BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Depresi
2.2.4 Mekanisme zat aktif daun pandan wangi (Pandanus
Daun pandan wangi memiliki beberapa komponen zat aktif yang pada tanaman lain memiliki mekanisme tersendiri sebagai antidepresan. Beberapa komponen zat aktif tersebut antara lain yaitu alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, dan terpenoid (Lopez dan Nonato, 2005).
Senyawa aktif golongan alkaloid telah lama diketahui memiliki salah satu khasiat sebagai stimulansia, dapat meningkatkan kesadaran dengan menstimulasi neuron (khususnya kolinergik) yang bertanggung jawab meningkatkan kesadaran.
Alkaloid memperlihatkan efek antidepresan sebagai invers agonis dari reseptor benzodiazepine, menurunkan kadar hormon adrenokortikotropic, menghambat enzim MAO, berperan dalam peningkatan dari kadar serotonin dan BDNF level diotak (Lee et al., 2005; Fortunato et al., 2010; Mao et al., 2011).
Beberapa derivat flavon pada daun pandan wangi dapat bertindak sebagai ligan pada reseptor GABA dalam susunan saraf pusat dan berikatan dengan benzodiazepin binding site sehingga menghasilkan efek antidepresan pada hewan uji (Marder dan Paladini, 2002). Flavonoid sendiri telah diteliti secara luas memiliki efek antidepresan. Flavonoid berperan dalam peningkatan kadar serotonin, norepinefrin dengan menurunkan aktivitas monoamine oksidase dan meningkatkan kadar BDNF seperti reseptor glukokortikoid serta dapat meningkatkan diferensiasi neuronal dan plasticity.
Tanin memberikan aktivitas antidepresan dengan meningkatkan kadar monoamine diotak serta memberikan efek neuroprotektif. Saponin menunjukkan efek antidepresan dengan meningkatkan kadar monoamine dan mempengaruhi mekanisme melalui jalur signaling BDNF, HPA axis, dan neurogenesis hipokampus (Shekar et al. 2012; Bahramsoltani et al., 2015).
Terpenoid memberikan efek antidepresan dengan melibatkan reseptor DA, D1 dan D2, tetapi tidak memiliki interaksi dengan reseptor noradrenergik atau jalur sintesis 5-HT. Terpenoid juga bekerja dengan meningkatkan kadar NE dan 5-HT di otak (Bahramsoltani et al., 2015).
3.1 Kerangka Berpikir
Depresi merupakan gangguan heterogen yang berkaitan dengan alam perasaan, emosional dan jiwa. Pengobatan depresi hingga kini menggunakan obat-obatan antidepresan dengan berbagai efek samping yang cukup mengganggu pasien terutama dalam pemakaian jangka panjang.
Pada depresi terjadi ketidaknormalan pada kadar serotonin, norepinefrin, dan dopamin pada darah, urin, serta cairan serebrospinalis, dan perubahan hormon seperti peningkatan kadar kortisol. Tujuan utama dari terapi pada depresi yaitu untuk mengembalikan abnormalitas yang terjadi, dengan meningkatkan ketersediaan monoamine melalui inhibisi aktivitas serotonin transporter (SERT), norepinefrin transpoter (NET), atau kedua pengangkut monoamin, serta dengan inhibisi penguraian enzimatik monoamin oksidase.
Salah satu bahan alami yang diduga memiliki aktivitas antidepresan yaitu ekstrak etanol daun pandan wangi. Ekstrak daun pandan wangi diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder yang pada tanaman lain telah dibuktikan memiliki aktivitas antidepresan. Berbagai metabolit sekunder tersebut antara lain yaitu alkaloid, flavonoid, glikosida, lignan, saponin dan terpenoid, dengan mekanisme kerja yang hampir menyerupai efek pada pemberian amitriptilin.
Alkaloid diketahui melakukan penghambatan terhadap enzim monoamine
axis. Flavonoid bekerja dengan mempengaruhi peningkatan serotonin, norepinefrin, dan kadar BDNF, serta menurunkan aktivitas monoamine oxidase.
Kuersetin bekerja dengan menurunkan biomarker dari inflamasi, seperti TNF-α dan IL-6, serta menunjukkan efek neuroprotektif. Tanin mampu meningkatkan kadar monoamine di otak dan memberikan efek neuroprotektif. Saponin diketahui mempengaruhi jalur signaling BDNF, HPA axis, serta meningkatkan kadar monoamin. Terpenoid bekerja dengan melibatkan reseptor dopamin, serta meningkatkan kadar norepinefrine otak dan kandungan serotonine.
Berdasarkan aktivitas farmakologi dari beberapa metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak daun pandan wangi tesebut, diduga ekstrak daun pandan wangi dapat memberikan aktivitas antidepresan yang cukup baik.
3.2 Konsep Penelitian
Keterangan:
: tidak diteliti : diteliti 3.3 Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini antara lain:
1. Ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.) 10%
dapat menurunkan immobility time tikus jantan galur wistar yang depresi.
2. Ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.) 10%
dapat menurunkan kadar kortisol tikus jantan galur wistar yang depresi.
Ekstrak Etanol Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius (R.)
Faktor Internal:
- Genetik - Biologi - Psikososial
Faktor Eksternal - Obat
- Herbal
Tikus Depresi - Immobility time - Kadar Kortisol
4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan suatu penelitian eksperimental laboratorik dengan menggunakan pretest-postest control group design. Secara garis besar rancangan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Gambar 4.1
TST : Metode induksi depresi dengan Tail Suspention Test
O1 : Observasi pretest immobility time dan kadar kortisol kelompok P1 O3 : Observasi pretest immobility time dan kadar kortisol kelompok P2
O5 : Observasi pretest immobility time dan kadar kortisol kelompok P3
O7 : Observasi pretest immobility time dan kadar kortisol kelompok P4 O2 : Observasi posttest immobility time dan kadar kortisol kelompok P1 O4 : Observasi posttest immobility time dan kadar kortisol kelompok P2 O6 : Observasi posttest immobility time dan kadar kortisol kelompok P3 O8 : Observasi posttest immobility time dan kadar kortisol kelompok P4
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat penelitian
Penelitian dilaksanakan dibeberapa tempat seperti berikut :
1. Determinasi tanaman pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.): di UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Eka Karya Bali.
2. Pembuatan ekstrak etanol 96% daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.): di Laboratorium Farmakognosi dan Fitofarmasi Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana.
3. Uji aktivitas antidepresan ekstrak etanol 96% daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.): di Animal Laboratorium Unit Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana.
4. Analisis kadar kortisol: Di Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
4.2.2 Waktu penelitian
Penelitian dilakukan pada Bulan September 2015-Mei 2016.
4.3 Penentuan Sumber Data 4.3.1 Besar sampel
Perhitungan besar sampel dihitung berdasarkan rumus Frederer (Hanafiah, 2004).
Rumus:
(n-1) (r-1) ≥ 15 (n-1) (4-1) ≥ 15 (n-1) ≥ 5 n ≥ 6 Keterangan :
n : jumlah ulangan (replikasi) r : jumlah perlakuan
Berdasarkan perhitungan diatas, besar sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 6 per kelompok. Untuk menghindari drop out pada sampel ditambahkan 20% sehingga jumlah sampel menjadi 7. Jadi jumlah sampel seluruhnya adalah 28 ekor.
4.3.2 Kriteria sampel
Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus galur Wistar yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
Kriteria Inklusi:
a. Tikus putih jantan depresi b. Memiliki umur 2-3 bulan
c. Berat badan tikus berkisar 150-250 gram
Kriteria drop out subjek penelitian a. Tikus mati/sakit saat penelitian 4.4 Variabel Penelitian
4.4.1 Variabel bebas
Pemberian ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.) 10%.
4.4.2 Variabel terikat
Immobility time, kadar kortisol.
4.4.3 Variabel terkendali
Tikus (galur, jenis kelamin, umur, berat badan, sehat), asal tanaman, bagian tanaman yang digunakan.
4.5 Definisi Operasional
1. Ekstrak etanol daun pandan wangi adalah ekstrak kental yang dibuat dari hasil maserasi daun pandan wangi menggunakan pelarut etanol 96%, pada suhu kamar, dengan konsentrasi ekstrak 10%.
2. Tikus depresi merupakan tikus jantan galur wistar sehat yang mengalami peningkatan immobility time dan kadar kortisol setelah diinduksi depresi dengan metode tail suspetion test, dimana ekor tikus digantung pada tiang dengan ketinggian 50 cm selama 3 menit setiap hari dalam 10 hari.
3. Immobility time merupakan waktu putus asa tikus yang diukur menggunakan metode force swimming test saat hewan tidak bergerak didalam air, dengan satuan detik diukur pada hari ke-10 (pretest) dan hari ke-25 (posttest).
4. Kadar kortisol adalah kadar kortisol darah tikus yang diukur pada pagi hari, pada hari ke-10 (pretest) dan hari ke-25 (posttest) dengan metode enzyme immune assay (ELISA) dalam satuan ng/ml.
4.6 Alat dan Bahan Penelitian 4.6.1 Alat penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pipet tetes, batang pengaduk, sendok tanduk, cawan porselen, gelas ukur, gelas beker, termometer, timbangan elektrik (ADAM AFP-360L), vacum rotary evaporator, toples tanpa tutup, stopwatch, kandang plastik, ember, tiang penggantung, tabung transparan, ELISA reader.
4.6.2 Bahan penelitian
Bahan tanaman yang digunakan yaitu daun pandan wangi yang berasal dari wilayah Abiansemal, Bali. Pelarut yang digunakan dalam proses maserasi daun pandan wangi adalah etanol 96% (teknis, Brataco). Bahan yang digunakan dalam proses pengujian aktivitas antidepresan yaitu amitriptilin tablet 25 mg, ektrak etanol daun pandan wangi, aquadest, CMC-Na, ELISA Sigma Aldrich Kortisol Kitt.
4.7 Prosedur Penelitian 4.7.1 Determinasi tanaman
Determinasi daun pandan wangi dilakukan di Balai Konservasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Bali.
4.7.2 Pengumpulan dan preparasi sampel
Sampel yang digunakan merupakan daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.) yang dipanen dari kawasan Abiansemal, Badung Bali. Daun pandan yang dipilih yaitu daun segar yang memiliki warna hijau tua dan ukuran yang relatif sama.
4.7.3 Pembuatan ekstrak etanol daun pandan wangi
Daun pandan wangi segar yang telah dikumpulkan, dibersihkan terlebih dahulu dan dipilih daun yang memenuhi persyaratan sebagai simplisia. Daun pandan wangi selanjutnya diiris tipis, dan dirajang hingga menyerupai serbuk.
Serbuk simplisia segar dari daun pandan wangi kemudian ditimbang sebanyak 100 gram untuk dilakukan proses maserasi dengan 300 mL etanol 96%. Ekstrak yang diperoleh kemudian diuapkan menggunakan vacum rotary evaporator pada suhu 40°C hingga diperoleh ekstrak kental (Agustiningsih, 2010).
4.7.4 Skrining fitokimia ekstrak etanol daun pandan wangi
Uji fitokimia pada ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.) meliputi pemeriksaan alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, polifenol, steroid dan triterpenoid.
A. Pembuatan larutan uji fitokimia
Pembuatan larutan uji untuk skrining fitokimia dilakukan dengan melarutkan 500 mg ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.) dalam 50 mL etanol 96%.
B. Pemeriksaan alkaloid
Sebanyak 2 mL larutan ekstrak uji diuapkan diatas cawan porselin hingga diperoleh residu. Residu kemudian dilarutkan dengan 5 mL HCL 2N. Larutan yang didapat kemudian di bagi ke dalam 3 tabung reaksi. Tabung pertama ditambahkan dengan asam encer yang berfungsi sebagai blanko. Tabung kedua ditambahkan pereaksi Dragendroff sebanyak 3 tetes dan tabung ketiga ditambahkan pereaksi Mayer sebanyak 3 tetes. Terbentuknya endapan jingga pada tabung kedua dan endapan kuning pada tabung ketiga menunjukkan adanya alkaloid (Tiwari et al., 2011).
C. Pemeriksaan flavonoid
Sebanyak 1 mL larutan ekstrak uji, basahkan sisanya dengan aseton P, tambahkan sedikit serbuk halus asam borat P dan serbuk halus asam oksalat P, panaskan hati-hati diatas tangas air dan hindari pemanasan berlebihan. Campur sisa yang diperoleh dengan 10 mL eter P. Amati dengan sinar UV 366 nm; larutan berfluoresensi kuning intensif, menunjukkan adanya flavonoid (Tiwari et al., 2011).
D. Pemeriksaan saponin
Sebanyak 10 mL larutan ekstrak uji dalam tabung reaksi dikocok vertikal selama 10 detik kemudian dibiarkan selama 10 detik. Pembentukan busa setinggi 1-10 cm yang stabil selama tidak kurang dari 10 menit, menunjukkan adanya saponin. Pada penambahan 1 tetes HCL 2N, busa tidak hilang (Tiwari et al., 2011).
E. Pemeriksaan tanin dan polifenol
Sebanyak 3 mL larutan ekstrak uji dibagi kedalam 3 bagian yaitu tabung A, tabung B, tabung C. Tabung A digunakan sebagai blanko, tabung B direaksikan dengan larutan besi (III) klorida 10%, warna biru tua atau hitam kehijauan menunjukkan adanya tanin dan polifenol, sedangkan pada tabung C hanya ditambahkan garam gelatin. Apabila terbentuk endapan pada tabung C maka larutan ekstrak positif mengandung tanin (Marliana et al., 2005; Tiwari et al., 2011).
F. Pemeriksaan steroid dan triterpenoid
Pemeriksaan steroid dan triterpenoid dilakukan dengan reaksi Lieberman-Burchard. Sebanyak 2 mL larutan uji diuapkan dalam cawan penguap.
Residu dilarutkan dengan 0,5 mL kloroform, tambahkan 0,5 mL asam asetat anhidrat. Selanjutnya ditambahkan 2 mL asam sulfat pekat melalui dinding tabung. Terbentuknya cincin kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan menunjukkan adanya triterpenoid, sedangkan bila muncul cincin biru kehijauan menunjukkan adanya steroid (Tiwari et al., 2011).
4.7.5 Uji aktivitas antidepresan ekstrak etanol daun pandan wangi
Uji aktivitas antidepresan dilakukan dengan menggunakan metode tail suspension test dan force swimming test. Hewan yang telah diadaptasi selama 1 minggu dibuat stress dengan cara menggantung ekor tikus (tail suspension test) selama 3 menit dalam 10 hari, kemudian ekstrak etanol daun pandan wangi diberikan selama 14 hari pada hari ke 11 sampai hari ke 25 dan selanjutnya diukur immobility time seluruh kelompok dengan metode force swimming test.
Pemeriksaan juga dilakukan terhadap kadar kortisol dari hewan uji dengan metode Enzyme-Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA).
A. Pengelompokan subjek uji
Pada penelitian ini digunakan 28 ekor hewan uji yang dibagi menjadi 4 kelompok masing-masing kelompok terdiri atas 7 ekor tikus.
a. Kelompok perlakuan 1 (P1) : kelompok tikus normal yang tidak memperoleh induksi depresi dan tidak memperoleh perlakuan.
b. Kelompok perlakuan 2 (P2) : kelompok tikus depresi yang memperoleh pemberian placebo CMC-Na 1%.
c. Kelompok perlakuan 3 (P3) : kelompok tikus depresi yang memperoleh pemberian amitriptilin dalam pelarut CMC-Na 1%.
d. Kelompok perlakuan 4 (P4) : kelompok tikus depresi yang memperoleh pemberian ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius R.) 10% dalam pelarut CMC-Na 1%.
B. Perlakuan hewan uji
Tikus putih jantan galur Wistar yang digunakan diadaptasi terlebih dahulu selama satu minggu dalam kandang plastik dengan ukuran ±1200 cm2 dengan alas berupa sekam yang bagian atasnya diberi kawat sebagai penutup. Hewan uji diberi pakan berupa pellet dengan memperhatikan kadar protein 20-25%, lemak 5%, pati 40-45%, serat kasar 5%, vitamin serta mineral. Setiap harinya tikus yang digunakan dalam penelitian diberi makan antara 12-20 gram serta diberikan air ad libitum (Smith dan Mangkoewidjojo, 2000). Adapun metode euthanasia yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan metode kimia, dimana hewan uji
diberikan ketamine dengan dosis tiga kali dosis untuk mencapai efek anestesi atau dua kali dosis LD50.
C. Penentuan dosis
a. Penentuan dosis ekstrak etanol daun pandan wangi
Ekstrak daun pandan wangi diberikan secara peroral satu kali sehari pada hewan uji. Ekstrak daun pandan wangi yang diberikan yaitu dengan konsentrasi 10% dalam pensuspensi CMC-Na 1%
Perhitungan pembuatan ekstrak daun pandan wangi:
Pembuatan larutan CMC Na 1% sebagai pelarut: 1 𝑔 𝐶𝑀𝐶 𝑁𝑎 100 𝑚𝐿 𝑎𝑖𝑟
Pembuatan larutan stok ekstrak konsentrasi 10% : 10 𝑔 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘
100 𝑚𝐿 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝐶𝑀𝐶 𝑁𝑎 1%
Volume cairan maksimal yang dapat diberikan pada tikus putih yaitu 5mL/200 g BB (Ngatidjan, 2006).
b. Penentuan dosis amitriptilin
Pada penelitian ini obat antidepresan yang digunakan yaitu amitriprilin sebagai kontrol positif. Dosis lazim yang digunakan untuk manusia dewasa yaitu 25 mg. Faktor konversi dari manusia (70 kg) ke tikus (200 g) adalah 0,018, maka dosis yang diberikan kepada tikus yaitu :
70
50× 25 mg × 0,018 = 0,63 mg/200 gBB
Berdasarkan perhitungan tersebut maka dosis amitriptilin yang diberikan pada tikus uji yaitu 0,63 mg/ 200 gBB.
D. Tail suspention test
Uji penggantungan ekor (tail suspension test) dilakukan pada hewan uji yang digunakan dengan cara menggantung ekor tikus pada tiang setinggi 50 cm selama 3 menit setiap hari, dimana perlakuan ini dilakukan selama 10 hari (Swati et al., 2013).
E. Uji berenang paksa (Force Swimming Test)
Force swimming test merupakan salah satu metode yang biasa digunakan untuk mengukur efek suatu obat antidepresan pada hewan uji. Khasiat dari suatu obat antidepresan diukur melalui lama immobility time yang lebih singkat dibandingkan dengan kelompok uji yang tidak diberikan obat antidepresan atau ekstrak yang berfungsi sebagai antidepresan (Swati et al., 2013).
Hewan coba yang telah diinduksi depresi dimasukkan ke dalam tabung terbuka (diameter 10 cm, tinggi 25 cm) yang berisi air dengan ketinggian 15 cm.
Tes ini berdurasi selama 8 menit dan dilakukan pengukuran immobility time pada 6 menit terakhir (Swati et al., 2013).
Pengukuran immobility time dinilai pada saat hewan uji tidak bergerak di dalam air. Setiap hewan uji itu dinilai tidak bergerak ketika berhenti berjuang dan tetap mengambang bergerak di dalam air, hanya membuat gerakan-gerakan diperlukan untuk menjaga kepala diatas air. Penurunan durasi immobility time selama forced swimming test (FST) dapat diambil sebagai tanda ukuran antidepresan (Zomkowski et al., 2004).
F. Pengukuran kadar kortisol
Konsentrasi kortisol dari serum darah hewan uji diukur dengan metode Enzyme-Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA). Hewan uji dianestesi terlebih dahulu menggunakan ketamine dengan dosis 50 mg/kg BB secara intramuscular (Santoso, 2011). Pengambilan darah dilakukan melalui jantung pada pagi hari sebanyak ± 1 mL, pada hari ke 10 setelah induksi depresi dilakukan dan hari ke 25 setelah perlakuan uji selesai.
a. Preparasi sampel
Darah yang telah diambil dari hewan uji dimasukkan kedalam tabung eppendorf dan dilakukan pemusingan (sentrifugasi) selama 15 menit dengan kecepatan 6000 rpm. Dilakukan pemisahan, dan diambil bagian yang berada di lapisan atas (serum) untuk analisis pemeriksaan kortisol. Serum disimpan sebelum dianalisis pada suhu -20˚ dalam lemari pendingin.
b. Pengukuran kuantitatif dengan metode ELISA
Serum yang telah diperoleh dilakukan pengukuran dengan metode ELISA.
Persiapan awal dalam pengukuran ini yaitu memastikan semua reagen berada pada temperatur 2-8˚C sebelum digunakan. Didalam mikroplate yang digunakan telah dilakukan coated antibodi monoklonal yang spesifik terhadap kortisol.
Sampel, kortisol standar, dan kontrol sebanyak 25 µL kemudian dimasukkan kedalam well, dilakukan penambahan kortisol enzim konjugat 100µL ke dalam masing-masing well, dan dilakukan inkubasi selama 60 menit pada suhu ruangan (18-26˚C). Proses selanjutnya yaitu pencucian sebanyak 3 kali, dengan larutan pencuci buffer sebanyak 300 µL untuk tiap 1 kali proses pencucian. Ditambahkan
100 µL antibody biotinylated (TMB) pada seluruh well dan diinkubasi kembali selama 15 menit pada suhu ruangan (18-26˚C) pada temperatur ruangan. Tahapan selanjutnya yaitu dilakukan pengeringan dengan kertas pengering khusus, dan ditambahkan larutan stop solution pada seluruh well sebanyak 50 µL, dilakukan pengocokan perlahan pada plate agar larutan tercampur, dan didiamkan selama 20 menit. Pada tahapan akhir dilakukan pembacaan dengan ELISA reader pada panjang gelombang 450 nm.
4.8 Analisis Data
Pada penelitian ini dilakukan analisis data secara statistik menggunakan aplikasi SPSS 16 for Windows. Data yang diperoleh seperti immobility time dan kadar kortisol dianalisis dengan langkah sebagai berikut:
1. Analisis deskriptif
Berdasarkan analisis deskriptif diperoleh nilai rerata dan standar deviasi (SD) tiap variabel dari masing-masing kelompok perlakuan.
2. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan uji Shapiro Wilk karena sampel yang digunakan < 30. Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Data ini berdistribusi normal dengan nilai p > 0,05.
3. Uji Homogenitas
Pengujian homogenitas dilakukan dengan Levene’s test yang bertujuan untuk mengetahui homogenitas atau varian data yang diperoleh. Varian data ini homogen dengan nilai p > 0,05.
4. Uji Komparasi
a. One-way analysis of variance
Analisis Anova dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar kelompok uji, dimana α=0,05. Pada penelitian ini dilakukan analisis Anova karena data yang diperoleh memenuhi syarat terdistribusi normal dan homogen.
b. Uji Least Significant Difference (LSD).
Uji ini dilakukan untuk mengetahui pada kelompok mana yang memiliki perbedaan rerata durasi immobility time dan kadar kortisol.
c. T-paired test
Pada data pretest dan posttest yang diperoleh selanjutnya dilakukan uji komparasi pada tiap kelompok perlakuan, untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan dilakukan.
4.9 Alur Penelitian
Gambar 4.2.
Skema Kerja Penelitian 28 Ekor Tikus Jantan Galur Wistar
Tumbuhaapoteken Tikus diadaptasi selama 7 hari
P1
Induksi Depresi dengan Tail Suspention Test
Pretest Immobility Time dan Kadar Kortisol
Analisis data Perlakuan selama 14 hari:
P1 : tidak diberi perlakuan P2 : CMC-Na
P3 : amitriprilin
P4 : ekstrak etanol daun pandan wangi 10%
Posttest Immobility Time dan Kadar Kortisol
5.1.1 Hasil skrining fitokimia
Tabel 5.1
Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol 96% Daun Pandan Wangi
(aTiwari et al., 2011)
Keterangan: (+) = mengandung senyawa yang dimaksud; (-) = tidak mengandung senyawa yang dimaksud
5.1.2 Analisis desktiptif
Tabel 5.2
Data Immobility Time Pretest dan Posttest
Pretest Kontrol normal Kontrol negatif Kontrol positif
n Rerata (detik) Standar Deviasi
6 88,17 0,47
No Uji Fitokimia Pustaka Hasil Kesimpulan
1. Alkaloid aTerbentuk endapan jingga (pereaksi Dragendroff) 2 Flavonoid aFluoresensi kuning intensif pada UV 366
nm
fluoresensi kuning intensif
(+) 3 Saponin aAdanya busa yang bertahan <10 menin
setinggi 1-10 cm dan busa tidak hilang setelah penambahan 1 tetes HCL 2N
Terbentuk busa Polifenol aBiru tua/hitam
kehijauan
Hitam Kehijauan (+) 5. Steroid dan
triterpenoid
Steroid aTerbentuk cincin biru kehijauan
Terbentuk cincin biu kehijauan
(+) Triterpenoid aTerbentuk cincin
kecoklatan atau violet
Terbentuk cincin kecoklatan/violet
(+)
Data Kadar Kortisol Pretest dan Posttest
Pretest Kontrol normal
n Rerata (ng/mL) Standar Deviasi
6 15,36 0,16
5.1.3 Uji normalitas data
Pada penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan uji Shapiro Wilk karena sampel yang digunakan kurang dari 30. Data immobility time dan kadar kortisol sebelum perlakuan (pretest) dan sesudah perlakuan (posttest) diuji normalitasnya, dan diperoleh data berdistribusi normal dengan p>0,05. Hasil uji normalitas data immobility time dapat dilihat pada Tabel 5.4 dan hasil uji normalitas data kadar kortisol dapat dihat pada Tabel 5.5
Tabel 5.4
Hasil Uji Normalitas Data Immobility Time
Parameter n p Keterangan
Immobility Time Kelompok normal (pretest) 6 0,421 Normal Immobility Time Kelompok normal (posttest) 6 0,473 Normal Immobility Time Kontrol negatif (pretest) 6 0,212 Normal Immobility Time Kontrol negatif (posttest) 6 0,804 Normal Immobility Time Kontrol positif (pretest) 6 0,505 Normal Immobility Time Kontrol positif (posttest) 6 0,091 Normal Immobility Time Perlakuan pandan wangi (pretest) 6 0,918 Normal Immobility Time Perlakuan pandan wangi (posttest) 6 0,415 Normal
Tabel 5.5
Hasil Uji Normalitas Data Kadar Kortisol
Parameter n p Keterangan
Kadar Kortisol Kelompok normal (pretest) 6 0,186 Normal Kadar Kortisol Kelompok normal (posttest) 6 0,942 Normal Kadar Kortisol Kontrol negatif (pretest) 6 0,411 Normal Kadar Kortisol Kontrol negatif (posttest) 6 0,200 Normal Kadar Kortisol Kontrol positif (pretest) 6 0,069 Normal Kadar Kortisol Kontrol positif (posttest) 6 0,066 Normal Kadar Kortisol Perlakuan pandan wangi (pretest) 6 0,958 Normal Kadar Kortisol Perlakuan pandan wangi (posttest) 6 0,213 Normal
Uji homogenitas pada data immobility time dan kadar kortisol dilakukan dengan Levene’s Test. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.6 dapat dikatakan bahwa data yang diperoleh homogen dengan p>0,05.
Tabel 5.6
Hasil Uji Homogenitas Data Immobility Time dan Kadar Kortisol
p Keterangan
Immobility Time (pretest) 0,750 Homogen
Kadar Kortisol (pretest) 0,703 Homogen
Immobility Time (posttest) 0,438 Homogen
Kadar Kortisol (posttest) 0,115 Homogen
5.1.5 Hasil analisis one way anova
Berdasarkan hasil analisis dengan one-way anova pada Tabel 5.7 diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada durasi immobility time dan kadar kortisol pada seluruh kelompok uji.
Tabel 5.7
Hasil Uji One-Way Anova Data Immobility Time dan Kadar Kortisol
Parameter p Keterangan
Immobility Time (pretest) 0,000 Berbeda Bermakna Kadar Kortisol (pretest) 0,000 Berbeda Bermakna Immobility Time (posttest) 0,000 Berbeda Bermakna Kadar Kortisol (posttest) 0,000 Berbeda Bermakna
5.1.6 Uji komparabilitas
Uji komparabilitas pada penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar kelompok uji dan untuk membandingkan rerata immobility time dan kadar kortisol hewan uji sebelum dilakukan perlakuan (pretest) dan setelah diberi perlakuan (posttest).
Hasil Uji Least Significant Difference (LSD) antar Kelompok Pretest
Immobility Time
Beda Rerata p Interpretasi
Kontrol normal dan kontrol negatif 42,50 detik 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan kontrol positif 43,50 detik 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan ekstrak pandan wangi 10% 42,16 detik 0,000 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan kontrol positif 1,00 detik 0,271 Tidak berbeda bermakna Kontrol negatif dan ekstrak pandan wangi 10% 0,33 detik 0,710 Tidak berbeda bermakna
Kontrol normal dan kontrol negatif 42,50 detik 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan kontrol positif 43,50 detik 0,000 Berbeda bermakna Kontrol normal dan ekstrak pandan wangi 10% 42,16 detik 0,000 Berbeda bermakna Kontrol negatif dan kontrol positif 1,00 detik 0,271 Tidak berbeda bermakna Kontrol negatif dan ekstrak pandan wangi 10% 0,33 detik 0,710 Tidak berbeda bermakna