BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.3 Uji normalitas data
Pada penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan uji Shapiro Wilk karena sampel yang digunakan kurang dari 30. Data immobility time dan kadar kortisol sebelum perlakuan (pretest) dan sesudah perlakuan (posttest) diuji normalitasnya, dan diperoleh data berdistribusi normal dengan p>0,05. Hasil uji normalitas data immobility time dapat dilihat pada Tabel 5.4 dan hasil uji normalitas data kadar kortisol dapat dihat pada Tabel 5.5
Tabel 5.4
Hasil Uji Normalitas Data Immobility Time
Parameter n p Keterangan
Immobility Time Kelompok normal (pretest) 6 0,421 Normal Immobility Time Kelompok normal (posttest) 6 0,473 Normal Immobility Time Kontrol negatif (pretest) 6 0,212 Normal Immobility Time Kontrol negatif (posttest) 6 0,804 Normal Immobility Time Kontrol positif (pretest) 6 0,505 Normal Immobility Time Kontrol positif (posttest) 6 0,091 Normal Immobility Time Perlakuan pandan wangi (pretest) 6 0,918 Normal Immobility Time Perlakuan pandan wangi (posttest) 6 0,415 Normal
Tabel 5.5
Hasil Uji Normalitas Data Kadar Kortisol
Parameter n p Keterangan
Kadar Kortisol Kelompok normal (pretest) 6 0,186 Normal Kadar Kortisol Kelompok normal (posttest) 6 0,942 Normal Kadar Kortisol Kontrol negatif (pretest) 6 0,411 Normal Kadar Kortisol Kontrol negatif (posttest) 6 0,200 Normal Kadar Kortisol Kontrol positif (pretest) 6 0,069 Normal Kadar Kortisol Kontrol positif (posttest) 6 0,066 Normal Kadar Kortisol Perlakuan pandan wangi (pretest) 6 0,958 Normal Kadar Kortisol Perlakuan pandan wangi (posttest) 6 0,213 Normal
Uji homogenitas pada data immobility time dan kadar kortisol dilakukan dengan Levene’s Test. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.6 dapat dikatakan bahwa data yang diperoleh homogen dengan p>0,05.
Tabel 5.6
Hasil Uji Homogenitas Data Immobility Time dan Kadar Kortisol
p Keterangan
Immobility Time (pretest) 0,750 Homogen
Kadar Kortisol (pretest) 0,703 Homogen
Immobility Time (posttest) 0,438 Homogen
Kadar Kortisol (posttest) 0,115 Homogen
5.1.5 Hasil analisis one way anova
Berdasarkan hasil analisis dengan one-way anova pada Tabel 5.7 diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada durasi immobility time dan kadar kortisol pada seluruh kelompok uji.
Tabel 5.7
Hasil Uji One-Way Anova Data Immobility Time dan Kadar Kortisol
Parameter p Keterangan
Immobility Time (pretest) 0,000 Berbeda Bermakna Kadar Kortisol (pretest) 0,000 Berbeda Bermakna Immobility Time (posttest) 0,000 Berbeda Bermakna Kadar Kortisol (posttest) 0,000 Berbeda Bermakna
5.1.6 Uji komparabilitas
Uji komparabilitas pada penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar kelompok uji dan untuk membandingkan rerata immobility time dan kadar kortisol hewan uji sebelum dilakukan perlakuan (pretest) dan setelah diberi perlakuan (posttest).
Hasil Uji Least Significant Difference (LSD) antar Kelompok Pretest
Immobility Time
Beda Rerata p Interpretasi
Kontrol normal dan kontrol negatif 42,50 detik 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan kontrol positif 43,50 detik 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan ekstrak pandan wangi 10% 42,16 detik 0,000 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan kontrol positif 1,00 detik 0,271 Tidak berbeda bermakna Kontrol negatif dan ekstrak pandan wangi 10% 0,33 detik 0,710 Tidak berbeda bermakna Kontrol positif dan ekstrak pandan wangi 10% 1,33 detik 0,147 Tidak berbeda bermakna
Kortisol
Kontrol normal dan kontrol negatif 5,077 ng/ml 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan kontrol positif 5,124 ng/ml 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan ekstrak pandan wangi 10% 5,634 ng/ml 0,000 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan kontrol positif 0,047 ng/ml 0,870 Tidak berbeda bermakna Kontrol negatif dan ekstrak pandan wangi 10% 0,557 ng/ml 0,064 Tidak berbeda bermakna Kontrol positif dan ekstrak pandan wangi 10% 0,510 ng/ml 0,088 Tidak berbeda bermakna
Berdasarkan hasil analisis uji Least Significant Difference (LSD) pada data pretest immobility time dan kadar kortisol pretest, diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol normal dengan seluruh kelompok uji yang lain (kontrol negatif, kontrol, positif, kelompok perlakuan pandan wangi). Dapat dilihat juga bahwa kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, dan kelompok perlakuan daun pandan wangi tidak memiliki perbedaan yang bermakna satu sama lain dengan p>0,005. Dari data ini dapat dilihat bahwa induksi depresi yang dilakukan pada seluruh kelompok uji dapat meningkatkan immobility time dan kadar kortisol yang berbeda bermakna secara signifikan dengan kelompok normal. Peningkatan yang terjadi pada ketiga kelompok yang diinduksi depresi memiliki besar yang tidak berbeda bermakna satu sama lain, sehingga dapat diberikan perlakuan untuk pengujian selanjutnya.
0
Durasi Immobility Time Pada Pretest dan Posttest
Series1 Series2
P1 : Kontrol Normal P3 : Kontrol Positif (Amitriptilin) P2 : Kontrol Negatif P4 : Kelompok ekstrak pandan wangi 10%
Hasil Uji Least Significant Difference (LSD) Antar Kelompok Posttest
Immobility Time
Beda Rerata p Interpretasi
Kontrol normal dan kontrol negatif 45,50 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan kontrol positif 34,00 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan ekstrak pandan wangi 10% 11,33 0,000 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan kontrol positif 79,50 0,000 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan ekstrak pandan wangi 10% 56,83 0,000 Berbeda bermakna Kontrol positif dan ekstrak pandan wangi 10% 22,67 0,000 Berbeda bermakna
Kortisol
Kontrol normal dan kontrol negatif 5,595 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan kontrol positif 2,361 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan ekstrak pandan wangi 10% 1,264 0,001 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan kontrol positif 7,957 0,000 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan ekstrak pandan wangi 10% 6,86 0,000 Berbeda bermakna Kontrol positif dan ekstrak pandan wangi 10% 1,096 0,004 Berbeda bermakna
Berdasarkan Tabel 5.9 dapat dilihat pada data immobility time dan kadar kortisol posttest terdapat perbedaan yang bermakna antara seluruh kelompok uji satu sama lain dengan p<0,05. Dari data ini dapat dilihat bahwa setiap perlakuan yang diberikan memberikan hasil yang berbeda dengan perlakuan lainnya.
Gambar 5.1
Perbandingan Durasi Immobility Time Data Pretest dan Posttest
Keterangan:
Hasil analisis t-paired test data immobility time pretest dan posttest Imobility Time P1 pre-P1 post p=0,001 (berbeda bermakna) Imobility Time P2 pre-P2 post p=0,053 (tidak berbeda) Imobility Time P3 pre-P3 post p=0,000 (berbeda bermakna) Imobility Time P4 pre-P4 post p=0,000 (berbeda bermakna)
Pretest
seluruh kelompok uji setelah diberi perlakuan (posttest). Persentase penurunan immobility time tertinggi dapat dilihat terjadi pada kelompok kontrol positif (P3) dengan penurunan durasi immobility time sebesar 63,03%. Diikuti oleh penurunan sebesar 45,26% pada kelompok dengan pemberian ekstrak etanol daun pandan wangi 10% (P4), penurunan sebesar 6,23% pada kelompok kontrol normal dan penurunan sebesar 1,91% pada kelompok kontrol negatif.
Hasil uji komparabilitas dengan t-paired test pada data immobility time pretest dan posttest menunjukkan bahwa terdapat pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol normal (P1), kontrol positif (P3), dan kelompok perlakuan daun pandan wangi (P4) dengan p<0,05. Data immobility time pada kelompok kontrol negatif menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengaruh selama pretest dan posttest dengan p=0,053 (p>0,05).
Pada Gambar 5.2 berikut ini dapat dilihat bahwa terjadi perubahan kadar kortisol sebelum perlakuan pretest dan setelah perlakuan posttest pada seluruh kelompok uji. Persentase penurunan tertinggi terjadi pada kelompok kontrol positif dimana kadar kortisol menurun sebesar 38,54%. Pemberian ekstrak etanol daun pandan wangi 10% pada kelompok P4 juga memberikan penurunan terhadap kadar kortisol yaitu sebesar 33,24%. Pada kelompok normal yang tidak diberikan perlakuan apapun diperoleh penurunan kadar kortisol sebesar 3,92%, sedangkan pada kelompok kontrol negatif terjadi peningkatan kadar kortisol sebesar 0,76%.
P1 : Kontrol Normal P3 : Kontrol Positif (Amitriptilin) P2 : Kontrol Negatif P4 : Kelompok ekstrak pandan wangi 10%
0
Kadar Kortisol Pada Pretest dan Posttest
Series1 Series2
Gambar 5.2
Perbandingan Kadar Kortisol Pretest dan Posttest
Keterangan:
Hasil Analisis T-Paired test data immobility time pretest dan posttest Kadar Kortisol P1 pre-P1 post p=0,071 (tidak berbeda) Kadar Kortisol P2 pre-P2 post p=0,077 (tidak berbeda) Kadar Kortisol P3 pre-P3 post p=0,000 (berbeda bermakna) Kadar Kortisol P4 pre-P4 post p=0,000 (berbeda bermakna)
Sama seperti hasil analisis data pada immobility time hewan uji, analisis yang dilakukan terhadap kadar kortisol posttest juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara seluruh kelompok uji satu sama lain dengan p<0,05. Hasil analisis t-paired test menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh perlakuan terhadap kadar kortisol selama pretest dan posttest pada kelompok kontrol normal dan kelompok kontrol negatif dengan p>0,05. Pengaruh perlakuan terhadap kadar kortisol dapat dilihat pada kelompok kontrol positif dan kelompok dengan perlakuan ekstrak etanol daun pandan wangi 10% yang memberikan perbedaan signifikan dengan p<0,05, dimana terjadi penurunan kadar kortisol pada kedua kelompok perlakuan ini.
15,16
Pada penelitian ini digunakan subjek uji yaitu tikus jantan galur wistar dengan umur 2-3 bulan dan berat badan 150-250 gram. Jumlah tikus yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 28 ekor, yang dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan antara lain yaitu kelompok kontrol normal (P1), kelompok kontrol negatif (P2), kelompok kontrol positif (P3), dan kelompok ekstrak etanol daun pandan wangi 10% (P4). Dalam proses pengambilan darah, 1 ekor hewan uji pada kelompok kontrol mati, sehingga hanya digunakan data dari 6 ekor tikus pada tiap-tiap kelompok uji. Tikus putih dipilih sebagai hewan uji karena memiliki beberapa kemiripin secara fisiologis dengan tubuh manusia, murah, serta lebih mudah dalam pemeliharaan dan penanganannya. Pemilihan umur dan jenis kelamin tikus yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan untuk menghindari serta meminimalisir pengaruh hormonal yang mungkin terjadi pada hewan coba.
5.2.1 Uji aktivitas antidepresan
Pada penelitian ini aktivitas antidepresan diukur melalui penurunan immobility time serta penurunan kadar kortisol hewan uji, yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu setelah induksi depresi (pretest) dan setelah hewan uji diberikan perlakuan (posttest). Kelompok perlakuan dibagi menjadi empat kelompok yaitu kelompok kontrol normal, kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, dan kelompok dengan pemberian ekstrak pandan wangi 10%.
Kelompok normal yang tidak diberi induksi apapun dan tidak diberikan perlakuan, bertujuan agar dapat diketahui efek yang ditimbulkan ketika dilakukan induksi depresi terhadap immobility time dan kadar kortisol pada hewan uji pada pengambilan data pretest. Hasil data pretest dari kelompok normal, dapat
pandan wangi yang diberikan induksi depresi. Hasil yang diperoleh dari pengukuran pretest ini digunakan untuk mengetahui kondisi immobility time dan kadar kortisol hewan uji setelah dinduksi depresi, serta mengetahui kondisi immobility time dan kadar kortisol kontrol normal yang tidak diberikan induksi apapun.
Berdasarkan hasil analisis data pretest pada immobility time dan kadar kortisol, kelompok uji P2, P3, dan P4 diperoleh hasil yang tidak berbeda bermakna satu sama lain p>0,05, sehingga kondisi awal sebelum dilakukan perlakuan telah sama. Pada kontrol normal yang tidak dilakukan induksi depresi memiliki nilai immobility time dan kadar kortisol yang berbeda bermakna secara signifikan dengan kelompok P2, P3, dan P4 yang diinduksi depresi. Hasil yang diperoleh ini menunjukkan bahwa induksi yang dilakukan dengan tail suspention test mampu menimbulkan efek depresi dengan peningkatan nilai immobility time dan juga peningkatan kadar hormon kortisol.
Kelompok kontrol negatif, atau kelompok yang diberi induksi depresi dengan pemberian perlakuan placebo berupa CMC-Na bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada immobility time dan kadar kortisol setelah hewan uji diberikan perlakuan pada kelompok kontrol positif, dan kelompok pandan wangi.
Kelompok ini juga digunakan untuk mengetahui efek yang mungkin ditimbulkan dari pemberian CMC-Na sebagai pembawa. CMC-Na diharapkan tidak memberikan efek yang signifikan sebagai pelarut ketika digunakan pada pemberian amitriptilin sebagai kontrol positif dan ekstrak pandan wangi sebagai kelompok perlakuan.
penelitian ini untuk membandingkan efek yang mampu diberikan oleh kelompok dengan pemberian ekstrak pandan wangi terhadap efek yang ditimbulkan dengan pemberian amitriptilin sebagai salah satu sediaan obat yang telah ada dan menjadi pilihan terapi yang banyak digunakan pada pengobatan depresi.
5.2.1.1 Pengaruh ekstrak etanol daun pandan wangi terhadap immobility time
Hasil pengukuran durasi immobility time setelah perlakuan (posttest) pada keempat kelompok uji menunjukkan bahwa terdapat perubahan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan durasi immobility time sebelum perlakuan (pretest). Persentase penurunan durasi immobility time tertinggi yaitu pada kelompok kontrol positif (P3) sebesar 63,03%. Kelompok perlakuan dengan pemberian ekstrak etanol daun pandan wangi 10% memberikan persentase penurunan yaitu sebesar 45,26%. Kelompok kontrol normal dan kontrol negatif berturut-turut memiliki persentase penurunan sebesar 6,23% dan 1,91%.
Berdasarkan hasil statistik one-way ANOVA dan uji Least Significant Difference (LSD) diperoleh hasil yaitu terdapat perbedaan bermakna antara kelompok ekstrak pandan wangi 10% dengan seluruh kelompok uji (P1, P2, dan P3) dengan p<0,05. Kelompok perlakuan ekstrak daun pandan wangi 10% (P4) juga diketahui memiliki pengaruh yang signifikan dari perlakuan yang diberikan p<0,05 pada analisis t-paired test. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun pandan wangi 10% yang digunakan pada penelitian ini terbukti dapat menurunkan durasi immobility time pada hewan uji yang dinduksi depresi.
positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, polifenol, steroid, dan triterpenoid. Senyawa alkaloid menunjukkan aktivitas antidepresan dengan menurunkan kadar hormon adrenokortikotropik, menghambat enzim monoamine oksidase (MAO), berperan dalam peningkatan dari kadar serotonin dan BDNF level diotak (Fortunato et al., 2010; Lee at al., 2005; Mao et al., 2011). Polifenol dan flavonoid secara luas telah diketahui memiliki aktivitas sebagai antidepresan, yang bekerja dengan meningkatkan serotonin (5-HT), norepinefrin (NE), dan kadar BDNF otak (Yi et al., 2010, 2012, 2014). Flavonoid juga bekerja dengan menurunkan aktivitas monoamine oksidase (MAO). Steroid dan triterpenoid bekerja sebagai antidepresan dengan meningkatkan kadar norepineprin (NE) dan serotonin (5-HT) diotak, triterpernoid juga bekerja dengan meningkatkan monoamine pada otak (Tian et al., 2010; Machado et al., 2012).
Beberapa senyawa yang terkandung dalam pandan wangi tersebut kemungkinan bekerja dengan menghambat kerja dari enzim monoamine oksidase.
Hambatan ini mengakibatkan terjadinya peningkatan monoamine yang kemudian menyebabkan terjadinya peningkatan kadar epinefrin, norepinefrin, dan serotonin.
Efek yang ditimbulkan pada peningkatan kadar serotonin dan norepineprin diotak kemudian akan berimplikasi pada perbaikan suasana perasaan (mood), bertambahnya aktivitas fisik, peningkatan nafsu makan dan waktu tidur yang lebih baik (Syarif et al., 2011). Perbaikan ini pada kelompok ekstrak daun pandan wangi 10% dapat dilihat dari peningkatan aktivitas fisik, melalui penurunan immobility time yang diukur.
uji dinilai pada saat tidak bergerak di dalam air. Setiap hewan uji dinilai tidak bergerak ketika hewan tersebut telah berhenti berjuang, tetap mengambang bergerak di dalam air, dan hanya membuat gerakan-gerakan yang diperlukan untuk menjaga kepala diatas air (Zomkowski et al., 2004). Aktivitas antidepresan diukur ketika terjadi penurunan durasi immobility time atau penurunan durasi hewan uji ketika dalam keadaan pasrah/berhenti berjuang. Semakin rendah nilai immobility time dari hewan uji dapat diindikasikan bahwa hewan uji tidak sedang dalam kondisi depresi, sedangkan ketika dalam kondisi depresi akan terjadi peningkatan durasi immobility time/ keadaan putus asa pada hewan uji.
Beberapa penelitian juga telah membuktikan efek antidepresan yang ditimbulkan dari penurunan immobility time yang dilakukan pada hewan uji dengan metode forced swimming test. Senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, polifenol, steroid, dan triterpenoid disebutkan berperan terhadap penurunan immobility time melalui beberapa mekanisme yang berbeda (Bahramsoltani et al, 2015)
Ginkgo Biloba pada hewan uji tikus jantan, menunjukkan bahwa terdapat efek antidepresan melalui penurunan durasi immobility time pada metode forced swimming test yang dihasilkan pada pemberian ekstrak. Kandungan kimia yang dianggap bertanggung jawab terhadap efek ini yaitu kandungan flavonoid yang mencakup quercetin glikosida dan kaemferol glikosida. Beberapa studi menyebutkan bahwa efek antidepresan dari flavonoid ini menimbulkan efek positif pada forced swimming test. Flavonoid glikosida diperkirakan muncul dalam bentuk terkonjugasinya dalam aliran darah seperti glikosida kuercetin.
setelah pemberian oral. Flavonoid glikosida yang terkandung dalam ginkgo biloba bekerja dengan mencapai jaringan otak, dan kemudian memproteksi fungsi otak dari gangguan sistem saraf pusat (SSP), sehingga memberikan efek antidepresan.
Kandungan lain yang terdapat dalam ginkgo biloba dan diduga memiliki efek antidepresan adalah terpenoid, seperti bilobalide dan ginkgolida yang diketahui memiliki efikasi pada susunan saraf pusat. Teori Porsolt menjelaskan bahwa kadar monoamine di otak, seperti dopamine, norepinefrine merupakan faktor yang penting untuk menurunkan immobility time pada force swimming test (Sakakibara et al., 2006).
Pada penelitian lain yang melakukan uji antidepresan dengan ekstrak etanol bunga cengkeh diketahui bahwa terdapat efek antidepresan yang ditunjukkan dengan penurunan immobility time yang diperoleh. Ekstrak etanol bunga cengkeh mengandung flavonoid yang dinilai bertanggung jawab terhadap aktivitas yang diberikan melalui beberapa aktivitas farmakologi pada susunan saraf pusat, seperti menghambat reuptake dari monoamine neurotransmiter. Dilaporkan juga bahwa flavonoid menunjukkan efek penghambatan dari enzim monoamine-oxidase pada penelitian invitro (Mathiazhagan et al., 2013).
Beberapa jenis alkaloid pada tanaman Aconitum baicalense terbukti memiliki aktivitas antidepresan dengan durasi immobility time yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol tanpa pemberian apapun. Alkaloid pada tanaman ini dianggap memiliki aktivitas antidepresan dengan mengubah sensitivitas dari serotonin (Nesterova et al., 2011). Alkaloid lain yang diperoleh dari tanaman Piper longum juga dapat menurunkan durasi immobility time pada
meningkatkan kadar serotonin pada hipokampus dan juga frontal cortex pada tikus yang kemudian menimbulkan efek antidepresan (Mao et al., 2011).
Salah satu jenis terpenoid seperti genidipin yang merupakan moneterpen dari tanaman Gardenia jasminoides terbukti dapat menurunkan durasi immobility time pada forced swimming test yang dilakukan. Pemberian genidipin pada dosis 50, 100, dan 200 mg/kg selama 7 hari mampu meningkatkan kadar norepinefrine dan serotonin pada hipokampus tikus secara signifikan (Tian et al., 2010). Terpenoid lain yaitu ursolic acid yang merupakan salah satu isolasi triterpenoid dari tanaman Rosmarinus officinalis L. mampu secara signifikan menurunkan immobility time pada force swimming test yang dilakukan pada tikus jantan. Hasil ini diperkirakan karena ursolic mampu mengaktivasi reseptor dopamine (Machado et al., 2012).
Tanin yang diperoleh dari ekstrak air Teminalia chebula memberikan aktivitas antidepresan pada metode force swimming test. Tanin terbukti mampu memberikan durasi penurunan immobility time yang lebih baik dibandingan pemberian imipramine sebagai kontrol positif. Tanin menunjukkan efek seperti non selektif inhibitor monoamine-oksidase dengan meningkatkan kadar neutransmiter monoaminergic di otak, serta mampu menurunkan stres oksidatif yang diproduksi selama depresi (Shekar et al., 2012)
Saponin juga diketahui memiliki efek antidepresan, dimana ginsenosides pada dosis 10 mg/kg dari tanaman Panax notoginseng diketahui dapat menurunkan immobility time pada force swimming test secara signifikan.
Disebutkan juga bahwa ginsenoside mampu meningkatkan kadar serotonin, norepinefin, dan dopamine pada frontal cortex dan hipokampus otak. Berdasarkan
terkandung dari tanaman Panax ginseng dihubungkan dengan peningkatan kadar serotonin dan norepinefrin pada susunan saraf pusat, dan mempengaruhi sintesis dan metabolisme dari dopamine (Yao et al., 2012).
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dijelaskan diatas, dapat dikatakan bahwa efek antidepresan yang ditimbulkan diakibatkan karena beberapa kandungan metabolit (alkaloid, flavonoid, tanin, steroid, dan triterpenoid) yang terdapat pada ekstrak etanol daun pandan wangi dengan konsentrasi 10%. Efek yang ditimbulkan ini memberikan hasil yang cukup baik walaupun belum mampu memberikan persentase penurunan immobility time yang lebih besar dibandingkan kontrol positif (amitriptilin).
Kelompok kontrol positif yang diberikan treatment amitriptilin memiliki persentase penurunan immobility time tertinggi. Amitriptilin bekerja dengan menghambat ambilan kembali neurotransmiter di otak, dimana terjadi hambatan re-uptake dari noradrenalin dan serotonin di otak (Syarif et al., 2011). Perbaikan mood atau suasana hati yang dialami juga akan disertai dengan bertambahnya aktivitas fisik pada kondisi depresi. Pada hewan uji, perbaikan ini mengakibatkan terjadinya peningkatan aktivitas dari hewan uji ketika dilakukan force swimming test, dimana hewan uji cenderung bergerak lebih aktif didalam air untuk menyelamatkan diri dan tidak berada lama dalam kondisi diam/putus asa.
Pada kelompok normal yang tidak diberikan induksi apapun pada penelitian ini, juga diperoleh penurunan immobility time yang signifikan. Hal ini kemungkinan diakibatkan oleh kemampuan adaptasi dari hewan uji ketika posttest dilakukan, dimana perlakuan berupa forced swimming test telah dilakukan juga
induksi depresi pada kontrol normal, akan memiliki sel-sel dentat gyrus yang lebih baik jika dibandingkan dengan hewan uji yang diberi stressor. Sel dentat gyrus disini bertanggung jawab terhadap pembentukan memori, sehingga kemungkinan hewan uji dapat melakukan adaptasi dengan lebih baik terhadap perlakuan forced swimming test yang dilakukan.
Penurunan immobility time yang terjadi juga kemungkinan diakibatkan karena hewan uji telah lebih lama beradaptasi pada tempat tinggalnya yang baru ketika pengambilan data posttest, dibandingkan ketika pengambilan data pretest.
Ketersediaan makanan dan minuman dengan akses yang tidak terbatas juga dapat mempengaruhi kenyamanan hewan uji selama penelitian. Beberapa faktor ini yang mungkin mengakibatkan terjadinya peningkatan semangat bertahan hidup dan tidak putus asa dari hewan uji, yang diukur melalui penurunan durasi immobility time (Scharfman, 2007).
Berbeda halnya dengan kontrol normal, kelompok kontrol negatif memberikan durasi immobility time tertinggi, dengan persentase penurunan immobility time yang rendah dan tidak terdapat pengaruh perlakuan antara pretest dan posttest dengan p>0,05. Hasil ini mungkin diakibatkan karena induksi stress yang dilakukan tidak bersifat persisten dalam waktu yang lama sehingga kerusakan yang terjadi masih bersifat reversible. Secara normal tubuh memiliki mekanisme perbaikan sendiri untuk mengatasi induksi stres (Guyton dan Hall 2011) yang kemudian mengakibatkan terjadinya penurunan durasi immobility time pada kelompok kontrol negatif walaupun tidak berbeda bermakna dengan immobility time saat pretest dilakukan.
Hasil pengukuran kadar kortisol setelah perlakuan (posttest) pada keempat kelompok uji menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang cukup signifikan dari perlakuan yang diberikan. Persentase penurunan kadar kortisol tertinggi yaitu pada kelompok kontrol positif (P3) sebesar 38,54%. Kelompok perlakuan dengan pemberian ekstrak etanol daun pandan wangi 10% memberikan persentase penurunan yaitu sebesar 33,24%. Kelompok kontrol normal memiliki persentase penurunan sebesar 3,92% sedangkan kontrol negatif mengalami peningkatan kadar kortisol sebesar 0,76%.
Berdasarkan hasil statistik one-way ANOVA dan uji Least Significant Difference (LSD) diperoleh hasil yaitu terdapat perbedaan bermakna antara kelompok perlakuan ekstrak pandan wangi 10% dengan seluruh kelompok uji (P1, P2, dan P3) dengan p<0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun pandan wangi 10% mampu menurunkan kadar kortisol secara signifikan dibandingkan dengan kontrol negatif, walaupun belum dapat memberikan
Berdasarkan hasil statistik one-way ANOVA dan uji Least Significant Difference (LSD) diperoleh hasil yaitu terdapat perbedaan bermakna antara kelompok perlakuan ekstrak pandan wangi 10% dengan seluruh kelompok uji (P1, P2, dan P3) dengan p<0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun pandan wangi 10% mampu menurunkan kadar kortisol secara signifikan dibandingkan dengan kontrol negatif, walaupun belum dapat memberikan