• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEWAJIBAN BERSAMA ANTARA SUAMI DAN ISTERI

3) Kritik Sanad

Hadis riwayat al-T{abari> tersebut terdiri dari tujuh periwayat yakni al-T{abari>, al-H{asan ibn ‘Arafah, Yazi>d ibn Ha>ru>n, Syu‘bah ibn al-H{ajja>j, Abu> Qaza‘ah, H{aki>m

ibn Mu‘a>wiyah dan Mu‘a>wiyah ibn H{aidah. Berikut adalah biografi para periwayat:

a) Ibn Jari>r al-T{abari>

Nama lengkapnya Muh}ammad ibn Jari>r ibn Yazi>d ibn Kha>lid al-T{abari>. Ia lahir tahun 224 H dan wafat tahun 310 H di A<mu>l T{abrasta>n.

Diantara gurunya adalah al-H{asan ibn ‘Arafah sedang muridnya antara lain Abu> Syu‘aib ‘Abdulla>h ibn al-H{asan, dan lainnya.4

4Syams al-Di>n Muh}ammad ibn Ah}mad ibn ‘Us\ma>n al-Z|ahabi>, Siyar A‘la>m al-Nubala>, ditah}qi>q Syu‘aib al-Arnaut}, juz 14 (Beiru>t: Muassasah al-Risa>lah, 1983 M), h. 268-269. Ta>j al-Di>n Abi> Nas}r ‘Abd al-Wahha>b ibn ‘Ali> ibn ‘Abd al-Ka>fi> al-Subki>, T{abaqa>t al-Sya>fi‘iyyah al-Kubra>, diedit Mah}mu>d Muh}ammad al-Tana>h}i>, juz 3(t.t.: Da>r Ih}ya> al-Kutub al-‘Arabiyyah, t.th.), h. 120.

Penilaian para kritikus. Menurut Ibn H{ajar, ia seorang yang s\iqah s}a>diq namun sedikit cenderung ke Syiah. Al-Sulaima>ni> menuduhnya berpaham Rafidah namun itu hanyalah tuduhan yang tak berdasar.5 Ibn Jari>r s\iqah dalam periwayatan dan kitab sejarahnya merupakan kitab sejarah tervalid.6Ia seorang yang s\iqah, s}a>diq,

h}a>fiz}, pemuka tafsir, fiqih, ijmak dan ikhtila>f, menguasai ilmu sejarah umat manusia,

ilmu qira>’at, bahasa dan lainnya.7

Penilaian di atas menunjukkan bahwa al-T{abari> adalah periwayat s\iqah. Sedang tuduhan bahwa ia menganut paham Syiah atau Rafidah merupakan tuduhan yang tidak berdasar. Dalam biografinya, sebagaimana dipaparkan pada bab III, memang dikenal adanya dua nama untuk Ibn Jari>r. Yang seorang berpaham Syiah dan yang lain yakni Ibn Jari>r al-T{abari> (penulis tafsir al-T{abari>) terbebas dari paham tersebut. Dengan terhindar dari kritikan negatif tersebut maka pengakuannya telah menerima hadis dari al-H{asan ibn ‘Arafah dengan metode h}addas\ana> dapat dipercaya dan riwayatnya dapat dinyatakan bersambung.

b) Al-H{asan ibn ‘Arafah

Nama lengkapnya H{asan ibn ‘Arafah ibn Yazi>n, Abu> ‘Ali> ‘Abdi>, al-Bagda>di>. Lahir tahun 150 H dan wafat tahun 257 H.8 Ia merupakan t}abaqah periwayat kesepuluh (kiba>r atba>‘ atba>‘ al-ta>bi‘i>n) yang dinilai s}adu>q.9

5Ah}mad ibn ‘Ali> ibn H{ajar al-‘Asqala>ni>, Lisa>n al-Mi>za>n, ditah}qi>q oleh ‘Abd al-Fatta>h Abu> Guddah, juz 7, (Beiru>t: Da>r al-Basya>ir al-Islamiyyah, 2002 M/1423 H), h. 25.

6S{ala>h} al-Di>n Khali>l ibn Aibak al-S{afadi>, Kita>b al-Wa>fi> bi> al-Wafaya>t, ditah}qi>q oleh Ah}mad al-Arnaut} dan Turki> Mus}t}afa>, juz 2 (Beiru>t: Da>r Ih}ya> al-Tura>s\ al-‘Arabi>, 2000 M/1420 H), h. 212-214.

7Al-Z|ahabi>, Siyar , h. 270.

8Ibn H{ajar, Tahz\i>b, juz 1, h. 402.

9Syiha>b al-Di>n Ah}mad ibn ‘Ali> ibn H{ajar al-‘Asqala>ni>, Taqri>b al-Tahz\i>b, ditah}qi>q oleh ‘A<dil Mursyid (Beiru>t: Muassasah al-Risa>lah, 1999 M/1420 H), h. 101.

Diantara gurunya adalah Yazi>d ibn Ha>ru>n sedang muridnya adalah

Muh}ammad ibn Jari>r al-T{abari>, al-Tirmiz\i>, Ibn Ma>jah, dan lainnya.10

Penilaian para kritikus. Ibn Ma‘i>n menyatakan laisa bihi ba’s, memujinya dengan kebaikan; Ibn Abi> H{a>tim: s}adu>q; al-Nasa>’i>: la> ba’sa bih; al-Da>ruqut}ni>: la>

ba’sa bih; Ibn H{ibba>n memuat dalam kitab ‘S|iqat’nya; Maslamah: s\iqah.11

Meski dinilai ta‘di>l dengan peringkat menengah yakni menggunakan lafal

s}adu>q atau la> ba’sa bih, namun seluruh kritikus menta‘di>l al-H{asan dan tidak seorang

pun yang mendaifkannya. Karenanya, pengakuannya telah menerima hadis dari Yazi>d ibn Ha>ru>n dengan metode h}addas\ana> dapat diterima dan riwayatnya dinyatakan bersambung. Ketersambungan periwayatan tersebut diperkuat dengan adanya hubungan keilmuan antara kedua periwayat dalam kapasitas sebagai guru dan murid.

c) Yazi>d ibn Ha>ru>n

Nama lengkapnya adalah Yazi>d ibn Ha>ru>n ibn Za>z\i>, Abu> Khal>id al-Wa>sit}i>. Lahir tahun 118 H dan wafat tahun 206 H.12Ia termasuk generasi kesembilan (s}ugra>

atba‘ al-ta>bi‘i>n) yang dinilai s\iqah mutqin ‘a>bid.13

Diantara gurunya adalah Syu‘bah, sedang muridnya, diantaranya Al-H{asan

ibn ‘Arafah, Ah}mad ibn H{anbal dan lainnya.14

10Ibn H{ajar, ibid. Abu> al-H{ajja>j Yu>suf Al-Mizzi>, Tahz\i>b al-Kama>l fi> Asma> al-Rija>l, ditah}qi>q oleh Basya>r ‘Awwa>d Ma‘ru>f, juz 6 (Beiru>t: Muassasah Risa>lah, 1983 M/1403 H), h. 201. Syams Di>n Abu> ‘Abdulla>h Muh}ammad ibn Ah}mad ibn ‘Us\ma>n ibn Qaima>z Z|ahabi>, Taz\hi>b Tahz\i>b

al-Kama>l fi> Asma> al-Rija>l, ditah}qi>q oleh Gunaim ‘Abba>s Gunaim dan Majdi> al-Sayyid Ami>n, juz 2

(Kairo: al-Fa>ru>q al-H{adi>s\iyyah, 2004/1425 H), h. 293.

11

Ibn H{ajar, Tahz\i>b, juz 1, h. 402.

12Ibn H{ajar, Tahz\i>b, juz 4, h. 431-432. Al-Mizzi>, op. cit., juz 32, h. 261. Al-Z|ahabi>, Taz\hi>b , juz 10, h. 103.

13Ibn H{ajar, Taqri>b, h. 535.

14

Penilaian para kritikus. Ia merupakan pemuka dalam hal ilmu dan amal, s\iqah hujah dan tokoh besar. Ibn Yah}ya> mengatakan bahwa ia lebih hafal dari Waki>‘; ‘Ali> ibn Syu‘aib mengatakan bahwa ia pernah mendengar Yazi>d ibn Ha>ru>n yang mengatakan telah 24 ribu hadis dengan sanad dan riwayat dari ulama Sya>m sebanyak 20 ribu hadis; Abu> H{a>tim al-Ra>zi> mengatakan bahwa Yazi>d s\iqah imam dan tidak perlu diragukan lagi.15 Ah}mad menilai dengan h}a>fiz} li> al-h}adi>s\, Ibn al-Madi>ni>: s\iqah; Ibn Ma‘i>n: s\iqah; al-‘Ijli>: s\iqah s\abat fi> al-h}adi>s\; Abu> H{a>tim: s\iqah, ima>m s}a>diq; Ibn Sa‘ad: s\iqah kas\i>r al-h}adi>s\; Ibn Syaibah: s\iqah.16

Seluruh kritikus menilai s\iqah Yazi>d ibn Ha>ru>n dan tidak seorang pun yang mencacatkannya. Karenanya, pengakuannya telah menerima hadis dari Syu‘bah meski dengan metode ‘an dapat dibenarkan dan riwayatnya dinilai bersambung. Ulama berselisih pendapat mengenai ketersambungan sanad dengan menggunakan metode periwayatan ‘an. Lafal tersebut dipandang tidak menunjukkan secara tegas penerimaan seorang periwayat pada gurunya. Namun sejauh periwayat yang meriwayatkan hadis tersebut s\iqah, tidak melakukan tadli>s dan terjadi pertemuan antara periwayatnya maka periwayatan dengan lafal ‘an dapat diterima.17 Dengan kes\iqahan Yazi>d maka pernyataannya telah menerima dari Syu‘bah dapat dipercaya dan riwayatnya dinilai bersambung.

d) Syu‘bah ibn H{ajja>j

Nama lengkapnya adalah Syu‘bah ibn H{ajja>j ibn al-Ward al-‘Ataki> al-Azdi>, Abu> Bist}a>m al-Wa>sit}i>. Lahir tahun 82 H dan wafat tahun 160 H.18 Termasuk

15

Al-Z|ahabi>, Siyar , juz 9, h. 358-360.

16Ibid., h. 432-433.

17M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang 1992), h. 83.

t}abaqah ke tujuh (kiba>r atba>‘ al-ta>bi‘i>n) yang dinilai s\iqah h}a>fiz} mutqin.19

Diantara gurunya adalah Suwaid ibn H{ujair (Abu> Qaza‘ah), sedang muridnya adalah Yazi>d ibn Ha>ru>n, Ibn al-Muba>rak dan lainnya.20

Penilaian para kritikus. Al-‘Ijli> menilainya dengan s\iqah s\abat, yukht}i fi> asma>

al-rija>l qali>l; S{a>lih} Jazrah: ulama yang pertama kali membahas kualitas tentang

periwayat; al-S|auri>: ami>r al-mu’mini>n fi> al-h}adi>s\.21

Syu‘bah merupakan periwayat terkenal dan dikenal kes\iqahannya secara luas. Al-S|auri> sendiri menilainya sebagai pemuka ulama hadis dan al-‘Ijli> menilai ta‘di>l dengan tingkat penta‘di>lan tertinggi. Karenanya, pernyataannya telah menerima hadis dari Abu> Qaza‘ah dengan metode ‘an dapat dipercaya dan riwayatnya dapat dinyatakan bersambung. Ketersambungan tersebut diperkuat dengan adanya kenyataan bahwa Abu> Qaza‘ah (Suwaid) adalah guru Syu‘bah.

e) Abu> Qaza‘ah

Nama lengkapnya adalah Suwaid ibn H{ujair ibn Baya>n al-Ba>hili>, Abu> Qaza‘ah al-Bas}ri>. Termasuk t}abaqah ke empat (ta>bi‘i>n wust}a>) yang dinilai s\iqah.22 Tidak ditemukan informasi mengenai tahun lahir dan wafatnya.23

Diantara gurunya adalah H{aki>m ibn Mu‘a>wiyah, sedang muridnya adalah

Syu‘bah, Ibn Juraij dan lainnya.

19Ibn H{ajar, Taqri>b, h. 208.

20

Ibn H{ajar, Tahz\i>b, juz 2, h. 166-168. Al-Mizzi>, op. cit., juz 12, h. 480.

21Al-Z|ahabi>, Taz\hi>b , juz 4, h. 279.

22Ibn H{ajar, Tahz\i>b, juz 2, h. 132. Al-Mizzi>, op. cit., juz 12, h. 244. Ibn H{ajar, Taqri>b, h. 200.

23Abu> H{a>tim Muh}ammad ibn H{ibba>n ibn Ah}mad, Kita>b al-S|iqa>t, juz 6 (Jaida A<<<<<ba>d: Da>irah al-Ma‘a>rif al-‘Usma>niyah, 1978 M/1398 H), h. 412. ‘Ala> al-Di>n Muglat}a>yi> ibn Qulaij al-H{anafi>, Ikma>l

Tahz\|i>b al-Kama>l, ditah}qi>q oleh ‘A<<<<<<<<<<<<dil ibn Muh}ammad dan Usa>mah ibn Ibra>hi>m, juz 6 (Kairo: al-Fa>ru>q

al-H{adi>s\iyyah, 2001 M/1422 H), h. 163. Abu> al-Mah}a>sin Muh}ammad ibn ‘Ali> al-‘Alawi> al-H{usaini>,

Kita>b al-Taz\kirah bi Ma‘rifah Rija>l al-Kutub al-‘Asyarah, juz 1 (Kairo: Maktabah al-Khanzi, t.th.), h.

Penilaian para kritikus. Ah}mad menilainya s\iqah; Ibn al-Madi>ni>, Abu> Da>ud dan al-Nasa>’i>: s\iqah; Abu> H{a>tim: s}a>lih}; al-‘Ijli>: Bas}ri> ta>bi‘i> s\iqah.24

Seluruh kritikus menilai s\iqah Abu> Qaza‘ah dan tidak ada yang mencacatkan pribadinya. Karenanya, pernyataannya telah menerima hadis dari H{aki>m dengan cara

‘an‘anah (‘an) dapat diterima dan riwayatnya dinilai bersambung. H{aki>m ibn

Mu‘a>wiyah sendiri adalah guru Abu> Qaza‘ah. f) H{aki>m ibn Mu‘a>wiyah

Nama lengkapnya adalah H{aki>m ibn Mu‘a>wiyah ibn H{aidah al-Qusyairi>. Menurut Ibn H{ajar, status kesahabatannya diperselisihkan dan yang benar ia adalah generasi ta>bi‘i>n atau t}abaqah ke tiga (ta>bi‘i>n wust}a>) yang dinilai s}adu>q.25

Diantara gurunya adalah ayahnya (Mu‘a>wiyah ibn H{aidah), sedang muridnya, diantaranya adalah Abu> Qaza‘ah Suwaid ibn H{ujair, dan lainnya.

Penilaian para kritikus. Al-‘Ijli> menyatakan s\iqah, al-Nasa>’i> menilai laisa bihi

ba’s,26 Ibn H{ibba>n memuat dalam kitab S|iqatnya.27 Dengan penilaian ini dapat dinyatakan bahwa H{aki>m seorang yang s\iqah dan tidak seorang pun yang mencacatkannya. Karenanya, pernyataannya telah menerima hadis dari ayahnya yakni Mu‘a>wiyah dapat diterima dan riwayatnya dinyatakan bersambung. Selain itu, data kitab rija>l menunjukkan adanya hubungan keilmuan antara dia dan gurunya.

24

Ibn H{ajar, Tahz\i>b. Lihat, H{usaini>, op. cit., juz 1, h. 677. Lihat, Abu> Muh}ammad ‘Abd al-Rah}ma>n ibn Abi> H{a>tim Muh}ammad ibn Idri>s ibn al-Munz\ir al-Ra>zi>, Kita>b al-Jarh} wa al-Ta‘di>l, juz 4 (H{aidar A<ba>d: Da>irat al-Ma‘a>rif al-‘Us\ma>niyyah, 1952/1372), h. 235-236.

25Ibn H{ajar, Tahz\i>b, juz 1, h. 475. Ibn H{ajar, Taqri>b, h. 116.

26

Syams al-Di>n Abu> ‘Abdulla>h Muh}ammad ibn Ah}mad al-Z|ahabi> al-Dimasyqi>, al-Ka>syif fi>

Ma‘rifat Man Lahu Riwa>yah fi> al-Kutub al-Sittah, dita‘li>q oleh Muh}ammad ‘Awwa>mah, juz 1

(Jeddah: Da>r al-Qiblah li> al-S|aqa>fah al-Isla>miyyah, t.th.), h. 348.

27Al-Mizzi>, op. cit., juz 7, h. 202. Lihat, al-Z|ahabi>, Taz\hi>b, juz 2, h. 430. Lihat, al-H{usaini>,

g) Abi>hi

Nama lengkapnya adalah Mu‘a>wiyah ibn H{aidah ibn Mu‘a>wiyah ibn Qusyairi> ibn Ka‘ab ibn Rabi>‘ah ibn ‘A<mir ibn S{i‘s}a‘ah al-Qusyairi>. Ia seorang sahabat28yang menerima hadis dari Nabi saw. Diantara muridnya adalah anaknya bernama H{aki>m, dan lainnya.29 Ia suka berkunjung, menyertai Nabi saw. dan bertanya banyak hal pada beliau serta meriwayatkan hadis.30

Meski para kritikus tidak memberikan penilaian akan kes\iqahannya namun dengan statusnya sebagai sahabat dimana ulama sepakat untuk menyatakan bahwa seluruh sahabat dinilai ‘a>dil31 maka dapat dinyatakan bahwa ia s\iqah dan karenanya pernyataannya telah menerima hadis dari Nabi saw. dipercaya dan riwayatnya dinyatakan bersambung.

Dengan kes\iqahan seluruh periwayat jalur sanad di atas, disamping ketersambungan sanadnya yang ditandai dengan adanya hubungan keilmuan antara periwayat satu dengan lainnya dalam kapasitas sebagai guru murid dan data kegenerasian yang memungkinkan adanya pertemuan antar mereka maka dapat disimpulkan bahwa sanad tersebut memenuhi persyaratan kualitas kesahihan sanad. Selain itu, hadis al-T{abari> dari jalur al-H{asan ibn ‘Arafah didukung oleh tiga jalur sanad lainnya dari Ah}mad ibn H{anbal, Abu> Da>ud dan Ibn Ma>jah. Dengan ini

28Ibn H{ajar, Tahz\i>b , juz 4, h. 106. Ibn H{ajar, Taqri>b, h. 469.

29

Al-Mizzi>, op. cit., juz. 28, h. 172. Lihat, Syiha>b Di>n Ah}mad ibn ‘Ali> ibn H{ajar al-‘Asqala>ni, al-Is}a>bah fi> Tamyi>z al-S{ah}a>bah, juz 9 (Kairo: Maktabah Ibn Taimiyah, 1993 M/1414 H), h. 230. Lihat, Abu> H{usain ‘Abd Ba>qy ibn Qa>ni’, Mu‘jam S{ah}a>bah, juz 3 (t.t.: Maktabah al-Guraba> al-As\ariyah, t.th.), h. 70. Lihat, ‘Izz al-Di>n ibn al-As\i>r, Usud al-Ga>bah fi> Ma’rifat al-S{ah}a>bah, juz 4, (t.t: t.p. t.th.), h. 432. Lihat, Muh}ammad Sa’i>d Mubayyad}, Mausu>‘ah H{aya>t al-S{ah}a>bah, juz 5 (Beiru>t: Muassasah al-Rayya>n, 2000/1421), h. 3477.

30Al-H{usaini>, op. cit., juz 3, h. 1682.

31Muh}ammad Muh}ammad Abu> Zahw, al-H{adi>s\ wa al-Muh}addis\u>n (Mesir: Syirkah Musa>hamah, 1958/1378), h. 130.

diyakini tidak terdapat sya>z\ dan ‘illah pada sanadnya. Karenanya dapat dinyatakan bahwa sanad hadis al-T{abari> berkualiats sahih.

Dokumen terkait