HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Kualitas dan kuantitas campuran ampas tahu
Ternak sapi perah yang mampu menghasilkan susu yang tinggi tapi tidak mendapat pakan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas tidak akan menghasilkan susu sapi secara optimal. Pakan sapi perah terdiri dari hijauan (rumput gajah) dan konsentrat yang ketersediaan dan kualitasnya harus selalu dijaga selama masa pemeliharaan sapi. Konsentrat sendiri merupakan pakan tambahan terhadap pakan utama sapi perah dengan kualitas bahan pakan yang pada umumnya lebih baik dari pakan hijauan, tapi kualitasnya sendiri bervariatif tergantung jenis bahan baku yang digunakan. Memperoleh hasil susu segar yang baik bergantung juga pada faktor pakan, oleh karena itu pengolahan pakan ternak berupa konsentrat dengan campuran ampas tahu sangat dijaga dalam pelaksanaannya. Komposisi dalam pembuatan paka tersebut sangat diperhatikan dengan presentase setiap jenis campuran yang tepat untuk menghasilkan pakan yang berkualitas juga untuk diberikan pada sapi nantinya.
Peternakan sapi perah Erif Farm memberikan pakan pada sapi yang sedang dalam masa produksi berupa konsentrat dengan kandungan protein 15% yang terdiri dari campuran beberapa bahan baku, yaitu dedak, polard, bungkil, jagung, jipang, gaplek, molase, rempah, coklat, toksin, kedelai, garam, kapur, serta mineral. Keseluruhan bahan baku pembuatan konsentrat tersebut sudah ditakar untuk komposisinya masing-masing oleh pemilik perusahaan yang telah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kandang. Pakan konsentrat yang sudah jadi akan diberi campuran lagi berupa ampas tahu. Komposisi dan teknis pemberian pakan sebaiknya dilakukan sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan di peternakan dan kebiasaan sapi-sapi yang didiberi pakan setiap harinya. Perubahan jadwal pemberian pakan dengan komposisi yang berbeda juga perlu dihindari, karena hal tersebut dapat mengganggu nafsu makan sapi perah dan akhirnya dapat membuat produktivitas sapi dalam menghasilkan susu menurun.
Campuran ampas tahu yang diberikan di peternakan Erif Farm adalah sebanyak 15 hingga 45 Kg per hari. Sehingga pakan berupa konsentrat dengan campuran ampas tahu akan diberikan kepada masing-masing sapi sebanyak 8 Kg per hari. Berdasarkan informasi dan pengamatan yang dilakukan di Erif Farm, campuran ampas tahu ini sangat berpengaruh penting untuk mempertahankan
kestabilan produksi susu. Jadi, jika sapi tidak diberikan ampas tahu bisa membuat produksi susu sapi yang dihasilkan menurun hingga mencapai 20% dari total susu yang biasa dihasilkan (Syarif, 2011). Kualitas ampas tahu juga perlu diperhatikan, karena jika ketersediaan ampas tahu yang sudah terlalu lama digunakan sebagai bahan campuran juga bisa membuat produksi susu sapi menurun. Kualitas campuran ampas tahu yang sudah terlalu lama disimpan seperti dalam Gambar 15 mengenai keadaan ampas tahu yang berubah warna menjadi menguning dan mengeluarkan bau yang menyengat. Selain itu, berdasarkan informasi dari peternak di Erif Farm pemberian campuran ampas tahu juga akan berpengaruh terhadap produksi susu yang dihasilkan jika kuantitas atau jumlah ampas tahu yang diberikan kurang. Berdasarkan pencatatan dan hasil wawancara dengan penjaga masing-masing kandang di peternakan sapi perah Erif Farm, jumlah susu yang hilang akibat dari kualitas dan kuantitas ampas tahu yang tidak sesuai dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Jumlah susu yang hilang untuk 19 ekor sapi akibat kualitas dan kuantitas ampas tahu di peternakan sapi perah Erif Farm (Mei 2014)
Hari ke- ∑ standar hasil pemerahan (Liter) ∑ hasil pemerahan aktual (liter)
Hasil produksi susu yang hilang karena kualitas dan kuantitas campuran ampas
tahu (liter) 1 380 268.5 28 2 380 261 31.5 3 380 280.5 29.5 4 380 260.5 33 5 380 253 28 6 380 274.5 30 7 380 268 38 8 380 296 23 9 380 265 29 10 380 267 31 11 380 270.5 33.5 12 380 262.5 33.5 13 380 292.5 24.5 14 380 287.5 24.5 15 380 264 34.5 16 380 287 28.5 17 380 257.5 33 18 380 260.5 32 19 380 287.5 27 20 380 271.5 31.5 21 380 277 28 22 380 301 20.5 23 380 290 22 24 380 290 26 25 380 300.5 22.5 26 380 311.5 15.5 27 380 273.5 26.5 28 380 292 20 29 380 272 27.5 30 380 264.5 28
Cara mengidentifikasi kehilangan susu per hari akibat sumber risiko campuran ampas tahusesuai dengan jumlah yang tercantum dalam Tabel 11 adalah dengan asumsi menghitung porsi ampas tahu yang diberikan per hari kepada setiap sapi, kemudian dicatat dan dilihat apakah kualitas dan kuantitas yang diberikan sudah sesuai standar atau tidak untuk masing-masing sapi tersebut. Jumlah kekurangan ampas tahu pada campuran konsentrat dapat diketahui setiap harinya berdasarkan pencatatan petugas pakan saat melakukan pemberian pakan. Apabila jumlah campuran ampas tahu yang diberikan pada campuran konsentrat kurang dari standar pemberian yang biasa dilakukan, maka diasumsikan bahwa campuran ampas tahu tersebut mengakibatkan kehilangan produksi susu. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari peternak, diasumsikan bahwa setiap berkurangnya 1 hingga 3 kg ampas tahu akan menyebabkan kehilangan susu sebanyak 0.5 hingga 2.5 liter susu setiap pemerahan dilakukan dan berlaku kelipatan untuk kehilangan lebih dari itu. Setelah hal tersebut dilakukan, nantinya kita akan mendapatkan berapa jumlah susu sapi yang hilang akibat sumber risiko campuran ampas tahu dengan membandingkan hasil pemerahan aktual setiap harinya selama penelitian dengan jumlah standar pemerahan susu yang dihasilkan setiap sapi per hari di peternakan Erif Farm.
Gambar 14 Perubahan kualitas campuran ampas tahu akibat lama penyimpanan
Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2014
2. Penyakit
Kehilangan hasil susu sapi segar pada Erif Farm salah satunya disebabkan oleh penyakit. Menurut informasi yang didapat, penyakit merupakan penyebab utama yang dapat menyebabkan kehilangan hasil produksi susu sapi. Penyakit yang dapat menyerang sapi perah ini umumnya bermacam-macam, antara lain mastitis (infeksi kelenjar ambing), radang kulit, radang kuku atau kuku busuk (Foot Root), penyakit mulut dan kuku (Apthae Epizootica), demam susu (Parturien Paresis), radang paha (Black Leg), penyakit tujuh keliling (Surra), serta antraks. Berbagai macam penyakit yang telah disebutkan tersebut muncul karena adanya virus dan bakteri di kandang, kondisi kandang atau lingkungan kandang yang kurang baik, sarana budidaya lainnya, atau bisa juga karena kelalaian sumberdaya manusianya.
Penyakit yang menyerang sapi perah tersebut ada yang bersifat menular, walaupun penyakit menular tersebut tidak selalu mematikan secara langsung namun dapat merusak kesehatan sapi perah dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, perlu segera dilakukan penanganan terhadap sapi perah yang terkena penyakit dan para peternak dituntut untuk mengetahui masalah yang berkaitan dengan kedokteran hewan. Diperlukan pengenalan mengenai berbagai jenis penyakit terutama penyebabnya, akibat serangan penyakit tersebut, penyebarannya, serta bagaimana cara atau tindakan pencegahannya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pemilik dan pekerja masing- masing kandang, jenis penyakit yang menjadi penyebab utama menurunnya produksi susu sapi adalah Mastitis (infeksi kelenjar ambing). Penyakit mastitis ini terjadi karena puting yang habis diperah terbuka, kemudian terjadi kontak dengan lantai atau tangan pemerah yang terkontaminasi bakteri, bisa juga karena proses pemerahan susu dari masing-masing sapi tidak diperah secara penuh. Gejala dari serangan penyakit mastitis tersebut adalah ambing terlihat bengkak dan sakit, air susu yang dihasilkan berubah menjadi encer, bergumpal, atau bercampur dengan darah dan nanah, nafsu makan menurun, hingga kondisi terparah adalah semakin lama sekresi air susu akan terhenti atau tidak dapat menghasilkan susu yang dapat dikonsumsi. Jika sapi yang terkena penyakit mastitis ini sudah mengeluarkan nanah atau darah, sapi tersebut akan segera dipisahkan dengan sapi lainnya.
Gambar 15 Hasil pemerahan susu karena mastitis
Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2014
Selain itu, penyakit lain yang menyebabkan produksi susu sapi Erif Farm menurun adalah radang kulit, sapi pincang karena bagian kakinya terluka, dan ada juga yang belum diketahui nama peyakitnya oleh peternak tapi itu terjadi akibat gigitan serangga pada bagian puting sapi yang menyebabkan keluarnya air susu pada bagian puting yang tergigit menjadi sulit atau sedikit keluar. Cara mengidentifikasi kehilangan susu per hari akibat sumber risiko penyakit adalah dengan mengamati setiap harinya keadaan 19 ekor sapi yang diteliti. Selanjutnya, dilakukan pencatatan mengenai kondisi kesehatan setiap sapi yang diteliti. Keterangan mengenai penyakit yang diderita oleh sapi diperoleh dari informasi masing-masing petugas kandang disertai dengan identifikasi langsung pada sapi selama penelitian. Standar kehilangan untuk setiap jenis penyakit berbeda-beda, standar tersebut diperoleh dari hasil wawancara dengan para petugas kandang dan pemilik peternakan. Beberapa penyakit yang sering menyerang ternak sapi antara
lain, mastitis, radang kulit, ataupun sapi pincang. Mastitis merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada ternak-ternak sapi yang ada di Erif Farm. Pada saat sapi terserang mastitis tidak selalu keempat ambing akan langsung terserang, seringkali hanya pada satu atau dua ambing saja yang tidak dapat diperah karena sedang terserang penyakit mastitis. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari petugas kesehatan di Erif Farm, rata-rata kehilangan susu untuk setiap satu ambing yang terkena mastitis adalah sebanyak 2 hingga 4 liter per ambing untuk setiap pemerahan. Setelah hal tersebut dilakukan, nantinya kita akan mendapatkan berapa jumlah susu sapi yang hilang akibat sumber risiko penyakit dengan membandingkan hasil pemerahan aktual setiap harinya selama penelitian dengan jumlah standar pemerahan susu yang dihasilkan setiap sapi per hari di peternakan Erif Farm. Jumlah kehilangan produksi susu selama 30 hari untuk 19 sapi yang diteliti yang disebabkan oleh penyakit dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Jumlah susu yang hilang untuk 19 ekor sapi akibat penyakit di peternakan sapi perah Erif Farm (Mei 2014)
Hari ke- ∑ standar hasil pemerahan (Liter) ∑ hasil pemerahan aktual (liter)
Hasil produksi susu yang hilang karena penyakit (liter)
1 380 268.5 50 2 380 261 57 3 380 280.5 40 4 380 260.5 51 5 380 253 60 6 380 274.5 74 7 380 268 63 8 380 296 38 9 380 265 52 10 380 267 54 11 380 270.5 44 12 380 262.5 52 13 380 292.5 40 14 380 287.5 42 15 380 264 56 16 380 287 40 17 380 257.5 56 18 380 260.5 56 19 380 287.5 42 20 380 271.5 40 21 380 277 46 22 380 301 32 23 380 290 40 24 380 290 38 25 380 300.5 36 26 380 311.5 26 27 380 273.5 44 28 380 292 41 29 380 272 42 30 380 264.5 46