• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Erif Farm, yang berlokasi di Kampung Darussalam, Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Cisarua merupakan wilayah yang memiliki kondisi fisik, suhu, serta curah hujan yang cocok digunakan untuk lokasi usaha peternakan sapi perah dan merupakan salah satu sentra produksi susu sapi di Kabupaten Bogor. Selain itu pertimbangan lain dalam pemilihan lokasi penelitian ini adalah ketersediaan data dan kesedian pihak perusahaan untuk dijadikan tempat penelitian. Pengumpulan data pada Erif Farm berlangsung selama satu bulan, yaitu pada bulan Mei 2014.

Jenis dan Sumber Data

Berdasarkan jenisnya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif merupakan jawaban dan keterangan dari pertanyaan penelitian yang bukan angka. Data kualitatif meliputi perkembangan usaha produksi susu sapi perah, teknis pelaksanaan usaha, kondisi usaha, peralatan yang digunakan dalam usaha, dan hal lain yang terkait dengan teknik dan proses pemerahan susu sapi. Sedangkan data kuantitatif dalam penelitian ini merupakan data yang diperoleh dari fakta dan informasi yang sudah disusun dan lebih terukur. Pada data kuantitatif ini meliputi data produksi susu sapi segar selama satu bulan, harga jual, jumlah sapi laktasi selama satu bulan, dan semua keterangan yang berupa angka.

Berdasarkan sumbernya, data yang digunakan dalam penelitian ini ialah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari pengamatan langsung pada objek penelitian, seperti kondisi usaha, proses pengolahan atau penanganan produksi susu sapi. Data primer dalam pengamatan ini digunakan untuk mengidentifikasi dan mengkaji risiko-risiko yang mungkin dihadapi dalam usaha produksi susu sapi perah. Data primer ini didapatkan dari wawancara langsung kepada pemilik perusahaan dan penanggung jawab produksi untuk mengetahui apa saja kendala atau permasalahan yang sering dihadapi, serta hal apa yang menjadi penyebab risiko tersebut. Sedangkan data sekunder merupakan data untuk penelitian yang tidak langsung ditemukan oleh peneliti. Data sekunder ini diperoleh dari buku, artikel, skripsi serta data-data instansi terkait yang mendukung penelitian ini seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Direktorat Jenderal Peternakan, DinasPeternakan dan Perikanan, perpustakaan LSI Institut Pertanian Bogor, internet, jurnal dan literatur relevan yang terkait dengan penelitian ini.

Metode Pengumpulan Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang didapat dengan cara observasi, wawancara, diskusi dan kuisioner dengan pihak perusahaan. Observasi dilakukan secara langsung oleh peneliti dengan melakukan pencatatan langsung di lokasi penelitian, baik dari aktivitas produksi ataupun berbagai kendala risiko yang dihadapi perusahaan.

Proses pengambilan data dan penentuan responden pada penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu dengan melakukan wawancara, dan diskusi dengan pemilik perusahaan dan penanggung jawab produksi sebagai responden. Penentuan responden ini berdasarkan pertimbangan memiliki kapabilitas dalam memberikan data yang akurat, karena responden merupakan pihak yang berhubungan langsung dan mengetahui dengan jelas mengenai produksi susu sapi segar dan risiko apa saja yang dihadapi oleh perusahaan terkait dengan proses produksi.

Metode Analisis Data

Pengkajian dan pembahasan dalam penelitian ini dilakukan dengan pengolahan data dan informasi dari data primer dan sekunder. Data ini diolah dan dianalisis dengan menggunakan metode pengolahan data yang dikelompokkan ke dalam dua jenis metode, yaitu metode analisis deskriptif (kualitatif) dan metode analisis risiko (kuantitatif). Metode analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian disajikan dalam Tabel 8.

Tabel 8 Metode analisis untuk menjawab tujuan penelitian

No Tujuan Penelitian Sifat Data Sumber Data Metode Analisis 1 Mengidentifikasi sumber-

sumber risiko produksi susu sapi segar pada Erif Farm Kualitatif dan kuantitatif Wawancara, kuisioner, diskusi Analisis Deskriptif 2 Menganalisis seberapa besar probabilitas dan dampak risiko produksi susu sapi segar pada Erif Farm Kuantitatif Kehilangan jumlah hasil produksi susu sapi segar berdasarkan sumber-sumber risiko Analisis Risiko (Kuantitatif) 3 Menganalisis alternatif manajemen risiko yang diterapkan untuk

mengatasi risiko prpduksi susu sapi segar pada Erif Farm

Kualitatif Wawancara, kuisioner, diskusi

Analisis Deskriptif

Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif dilakukan melalui observasi, wawancara dan diskusi. Analisis deskriptif ini digunakan untuk menganalisis sumber-sumber risiko dan alternatif strategi manajemen risiko yang diterapkan oleh Erif Farm dalam meminimalkan risiko yang dihadapi. Hal tersebut didasarkan pada status risiko yang dihadapi oleh usaha peternakan sapi perah pada Erif Farm. Melalui analisis deskriptif ini pula, manajemen risiko yang dijalankan oleh Erif Farm dapat dikaji efektif atau tidaknya. Penggunaan analisis deskriptif ini diharapkan dapat membantu melengkapi analisis risiko yang bersifat kuantitatif.

Analisis Kemungkinan Terjadinya Risiko

Risiko dapat diukur jika diketahui kemungkinan terjadinya risiko dan besarnya dampak risiko yang dihadapi perusahaan. Ukuran pertama dari risiko adalah besarnya kemungkinan terjadinya yang mengacu pada seberapa besar probabilitas risiko akan terjadi. Metode yang digunakan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya risiko adalah metode nilai standar atau z-score. Metode ini dapat digunakan apabila ada data historis dan berbentuk kontinus (desimal). Pada penelitian ini, yang akan dihitung adalah kemungkinan terjadinya risiko pada kegiatan produksi pemerahan susu sapi. Data produksi berupa hasil pemerahan susu sapi dilihat dari pencatatan data periode sebelumnya pada Erif Farm dengan pencatatan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini , yaitu selama satu bulan pada bulan Mei 2014. Menurut Kountur (2008), beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk melakukan perhitungan kemungkinan terjadinya risiko menggunakan metode ini dan aplikasinya dalam usaha produksi susu sapi pada Erif Farm adalah :

a. Menghitung produksi susu sapi segar yang hilang berdasarkan sumber risiko Risiko produksi susu sapi segar pada Erif Farm diindikasikan dengan adanya fluktuasi produktivitas susu sapi segar pada setiap periode produksi. Produksi susu sapi segar yang hilang disebabkan oleh beberapa faktor berupa sumber risiko dapat dicari melalui perbandingan antara jumlah standar hasil pemerahan susu sapi dengan jumlah hasil pemerahan aktual. Informasi mengenai produksi susu sapi segar yang hilang berdasarkan sumber risiko, seperti kualitas dan kuantitas campuran ampas tahu, penyakit, serta kondisi pakan hijauan dapat diperoleh melalui eksperimen berupa pencatatan mengenai sumber-sumber risiko penyebab hilangnya produksi susu sapi segar selama bulan Mei 2014. Perolehan hasil pencatatan nantinya hanya dilakukan pada sapi yang sedang dalam umur laktasi 2 hingga 4 dari setiap kandang yang ada di Erif Farm sebagai objek yang diteliti. Pencatatan untuk mengetahui jumlah produksi susu yang hilang sangat diperlukan agar data yang dihasilkan nantinya dapat dibuktikan secara akurat berdasarkan eksperimen yang dilakukan bukan berdasarkan wawancara pada peternak ataupun karyawan bagian pencatatan pada Erif Farm. Format pencatatan mengenai produksi susu sapi yang hilang dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Format pencatatan produksi susu yang hilang selama bulan Mei 2014 Hari ke- ∑ standar hasil pemerahan (Liter) ∑ hasil pemerahan aktual (liter)

Hasil produksi susu yang hilang (liter)

Total hasil produksi susu yang hilang (liter) Kualitas dan kuantitas campuran ampas tahu Penyakit Kondisi pakan hijauan 1 2 3 ... ... ... 30 ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...

b. Menghitung rata-rata kejadian berisiko

Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata fluktuasi produksi susu sapi segar adalah :

Dimana:

= Rata-rata kehilangan susu sapi segar per sumber risiko selama 30 hari (liter)

xi = Kehilangan hasil susu sapi segar per hari dan per sumber risiko (liter)

n = 30 hari pemerahan

c. Menghitung nilai standar deviasi dari kejadian berisiko

S =

Dimana:

S = Standar deviasi dari kehilangan susu sapi segar per sumber risiko selama 30 hari

xi = Kehilangan hasil susu sapi segar per hari dan per sumber risiko (liter)

= Rata-rata kehilangan susu sapi segar per sumber risiko selama 30 hari (liter)

n = 30 hari pemerahan d. Menghitung z-score

Dimana:

Z = Nilai z-score dari kehilangan susu sapi segar per sumber risiko selama 30 hari

S = Standar deviasi dari kehilangan susu sapi segar per sumber risiko selama 30 hari

X = Batas normal kehilangan susu akibat sumber risiko (liter)

= Rata-rata kehilangan susu sapi segar per sumber risiko selama 30 hari (liter)

Jika hasil z-score yang diperoleh bernilai negatif, maka nilai tersebut berada di sebelah kiri nilai rata-rata pada kurva distribusi normal. Sebaliknya, jika nilai z-score positif maka nilai tersebut berada di sebelah kanan kurva distribusi z (normal).

e. Mencari probabilitas terjadinya risiko produksi

Setelah nilai z-score dari produksi susu sapi segar Erif Farm diketahui, selanjutnya dapat dicari probabilitas terjadinya risiko produksi yang diperoleh dari tabel distribusi z (normal) sehingga dapat diketahui berapa persen kemungkinan terjadinya keadaan dimana produksi susu sapi yang hilang mendatangkan kerugian yang disebabkan oleh masing-masing sumber risiko yang melebihi batas normal yang ditetapkan.

Analisis Dampak Risiko

Metode yang paling efektif digunakan dalam mengukur dampak risiko adalah VaR (Value at Risk). VaR adalah kerugian terbesar yang mungkin terjadi dalam rentang waktu tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu. Penggunaan VaR dalam mengukur dampak risiko hanya dapat dilakukan apabila terdapat data historis sebelumnya. Metode analisis tersebut dilakukan untuk mengukur dampak dari risiko pada kegiatan produksi susu sapi di Erif Farm. Kejadian yang dianggap merugikan berupa produksi susu sapi segar yang hilang sebagai akibat dari terjadinya sumber-sumber risiko. Dalam menghitung VaR, terlebih dahulu dihitung jumlah produksi susu yang hilang setiap periode. Jumlah produksi susu yang hilang tersebut kemudian dikalikan dengan harga yang terjadi pada periode yang sama. Setelah didapat angka kerugian dari masing- masing periode kemudian dijumlahkan dan dihitung rata-ratanya, setelah itu dicari berapa besar nilai standar deviasi atau penyimpangan. Menurut Kountur (2008), VaR dapat dihitung dengan rumus berikut:

VaR =

̅

Dimana:

VaR = Dampak kerugian yang ditimbulkan oleh risiko pemerahan susu sapi segar selama 30 hari

= Rata-rata kehilangan susu sapi segar per sumber risiko selama 30 hari (liter) Si = Produksi susu yang hilang pada masing-masing sumber risiko pada hari ke-i

P = Tingkat harga susu sapi segar pada Erif Farm (Rp)

z = Nilai z dari setiap sumber risiko yang diambil dari tabel distribusi normal dengan alfa 5%

s = Standar deviasi dari kehilangan susu sapi segar per sumber risiko selama 30 hari

n = 30 hari pemerahan susu

Pemetaan dan Penanganan Risiko

Hal yang terlebih dahulu perlu diLakukan sebelum merumuskan strategi penanganan risiko adalah membuat peta risiko (Kountur, 2008). Peta risiko merupakan gambaran mengenai posisi risiko yang dibagi menjadi 4 kuadran pada suatu peta dari dua sumbu, yaitu sumbu vertikal yang menggambarkan probabilitas dan sumbu horizontal yang menggambarkan dampak, ataupun sebaliknya.

Probabilitas atau kemungkinan terjadinya risiko dibagi menjadi dua bagian, yaitu besar dan kecil. Dampak risiko juga dibagi menjadi dua bagian, yaitu besar dan kecil. Batas antara probabilitas serta dampak besar dan kecil ditentukan dengan pendekatan menggunakan rata-rata dari ketiga sumber risiko yang digunakan, yaitu kualitas dan kuantitas campuran ampas tahu (R1), penyakit (R2), dan kondisi pakan hijauan (R3). Berdasarkan sumber risiko tersebut, pada penelitian ini yang yang menjadi batas antara probabilitas serta dampak besar dan kecil merupakan rata-rata dari hasil penjumlahan ketiga risiko dibagi dengan jumlah periode.

Gambar 6 Layout peta risiko

Berdasarkan gambar layout peta risiko yang menggambarkan adanya batasan probabilitas dan dampak, sumber risiko yang memiliki probabilitas di atas

� � �3 � � �3 Dampak (Rp) Probabilitas (%) Kuadran 1 Kuadran 2 Kuadran 3 Kuadran 4 Kecil Kecil Besar Besar

batasan probabilitas dan di bawah batasan dampak ditempatkan pada kuadran satu. Sumber risiko yang dipetakan pada kuadran dua adalah sumber risiko yang memiliki probabilitas diatas batasan dan dampak yang disebabkan lebih besar dari batas dampak yang telah ditentukan. Sumber risiko dengan probabilitas dibawah batasan dan dampak dibawah batas dampak besar dan kecil ditempatkan pada kuadran tiga. Kuadran empat adalah tempat untuk memetakan sumber risiko yang memiliki probabilitas dibawah batasan dan dampak diatas batasan.

Setelah hasil pemetaan didapatkan, langkah selanjutnya adalah menetapkan strategi penganganan risiko yang sesuai dengan hasil pemetaan. Ada dua strategi yang dapat dilakukan dalam menangani risiko, yaitu :

a. Preventif Risiko

Strategi preventif dilakukan untuk risiko yang tergolong dalam probabilitas risiko yang besar. Strategi preventif akan menangani risiko yang berada pada kuadran 1 dan 2. Penanganan risiko dengan menggunakan strategi preventif, maka risiko yang ada pada kuadran 1 akan bergeser menuju kuadran 3 dan risiko yang berada pada kuadran 2 akan bergeser menuju kuadran 4 (Kountur 2008). Pergeseran strategi preventif dalam peta risiko dapat dilihat pada Gambar 4.

b. Mitigasi Risiko

Strategi mitigasi digunakan untuk meminimalkan dampak risiko yang terjadi. Risiko yang berada pada kuadran dengan dampak yang besar diusahakan dapat bergeser ke kuadran yang memiliki dampak risiko yang kecil. Strategi mitigasi akan menangani risiko sedemikian rupa sehingga risiko yang berada pada kuadran 2 bergeser ke kuadran 1 dan risiko yang berada pada kuadran 4 bergeser ke kuadran 3. Strategi mitigasi dapat dilakukan dengan metode diversifikasi, penggabungan, integrasi vertikal, kontrak produksi, kontrak pemasaran dan asuransi (Harwood et al 1999). Pergeseran strategi mitigasi dalam peta risiko dapat dilihat pada Gambar 4.

Dokumen terkait