• Tidak ada hasil yang ditemukan

SPK INTELIJEN AGROPOLITAN

8.1 Model Pemilihan Komoditi Unggulan

8.1.2 Kriteria Komoditi Unggulan

Pengambilan keputusan merupakan suatu pemilihan alternatif dari beberapa alternatif yang dapat dilakukan. Pengambilan keputusan tersebut dilakukan dengan melakukan penilaian alternatif yang kemudian memilih nilai tertinggi dari alternatif tersebut. Untuk melakukan penilaian alternatif diperlukan kriteria-kriteria sebagai dasar penilaian alternatif tersebut.

Kriteria penetapan komoditi unggulan selama ini berbeda-beda baik antar instansi maupun antar pemerintah pusat maupun daerah. Sebagai contoh Deperindag menetapkan suatu komoditi unggulan berdasarkan volume dan nilai ekspor, kontinuitas ekspor dan kontinuitas produksi serta jumlah tenaga kerja yang diserap. Pendekatan ini memiliki kelebihan bahwa komoditi yang diekspor pastilah memberikan kontribusi dalam penerimaan devisa dan penyerapan tenaga kerja, namun juga memiliki kelemahan terutama kurang memperhatikan potensi sumberdaya domestik non tenaga kerja, sehingga banyak komoditi yang dianggap unggulan tetapi berbasis bahan baku dan barang modal impor, contohnya produk tekstil. Kriteria yang digunakan tersebut cenderung kurang berbasis sumberdaya domestik.

Deptan cenderung lebih lengkap dalam menentukan persyaratan komoditi unggulkan. Penetapan disesuaikan dengan kesesuaian lahan dan agroklimat,

produksi dan pasar baik domestic maupun ekspor. Penetapan komoditi unggulan tersebut hanya didasarkan data kuantitatif semata dan cenderung ditetapkan dari pusat (top down). Kelemahan pendekatan ini adalah kurang dipertimbangkannya persepsi masyarakat local, sehingga pengembangan komoditi sering terhambat oleh adanya rasa kurang memiliki masyarakat terhadap program pengembangan komoditi unggulan tersebut.

Untuk itu dalam penetapan komoditi unggulan memerlukan kriteria- kriteria yang tepat dan komprehensif, dapat menggabungkan analisis kualitatif dan kuantitatif dan dalam mentapkan seberapa besar pengaruh kriteria terhadap penetapan komoditi unggulan (bobot) dilakukan oleh bebrapa pakar yang mewakili pemerintah pusat dan pemerintah daerah, pengusaha serta masyarakat pada umumnya atau petani pada khususnya. Berdasarkan hasil kajian pustaka dan pendapat pakar serta ketersediaan data dan informasi, maka ditetapkan kriteria pemilihan komoditi unggulan adalah sebagai berikut :

1) Tingkat pendapatan komoditi 2) Kontribusi produksi komoditi 3) Laju/tren pertumbuhan produksi

4) Kemampuan bersaing dalam perdagangan 5) Kemampuan menyediakan lapangan kerja 6) Pemenuhan kebutuhan / konsumsi domestik

Pemilihan alternatif komoditi unggulan dilakukan dengan menggunakan teknik pengambilan keputusan Multi Expert – Multi Criteria Decision Making

(ME-MCDM). Penilaian alternatif berdasarkan kriteria pemilihan komoditi unggulan dilakukan oleh lima orang pakar yang mewakili akademisi, petani, pengusaha agroindustri, pemerintah daerah dan pemerintah propinsi. Daftar pakar dapat dilihat pada lampiran 12 Pakar tersebut melakukan penilaian terhadap alternatif berdasarkan kriteria pengadaan bahan baku yang sudah dirumuskan sebelumnya.

Penilaian dilakukan secara linguistic label dengan skala ordinal yaitu : PT = paling tinggi (nilai 7), ST = sangat tinggi (nilai 6), T = tinggi (nilai 5), S = sedang (nilai 4), R = rendah (nilai 3), SR = sangat rendah (nilai 2), dan PR –

paling rendah (nilai 1). Bobot kriteria ditentukan dengan menggunakan metode perbandingan berpasangan yang dilakukan oleh pakar. Skor bobot kriteria dari hasil perbandingan berpasangan ditransformasikan ke dalam bentuk linguistic label. Berdasarkan model yang dibangun maka diperoleh bobot setiap kriteria adalah seperti pada Tabel 12.

Tabel 12 Hasil pembobotan setiap kriteria

No Kriteria Komoditi Unggulan Bobot 1 2 3 4 5 6

Tingkat pendapatan komoditi Kontribusi produksi komoditi Laju/tren pertumbuhan produksi

Kemampuan bersaing dalam perdagangan Kemampuan menyediakan lapangan kerja Pemenuhan kebutuhan / konsumsi domestik

ST T S T S S

8.1.2.1 Tingkat pendapatan komoditi.

Tingkat pendapatan dari usaha komoditi menunjukkan kemampuan komoditi dalam menciptakan nilai tambah atau pendapatan (high capability on income generate and value added). Pemilihan komoditi yang memiliki tingkat pendapatan tinggi akan mampu pengatasi persoalan mendasar di bidang pertanian, yaitu rendahnya produktivitas. Selain itu semakin tinggi tingkat pendapatan komoditi semakin layak diusahakan baik secara finansial maupun ekonomi (financial and economic feasibility and viability) dan dapat menarik para pengusaha dan investor mengusahakan komoditi tersebut.

Jagung dan mangga merupakan komoditi yang memiliki skor tertinggi pada kriteria tingkat pendapatan, sedangkan pisang memiliki skor yang terendah. Nilai skor setiap alternatif pada setiap kriteria dapat dilihat pada Tabel 13. Nilai diperoleh dari jumlah total skor yang diisi oleh responden dimana penilaian dilakukan secara linguistic label seperti pada penentuan bobot kriteria.

Tabel 13 Skor setiap alternatif komoditi pada setiap kriteria Komoditi Unggulan Tingkat pendapatan Kontribusi produksi Laju pertumbuhan produksi Kemampuan bersaing Kemampuan menyediakan lapangan kerja Pemenuhan kebutuhan domestik Jagung Ubi Kayu Mangga Alpukat Pisang Bawang Merah Kubis Kentang 21 18 21 18 16 18 18 18 20 18 20 18 18 20 18 18 19 18 19 18 18 20 19 17 19 17 20 17 16 20 19 17 19 14 16 16 16 19 17 17 19 16 20 18 17 20 17 17

8.1.2.2 Kontribusi produksi komoditi

Kontribusi produksi terhadap perekonomian menunjukkan nilai kontribusi produksi komoditi terhadap wilayah yang levelnya lebih tinggi, dalam hal ini kabupaten terhadap propinsi. Kriteria tersebut menggambarkan kemampuan komparatif komoditi dibandingkan daerah lain. Jagung, mangga dan bawang merah adalah komoditi dengan skor tertingi pada kriteria kontribusi produksi.

8.1.2.3 Laju/tren pertumbuhan produksi

Laju pertumbuhan produksi menunjukkan bahwa komoditi tersebut diterima dan berkembang di masyarakat atau secara sosial dapat diterima oleh masyarakat setempat (sosial acceptability), sehingga apabila ingin mengembangkan komoditi ini tidak akan mengalami banyak kesulitan. Bawang merah merupakan komoditi yang memiliki skor tertinggi pada kriteria laju pertumbuhan produksi.

8.1.2.4 Kemampuan bersaing dalam perdagangan

Kemampuan bersaing komoditi yang tinggi menunjukkan komoditi memiliki orientasi pasar yang jelas dan prospek harga yang baik (market orientation and prospects), baik dalam pasar lokal maupun iternasioal. Pasar dan

harga sangat berpengaruh terhadap tingkat pendapatan dan tingkat keberlanjutan usaha komoditi tersebut. Mangga dan bawang merah memiliki skor tertinggi untuk kriteria kemampuan bersaing.

8.1.2. 5 Kemampuan menyediakan lapangan kerja

Kriteria kemampuan komoditi menyediakan kesempatan kerja (job opportunities) merupakan kriteria sosial sekaligus ekonomi. Komoditi dengan kemampuan menyediakan lapanghan kerja yang tyinggi diharapkan dapat mengatasi permasalahan pengangguran, terutama pengangguran yang tidak kentara. Jagung dan bawang merah memiliki skor tertinggi untuk kriteria menciptakan lapangan kerja.

8.1.2.6 Pemenuhan kebutuhan/konsumsi domestik

Pemenuhan kebutuhan domestik menunjukkan ketersediaan komoditi terhadap pemintaan/kebutuhan lokal yang menjamin kemandirian penyediaan komoditi pada tingkat lokal. Ketersediaan komoditi yang tinggi memiliki kemampuan dalam meningkatkan ketahanan pangan masyarakat setempat yang berpendapatan rendah (high capability on food security for low income community). Hal ini mendukung konsep ketahanan pangan. Walaupun konsep ketahanan pangan diartikan sebagai kemampuan akses terhadap pangan, dalam hal ini kemampuan daya beli, sehingga untuk meningkatkan ketahanan pangan adalah peningkatan pendapatan masyarakat, maka untuk wilayah tertentu ketahanan pangan harus diterjemahkan ke dalam konsep ketersediaan pangan. Mangga dan bawang merah merupakan komoditi yang memiliki skor tertinggi untuk kriteria pemenuhan kebutuhan domestik.