BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
2. Kualitas Media
1 Pegangan guru kelas dan pendamping saja
2 Pemilihan warna media
3 Pemilihan huruf media
4 Pemilihan tempat untuk media
5 Ukuran untuk media
6 Indikator montessori
7 Auto-correction
8 Huruf yang dibuat dan digunakan
9 Indikator montessori
Tabel 3.5 Kisi-kisi Validasi Modul Panduan oleh Ahli
No Aspek yang diamati
Tabel 3.6 Kisi-kis Validasi Video Penggunaan Media oleh Ahli
No Aspek yang diamati
Peneliti menggunakan pretest dan posttest untuk mengetahui hasil belajar peserta didik sebelum dan sesudah menggunakan media Peter kokben dalam uji coba lapangan. Peneliti menyusun dan mengembangkan soal dan buku siswa. Soal yang dibuat berjumlah 10 soal tipe jawaban singkat.
37
Instrumen tes yang sudah dibuat kemudian diuji validitasnya. Validitas merupakan derajat ketetapan antara data yang terjadi dengan data yang dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono, 2014: 361). Instrumen tes yang sudah dibuat kemudian diujikan kepada peserta didik kelas I SD.
Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan SPSS. Item soal yang valid dapat dilihat dari perbandingan r hitung dan r tabel. Jika r hitung lebih besar dari r tabel maka item soal tersebut valid dan sebaliknya.
Tabel 3.7 Kisi-kisi Soal Tes
No Aspek yang diteliti
1-10 Kata benda yang berada di lingkungan sekitar
E. Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini bersifat kuantitatif dan kualitatif.
Data kualitatif merupakan data yang menunjukkan kualitas atau mutu sesuatu yang ada, baik keadaan proses, peristiwa/kejadian dan lainnya yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau berupa kata-kata (Widoyono, 2012: 18). Data kuantitatif merupakan data yang berwujud angka-angka sebagai hasil observasi atau pengukuran (Widoyono, 2012: 21). Berikut pembahasan dari masing-masing teknik analisis.
1. Analisis Data Kualitatif
Data kualitatif yang didapat berupa komentar dan saran yang dikemukakan oleh ahli bahasa, guru, dan peserta didik kelas I SD. Selain itu data juga diperoleh dari hasil pengamatan peneliti selama proses uji coba.
2. Analisis Data Kuantitatif
Data kuantitatif didapat dari hasil validitas produk oleh ahli. Validitas produk oleh ahli dilakukan denggan menggunakan skala 1, 2, 3 dan 4. Setiap skala dilengkapi dengan kriteria yang memudahkan peneliti dalam memberikan penilaian.
Skala kriteria untuk pedoman penilaian pada instrumen non tes yaitu untuk hasil validitas produk ahli adalah sebagai berikut:
Nilai 4 : Instrumen Sangat Baik Nilai 3 : Instrumen Baik
Nilai 2 : Instrumen Kurang Baik Nilai 1 : Instrumen Tidak Baik
Hasil yang diperoleh dari penilain validator, kemudian dihitung untuk memperoleh rerata penilaian. Rerata penilaian dihitung dengan rumus berikut.
Gambar 3.4 Rumus Rerata Hasil Penilaian Dengan Skala Likert
Rerata nilai tersebut kemudian dikonversikan menjadi data kualitatif dengan acuan dari Widoyoko (2014: 144). Berikut adalah tabel konversi data kuantitatif ke kualitatif menurut Widoyoko yang disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 3.8 Konversi Data Kuantitatif ke Kualitatif
Interval Skor Kategori
3,26-4,00 Sangat baik
2,51-3,25 Baik
1,76-2,50 Kurang
1,00-1,75 Kurang Baik
Interval skor tersebut juga dapat menunjukkan valid/tidaknya suatu instrumen. Berikut adalah kategorisasi hasil skor validasi instrumen oleh ahli yang dituangkan dalam tabel berikut.
39
Tabel 3.9 Konverensi Data Kuantitatif ke Kualitatif
Interval skor Kategori Keterangan
3,26-4,00 Sangat baik Keseluruhan instrumen sudah layak digunakan
2,51-3,25 Baik Keseluruhan instrumen sudah layak digunakan
namun perlu diperbaiki
1,76-2,50 Kurang Keseluruhan instrumen kurang layak digunakan
1,00-1,75 Kurang Baik Keseluruhan instrumen tidak layak digunakan
Instrumen dikatakan valid jika memperoleh rerata skor lebih besar dari 2,50.
Nilai terdapat pada rentang skor 3 (kategori baik) yang berarti keseluruhan instrumen sudah layak digunakan namun perlu perbaikan. apabila rerata skor yang diperoleh lebih kecil dari 2,50, maka instrumen tersebut dapat dikatakan tidak valid.
Analisis data kuantitatif yang selanjutnya dilakukan untuk menghitung persentase jawaban kuesioner. Persentase dihitung dengan menggunakan rumus dari Supraktiknya (2012: 128). Berikut rumus perhitungan persentase jawaban kuesioner disajikan pada rumus berikut.
Gambar 3.5 Rumus Perhitungan Presentase Jawaban Kuesioner
Dalam penelitian ini, peneliti juga menggunakan tes. Tes berupa pretest dan posttest dengan jumlah masing-masing 10 soal. Tes tersebut bertujuan untuk mengetahui hasil belajar peserta didik sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran Peter kokben melalui uji lapangan. Tipe soal yang digunakan adalah jawaban singkat. Skor untuk jawaban yang benar adalah 1 dan skor untuk jawaban yang salah adalah 0. Berikut perhitungan nilai pretest dan posttest dihitung dengan rumus berikut.
x100%
x100
Langkah selanjutnya yaitu menghitung rata-rata tes yang diperoleh oleh semua siswa dengan rumus berikut.
Gambar 3.6 Rumus Rata-rata Tes
Kemudian membandingkan nilai pretest dan posttest dengan cara menghitungkan presentase penilaian dengan rumus berikut.
Gambar 3.7 Rumus Presentase Penilaian
x100%
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Potensi dan Masalah
Dalam mengidentifikasi potensi dan masalah yang terkait dengan media pembelajaran Peter Kokben, peneliti melakukan wawancara dan observasi.
Wawancara dan observasi tersebut penelitian di laksanakan di SD Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa yang berlokasi Jalan Tamansiswa No.25 Yogyakarta, Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
a. Wawancara
Peneliti melakukan wawancara kepada guru kelas I SD Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa, berinisial Bu H. Wawancara dilaksanakan pada hari Selasa, 10 Desember 2019, ini ditujukan sebagai pengumpulan data untuk mengetahui kebutuhan peserta didik dan perkembangan selama di kelas ketika melaksanakan pembelajaran. Hal ini bertujuan agar media pembelajaran Peter Kokben yang dikembangkan dapat membantu peserta didik dalam pembelajaran di kelas.
Wawancara kepada guru kelas I memiliki tujuan untuk memperoleh: (1) Strategi dalam pembelajaran, (2) media pembelajaran yang digunakan sebagai pendukung, (3) kurikulum yang digunakan, (4) strategi dalam penanganan peserta didik terlambat berbicara, (5) masalah yang dihadapi selama kegiatan pembelajaran. Hasil wawancara peneliti disajikan pada tabel berikut:
41
Tabel 4.1 Hasil Wawancara Guru Kelas I
Aspek yang Pertanyaan Respon
diamati
Strategi dalam Dalam mata pelajaran, apakah Masih sulit, karena tidak mampu pembelajaran peserta didik mampu mengikuti merespon ketika ditanya. Namun,
pembelajaran dengan baik di dalam sering kali mau kedepan untuk kelas? memberi tahu jawaban yang ia
dapat.
Apakah peserta didik terlambat Masih mengalami kesulitan, karena berbicara mengalami kesulitan belum paham huruf-huruf secara dalam menyusun huruf menjadi kata benar dan ketika diminta untuk benda? menyebutkan sebuah kata tidak jelas
karena mengalami terlambat
berbicara.
Strategi apakah yang digunakan Lebih sering memberi materi secara guru dalam melakukan lisan, dan ketika peserta didik sudah pembelajaran di dalam kelas bosan. Memberikan lembar kosong maupun di luar? untuk menggambar dan mewarnai.
Media Media apa yang kerap kali Jarang menggunakan media pembelajaran digunakan guru dalam pembelajaran di dalam kelas.
melaksanakan pembelajaran?
Apakah media tersebut dapat Mungkin kalau menggunakan menarik perhatian peserta didik dan media, peserta didik akan tertarik dapat membantu jalannya kegiatan dan lebih fokus terhadap media dari
pembelajaran? pada materi.
Kurikulum yang Apakah kurikulum yang digunakan Kurikulum 2013.
digunakan sekolah?
Apakah tingkatan kurikulum di Tingkatannya di turunkan dari pada sekolah disamakan untuk mengajar kelas reguler.
kepada peserta didik yang berkebutuhan khusus?
Strategi dalam Penanganan seperti apa yang guru Dibantu oleh pendamping, dan penanganan lakukan ketika peserta didik tidak membujuk agar peserta didik tetap peserta didik ingin mengikuti kegiatan terus mengikuti pembelajaran. Atau yang mengalami pembelajaran di dalam kelas? bisa saja mengikuti kemauan peserta
terlambat didik terlebih dahulu.
berbicara
Kendala Apakah ada kendala yang dialami Banyak kendalanya, karena guru guru ketika mengajar menggunakan kelas di pindahkan dari kelas II media pembelajaran? sehingga harus beradaptasi dari
awal terhadap peserta didik. Lalu
jarang menggunakan media, karena
peserta didik akan sulit
dikendalikan.
43
Berdasarkan hasil wawancara kepada guru kelas I, peneliti menyimpulkan bahwa permasalahan yang sering ditemukan pada peserta didik terlambat berbicara belum mampu dikendalikan, dan belum paham terhadap huruf-huruf, sehingga tidak dapat menyusun kata benda. Di sekolah kurang dalam menggunakan media pembelajaran untuk menjelaskan materi kepada peserta didik, sehingga tidak ada metode yang tepat dalam pembelajaran.
Guru hanya terpadu dengan materi dan ceramah. Meskipun demikian, pihak sekolah berhadap akan ada mahasiswa yang memberikan ide kepada guru untuk sering menggunakan media pembelajaran di kelas, agar peserta didik lebih semangat dan termotivasi untuk belajar.
b. Observasi
Peneliti melakukan dua kali observasi, yang pertama 27 Januari 2020 observasi keseluruhan kelas, lalu yang kedua 3 dan 9 Maret 2020 observasi khusus terhadap peserta didik yang peneliti gunakan yaitu peserta didik yang mengalami terlambat berbicara. Peneliti menggunakan satu peserta didik, yang mengalami terlambat berbicara dan memiliki kekurangan secara fisik kaki berbentu O, sehingga mengalami kesulitan dalam berjalan dan berlari. Dalam melakukan observasi, peneliti menggunakan instrumen.
Saat melakukan observasai kelas, peneliti melihat cara mengajar guru saat di kelas tidak terlalu memperhatikan peserta didik saat memberi materi sehingga peserta didik tidak fokus terhadap guru. Peserta didik terlambat berbicara memiliki pendamping yaitu ibunya, ketika kegiatan pembelajaran di kelas sedang berlangsung, peserta didik terlambar berbicara sering kali merasa terganggu ketika peserta didik yang lain ribut sehingga ia berteriak agar peserta didik yang lain diam. Peneliti sempat memberikan kata untuk dibaca, namun saat membaca belum jelas. Umur peserta didik sudah mencapai delapan tahun. Berdasarkan hasil observasi, peneliti menyimpulkan bahwa media pembelajaran tidak digunakan saat kegiatan pembelajaran berlangsung.
2.Pengumpulan Data
Pada tahap ini, peneliti memastikan terlebih dahulu hasil assesment peserta didik yang akan diteliti. Setelah usai memastikan, peneliti melakukan tahap pengolahan data wawancara dan observasi yang telah dilakukan.
Survei lokasi pembuatan media, peneliti mengunjungi dua lokasi yaitu percetakan Everyprint di jalan Affandi, Yogyakarta dan Yayasan Penyandang Cacat Mandiri di jalan Parangtritis, Bantul, Yogyakarta. Dari hasil survei, peneliti memperoleh bahan yang digunakan untuk membuat media yaitu kertas art paper dan kayu mahoni.
3. Desain Produk
Media ini merupakan pengembangan dari media Sandpaper letter dari Montessori. Media dikembangkan berdasarkan empat karakteristik media Montessori ialah: (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-correction, dan (4)auto-education, (5) kontekstual.
a. Desain Media
Peneliti membuat tiga komponen dalam media tersebut, yaitu: (1) tempat penyimpanan, (2) kartu huruf, (3) kartu kata benda.
(1) Kotak penyimpanan media sandpaper letter terhadap perubahan ukuran 15cm x 10cm. Peneliti mengubah ukuran kotak menjadi 20cm x 19cm, dan menambah satu tempat penyimpanan kartu kata benda. Tujuan mengubah dan menambahkan kotak, agar lebih mudah dibawa.
Gambar 4.1 Perubahan Ukuran Kotak
45
(2) Kartu huruf
Peneliti mengubah ukuran kartu sandpaper letter dari persegi panjang menjadi persegi, lalu dari segi warna juga mengubah dari biru dan merah. Peneliti membuat ukuran kartu huruf menjadi 7cm x 7cm, warna diganti menjadi hijau dan kuning. Warna hijau menunjukkan huruf vokal berjumlah 10 kartu dan warna kuning untuk huruf konsonan berjumlah 42 kartu. Peneliti mengubah warna agar, peserta didik semangat dan termotivasi Ketika menggunakan media pembelajaran Peter Kokben tersebut.
Gambar 4.2 Perubahan Ukuran kartu
(3) Kartu Kata Benda
Peneliti membuat kartu kata benda, tujuannya untuk auto-correction sehingga peserta didik dapat melihat kesalahan dan dapat memperbaiki jika ada kesalahan dalam penyusunan. Kartu kata berukuran 10cm x 5cm. Kartu diberi warna hijau dan kuning agar bervariasi. Huruf yang tertera di kartu kata berwarna hitam dan terbuat dari cutting stiker berjumlah 20 kata benda yang ada di lingkungan sekitar.
Gambar 4.3 Kartu Kata Benda
b. Desain Modul
Modul media Peter Kokben adalah modul yang berisi langkah-langkah penggunaan dan petunjuk penggunaan media Peter Kokben. Peneliti mendesain cover dan isi menggunakan Microsoft Word 2013. Cover dicetak menggunakan ivory 230 gram dan isi dicetak menggunakan art paper 150 gram.
Gambar 4.4 Modul dan Video Penggunaan Media
47
4. Validasi Produk
a. Data Hasil Validasi Produk
Validasi produk dilakukan oleh ahli media Montessori, guru kelas I SD Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa. Validasi produk dilakukan pada tanggal 21 dan 23 April 2020. Pada tanggal 21 April 2020, produk divalidasi oleh guru kelas I SD Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa. Pada tanggal 23 April 2020, produk divalidasi oleh ahli media Montessori.
Skor Per Item
Tabel 4.7 Hasil Validasi Video Media
Ahli media Montessori yang memvalidasi produk adalah guru SD Mangunan.
Hasil rerata validasi media dari ahli media ialah 4. Hasil ini termasuk pada rentang 3,26<X≤4,00 dengan kriteria sangat baik dan layak digunakan dengan revisi. Ahli media juga memberikan saran, agar peneliti menambahkan gambar media untuk digunakan sebagai sampul modul, dan menambahkan gambar media untuk menjelaskan beberapa komponen yang ada di media pembelajaran Peter Kokben tersebut. Hasil rerata dari validasi modul ialah 4. Hasil ini termasuk pada rentang 3,26<X≤4,00 dengan memberikan komentar modul menarik dan memberikan saran terhadap penulisan kata yang perlu diperbaiki. Hasil rerata dari validasi video ialah 4. Hasil ini termasuk pada rentang 3,26<X≤4,00 tanpa memberikan komentar. Guru
kelas I SD Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa yang memvalidasi
produk. Hasil rerata validasi media dari ahli media ialah 3,8. Hasil ini termasuk pada rentang 3,26<X≤4,00 dengan kriteria sangat baik dan layak digunakan dengan revisi. Hasil rerata dari validasi modul ialah 3,6. Hasil ini termasuk pada rentang 3,26<X≤4,00 dengan memberikan komentar modul menarik. Hasil rerata dari validasi video ialah 3,7. Hasil ini termasuk pada rentang 3,26<X≤4,00 tanpa memberikan komentar.
5. Revisi Produk
Berdasarkan hasil validasi, peneliti melakukan revisi pada produk. Revisi dilakukan sesuai dengan saran dari ahli media Montessori dan guru kelas. Peneliti memperoleh saran perbaikan dari ahli media untuk memperbaiki modul panduan, yaitu menambahkan gambar media pada modul. Guru kelas memberikan saran untuk menambahkan gambar, sehingga peserta didik dapat lebih jelas dalam menyusun huruf menjadi sebuah kata benda dan dapat mengetahui huruf yang disusun menyerupai sebuah kosa kata benda.
Revisi modul yaitu menambahkan gambar media untuk memperbaiki halaman sampul modul panduan, dan menambahkan gambar kartu huruf yang memiliki dua jenis warna kartu yang berbeda, yaitu kuning dan hijau. Kartu huruf yang berwarna kuning berfungsi untuk mengenalkan huruf konsonan dan kartu huruf yang berwarna hijau berfungsi untuk mengenalkan huruf vokal. Peneliti mendapat revisi tersebut dari ahli media Montessori.
49
Menambahkan gambar media agar modul menjadi lebih menarik dan menambahkan gambar di halaman sampul modul, gambar tersebut ada kaitannya dengan media yang digunakan yaitu Peter Kokben.
6. Uji Coba Produk
Peneliti melakukan revisi yang telah diberikan oleh validator. Setelah itu peneliti dapat melanjutkan uji coba kepada peserta didik terlambat berbicara kelas I SD. Perencanaan awal uji coba produk dilakukan di SD Taman Muda Ibu Pawiyatan, namun semua perencanaan uji coba produk tidak dapat dilakukan karena pandemik COVID-19, sehingga tidak dapat melakukan uji coba kepada peserta didik di sekolah maupun di rumah. Ketika media tersebut diuji cobakan, akan terlihat apakah media Peter kokben ini benar-benar layak dan dapat digunakan oleh peserta didik yang mengalami terlambat berbicara.
B. Pembahasan
1. Proses Pengembangan
Media pembelajaran Peter Kokben tersebut menggunakan prosedur penelitian pengembangan yang dibuat oleh Borg & Gall memiliki 10 langkah, yaitu potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, uji coba pemakaian, revisi produk, uji coba produk, revisi desain, revisi produk, dan produksi masal (Sugiyono, 2010: 298-311). Peneliti berhenti sampai pada langkah keenam karena pengembangan produk media peter kokben dan modul ini merupakan pengembangan secara terbatas dan masih memerlukan saran dan masukan dari semua pihak, sehingga produk peneliti layak untuk digunakan oleh peserta didik.
Peneliti melakukan langkah pertama diawali dengan megidentifikasi potensi dan masalah. Untuk mendapatkan potensi dan masalah, peneliti mengikuti cara (Sugiyono, 2009: 137) untuk menentukan potensi dan masalah yaitu, interview (wawancara), observasi (pengamatan), dan gabungan ketiganya. Sebelum melakukan proses tersebut, peneliti berdiskusi terlebih dahulu sistem yang dilakukan memerlukan berapa pertemuan. Pada awal pertemuan, peneliti meminta ijin terlebih dahulu kepada kepala sekolah untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut.
Saat bertemu dengan kepala sekolah, peneliti langsung bertemu dengan guru kelas I SD, memastikan waktu kapan bisa dilakukan wawancara dan observasi, dan berdiskusi bersama tentang kegiatan di kelas ketika menggunakan media pembelajaran. Permasalahan yang ditemukan adalah ketika peneliti melakukan wawancara. Guru menjelaskan bahwa kurang memanfaatkan media pembelajaran yang berkaitan dengan materi pembelajaran.
Peserta didik di kelas I tersebut hanya terdapat 7 peserta didik berkebutuhan khusus dan guru masih kurang dalam penanganan karena setiap semester guru diganti, karena itu guru yang saat ini peneliti wawancara merasa kesulitan dan kurang dalam mengoorganisir peserta didik, karena peserta didik sulit untuk diarahkan. Adanya sistem sekolah yang seharusnya tidak menerapkan mengganti penempatan guru di setiap semester, agar guru dapat berinteraksi kepada peserta didik dan dapat mengetahui kelemahan setiap peserta didik. Ketika mengetahui kelemahan peserta didik tersebut, guru dapat menggunakan media pembelajaran yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Seperti media pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti, yaitu sandpaper letter. Mutiah (2010: 167) menjelaskan bahwa media pembelajaran sandpaper letter merupakan media pembelajaran edukatif yang terbuat dari kertas ampelas dan membentuk huruf.
Peneliti memodifikasi media sandpaper letter ini menjadi media Peter Kokben (Sandpaper letter Kosa kata benda) untuk peserta didik terlambat berbicara kelas I SD. Media Peter Kokben dapat membantu peserta didik untuk lebih memahami dan mengerti bentuk huruf. Sandpaper merupakan media yang dapat memanfaatkan karakteristik perkembangan peserta didik untuk pendekatan yang multisensori, seperti mata, telinga, gerakan tangan, dan kulit. Tujuan media pembelajaran Sandpaper letter agar peserta didik menemukan gerakan skrip dari kertas ampelas secara lebih bebas dan alamiah. Lewat latihan ini, peserta didik belajar untuk membuat gerakan menuruti huruf. Peserta didik akan mengulangi latihan ini, karena masih berada dalam periode kepekaan untuk mempelajari suara dan memperbaiki indera sentuhan (Crain, 2007: 114). Media Peter Kokben ini juga dapat dijadikan bahan permainan tidak hanya digunakan saat kegiatan pembelajaran, sehingga peserta didik tidak merasa jenuh.
51
Langkah kedua yaitu pengumpulan data, diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan hasil asessment. Haryanto (2010: 1) mengatakan asessment, merupakan usaha untuk menghimpun informasi yang relevan guna memahami atau menentukan keadaan individu. Dalam bidang Pendidikan assessment ialah berbagai proses yang rumit untuk lebih melengkapi hasil dari tes yang diberikan kepada peserta didik. Wehman & McLoghlin (dalam Haryanto, 2010:2) menjelaskan bahwa asesmen penting dilakukan bagi penyandang cacat, karena asesmen merupakan satu proses sistematik dengan menggunakan instrument yang relevan untuk mengetahui perilaku belajar peserta didik untuk tujuan penempatan dan pembelajaran.
Hasil asessment, dalam Pendidikan anak berkebutuhan khusus sangat penting, dengan adanya hasil tersebut peneliti lebih mengerti keadaan, kemampuan dan ketidakmampuan peserta didik yang diteliti. Peneliti mengkonfirmasi hasil asessment peserta didik terkait jenis kebutuhan khusus.
Namun untuk memperoleh hasil asessment, peneliti mengalami kendala yaitu sulit untuk menemui guru dikarenakan waktu dan sulit meminta izin kepada orangtua perihal hasil asessment peserta didik. Ketika sudah mengkonfirmasi, peneliti mengolah data hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan sebelumnya.
Hasil asessment ini untuk mengkonfirmasi bahwa peserta didik mengalami berkebutuhan khusus terlambat berbicara. Keterlambatan berbicara yang dialami peserta didik ialah kurang dapat berbicara dengan benar, sulit memahami penjelasan yang diberikan, dan mengalami kesulitan dalam menyampaikan gagasan atau ide. Harlock (dalam Khoiriyah, 1978: 194) mengatakan terlambat dalam berbicara merupakan suatu kecenderungan dimana peserta didik sulit dalam mengekspresikan keinginan atau perasaan pada orang lain seperti, tidak mampu dalam berbicara secara jelas, dan kurangnya penguasaan kosa kata yang membuat peserta didik tersebut berbeda dengan peserta didik lain seusianya. Peserta didik mengikuti konsultasi dengan dua psikolog, saat dikonsultasi sudah dipastikan bahwa peserta didik mengalami terlambat berbicara sejak umur empat tahun.
Selanjutnya, peneliti melakukan konsultasi perihal media pembelajaran yang akan dibuat, dengan membaca rancangan media. Rancangan media tersebut, mendapat referensi dari media sandpaper letter. Setelah disetujui, peneliti melakukan survei lokasi pembuatan media dan modul. Media pembelajaran dibuat di Yayasan Penyandang Cacat Mandiri (YPCM) Yogyakarta. Lokasi yayasan tersebut berada di jalan Parangtritis.
Langkah ketiga yaitu melakukan desain produk. Produk yang dihasilkan dari penelitian yaitu media pembelajaran Peter Kokben, modul panduan, dan video penggunaan media. Peneliti merancang desain produk dengan membuat replika media Peter Kokben. Media Peter Kokben memiliki tiga komponen media yaitu, kartu huruf, kartu kata, dan autocorrect. Peneliti memodifikasi warna dan tempat penyimpanan media Peter Kokben. Warna yang dimiliki kartu huruf ialah kuning dan hijau, Patricia (2010) mengatakan warna kuning memberikan kehangatan dan rasa bahagia terhadap peserta didik. Dengan kata lain, warna kuning juga mengandung makna optimis,semangat dan ceria dari sisi psikolog keberadaan warna kuning ini juga merangsang aktivitas dan mental. Warna hijau menunjukkan warna yang identik dengan alam dan mampu memberikan suasana tenang dan santai, dapat menetralkan emosi, dan mudah untuk berkomunikasi.
Lalu peneliti menggunakan kosa kata benda, karena kata benda terdiri dari 40 kata benda dengan panjang 6 huruf, sehingga memudahkan peserta didik untuk
Lalu peneliti menggunakan kosa kata benda, karena kata benda terdiri dari 40 kata benda dengan panjang 6 huruf, sehingga memudahkan peserta didik untuk