang masih bermukim di bibir pantai dan terkesan kumuh.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif bersifat deskriptif untuk menggambarkan fenomena yang sebenarnya.

Teknik pengumpulan informasi adalah wawancara, observasi dan dokumentasi yang terkait dengan permasalahan penelitian. Teknik analisis informasi dilakukan secara triangulasi kategorisasi yang digunakan berdasarkan teori William N Dunn yang meliputi efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas dan ketepatan.

Adapun hasil penelitian ini menggambarkan bahwa Evalusi Pelaksanaan Program Perbaikan Rumah tidak Layak Huni dalam Meminimalisir Permukiman Kumuh di Kota Tanjungbalai belum maksimal, masih adanya masyarakat yang berpendapatan rendah dan layak menerima bantuan, akan tetapi belum mendapatkan bantuan program dikarenakan anggaran yang tersedia tidak mencukupi serta belum lengkap tersedia data masyarakat berpendapatan rendah.

Kata Kunci: Evaluasi, Program Bedah Rumah, Low Income People

(3)

ABSTRACT

The high level of population density in the city of Tanjungbalai caused the population to be spread throughout the region, even to the point of overflowing with the Coastal region. Many of them still live on the beach and look shabby.

The research method used in this research is descriptive qualitative to evaluate the actual phenomenon. Information collected is interviews, observations and documentation related to research. Information analysis technique is done by categorizing triangulation that is used based on William N Dunn's theory which contains compatibility, efficiency, adequacy, leveling, responsiveness and accuracy.

Evaluation Program for Improvement of Inadequate Houses in Minimizing Slum Settlements in Tanjungbalai City has not been maximized, there are still people who support and need assistance, but have not yet received adequate assistance from available programsand incomplete data available for lowincome people.

Keywords: Evaluation, House Renovation Program, Low Income People

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar sarjana Administrasi Publik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak mulai dari masa perkuliahan sampai dengan penyususnan skripsi ini sangatlah sulit dalam melewati dan menyelesaikannya. Oleh kerena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr.Muriyanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Tunggul Sihombing, MA selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, sekaligus Dosen Pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan ilmunya dalam membantu mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini.

3. Ibu Dra. Asima Yanti Sylvania Siahaan, Ma, Ph. D selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

4. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah memberikan banyak ilmu selama masa perkuliahan sampai akhir penulisan skripsi ini.

(5)

5. Staf Tata Usaha Program Studi Ilmu Administasi Publik yang telah banyak membantu penulis dalam urusan administrasi (terkhusus buat Kak Dian dan Bang Hendri).

6. Bapak Yusmada, SH, selaku Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai yang membantu penulis dalam melakukan penelitian.

7. Ibu Ir. Harlianti Nasution selaku Kepala Bidang Perumahan Kota Tanjung Balai yang membantu penulis dalam melakukan penelitian.

8. Bapak Ikshan, ST, MT selaku Kepala Seksi Perencanaan Perumahan Kota Tanjung Balai yang membantu penulis dalam melakukan penelitian.

9. Sarifuddin Simangunsong selaku Kepala Seksi Penyediaan dan Pembiayaan Perumahan Kota Tanjungbalai yang membantu penulis dalam melakukan penelitian.

10. Indra Jaya selaku Kepala Seksi Pemantauan dan Evaluasi Perumahan Tanjungbalai yang membantu penulis dalam melakukan penelitian.

11. Seluruh pimpinan dan staf Kantor Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai.

12. Kantor Lurah Kapias Pulau Buaya dan masyarakat Kelurahan Kapias Pulau Buaya yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di Kelurahan Kapias Pulau Buaya dan juga telah membantu penulis dalam memperoleh data yang diperlukan.

13. Kedua orang tua penulis, Ayahanda M. Tahir Sirait dan Fauziah Panjaitan serta saudara penulis yaitu Andi Wahyu Sirait, Azrai Sirait dan Ustri Yuli

(6)

Sirait. Penulis mengucapkan terima kasih untuk kesabaran dan pengorbanan sehingga penulis mampu berada pada tahap ini. Kata-kata tidak dapat melukiskan kasih sayang penulis kepada kalian, pengorbanan dan jasa kalian yang tidak terhingga kepada penulis. Semoga skripsi ini menjadi langkah awal kesuksesan penulis agar dapat membahagiakan dan membanggakan kalian.

14. Kepada seluruh teman-teman Administrasi Publik 2015, dan teruntuk kelas B yang selalu menemani penulis dalam masa perkuliahan yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, terima kasih untuk semuanya. Sukses untuk kita semua.

15. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Akhirnya , penulis berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat buat pengembangan keilmuan.

Medan, September 2019 Penulis

Raisa Afni Sirait

(7)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 6

1.3. Tujuan Penelitian. ... 6

1.4. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA……… 8

2.1. Kebijakan Publik ... 8

2.1.1. Implementasi kebijakan Publik ... 9

2.1.2. Proses kebijakan Publik ... 10

2.2. Evaluasi ... 12

2.2.1. Tujuan Evaluasi ... 14

2.2.2. Kegiatan Evaluasi ... 14

2.2.3. Pendekatan Evaluasi ... 15

2.2.4. Metode Evaluasi ... 16

2.2.5. Kategori Evaluasi ... 17

2.3. Rumah Tidak Layak Huni ... 18

(8)

2.4. Penelitian Terdahulu ... 20

2.5. Hipotesis Kerja ... 22

BAB III METODE PENELITIAN……… 23

3.1. Bentuk Penelitian ... 23

3.2. Lokasi Penelitian ... 24

3.3. Informan Penelitian ... 24

3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 27

3.5. Teknik Analisis Data ... 29

3.6. Teknik Keabsahan Data ... 30

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……….... 32

4.1. Gambaran Umum Kota Tanjungbalai ... 32

4.1.1. Visi dan Misi Kota Tanjungbalai ... 36

4.1.2. Karakteristik Fisik, Sosial Budaya dan Ekonomi Perumahan Kota Tanjungbalai ... 37

4.1.3. Struktur Organisasi Kota Tanjungbalai ... 40

4.2. Gambaran Umum Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai ... 41

4.3. Program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni ... 44

4.3.1. Tujuan dan Sasaran Program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni ... 45

4.3.2. Manfaat Program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni ... 45

4.3.3. Mekanisme Program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni ... 46

4.3.4. Kriteria Keluarga Penerima Rumah Tidak Layak Huni ... 47

4.4. Evaluasi Program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni diKelurahan Kapias Pulau Buaya ... 48

(9)

4.4.1. Efektivitas ... 48

4.4.2. Efisiensi ... 53

4.4.3. Kecukupan ... 56

4.4.4. Pemerataan ... 62

4.4.5. Responsifitas ... 66

4.4.6. Ketepatan ... 69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 73

5.1. Kesimpulan ... 73

5.2. Saran ... 74

DAFTAR PUSTAKA….……… 75

LAMPIRAN ... 77

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Distribusi Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga dan

Kepadatan Penduduk di Kota Tanjungbalai Tahun 2018... 3

Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu ... 20

Tabel 3.1. Matriks Informan... 25

Tabel 4.1. Jumlah Kecamatan dan Kelurahan di Kota Tanjungbalai ... 33

Tabel 4.2. Luas Kecamatan di Kota Tanjungbalai ... 34

Tabel 4.3. Nama-nama yang pernah menjadi walikota Tanjungbalai ... 34

Tabel 4.4. Jumlah Agama di Kota Tanjungbalai ... 38

Tabel 4.5. Jumlah Penerima Bantuan Program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni di Kota Tanjungbalai ... 44

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1. Struktur Organisasi Kota Tanjungbalai ... 40 Gambar 4.2. Struktur Organisasi Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan

Permukiman Kota Tanjungbalai ... 43 Gambar 4.3. Tenaga Fasilitator Program Pengembangan Perumahan

Kegiatan Fasilitasi dan Stimulan Pembangunan Perumahan

Masyarakat Kurang Mampu Tahun 2018 ... 52 Gambar 4.4. Rumah Warga 0% - 100% setelah direnovasai ... 60 Gambar 4.5. Surat Pernyataan Penghasilan ... 65

(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Permukiman merupakan bagian dari lingkungan hidup baik berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal yang terdiri dari beberapa tempat hunian. Perumahan dan pemukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang menyangkut kelayakan dan taraf kesejahteraan hidup masyarakat.

Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia dalam meningkatkan harkat, martabat, mutu kehidupan dan penghidupan, serta sebagai pencerminan diri pribadi dalam upaya peningkatan taraf hidup, serta pembentukan watak, karakter dan kepribadian bangsa. Dengan demikian pengembangan perumahan dan pemukiman tidak dilandasi hanya untuk pembangunan fisik saja melainkan harus dikaitkan dengan dimensi sosial, ekonomi dan budaya yang mendukung kehidupan masyarakat secara berkelanjutan. Namun sayangnya hak dasar rakyat tersebut pada saat ini masih belum sepenuhnya terpenuhi. Salah satu penyebabnya adalah adanya kesenjangan pemenuhan kebutuhan perumahan (backlog) yang relatif masih besar. Hal tersebut terjadi antara lain karena masih kurangnya kemampuan daya beli masyarakat khususnya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam memenuhi kebutuhan akan rumahnya.

Menurut Renstra Kemenpera Tahun 2010-1014, pembangunan perumahan dan permukiman masih dihadapkan pada tiga permasalahan pokok yaitu:

a. Keterbatasan penyediaan rumah.

(13)

b. Peningkatan jumlah rumah tangga yang menempati rumah yang tidak layak huni dan tidak didukung oleh prasarana, sarana lingkungan dan utilitas umum yang memadai.

c. Permukiman kumuh yang semakin meluas.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pembangunan perumahan dan permukiman harus didukung oleh suatu kebijakan, strategi dan program yang komperhensif dan terpadu sehingga mampu memenuhi hak dasar masyarakat dan menghasilkan suatu lingkungan perumahan dan permukiman yang sehat, serasi, harmonis, aman dan nyaman.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh pemerintah daerah untuk mencapai tujuan. Sedangkan program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk mencapai sasaran dan tujuan serta untuk memperoleh alokasi anggaran atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

Kebijakan perumahan dan permukiman dalam Rencana Strategis Pembangunan Perumahan 2010-2014 adalah sebagai berikut:

a. Pengembangan regulasi dan kebijakan untuk menciptakan iklim yang kondusif, serta koordinasi pelaksanaan kebijakan di tingkat Pusat dan Daerah dalam rangka pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Perumahan dan Permukiman.

b. Peningkatan pemenuhan kebutuhan Rumah Layak Huni (RLH) yang didukung dengan prasarana, sarana dan utilitas (PSU) serta kepastian bermukim bagi masyarakat berpenghasilan menengah-bawah.

c. Pengembangan sistem pembiayaan perumahan dan permukiman bagi Masyrakat Berpenghasilan Menengah (MBM).

d. Peningkatan pendayagunaan sumberdaya pembangunan perumahan dan permukiman serta pengembangan dan pemanfaatan hasil-hasil

(14)

penelitian dan pengembangan teknologi maupun sumber daya dan kearifan lokal.

e. Peningkatan sinergi pusat-daerah dan pemberdayaan pemangku kepentingan lainnya dalam pembangunan perumahan dan permukiman.

Kebijakan nasional tersebut kemudian dijabarkan ke dalam srategi- strategi yang kemudian diimplementasikan ke seluruh Indonesia dalam rangka mengatasi permasalahn permukiman di Indonesia, begitu juga di Kota Tanjungbalai. Salah satu arah kebijakan Pemerintah Kota Tanjungbalai dalam pemenuhan hak atas perumahan dengan meningkatkan ketersediaan rumah yang layak dan sehat bagi masyarakat berpendapatan rendah, mendukung arah kebijakan nasional dalam mengurangi jumlah rumah tidak layak huni.

Tabel 1.1: Distribusi Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga dan Kepadatan Penduduk di Kota Tanjungbalai Tahun 2018

No Kecamatan Luas

Wilayah (km²)

Jumlah Penduduk

Jumlah Rumah Tangga

Kepadatan Penduduk

per km²

1 Datuk Bandar 22,49 33.797 6.973 1.502,76

2 Datuk Bandar Timur 14,57 26.942 5.882 1.849,14 3 Tanjung Balai

Selatan

1,98 19.330 5.428 9.762,63 4 Tanjungbalai Utara 0,84 15.862 4.007 18.883,33 5 Sei Tualang Raso 8,09 22.712 4.852 2.807,42

6 Teluk Nibung 12,55 35.802 7.996 2.852,75

Jumlah 60,52 154.445 35.138 2.552 Sumber: BPS Kota Tanjungbalai Tahun 2018

Tingginya tingkat kepadatan penduduk di kota Tanjungbalai menyebabkan penduduk tersebar di seluruh wilayah, bahkan sampai memadati wilayah pesisir.

Banyak di antara mereka yang masih bermukim di bibir pantai dan terkesan kumuh, sehingga tingkat keselamatan jiwa mereka pun terancam ketika gelombang pasang air laut tinggi, terlebih di musim hujan.

(15)

Tingkat kemiskinan di Kota Tanjungbalai semakin bertambah hingga tahun 2018 garis kemiskinan di kota Tanjungbalai berada pada level Rp.

345,900,00 dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 24,42 ribu orang dan persentase penduduk miskin sebanyak 14,49 persen. Melihat semakin bertambahnya jumlah masyarakat miskin di Kota Tanjungbalai maka pemerintah berupaya melakukan berbagai program yang bertujuan untuk membantu masyakarat seperti program pembangunan perumahan dan permukiman.

Pemerintah kota Tanjugbalai melakukan program pengembangan perumahan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (ABPD) dan Dana Alolasi Khusus (DAK) tahun 2018 dengan rincian Kecamatan Sei Tualang Raso 134 Orang, Kecamatan Teluk Nibung 48 orang, Kec. Tanjungbalai Utara 21 orang, Kec. Datuk Bandar Timur 105 orang, Kec. Datuk Bandar 86 orang. (Badan Pusat Statistik Kota Tanjungbalai Tahun 2018).

Dalam pelaksanaan pembangunan di bidang parumahan, perlu dilakukan pemantauan atau evaluasi untuk melihat bagaimana tingkat keberhasilan program dalam pembangunan bedah rumah. Evaluasi dapat memberikan informasi tidak hanya mengenai perkembangan inputs dan outputs pelaksanaan program, tetapi juga meliputi hasil, manfaat dan dampak serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan potensi program bedah rumah. Scriven menjelaskan evaluasi dapat dilaksanakan pada akhir pelaksanaan program untuk mengukur indikator-indikator, yaitu menentukan apakah tujuan umum dan tujuan khusus program telah tercapai, menentukan apakah terdapat manfaat dari program dan menentukan kesuksesan keseluruhan pelaksanaan program (Wirawan, 2012).

(16)

Evaluasi program adalah suatu unit atau kesatuan kegiatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang merealisasi atau mengimplementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang dalam pengambilan keputusan. Evaluasi program bertujuan untuk mengetahui pencapaian tujuan program yang telah dilaksanakan. Selanjutnya, hasil evaluasi program digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan tindak lanjut atau untuk melakukan pengambilan keputusan berikutnya. Evaluasi sama artinya dengan kegiatan supervisi. Kegiatan evaluasi/supervisi dimaksudkan untuk mengambil keputusan atau melakukan tindak lanjut dari program yang telah dilaksanakan. Manfaat dari evaluasi program dapat berupa penghentian program, merevisi program, melanjutkan program, dan menyebarluaskan program.

Dalam kegiatan evaluasi program, indikator merupakan petunjuk untuk mengetahui keberhasilan atau ketidakberhasilan suatu kegiatan. Seperti yang dijalaskan oleh Dunn (2013:429) untuk mengukur evaluasi dilihat dari efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas dan ketepatan program.

Pembangunan yang dilakukan harus dilakukan secara merata dan tepat sasaran.

Koordiasi antar pelaksana yang baik, ketersediaan sumber daya manusia, sumber daya uang, dan sumber daya lainnnya akan mendukung program pembangunan terealisasi dengan cukup dan target pembangunan tercapai sesuai tujuan, sehingga masyarakat merasakan perubahan dengan adanya bantuan program.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik mengangkat judul penelitian, “Evaluasi Pelaksanaan Program Perbaikan Rumah Tidak Layak

(17)

Huni Dalam Meminimalisir Permukiman Kumuh di Kelurahan Kapias Pulau Buaya”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah ”bagaimana evaluasi program perbaikan rumah tidak layak huni dalam meminimalisir permukiman kumuh di Kelurahan Kapias Pulau Buaya?”

1.3. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian harus mempunyai tujuan yang jelas agar dapat mengenai sasaran yang dikehendaki dan dapat pula memberikan arah dalam pelaksanaan penelitian tersebut. Adapun tujuan yang ingin dicapai oleh penulis melalui penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui manfaat yang diterima oleh masyarakat dengan adanya program perbaikan rumah tidak layak huni dalam meminimalisir permukiman kumuh di Kelurahan Kapias Pulau Buaya.

2. Untuk menggambarkan evaluasi program perbaikan rumah tidak layak huni dalam meminimalisir permukiman kumuh di Kelurahan Kapias Pulau Buaya.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Secara teoritis, sebagai sarana untuk melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir dalam menulis karya ilmiah tentang kegiatan pengembangan rumah dalam meminimalisir permukiman kumuh di Kelurahan Kapias Pulau Buaya.

(18)

2. Secara praktis, sebagai masukan bagi pihak yang terkait khususnya Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dalam menangani masalah kegiatan pengembangan rumah dalam meminimalisir permukiman kumuh di Kelurahan Kapias Pulau Buaya.

3. Secara akademis, sebagai bahan masukan bagi pelengkap maupun referensi maupun bahan perbandingan bagi mahasiswa yang ingin mengadakan penelitian di bidang yang sama.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebijakan Publik

Kebijakan publik merupakan kumpulan keputusan yang ditetapkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah yang bertujuan untuk melindungi serta membatasi perilaku atau tindakan masyarakat. Para pembuat kebijakan perlu mencari tahu dan meninjau terlebih dahulu terkait isu-isu masalah yang terjadi di masyarakat.

Menurut Tangkilisan (2013:12) menjelaskan bahwa kebijakan sebagai suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu sambil mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan/mewujudkan sasaran yang diinginkan.

Menurut Nugroho (2010: 51):

Kebijakan publik adalah jalan mencapai tujuan yang bersama yang dicita- citakan, jadi jika cita-cita bangsa Indonesia adalah mencapai masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila (Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi dan Keadilan) dan UUD (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang berdasarkan hukum dan tidak semata- mata kekuasaan) maka kebijakan publik adalah seluruh prasarana dan sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Berdasarkan penjelasan kebijakan publik di atas dapat dinyatakan bahwa kebijakan publik adalah serangkaian tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah yang berorientasi pada tujuan tertentu guna memecahkan masalah-masalah publik atau demi kepentingan publik. Kebijakan yang ditetapkan bertujuan untuk melindungi serta membatasi perilaku atau tindakan masyarakat sesuai dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat, karena para pembuat kebijakan perlu mencari tahu dan meninjau terlebih dahulu terkait isu-isu masalah apa yang terjadi di masyarakat.

(20)

Tangkilisan (2013:5) menyebutkan bahwa secara umum kebijakan dikelompokan menjadi tiga yaitu:

1. Proses pembuatan kebijakan merupakan kegiatan perumusan hingga dibuatnya suatu kebijakan.

2. Proses implementasi merupakan pelaksanaan kebijakan yang sudah dirumuskan.

3. Proses evaluasi kebijakan merupakan proses mengkaji kembali implementasi yang sudah dilaksanakan atau dengan kata lain mencari jawaban apa yang terjadi akibat implementasi kebijakan tertentu dan membahas antara cara yang digunakan dengan hasil yang dicapai.

Dengan adanya pengelompokan tersebut, maka akan memudahkan untuk membuat suatu kebijakan dan meneliti kekurangan apa yang terjadi. Adapun menurut Tangkilisan (2013:2) terdapat tingkatan pengaruh dalam pelaksanaan kebijakan yaitu:

1. Adanya pilihan kebijakan atau keputusan dari tindakan pemerintah yang bertujuan untuk mempengaruhi kehidupan rakyat.

2. Adanya output kebijakan di mana kebijakan yang diterapkan untuk melakukan pengaturan/penganggaran, pembentukan personil dan membuat regulasi dalam bentuk program yang akan mempengaruhi kehidupan rakyat.

3. Adanya dampak kebijakan yang merupakan efek pilihan kebijakan yang mempengaruhi masyarakat.

Berdasarkan tingkat pengaruh dalam pelaksanaan kebijakan di atas, pada dasarnya kebijakan bertujuan untuk mempengaruhi kehidupan rakyat. Dengan demikian dalam membuat sebuah kebijakan pemerintah harus dapat melakukan suatu tindakan yang merupakan suatu bentuk dari pengalokasian nilai-nilai masyarakat itu sendiri.

2.1.1. Implementasi Kebijakan Publik

Implementasi kebijakan merupakan tahapan yang sangat penting dalam keseluruhan struktur kebijakan. Tahap ini menentukan apakah kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah benar-benar aplikabel di lapangan dan berhasil

(21)

menghasilkan tujuan dan manfaat seperti yang telah direncanakan. Untuk dapat mewujudkan output dan outcomes yang ditetapkan, maka kebijakan publik perlu untuk diimplementasikan. Implementasi kebijakan merupakan tahap yang krusial dalam proses kebijakan publik. Suatu kebijakan atau program harus diimplementasikan agar mempunyai dampak atau tujuan yang diinginkan.

Implementasi kebijakan dipandang dalam pengertian luas yaitu merupakan alat administrasi publik di mana aktor, organisasi, prosedur, teknik serta sumber daya diorganisasikan secara bersama-sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak atau tujuan yang diinginkan.

Winarno (2014:146-147) menjelaskan bahwa:

Implementasi kebijakan publik sebagai tindakan-tindakan dalam keputusan-keputusan sebelumnya. Tindakan-tindakan ini mencakup usaha- usaha untuk mengubah keputusan-keputusan menjadi tindakan-tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka melanjutkan usaha-usaha untuk mencapai perubahan besar dan kecil yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijakan yang dilakukan oleh organisasi publik yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan pengertian di atas, implementasi kebijakan publik merupakan proses pelaksanaan suatu kebijakan dengan tujuan tertentu dan dilaksanakan oleh orang yang bertanggung jawab dalam suatu program atau kebijakan. Oleh karena itu, implementasi adalah suatu kegiatan yang penting untuk dilakukan agar program atau kebijakan yang ditetapkan dapat tercapai, khususnya kebijakan publik yang menyangkut kehidupan orang banyak.

2.1.2. Proses Kebijakan Publik

Menurut Dunn (2013: 24), menyebutkan tahapan kebijakan publik sebagai berikut:

(22)

1. Penyusunan Agenda (Agenda Setting).

Tahap ini adalah tahap awal dari kebijakan publik, pada tahap inilah yang menentukan suatu isu publik yang diangkat dalam suatu agenda pemerintah. Dalam proses ini memiliki ruang untuk memaknai sesuatu yang disebut sebagai masalah publik. Jika sebuah isu berhasil mendapatkan status sebagai masalah publik dan mendapatkan prioritas dalam agenda publik, maka isu tersebut berhak mendapatkan alokasi sumber daya publik yang lebih dari pada isu yang lain.

2. Formulasi Kebijakan (Policy Formulation).

Masalah-masalah yang masuk kedalam agenda setting kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tersebut didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah yang terbaik.

Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilihan kebijakan yang ada. Dalam tahap formulasi kebijakan masing- masing alternatif bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah.

3. Adopsi/ Legitimasi Kebijakan (Policy Adoption).

Tujuan legitimasi adalah untuk memberikan otorisasi pada proses dasar pemerintahan. Jika tindakan legitimasi dalam suatu masyarakat diatur oleh kedaulatan rakyat, warga negara akan mengikuti arahan pemerintah. Legitimasi dapat dikelola melalui manipulasi simbol- simbol tertentu, melalui proses ini orang-orang belajar untuk mendukung pemerintah.

4. Implementasi Kebijakan (Policy Implementation).

Suatu program kebijakan hanya akan menjadi catatan elit jika program tersebut tidak diimplementasikan. Maka program kebijakan yang telah diambil sebagai alternatif pemecahan masalah harus diimplementasikan, yaitu dilaksanakan oleh unit-unit administrasi yang memobilisasi sumber daya finansial dan manusia. Pada tahap ini berbagai kepentingan akan saling bersaing, beberapa implementasi mendapat dukungan para pelaksana, namun beberapa yang lain mungkin akan ditantang oleh para pelaksana.

5. Evaluasi Kebijakan (Policy Evaluation).

Secara umum evaluasi kebijakan dapat dikatakan sebagai kegiatan yang menyangkut estimasi atau penilaian kebijakan yang mencakup substansi, implementasi dan dampak. Pada tahap ini kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau dievaluasi untuk melihat sejauh mana kebijakan yang dibuat untuk meraih dampak yang dihadapi oleh masyarakat. Oleh karena itu, ditentukan ukuran-ukuran arau kriteria- kriteria yang menjadi dasar untuk menilai apakah kebijakan publik telah meraih dampak yang diinginkan.

Berdasarkan pendapat di atas, maka proses pembuatan kebijakan publik merupakan proses yang kompleks karena melibatkan banyak proses maupun

(23)

variabel yang harus dikaji. Tujuan pembagian tahapan kebijakan publik adalah untuk memudahkan dalam mengkaji kebijakan publik.

2.2. Evaluasi

Pengertian evaluasi dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti penilaian;

hasil. Evaluasi bertujuan untuk menilai sejauh mana keefektivan kebijakan publik dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.

Menurut Subarsono (2010:119) evaluasi berarti menilai tingkat kinerja suatu kebijakan. Menurut Dunn (2013:601) menyatakan bahwa evaluasi memberi sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari pemilihan tujuan dan target. Pada dasarnya nilai juga dapat dikritik dengan menanyakan secara sistematis kepantasan tujuan dan target dalam hubungan dengan masalah yang dituju.

Pengertian tersebut menjelaskan bahwa kegiatan evaluasi untuk mengetahui apakah pelaksanaan suatu program sudah sesuai dengan tujuan utama, yang selanjutnya kegiatan evaluasi tersebut dapat menjadi tolak ukur apakah suatu kebijakan atau kegiatan dapat dikatakan layak diteruskan, perlu diperbaiki atau dihentikan kegiatannya. Evaluasi program dilakukan oleh para ahli professional pakar dengan kegiatan mengumpulkan, menganalisis dan memproses suatu informasi secara berkualitas untuk melihat keberhasilan terhadap suatu program dan kendala-kendala yang dihadapi sehingga organisasi dapat mengambil sebuah keputusan tentang tindak lanjut dari program tersebut.

Tayibnapis (2010:141) mendefinisikan bahwa evaluasi sebagai suatu proses pengukuran dan perbandingan dari pada hasil-hasil pekerjaan yang

(24)

nyatanya dicapai dengan yang seharusnya dicapai. Pada sisi lain menurut Aji (2010:30) evaluasi merupakan serangkaian usaha-usaha yang dilakukan untuk mengukur dan memberikan penilaian secara objektif terhadap pencapaian- pencapaian terhadap hasil-hasil yang telah direncanakan sebelumnya, di mana hasil-hasil evaluasi tersebut dimaksudkan untuk menjadi umpan balik perencanaan kembali.

Menurut Sugiyono (2012:10) terdapat dua jenis penelitian evaluasi yaitu:

1. Evaluasi formatif, digunakan untuk mendapatkan feedback dari suatu aktivitas dalam bentuk proses, sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas atau produk yang berupa barang atau jasa.

2. Evaluasi sumatif, menekankan pada evektivitas pencapaian program yang berupa produk tertentu.

Evaluasi biasanya ditujukan untuk menilai sejauh mana keefektivan kebijakan publik guna dipertanggungjawabkan kepada konstituennya. Sejauh mana tujuan dicapai serta untuk melihat sejauhmana kesenjangan antara harapan dengan kenyataan.

Menurut Winarno (2014:166) evaluasi kebijakan dapat dibedakan ke dalam dua tugas yang berbeda, tugas pertama adalah untuk menentukan konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh suatu kebijakan dengan cara menggambarkan dampaknya. Tugas kedua adalah untuk menilai keberhasilan atau kegagalan dari suatu kebijakan berdasarkan standar atau kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Evaluasi kebijakan merupakan persoalan fakta yang berupa pengukuran serta penilaian baik terhadap tahap implementasi kebijakannya maupun terhadap hasil (outcome) atau dampak (impact) dari bekerjanya suatu kebijakan atau program tertentu, sehingga menentukan langkah yang dapat diambil dimasa yang akan datang.

(25)

2.2.1. Tujuan Evaluasi

Pentingnya evaluasi menurut Subarsono (2010:48) yakni:

1. Untuk mengetahui tingkat efektivitas suatu kebijakan, yakni seberapa jauh suatu kebijakan mencapai tujuannya.

2. Mengetahui apakah suatu kebijakan berhasil atau gagal. Dengan melihat tingkat efektivitasnya, maka dapat disimpulkan apakah suatu kebijakan berhasil atau gagal.

3. Memenuhi aspek akuntabilitas publik. Dengan melakukan penilaian kinerja suatu kebijakan, maka dapat dipahami sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah kepada publik sebagai pemilik dana dan mengambil manfaat dari kebijakan dan program pemerintah.

4. Menunjukkan pada stakeholders manfaat suatu kebijakan. Apabila tidak dilakukan evaluasi terhadap sebuah kebijakan, para stakeholders, terutama kelompok sasaran tidak mengetahi secara pasti manfaat dari sebuah kebijakan atau program.

5. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pada akhirnya, evaluasi kebijakan bermanfaat untuk memberikan masukan bagi proses pengambilan kebijakan yang akan datang agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebaliknya, dari hasil evaluasi diharapkan dapat ditetapkan kebijakan yang lebih baik.

Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan evaluasi adalah sebagai bahan pertimbangan untuk memberikan masukan-masukan yang berguna ketika akan membentuk suatu kebijakan baru.

2.2.2. Kegiatan Evaluasi

Adapun kegiatan evaluasi yang harus diperhatikan oleh pihak-pihak terkait proses evaluasi menurut Aji (2010:159) adalah sebagai berikut :

1. Semua tugas dan tanggung jawab pemberi tugas dan pemberi tugas harus jelas.

2. Pengertian dan kondisi yang tersirat dalam evaluasi yaitu mencari kesalahan harus dihindari.

3. Kegiatan evaluasi dimaksudkan disini adalah membandingkan rencana dengan pelaksanaan dengan melakukan pengukuran kuantitatif atau kualitatif totalitas program secara teknis.

4. Tim yang melakukan evaluasi adalah pemberi saran atau nasihat kepada manajemen, sedangkan pendayagunaan saran atau nasehat tersebut serta pembuat keputusan atas dasar nasehat atau saran tersebut berada di tangan manajemen program.

(26)

5. Dalam proses pengambilan keputusan yang telah didasarkan atas data- data atau penemuan teknis perlu dikonsultasikan sebaik mungkin karena menyangkut kelanjutan program.

6. Hendaknya hubungan dan proses selalu didasari oleh suasana konstruktif dan obyektif serta menghindari analisis-analisis subyektif.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang melakukan evaluasi harus benar-benar tim yang telah ditetapkan dan mengerti tentang evaluasi yang bertujuan untuk memberikan saran atau nasihat kepada manajemen.

Dalam proses pengambilan keputusan, harus didasarkan dengan data-data atau penemuan teknis dikonsultasikan dengan baik karena hal tersebut dapat mempengaruhi keberlanjutan program.

2.2.3. Pendekatan Evaluasi

Ada tiga jenis pendekatan terhadap evaluasi sebagaimana dijelaskan oleh Dunn (2013:12) yakni:

1. Evaluasi semu (pseudo evaluation) adalah pendekatan evaluasi yang menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan, tanpa menanyakan manfaat atau nilai dari hasil kebijakan tersebut pada individu, kelompok atau masyarakat. Asumsi yang digunakan adalah bahwa ukuran tentang manfaat atau nilai merupakan sesuatu yang terbukti dengan sendirinya (self evident) atau tidak controversial.

2. Evaluasi formal adalah (formal evaluation) pendekatan evaluasi yang menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan berdasarkan sasaran program kebijakan yang telah ditetapkan secara formal oleh pembuat kebijakan. Asumsi yang digunakan adalah bahwa sasaran dan target yang ditetapkan secara formal merupakan ukuran yang tepat untuk melihat manfaat atau nilai dari program dan kebijakan.

3. Evaluasi proses keputusan teoritis (decision theoretic evaluation) adalah pendekatan evaluasi yang menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang dapat dipercaya dan valid, mengenai hasil- hasil kebijakan yang secara eksplisit diinginkan oleh berbagai stakeholders. Dalam hal ini, evaluasi keputusan teoritik berusaha untuk menentukan sasaran dan tujuan yang tersembunyi dan dinyatakan oleh para stakeholders.

(27)

Berdasarkan tipe-tipe evaluasi di atas, maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa dalam evaluasi kebijakan kegiatan pengembangan rumah dalam meminimalisir permukiman kumuh, penulis akan mengevaluasi dengan melihat atau mengamati secara objektif proses implementasi kegiatan pengembangan rumah dalam meminimalisir permukiman kumuh serta mengevaluasi akibat dari implementasi kebijakan tersebut dengan melihat faktor- faktor penyebab kegagalan atau keberhasilan kebijakan.

2.2.4. Metode Evaluasi

Untuk melakukan evaluasi terhadap program yang telah diimplementasikan ada beberapa metode evaluasi. Menurut Wibawa (2014:140) ada empat metode evaluasi yang telah diimplementasikan yaitu:

1. Single program after only evaluasi dilakukan hanya mengidentifikasi kondisi kelompok sasaran pada saat kebijakan selesai dilakukan.

2. Single program after-before yaitu evaluasi dilakukan dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah dari kelompok sasaran tanpa menggunakan kelompok pembanding.

3. Comparative after-only evaluasi kebijakan dilakukan dengan mengidentifikasi kondisi kelompok sasaran setelah diimplementasikan dengan kelompok pembanding.

4. Comparative before-after evaluasi kebijakan dilakukan dengan mengidentifikasi kelompok sasaran dan kelompok pembanding sebelum dan sesudah implementasi.

Dari empat macam evalusi ini peneliti menggunakan evaluasi Comparative before-after. Evaluasi Comparative before-after digunakan untuk

mengukur bagaimana sebuah kebijakan atau program telah memberikan dampak terhadap masalah yang terjadi setelah dan sebelum kebijakan atau program dilaksanakan. Evaluasi Comparative before-after, yakni dilakukan dengan membandingkan kebijakan program sebelum dan sesudah kebijakan program dilaksanakan dengan menggunakan data periode tertentu dalam kebijakan

(28)

program untuk mengukur/melihat dampak yang ditimbulkan dari pelaksanaan kebijakan atau program tertentu.

2.2.5. Kategori Evaluasi

Untuk mengetahui keberhasilan suatu kebijakan perlu dikembangkan beberapa indikator, indikator yang dikembangkan oleh Dunn (2013:429) mencakup indikator sebagai berikut :

1. Efektivitas (effectiveness)

Berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil atau akibat yang diharapkan atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan. Efektivitas, yang secara dekat berhubungan dengan rasionalitas teknis, selalu diukur dari unit produk atau layanan atau nilai moneternya.

2. Efisiensi (efficiency).

Berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat efektivitas tertentu. Efisiensi yang merupakan sinonim dari rasionalitas ekonomi merupakan hubungan antara efektivitas dan usaha, yang terakhir umumnya diukur dari ongkos moneter.

3. Kecukupan (adequacy).

Berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektivitas memuaskan kebutuhan, nilai atau kesempatan, yang menumbuhkan adanya masalah.

Kriteria kecukupan menekankan pada kuatnya hubungan antara alternatif kebijakan dan hasil yang diharapkan.

4. Perataan (equity).

Perataan erat hubungan dengan rasionalitas legal dan sosial dan menunjuk pada distribusi akibat dan usaha antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam masyarakat.

5. Responsivitas (responsiveness).

Berkenaan dengan seberapa jauh suatu kebijakan dapat memuaskan kebutuhan, prefensi atau nilai kelompok-kelompok masyarakat tertentu.

Kriteria responsivitas merupakan salah satu hal yang penting karena analisis yang dapat memuaskan semua kriteria lainnya seperti efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan masih gagal jika belum menanggapi kebutuhan aktual dari kelompok yang semestinya diuntungkan dari adanya suatu kebijakan.

6. Ketepatan

Kriteria ketepatan secara dekat berhubungan dengan rasionalitas substansi, karena pertanyaan tentang ketepatan kebijakan berkenaan dengan suatu kriteria individu tetapi dua atau lebih kriteria secara bersama-sama.

Berdasarkan pendapat di atas, maka evaluasi kebijakan publik dalam tahapan pelaksanaannya menggunakan pengembangan beberapa indikator untuk

(29)

menghindari timbulnya bias serta sebagai pedoman ataupun arahan bagi evaluator.

Kriteria-kriteria yang ditetapkan menjadi tolak ukur dalam menentukan berhasil atau tidaknya suatu kebijakan publik. Evaluasi memberi informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai kinerja kebijakan, yaitu seberapa jauh kebutuhan, nilai dan kesempatan telah dapat dicapai melalui tindakan publik. Kriteria-kriteria di atas merupakan tolak ukur atau indikator dari evaluasi kebijakan publik.

2.3 Rumah Tidak Layah Huni (RTLH)

Perumahan merupakan kumpulan rumah bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun pedesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan yang layak huni. Rumah merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya.

Rumah menurut Irawan (2008:2) adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal/hunian dan sarana pembinaan keluarga. Rumah tidak hanya dilihat sebagai sarana kebutuhan hidup, tetapi lebih dari itu rumah juga merupakan tempat bermukimnya manusia dalam menciptakan tatanan hidup untuk bermasyarakat.

Kasjono (2010:63) mengatakan bahwa kelayakan suatu hunian menurut Universal Declaration of Human Rights adalah sebagai berikut:

1. Pelayanan dasar dan infrastruktur: Sebuah tempat tinggal harus memiliki fasilitas yang memberikan kesehatan, keamanan, kenyamanan dan dukungan seperti air minum, bahan bakar untuk memasak, memanaskan, penerangan, fasilitas sanitasi, tempat pembuangan sampah, tempat penyimpanan dan pelayanan untuk kondisi darurat.

(30)

2. Keterjangkauan: Biaya yang dibutuhkan untuk tempat tinggal yang layak harus terjangkau agar tidak mengurangi kemampuan sebuah rumah tangga untuk memenuhi kebutuhannya.

3. Dapat ditinggali: sebuah tempat tinggal harus mampu melindungi penghuninya dari udara dingin, panas, hujan atau ancaman terhadap kesehatan lainnya, serta ruang yang berkecukupan bagi penghuninya.

4. Aksesibilitas: Setiap orang berhak untuk memiliki perumahan yang layak dan kelompok marjinal juga harus memiliki akses terhadap tempat tinggal, yang memprioritaskan hak mereka dalam pengalokasian lahan ataupun perencanaan guna lahan.

5. Lokasi: sebuah rumah tinggal harus terdapat di lokasi yang memiliki akses terhadap berbagai pilihan tempat kerja, pelayanan kesehatan, pendidikan, tempat penitipan anak dan fasilitas sosial lainnya. Hal ini berlaku di kota dan desa. Sebuah tempat tinggal seharusnya tidak dibangun dekat daerah yang terpolusi ataupun sumber polusi.

6. Mencerminkan budaya: dalam membangun area perumahan, harus dipastikan bahwa nilai-nilai budaya yang dimiliki penghuninya tercermin di dalamnya, namun tetap menggunakan fasilitas-fasilitas modern.

Rumah juga merupakan tempat berlangsungnya proses sosialisasi pada saat seorang individu diperkenalkan kepada norma dan adat kebiasaan yang berlaku di dalam suatu masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, maka pemerintah mengeluarkan salah satu kebijakan atau program yaitu program bantuan rumah layak huni untuk masyarakat berpendapatan rendah yang merupakan bentuk perlindungan sosial dan juga merupakan sarana penting dalam meminimalisir permukiman kumuh dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Rumah yang tidak layak huni adalah suatu hunian atau tempat tinggal yang tidak memenuhi persyaratan untuk hunian baik secara teknis maupun non teknis. Menurut Kuswartojo (2015:18) bahwa permukiman kumuh yaitu permukiman yang padat, kualitas konstruksi rendah, prasarana dan pelayanan minim adalah akibat kemiskinan.

Menurut Kuswartojo (2015:25), secara umum lingkungan permukiman yang dikategorikan sebagai permukiman kumuh, adalah lingkungan perumahan yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

(31)

1. Kondisi fisik lingkungannya tidak memenuhi persyaratan teknis dan kesehatan.

2. Kondisi bangunan yang sangat buruk serta bahan bangunan yang digunakan adalah bahan bangunan semi permanen.

3. Kepadatan bangunan dengan koefisien dasar bangunan (KDB) lebih besar dari yang diizinkan, dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi yang lebih dari 500 jiwa/ha.

4. Fungsi-fungsi rumah yang bercampur tidak jelas.

Berdasarkan uraian di atas, maka persyaratan kesehatan perumahan yang meliputi persyaratan lingkungan perumahan dan pemukiman serta persyaratan rumah itu sendiri, sangat diperlukan karena pembangunan perumahan berpengaruh sangat besar terhadap peningkatan derajat kesehatan individu, keluarga dan masyarakat.

2.4. Penelitian Terdahulu Tabel 2.1: Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Hasil Penelitian

1 Zaini Musthopa (2011)

Evaluasi Pelaksaan Program Relokasi Permukiman Kumuh

Relokasi yang dilakukan di Kelurahan Pucangsawit sudah sangat berhasil dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.

Relokasi juga berhasi dalam memberikan perubahan fisik permukiman yang lebih baik, Pada aspek ekonomi relokasi menimbulkan dampak yang buruk terhadap kondisi ekonomi masyarakat dan tidak berhasil dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Pada aspek sosial relokasi dinilai berhasil dalam mempertahankan

kondisi sosial dan cenderung mengalami peningkatan. Masyarakat juga telah menilai sangat puas terhadap program relokasi Relokasi yang dilakukan di Kelurahan Pucangsawit sudah sangat berhasil dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Relokasi juga berhasil dalam memberikan perubahan fisik permukiman yang lebih baik. Pada aspek ekenomi relokasi menimbulkan dampak yang buruk terhadap kondisi ekenomi masyrakat dan

(32)

tidak berhasil dalam meningkatkan ekenomi masyrakat. Pada aspek spsial relokasi dinilai berhasil dalam mempertahankan kondisi sosial dan cenderung mengalami peningkatan.

Masyrarakat juga telah menilai sangat puas terhadap program relokasi.

2 Alex Candro Sidabutar (2008)

Strategi Pembangunan Perumahan dan

Permukiman dalam

Meminimalisir Permukiman kumuh di Kota Medan

Berdasarkan hasil penelitian strategi pembangunan perumahan dan permukiman di Kota Medan sudah berjalan, namun belum semua programnya terlaksana secara optimal dan sebagaimana mestinya. Dengan menggunakan analisis SWOT, maka dapat disimpulkan bahwa strategi pembangunan perumahan dan permukiman yang sudah terencana dalam Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman di Daerah (RP4D) masih mengalami hambatan. Hal ini dikarenkan pengalokasian dana yang masih kurang diperhatikan dan koordinasi dan kerja sama yang kurang dioptimalkan. ujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pembangunan perumahan dan permukiman dalam meminimalisis permukiman kumuh di Kota Medan serta mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan dari segi internal serta peluang dan ancaman dari aspek eksternal dalam mengimplementasikan strategi pembengunan perumahan dan permukiman di Kota Medan.

Sumber: Data peneliti diolah dari berbagai sumber, tahun 2011 dan 2008

Berdasarkan tebel di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan lokasi penelitian antara penelitian terdahulu dan penelitian yang saya lakukan.

Hipotesis penelitian terdahulu dengan penelitian yang saya lakukan memiliki persamaan menggunakan 6 indikator evaluasi yang menjadi acuan utama dalam pelaksanaan penelitian untuk mencapai tujuan penelitian yang diinginkan. Peneliti terdahulu yang lain mengukur strategi pembangunan perumahan untuk meminimalisir permukiman kumuh dilihat dari pemerataan pendapatan, kualitas

(33)

kehidupan masyarakat, pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial bermasyarakat.

2.5. Hipotesis Kerja

Hipotesis kerja dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah dalam penulisan. Menurut Suryabrata (2010:49) pengertian hipotesis kerja dapat ditinjau dari beberapa hal, yaitu:

1. Secara teknis, hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penulisan.

2. Secara statistik, hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan parameter yang akan diuji melalui statistik sampel.

3. Ditinjau dalam hubungannya dengan variabel, hipotesis merupakan pernyataan tentang keterkaitan antara variabel-variabel.

4. Ditinjau dalam hubungannya dengan teori ilmiah, hipotesis merupakan deduksi dari teori ilmiah (pada penulisan kuantitatif) dan kesimpulan sementara sebagai hasil dari observasi untuk menghasilkan teori baru.

Penulis merumuskan hipotesis kerja dalam penulisan ini yaitu, Evaluasi kegiatan pembangunan bedah rumah dalam meminimalisir permukiman kumuh di Kelurahan Kapias Pulau Buaya Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai meliputi efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas dan ketepatan program.

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Bentuk Penelitian

Bentuk penulisan yang digunakan penulis dalam penulisan ini ialah metode penulisan deskriptif dengan analisis data kualitatif. Hal tersebut untuk memusatkan perhatian pada masalah-masalah atau fenomena-fenomena yang ada serta mampu menggambarkan secara baik mengenai fakta yang terdapat di lapangan yang ada sehingga penulis memberikan informasi apa adanya.

Metode penulisan kualitatif seperti yang dijelaskan oleh Sugiyono (2012:1) adalah metode yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, di mana penulis adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data bersifat induktif, dan hasil penulisan kualitatif lebih menekankan makna pada generalisasi obyek penelelitian kualitatif adalah obyek yang alamiah atau natural setting.

Penulisan deskriptif ialah penulisan yang memusatkan perhatian terhadap masalah-masalah yang ada pada saat penulisan dilakukan, kemudian menggambarkan fakta-fakta dan menjelaskan keadaan dari objek penulisan yang sesuai dengan kenyataan sebagaimana adanya dan mencoba menganalisis untuk memberikan kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh (Danim, 2012:41).

Dengan demikian, penulis sudah mengumpulkan informasi tentang permasalahan yang diteliti lalu diuraikan, digambarkan, diinterpretasikan secara rasional dan diambil kesimpulan dari penulisan tersebut. Lebih jelasnya, penulis akan memaparkan informasi melalui penulisan terkait dengan efektivitas, kecukupan, perataan, responsivitas dan ketetepatan dari kegiatan pembangunan perumahan dan permukiman dalam meminimalisir permukiman kumuh tersebut.

(35)

3.2 Lokasi Penelitian

Untuk memperoleh data sebagai bahan untuk menjawab permasalahan yang telah dikemukakan, penelitian ini dilakukan di Kelurahan Kapias Pulau Buaya. Kecamatan Teluk Nibung merupakan Kecamatan yang paling banyak penduduknya di antara Kecamatan lainnya, yaitu sekitar 35.802 jiwa dan termasuk peringkat kedua dengan kepadatan penduduk sekitar 2.852 (Badan pusat Statistik Tanjungbalai Tahun 2018). Penulis memilih lokasi ini karena kelurahan Kapias Pulau Buaya termasuk salah satu Kelurahan di Kecamatan Teluk Nibung. Penulis terdorong dan memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian di lokasi tersebut.

3.3 Informan Penelitian

Untuk mendapatkan data-data dan informasi yang dibutuhkan dalam suatu penulisan, dapat diperoleh melalui informan penelitian. Seperti yang dijelaskan dalam (Suyanto, 2015:108) bahwa dalam penulisan kualitatif subyek penulisan yang telah tercermin dalam fokus penulisan ditentukan secara sengaja. Subyek penulisan tersebutlah yang akan menjadi informan yang dapat memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penulisan.

Informan penulisan merupakan evaluator dari kebijakan yang dapat memahami informasi yang berkaitan dengan objek penulisan. Untuk memperoleh informasi yang jelas mengenai masalah yang sedang dibahas, maka dalam penulisan ini menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan informan penulisannya. Kemudian dapat diperoleh informasi yang jelas dan dapat dipercaya berupa pernyataan-pernyataan, keterangan ataupun data-data yang dapat membantu dalam mengatasi permasalahan tersebut.

(36)

Berdasarkan uraian tersebut, maka yang menjadi informan dalam penulisan ini terdiri atas:

1. Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai.

2. Kepala Bidang Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai.

3. Kepala Seksi Perencanaan Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai.

4. Kepala Seksi Penyediaan dan Pembiayaan Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai.

5. Kepala Seksi Pemantauan dan Evaluasi Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Tanjungbalai.

6. Kepala Lurah Kapias Pulau Buaya.

7. Keluarga penerima bedah rumah.

Tabel 3.1: Matriks Informan

No Informan Informasi yang Dibutuhkan Jumlah

1 Kepala Dinas

Perumahan Rakyat

dan Kawasan

Permukiman Kota Tanjungbalai

1. Keefektifan dan efisiensi program pengembangan rumah di Kota Tanjungbalai.

2. Kecukupan program pembangunan bedah rumah dalam membantu memecahkan masalah rumah tidak layak huni.

3. Pemerataan dalam pengembangan rumah.

4. Responsivitas terhadap program pengembangan rumah.

5. Ketepatan tujuan dan sasaran pengembangan rumah.

1

2 Kepala Bidang Perumahan Rakyat

dan Kawasan

Permukiman Kota Tanjungbalai

1. Keefektifan dan efisiensi program pengembangan rumah di Kota Tanjungbalai khususnya di Kelurahan Kapias Pulau Buaya.

2. Kecukupan program

(37)

pengembangan rumah dalam membantu memecahkan masalah rumah tidak layak huni.

3. Pemerataan dalam pengembangan rumah.

4. Responsivitas terhadap program pengembangan rumah.

5. Ketepatan tujuan dan sasaran pengembangan rumah.

1

3 Kepala Seksi

Perencanaan

Perumahan Rakyat

dan Kawasan

Permukiman Kota Tanjungbalai

1. Keefektifan dan efisiensi program pengembangan rumah di Kota Tanjungbalai.

2. Kecukupan program

pengembangan rumah dalam membantu memecahkan masalah rumah tidak layak huni.

3. Pemerataan dalam pengembangan rumah.

4. Responsivitas terhadap program pengembangan rumah.

5. Ketepatan tujuan dan sasaran pengembangan rumah.

1

4 Kepala Seksi

Penyediaan dan Pembiayaan

Perumahan Rakyat

dan Kawasan

Permukiman Kota Tanjungbalai

1. Keefektifan dan efisiensi program pengembangan rumah di Kota Tanjungbalai.

2. Kecukupan program

pengembangan rumah dalam membantu memecahkan masalah rumah tidak layak huni.

3. Pemerataan dalam pengembangan rumah.

4. Responsivitas terhadap program pengembangan rumah.

5. Ketepatan tujuan dan sasaran pengembangan rumah.

1

5 Kepala Seksi

Pemantauan dan Evaluasi Perumahan Kota Tanjungbalai.

1. Keefektifan dan efisiensi program pengembangan rumah di Kota Tanjungbalai.

2. Kecukupan program

pengembangan rumah dalam membantu memecahkan masalah rumah tidak layak huni.

3. Pemerataan dalam pengembangan rumah.

4. Responsivitas terhadap program pengembangan rumah.

5. Ketepatan tujuan dan sasaran pengembangan rumah.

1

(38)

6 Lurah Kapias Pulau Buaya

1. Untuk mengetahui apakah lurah ikut serta dalam pengembangan rumah.

2. Untuk mengetahui bentuk dukungan apa yang diberikan lurah dalam program pengembangan rumah

1

7 Keluarga penerima Rumah Tidak Layak Huni

Untuk mengetahui apakah masyarakat sudah merasakan perubahan dengan adanya program pengembangan rumah.

10

Jumlah 16

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, untuk memperoleh data dan informasi, keterangan- keterangan yang diperlukan, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan secara langsung ke lokasi penelitian untuk mendapatkan data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut :

1. Teknik pengumpulan data primer

Teknik pengumpulan data primer adalah teknik pengumpulan data dengan mengambil data secara langsung pada lokasi penelitian. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data primer dilakukan melalui:

a) Wawancara

Menurut Esterberg (dalam Sugiyono, 2013:231) wawancara merupakan suatu pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dari suatu topik tertentu. Wawancara yang dilakukan termasuk wawancara yang mendalam (in-dept interview), yaitu dengan terlibat secara tatap muka dengan menggunakan wawancara yang bersifat semi

(39)

struktur (semistructure interview). Metode wawancara menggunakan alat yaitu pedoman wawancara.

b) Observasi

Menurut Moleong (2013:176), secara metodologis bagi penggunaan pengamatan atau observasi adalah pengamatan mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tidak sadar, kebiasaan dan sebagainya. Metode pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung terhadap fenomena-fenomena yang menjadi objek penelitian dan mencatat segala gejala-gejala yang ditemukan di lapangan untuk mempelajari data-data yang diperlukan sebagai acuan yang berkenaan dengan topik poenelitian. Metode observasi menggunakan alat yaitu pedoman observasi.

2. Teknik pengumpulan data sekunder

Data sekuinder, yaitu data yang memperoleh dari catatan tertulis maupun dokumen-dokumen yang ada di lokasi penelitian sebagai sumber kedua atau sumber sekunder untuk mengukur data primer. Hal ini dapat dilakukan melalui data berikut:

a) Dokumentasi

Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan penting yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, sehingga akan diperoleh data yang lengkap, sah dan bukan berdasarkan perkiraan (Basrowi dan Suwandi, 2008:158). Pengumpulan data yang diperoleh menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang ada dalam lokasi penelitian serta sumber- sumber lain yang relevan dengan masalah penelitian. Dokumentasi yang diperlukan seperti profil Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman

(40)

Kota Tanjungbalai, sarana dan prasarana kegiatan pengembangan rumah dan gambar pelaksanaan kegiatan pengembangan rumah sebelum dan sesudah terealisasi.

b) Studi kepustakaan

Studi kepustakaan, yaitu teknik penunjang dalam memperoleh informasi tambahan dan pendukung dalam penelitian.

3.5 Teknik Analisis Data

Sesuai dengan metode penelitian, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa data kualitatif. Teknik analisis data kualitatif dilakukan dengan menyajikan data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul, menyusunnya dalam satu-satuan, yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya dan memeriksa keabsahan data serta menafsirkannya dengan analisis sesuai dengan kemampuan daya nalar peneliti untuk membuat kesimpulan penelitian (Moleong, 2006:247).

Menurut Miles Dan Huberman (dalam Sugiyono, 2007:243) ada dua macam kegiatan dalam anlisis data kualitatif, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Reduksi data

Reduksi data berarti merangkum, memilih hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang penting tentang penelitian dengan mencari pola dan temanya hingga memberikan gambaran yang lebih jelas serta mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencari bila diperlukan.

(41)

2. Penyajian data

Menyajikan data dalam penelitian dengan teks atau uraian singkat yang bersifat naratif, maupun dalam bentuk tabel sehingga untuk mempermudah peneliti memahami apa yang terjadi dan merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami.

Kegiatan reduksi data dan proses penyajian data adalah aktivitas-aktivitas yang terkait dengan proses analisis data model interaktif. Kedua proses ini berlangsung selama selama proses penelitian berlangsung dan belum berakhir sebelum laporan hasil akhir penelitian disusun. Display data dilakukan untuk mempermudah peneliti memahami data yang diperoleh selama penelitian dibuat dalam bentuk uraian atau teks yang bersifat naratif, bagan atau bentuk tabel.

3.6 Teknik Keabsahan Data

Menentukan validitas data dalam penelitian kualitatif memerlukan kriteria untuk memperoleh tingkat kepercayaan penemuan.

Menurut Miles dan Huberman (2007:437):

“Keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan data. Teknik yang digunakan untuk menetapkan keabsahan data dalam penelitian di lapangan salah satunya adalah dengan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan satu pikiran, untuk mengumpulkan data dan memeriksa kembali temuan- temuan, dengan menggunakan sumber-sumber ganda dan cara-cara perolehan data, proses pengujian dapat dibangun untuk proses perolehan data, dan tidak banyak lagi yang harus dilakukan setelah melaporkan prosedurnya”.

Menurut Moleong (2006:191), triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Dalam pengecekan data peneliti menggunakan teknik pemeriksaan keabsahan data, yaitu triangulasi data dan triangulasi metode. Teknik triangulasi sumber data yang dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara antara subjek peneliti

(42)

yang satu dengan yang lain. Teknik triangulasi metode digunakan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap informan dengan hasil pengamatan penulis yang berkaitan dengan Evaluasi Pelaksanaan Program Perbaikan Rumah tidak Layak Huni dalam Meminimalisir Permukiman Kumuh di Kelurahan Kapias Pulau Buaya.

Dengan triangulasi, peneliti dapat me-recheck temuannya dengan jalan membandingkannya dengan berbagai sumber, metode dan waktu, maka untuk itu peneliti dapat melakukan dengan jalan (Moleong, 2013:332):

a) Mengajukan berbagai macam variasi pertanyaan.

b) mengeceknya dengan sumber data.

c) memanfaatkan berbagai metode agar pengecekan kepercayaan data dapat dilakukan.

Triangulasi digunakan penulis sebagai parameter dalam mengkaji hasil penelitian, dalam proses perolehan data yang lebih akurat penilis melakukan pengamatan tentang apa yang terjadi di instansi yaitu sebagai rumusan masalah penulis melakukan wawancara langsung kepada pihak yang terkait.

(43)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Kota Tanjungbalai

Kota Tanjungbalai merupakan salah satu dari 33 (tiga puluh tiga) Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara, yang berada di kawasan pesisir pantai Timur Sumatera Utara. Secara astrononus Kota Tanjungbalai terletak pada koordinat 2°58'15" - 3°01 '32" LU d 99, 48’ 00” - 99°50'16" BT, merupakan daerah pertemuan 2 (dua) sungai besar, yaitu Sungai Silau dan Sungai Asahan yang bermuara ke Selat Malaka. Jaraknya relatif dekat dengan negara Malaysia, Singapura dan Thailand. Wilayah Kota Tanjungbalai dikelilingi oleh Kabupaten Asahan dan merupakan hinterland dengan Kabupaten Labuhan Batu, Simalungun, Karo dan Kabupaten/Kota lain di Provinsi Surnatera Utara serta Provinsi Kepulauan Riau. Kota Tanjungbalai kini memiliki sebutan baru yakni "Mutiara Selat Malaka di Hilir Danau Toba". Berdasarkan letak geografisnya tersebut Kota Tanjungbalai sangat strategis dan ekonomis. Terlebih lagi didukung oleh tersedianya sarana, prasarana, infrastruktur dan aksebilitas yang cukup memadai, baik berupa modal transportasi darat, laut, jaringan air bersih, listrik dan telekomunikasi yang dapat menjangkau seluruh wilayah nusantara maupun negara tetangga.

Luas wilayahnya 60,52 km2 dan penduduk berjumlah 154.445 jiwa. Jarak tempuh dari Medan lebih kurang 186 KM atau sekitar 5 jam perjalanan kendaraan. Sebelum Kota Tanjungbalai diperluas dari hanya 199 ha (2 km2) menjadi 60,52 km', kota ini pernah menjadi kota terpadat di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk Iebih kurang 40.000 orang dengan kepadatan penduduk

(44)

lebih kurang 20.000 jiwa per km'. Akhimya Kota Tanjungbalai diperluas menjadi

± 60 Km' dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tahun 1987, tentang perubahan batas wilayah Kota Tanjungbalai dan Kabupaten Asahan. Batas-batas Kota Tanjungbalai adalah sebagai berikut:

a. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Tanjungbalai b. Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Simpang Empat c. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Simpang Empat d. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Sei Kepayang

Posisi Kota Tanjungbalai berada di wilayah Pantai Timur Sumatera Utara pada ketinggian 0-3 m di atas permukaan Laut dan kondisi wilayah relatif datar.

Kota Tanjungbalai secara administratif terdiri dari 6 Kecamatan, 31 Kelurahan.

Luas wilayah Kota Tanjungbalai 6.052 Ha (60,52 km2).

Tabel 4.1: Jumlah Kecamatan dan Kelurahan di Kota Tanjungbalai

No Kecamatan Kelurahan

1 Datuk Bandar Sijambi-Pahang-Sirantau-Pantai Johor-Gading 2 Datuk Bandar Timur Pulau Simardan-Bunga Tanjung-Semula Jadi-

Selat Lancang-Selat Tanjung Medan

3 Tanjungbalai Selatan TB Kota I-TB Kota 11-Perwira-Karya-Pantai Burung-Indra Sakti

4 Tanjungbalai Utara TB Kota III-TB Kota IV-Sejahtera-Kuala Silo Bestari-Matahalasan

5 Sei Tualang Raso Muara Seotosa-Sumber Sari-Pasar Baru-Keramat Kubah-Sei Raja.

6 Teluk Nibung Perjauangan-Pematang Pasir-Kapias Pulau Buaya-Beting Kuala Kapias Sei Merbau

Sumber: Website Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tanjungbalai, 17 Desember 2017

Gambar

Tabel 1.1:  Distribusi  Jumlah  Penduduk,  Jumlah  Rumah  Tangga  dan  Kepadatan Penduduk di Kota Tanjungbalai Tahun 2018
Tabel 3.1: Matriks Informan
Tabel 4.1: Jumlah Kecamatan dan Kelurahan di Kota Tanjungbalai
Tabel 4.2: Luas Kecamatan di Kota Tanjungbalai
+7

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Pengembangan suatu Rekreasi Pantai dengan Konsep Taman Air di Semarang pada kawasan pinggir kota, dalam hal ini adalah kawasan pesisir utara Kota Semarang, dimana pada masa

Dinas Tata Kota DKI Jakarta (2010 ), Jakarta City Planning Gallery : Jakarta Masa Lalu, Sekarang, dan yang Akan Datang.. Jakarta : Dinas

[r]

Program Studi Manajemen-Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.. Pengantar Manajemen Sumber Daya Manuisa

seluruh pesefia dengan ini diumumkan Daftar Pendek Calon Pesefta Seleksi Sederhana yang memenuhi syarat.. Bagi Konsultan yang lulus prakualifikasi akan diundang

Berdasarkan Surat Penetapan Pemenang Pelelangan Nomor: }27ll}lPokja 5lPTOl20l2 Tanggal 19 April 2012, maka dengan ini diumumkan Pemenang Pelelangan untuk

[r]