• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.2 Landasan Teori .1 Material komposit

Material komposit merupakan material yang dibentuk dari gabungan dua atau lebih material dalam skala makroskopis yang menghasilkan material baru dengan sifat-sifat engineering yang lebih baik dibandingkan material penyusunnya (Reddy dan Miravete, 1995).

Material ini dapat diklasifikasikan berdasarkan material penguat dan matriksnya. Klasifikasi berdasarkan material penguatnya seperti Gambar 2.3.

Material komposit partikel menggunakan material penguat berupa partikel dengan ukuran besar dan kecil. Pada material komposit dengan penguat serat menggunakan serat panjang dan pendek. Material komposit yang penguatannya tergantung pada susunan strukturnya dibedakan menjadi material komposit struktur laminasi yang terdiri dari sejumlah lamina dengan arah bervariasi dan material komposit struktur sandwich terdiri dari inti dan kulit.

Gambar 2.3 Klasifikasi berdasarkan penguatnya (Gibson, 1994)

Berdasarkan matriksnya material komposit dapat diklasifikasikan seperti pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Klasifikasi berdasarkan matriksnya (Gibson, 1994)

Material komposit dibedakan menjadi MMC, yang merupakan material komposit dengan matriks dari logam, PMC yang menggunakan polymer sebagai matriksnya, CMC material komposit dengan keramik sebagai matriksnya, Bio-Composite matriksnya terbuat dari bahan yang alami seperti PLA.

Material komposit ini dapat dibuat dengan beragam cara, di antaranya dengan open mold, autoclave, compression molding, filament winding, pultrusion, reinforced reaction injection molding, thermoplastic molding, resin transfer molding, dan lain-lain (Symington et al., 2008; Gibson, 1994).

Pembuatan material komposit serat searah dengan penguat serat bambu strip dan Epoxy resin di penelitian ini dengan infus vakum dan manual. Diagram infus vakum yang digunakan pada penelitian ini seperti pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5 Diagram infus vakum (Corp., 2018)

Prinsip kerjanya resin mengalir secara alami akibat vakumnya ruang cetakan dan aliran ini dipertahankan hingga sebagian resin masuk ke dalam resin trap.

Tujuannya agar tidak ada udara yang terjebak di dalam cetakan.

Material yang dibuat merupakan material anisotropik. Ilustrasi di Gambar 2.6, merupakan material anisotropik yang mengalami gaya luar pada titik P. Gaya tersebut menyebabkan perpindahan sebesar ๐‘ข๐‘– (dengan i = 1, 2, dan 3).

Gambar 2.6 Titik P di material anisotropik

Perpindahan tersebut menyebabkan terjadinya regangan. Besar regangan yang terjadi berdasarkan Lagrangian strain tensor seperti pada Persamaan (2.5).

๐ฟ๐‘–๐‘— = 1

2(๐‘ข๐‘–,๐‘—+ ๐‘ข๐‘—,๐‘–+ ๐‘ข๐‘Ÿ,๐‘–๐‘ข๐‘Ÿ,๐‘—) (2.5) dengan

๐‘ข๐‘–,๐‘—= ๐œ•๐‘ข๐‘–

๐œ•๐‘ข๐‘— (2.6)

Jika gradien perubahan posisi kecil sekali maka persamaan turunan parsialnya dapat diabaikan, sehingga besarnya strain tensor ditunjukkan pada Persamaan (2.7).

๐œ€๐‘–๐‘— = 1

2(๐‘ข๐‘–,๐‘—+ ๐‘ข๐‘—,๐‘–) (2.7)

Persamaan tersebut merupakan tensor dua dimensi yang simetri, terdiri dari regangan normal dan regangan geser, dan dapat diuraikan di Persamaan (2.8).

๐œ€11= ๐œ•๐‘ข1

๐œ•๐‘ฅ1 = ๐œ–1 ๐œ€22 =๐œ•๐‘ข2

๐œ•๐‘ฅ2 = ๐œ–2 ๐œ€33 =๐œ•๐‘ข3

๐œ•๐‘ฅ3 = ๐œ–3

2๐œ€12= 2๐œ€21 = (๐œ•๐‘ข1

๐œ•๐‘ฅ2+๐œ•๐‘ข2

๐œ•๐‘ฅ1) = ๐›พ6 = ๐œ–6 2๐œ€13= 2๐œ€31 = (๐œ•๐‘ข1

๐œ•๐‘ฅ3+๐œ•๐‘ข3

๐œ•๐‘ฅ1) = ๐›พ5 = ๐œ–5 2๐œ€23 = 2๐œ€32= (๐œ•๐‘ข2

๐œ•๐‘ฅ3+๐œ•๐‘ข3

๐œ•๐‘ฅ2) = ๐›พ4 = ๐œ–4 (2.8)

Regangan normal terjadi bila ๐‘– = ๐‘— seperti pada Gambar 2.7, yang merupakan perubahan panjang per satuan panjang.

Gambar 2.7 Regangan normal

Regangan geser terjadi bila ๐‘– โ‰  ๐‘— seperti pada Gambar 2.8, yang merupakan setengah perubahan sudut dari kondisi semula.

Gambar 2.8 Regangan geser

Tensor tegangan pada titik P dinyatakan dengan notasi ๐œŽ๐‘–๐‘—, yang terdiri dari sembilan komponen tegangan dan regangan seperti ditunjukkan pada Gambar 2.9.

Gambar 2.9 Tensor tegangan titik P pada material anisotropik

Hubungan tegangan dan regangan dapat dinyatakan dengan Persamaan (2.9).

๐œŽ๐‘–๐‘— = ๐‘“๐‘–๐‘—(๐œ€11, ๐œ€12, ๐œ€13, ๐œ€21, ๐œ€22, ๐œ€23, ๐œ€31, ๐œ€32, ๐œ€33) (2.9)

fungsi ๐‘“๐‘–๐‘— dapat berupa fungsi yang tidak linear. Bentuk matriknya, seperti pada persamaan (2.10), dengan [๐ถ] merupakan matriks kekakuan dengan 81 komponen.

{ 36. Bentuk matriks kekakuannya dapat ditulis seperti pada Persamaan (2.11).

๐ถ๐‘–๐‘— =

Konsekuensi dari tegangan dan regangan yang simetri (๐œŽ๐‘–๐‘— = ๐œŽ๐‘—๐‘– dan ๐œ€๐‘–๐‘— = ๐œ€๐‘—๐‘–) maka hanya ada enam komponen yang tidak bernilai nol. Notasinya dapat disederhanakan mengikuti konvensi standar seperti pada Persamaan (2.12).

๐œŽ11 = ๐œŽ1 dan ๐œ€11= ๐œ€1 Perbandingan notasi di beberapa perangkat lunak seperti pada Tabel 2.8.

Tabel 2.8 Perbandingan notasi penyederhanaan (Barbero, 2013) Konvensi Standar

2.2.2 Sifat mekanik material komposit

Material komposit yang digunakan pada penelitian ini merupakan material komposit unidirectional. Sifat mekanik material ini dapat diperoleh dengan menggunakan pendekatan pada representative volume element (RVE) material tersebut.

RVE orthotropic continuous fiber-reinforced lamina, dapat di ilustrasikan seperti pada Gambar 2.10, yang terdiri dari serat dan matriks.

Gambar 2.10 Representative Volume Element (RVE) lamina

Serat diasumsikan tersusun paralel dengan dimensi tidak berubah sepanjang elemennya. Ikatan di antara serat dan matriks sempurna dan tidak ada slip. Serat dan matriks diasumsikan linier elastik dan homogen. Matriks diasumsikan isotropik, tetapi seratnya dapat berupa material isotropik atau orthotropik.

Fraksi volume komposit tersebut dapat dihitung dengan Persamaan (2.13).

๐‘ฃ๐‘– =๐‘‰๐‘–

๐‘‰๐‘ (2.13)

Notasi ๐‘ฃ๐‘–, ๐‘‰๐‘–, ๐‘‰๐‘ adalah fraksi volume ke ๐‘–, volume ke ๐‘–, total volume komposit.

Penjumlahan ๐‘› fraksi volume material komposit seperti Persamaan (2.14).

1 = โˆ‘๐‘›๐‘–=1๐‘ฃ๐‘– โ‰… ๐‘ฃ๐‘“+ ๐‘ฃ๐‘š + ๐‘ฃ๐‘ฃ

(2.14)

Notasi ๐‘›, ๐‘ฃ๐‘“, ๐‘ฃ๐‘š, ๐‘ฃ๐‘ฃ adalah jumlah komponen, fraksi volume fiber, matriks, voids.

Komposisi penyusun material komposit berdasarkan fraksi berat dihitung dengan Persamaan (2.15) dan (2.16).

๐œŒ๐‘ = โˆ‘๐‘›๐‘–=1๐œŒ๐‘–๐‘ฃ๐‘– = ๐œŒ๐‘“๐‘ฃ๐‘“+ ๐œŒ๐‘š๐‘ฃ๐‘š (2.15) masa jenis, fraksi berat, dan berat dari komponen ke i, fiber, matriks, komposit.

Pembebanan pada RVE dalam arah longitudinal seperti pada Gambar 2.11, menyebabkan terjadinya tegangan, regangan, dan perpindahan rata-rata.

Gambar 2.11 Tegangan normal dalam arah longitudinal pada RVE

Perhitungan tegangan rata-rata dihitung dengan Persamaan (2.17),

๐œŽฬ… = 1

๐‘‰โˆซ ๐œŽ ๐‘‘๐‘‰ =1

๐ดโˆซ ๐œŽ ๐‘‘๐ด (2.17)

Sedangkan regangan rata-ratanya dihitung dengan Persamaan (2.18).

๐œ€ฬ… = 1

๐‘‰โˆซ ๐œ€ ๐‘‘๐‘‰ = 1

๐ดโˆซ ๐œ€ ๐‘‘๐ด (2.18)

Dan perpindahan rata-ratanya dihitung dengan Persamaan (2.19).

๐›ฟฬ… = 1

๐‘‰โˆซ ๐›ฟ ๐‘‘๐‘‰ =1

๐ดโˆซ ๐›ฟ ๐‘‘๐ด (2.19)

Notasi ๐œŽ, ๐œ€, ๐›ฟ, ๐‘‰, ๐ด merupakan tegangan, regangan, perpindahan, volume dan luas.

Total gaya yang bekerja dalam arah longitudinal RVE yang mengalami tegangan normal ๐œŽฬ…๐‘1, dapat dihitung dengan Persamaan (2.20).

๐œŽฬ…๐‘1๐ด1 = ๐œŽฬ…๐‘“1๐ด๐‘“+ ๐œŽฬ…๐‘š1๐ด๐‘š (2.20)

Berdasarkan hukum Hooke satu dimensi, hubungan tegangan - regangan rata-rata komposit, fiber, dan matriks dapat ditulis seperti dalam Persamaan (2.21).

๐œŽฬ…๐‘1 = ๐ธ1๐œ€ฬ…๐‘1 ; ๐œŽฬ…๐‘“1 = ๐ธ๐‘“1๐œ€ฬ…๐‘“1 ; ๐œŽฬ…๐‘š1 = ๐ธ๐‘š๐œ€ฬ…๐‘š1 (2.21)

Persamaan (2.20) dapat ditulis ulang menjadi Persamaan (2.22).

๐ธ1๐œ€ฬ…๐‘1 = ๐ธ๐‘“1๐œ€ฬ…๐‘“1๐‘ฃ๐‘“+ ๐ธ๐‘š๐œ€ฬ…๐‘š1๐‘ฃ๐‘š (2.22)

Berdasarkan asumsi regangan rata - rata di komposit, fiber, dan matriks sama dalam arah longitudinal seperti pada Persamaan (2.23).

๐œ€ฬ…๐‘1 = ๐œ€ฬ…๐‘“1 = ๐œ€ฬ…๐‘š1 (2.23)

Modulus elastisitas dalam arah longitudinal, dihitung dengan Persamaan (2.24).

๐ธ1 = ๐ธ๐‘“1๐‘ฃ๐‘“+ ๐ธ๐‘š๐‘ฃ๐‘š (2.24)

Tegangan rata - rata ๐œŽฬ…๐‘2 yang bekerja pada RVE dalam arah transversal seperti pada Gambar 2.12 menyebabkan perpindahan rata โ€“ rata dalam arah transversal.

Gambar 2.12 Pembebanan RVE dalam arah transversal

Total perpindahan rata - rata komposit lamina dalam arah transversal, ๐›ฟฬ…๐‘2 tersebut dapat dihitung dengan Persamaan (2.25).

๐›ฟฬ…๐‘2 = ๐›ฟฬ…๐‘“2+ ๐›ฟฬ…๐‘š2 (2.25)

Perpindahan rata - rata komposit, fiber, dan matriks dalam arah transversal sesuai hukum Hooke satu dimensi dapat ditulis sesuai Persamaan (2.26).

๐›ฟฬ…๐‘2 = ๐œ€ฬ…๐‘2๐ฟ2 ; ๐›ฟฬ…๐‘“2 = ๐œ€ฬ…๐‘“2๐ฟ๐‘“ ; ๐›ฟฬ…๐‘š2 = ๐œ€ฬ…๐‘š2๐ฟ๐‘š (2.26)

Notasi ๐ฟ2 menunjukkan panjang transversal material komposit, sedangkan ๐ฟ๐‘“ merupakan panjang fiber, dan ๐ฟ๐‘š panjang matriks dalam arah transversal sehingga Persamaan (2.25) dapat ditulis menjadi Persamaan (2.27).

๐œ€ฬ…๐‘2๐ฟ2 = ๐œ€ฬ…๐‘“2๐ฟ๐‘“+ ๐œ€ฬ…๐‘š2๐ฟ๐‘š (2.27)

Perhitungan fraksi panjang pada prinsipnya identik dengan perhitungan fraksi volume, sehingga Persamaan (2.27) dapat ditulis menjadi Persamaan (2.28).

๐œ€ฬ…๐‘2 = ๐œ€ฬ…๐‘“2๐‘ฃ๐‘“+ ๐œ€ฬ…๐‘š2๐‘ฃ๐‘š (2.28)

Tegangan transversal pada material komposit, fiber, dan matriks dapat ditulis menjadi Persamaan (2.29).

๐œŽฬ…๐‘2 = ๐ธ2๐œ€ฬ…๐‘2 ; ๐œŽฬ…๐‘“2 = ๐ธ๐‘“2๐œ€ฬ…๐‘“2 ; ๐œŽฬ…๐‘š2 = ๐ธ๐‘š๐œ€ฬ…๐‘š2 (2.29)

Kombinasi Persamaan (2.28) dan (2.29) akan diperoleh Persamaan (2.30).

๐œŽฬ…๐‘2 ๐ธ2 = ๐œŽฬ…๐‘“2

๐ธ๐‘“2๐‘ฃ๐‘“+๐œŽฬ…๐‘š2

๐ธ๐‘š ๐‘ฃ๐‘š (2.30)

dengan asumsi ๐œŽฬ…๐‘2= ๐œŽฬ…f2 = ๐œŽฬ…๐‘š2 Persamaan (2.30) dapat direduksi menjadi persamaan inversion rule of mixture, seperti pada Persamaan (2.31).

1 ๐ธ2 = ๐‘ฃ๐‘“

๐ธ๐‘“2+๐‘ฃ๐‘š

๐ธ๐‘š (2.31)

Poissonโ€™s ratio dihitung dengan seperti Persamaan (2.32).

๐œ—12= โˆ’๐œ€ฬ…๐‘2

๐œ€ฬ…๐‘1 (2.32)

Perhitungan Poissonโ€™s ratio sesuai ROM, dilakukan dengan Persamaan (2.33).

๐œ—12= ๐œ—๐‘“2๐œ—๐‘“+ ๐œ—๐‘š2๐œ—๐‘š (2.33)

Modulus elastisitas geser, ๐บ12 (in-plane shear modulus) dicari dengan cara memberi tegangan geser ๐œŽฬ…๐‘12 pada RVE seperti Gambar 2.13.

Gambar 2.13 Beban tegangan geser, ๐บ12 (in-plane shear stress) pada RVE

Modulus elastisitas geser dihitung dengan Persamaan (2.34).

๐บ12= ๐œŽฬ…๐‘12

๐›พฬ…๐‘12 (2.34)

Berdasarkan IROM Persamaan (2.34) dapat ditulis seperti Persamaan (2.35).

1

๐บ12= ๐‘ฃ๐‘“

๐บ๐‘“12+ ๐‘ฃ๐‘š

๐บ๐‘š (2.35)

Persamaan lain untuk menghitung ๐บ12 dan E2 juga dapat dilakukan dengan menggunakan Persamaan (2.36) dan (2.37).

๐ธ2 = ๐ธ๐‘š[(1 โˆ’ โˆš๐œ—๐‘“) + โˆš๐œ—๐‘“

1 โˆ’ โˆš๐œ—๐‘“(1 โˆ’ ๐ธ๐‘š/๐ธ๐‘“2)] (2.36)

๐บ12= ๐ธ๐‘š[(1 โˆ’ โˆš๐œ—๐‘“) + โˆš๐œ—๐‘“

1 โˆ’ โˆš๐œ—๐‘“(1 โˆ’ ๐บ๐‘š/๐บ๐‘“12)] (2.37)

Model semi empirik yang dibuat oleh Halpin-Tsai juga dapat digunakan untuk menghitung E2 seperti ditulis dalam Persamaan (2.38).

๐ธ2

๐ธ๐‘š = 1 + ๐œ‰๐œ‚๐œ—๐‘“ 1 โˆ’ ๐œ‚๐œ—๐‘“

(2.38)

Notasi ๐œ‰ merupakan Curve - fitting parameter, yang merupakan ukuran penguatan matriks oleh fiber, sedangkan notasi ๐œ‚ dihitung berdasarkan pada Persamaan (2.39).

๐œ‚ = (๐ธ๐‘“/๐ธ๐‘š) โˆ’ 1 (๐ธ๐‘“/๐ธ๐‘š) + 1

(2.39)

Persamaan Halpin-Tsai untuk ๐บ12, diperoleh dengan mengganti ๐ธ2, ๐ธ๐‘“, dan ๐ธ๐‘š pada Persamaan (2.38) dan (2.39) dengan ๐บ12, ๐บ๐‘“, dan ๐บ๐‘š.

Perhitungan ๐บ23 (intra-laminar shear modulus) dilakukan dengan cara, memberi tegangan ๐œŽ4 = ๐œ23= ๐œ32= ๐œŽฬ…๐‘23 pada material komposit seperti pada Gambar 2.14.

Gambar 2.14 Intralaminar shear, ๐œŽ4

Modulus elastisitas geser, ๐บ23 dihitung dengan persamaan semi empirik (2.40).

๐บ23 = ๐บ๐‘š ๐‘‰๐‘“+ ๐œ‚4(1 โˆ’ ๐‘‰๐‘“) ๐œ‚4(1 โˆ’ ๐‘‰๐‘“) + ๐‘‰๐‘“๐‘ฎ๐’Ž

๐‘ฎ๐’‡

(2.40)

dengan nilai ๐œ‚4 sesuai Persamaan (2.41)

๐œ‚4 =

3 โˆ’ 4๐œ๐‘š+๐‘ฎ๐’Ž ๐‘ฎ๐’‡ 4(1 โˆ’ ๐‘‰๐‘š)

(2.41)

Perhitungan regangan dapat dilakukan dengan Persamaan (2.42), yang merupakan persamaan hygro-thermal sebagai akibat beban thermo-mechanical.

{๐œ€} = [๐‘†]{๐œŽ} + {๐›ผ}โˆ†๐‘‡ + {๐›ฝ}๐‘ (2.42)

Persamaan tersebut dapat dikembangkan menjadi Persamaan (2.43)

{

Notasi ๐›ผ dan ๐›ฝ merupakan koefisien thermal dan kelembapan.

Besar koefisien thermal, ๐›ผ dinyatakan dalam Persamaan (2.44) dan (2.45)

๐›ผ1 =๐ธ๐‘“1๐›ผ๐‘“1๐œ—๐‘“+ ๐ธ๐‘š1๐›ผ๐‘š1๐œ—๐‘š

๐ธ๐‘“1๐œ—๐‘“+ ๐ธ๐‘š1๐œ—๐‘š (2.44)

๐›ผ2 = ๐›ผ๐‘“2๐œ—๐‘“+๐›ผ๐‘š2๐œ—๐‘š (2.45)

koefisien kelembapan, ๐›ฝ1 dan ๐›ฝ2 dihitung dengan Persamaan (2.46) dan (2.47).

๐›ฝ1 =๐ธ๐‘“1๐›ฝ๐‘“1๐œ—๐‘“+ ๐ธ๐‘š1๐›ฝ๐‘š1๐œ—๐‘š

๐ธ๐‘“1๐œ—๐‘“+ ๐ธ๐‘š1๐œ—๐‘š (2.46)

๐›ฝ2 = ๐›ฝ๐‘“2๐œ—๐‘“+๐›ฝ๐‘š2๐œ—๐‘š (2.47)

Perhitungan kekuatan longitudinal tensile strength, ๐น1๐‘ก dilakukan dengan menggunakan Persamaan (2.48).

๐น1๐‘ก = ๐น๐‘“๐‘ก[๐‘‰๐‘“+๐ธ๐‘š

๐ธ๐‘“ (1 โˆ’ ๐‘‰๐‘“)] =๐น๐‘“๐‘ก

๐‘˜๐‘“ (2.48)

Notasi ๐‘˜๐‘“ merupakan faktor konsentrasi tegangan. Kasus fraksi volume fiber, ๐‘‰๐‘“ nilainya kecil sekali kekuatannya dihitung dengan Persamaan (2.49).

๐น1๐‘ก = ๐น๐‘š๐‘ก(1 โˆ’ ๐‘‰๐‘“) (2.49)

Notasi ๐น๐‘š๐‘ก merupakan kekuatan matriks dalam arah longitudinal.

Perhitungan longitudinal compressive strength, ๐น1๐‘ dilakukan dengan menggunakan Persamaan (2.50).

๐น1๐‘ = ๐บ12(1 + 4.76๐œ’)โˆ’0.69 (2.50)

Notasi ๐œ’ nilainya sesuai Persamaan (2.51).

๐œ’ =๐บ12๐›ผ๐œŽ

๐น6 (2.51)

Notasi ๐›ผ๐œŽ menunjukkan standard deviasi fiber sedangkan ๐บ12 merupakan in โ€“ plane shear modulus, dan ๐น6 mewakili kekuatan geser.

Kasus patahnya unidirectional lamina sebagai akibat dari pertumbuhan transversal crack pada arah fiber, seperti Gambar 2.15 merupakan persoalan fracture mechanics.

Gambar 2.15 Transversal crack pada unidirectional lamina

Perhitungan transversal tensile strength, ๐น2๐‘ก dilakukan dengan Persamaan (2.52).

๐น2๐‘ก = โˆš ๐บ๐ผ๐ถ 1.122๐œ‹ (๐‘ก๐‘ก

4) ฮ›๐‘œ22

(2.52)

Notasi ๐บ๐ผ๐ถ mewakili parameter fracture toughness dalam mode I, sedangkan ๐‘ก๐‘ก transition thickness yang besarnya 4๐‘Ž๐‘œ, dengan ๐‘Ž๐‘œ merupakan separuh ukuran crack, dan ฮ›๐‘œ22 sesuai dengan Persamaan (2.53).

ฮ›๐‘œ22= 2 (1

๐ธ2โˆ’๐œ—122 ๐ธ22

๐ธ13 ) (2.53)

Pada kasus patahnya unidirectional lamina bukan merupakan persoalan fracture mechanics perhitungan transversal tensile strength, ๐น2๐‘ก dengan Persamaan (2.54).

๐น2๐‘ก = ๐น๐‘š๐‘ก๐ถ๐‘ฃ[1 + (๐‘‰๐‘“โˆ’ โˆš๐‘‰๐‘“) (1 โˆ’๐ธ๐‘š

๐ธ๐‘‡)] (2.54)

Notasi ๐ธ๐‘‡ merupakan modulus fiber dalam arah transversal. ๐ถ๐‘ฃ dihitung dengan Persamaan (2.55) sebagai efek adanya void. dan ๐‘‰๐‘ฃ, merupakan fraksi volume void.

๐ถ๐‘ฃ = 1 โˆ’ โˆš 4๐‘‰๐‘ฃ

๐œ‹(1 โˆ’ ๐‘‰๐‘“) (2.55)

Perhitungan transversal compression strength, ๐น2๐‘ dilakukan dengan Persamaan (2.56).

๐น2๐‘ = ๐น๐‘š๐‘๐ถ๐‘ฃ[1 + (๐‘‰๐‘“โˆ’ โˆš๐‘‰๐‘“) (1 โˆ’๐ธ๐‘š

๐ธ๐‘‡)] (2.56)

Nilai ๐น๐‘š๐‘ dihitung berdasarkan data percobaan dan ๐ถ๐‘ฃ dengan Persamaan (2.55).

Komponen tegangan geser pada unidirectional lamina dapat diuraikan seperti pada Gambar 2.16.

Gambar 2.16 Komponen tegangan geser (Barbero, 2011)

Gambar 2.16a bidang normal tegak lurus pada sumbu 1, sedangkan arah tegangan gesernya searah dengan sumbu 2 dan 3. Tegangan geser, ๐œ12 dan ๐œ13 akan memotong fiber sehingga unidirectional lamina patah.

Gambar 2.16b bidang normal tegak lurus sumbu 3, sedangkan tegangan gesernya searah dengan sumbu 1 dan 2. Hal tersebut mengakibatkan tegangan geser, ๐œ31 dan ๐œ32 akan memotong matriks tanpa memotong fiber.

Gambar 2.16c bidang normal tegak lurus sumbu 2, sedangkan tegangan gesernya searah dengan sumbu 1 dan 3. Konsekuensinya, tegangan geser, ๐œ21 dan ๐œ23 akan memotong matriks unidirectional lamina tanpa menyebabkan terpotongnya fiber.

Perhitungan in-plane shear strength, ๐น6, dihitung berdasarkan nilai maksimum dari ๐œ12. Bila crack pada matriks terjadi sepanjang arah fiber, kasusnya merupakan persoalan fracture mechanics dan untuk memprediksi nilai in-plane shear strength, ๐น6 pada unidirectional lamina, digunakan Persamaan (2.57).

๐น6 = โˆš ๐บ๐ผ๐ผ๐ถ ๐œ‹ (๐‘ก๐‘ก

4) ฮ›044

(2.57)

Notasi ๐บ๐ผ๐ผ๐ถ merupakan fracture toughness dalam mode II, dan ๐‘ก๐‘ก

4 = ๐‘Ž0, yang merupakan setengah ukuran crack, parameter ฮ›044 sesuai dengan Persamaan (2.58).

ฮ›044= 1

๐บ12 (2.58)

Perhitungan interlaminar shear strength, ๐น4 dilakukan dengan Persamaan (2.59).

๐น4 = ๐น2๐‘cos ๐›ผ0(sin ๐›ผ0+ cos ๐›ผ0cot 2๐›ผ0) (2.59) Interlaminar shear strength merupakan tegangan geser ๐œ23 dan ๐œ32 yang akan memotong matriks tanpa memotong fiber seperti ilustrasi pada gambar 2.16b dan 2.16c. Tegangan geser, ๐œŽ5 yang diperlukan untuk memotong lamina merupakan nilai maksimum ๐œ31 atau ๐œ31. Tegangan geser ๐œ13 dan ๐œ31 pada Gambar 2.16 besarnya sama. Tegangan geser ๐œ13 akan memotong fiber dan tegangan ๐œ31 akan memotong matriks sepanjang fiber.

2.2.3 Pemodelan material komposit di ABAQUS

Pemodelan material komposit dengan perangkat lunak ABAQUS dapat dilakukan dengan tiga macam tingkatan, yaitu tingkat mikro-mekanik, meso-mekanik, dan makro-mekanik seperti pada Gambar 2.17(Barbero, 2013).

Gambar 2.17 Tingkat (a) mikro, (b) meso, dan (c) makro-mekanik (Barbero, 2013)

Pemodelan pada tingkat mikro - mekanik merupakan pemodelan material komposit berdasarkan susunan fiber dan matriks pada tingkat unit sel atau RVE, seperti ilustrasi pada Gambar 2.17a.

Pada tingkat meso-mekanik, pemodelan material komposit dilakukan sesuai susunan lamina (laminate stacking sequence), seperti ilustrasi pada Gambar 2.17b.

Pemodelan pada tingkat ini dapat digunakan untuk menganalisa distribusi perpindahan dan tegangan pada tiap lamina.

Pemodelan material komposit di tingkat makro - mekanik, material komposit dianggap sebagai material homogen yang berperilaku sebagai material orthotropik, seperti diilustrasikan pada Gambar 2.17c.

Kerusakan material komposit dapat disebabkan oleh beban statik maupun dinamik. Jenis kerusakannya dapat dikelompokkan menjadi intra-laminar dan Inter-laminar. Analisa kerusakan tersebut dapat dilakukan dengan strength failure criteria dan continuum damage mechanics.

Analisa kerusakan berdasarkan strength failure criteria di ABAQUS menggunakan notasi indeks IF, yang merupakan perbandingan tegangan dan kekuatannya, seperti Persamaan (2.60) dengan Hashin failure criteria.

๐ผ๐น = Stress

Strength (2.60)

Kerusakan akan terjadi bila nilai ๐ผ๐น โ‰ฅ 1.

Mode kerusakannya meliputi, fiber tension failure, fiber compression failure, matrix tension failure, dan matrix compression failure.

Mode kerusakan fiber tension failure, dihitung dengan Persamaan (2.61) dan kerusakan akan terjadi bila nilai ๐œŽ1 โ‰ฅ 1.

๐ผ๐น๐‘“๐‘ก2 = (๐œŽ1

Mode kerusakan fiber compression failure, dihitung dengan Persamaan (2.62) dan kerusakan akan terjadi bila nilai ๐œŽ1 < 1.

๐ผ๐น๐‘“๐‘2 = (๐œŽ1 ๐น1๐‘)

2

(2.62)

Mode kerusakan matrix tension failure, dihitung dengan Persamaan (2.63) dan kerusakan akan terjadi bila nilai ๐œŽ2 โ‰ฅ 0.

๐ผ๐น๐‘š๐‘ก2 = (๐œŽ2

Mode kerusakan matrix tension failure, dihitung dengan Persamaan (2.64) dan kerusakan akan terjadi bila nilai ๐œŽ2 < 0.

๐ผ๐น๐‘š๐‘2 = (๐œŽ2

Kriteria ini hanya dapat memperkirakan first ply dan last ply failure saja.

Kerusakan lainnya berupa pertumbuhan retak, penurunan kekakuan, atau distribusi tegangan pada setiap lamina di komposit laminasi hanya dapat dianalisa dengan continuum damage mechanics. Kriteria kerusakan tersebut dapat diuraikan sesuai alur dalam diagram alir pada Gambar 2.18.

Konsepnya, bila material komposit mengalami pembebanan yang dianggap sebagai independent variable, ๐‘”ฬ‚ (dalam bentuk tegangan, regangan, atau energy release rate). Material komposit akan bereaksi berupa damage variable, D (dalam bentuk pengurangan luas penampang, pengurangan jumlah fiber yang belum putus, atau penurunan tegangan) yang nilainya 0 โ‰ค ๐ท โ‰ค 1. Nilai ๐ท โ‰ค 0 akan menyebabkan Damage activation function, ๐‘” bernilai kurang atau sama dengan nol (๐‘” = ๐‘”ฬ‚ โˆ’ ๐›พฬ‚ โ‰ค 0), artinya pembebanan masih di daerah linier elastis sehingga kerusakan belum terjadi. Kerusakan akan terjadi bila ๐ท > 0. Notasi ๐›พฬ‚, merupakan updated damage threshold yang nilainya merupakan selisih di antara new damage threshold dengan initial damage threshold, (๐›พฬ‚ = ๐›พ(๐›ฟ) โˆ’ ๐›พ0) dengan ๐›พ0 merupakan initial damage threshold, sedangkan ๐›พ(๐›ฟ) merupakan hardening atau softening function yang bernilai positif. Bila ๐›พ(๐›ฟ) > ๐›พ0 maka material berperilaku hardening, sebaliknya akan berperilaku softening function. Laju kerusakan di ukur berdasarkan pada Damage Evolution Function, ๐ทฬ‡.

Gambar 2.18 Kriteria kerusakan dengan continuum damage mechanics

Pemodelan dan analisa kerusakan tersebut, dapat dilakukan menggunakan perangkat lunak ABAQUS dengan built in Vumat untuk shell element maupun VUMAT user subroutine untuk solid element (Abaqus, 2011).

D

2.2.4 Proses penyerapan energi pada crash box

Indikator unjuk kerja pembebanan crush ataupun crash pada crash box menurut Tarlochan et al. (2013) diperoleh berdasarkan kurva hubungan beban dengan perpindahan yang merupakan hasil simulasi atau pengujian crash maupun crush pada struktur. Kurva idealnya dapat dilihat pada Gambar 2.19.

Gambar 2.19 Kurva hubungan beban โ€“ perpindahan crash dan crush

Kurva tersebut terdiri dari tiga daerah yaitu daerah ke I merupakan pre-crushing zone, ke II adalah crushing zone, sedangkan ke III disebut compacting zone.

Indikator unjuk kerjanya meliputi, beban puncak atau Peak Load yang merupakan beban tertinggi sebelum compacting zone. Perpindahan atau displacement (๐›ฟ) adalah total panjang pergerakan impaktor. Total energi yang dapat diserap atau Energy absorption (๐‘ˆ) merupakan luas area di bawah kurva sebelum compacting zone, seperti dinyatakan dalam Persamaan (2.65).

๐‘ˆ = โˆซ0๐‘‘๐‘š๐‘Ž๐‘ฅ๐‘ƒ ๐‘‘โˆ† (2.65)

Beban rata-rata atau average load, ๐‘ƒ๐‘Ž๐‘ฃ๐‘” dinyatakan sebagai perbandingan total energi yang dapat diserap, (๐‘ˆ) dengan perpindahan, (๐›ฟ) sesuai Persamaan (2.66).

Pavg= U

ฮด (2.66)

Penyerapan energi Spesifik atau Specific Energy Absorption, (๐‘†๐ธ๐ด) merupakan perbandingan total energi yang diserap dengan massa spesimen sebelum diuji, seperti Persamaan (2.67).

SEA = ๐‘ˆ

m

(2.67) Efisiensi benturan atau crash force efficiency, (๐ถ๐น๐ธ) merupakan perbandingan beban puncak dengan beban rata-rata, seperti ditulis pada Persamaan (2.68).

CFE =๐‘ƒ๐‘š๐‘Ž๐‘ฅ

๐‘ƒ๐‘Ž๐‘ฃ๐‘”

(2.68) 2.2.5 Metode Elemen Hingga

Fenomena tabrakan atau crash merupakan kasus non โ€“ linier explicit dynamic.

Formulasi ini menggunakan metode central difference rule. Integrasi persamaan geraknya dilakukan secara explicit sepanjang durasi waktu di setiap increment dengan menggunakan kondisi kinematika pada tiap increment untuk menghitung kondisi kinematika pada increment berikutnya.

Pada increment awal formulasi ini akan mencari penyelesaian kesetimbangan dinamik pada tiap elemen berdasarkan Persamaan gerak (2.69).

๐‘€๐‘ขฬˆ = ๐‘ƒ โˆ’ ๐ผ (2.69)

Besar percepatan pada awal increment, t dihitung dengan Persamaan (2.70).

๐‘ขฬˆ|(๐‘ก) = (๐‘€)โˆ’1. (๐‘ƒ โˆ’ ๐ผ)|(๐‘ก) (2.70)

Kemudian kecepatannya dihitung dengan cara mengintegrasikan percepatan tersebut menggunakan metode central difference rule dengan asumsi percepatan

tersebut konstan. Perubahan kecepatan yang terjadi ditambahkan ke kecepatan sebelumnya pada durasi waktu di tengah increment sebelumnya, untuk mendapatkan nilai kecepatan pada durasi waktu di tengah increment saat ini. Secara matematis dapat ditulis seperti pada Persamaan (2.71).

๐‘ขฬ‡|(๐‘ก+โˆ†๐‘ก 2) = ๐‘ขฬ‡|

(๐‘กโˆ’โˆ†๐‘ก

2)+(โˆ†๐‘ก|(๐‘ก+โˆ†๐‘ก)+ โˆ†๐‘ก|(๐‘ก))

2 ๐‘ขฬˆ|(๐‘ก) (2.71)

Perpindahan nodal yang terjadi pada akhir increment dihitung berdasarkan penjumlahan perpindahan pada awal increment dengan integrasi kecepatan yang dikalikan dengan waktunya, seperti pada Persamaan (2.72).

๐‘ข|(๐‘ก+โˆ†๐‘ก) = ๐‘ข|(๐‘ก)+ โˆ†๐‘ก|(๐‘ก+โˆ†๐‘ก)๐‘ขฬ‡|

(๐‘ก+โˆ†๐‘ก

2) (2.72)

2.2.6 Pemodelan plastisitas material logam

Pemodelan plastisitas material mild steel pada crash box MAZDA CX5 di penelitian ini berdasarkan Johnson โ€“ Cook model. Reaksi material logam yang mengalami beban impak pada model plastisitas ini terdiri dari tiga parameter yaitu:

(a) Strain hardening (b) Strain rate effects (c) Thermal softening

Ketiganya di kombinasi dalam Persamaan (2.73) (Schwer, 2007).

๐œŽฬ… = [๐ด + ๐ต(๐œ€ฬ…๐‘๐‘™)๐‘›] [1 + ๐ถ ln (๐œ€ฬ…ฬ‡๐‘๐‘™

๐œ€ฬ‡0)] (1 โˆ’ ๐œƒฬ‚๐‘š) (2.73)

dengan

[๐ด + ๐ต(๐œ€ฬ…๐‘๐‘™)๐‘›] adalah plastic strain hardening [1 + ๐ถ ln (๐œ€ฬ…ฬ‡๐‘๐‘™

๐œ€ฬ‡0)] adalah strain-rate effects (1 โˆ’ ๐œƒฬ‚๐‘š) adalah thermal softening

๐œƒฬ‚๐‘š adalah non-dimensional temperature dengan definisi,

๐œƒฬ‚ =

{

0 ๐‘ข๐‘›๐‘ก๐‘ข๐‘˜ ๐œƒ < ๐œƒ๐‘ก๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘ ๐‘–๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘›

(๐œƒ โˆ’ ๐œƒ๐‘ก๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘ ๐‘–๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘›)

(๐œƒ๐‘š๐‘’๐‘™๐‘กโˆ’ ๐œƒ๐‘ก๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘ ๐‘–๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘›) ๐‘ข๐‘›๐‘ก๐‘ข๐‘˜ ๐œƒ๐‘ก๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘ ๐‘–๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘› โ‰ค ๐œƒ โ‰ค ๐œƒ๐‘š๐‘’๐‘™๐‘ก

1 ๐‘ข๐‘›๐‘ก๐‘ข๐‘˜ ๐œƒ โ‰ฅ ๐œƒ๐‘š๐‘’๐‘™๐‘ก

2.2.7 Pengukuran masa jenis dan perhitungan modulus elastisitas

Masa jenis material komposit diperoleh dengan melakukan pengukuran menggunakan standar ASTM D792. Prinsipnya berdasarkan pada metode perpindahan air, sesuai prinsip Archimedes, yaitu benda padat yang dimasukkan ke dalam fluida akan mendapatkan gaya tekan ke atas sebesar berat fluida yang dipindahkan.

Bentuk matematis pernyataan tersebut dapat ditulis seperti Persamaan (2.74).

Fatas = Wudara โ€“ Wfluida (2.74)

Dengan

Fatas = Gaya ke atas = berat air yang dipindahkan = Wudara - Wfluida

Wudara = Berat benda di udara Wfluida = Berat benda di dalam fluida Wfluida = Vb. ๏ฒfluida

Vb = Volume benda = Wudara - Wfluida / ๏ฒbenda

๏ฒf๏€ ๏€ ๏€ ๏€ ๏€ ๏€ ๏€ ๏€ ๏€ฝ๏€ ๏ฒfluida = Masa jenis fluida

๏ฒb = ๏ฒbenda = Masa jenis benda

sehingga masa jenis benda dapat ditulis seperti Persamaan (2.75)

๏ฒb = (Wudara / ๏€จWudara - Wfluida)) x ๏ฒfluida (2.75)

Fluida yang dipergunakan dalam pengukuran ini diasumsikan tidak meresap ke dalam spesimen yang diuji, caranya dengan melapisi bahan komposit dengan lilin.

Modulus elastisitas serat dan matriks material komposit dicari dengan cara melakukan pengujian. Pengujian serat tunggal dilakukan dengan standar ASTM C1557. Cara pengujian serat tunggal menurut Carlsson et al. (2014) dilakukan dengan urutan sebagai berikut.

a. Spesimen serat tunggal dilem dengan semen atau wax pada kertas tipis, logam, atau plastik yang ada lubang slot atau lingkaran seperti Gambar 2.20.

Gambar 2.20 Serat tunggal

b. Spesimen yang telah di lem seperti Gambar 2.20 dipasang di grip mesin uji tarik c. Kertas di bagian tengah dipotong

d. Serat ditarik hingga putus

e. Pencatatan beban dan perpanjangan yang terjadi f. Perhitungan modulus elastisitasnya

Prosedur pengujian untuk serat dalam bentuk strip urutannya sama seperti prosedur pengujian serat tunggal, demikian juga untuk pengujian matriks.

Proses perhitungan modulus elastisitas komponen penyusun material komposit tersebut dilakukan dengan menggunakan Persamaan (2.76) hingga (2.78).

๐ธ = ๐œŽ

๐œ€ (2.76)

Notasi ๐œŽ merupakan tegangan sedangkan ๐œ€ merupakan regangan. Besar tegangan fiber, ๐œŽ dapat dicari dengan Persamaan (2.77).

๐œŽ = ๐‘ƒ

๐ด๐‘“ (2.77)

Notasi ๐‘ƒ merupakan besar gaya tarik dan ๐ด๐‘“ merupakan luas penampang fiber.

Regangan ๐œ€ didefinisikan sebagai perbandingan di antara perpindahan cross-head, ๐›ฟ dengan gage-length, ๐ฟ seperti yang ditulis pada Persamaan (2.78).

๐œ€ =๐›ฟ

๐ฟ (2.78)

59 BAB III

Dokumen terkait