• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kriteria sampel

Dalam dokumen EKSTRAK ETANOL DAUN PANDAN WANGI (Halaman 40-0)

BAB IV METODE PENELITIAN

4.3 Penentuan Sumber Data

4.3.2 Kriteria sampel

Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus galur Wistar yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

Kriteria Inklusi:

a. Tikus putih jantan depresi b. Memiliki umur 2-3 bulan

c. Berat badan tikus berkisar 150-250 gram

Kriteria drop out subjek penelitian a. Tikus mati/sakit saat penelitian 4.4 Variabel Penelitian

4.4.1 Variabel bebas

Pemberian ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.) 10%.

4.4.2 Variabel terikat

Immobility time, kadar kortisol.

4.4.3 Variabel terkendali

Tikus (galur, jenis kelamin, umur, berat badan, sehat), asal tanaman, bagian tanaman yang digunakan.

4.5 Definisi Operasional

1. Ekstrak etanol daun pandan wangi adalah ekstrak kental yang dibuat dari hasil maserasi daun pandan wangi menggunakan pelarut etanol 96%, pada suhu kamar, dengan konsentrasi ekstrak 10%.

2. Tikus depresi merupakan tikus jantan galur wistar sehat yang mengalami peningkatan immobility time dan kadar kortisol setelah diinduksi depresi dengan metode tail suspetion test, dimana ekor tikus digantung pada tiang dengan ketinggian 50 cm selama 3 menit setiap hari dalam 10 hari.

3. Immobility time merupakan waktu putus asa tikus yang diukur menggunakan metode force swimming test saat hewan tidak bergerak didalam air, dengan satuan detik diukur pada hari ke-10 (pretest) dan hari ke-25 (posttest).

4. Kadar kortisol adalah kadar kortisol darah tikus yang diukur pada pagi hari, pada hari ke-10 (pretest) dan hari ke-25 (posttest) dengan metode enzyme immune assay (ELISA) dalam satuan ng/ml.

4.6 Alat dan Bahan Penelitian 4.6.1 Alat penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pipet tetes, batang pengaduk, sendok tanduk, cawan porselen, gelas ukur, gelas beker, termometer, timbangan elektrik (ADAM AFP-360L), vacum rotary evaporator, toples tanpa tutup, stopwatch, kandang plastik, ember, tiang penggantung, tabung transparan, ELISA reader.

4.6.2 Bahan penelitian

Bahan tanaman yang digunakan yaitu daun pandan wangi yang berasal dari wilayah Abiansemal, Bali. Pelarut yang digunakan dalam proses maserasi daun pandan wangi adalah etanol 96% (teknis, Brataco). Bahan yang digunakan dalam proses pengujian aktivitas antidepresan yaitu amitriptilin tablet 25 mg, ektrak etanol daun pandan wangi, aquadest, CMC-Na, ELISA Sigma Aldrich Kortisol Kitt.

4.7 Prosedur Penelitian 4.7.1 Determinasi tanaman

Determinasi daun pandan wangi dilakukan di Balai Konservasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Bali.

4.7.2 Pengumpulan dan preparasi sampel

Sampel yang digunakan merupakan daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.) yang dipanen dari kawasan Abiansemal, Badung Bali. Daun pandan yang dipilih yaitu daun segar yang memiliki warna hijau tua dan ukuran yang relatif sama.

4.7.3 Pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi

Daun pandan wangi segar yang telah dikumpulkan, dibersihkan terlebih dahulu dan dipilih daun yang memenuhi persyaratan sebagai simplisia. Daun pandan wangi selanjutnya diiris tipis, dan dirajang hingga menyerupai serbuk.

Serbuk simplisia segar dari daun pandan wangi kemudian ditimbang sebanyak 100 gram untuk dilakukan proses maserasi dengan 300 mL etanol 96%. Ekstrak yang diperoleh kemudian diuapkan menggunakan vacum rotary evaporator pada suhu 40Β°C hingga diperoleh ekstrak kental (Agustiningsih, 2010).

4.7.4 Skrining fitokimia ekstrak etanol daun pandan wangi

Uji fitokimia pada ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.) meliputi pemeriksaan alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, polifenol, steroid dan triterpenoid.

A. Pembuatan larutan uji fitokimia

Pembuatan larutan uji untuk skrining fitokimia dilakukan dengan melarutkan 500 mg ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.) dalam 50 mL etanol 96%.

B. Pemeriksaan alkaloid

Sebanyak 2 mL larutan ekstrak uji diuapkan diatas cawan porselin hingga diperoleh residu. Residu kemudian dilarutkan dengan 5 mL HCL 2N. Larutan yang didapat kemudian di bagi ke dalam 3 tabung reaksi. Tabung pertama ditambahkan dengan asam encer yang berfungsi sebagai blanko. Tabung kedua ditambahkan pereaksi Dragendroff sebanyak 3 tetes dan tabung ketiga ditambahkan pereaksi Mayer sebanyak 3 tetes. Terbentuknya endapan jingga pada tabung kedua dan endapan kuning pada tabung ketiga menunjukkan adanya alkaloid (Tiwari et al., 2011).

C. Pemeriksaan flavonoid

Sebanyak 1 mL larutan ekstrak uji, basahkan sisanya dengan aseton P, tambahkan sedikit serbuk halus asam borat P dan serbuk halus asam oksalat P, panaskan hati-hati diatas tangas air dan hindari pemanasan berlebihan. Campur sisa yang diperoleh dengan 10 mL eter P. Amati dengan sinar UV 366 nm; larutan berfluoresensi kuning intensif, menunjukkan adanya flavonoid (Tiwari et al., 2011).

D. Pemeriksaan saponin

Sebanyak 10 mL larutan ekstrak uji dalam tabung reaksi dikocok vertikal selama 10 detik kemudian dibiarkan selama 10 detik. Pembentukan busa setinggi 1-10 cm yang stabil selama tidak kurang dari 10 menit, menunjukkan adanya saponin. Pada penambahan 1 tetes HCL 2N, busa tidak hilang (Tiwari et al., 2011).

E. Pemeriksaan tanin dan polifenol

Sebanyak 3 mL larutan ekstrak uji dibagi kedalam 3 bagian yaitu tabung A, tabung B, tabung C. Tabung A digunakan sebagai blanko, tabung B direaksikan dengan larutan besi (III) klorida 10%, warna biru tua atau hitam kehijauan menunjukkan adanya tanin dan polifenol, sedangkan pada tabung C hanya ditambahkan garam gelatin. Apabila terbentuk endapan pada tabung C maka larutan ekstrak positif mengandung tanin (Marliana et al., 2005; Tiwari et al., 2011).

F. Pemeriksaan steroid dan triterpenoid

Pemeriksaan steroid dan triterpenoid dilakukan dengan reaksi Lieberman-Burchard. Sebanyak 2 mL larutan uji diuapkan dalam cawan penguap.

Residu dilarutkan dengan 0,5 mL kloroform, tambahkan 0,5 mL asam asetat anhidrat. Selanjutnya ditambahkan 2 mL asam sulfat pekat melalui dinding tabung. Terbentuknya cincin kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan menunjukkan adanya triterpenoid, sedangkan bila muncul cincin biru kehijauan menunjukkan adanya steroid (Tiwari et al., 2011).

4.7.5 Uji aktivitas antidepresan ekstrak etanol daun pandan wangi

Uji aktivitas antidepresan dilakukan dengan menggunakan metode tail suspension test dan force swimming test. Hewan yang telah diadaptasi selama 1 minggu dibuat stress dengan cara menggantung ekor tikus (tail suspension test) selama 3 menit dalam 10 hari, kemudian ekstrak etanol daun pandan wangi diberikan selama 14 hari pada hari ke 11 sampai hari ke 25 dan selanjutnya diukur immobility time seluruh kelompok dengan metode force swimming test.

Pemeriksaan juga dilakukan terhadap kadar kortisol dari hewan uji dengan metode Enzyme-Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA).

A. Pengelompokan subjek uji

Pada penelitian ini digunakan 28 ekor hewan uji yang dibagi menjadi 4 kelompok masing-masing kelompok terdiri atas 7 ekor tikus.

a. Kelompok perlakuan 1 (P1) : kelompok tikus normal yang tidak memperoleh induksi depresi dan tidak memperoleh perlakuan.

b. Kelompok perlakuan 2 (P2) : kelompok tikus depresi yang memperoleh pemberian placebo CMC-Na 1%.

c. Kelompok perlakuan 3 (P3) : kelompok tikus depresi yang memperoleh pemberian amitriptilin dalam pelarut CMC-Na 1%.

d. Kelompok perlakuan 4 (P4) : kelompok tikus depresi yang memperoleh pemberian ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.) 10% dalam pelarut CMC-Na 1%.

B. Perlakuan hewan uji

Tikus putih jantan galur Wistar yang digunakan diadaptasi terlebih dahulu selama satu minggu dalam kandang plastik dengan ukuran Β±1200 cm2 dengan alas berupa sekam yang bagian atasnya diberi kawat sebagai penutup. Hewan uji diberi pakan berupa pellet dengan memperhatikan kadar protein 20-25%, lemak 5%, pati 40-45%, serat kasar 5%, vitamin serta mineral. Setiap harinya tikus yang digunakan dalam penelitian diberi makan antara 12-20 gram serta diberikan air ad libitum (Smith dan Mangkoewidjojo, 2000). Adapun metode euthanasia yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan metode kimia, dimana hewan uji

diberikan ketamine dengan dosis tiga kali dosis untuk mencapai efek anestesi atau dua kali dosis LD50.

C. Penentuan dosis

a. Penentuan dosis ekstrak etanol daun pandan wangi

Ekstrak daun pandan wangi diberikan secara peroral satu kali sehari pada hewan uji. Ekstrak daun pandan wangi yang diberikan yaitu dengan konsentrasi 10% dalam pensuspensi CMC-Na 1%

Perhitungan pembuatan ekstrak daun pandan wangi:

Pembuatan larutan CMC Na 1% sebagai pelarut: 1 𝑔 𝐢𝑀𝐢 π‘π‘Ž 100 π‘šπΏ π‘Žπ‘–π‘Ÿ

Pembuatan larutan stok ekstrak konsentrasi 10% : 10 𝑔 π‘’π‘˜π‘ π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘˜

100 π‘šπΏ π‘™π‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘‘π‘Žπ‘› 𝐢𝑀𝐢 π‘π‘Ž 1%

Volume cairan maksimal yang dapat diberikan pada tikus putih yaitu 5mL/200 g BB (Ngatidjan, 2006).

b. Penentuan dosis amitriptilin

Pada penelitian ini obat antidepresan yang digunakan yaitu amitriprilin sebagai kontrol positif. Dosis lazim yang digunakan untuk manusia dewasa yaitu 25 mg. Faktor konversi dari manusia (70 kg) ke tikus (200 g) adalah 0,018, maka dosis yang diberikan kepada tikus yaitu :

70

50Γ— 25 mg Γ— 0,018 = 0,63 mg/200 gBB

Berdasarkan perhitungan tersebut maka dosis amitriptilin yang diberikan pada tikus uji yaitu 0,63 mg/ 200 gBB.

D. Tail suspention test

Uji penggantungan ekor (tail suspension test) dilakukan pada hewan uji yang digunakan dengan cara menggantung ekor tikus pada tiang setinggi 50 cm selama 3 menit setiap hari, dimana perlakuan ini dilakukan selama 10 hari (Swati et al., 2013).

E. Uji berenang paksa (Force Swimming Test)

Force swimming test merupakan salah satu metode yang biasa digunakan untuk mengukur efek suatu obat antidepresan pada hewan uji. Khasiat dari suatu obat antidepresan diukur melalui lama immobility time yang lebih singkat dibandingkan dengan kelompok uji yang tidak diberikan obat antidepresan atau ekstrak yang berfungsi sebagai antidepresan (Swati et al., 2013).

Hewan coba yang telah diinduksi depresi dimasukkan ke dalam tabung terbuka (diameter 10 cm, tinggi 25 cm) yang berisi air dengan ketinggian 15 cm.

Tes ini berdurasi selama 8 menit dan dilakukan pengukuran immobility time pada 6 menit terakhir (Swati et al., 2013).

Pengukuran immobility time dinilai pada saat hewan uji tidak bergerak di dalam air. Setiap hewan uji itu dinilai tidak bergerak ketika berhenti berjuang dan tetap mengambang bergerak di dalam air, hanya membuat gerakan-gerakan diperlukan untuk menjaga kepala diatas air. Penurunan durasi immobility time selama forced swimming test (FST) dapat diambil sebagai tanda ukuran antidepresan (Zomkowski et al., 2004).

F. Pengukuran kadar kortisol

Konsentrasi kortisol dari serum darah hewan uji diukur dengan metode Enzyme-Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA). Hewan uji dianestesi terlebih dahulu menggunakan ketamine dengan dosis 50 mg/kg BB secara intramuscular (Santoso, 2011). Pengambilan darah dilakukan melalui jantung pada pagi hari sebanyak Β± 1 mL, pada hari ke 10 setelah induksi depresi dilakukan dan hari ke 25 setelah perlakuan uji selesai.

a. Preparasi sampel

Darah yang telah diambil dari hewan uji dimasukkan kedalam tabung eppendorf dan dilakukan pemusingan (sentrifugasi) selama 15 menit dengan kecepatan 6000 rpm. Dilakukan pemisahan, dan diambil bagian yang berada di lapisan atas (serum) untuk analisis pemeriksaan kortisol. Serum disimpan sebelum dianalisis pada suhu -20˚ dalam lemari pendingin.

b. Pengukuran kuantitatif dengan metode ELISA

Serum yang telah diperoleh dilakukan pengukuran dengan metode ELISA.

Persiapan awal dalam pengukuran ini yaitu memastikan semua reagen berada pada temperatur 2-8˚C sebelum digunakan. Didalam mikroplate yang digunakan telah dilakukan coated antibodi monoklonal yang spesifik terhadap kortisol.

Sampel, kortisol standar, dan kontrol sebanyak 25 ¡L kemudian dimasukkan kedalam well, dilakukan penambahan kortisol enzim konjugat 100¡L ke dalam masing-masing well, dan dilakukan inkubasi selama 60 menit pada suhu ruangan (18-26˚C). Proses selanjutnya yaitu pencucian sebanyak 3 kali, dengan larutan pencuci buffer sebanyak 300 ¡L untuk tiap 1 kali proses pencucian. Ditambahkan

100 ¡L antibody biotinylated (TMB) pada seluruh well dan diinkubasi kembali selama 15 menit pada suhu ruangan (18-26˚C) pada temperatur ruangan. Tahapan selanjutnya yaitu dilakukan pengeringan dengan kertas pengering khusus, dan ditambahkan larutan stop solution pada seluruh well sebanyak 50 ¡L, dilakukan pengocokan perlahan pada plate agar larutan tercampur, dan didiamkan selama 20 menit. Pada tahapan akhir dilakukan pembacaan dengan ELISA reader pada panjang gelombang 450 nm.

4.8 Analisis Data

Pada penelitian ini dilakukan analisis data secara statistik menggunakan aplikasi SPSS 16 for Windows. Data yang diperoleh seperti immobility time dan kadar kortisol dianalisis dengan langkah sebagai berikut:

1. Analisis deskriptif

Berdasarkan analisis deskriptif diperoleh nilai rerata dan standar deviasi (SD) tiap variabel dari masing-masing kelompok perlakuan.

2. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan dengan uji Shapiro Wilk karena sampel yang digunakan < 30. Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Data ini berdistribusi normal dengan nilai p > 0,05.

3. Uji Homogenitas

Pengujian homogenitas dilakukan dengan Levene’s test yang bertujuan untuk mengetahui homogenitas atau varian data yang diperoleh. Varian data ini homogen dengan nilai p > 0,05.

4. Uji Komparasi

a. One-way analysis of variance

Analisis Anova dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar kelompok uji, dimana Ξ±=0,05. Pada penelitian ini dilakukan analisis Anova karena data yang diperoleh memenuhi syarat terdistribusi normal dan homogen.

b. Uji Least Significant Difference (LSD).

Uji ini dilakukan untuk mengetahui pada kelompok mana yang memiliki perbedaan rerata durasi immobility time dan kadar kortisol.

c. T-paired test

Pada data pretest dan posttest yang diperoleh selanjutnya dilakukan uji komparasi pada tiap kelompok perlakuan, untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan dilakukan.

4.9 Alur Penelitian

Gambar 4.2.

Skema Kerja Penelitian 28 Ekor Tikus Jantan Galur Wistar

Tumbuhaapoteken Tikus diadaptasi selama 7 hari

P1

Induksi Depresi dengan Tail Suspention Test

Pretest Immobility Time dan Kadar Kortisol

Analisis data Perlakuan selama 14 hari:

P1 : tidak diberi perlakuan P2 : CMC-Na

P3 : amitriprilin

P4 : ekstrak etanol daun pandan wangi 10%

Posttest Immobility Time dan Kadar Kortisol

5.1.1 Hasil skrining fitokimia

Tabel 5.1

Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol 96% Daun Pandan Wangi

(aTiwari et al., 2011)

Keterangan: (+) = mengandung senyawa yang dimaksud; (-) = tidak mengandung senyawa yang dimaksud

5.1.2 Analisis desktiptif

Tabel 5.2

Data Immobility Time Pretest dan Posttest

Pretest Kontrol normal Kontrol negatif Kontrol positif

n Rerata (detik) Standar Deviasi

6 88,17 0,47

No Uji Fitokimia Pustaka Hasil Kesimpulan

1. Alkaloid aTerbentuk endapan jingga (pereaksi Dragendroff) 2 Flavonoid aFluoresensi kuning intensif pada UV 366

nm

fluoresensi kuning intensif

(+) 3 Saponin aAdanya busa yang bertahan <10 menin

setinggi 1-10 cm dan busa tidak hilang setelah penambahan 1 tetes HCL 2N

Terbentuk busa Polifenol aBiru tua/hitam

kehijauan

Hitam Kehijauan (+) 5. Steroid dan

triterpenoid

Steroid aTerbentuk cincin biru kehijauan

Terbentuk cincin biu kehijauan

(+) Triterpenoid aTerbentuk cincin

kecoklatan atau violet

Terbentuk cincin kecoklatan/violet

(+)

Data Kadar Kortisol Pretest dan Posttest

Pretest Kontrol normal

n Rerata (ng/mL) Standar Deviasi

6 15,36 0,16

5.1.3 Uji normalitas data

Pada penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan uji Shapiro Wilk karena sampel yang digunakan kurang dari 30. Data immobility time dan kadar kortisol sebelum perlakuan (pretest) dan sesudah perlakuan (posttest) diuji normalitasnya, dan diperoleh data berdistribusi normal dengan p>0,05. Hasil uji normalitas data immobility time dapat dilihat pada Tabel 5.4 dan hasil uji normalitas data kadar kortisol dapat dihat pada Tabel 5.5

Tabel 5.4

Hasil Uji Normalitas Data Immobility Time

Parameter n p Keterangan

Immobility Time Kelompok normal (pretest) 6 0,421 Normal Immobility Time Kelompok normal (posttest) 6 0,473 Normal Immobility Time Kontrol negatif (pretest) 6 0,212 Normal Immobility Time Kontrol negatif (posttest) 6 0,804 Normal Immobility Time Kontrol positif (pretest) 6 0,505 Normal Immobility Time Kontrol positif (posttest) 6 0,091 Normal Immobility Time Perlakuan pandan wangi (pretest) 6 0,918 Normal Immobility Time Perlakuan pandan wangi (posttest) 6 0,415 Normal

Tabel 5.5

Hasil Uji Normalitas Data Kadar Kortisol

Parameter n p Keterangan

Kadar Kortisol Kelompok normal (pretest) 6 0,186 Normal Kadar Kortisol Kelompok normal (posttest) 6 0,942 Normal Kadar Kortisol Kontrol negatif (pretest) 6 0,411 Normal Kadar Kortisol Kontrol negatif (posttest) 6 0,200 Normal Kadar Kortisol Kontrol positif (pretest) 6 0,069 Normal Kadar Kortisol Kontrol positif (posttest) 6 0,066 Normal Kadar Kortisol Perlakuan pandan wangi (pretest) 6 0,958 Normal Kadar Kortisol Perlakuan pandan wangi (posttest) 6 0,213 Normal

Uji homogenitas pada data immobility time dan kadar kortisol dilakukan dengan Levene’s Test. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.6 dapat dikatakan bahwa data yang diperoleh homogen dengan p>0,05.

Tabel 5.6

Hasil Uji Homogenitas Data Immobility Time dan Kadar Kortisol

p Keterangan

Immobility Time (pretest) 0,750 Homogen

Kadar Kortisol (pretest) 0,703 Homogen

Immobility Time (posttest) 0,438 Homogen

Kadar Kortisol (posttest) 0,115 Homogen

5.1.5 Hasil analisis one way anova

Berdasarkan hasil analisis dengan one-way anova pada Tabel 5.7 diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada durasi immobility time dan kadar kortisol pada seluruh kelompok uji.

Tabel 5.7

Hasil Uji One-Way Anova Data Immobility Time dan Kadar Kortisol

Parameter p Keterangan

Immobility Time (pretest) 0,000 Berbeda Bermakna Kadar Kortisol (pretest) 0,000 Berbeda Bermakna Immobility Time (posttest) 0,000 Berbeda Bermakna Kadar Kortisol (posttest) 0,000 Berbeda Bermakna

5.1.6 Uji komparabilitas

Uji komparabilitas pada penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar kelompok uji dan untuk membandingkan rerata immobility time dan kadar kortisol hewan uji sebelum dilakukan perlakuan (pretest) dan setelah diberi perlakuan (posttest).

Hasil Uji Least Significant Difference (LSD) antar Kelompok Pretest

Immobility Time

Beda Rerata p Interpretasi

Kontrol normal dan kontrol negatif 42,50 detik 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan kontrol positif 43,50 detik 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan ekstrak pandan wangi 10% 42,16 detik 0,000 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan kontrol positif 1,00 detik 0,271 Tidak berbeda bermakna Kontrol negatif dan ekstrak pandan wangi 10% 0,33 detik 0,710 Tidak berbeda bermakna Kontrol positif dan ekstrak pandan wangi 10% 1,33 detik 0,147 Tidak berbeda bermakna

Kortisol

Kontrol normal dan kontrol negatif 5,077 ng/ml 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan kontrol positif 5,124 ng/ml 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan ekstrak pandan wangi 10% 5,634 ng/ml 0,000 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan kontrol positif 0,047 ng/ml 0,870 Tidak berbeda bermakna Kontrol negatif dan ekstrak pandan wangi 10% 0,557 ng/ml 0,064 Tidak berbeda bermakna Kontrol positif dan ekstrak pandan wangi 10% 0,510 ng/ml 0,088 Tidak berbeda bermakna

Berdasarkan hasil analisis uji Least Significant Difference (LSD) pada data pretest immobility time dan kadar kortisol pretest, diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol normal dengan seluruh kelompok uji yang lain (kontrol negatif, kontrol, positif, kelompok perlakuan pandan wangi). Dapat dilihat juga bahwa kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, dan kelompok perlakuan daun pandan wangi tidak memiliki perbedaan yang bermakna satu sama lain dengan p>0,005. Dari data ini dapat dilihat bahwa induksi depresi yang dilakukan pada seluruh kelompok uji dapat meningkatkan immobility time dan kadar kortisol yang berbeda bermakna secara signifikan dengan kelompok normal. Peningkatan yang terjadi pada ketiga kelompok yang diinduksi depresi memiliki besar yang tidak berbeda bermakna satu sama lain, sehingga dapat diberikan perlakuan untuk pengujian selanjutnya.

0

Durasi Immobility Time Pada Pretest dan Posttest

Series1 Series2

P1 : Kontrol Normal P3 : Kontrol Positif (Amitriptilin) P2 : Kontrol Negatif P4 : Kelompok ekstrak pandan wangi 10%

Hasil Uji Least Significant Difference (LSD) Antar Kelompok Posttest

Immobility Time

Beda Rerata p Interpretasi

Kontrol normal dan kontrol negatif 45,50 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan kontrol positif 34,00 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan ekstrak pandan wangi 10% 11,33 0,000 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan kontrol positif 79,50 0,000 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan ekstrak pandan wangi 10% 56,83 0,000 Berbeda bermakna Kontrol positif dan ekstrak pandan wangi 10% 22,67 0,000 Berbeda bermakna

Kortisol

Kontrol normal dan kontrol negatif 5,595 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan kontrol positif 2,361 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan ekstrak pandan wangi 10% 1,264 0,001 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan kontrol positif 7,957 0,000 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan ekstrak pandan wangi 10% 6,86 0,000 Berbeda bermakna Kontrol positif dan ekstrak pandan wangi 10% 1,096 0,004 Berbeda bermakna

Berdasarkan Tabel 5.9 dapat dilihat pada data immobility time dan kadar kortisol posttest terdapat perbedaan yang bermakna antara seluruh kelompok uji satu sama lain dengan p<0,05. Dari data ini dapat dilihat bahwa setiap perlakuan yang diberikan memberikan hasil yang berbeda dengan perlakuan lainnya.

Gambar 5.1

Perbandingan Durasi Immobility Time Data Pretest dan Posttest

Keterangan:

Hasil analisis t-paired test data immobility time pretest dan posttest Imobility Time P1 pre-P1 post p=0,001 (berbeda bermakna) Imobility Time P2 pre-P2 post p=0,053 (tidak berbeda) Imobility Time P3 pre-P3 post p=0,000 (berbeda bermakna) Imobility Time P4 pre-P4 post p=0,000 (berbeda bermakna)

Pretest

seluruh kelompok uji setelah diberi perlakuan (posttest). Persentase penurunan immobility time tertinggi dapat dilihat terjadi pada kelompok kontrol positif (P3) dengan penurunan durasi immobility time sebesar 63,03%. Diikuti oleh penurunan sebesar 45,26% pada kelompok dengan pemberian ekstrak etanol daun pandan wangi 10% (P4), penurunan sebesar 6,23% pada kelompok kontrol normal dan penurunan sebesar 1,91% pada kelompok kontrol negatif.

Hasil uji komparabilitas dengan t-paired test pada data immobility time pretest dan posttest menunjukkan bahwa terdapat pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol normal (P1), kontrol positif (P3), dan kelompok perlakuan daun pandan wangi (P4) dengan p<0,05. Data immobility time pada kelompok kontrol negatif menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengaruh selama pretest dan posttest dengan p=0,053 (p>0,05).

Pada Gambar 5.2 berikut ini dapat dilihat bahwa terjadi perubahan kadar kortisol sebelum perlakuan pretest dan setelah perlakuan posttest pada seluruh kelompok uji. Persentase penurunan tertinggi terjadi pada kelompok kontrol positif dimana kadar kortisol menurun sebesar 38,54%. Pemberian ekstrak etanol daun pandan wangi 10% pada kelompok P4 juga memberikan penurunan terhadap kadar kortisol yaitu sebesar 33,24%. Pada kelompok normal yang tidak diberikan perlakuan apapun diperoleh penurunan kadar kortisol sebesar 3,92%, sedangkan pada kelompok kontrol negatif terjadi peningkatan kadar kortisol sebesar 0,76%.

P1 : Kontrol Normal P3 : Kontrol Positif (Amitriptilin) P2 : Kontrol Negatif P4 : Kelompok ekstrak pandan wangi 10%

0

Kadar Kortisol Pada Pretest dan Posttest

Series1 Series2

Gambar 5.2

Perbandingan Kadar Kortisol Pretest dan Posttest

Keterangan:

Hasil Analisis T-Paired test data immobility time pretest dan posttest Kadar Kortisol P1 pre-P1 post p=0,071 (tidak berbeda) Kadar Kortisol P2 pre-P2 post p=0,077 (tidak berbeda) Kadar Kortisol P3 pre-P3 post p=0,000 (berbeda bermakna) Kadar Kortisol P4 pre-P4 post p=0,000 (berbeda bermakna)

Sama seperti hasil analisis data pada immobility time hewan uji, analisis yang dilakukan terhadap kadar kortisol posttest juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara seluruh kelompok uji satu sama lain dengan p<0,05. Hasil analisis t-paired test menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh perlakuan terhadap kadar kortisol selama pretest dan posttest pada kelompok kontrol normal dan kelompok kontrol negatif dengan p>0,05. Pengaruh perlakuan terhadap kadar kortisol dapat dilihat pada kelompok kontrol positif dan kelompok dengan perlakuan ekstrak etanol daun pandan wangi 10% yang memberikan perbedaan signifikan dengan p<0,05, dimana terjadi penurunan kadar kortisol pada kedua kelompok perlakuan ini.

15,16

Pada penelitian ini digunakan subjek uji yaitu tikus jantan galur wistar dengan umur 2-3 bulan dan berat badan 150-250 gram. Jumlah tikus yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 28 ekor, yang dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan antara lain yaitu kelompok kontrol normal (P1), kelompok kontrol negatif (P2), kelompok kontrol positif (P3), dan kelompok ekstrak etanol

Pada penelitian ini digunakan subjek uji yaitu tikus jantan galur wistar dengan umur 2-3 bulan dan berat badan 150-250 gram. Jumlah tikus yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 28 ekor, yang dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan antara lain yaitu kelompok kontrol normal (P1), kelompok kontrol negatif (P2), kelompok kontrol positif (P3), dan kelompok ekstrak etanol

Dalam dokumen EKSTRAK ETANOL DAUN PANDAN WANGI (Halaman 40-0)