KEWAJIBAN BERSAMA ANTARA SUAMI DAN ISTERI
4) Kritik Matan
Kritik matan selanjutnya mengacu pada langkah-langkah metodologis yang dirumuskan Syuhudi Ismail dalam mengkaji kualitas matan. Pertama, meneliti matan dengan melihat kualitas sanadnya. Kedua, meneliti susunan lafal berbagai matan yang semakna. Ketiga, meneliti kandungan matan.
Langkah pertama, kajian sanad menunjukkan bahwa hadis yang tengah diteliti berkualitas sahih dari segi sanad sehingga dapat dilanjutkan pada langkah penelitian matan yakni meneliti varian matan semakna.
Langkah kedua, meneliti susunan lafal matan yang semakna. Secara praktis, lafal hadis yang diteliti dibandingkan dengan lafal hadis lainnya yang semakna. Ada empat jalur sanad dengan redaksi semakna yang akan dibandingkan yakni redaksi Sunan Abu> Da>ud, Ibn Ma>jah, Musnad Ah}mad ibn H{anbal dan satu jalur dari al-T{abari>. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui apakah matan tersebut diriwayatkan secara maknawi atau dengan lafal. Disamping itu juga akan diketahui apakah terjadi idra>j, ziya>dah, taqli>b atau unsur lainnya yang terdapat pada matan yang tengah diteliti.
Pada jalur redaksi al-T{abari>, seluruh kata kerja menggunakan kata penunjuk dia (d}ami>r huwa). Hal ini berbeda dengan dua matan lainnya dari riwayat Abu> Da>ud
dan Ah}mad ibn H{anbal yang menggunakan kata penunjuk kamu
(d}ami>r anta) namun memiliki kesamaan dengan jalur dari Ibn Ma>jah. Perbedaan lainnya adalah adanya penambahan kata berupa pengulangan dari bentuk kata kerja pada seluruh jalur sanad. Penambahan kata tersebut tidak ditemukan pada jalur
al-T{abari>. Dengan penambahan kata tersebut, redaksi jalur Abu> Da>ud, misalnya, berbunyi ‘an tut}‘imaha> iz\a> t}a‘imta wa taksu>ha> iz\a iktasaita’. Demikian juga yang ada pada redaksi jalur sanad lainnya. Meski berbeda redaksi antara jalur al-T{abari> dengan jalur sanad lainnya namun secara substansi memiliki makna yang sama sehingga dapat dinyatakan tidak terjadi pertentangan makna.
Setelah meneliti keseluruhan matan diketahui bahwa antara satu jalur sanad dengan sanad lainnya memiliki redaksi yang berbeda. Hal ini menunjukkan hadis tersebut diriwayatkan secara maknawi. Periwayatan dengan makna dapat diterima selama substansinya tidak bertentangan dengan muatan dari redaksi jalur sanad lainnya. Redaksi al-T{{abari> di atas berbeda dengan redaksi dari seluruh jalur sanad yang diteliti. Perbedaan terletak pada adanya penggunaan dan penambahan kata di jalur sanad lain.
Langkah ketiga, meneliti kandungan matan. Dalam hal ini, M. Syuhudi memfokuskan penelitian pada ada tidaknya kemungkinan hadis yang diteliti bertentangan dengan sejumlah dalil. Sementara itu, al-Ad}labi> mengusulkan empat hal sebagai indikator yang dijadikan tolok ukur untuk menilai kualitas kandungan matan, yakni: tidak ada pertentangan dengan Alquran, hadis yang lebih sahih, akal atau fakta sejarah dan hadis tersebut menunjukkan sabda kenabian.32 Dalam penelitian ini dan penelitian hadis selanjutnya, analisis kandungan matan difokuskan pada ada atau tidaknya pertentangan antara hadis yang diteliti dengan dalil keagamaan yang lebih kuat yakni Alquran dan hadis sahih. Hal ini disebabkan kajian hak dan kewajiban suami isteri telah menjadi objek kajian hukum keluarga kecuali
32Lihat, S}ala>h Di>n Ah}mad Adlabi>, Manhaj Naqd Matan ‘Inda ‘Ulama> H{adi>s\
apabila ada indikasi bahwa kandungan hadis tersebut terkait erat dengan objek keilmuan lainnya maka digunakan analisis rasional atau sejarah.
Hadis di atas memuat lima hal yang menjadi hak isteri atas suami. Dua hal menyangkut perintah dan menjadi kewajiban suami yakni memberi makan dan pakaian pada isteri sedang tiga hal lainnya terkait tindakan yang dilarang untuk dilakukan terhadap isteri yakni memukul wajah, menjelek-jelekan isteri dan mengasingkannya ke tempat lain selain rumah dimana suami tinggal. Dalam undang-undang tentang perlindungan seseorang dari kekerasan dalam rumah tangga, bahasa larangan yang digunakan Nabi saw. tersebut dapat disejajarkan dengan perlindungan isteri dari kekerasan fisik, psikologis dan ekonomi. Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat. Kekerasan psikis atau emosional adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemauan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan penderitaan psikis berat. Termasuk tindakan kekerasan emosional adalah menghina, komentar yang menyakitkan dan merendahkan harga diri, mengisolir isteri dari dunia luar, mengancam, dan menakut-nakuti. Kekerasan Ekonomi atau Penelantaran Rumah Tangga adalah tidak melaksanakan kewajiban hukumnya terhadap orang dalam lingkup rumah tangga berupa mengabaikan memberikan kewajiban kehidupan,
perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut.33
Dalam hubungan pergaulan suami isteri, Alquran menyebutkan etika umum yang berlaku bagi kedua belah pihak yakni untuk saling memperlakukan pasangannya dengan baik. Terkait hal ini, Q.S. al-Nisa>’/4: 19 menyatakan:
…
ﱠﻦُﻫوُﺮِﺷﺎَﻋ
ِفوُﺮْﻌَﻤْﻟﺎِﺑ
ْنِﺈَﻓ
ﱠﻦُﻫﻮُﻤُﺘْﻫِﺮَﻛ
ﻰَﺴَﻌَـﻓ
ْنَأ
اﻮُﻫِﺮْﻜُﺗ
ﺎًﺌْﻴَﺷ
َﻞَﻌَْﳚَو
ُﻪﱠﻠﻟا
ِﻪﻴِﻓ
اًﺮْـﻴَﺧ
اًﲑِﺜَﻛ
33Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI, Undang-undang RI No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, h. 6-7.
Terjemahannya:
Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.34
Menurut al-Sya‘ra>wi>, kata ‘al-ma‘ru>f’ lebih luas cakupannya dibanding dengan kata ‘al-mawaddah’. Mawaddah berarti memperlakukan seseorang yang dicintai dengan baik, hati senang mencintainya dan gembira dengan kehadirannya. Sedang ma‘ru>f adalah memperlakukan dengan baik sekalipun terhadap orang yang tidak dicintai. Dengan ini, menurutnya, memperlakukan isteri bukan hanya didasarkan atas cinta semata sehingga tanpa cinta rumah tangga hancur tapi ada sisi lain yakni kewajiban untuk membangun rumah tangga. Karenanya, ketika seseorang datang kepada Umar yang mengatakan: Wahai Umar saya benci pada isteri saya dan ingin menceraikannya. Umar menjawab, ‘Bukankah dulunya rumah tanggamu dibangun atas dasar cinta, dan sekarang mana tanggung jawabmu?35 Dengan ini, Alquran menghendaki ‘al-ma‘ru>f’ menjadi dasar bergaul pasangan suami isteri dalam segala keadaan baik saat cinta tengah bersemi maupun ketika cinta mulai pudar. Perbuatan ma‘ru>f dapat menghilangkan tindak kekerasan dalam rumah tangga.
Selain menetapkan tindakan ‘al-ma‘ru>f’ sebagai etika umum yang menjadi dasar dalam hubungan suami isteri, Alquran memerintahkan suami untuk memberi makan dan pakai pada isteri. Dalam Q.S. al-Baqarah/2: 233, Allah berfirman:
ُتاَﺪِﻟاَﻮْﻟاَو
َﻦْﻌِﺿْﺮُـﻳ
ﱠﻦُﻫَد َﻻْوَأ
ِْﲔَﻟْﻮَﺣ
ِْﲔَﻠِﻣﺎَﻛ
ْﻦَﻤِﻟ
َداَرَأ
ْنَأ
ﱠﻢِﺘُﻳ
َﺔَﻋﺎَﺿﱠﺮﻟا
ﻰَﻠَﻋَو
ِدﻮُﻟْﻮَﻤْﻟا
ُﻪَﻟ
ﱠﻦُﻬُـﻗْزِر
ﱠﻦُﻬُـﺗَﻮْﺴِﻛَو
ِفوُﺮْﻌَﻤْﻟﺎِﺑ
َﻻ
ُﻒﱠﻠَﻜُﺗ
ٌﺲْﻔَـﻧ
ﱠﻻِإ
ﺎَﻬَﻌْﺳُو
َﻻ
ﱠرﺎَﻀُﺗ
ٌةَﺪِﻟاَو
ﺎَﻫِﺪَﻟَﻮِﺑ
َﻻَو
َﻣ
ٌدﻮُﻟْﻮ
ُﻪَﻟ
ِﻩِﺪَﻟَﻮِﺑ
ﻰَﻠَﻋَو
ِثِراَﻮْﻟا
ُﻞْﺜِﻣ
َﻚِﻟَذ
…
34Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Edisi Tahun 2002 (Jakarta: CV. Darus Sunnah, 2007), h. 81.
35Muh}ammad Mutawalli> al-Sya ‘ra>wi>, Tafsi>r al-Sya‘ra>wi> , juz 4 (Kairo: Akhba>r al-Yaum, 1991), h. 2082.
Terjemahannya:
Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula…36
Meski ayat tersebut berbicara dalam konteks isteri yang menyusui namun pada dasarnya ia menjadi kewajiban suami terhadap isteri dan anaknya untuk memberi mereka nafkah meski tidak dalam keadaan menyusui. Adanya perintah untuk memberikan makan dan pakaian pada isteri yang menyusui hanyalah sebagai penegas atas kewajiban yang umumnya dilakukan. Ini artinya, apabila dalam keadaan keseharian mereka wajib diberi nafkah maka dalam keadaan menyusui kewajiban tersebut lebih ditekankan lagi. Kewajiban suami menafkahi isteri ditemukan dalam Q.S. al-Nisa>’/4:34\\\\\\\\\, yang berbunyi\:
ُلﺎَﺟﱢﺮﻟا
َنﻮُﻣاﱠﻮَـﻗ
ﻰَﻠَﻋ
ِءﺎَﺴﱢﻨﻟا
ﺎَِﲟ
َﻞﱠﻀَﻓ
ُﻪﱠﻠﻟا
ْﻢُﻬَﻀْﻌَـﺑ
ﻰَﻠَﻋ
ٍﺾْﻌَـﺑ
ﺎَِﲟَو
اﻮُﻘَﻔْـﻧَأ
ْﻦِﻣ
ْﻢِِﳍاَﻮْﻣَأ
ُتﺎَِﳊﺎﱠﺼﻟﺎَﻓ
ٌتﺎَﺘِﻧﺎَﻗ
ٌتﺎَﻈِﻓﺎَﺣ
ِﺐْﻴَﻐْﻠِﻟ
ﺎَِﲟ
َﻆِﻔَﺣ
ُﻪﱠﻠﻟا
…
Terjemahannya:Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)…37
Ayat di atas mengisyaratkan adanya keterkaitan antara kepemimpinan suami dengan pemberian nafkah atas isteri. Suami dapat menjadi pemimpin selama ia memberi nafkah isterinya. Menurut al-Qurt}ubi>, suami tidak berhak menjadi
36Departemen Agama RI, op. cit., h. 38.
pemimpin isteri apabila tidak mampu memberi nafkah. Bahkan menurut Imam Ma>lik dan al-Sya>fi‘i>, isteri berhak menuntut faskh dari suami apabila tidak dapat memberi nafkah. Sedang Imam Abu> H{ani>fah tidak berhak menuntut.38 Berdasarkan ayat tersebut, suami adalah pemimpin dalam keluarga. Isteri wajib mentaati segala perintah suami selama tidak dalam maksiat. Ketaatan isteri tersebut diimbangi dengan kewajiban suami untuk menafkahi isteri. Karenanya nafkah dan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan keluarga berupa sandang, pangan dan papan adalah tanggung jawab suami. Isteri berhak untuk mendapatkannya sebatas kemampuan suami memenuhinya.
Selain Alquran, terdapat banyak hadis yang memerintahkan memperlakukan isteri dengan baik. Nabi saw. melalui sabdanya mencela sikap mereka yang memukul isteri. Hadis tersebut berbunyi:
ﱠﻨﻟا ِﻦَﻋ َﺔَﻌْﻣَز ِﻦْﺑ ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ ِﻪﻴِﺑَأ ْﻦَﻋ ٍمﺎَﺸِﻫ ْﻦَﻋ ُنﺎَﻴْﻔُﺳ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ َﻒُﺳﻮُﻳ ُﻦْﺑ ُﺪﱠﻤَُﳏ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
ﱢِﱮ
ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻰﻠﺻ
َلﺎَﻗ
»
ِمْﻮَـﻴْﻟا ِﺮ ِﺧآ ِﰱ ﺎَﻬُﻌِﻣﺎَُﳚ ﱠُﰒ ، ِﺪْﺒَﻌْﻟا َﺪْﻠَﺟ ُﻪَﺗَأَﺮْﻣا ُﻢُﻛُﺪَﺣَأ ُﺪِﻠَْﳚ َﻻ
«
39 Artinya:Meriwayatkan kepada kami Muh}ammad ibn Yu>suf, meriwayatkan kepada kami Sufya>n dari Hisya>m dari ayahnya dari ‘Abdulla>h ibn Zam‘ah dari Nabi saw. bersabda: Janganlah salah seorang kalian memukul isterinya seperti memukul budak lalu ia menggaulinya pada malam hari.
Perintah Alquran untuk memperlakukan pasangan dengan baik dan kewajiban suami memberi nafkah dan mencukupi kebutuhan anggota keluarga serta larangan Nabi saw. untuk memukul dan memperlakukan isteri secara tidak baik menunjukkan bahwa hadis riwayat al-T{abari> di atas tidak bertentangan dengan dalil yang lebih 38Abu> ‘Abdulla>h Muh}ammad ibn Ah}mad Syams Di>n Qurt}ubi>, Ja>mi‘ li Ah}ka>m
al-Qur’a>n, juz 5 (Riya>d}: Da>r ‘A<<lam al-Kutub, 2003 M/1423 H), h. 169.
39Abu> ‘Abdulla>h Muh}ammad ibn Isma>‘i>l al-Bukha>ri>, S{ah}i>h} al-Bukha>ri> (Beiru>t: Da>r Ibn Kas\i>r, 2002/1423), h. 1327.
kuat baik Alquran, hadis, hukum negara maupun rasionalitas. Dengan demikan dapat dinyatakan bahwa hadis tersebut berkualitas sahih dari segi matan. Apabila analisa sanad dan matan di atas disatukan maka dapat disimpulkan bahwa hadis jalur al-T{abari> tersebut berkualitas sahih.
b. Hak Untuk Menahan atau Mencerai Isteri
Ketika menafsirkan Q.S. Baqarah/2: 231 yang berbicara tentang talak, al-T{abari> menggunakan hadis yang mengungkapkan kemarahan Nabi saw. kepada orang-orang Asy‘ariah yang mentalak isterinya bukan pada masa iddah. Talak ini, menurut Nabi saw. bukanlah bentuk talak kaum muslim. Hadis tersebut disandarkan pada Abu> Mu>sa> al-Asy‘ari>. Teks hadis selengkapnya dapat dilihat pada bab III.
1) Takhri>j al-H{adi>s\
Setelah dilakukan pelacakan melalui kata ‘t}alaqa’, ‘raja‘a’ dan ‘iddah dalam
al-Mu‘jam al-Mufahras, penulis tidak menemukan mukharrij kutub al-tis‘ah yang
memuat hadis tersebut dalam kitab mereka. Selain secara manual, penulis juga melacaknya dengan bantuan CD Program al-Maktabah al-Sya>milah menggunakan kata ‘al-Asy‘ariyyi>n’. Hasilnya diketahui bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh tiga mukharrij yakni al-Baihaqi>,40 Ibn Abi> Syaibah41 dan al-T{abra>ni>.42 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa para mukharrij kutub al-tis‘ah tidak memuat hadis tersebut dalam kitab mereka. Karena penelitian ini dibatasi hanya pada kutub
al-tis‘ah maka data di luar kitab tersebut digunakan sebatas keperluan. Untuk
40Ah}mad ibn al-H{usain ibn ‘Ali> al-Baihaqi>, al-Sunan al-Kubra>, ditah}qi>q oleh Muh}ammad ‘Abd al-Qa>dir ‘At}a>, juz 7(Cet. III; Beiru>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003/1424), h. 528.
41‘Abdulla>h ibn Muh}ammad ibn Abi> Syaibah, al-Mus}annaf li Ibn Abi> Syaibah, ditah}qi>q oleh Muh}ammad ‘Awwa>mah, juz 9 (Beiru>t: Da>r Qurt}ubah, 2006/1427), h. 507.
42Sulaima>n ibn Ah}mad T{abra>ni>, Mu‘jam Ausat}, ditah}qi>q oleh T{a>riq dan ‘Abd al-Muh}sin, juz 4 (Mesir: Da>r al-H{aramain, 1995/1415), h. 195.
melihat nama para periwayat dan metode yang digunakan dalam rangkaian sanad tersebut berikut adalah gambar skema sanad. (Gambar skema sanad dapat dilihat pada lembar berikutnya).
2) I‘tiba>r al-H}adi>s\
Gambar skema sanad tersebut menunjukkan bahwa jalur sanad hadis di atas hanya diriwayatkan seorang periwayat mulai di tingkat pertama hingga terakhir. Selain itu, al-T{abari> sendiri hanya meriwayatkan melalui satu jalur periwayatan.
Dengan kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa sanad hadis tersebut gari>b,43 tidak memiliki sya>hid dan muta>bi‘. Metode periwayatan yang digunakan adalah
al-sama>‘ (h}addas\ana>) dan mu‘an‘an (‘an).
3) Kritik Sanad
Hadis jalur al-T{abari> ini diriwayatkan melalui delapan periwayat mulai
mukharrij hingga periwayat pertama di tingkat sahabat. Para periwayat tersebut
adalah al-T{abari>, Abu> Kuraib, Ish}a>q ibn Mans}u>r, ‘Abd al-Sala>m ibn H{arb, Yazi>d ibn ‘Abd Rah}ma>n, Abu> ‘Ala>, H{umaid ibn ‘Abd Ra>h}ma>n dan Abu> Mu>sa> al-Asy‘ari>. Berikut adalah uraian biografi masing-masing periwayat serta penilaian para kritikus.
a) Al-T{abari>
Nama lengkapnya Muh}ammad ibn Jari>r ibn Yazi>d ibn Kha>lid al-T{abari>. Ia lahir tahun 224 H dan wafat tahun 310 H di A<mu>l T{abrasta>n. Salah seorang gurunya adalah Abu> Kuraib Muh}ammad ibn al-‘Ala>.44
43Hadis gari>b adalah hadis yang dalam periwayatannya hanya diriwayatkan seorang periwayat. Lihat, Mah}mu>d T{ah}h}a>n, Taisi>r Mus}t}alah} H{adi>s\ (Iskandariah: Markaz Hady li al-Dira>sa>t, 1405 H), h. 27.
44
Al-T{abari>, seperti dijelaskan di atas, adalah periwayat s\iqah dan karenanya pernyataannya telah menerima dari Abu> Kuraib dengan metode h}addas\ana> dapat dipercaya dan riwayatnya dinyatakan bersambung. Disamping itu, Abu> Kuraib adalah guru al-T{abari> sehingga memperkuat keyakinan ketersambungan riwayatnya.
b) Abu> Kuraib
Nama lengkapnya adalah Muh}ammad ibn al-‘Ala> ibn Kuraib Hamda>ni>, Abu> Kuraib al-Ku>fi>. Ia lahir tahun 161 H dan wafat tahun 248 H.45Ia termasuk generasi kesepuluh (kiba>r atba>‘ atba>‘ al-ta>bi‘i>n) yang dinilai s\iqah h}a>fiz}.46
Diantara gurunya adalah Ish}a>q ibn Mans}u>r al-Salu>li>, Ibn al-Muba>rak dan lainnya. Sedang diantara muridnya adalah al-Jama>‘ah, al-Nasa>’i, dan lainnya.
Penilaian para kritikus. Ibn Abi> H{a>tim mengatakan s}adu>q; al-Nasa>’i> menilai
la> ba’sa bih; Marrah: s\iqah; Ibn H{ibba>n memuat dalam kitab ‘S|iqa>t’nya.47 Ibn Numair mengatakan bahwa di Irak tidak ada orang yang lebih banyak hafal hadis di banding Abu> Kuraib dan yang lebih mengetahui tentang hadis yang beredar di wilayah kami. Mu>sa> ibn Ish}a>q mengatakan bahwa ia telah menerima hadis dari Abu> Kuraib sebanyak 100 ribu hadis. Al-Nasa>’i> dan lainnya menilainya s\iqah. Ibra>hi>m ibn Abi> T{a>lib: saya tidak menemukan orang di Irak yang lebih hafal hadis setelah Ah}mad ibn H{anbal selain Abu> Kuraib.48
Seluruh ulama hadis menilai ta‘di>l Abu> Kuraib dan tidak seorang pun yang mencelanya. Karenanya, pernyataannya telah menerima hadis dari Ish}a>q ibn Mans}u>r dengan metode h}addas\ana> dapat diterima dan riwayatnya dinyatakan bersambung.
45
Ibn H{ajar, Tahz\i>b, juz 3, h. 667-668. Lihat, Z|ahabi>, Siyar, juz 11, h. 394. Lihat, Al-H{usaini>, op. cit., juz 3, h. 1578.
46Ibn H{ajar, Taqri>b, h. 435.
47Al-Mizzi>, op. cit., juz 26, h. 243. Lihat, Ibn H{ibba>n, op. cit., juz 9, h. 105.
48
c) Ish}a>q ibn Mans}u>r
Nama lengkapnya adalah Ish}a>q ibn Mans}u>r al-Salu>li>, Abu> ‘Abd al-Rah}ma>n. Ia wafat tahun 204 H dan termasuk generasi kesembilan (s}ugra> atba>‘ al-ta>bi‘i>n) yang dinilai s}adu>q namun diperselisihkan karena kesyi’ahannya.49
Diantara gurunya adalah Zuhair ibn Mu‘a>wiyah, al-H{asan ibn S{a>leh dan lainnya. Sedang muridnya diantaranya Abu> Kuraib, Ibn Abi> Syaibah dan lainnya.
Penilaian para kritikus. Ibn Ma‘i>n menyatakan laisa bihi ba’s; al-‘Ijli>: Ku>fi
s\iqah, menganut paham Syi’ah; Ibn H{ibba>n memuat dalam kitab S|iqahnya.50
Para kritikus menilai ta‘di>l Ish}a>q ibn Mans}u>r dan tidak ada yang mendaifkannya selain penilaian bahwa ia menganut paham Syi’ah. Namun karena kandungan hadis tidak terkait langsung dengan paham Syi’ah maka riwayatnya dapat diterima dan pernyataannya telah menerima dari ‘Abd al-Sala>m meski dengan metode ‘an dapat dibenarkan dan riwayatnya dinilai bersambung.
d) ‘Abd al-Sala>m ibn H{arb
Nama lengkapnya adalah ‘Abd Sala>m ibn H{arb ibn Sala>m Nahdi> al-Mula>i>, Abu> Bakar al-Ku>fi>, asal Bas}rah. Lahir tahun 91 H dan wafat tahun 187 H.51Ia termasuk pemuka ulama Kufah yang dinilai s\iqah52 dan termasuk generasi kedelapan (wust}a> atba>‘ al-ta>bi‘i>n).53
49Ibn H{ajar, Taqri>b, h. 42. Al-Mizzi>, op. cit., juz 2, h. 478. Al-Z|ahabi>, al-Ka>syif, juz 1, h. 239.
50Ibn H{ajar, Tahz\i>b, juz 1, h. 128. Lihat, Abu> H{a>tim Muh}ammad ibn Idri>s ibn Munz\ir al-Tami>mi>, Kita>b al-Jarh} wa al-Ta‘di>l, juz 2 (Haidar A<<ba>d: Da>irah al-Ma‘a>rif al-‘Usma>niyyah, 1952 M/1372 H), h. 234.
51Ibn H{ajar, Tahz\i>b, juz 2, h. 575. Lihat, Al-Z||ahabi>, Siyar, juz 8, h. 335. Lihat, Al-Mizzi>, op.
cit., juz 18, h. 66.
52Syams al-Di>n Muh}ammad Ah}mad al-Z|ahabi>, Mi>za>n al-I‘tida>l fi> Naqd al-Ri>jal wa Z|ail
Mi>za>n al-I‘tida>l, ditah}qi>q oleh ‘Ali> Muh}ammad Mu’awwad} dan ‘A<dil Ah}mad ‘Abd al-Mauju>d, juz 4
(Beiru>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995 M/1416 H), h. 347.
53
Diantara gurunya adalah Abu> Kha>lid al-Da>la>ni>, Yah}ya> ibn Sa’i>d al-Ans}a>ri>, dan lainnya sedang muridnya antara lain Ish}a>q ibn Mans}u>r.
Penilaian para kritikus. Ibn Ma‘i>n menilainya s}adu>q; Yah}ya>: laisa bihi ba’s
yuktab h}adi>suh; Abu> H{a>tim menilai s\iqah s}adu>q; Tirmi>zi: s\iqah h}a>fiz};
al-Da>ruqut}ni>:s\iqah hujah; Ibn Syaibah: s\iqah fi> h}adi>s\ih layyin; Ibn Sa‘ad: hadisnya lemah.54
Seluruh kritikus menilai s\iqah ‘Abd al-Sala>m, meski dengan beragam tingkat penilaian, kecuali Ibn Sa‘ad yang melemahkannya. Namun penilaian tersebut tidak disertai dengan penegasan bentuk kelemahannya. Selain itu, menilai ‘Abd al-Sala>m lemah, berarti bertentangan dengan pendapat mayoritas kritikus hadis yang menilainya s\iqah. Dalam menyelesaikan perbedaan penilaian terhadap rija>l hadis, ulama menyatakan bahwa penilaian negatif dapat didahulukan atas penilaian positif apabila kritikusnya menyebutkan sejumlah argumen dan alasan yang menjadi dasar celaannya terhadap periwayat.55 Namun, pada kritikan di atas, Ibn Sa‘ad hanya menyatakan lemah tanpa merinci apa sebab yang menjadikannya menilai lemah. Boleh jadi, Ibn Sa‘ad menilai lemah ‘Abd al-Sala>m karena afiliasi politiknya kepada Syi’ah. Padahal, sebagaimana dijelaskan, bahwa kesyi’ahan tidak menjadikan seluruh riwayatnya lemah selama kandungan hadis yang diriwayatkan tidak terkait dengan paham dan ajaran Syi’ah. Dengan demikian, pernyataannya telah menerima dari Yazi>d dengan lafal ‘an dapat dipercaya dan riwayatnya dinyatakan bersambung.
e) Yazi>d ibn ‘Abd al-Rah}ma>n
Nama lengkapnya adalah Yazi>d ibn ‘Abd al-Rah}ma>n al-Da>la>ni> Abu> Kha>lid al-Asadi>. Ia termasuk t}abaqah ketujuh (kiba>r atba>‘ al-ta>bi‘i>n) yang dinilai s}adu>q
54Ibn H{ajar, Tahz\i>b, juz 2, h. 575. Al-Mizzi>, op. cit., juz 18, h. 67.
namun banyak melakukan kesalahan dan kadang juga melakukan tadli>s.56