TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.2 Landasan Teori .1 Material komposit
Material komposit merupakan material yang dibentuk dari gabungan dua atau lebih material dalam skala makroskopis yang menghasilkan material baru dengan sifat-sifat engineering yang lebih baik dibandingkan material penyusunnya (Reddy dan Miravete, 1995).
Material ini dapat diklasifikasikan berdasarkan material penguat dan matriksnya. Klasifikasi berdasarkan material penguatnya seperti Gambar 2.3.
Material komposit partikel menggunakan material penguat berupa partikel dengan ukuran besar dan kecil. Pada material komposit dengan penguat serat menggunakan serat panjang dan pendek. Material komposit yang penguatannya tergantung pada susunan strukturnya dibedakan menjadi material komposit struktur laminasi yang terdiri dari sejumlah lamina dengan arah bervariasi dan material komposit struktur sandwich terdiri dari inti dan kulit.
Gambar 2.3 Klasifikasi berdasarkan penguatnya (Gibson, 1994)
Berdasarkan matriksnya material komposit dapat diklasifikasikan seperti pada Gambar 2.4.
Gambar 2.4 Klasifikasi berdasarkan matriksnya (Gibson, 1994)
Material komposit dibedakan menjadi MMC, yang merupakan material komposit dengan matriks dari logam, PMC yang menggunakan polymer sebagai matriksnya, CMC material komposit dengan keramik sebagai matriksnya, Bio-Composite matriksnya terbuat dari bahan yang alami seperti PLA.
Material komposit ini dapat dibuat dengan beragam cara, di antaranya dengan open mold, autoclave, compression molding, filament winding, pultrusion, reinforced reaction injection molding, thermoplastic molding, resin transfer molding, dan lain-lain (Symington et al., 2008; Gibson, 1994).
Pembuatan material komposit serat searah dengan penguat serat bambu strip dan Epoxy resin di penelitian ini dengan infus vakum dan manual. Diagram infus vakum yang digunakan pada penelitian ini seperti pada Gambar 2.5.
Gambar 2.5 Diagram infus vakum (Corp., 2018)
Prinsip kerjanya resin mengalir secara alami akibat vakumnya ruang cetakan dan aliran ini dipertahankan hingga sebagian resin masuk ke dalam resin trap.
Tujuannya agar tidak ada udara yang terjebak di dalam cetakan.
Material yang dibuat merupakan material anisotropik. Ilustrasi di Gambar 2.6, merupakan material anisotropik yang mengalami gaya luar pada titik P. Gaya tersebut menyebabkan perpindahan sebesar ๐ข๐ (dengan i = 1, 2, dan 3).
Gambar 2.6 Titik P di material anisotropik
Perpindahan tersebut menyebabkan terjadinya regangan. Besar regangan yang terjadi berdasarkan Lagrangian strain tensor seperti pada Persamaan (2.5).
๐ฟ๐๐ = 1
2(๐ข๐,๐+ ๐ข๐,๐+ ๐ข๐,๐๐ข๐,๐) (2.5) dengan
๐ข๐,๐= ๐๐ข๐
๐๐ข๐ (2.6)
Jika gradien perubahan posisi kecil sekali maka persamaan turunan parsialnya dapat diabaikan, sehingga besarnya strain tensor ditunjukkan pada Persamaan (2.7).
๐๐๐ = 1
2(๐ข๐,๐+ ๐ข๐,๐) (2.7)
Persamaan tersebut merupakan tensor dua dimensi yang simetri, terdiri dari regangan normal dan regangan geser, dan dapat diuraikan di Persamaan (2.8).
๐11= ๐๐ข1
๐๐ฅ1 = ๐1 ๐22 =๐๐ข2
๐๐ฅ2 = ๐2 ๐33 =๐๐ข3
๐๐ฅ3 = ๐3
2๐12= 2๐21 = (๐๐ข1
๐๐ฅ2+๐๐ข2
๐๐ฅ1) = ๐พ6 = ๐6 2๐13= 2๐31 = (๐๐ข1
๐๐ฅ3+๐๐ข3
๐๐ฅ1) = ๐พ5 = ๐5 2๐23 = 2๐32= (๐๐ข2
๐๐ฅ3+๐๐ข3
๐๐ฅ2) = ๐พ4 = ๐4 (2.8)
Regangan normal terjadi bila ๐ = ๐ seperti pada Gambar 2.7, yang merupakan perubahan panjang per satuan panjang.
Gambar 2.7 Regangan normal
Regangan geser terjadi bila ๐ โ ๐ seperti pada Gambar 2.8, yang merupakan setengah perubahan sudut dari kondisi semula.
Gambar 2.8 Regangan geser
Tensor tegangan pada titik P dinyatakan dengan notasi ๐๐๐, yang terdiri dari sembilan komponen tegangan dan regangan seperti ditunjukkan pada Gambar 2.9.
Gambar 2.9 Tensor tegangan titik P pada material anisotropik
Hubungan tegangan dan regangan dapat dinyatakan dengan Persamaan (2.9).
๐๐๐ = ๐๐๐(๐11, ๐12, ๐13, ๐21, ๐22, ๐23, ๐31, ๐32, ๐33) (2.9)
fungsi ๐๐๐ dapat berupa fungsi yang tidak linear. Bentuk matriknya, seperti pada persamaan (2.10), dengan [๐ถ] merupakan matriks kekakuan dengan 81 komponen.
{ 36. Bentuk matriks kekakuannya dapat ditulis seperti pada Persamaan (2.11).
๐ถ๐๐ =
Konsekuensi dari tegangan dan regangan yang simetri (๐๐๐ = ๐๐๐ dan ๐๐๐ = ๐๐๐) maka hanya ada enam komponen yang tidak bernilai nol. Notasinya dapat disederhanakan mengikuti konvensi standar seperti pada Persamaan (2.12).
๐11 = ๐1 dan ๐11= ๐1 Perbandingan notasi di beberapa perangkat lunak seperti pada Tabel 2.8.
Tabel 2.8 Perbandingan notasi penyederhanaan (Barbero, 2013) Konvensi Standar
2.2.2 Sifat mekanik material komposit
Material komposit yang digunakan pada penelitian ini merupakan material komposit unidirectional. Sifat mekanik material ini dapat diperoleh dengan menggunakan pendekatan pada representative volume element (RVE) material tersebut.
RVE orthotropic continuous fiber-reinforced lamina, dapat di ilustrasikan seperti pada Gambar 2.10, yang terdiri dari serat dan matriks.
Gambar 2.10 Representative Volume Element (RVE) lamina
Serat diasumsikan tersusun paralel dengan dimensi tidak berubah sepanjang elemennya. Ikatan di antara serat dan matriks sempurna dan tidak ada slip. Serat dan matriks diasumsikan linier elastik dan homogen. Matriks diasumsikan isotropik, tetapi seratnya dapat berupa material isotropik atau orthotropik.
Fraksi volume komposit tersebut dapat dihitung dengan Persamaan (2.13).
๐ฃ๐ =๐๐
๐๐ (2.13)
Notasi ๐ฃ๐, ๐๐, ๐๐ adalah fraksi volume ke ๐, volume ke ๐, total volume komposit.
Penjumlahan ๐ fraksi volume material komposit seperti Persamaan (2.14).
1 = โ๐๐=1๐ฃ๐ โ ๐ฃ๐+ ๐ฃ๐ + ๐ฃ๐ฃ
(2.14)
Notasi ๐, ๐ฃ๐, ๐ฃ๐, ๐ฃ๐ฃ adalah jumlah komponen, fraksi volume fiber, matriks, voids.
Komposisi penyusun material komposit berdasarkan fraksi berat dihitung dengan Persamaan (2.15) dan (2.16).
๐๐ = โ๐๐=1๐๐๐ฃ๐ = ๐๐๐ฃ๐+ ๐๐๐ฃ๐ (2.15) masa jenis, fraksi berat, dan berat dari komponen ke i, fiber, matriks, komposit.
Pembebanan pada RVE dalam arah longitudinal seperti pada Gambar 2.11, menyebabkan terjadinya tegangan, regangan, dan perpindahan rata-rata.
Gambar 2.11 Tegangan normal dalam arah longitudinal pada RVE
Perhitungan tegangan rata-rata dihitung dengan Persamaan (2.17),
๐ฬ = 1
๐โซ ๐ ๐๐ =1
๐ดโซ ๐ ๐๐ด (2.17)
Sedangkan regangan rata-ratanya dihitung dengan Persamaan (2.18).
๐ฬ = 1
๐โซ ๐ ๐๐ = 1
๐ดโซ ๐ ๐๐ด (2.18)
Dan perpindahan rata-ratanya dihitung dengan Persamaan (2.19).
๐ฟฬ = 1
๐โซ ๐ฟ ๐๐ =1
๐ดโซ ๐ฟ ๐๐ด (2.19)
Notasi ๐, ๐, ๐ฟ, ๐, ๐ด merupakan tegangan, regangan, perpindahan, volume dan luas.
Total gaya yang bekerja dalam arah longitudinal RVE yang mengalami tegangan normal ๐ฬ ๐1, dapat dihitung dengan Persamaan (2.20).
๐ฬ ๐1๐ด1 = ๐ฬ ๐1๐ด๐+ ๐ฬ ๐1๐ด๐ (2.20)
Berdasarkan hukum Hooke satu dimensi, hubungan tegangan - regangan rata-rata komposit, fiber, dan matriks dapat ditulis seperti dalam Persamaan (2.21).
๐ฬ ๐1 = ๐ธ1๐ฬ ๐1 ; ๐ฬ ๐1 = ๐ธ๐1๐ฬ ๐1 ; ๐ฬ ๐1 = ๐ธ๐๐ฬ ๐1 (2.21)
Persamaan (2.20) dapat ditulis ulang menjadi Persamaan (2.22).
๐ธ1๐ฬ ๐1 = ๐ธ๐1๐ฬ ๐1๐ฃ๐+ ๐ธ๐๐ฬ ๐1๐ฃ๐ (2.22)
Berdasarkan asumsi regangan rata - rata di komposit, fiber, dan matriks sama dalam arah longitudinal seperti pada Persamaan (2.23).
๐ฬ ๐1 = ๐ฬ ๐1 = ๐ฬ ๐1 (2.23)
Modulus elastisitas dalam arah longitudinal, dihitung dengan Persamaan (2.24).
๐ธ1 = ๐ธ๐1๐ฃ๐+ ๐ธ๐๐ฃ๐ (2.24)
Tegangan rata - rata ๐ฬ ๐2 yang bekerja pada RVE dalam arah transversal seperti pada Gambar 2.12 menyebabkan perpindahan rata โ rata dalam arah transversal.
Gambar 2.12 Pembebanan RVE dalam arah transversal
Total perpindahan rata - rata komposit lamina dalam arah transversal, ๐ฟฬ ๐2 tersebut dapat dihitung dengan Persamaan (2.25).
๐ฟฬ ๐2 = ๐ฟฬ ๐2+ ๐ฟฬ ๐2 (2.25)
Perpindahan rata - rata komposit, fiber, dan matriks dalam arah transversal sesuai hukum Hooke satu dimensi dapat ditulis sesuai Persamaan (2.26).
๐ฟฬ ๐2 = ๐ฬ ๐2๐ฟ2 ; ๐ฟฬ ๐2 = ๐ฬ ๐2๐ฟ๐ ; ๐ฟฬ ๐2 = ๐ฬ ๐2๐ฟ๐ (2.26)
Notasi ๐ฟ2 menunjukkan panjang transversal material komposit, sedangkan ๐ฟ๐ merupakan panjang fiber, dan ๐ฟ๐ panjang matriks dalam arah transversal sehingga Persamaan (2.25) dapat ditulis menjadi Persamaan (2.27).
๐ฬ ๐2๐ฟ2 = ๐ฬ ๐2๐ฟ๐+ ๐ฬ ๐2๐ฟ๐ (2.27)
Perhitungan fraksi panjang pada prinsipnya identik dengan perhitungan fraksi volume, sehingga Persamaan (2.27) dapat ditulis menjadi Persamaan (2.28).
๐ฬ ๐2 = ๐ฬ ๐2๐ฃ๐+ ๐ฬ ๐2๐ฃ๐ (2.28)
Tegangan transversal pada material komposit, fiber, dan matriks dapat ditulis menjadi Persamaan (2.29).
๐ฬ ๐2 = ๐ธ2๐ฬ ๐2 ; ๐ฬ ๐2 = ๐ธ๐2๐ฬ ๐2 ; ๐ฬ ๐2 = ๐ธ๐๐ฬ ๐2 (2.29)
Kombinasi Persamaan (2.28) dan (2.29) akan diperoleh Persamaan (2.30).
๐ฬ ๐2 ๐ธ2 = ๐ฬ ๐2
๐ธ๐2๐ฃ๐+๐ฬ ๐2
๐ธ๐ ๐ฃ๐ (2.30)
dengan asumsi ๐ฬ ๐2= ๐ฬ f2 = ๐ฬ ๐2 Persamaan (2.30) dapat direduksi menjadi persamaan inversion rule of mixture, seperti pada Persamaan (2.31).
1 ๐ธ2 = ๐ฃ๐
๐ธ๐2+๐ฃ๐
๐ธ๐ (2.31)
Poissonโs ratio dihitung dengan seperti Persamaan (2.32).
๐12= โ๐ฬ ๐2
๐ฬ ๐1 (2.32)
Perhitungan Poissonโs ratio sesuai ROM, dilakukan dengan Persamaan (2.33).
๐12= ๐๐2๐๐+ ๐๐2๐๐ (2.33)
Modulus elastisitas geser, ๐บ12 (in-plane shear modulus) dicari dengan cara memberi tegangan geser ๐ฬ ๐12 pada RVE seperti Gambar 2.13.
Gambar 2.13 Beban tegangan geser, ๐บ12 (in-plane shear stress) pada RVE
Modulus elastisitas geser dihitung dengan Persamaan (2.34).
๐บ12= ๐ฬ ๐12
๐พฬ ๐12 (2.34)
Berdasarkan IROM Persamaan (2.34) dapat ditulis seperti Persamaan (2.35).
1
๐บ12= ๐ฃ๐
๐บ๐12+ ๐ฃ๐
๐บ๐ (2.35)
Persamaan lain untuk menghitung ๐บ12 dan E2 juga dapat dilakukan dengan menggunakan Persamaan (2.36) dan (2.37).
๐ธ2 = ๐ธ๐[(1 โ โ๐๐) + โ๐๐
1 โ โ๐๐(1 โ ๐ธ๐/๐ธ๐2)] (2.36)
๐บ12= ๐ธ๐[(1 โ โ๐๐) + โ๐๐
1 โ โ๐๐(1 โ ๐บ๐/๐บ๐12)] (2.37)
Model semi empirik yang dibuat oleh Halpin-Tsai juga dapat digunakan untuk menghitung E2 seperti ditulis dalam Persamaan (2.38).
๐ธ2
๐ธ๐ = 1 + ๐๐๐๐ 1 โ ๐๐๐
(2.38)
Notasi ๐ merupakan Curve - fitting parameter, yang merupakan ukuran penguatan matriks oleh fiber, sedangkan notasi ๐ dihitung berdasarkan pada Persamaan (2.39).
๐ = (๐ธ๐/๐ธ๐) โ 1 (๐ธ๐/๐ธ๐) + 1
(2.39)
Persamaan Halpin-Tsai untuk ๐บ12, diperoleh dengan mengganti ๐ธ2, ๐ธ๐, dan ๐ธ๐ pada Persamaan (2.38) dan (2.39) dengan ๐บ12, ๐บ๐, dan ๐บ๐.
Perhitungan ๐บ23 (intra-laminar shear modulus) dilakukan dengan cara, memberi tegangan ๐4 = ๐23= ๐32= ๐ฬ ๐23 pada material komposit seperti pada Gambar 2.14.
Gambar 2.14 Intralaminar shear, ๐4
Modulus elastisitas geser, ๐บ23 dihitung dengan persamaan semi empirik (2.40).
๐บ23 = ๐บ๐ ๐๐+ ๐4(1 โ ๐๐) ๐4(1 โ ๐๐) + ๐๐๐ฎ๐
๐ฎ๐
(2.40)
dengan nilai ๐4 sesuai Persamaan (2.41)
๐4 =
3 โ 4๐๐+๐ฎ๐ ๐ฎ๐ 4(1 โ ๐๐)
(2.41)
Perhitungan regangan dapat dilakukan dengan Persamaan (2.42), yang merupakan persamaan hygro-thermal sebagai akibat beban thermo-mechanical.
{๐} = [๐]{๐} + {๐ผ}โ๐ + {๐ฝ}๐ (2.42)
Persamaan tersebut dapat dikembangkan menjadi Persamaan (2.43)
{
Notasi ๐ผ dan ๐ฝ merupakan koefisien thermal dan kelembapan.
Besar koefisien thermal, ๐ผ dinyatakan dalam Persamaan (2.44) dan (2.45)
๐ผ1 =๐ธ๐1๐ผ๐1๐๐+ ๐ธ๐1๐ผ๐1๐๐
๐ธ๐1๐๐+ ๐ธ๐1๐๐ (2.44)
๐ผ2 = ๐ผ๐2๐๐+๐ผ๐2๐๐ (2.45)
koefisien kelembapan, ๐ฝ1 dan ๐ฝ2 dihitung dengan Persamaan (2.46) dan (2.47).
๐ฝ1 =๐ธ๐1๐ฝ๐1๐๐+ ๐ธ๐1๐ฝ๐1๐๐
๐ธ๐1๐๐+ ๐ธ๐1๐๐ (2.46)
๐ฝ2 = ๐ฝ๐2๐๐+๐ฝ๐2๐๐ (2.47)
Perhitungan kekuatan longitudinal tensile strength, ๐น1๐ก dilakukan dengan menggunakan Persamaan (2.48).
๐น1๐ก = ๐น๐๐ก[๐๐+๐ธ๐
๐ธ๐ (1 โ ๐๐)] =๐น๐๐ก
๐๐ (2.48)
Notasi ๐๐ merupakan faktor konsentrasi tegangan. Kasus fraksi volume fiber, ๐๐ nilainya kecil sekali kekuatannya dihitung dengan Persamaan (2.49).
๐น1๐ก = ๐น๐๐ก(1 โ ๐๐) (2.49)
Notasi ๐น๐๐ก merupakan kekuatan matriks dalam arah longitudinal.
Perhitungan longitudinal compressive strength, ๐น1๐ dilakukan dengan menggunakan Persamaan (2.50).
๐น1๐ = ๐บ12(1 + 4.76๐)โ0.69 (2.50)
Notasi ๐ nilainya sesuai Persamaan (2.51).
๐ =๐บ12๐ผ๐
๐น6 (2.51)
Notasi ๐ผ๐ menunjukkan standard deviasi fiber sedangkan ๐บ12 merupakan in โ plane shear modulus, dan ๐น6 mewakili kekuatan geser.
Kasus patahnya unidirectional lamina sebagai akibat dari pertumbuhan transversal crack pada arah fiber, seperti Gambar 2.15 merupakan persoalan fracture mechanics.
Gambar 2.15 Transversal crack pada unidirectional lamina
Perhitungan transversal tensile strength, ๐น2๐ก dilakukan dengan Persamaan (2.52).
๐น2๐ก = โ ๐บ๐ผ๐ถ 1.122๐ (๐ก๐ก
4) ฮ๐22
(2.52)
Notasi ๐บ๐ผ๐ถ mewakili parameter fracture toughness dalam mode I, sedangkan ๐ก๐ก transition thickness yang besarnya 4๐๐, dengan ๐๐ merupakan separuh ukuran crack, dan ฮ๐22 sesuai dengan Persamaan (2.53).
ฮ๐22= 2 (1
๐ธ2โ๐122 ๐ธ22
๐ธ13 ) (2.53)
Pada kasus patahnya unidirectional lamina bukan merupakan persoalan fracture mechanics perhitungan transversal tensile strength, ๐น2๐ก dengan Persamaan (2.54).
๐น2๐ก = ๐น๐๐ก๐ถ๐ฃ[1 + (๐๐โ โ๐๐) (1 โ๐ธ๐
๐ธ๐)] (2.54)
Notasi ๐ธ๐ merupakan modulus fiber dalam arah transversal. ๐ถ๐ฃ dihitung dengan Persamaan (2.55) sebagai efek adanya void. dan ๐๐ฃ, merupakan fraksi volume void.
๐ถ๐ฃ = 1 โ โ 4๐๐ฃ
๐(1 โ ๐๐) (2.55)
Perhitungan transversal compression strength, ๐น2๐ dilakukan dengan Persamaan (2.56).
๐น2๐ = ๐น๐๐๐ถ๐ฃ[1 + (๐๐โ โ๐๐) (1 โ๐ธ๐
๐ธ๐)] (2.56)
Nilai ๐น๐๐ dihitung berdasarkan data percobaan dan ๐ถ๐ฃ dengan Persamaan (2.55).
Komponen tegangan geser pada unidirectional lamina dapat diuraikan seperti pada Gambar 2.16.
Gambar 2.16 Komponen tegangan geser (Barbero, 2011)
Gambar 2.16a bidang normal tegak lurus pada sumbu 1, sedangkan arah tegangan gesernya searah dengan sumbu 2 dan 3. Tegangan geser, ๐12 dan ๐13 akan memotong fiber sehingga unidirectional lamina patah.
Gambar 2.16b bidang normal tegak lurus sumbu 3, sedangkan tegangan gesernya searah dengan sumbu 1 dan 2. Hal tersebut mengakibatkan tegangan geser, ๐31 dan ๐32 akan memotong matriks tanpa memotong fiber.
Gambar 2.16c bidang normal tegak lurus sumbu 2, sedangkan tegangan gesernya searah dengan sumbu 1 dan 3. Konsekuensinya, tegangan geser, ๐21 dan ๐23 akan memotong matriks unidirectional lamina tanpa menyebabkan terpotongnya fiber.
Perhitungan in-plane shear strength, ๐น6, dihitung berdasarkan nilai maksimum dari ๐12. Bila crack pada matriks terjadi sepanjang arah fiber, kasusnya merupakan persoalan fracture mechanics dan untuk memprediksi nilai in-plane shear strength, ๐น6 pada unidirectional lamina, digunakan Persamaan (2.57).
๐น6 = โ ๐บ๐ผ๐ผ๐ถ ๐ (๐ก๐ก
4) ฮ044
(2.57)
Notasi ๐บ๐ผ๐ผ๐ถ merupakan fracture toughness dalam mode II, dan ๐ก๐ก
4 = ๐0, yang merupakan setengah ukuran crack, parameter ฮ044 sesuai dengan Persamaan (2.58).
ฮ044= 1
๐บ12 (2.58)
Perhitungan interlaminar shear strength, ๐น4 dilakukan dengan Persamaan (2.59).
๐น4 = ๐น2๐cos ๐ผ0(sin ๐ผ0+ cos ๐ผ0cot 2๐ผ0) (2.59) Interlaminar shear strength merupakan tegangan geser ๐23 dan ๐32 yang akan memotong matriks tanpa memotong fiber seperti ilustrasi pada gambar 2.16b dan 2.16c. Tegangan geser, ๐5 yang diperlukan untuk memotong lamina merupakan nilai maksimum ๐31 atau ๐31. Tegangan geser ๐13 dan ๐31 pada Gambar 2.16 besarnya sama. Tegangan geser ๐13 akan memotong fiber dan tegangan ๐31 akan memotong matriks sepanjang fiber.
2.2.3 Pemodelan material komposit di ABAQUS
Pemodelan material komposit dengan perangkat lunak ABAQUS dapat dilakukan dengan tiga macam tingkatan, yaitu tingkat mikro-mekanik, meso-mekanik, dan makro-mekanik seperti pada Gambar 2.17(Barbero, 2013).
Gambar 2.17 Tingkat (a) mikro, (b) meso, dan (c) makro-mekanik (Barbero, 2013)
Pemodelan pada tingkat mikro - mekanik merupakan pemodelan material komposit berdasarkan susunan fiber dan matriks pada tingkat unit sel atau RVE, seperti ilustrasi pada Gambar 2.17a.
Pada tingkat meso-mekanik, pemodelan material komposit dilakukan sesuai susunan lamina (laminate stacking sequence), seperti ilustrasi pada Gambar 2.17b.
Pemodelan pada tingkat ini dapat digunakan untuk menganalisa distribusi perpindahan dan tegangan pada tiap lamina.
Pemodelan material komposit di tingkat makro - mekanik, material komposit dianggap sebagai material homogen yang berperilaku sebagai material orthotropik, seperti diilustrasikan pada Gambar 2.17c.
Kerusakan material komposit dapat disebabkan oleh beban statik maupun dinamik. Jenis kerusakannya dapat dikelompokkan menjadi intra-laminar dan Inter-laminar. Analisa kerusakan tersebut dapat dilakukan dengan strength failure criteria dan continuum damage mechanics.
Analisa kerusakan berdasarkan strength failure criteria di ABAQUS menggunakan notasi indeks IF, yang merupakan perbandingan tegangan dan kekuatannya, seperti Persamaan (2.60) dengan Hashin failure criteria.
๐ผ๐น = Stress
Strength (2.60)
Kerusakan akan terjadi bila nilai ๐ผ๐น โฅ 1.
Mode kerusakannya meliputi, fiber tension failure, fiber compression failure, matrix tension failure, dan matrix compression failure.
Mode kerusakan fiber tension failure, dihitung dengan Persamaan (2.61) dan kerusakan akan terjadi bila nilai ๐1 โฅ 1.
๐ผ๐น๐๐ก2 = (๐1
Mode kerusakan fiber compression failure, dihitung dengan Persamaan (2.62) dan kerusakan akan terjadi bila nilai ๐1 < 1.
๐ผ๐น๐๐2 = (๐1 ๐น1๐)
2
(2.62)
Mode kerusakan matrix tension failure, dihitung dengan Persamaan (2.63) dan kerusakan akan terjadi bila nilai ๐2 โฅ 0.
๐ผ๐น๐๐ก2 = (๐2
Mode kerusakan matrix tension failure, dihitung dengan Persamaan (2.64) dan kerusakan akan terjadi bila nilai ๐2 < 0.
๐ผ๐น๐๐2 = (๐2
Kriteria ini hanya dapat memperkirakan first ply dan last ply failure saja.
Kerusakan lainnya berupa pertumbuhan retak, penurunan kekakuan, atau distribusi tegangan pada setiap lamina di komposit laminasi hanya dapat dianalisa dengan continuum damage mechanics. Kriteria kerusakan tersebut dapat diuraikan sesuai alur dalam diagram alir pada Gambar 2.18.
Konsepnya, bila material komposit mengalami pembebanan yang dianggap sebagai independent variable, ๐ฬ (dalam bentuk tegangan, regangan, atau energy release rate). Material komposit akan bereaksi berupa damage variable, D (dalam bentuk pengurangan luas penampang, pengurangan jumlah fiber yang belum putus, atau penurunan tegangan) yang nilainya 0 โค ๐ท โค 1. Nilai ๐ท โค 0 akan menyebabkan Damage activation function, ๐ bernilai kurang atau sama dengan nol (๐ = ๐ฬ โ ๐พฬ โค 0), artinya pembebanan masih di daerah linier elastis sehingga kerusakan belum terjadi. Kerusakan akan terjadi bila ๐ท > 0. Notasi ๐พฬ, merupakan updated damage threshold yang nilainya merupakan selisih di antara new damage threshold dengan initial damage threshold, (๐พฬ = ๐พ(๐ฟ) โ ๐พ0) dengan ๐พ0 merupakan initial damage threshold, sedangkan ๐พ(๐ฟ) merupakan hardening atau softening function yang bernilai positif. Bila ๐พ(๐ฟ) > ๐พ0 maka material berperilaku hardening, sebaliknya akan berperilaku softening function. Laju kerusakan di ukur berdasarkan pada Damage Evolution Function, ๐ทฬ.
Gambar 2.18 Kriteria kerusakan dengan continuum damage mechanics
Pemodelan dan analisa kerusakan tersebut, dapat dilakukan menggunakan perangkat lunak ABAQUS dengan built in Vumat untuk shell element maupun VUMAT user subroutine untuk solid element (Abaqus, 2011).
D
2.2.4 Proses penyerapan energi pada crash box
Indikator unjuk kerja pembebanan crush ataupun crash pada crash box menurut Tarlochan et al. (2013) diperoleh berdasarkan kurva hubungan beban dengan perpindahan yang merupakan hasil simulasi atau pengujian crash maupun crush pada struktur. Kurva idealnya dapat dilihat pada Gambar 2.19.
Gambar 2.19 Kurva hubungan beban โ perpindahan crash dan crush
Kurva tersebut terdiri dari tiga daerah yaitu daerah ke I merupakan pre-crushing zone, ke II adalah crushing zone, sedangkan ke III disebut compacting zone.
Indikator unjuk kerjanya meliputi, beban puncak atau Peak Load yang merupakan beban tertinggi sebelum compacting zone. Perpindahan atau displacement (๐ฟ) adalah total panjang pergerakan impaktor. Total energi yang dapat diserap atau Energy absorption (๐) merupakan luas area di bawah kurva sebelum compacting zone, seperti dinyatakan dalam Persamaan (2.65).
๐ = โซ0๐๐๐๐ฅ๐ ๐โ (2.65)
Beban rata-rata atau average load, ๐๐๐ฃ๐ dinyatakan sebagai perbandingan total energi yang dapat diserap, (๐) dengan perpindahan, (๐ฟ) sesuai Persamaan (2.66).
Pavg= U
ฮด (2.66)
Penyerapan energi Spesifik atau Specific Energy Absorption, (๐๐ธ๐ด) merupakan perbandingan total energi yang diserap dengan massa spesimen sebelum diuji, seperti Persamaan (2.67).
SEA = ๐
m
(2.67) Efisiensi benturan atau crash force efficiency, (๐ถ๐น๐ธ) merupakan perbandingan beban puncak dengan beban rata-rata, seperti ditulis pada Persamaan (2.68).
CFE =๐๐๐๐ฅ
๐๐๐ฃ๐
(2.68) 2.2.5 Metode Elemen Hingga
Fenomena tabrakan atau crash merupakan kasus non โ linier explicit dynamic.
Formulasi ini menggunakan metode central difference rule. Integrasi persamaan geraknya dilakukan secara explicit sepanjang durasi waktu di setiap increment dengan menggunakan kondisi kinematika pada tiap increment untuk menghitung kondisi kinematika pada increment berikutnya.
Pada increment awal formulasi ini akan mencari penyelesaian kesetimbangan dinamik pada tiap elemen berdasarkan Persamaan gerak (2.69).
๐๐ขฬ = ๐ โ ๐ผ (2.69)
Besar percepatan pada awal increment, t dihitung dengan Persamaan (2.70).
๐ขฬ|(๐ก) = (๐)โ1. (๐ โ ๐ผ)|(๐ก) (2.70)
Kemudian kecepatannya dihitung dengan cara mengintegrasikan percepatan tersebut menggunakan metode central difference rule dengan asumsi percepatan
tersebut konstan. Perubahan kecepatan yang terjadi ditambahkan ke kecepatan sebelumnya pada durasi waktu di tengah increment sebelumnya, untuk mendapatkan nilai kecepatan pada durasi waktu di tengah increment saat ini. Secara matematis dapat ditulis seperti pada Persamaan (2.71).
๐ขฬ|(๐ก+โ๐ก 2) = ๐ขฬ|
(๐กโโ๐ก
2)+(โ๐ก|(๐ก+โ๐ก)+ โ๐ก|(๐ก))
2 ๐ขฬ|(๐ก) (2.71)
Perpindahan nodal yang terjadi pada akhir increment dihitung berdasarkan penjumlahan perpindahan pada awal increment dengan integrasi kecepatan yang dikalikan dengan waktunya, seperti pada Persamaan (2.72).
๐ข|(๐ก+โ๐ก) = ๐ข|(๐ก)+ โ๐ก|(๐ก+โ๐ก)๐ขฬ|
(๐ก+โ๐ก
2) (2.72)
2.2.6 Pemodelan plastisitas material logam
Pemodelan plastisitas material mild steel pada crash box MAZDA CX5 di penelitian ini berdasarkan Johnson โ Cook model. Reaksi material logam yang mengalami beban impak pada model plastisitas ini terdiri dari tiga parameter yaitu:
(a) Strain hardening (b) Strain rate effects (c) Thermal softening
Ketiganya di kombinasi dalam Persamaan (2.73) (Schwer, 2007).
๐ฬ = [๐ด + ๐ต(๐ฬ ๐๐)๐] [1 + ๐ถ ln (๐ฬ ฬ๐๐
๐ฬ0)] (1 โ ๐ฬ๐) (2.73)
dengan
[๐ด + ๐ต(๐ฬ ๐๐)๐] adalah plastic strain hardening [1 + ๐ถ ln (๐ฬ ฬ๐๐
๐ฬ0)] adalah strain-rate effects (1 โ ๐ฬ๐) adalah thermal softening
๐ฬ๐ adalah non-dimensional temperature dengan definisi,
๐ฬ =
{
0 ๐ข๐๐ก๐ข๐ ๐ < ๐๐ก๐๐๐๐ ๐๐ก๐๐๐
(๐ โ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐๐ก๐๐๐)
(๐๐๐๐๐กโ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐๐ก๐๐๐) ๐ข๐๐ก๐ข๐ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐๐ก๐๐๐ โค ๐ โค ๐๐๐๐๐ก
1 ๐ข๐๐ก๐ข๐ ๐ โฅ ๐๐๐๐๐ก
2.2.7 Pengukuran masa jenis dan perhitungan modulus elastisitas
Masa jenis material komposit diperoleh dengan melakukan pengukuran menggunakan standar ASTM D792. Prinsipnya berdasarkan pada metode perpindahan air, sesuai prinsip Archimedes, yaitu benda padat yang dimasukkan ke dalam fluida akan mendapatkan gaya tekan ke atas sebesar berat fluida yang dipindahkan.
Bentuk matematis pernyataan tersebut dapat ditulis seperti Persamaan (2.74).
Fatas = Wudara โ Wfluida (2.74)
Dengan
Fatas = Gaya ke atas = berat air yang dipindahkan = Wudara - Wfluida
Wudara = Berat benda di udara Wfluida = Berat benda di dalam fluida Wfluida = Vb. ๏ฒfluida
Vb = Volume benda = Wudara - Wfluida / ๏ฒbenda
๏ฒf๏ ๏ ๏ ๏ ๏ ๏ ๏ ๏ ๏ฝ๏ ๏ฒfluida = Masa jenis fluida
๏ฒb = ๏ฒbenda = Masa jenis benda
sehingga masa jenis benda dapat ditulis seperti Persamaan (2.75)
๏ฒb = (Wudara / ๏จWudara - Wfluida)) x ๏ฒfluida (2.75)
Fluida yang dipergunakan dalam pengukuran ini diasumsikan tidak meresap ke dalam spesimen yang diuji, caranya dengan melapisi bahan komposit dengan lilin.
Modulus elastisitas serat dan matriks material komposit dicari dengan cara melakukan pengujian. Pengujian serat tunggal dilakukan dengan standar ASTM C1557. Cara pengujian serat tunggal menurut Carlsson et al. (2014) dilakukan dengan urutan sebagai berikut.
a. Spesimen serat tunggal dilem dengan semen atau wax pada kertas tipis, logam, atau plastik yang ada lubang slot atau lingkaran seperti Gambar 2.20.
Gambar 2.20 Serat tunggal
b. Spesimen yang telah di lem seperti Gambar 2.20 dipasang di grip mesin uji tarik c. Kertas di bagian tengah dipotong
d. Serat ditarik hingga putus
e. Pencatatan beban dan perpanjangan yang terjadi f. Perhitungan modulus elastisitasnya
Prosedur pengujian untuk serat dalam bentuk strip urutannya sama seperti prosedur pengujian serat tunggal, demikian juga untuk pengujian matriks.
Proses perhitungan modulus elastisitas komponen penyusun material komposit tersebut dilakukan dengan menggunakan Persamaan (2.76) hingga (2.78).
๐ธ = ๐
๐ (2.76)
Notasi ๐ merupakan tegangan sedangkan ๐ merupakan regangan. Besar tegangan fiber, ๐ dapat dicari dengan Persamaan (2.77).
๐ = ๐
๐ด๐ (2.77)
Notasi ๐ merupakan besar gaya tarik dan ๐ด๐ merupakan luas penampang fiber.
Regangan ๐ didefinisikan sebagai perbandingan di antara perpindahan cross-head, ๐ฟ dengan gage-length, ๐ฟ seperti yang ditulis pada Persamaan (2.78).
๐ =๐ฟ
๐ฟ (2.78)
59 BAB III