• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kritik Terhadap Pengarang

Dalam dokumen KRITIK SASTRA INDONESIA DI YOGYAKARTA 19 (Halaman 61-76)

3.2 Orientasi Kritik

3.2.1 Kritik Terhadap Pengarang

Data karya-karya kritik sastra Indonesia yang berhasil dihim- pun dari media-media massa berbahasa Indonesia yang terbit di Yogyakarta pada kurun waktu 1966—1980 pada umumnya tidak jauh berbeda dengan data tahun sebelumnya (1945—1965), yakni menunjukkan bahwa kritik yang berorientasi pada pengarang meng- gambarkan adanya berbagai macam pemikiran yang bersifat men- dukung maupun menyanggah, baik terhadap diri pengarang itu sendiri maupun terhadap karya pengarang yang bersangkutan. Namun, dilihat secara kuantitatif, data karya-karya kritik yang berorientasi pada pengarang relatif lebih sedikit apabila dibanding- kan dengan kritik terhadap karya pengarang yang bersangkutan. Hal itu tampak bertolakbelakang apabila dibandingkan dengan periode 1945—1965, kritik yang berorientasi pada pengarang menunjukkan jumlah yang lebih banyak. Kenyataan itu menunjukkan adanya kesadaran bagi para kritikus bahwa sesungguhnya yang terpenting di dalam kritik sastra adalah kritik terhadap karya sastra.

Tampak bahwa kritik memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sastra Indonesia. Kritik sastra Indonesia mulai muncul seiring dengan lahirnya kesusastraan Indonesia modern. Dengan bangkitnya kesusastraan Indonesia modern timbullah kritik sastra

tertulis, lebih-lebih sejak lahirnya Pujangga Baru. Sejak itu, dari periode ke periode ditulis kritik sastra untuk para peminat sastra, baik kritik terapan maupun kritik teoretis. Karena itu, muncullah penulis-penulis yang dapat disebut kritikus meskipun tulisan kritik- nya bukan merupakan karya utamanya sebab mereka lebih dikenal sebagai sastrawan, seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Armijn Pane, Asrul Sani, Subagio Sastrowardoyo, Ajip Rosidi, Budi Darma, Goenawan Mohamad, dan sebagainya. Hanya satu dua saja penulis yang profesinya khusus menulis kritik sastra, seperti H.B. Jassin, Boen Sri Oemarjati, J.U. Nasution, M.S. Hutagalung, dan Umar Junus. Tulisan-tulisan para penulis tersebut pada umum- nya tersebar di berbagai majalah dan surat kabar, juga pidato di radio, prasaran diskusi, simposium, dan seminar yang tidak semua- nya telah dikumpulkan ke dalam bentuk buku (Pradopo, 2002:6). Beberapa kritikus sastra Indonesia yang hadir lewat media massa yang terbit di Yogyakarta (Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Masa Kini, Basis, Semangat, Suara Muhammadiyah, dan Pelopor) dalam kurun waktu 1966—1980, di antaranya Ajip Rosidi, Dick Hartoko, A. Teeuw, W.S. Rendra, Bakdi Soemanto, Umar Kayam, Ragil Su- warna Pragolapati, Taufik Ismail, Harry Avelling, Mayon Sutrisno, Emha Ainun Najib, Y. Supardjono, Noto Suwarto R.M., B. Rahman- to, A. Hanafi M.A., Bambang Sadono S.Y, Yunus Syamsu Budie, Mustofa W. Hasjim, Aryasatyani S.A., Azis, B. Gde Winnjana, Julius Pour, Mimosa Sekarlati, Umbu Landu Paranggi, H. Dg. Muntu, Jaroth Ms., Y. Supardjana, Hella Veranza, Th. Koendjono, Ahar, Marsudi Asti, Noeng Runua M., Em Es, Tan Lelana, dan S.E. Arha- na. Pemikiran dan kritik mereka, baik yang bersifat mendukung maupun menyanggah, baik terhadap diri pengarang maupun ter- hadap karya pengarang yang bersangkutan, menggambarkan kehi- dupan kritik sastra Indonesia di Yogyakarta pada kurun waktu ter- sebut.

Berdasarkan data yang ditemukan, kritik yang berorientasi pada pengarang cenderung mengungkapkan berbagai persoalan, misalnya tentang peranan pengarang yang dinilai masih kurang terhadap perkembangan sastra Indonesia. Dalam artikel “Ekspansi Sastra ke Majalah Hiburan” (Basis, No. 23, 1973—1974), misalnya,

Pragolapati menyatakan bahwa ketika pengarang (Nasjah Jamin) menulis teks untuk ceramah tentang “penulisan novel”, ia tidak mencantumkan dalam kopi-kopi teks itu kapan dan di mana cera- mah itu diberikan. Selain itu, Pragolapati sempat juga melontarkan pertanyaan pahit, yaitu kenapa sastrawan-sastrawan kita banyak yang seolah-olah kelihatan mandul? Hal itu disebabkan oleh tidak banyaknya kesempatan yang diberikan untuk melahirkan. Bila seorang pengarang sudah siap dengan naskahnya, tetapi tidak ada yang mau menerbitkan naskah itu. Bila memilih-milih tempat un- tuk diterbitkan, pengarang hanya mau naskahnya diterbitkan oleh Balai Pustaka atau Gunung Agung yang dianggap sebagai penerbit yang pantas bagi hasil kesusastraan. Untuk itu, Pragolapati mem- berikan saran kepada penulis yang tulisannya sering ditolak pener- bit agar sedikit berendah hati dan rela membiarkan naskah-naskah- nya lahir di majalah-majalah populer atau dalam bentuk buku saku dengan cover yang komersial dan serem.

Pendapat tersebut kemudian dipertegas Budiman Hartoyo dengan memberikan solusi bahwa untuk mengatasi keluhan sastra- wan dengan naskah bulukannya diharapkan sastrawan mau mem- banjiri majalah-majalah populer dengan hasil-hasil karyanya, me- nerbitkan buku sejenis paper back untuk mengatasi banjirnya cerita- cerita murahan dan buku-buku hiburan, mau mengusahakan pener- bitan buku saku bulanan, atau setengah bulanan, seperti yang per- nah dijalankan oleh orang-orang Medan pada tahun tiga puluhan yang lalu dengan penerbitan “Roman Picisan”, seperti Lukisan Pu- jangga, Lukisan Suasana, dan lain-lain. Penerbitan mini berkala jenis paper back ini dapat pula dijalankan dengan menerima langganan sebagai tanda terbitnya suatu majalah.

Selanjutnya, Pragolapati menambahkan bahwa sejak tahun 1971 sudah mulai terasa adanya gejala-gejala yang kuat ekspansi karya sastra ke majalah-majalah hiburan. Beberapa sastrawan mem- publikasi cerita-cerita yang cukup bermutu lewat media-media yang berbau populer, seperti karya-karya Arswendo Atmowiloto, Putu Wijaya, Jasso Winarto, Abdul Madi W.M. sering muncul da- lam majalah musik pop Aktuil. Karya-karya Trisno Sumarjo, Nyo- man Rasta Sindhu, Faisal Baraas, Oka Sunandhy, dan Putu Arya

Tirthawirya banyak muncul di majalah-majalah hiburan seperti Violeta, Flamboyan, Varia, atau Fadli Rasyid dan Hajid Hamzah di majalah Selecta. Namun, ironisnya, jika mencoba mengerling cover majalah-majalah itu dengan teknik cetak dan warna-warna yang menyala bertebaran di mana-mana cukup lux dan mahal, tidak urung seringkali menggigit jari jika melihat format, cover, kertas, dan teknik cetakan majalah sastra satu-satunya, Horison. Dibanding- kan dengan majalah anak-anak remaja seperti Semangat dan Aktuil saja, Horison masih kalah dari segi oplag, harga eceran, dan popu- laritasnya di kalangan pembaca. Serba minoritas, sempit, terbatas, payah, dan mengharukan. Para konsumen majalah lebih tertarik pada cerita-cerita murah bikinan Hino Minggo, Abdullah Harahap, Maulana Syamsuri, Yati Maryati Wiharja, Mien Yotanya, atau Har- jana Hp ketimbang cerita-cerita Kuntowijoyo, Putu Wijaya, Arswen- do, Gerson Poyk, Muhammad Fudoli, Umar Kayam, Darmanto Yt., dll.

Sementara itu, menyikapi dominasi pengarang-pengarang picisan dalam majalah-majalah populer dan wabah cerita-cerita brengsek yang pornografis, sebuah group sastra anak-anak muda di Yogyakarta yang tergabung dalam Persada (Studi Klub Penyair dan Sastrawan Muda) suatu kali pernah mendiskusikannya secara khusus, bertempat di Margoyasan pada tanggal 23 Januari 1972. Hasil diskusi menyimpulkan bahwa majalah-majalah hiburan harus dibanjiri cerita-cerita bermutu yang bernilai sastra dan pengarang tidak perlu merasa malu dan jatuh harga dirinya apabila hasil kar- yanya dimuat berulangkali di majalah hiburan. Dengan kata lain, ekspansi sastra ke majalah-majalah populer dan media-media hibur- an lain terus dilakukan secara intensif dan besar-besaran walaupun hal itu mengundang pro-kontra di kalangan sastrawan karena kenya- taan policy majalah-majalah populer tidak gampang diterobos, se- lera jurnalis-jurnalis yang mengasuh majalah itu masih sulit diubah, sementara apresiasi sastra pada mereka masih sangat buruk (Basis, No. 23, 1973—1974).

Selanjutnya, Ajip Rosidi dalam tulisan “Perkembangan Puisi dan Prosa Dewasa Ini” (Suara Muhammadiyah, No. 20, Thn. ke-55, Oktober II, 1975, hal. 20—21) sempat memertanyakan seberapa

jauh peranan para penyair dan pengarang muslim dalam perkem- bangan kesusastraan Indonesia. Walaupun diakuinya banyak pe- nyair dan pengarang muslim yang menulis dalam bahasa Indone- sia, tetapi peranan mereka kurang sekali mendapat perhatian dari para penelaah sastra Indonesia. Tiga orang penyair Islam sebelum perang yang tidak kurang nilainya dari J.E. Tatengkeng, yaitu Anwar Rasyid, Rivai Ali, dan Or. Mandank, hampir-hampir tidak pernah disebut orang. Padahal kumpulan sajak yang pernah mereka umum- kan, yaitu “Senandung Hidup” karya Anwar Rasyid (dengan nama samaran Samadi), “Kata Hati” karya Rifai Ali, dan “Sebabnya Aku Terdiam” oleh Or. Mandank, seharusnya mendapat perhatian yang lebih wajar dari para penelaah sastra Indonesia. Selain itu, Chairil Anwar meskipun ia banyak menulis sajak-sajak ketuhanan tetapi ia lebih dikenal karena proklamasinya “Aku ni binatang jalang”, demikian juga Asrul Sani lebih terkenal sebagai humanis daripada sebagai Muslim melalui sajak-sajaknya. Dalam dunia prosa, H. Dg. Muntu yang menulis “Pembalasan” dan “Anak Durhaka” ham- pir tidak pernah disebut orang. Padahal sebagai pengarang roman, ia merupakan salah seorang yang penting pada masa sebelum pe- rang. Beruntunglah pada masa sekarang (1960-an) ada pengarang dan penyair muda seperti A.A. Navis, Mohammad Diponegoro, Taufik Ismail, dan lain-lain yang sadar bahwa ke-Islaman-nya itu dapat menjadi sumber yang secara positif dapat mendorong dan menyumbangkan bantuan kepada kesastraan Indonesia.

Berkaitan dengan hal di atas, Pragolapati dalam artikelnya “Kaderisasi Pengarang Kurang” (Masa Kini, No. 43, Th XV, 16 Juni 1979) mengemukakan bahwa mulai periode 1964—1970 rata-rata pengarang muda di Yogyakarta mengelompok dalam Studiklub Sastra Kristen, Studigrup Minggu, Sabana, Mantika, Persada, dan Sanggar Bambu. Ketika itu honorarium karangan belum ada, jika ada di satu-dua media, besarnya pun tidak seberapa. Mereka (pe- ngarang) berjejal-jejal di jalur seni sastra: puisi, esai, cerpen, kritik, novella, dan amat sedikit yang masuk jalur pers-jurnalistik. Pada tahun 1970—1979 honorarium karangan sudah lumayan tinggi sehing- ga para pengarang mulai mendapat angin. Namun, anehnya anak- anak muda justru berjejal-jejal pada jalur pers-jurnalistik. Tahun

1976—1979 suasana dan iklim di Yogyakarta terasa lain. Kompetisi atau pertarungan antarpengarang muda mengendor, berkumpul untuk diskusi dan sarasehan terus berkurang sehingga kontak krea- si sulit. Mereka (pengarang) hanya memburu uang demi menghidupi keluarganya sehingga dapat dikatakan tahun 1979 tidak lagi mem- butuhkan Umbu Landu Parangggi, tidak perlu menghidupkan kem- bali Studiklub Persada. Kader-kader pengarang hanya membutuh- kan rangsangan dan iklim suasana. Butuh sistem pembinaan yang ikhlas, penuh perhatian seksama, sehingga yang terlahir bukan pengarang-pengarang alumnus Studiklub melainkan pengarang- pengarang otonom seperti Ircham Machfudz Arry Nugroho, S.B. Tono, Ani Inggiriani, dan lain-lain. Selanjutnya, pada tahun 1979, kaderisasi pengarang kelihatan sepi dan lengang, kompetisi berkurang, per- gaulan pun merenggang, dan pengarang membutuhkan kemandi- rian serta kreativitas berkarya.

Namun demikian, lebih jauh Pragolapati mengemukakan bahwa hasil pembibitan pengarang Yogyakarta pada periode 1969—1971 telah mampu menghasilkan dua “kakap”, yaitu Emha Ainun Nadjib dan Linus Suryadi. Pembibitan 1971—1974 menghasil- kan dua “lumba-lumba”, yaitu Yudhistira Ardhi Nugraha dan Korrie Layun Rampan. Selanjutnya, pada tahun 1974—1979 jalur sastra miskin kader-kader yang baik. Memang muncul beberapa lusin nama tetapi karya-karya mereka sering tidak menarik. Pada periode ini Yogyakarta memiliki pengarang-pengarang muda usia 25 tahun ke atas dengan karya-karya mogol bercampur gaul dan bahkan konyol. Akibatnya banyak redaksi mendongkol melihat ulah tulisan para pengarang puber saat itu. Selanjutnya rubrik remaja dan sastra-budaya dihapuskan karena krisis naskah dan pengasuh- nya full-timer jadi wartawan.

Masih berkaitan dengan persoalan di atas, Emha Ainun Nadjib dalam “Hukum Pelunturan bagi ‘Pemasyarakatan’ Sastra” (Basis, XXXVIII, Th. 1979, hlm. 375) mengemukakan gagasan bahwa se- orang sastrawan yang berusaha ‘memenuhi selera masyarakat’ demi penjualan karyanya, paling sedikit terlibat dalam suatu hukum pe- lunturan. Bahwa pada saat karya sastra berusaha dimaksudkan buat khalayak ramai, bahkan pada saat ia disebarkan, ia selalu

mengalami penurunan-penurunan kualitas. Yang pertama, pelun- turan itu terjadi pada karya itu sendiri, dan yang kedua, bisa juga terjadi pada pencapaian dialog dengan masyarakat luas. Jadi, jelas- nya karya-karya sastra yang bisa hidup subur dalam masyarakat umum selalu hanya pada tingkat tertentu atau yang pada kenyata- annya telah mengalami kompromi atau pelunturan. Berdasarkan hal ini, pikiran yang mengatakan bahwa karya sastra bisa dibaca oleh seluruh lapisan masyrakat, harus dipertanyakan kembali. Se- tidaknya agar para sastrawan tidak memubadzirkan energi buat suatu mimpi yang seakan menggiurkan. Juga agar sastrawan tidak merasa ‘nestapa berkepanjangan’ bahwa sastra terpencil.

Selanjutnya, Noto Suwarto dalam artikel “Pengarang Indone- sia sedang ‘Belajar’” (Minggu Pagi, No. 14, 6 Juli 1980, Thn. ke-33, hlm. 3) mengemukakan bahwa pengarang Indonesia banyak dikecam pengarang asing John Steinbeck, East of Eden, dan Tortilla Flat sebagai “kurang” banyak melihat dunia, kurang berani me- ninggalkan tanah kelahiran, kurang bersinggungan dengan jagad. Kekurangan seperti itu membuat pengarang seperti “katak dalam terowongan”. Kecaman seperti itu pernah juga dilontarkan oleh Idrus dan H.B. Jassin dalam banyak tulisannya, meski tidak secara langsung menyebut ‘kekurangan’ pengarang Indonesia itu. Bahkan Budi Darma (waktu itu baru saja pulang dari Amerika setelah menyandang gelar terhormat) dan Putu Wijaya juga mengakui bahwa pengarang Indonesia ‘sedang belajar menulis atau me- ngarang’. Apa yang menyebabkan hal itu? Faktor ekonomilah yang menyebabkan para pengarang harus mencari uang secepatnya untuk bisa survive sehingga mereka kurang memperhatikan kuali- tas karya. Padahal karya ‘bermutu’ harus digarap secara serius dan memakan waktu lama. Itu pun belum tentu diterbitkan atau menghasilkan uang cukup banyak. Ia pun mengakui bahwa selama ini belum banyak pengarang Indonesia yang mencurahkan dirinya secara total kepada profesi kepengarangannya.

Senada dengan hal itu, Mohammad Diponegoro dalam tulisan- nya “Seribu Satu Malam” (Suara Muhammadiyah No.13, Thn. ke- 60, Juli 1980) mengemukakan harapannya kepada para pengarang yang sering mengirim naskah cerpen ke majalah Suara Muhamma-

diyah; hendaknya mereka banyak belajar dari cerita-cerita yang baik, antara lain, cerita Seribu Satu Malam. Sebab, cerita itu mengan- dung ketegangan dan suspense yang bertubi-tubi sehingga pembaca selalu tertarik. Kemenarikan sebuah cerita sudah harus terbangun sejak paragraf pertama, sebab kalau tidak, pembaca akan malas membacanya.

Sementara itu, Ragil Suwarno Pragolapati dalam tulisan “Wa- bah Sayembara Mengarang” (Masa Kini No. 235, Thn. XIII, 12 Fe- bruari 1979) mengemukakan bahwa pada tahun 1950-1960-an sayem- bara mengarang sudah menjamur, dengan pelopornya DKJ (BMKN), tetapi pada 1960—70-an mengendor. Di satu sisi, sayembara itu bisa menambah kesejahteraan pengarang karena hadiahnya lebih besar jika dibanding honor karangan yang dimuat di media. Akan tetapi, di sisi lain, sayembara juga menimbulkan kebosanan sebab karya yang dilombakan terkesan dipaksa-paksa, dibuat terburu- buru sehingga kualitasnya menjadi kurang baik. Yang tidak menang pun menimbulkan kebosanan. Ternyata, sayembara seperti itu tidak serta-merta menggairahkan aktivitas dan kreativitas dalam menga- rang karena mengarang sebenarnya “panggilan” di samping harus selalu aktif, kreatif, dan kontinyu berlatih. Di pihak lain, berita akan dihidupkannya lagi pemberian hadiah sastra bagi para penga- rang dapat menambah gairah baru untuk menulis karya sastra yang lebih baik.

Selain itu, Yunus Syamsu Budhie dalam “Bu Guru Menyaran- kan agar Kami Membaca “Horison” (Masa Kini, No. 234, Thn. XIII, 10 Februari 1979) mengajak kita (pembaca) untuk membaca maja- lah sastra Horison. Ia mengemukakan kekecewaannya juga karena majalah itu penerbitannya sangat terbatas sehingga tidak sampai ke masyarakat. Bagaimana bisa membaca Horison kalau majalah itu tidak sampai ke tangan? Karena itu, diharapkan para pengarang Indonesia tidak hanya menulis sastra di Horison, tetapi juga di media masa yang luas jangkauannya seperti koran, harian, atau minggu- an.

Selain itu, kritik yang berorientasi pada pengarang yang meng- ungkapkan persoalan tentang dunia kepengarangan saat itu yang ditengarai masih “meragukan”, di antaranya ditulis oleh Bakdi

Soemanto dalam “Pengarang sebagai Mata Pencaharian, Mung- kinkah itu di Indonesia?” (Semangat, No. 7, Maret 1972, hlm. 8— 9). Bakdi dalam artikel itu mengupas secara panjang lebar tentang kondisi pengarang saat itu yang dianggapnya masih belum men- janjikan untuk menopang kelangsungan hidup pengarang. Ia meng- akui bahwa tidak setiap pengarang dapat memperoleh honor yang besar dan tidak setiap kali orang dapat mengarang karena menga- rang perlu ‘tenaga’ lebih dibanding pekerjaan lain. Oleh karena itu, pernyataan bahwa mengarang sebagai mata pencaharian mung- kinkah itu di Indonesia? Tidak dapat dengan konkret dijawab ya dan tidaknya. Namun, ia pun dapat mengemukakan keoptimisan- nya yang didasari pengalaman-pengalaman sendiri dan diramu dengan pengalaman-pengalaman orang lain, bahwa di Indonesia pengarang sudah bisa hidup dari honorarium karangan-karangan- nya, mengarang sudah bisa dijadikan mata pencaharian, dan profe- si ini masih terbuka luas buat cari nafkah. Ia mencontohkan penulis (pengarang) cerita silat S.H. Mintardja Api Di Bukit Menoreh mem- peroleh ‘gaji’ seratus ribu setiap minggu dari hasil karyanya. Ajip Rosidi juga hidup dari buku-bukunya, demikian pula H.B. Jassin dan Motinggo Busje hidup dari novel-novelnya, sedangkan penyair dan dramawan terkemuka, W.S. Rendra hidup dari bukunya Empat Kumpulan Sajak karena buku itu menghasilkan sebuah rumah di Sawojajar 28, Yogyakarta.

Selanjutnya, B. Gde Winnjana dalam tulisannya “Pengarang dan Penulis Sekarang” (Semangat, No. 9, Mei 1972, hlm. 8—10) mem- berikan tanggapan atas tulisan Bakdi di atas. Dikatakannya bahwa kalau pertanyaan itu dikemukakan dua belas atau empat belas tahun yang lalu (1950—1960), memang akan ada keraguan dalam menjawabnya. Tidak ada penulis atau pengarang yang berani meng- ambil risiko untuk menjadi kere dan kelaparan. Kebanyakan penga- rang pada waktu itu adalah pegawai, artinya, mereka mempunyai penghasilan tetap dari jabatannya. Menulis hanya merupakan pe- kerjaan sambilan, bukan menjadi sumber penghasilan pokok. Namun, keadaan mulai menunjukkan perubahan ketika pada tahun 1962 banyak pengarang yang berani terjun dalam dunianya, seperti W.S. Rendra. Ia tidak ingin melamar pekerjaan menjadi pegawai tetapi

terus giat menulis puisi dan mementaskan drama. Ia betul-betul hidup dari kesenimannya, begitu juga Motinggo Boesje, Ajip Rosidi, Gerson Poyk, dan Kirdjomuljo. Sedangkan pengarang lain, seperti Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, Bambang Soelarto, Soekarno Hadian, Subagio Sastrowardojo, Taufik Ismail, Idrus Ismail, walaupun kadang-kadang masih menulis, mereka tetap setia sebagai white collar. Beberapa di antara mereka benar-benar sudah punya nama, tetapi rupanya tetap rasional, tidak berani menjadi kere.

Kondisi seperti di atas oleh Ajip Rosidi dalam artikel Pragola- pati yang berjudul “Ekspansi Sastra ke Majalah Hiburan” (Basis, No. 23, 1973—1974) dipertegas lagi dengan melontarkan keluhan- keluhan pahit tentang kondisi kepengarangan saat itu. Ia melihat dari kalangan yang lebih luas, keadaan umum pengarang Indone- sia, bahwa para pengarang di Indonesia belum bisa hidup layak dan baik dari karya-karyanya. Pendapat itu didasari dari hasil peng- amatan dan pengalamannya selama duduk di kursi pimpinan penerbit Pustaka Jaya, Jakarta. Hal itu akan berbeda jauh jika diban- dingkan dengan nasib baik Singgih Hadi Mintarja, yang bisa hidup kaya dan hidup mewah karena cerita-cerita “Silat Jawa”-nya dimuat bersambung di beberapa koran setiap bulan dengan jilid-jilid yang panjang dan beberapa di antaranya telah difilmkan, dan Yohny Hidayat Ar. yang berpenghasilan bersih Rp50.000,00 sebulan dari (hanya sekadar) gambar-gambar kartunnya.

Selain itu, kritik terhadap pengarang juga mempersoalkan perkembangan sejarah kesusastraan Indonesia yang muncul pada kurun waktu tersebut (terutama perkembangan seni drama), di antaranya tulisan Rendra yang berjudul “Menyadari Kedudukan Drama Modern di Indonesia” (Basis, Thn. ke-17, 1967—1968). Dalam esai itu W.S. Rendra secara panjang lebar mengemukakan kondisi perkembangan seni drama saat itu yang dinilai masih goyah. Di- katakannya bahwa seorang dramawan di Indonesia selalu meng- alami kesulitan dalam mengembangkan sebuah rombongan sandi- wara yang kompak dan stabil karena anggota-anggota rombongan- nya yang amatir itu tidak bisa memberi dedikasi seorang profesio- nal. Demikian pula dalam pemilihan pemain ia selalu mengadakan

kompromi dengan kenyataan bahwa ia hanya bisa memilih di antara para amatir karena pemain profesional yang sesungguhnya belum ada. Selain itu rombongan sandiwara modern yang profesio- nal pun belum ada. Semuanya itu menggiring kepada nasib buruk keadaan drama modern saat itu. Lebih dari itu, ada satu kenyataan pahit lagi bahwa para dramawan yang bersungguh-sungguh itu sendiri kurang pengalamannya. Maklumlah, sebab lapangannya itu memang baru adanya. Drama yang dialognya ditulis dengan naskah itu tidak asli muncul dari kebudayaan Indonesia. Ia muncul sebagai pengaruh kebudayaan Barat dan tumbuh sebagai tradisi baru yang masih belum teguh akarnya dalam kebudayaan Indo- nesia.

Ditegaskan lagi oleh Rendra bahwa keadaan seni drama modern di Indonesia saat itu melempem. Rata-rata dramawan-damawan Indonesia masih kurang berpengalaman dengan bentuk dan ide drama modern. Walau semangat mereka bergelora dan hati mereka mantap untuk mengabdi pada seni drama modern, tetapi hasil pe- kerjaan mereka kurang, kesegaran ilham kurang, mutunya setengah- setengah. Jadi, pertama-tama yang harus disadari ialah bahwa kedu-

Dalam dokumen KRITIK SASTRA INDONESIA DI YOGYAKARTA 19 (Halaman 61-76)

Dokumen terkait