• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Pustaka yang digunakan pada penelitian ini dikelompokkan dalam beberapa kategori yaitu, pustaka tentang tinjauan umum, perancangan kendaraan, komponen penyerap energi kendaraan, crash box dari logam, crash box dari lightweight material, crash box dari komposit serat sintetik, crash box dari komposit serat alam.

2.1.1 Tinjauan umum

Fenomena pemanasan global yang terjadi saat ini diperkirakan sebagai salah satu akibat dari penggunaan energi yang tidak bijaksana (Eurobarometer, 2006).

Persoalan tersebut menyebabkan munculnya gerakan sosial di masyarakat yang dikenal dengan greening marketing behavior. Gerakan ini menuntut adanya perbaikan pola hidup di masyarakat dan industri yang lebih peduli pada kelestarian lingkungan (Conraud-koellner et al., 2009; Awad, 2011; Kalafatis et al., 1999;

Straughan et al., 2014; Ali dan Ahmad, 2012).

Keberhasilan gerakan tersebut menyebabkan adanya peningkatan pemakaian material yang lebih ramah lingkungan, penghematan penggunaan bahan bakar, dan pembuatan produk dengan proses yang ramah lingkungan (Ma dan Lu, 2013;

Thakur et al., 2014; SzeteiovΓ‘, 2010).

Revolusi industri menyebabkan munculnya masyarakat kelas menengah baru yang memiliki gaya hidup yang unik. Gaya hidupnya membutuhkan dukungan alat transportasi yang andal. Dampaknya jumlah kendaraan meningkat dengan tajam yang disertai peningkatan jumlah kecelakaan (Abramowicz 2003).

Hal tersebut menyebabkan peralatan keamanan kendaraan baik aktif maupun pasif berkembang menjadi peralatan yang penting. Peralatan keamanan aktif merupakan peralatan yang terintegrasi dengan kendaraan yang dapat mencegah tabrakan dengan kendaraan atau orang atau segala objek yang ada di jalan

diantaranya, Automotive brake system (Abs), Electronic stability program (Esp), Impact sensors, traction control, Bas (brake assist) atau pre-brake system.

Peralatan keamanan pasif adalah segala komponen yang ada di kendaraan yang dapat memberikan perlindungan pada penumpang pada penumpang saat terjadi tabrakan. Contohnya front, rear bumper, dan crash box yang memiliki kemampuan untuk menyerap energy saat terjadi tabrakan, pretensioner seatbelts, airbags, roll cage, dan lain-lain (Calienciug 2012).

2.1.2 Perancangan kendaraan

Pada awal tahun 1960, banyak negara membuat peraturan tentang standar keamanan kendaraan dan perangkat pengaman jalan. Negara-negara di Eropa dan Amerika membuat peraturan tentang pembuatan kendaraan harus memenuhi Euro-NCAP dan di USEuro-NCAP (The United State of America New Car Assessment Program) yang dibuat oleh National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) (Lukaszewicz 2014).

Hal tersebut telah membuat seluruh sektor industri transportasi melakukan kajian secara menyeluruh tentang proses pembuatan kendaraan dan alat pengaman transportasi yang berkualitas. Kajian – kajian tersebut menyebabkan, penelitian, metode, dan teori pembuatan kendaraan, serta alat keamanan kendaraan tumbuh berkembang dengan pesat (Abramowicz, 2003).

Prinsipnya proses perancangan kendaraan terdiri dari beberapa tahapan, yaitu preliminary design, digital mockup/clay mockup, detail design, prototyping, testing, finishing. Pada tahap preliminary design, perubahan rancangan banyak terjadi di fase ini, akibatnya biaya perancangan menjadi tidak terkendali (Scott dan Antonsson, 1998). Salah satu cara untuk menurunkan biaya produksi saat proses perancangan di tahap ini dapat dilakukan dengan menggunakan engineering tools seperti Computer Aided Design (CAD) dan Computer Aided Engineering (CAE).

Inti perancangan kendaraan menurut Scott dan Antonsson (1998), pada umumnya terletak pada rekayasa rangka. Rangka kendaraan berfungsi sebagai tempat komponen dan panel eksterior berada. Variasi rangka kendaraan menurut Wakeham (2009), GonΓ§alves dan Ferreira (2012) terdiri dari Ladder frame, Space frame, Backbone, Lotus tub, dan monocoque.

Struktur rangka kendaraan yang berdinding tipis dari material logam banyak digunakan pada saat ini. Keunggulan struktur tipe ini, ringan dan memiliki kemampuan yang unik dalam penyerapan energi saat terjadi benturan. Energi yang terjadi saat benturan dibuang dalam bentuk lipatan - lipatan.

Mode kerusakan pada struktur berdinding tipis yang berbentuk silinder dapat dikelompokkan menjadi asymmetrically, non-asymmetrically, dan mixed mode.

Asymmetrically yang dikenal juga dengan concertina/ring mode sedangkan non-asymmetrically dikenal dengan diamond mode, yang tergantung pada perbandingan diameter dan ketebalannya (D/h). Mode kerusakan mixed mode merupakan gabungan dari keduanya.

Pada struktur berdinding tipis yang berbentuk persegi empat bila mengalami pembebanan dalam arah sejajar sumbunya akan mengalami kerusakan dalam dua mode yaitu compact atau non-compact mode yang tergantung pada perbandingan lebar sisi dan ketebalan strukturnya dan dinyatakan dengan c/h (Lu dan Tongxi, 2003).

2.1.3 Komponen penyerap energi

Struktur rangka kendaraan yang berdinding tipis di antaranya A-pillar, roof rails, front end, rear end, dan crash box. Bentuknya bervariasi yang terdiri dari silinder, segi empat, lingkaran, dan bentuk yang tidak beraturan lainnya (Marzbanrad et al., 2009).

Komponen tersebut berfungsi sebagai tempat komponen eksterior dan sebagai alat penyerap energi benturan, terutama yang berada di daerah crumple zone.

Crumple zone merupakan daerah di kendaraan yang berfungsi untuk menyerap energi akibat benturan saat terjadi tabrakan. Posisinya terletak di bagian depan, belakang, dan samping kendaraan (Wikipedia, 2018).

Salah satu komponen penyerap energi yang ada di daerah crumple zone adalah crash box. Crash box merupakan salah satu alat keamanan pasif kendaraan yang berfungsi untuk memperlambat laju kendaraan saat terjadi tabrakan dengan benda bergerak atau benda diam. Posisinya terletak di antara reinforcement beam bumper dan face bar (Davoodi et al., 2008; Calienciug, 2012).

Peristiwa tabrakan di antara kendaraan dengan kendaraan lain atau dengan benda diam menurut Saito et al. (2003) akan menyebabkan gangguan di ruang kabin penumpang. Gangguan tersebut merupakan interaksi di antara kecepatan, masa, dan kekakuan atau bentuk kendaraan.

Kendaraan yang melaju dengan kecepatan 15,5 m/s (35 mph), menurut Jacob et al. (2008) strukturnya akan dapat mencegah cedera pada organ dalam penumpang di kabin, bila struktur tersebut dapat memperlambat laju kendaraan hingga kurang dari 20 G, artinya struktur kendaraan yang berfungsi sebagai alat keamanan pasif dapat membuang energi kinetik tabrakan sehingga laju kendaraan menjadi lebih lambat hingga dibawah 20 G.

2.1.4 Crash box dari material logam

Penelitian tentang penyerapan energi struktur berdinding tipis pertama kali dilakukan oleh Alexander (1960) dengan model berbentuk silinder sederhana yang mengalami pembebanan dalam arah sejajar sumbunya. Teori yang dikembangkan masih sangat sederhana tetapi sudah dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena lipatan yang terjadi pada eksperimen yang dilakukan.

Bentuk model yang dibuat oleh Alexander dalam penelitiannya seperti dapat dilihat pada Gambar 2.1

Gambar 2.1 Bentuk Alexander model (Lu dan Tongxi, 2003)

Notasi :H adalah setengah lipatan, D adalah diameter tabung silinder, h adalah tebal, tabung silinder, P adalah beban tekan, s adalah setengah H, πœƒ adalah sudut lipatan, dan Y adalah yield stress materials.

Berdasarkan model tersebut Alexander mendapatkan rumusan untuk menghitung gaya luar rata-rata untuk menghasilkan satu lipatan, π‘ƒπ‘Žπ‘£π‘” sesuai Persamaan (2.1)

π‘ƒπ‘Žπ‘£π‘”β‰ˆ 6 π‘Œ β„Ž βˆšπ·β„Ž (2.1)

Johnson (1972) menyatakan bahwa persamaan yang dibuat oleh Alexander tersebut kurang tepat karena energi regangan yang terjadi nilainya bervariasi sepanjang penampangnya.

Abramowicz dan Jones (1986) juga memperbaiki rumusan tersebut karena menurut mereka dinding tabung silinder mengalami tekuk ke arah meridian tidak lurus, sehingga effective crush length, 𝛿𝑒 besarnya seperti Persamaan (2.2)

𝛿𝑒

2𝐻 = 0.86 βˆ’ 0.52 (β„Ž

𝐷)1 2⁄ (2.2)

Gaya rata-ratanya dinyatakan seperti Persamaan (2.3)

π‘ƒπ‘Žπ‘£π‘”= 8.91 π‘Œ β„Ž √𝐷 β„Ž [1 βˆ’ 0.61βˆšβ„Žπ·] (2.3)

Wierzbicki et al. (1992) memperkenalkan parameter eccentricity factor.

Nilainya berdasarkan hasil eksperimen sebesar 0,65. Berdasarkan nilai ini beban puncak kedua beserta lipatannya dapat ditentukan.

Singace dan Elsobky (1996) memperbaiki apa yang telah dilakukan oleh Wierzbicki. Cara perbaikan yang dilakukan dengan menguji ulang dengan memperhitungkan sudut kritis yang diperlukan untuk menghasilkan lipatan keluar dan ke dalam.

Karagiozova et al. (2000) dengan memperhitungkan pengaruh strain-rate dan inersia serta berdasarkan hubungan Cowper-Symonds Persamaan (2.1) bentuknya berubah menjadi Persamaan (2.4).

π‘ƒπ‘Žπ‘£π‘”= 6 π‘Œ β„Ž √𝐷 β„Ž [1 + (2𝐷𝑉0)π‘ž] (2.4)

Notasi π‘‰π‘œ adalah kecepatan awal dan q adalah konstanta material dengan nilai 5 untuk mild steel.

Guillow et al. (2001) melakukan pengamatan pada pengujian tekan sejajar sumbu tabung silinder berdinding tipis. Hasilnya perbandingan beban puncak terhadap beban rata-rata meningkat dengan peningkatan perbandingan diameter dan ketebalan dinding, D/t.

Abramowicz (2003) perancangan crash box berdinding tipis dilakukan dengan proses berulang karena memerlukan perhitungan secara bertahap. Penggunaan peralatan komputasi menjadi tidak dapat dihindari. Perangkat lunak CRASH CAD digunakan di awal perancangan crash box yang dilakukan serta dengan berdasarkan pada teori teori plastic shell dengan metode Super folding (SE) .

Marzbanrad et al. (2009) melakukan penelitian penyerapan energi akibat pembebanan sejajar sumbu crash box yang terbuat dari logam dengan bentuk yang bervariasi yaitu silinder, elips, dan persegi empat secara numerik. Hasil penelitiannya menunjukkan bentuk elips memiliki kemampuan penyerapan energi yang terbaik.

Tai et al. (2010) melakukan penelitian penyerapan energi pada logam dengan arah pembebanan sejajar sumbu komponen penyerap energinya. Qiu et al.( 2015) melakukan penelitian penyerapan energi pada logam dengan arah pembebanan dari arah yang bervariasi.

Moon et al. (2012), melakukan perancangan crash box dengan perangkat lunak PAM-Crash. Prosesnya di awali dengan memodelkan sebagai elemen pegas satu dimensi (1D spring element model) dan kemudian dilanjutkan secara detail berdasarkan hasil impact test.

Simulia (2012) dan Indermuehle et al. (2009) menyatakan simulasi crash dan crush harus menggunakan formulasi non-linier explicit dynamic. Pemodelan kerusakan yang terjadi pada material logam akibat beban crash dan crush dapat

dilakukan dengan menggunakan build in VUMAT subroutine ataupun user defined VUMAT subroutine.

Tarlochan et al. (2013) melakukan penelitian komputasi dynamic compression pada struktur berdinding tipis dengan penampang yang berbeda. Material yang digunakan mild steel A36, sedangkan pemodelan plastisitas menggunakan Johnson – Cook model. Jenis pembebanan sejajar dan menyudut terhadap sumbunya.

Perangkat lunak yang digunakan ABAQUS dengan formulasi non-linier explicit dynamic. Indikator unjuk kerja yang diperoleh berupa peak load, 𝑃𝑀𝐴𝑋 (π‘˜π‘), displacement,𝛿 (π‘šπ‘š), energy absorption, π‘ˆ (π‘˜π½), Average Load, π‘ƒπ‘Žπ‘£π‘”(π‘˜π‘), Specific energy absorption, 𝑆𝐸𝐴 (π‘˜π½

π‘˜π‘”), dan crash force efficiency, 𝐢𝐹𝐸.

2.1.5 Crash box dari lightweight materials

Para peneliti terus melakukan inovasi untuk memeroleh peralatan penyerap energi yang optimal. Inovasi tersebut, di antaranya seperti yang dilakukan oleh, Fremgen et al. (2005) yang melakukan penelitian kemampuan penyerapan energi material foam, plastik dan polymer serta pemodelan dengan menggunakan metode elemen hingga.

Marzbanrad dan Alijanpour, et al. (2009) meneliti material aluminium sebagai penyerap energi dan kemampuannya terhadap beban impak.

Tarlochan (2013) melakukan studi kemungkinan penggunaan material magnesium sebagai penyerap energi. Tabung dari magnesium dengan penampang yang bervariasi dibebani dalam arah sejajar dan tidak sejajar sumbunya. Indikator unjuk kerja yang diukur meliputi total penyerapan energi dan efisiensinya. Hasilnya total penyerapan energi 9.8 kJ, dan CFE 0.68 untuk pembebanan tidak sejajar sumbu, sedangkan pada pembebanan sejajar sumbu 14.5 kJ dan 0.41 pada tabung hexagonal dengan ketebalan 2 mm. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak ABAQUS dengan formulasi non-linier explicit dynamic.

Yang dan Qi (2013) melakukan optimalisasi penyerapan energi profil Aluminium AA6063 T6 persegi empat dari yang di isi dengan foam dan tanpa foam.

Tipe pembebanan tidak sejajar sumbu profil. Analisis dengan finite element code

LS-Dyna. Hasilnya kemampuan profil yang di isi foam lebih baik, tetapi profil yang tanpa foam memiliki ruang untuk meningkatkan kemampuan penyerapan energi akibat beban tidak sejajar sumbu profil.

Marzbanrad dan Khosravi (2014) melakukan penelitian optimalisasi ukuran awal groove yang digunakan untuk inisiasi kerusakan akibat tabrakan dalam arah sejajar sumbu struktur yang terbuat dari baja karbon rendah. Analisis dilakukan dengan non-linier finite element code LS-Dyna. Hasilnya kedalaman groove 4,5 mm dan jari-jari 10 mm merupakan ukuran yang paling optimal.

Yin et al. (2014) meneliti kemampuan struktur multi (FMTS) dan single sel berdinding tipis yang di isi foam. Penelitian menggunakan perangkat lunak LS-Dyna dengan formulation code explicit dynamic. Hasilnya menunjukkan FMTS dengan sembilan sel berpotensi untuk digunakan sebagai bodi kendaraan di masa depan.

Sunil dan Vitala (2014) meneliti tentang penyerapan energi tabung silinder dari aluminium kosong dan di isi dengan foam dan hasilnya dibandingkan dengan eksperimen dan teori yang ada.

Costas et al. (2014) melakukan penelitian kemampuan penyerapan energi pada frontal crash absorber yang terbuat dari steel dan glass fiber reinforced polyamide.

Paz et al. (2014) melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh Costas et al. (2014) yaitu menganalisa tabung dengan profil berbentuk persegi empat yang terbuat dari steel yang di isi dengan struktur honeycomb yang terbuat dari glass-fiber reinforced polyamide menggunakan teknik surrogate.

Sharifi et al. (2015), melakukan eksperimen kemampuan penyerapan energi pada bitubal circular crash box yang terbuat dari Aluminium AL-6063-O. Hasilnya menunjukkan kemampuan penyerapan energi yang diperoleh dipengaruhi oleh ketebalan, interaksi di antara tabung silinder, serta diameternya.

Qiu et al. (2015), melakukan penelitian penyerapan energi struktur multi-cell hexagonal columns.

2.1.6 Crash box dari komposit serat sintetis

Penggunaan material komposit untuk pembuatan komponen crash box menarik karena rasio berat dan kekuatannya, sehingga berpotensi untuk dapat menurunkan

berat kendaraan. Dampaknya dapat menurunkan konsumsi bahan bakar kendaraan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Cui et al. (2011), penurunan berat kendaraan sebesar 57 kg, dapat menurunkan emisi gas buang sebesar 0,09 – 0,21 per liter bahan bakar.

Pemanfaatan material komposit sintetis untuk pembuatan komponen interior maupun eksterior kendaraan telah dilakukan oleh industri automotif. Kekurangan material ini terletak pada harganya yang mahal dan merupakan material yang tidak terbarukan (Williams dan Hall, 1992).

Mamalis et al. (1996) melakukan penelitian evaluasi kerusakan dalam sekala makroskopis, bentuk kerusakan pada sekala mikroskopis, dan kemampuan penyerapan energi pada rangka yang terbuat dari Glass fiber vinyl ester composite.

Mamalis et al. (1997) melakukan kajian ulang kemampuan penyerapan energi pada material komposit.

Botkin et al. (1998) melakukan pemodelan material komposit polymer dengan menggunakan perangkat lunak LS-Dyna dengan menggunakan shell element untuk memperpendek proses perancangan, menurunkan biaya produksi, dan mengetahui perilaku material tersebut saat mengalami pembebanan crush maupun crash.

Bentuk mode kerusakan material komposit seperti pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Kerusakan akibat crash pada material komposit

Velmurugan (2003) mempelajari tentang progressive failure mode dan kemampuan penyerapan energi pada shell conical core yang di isi dengan polyurethane foam.

Lukaszewicz (2013) meneliti tentang bentuk kerusakan akibat benturan dengan kecepatan tinggi pada crash box yang terbuat dari logam dengan yang terbuat dari material komposit berbeda. Pada logam bentuk kerusakannya berupa lipatan – lipatan, sebaliknya berupa progressive failure dengan mode splaying dan fragmentation.

Espinosa et al. (2015) melakukan penelitian kemampuan penyerapan energi basalt fiber composite dibandingkan dengan e-glass fiber composite. Hasilnya SEA E-glass fiber composite sekitar 30kJ/kg, sedangkan mekanisme kerusakannya relatif stabil dibandingkan basalt fiber composite.

Hussein et al. (2016) meneliti tentang pembebanan sejajar sumbu pada Aluminium honeycomb-filled Square carbon fiber reinforced plastic dan hollow CFRP. Hasil penelitiannya hollow CFRP dengan panjang 100 mm mengalami catastrophic failure, sedangkan Aluminium honeycomb-filled Square carbon fiber reinforced plastic mengalami splaying progressive failure dan transversal shearing failure.

Pemodelan material komposit dengan perangkat lunak ABAQUS menurut Barbero (2013) dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu, macro-mechanics, meso-mechanics, dan micro-mechanics.

Kerusakan pada material komposit akibat crush maupun crash dapat dimodelkan di perangkat lunak ABAQUS dengan menggunakan build in user subroutine VUMAT. Tipe elemen yang dapat digunakan pada pemodelan kerusakan dengan build in VUMAT ini terbatas hanya continuum shell element (SC8R) sedangkan pada elemen tiga dimensi (3D) harus menggunakan user subroutine VUMAT (Abaqus, 2011).

2.1.7 Crash box dari komposit serat alam

Penelitian komposit dengan penguat serat alam sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1900, tetapi para peneliti baru mengkaji secara intensif pada akhir tahun

1980-an. Material ini diharapkan dapat menggantikan komposit glass fiber atau serat sintetis lainnya, yang tergantung pada sumber yang tidak dapat terbarukan, selain itu glass fiber harganya mahal ($3,25 per kg). Serat alam harganya murah kurang dari $0,5 per kg, lebih ringan dari glass fiber dengan massa jenis 1,15 – 1,5 g/cm3 sedangkan glass fiber 2,4 g/cm3. Kelemahan serat alam karena kekuatannya yang sangat rendah dibandingkan glass fiber, kecenderungan menyerap air saat kontak langsung dengan lingkungan, wettability yang rendah dibandingkan glass fiber. Persoalan tersebut saat ini sudah dapat diatasi dengan beberapa teknik di antaranya mercerization dengan alkaline, dengan silanes sebagai coupling agent dan acetylation (NystrΓΆm, 2007).

Pembuatan komposit dengan penguat serat alam dapat dilakukan dengan teknik yang sederhana seperti hand layup hingga cara yang kompleks seperti dengan Vacuum Assisted Resin Transfer Moldings (VARTM) atau Seeman Composite Resin Infusion Moldings Process (Symington et al., 2008).

Prediksi sifat mekanik material komposit untuk data simulasi dapat dihitung dengan menggunakan perangkat lunak Computer Aided Design Environment for Composites (CADEC) (Wikipedia, 2012; Adumitroaie dan Barbero, 2012;

Adumitroaie dan Barbero, 2011; Barbero et al., 2013; Martinez dan Barbero, 2014).

Sifat mekanik komposit serat alam dapat diketahui dengan cara lain, yaitu dengan melakukan pengujian seperti uji tarik, tekan, tekuk, dan impak. Pengujian tersebut dilakukan menggunakan standar ASTM D3039 untuk uji tarik, ASTM D790 untuk uji tekuk, dan ASTM A370 untuk uji impak (Kumaresan et al., 2015).

Yan dan Chouw (2013) melakukan studi eksperimental dan pengamatan kemampuan penyerapan energi tabung silinder yang terbuat dari flax fiber reinforced epoxy composite. Geometri spesimen yang diuji berdiameter dalam 36, 54, dan 82 mm sedangkan perbandingan panjang dan diameternya 1, 1,5, dan 2.

Hasilnya menunjukkan spesimen ini dapat digunakan sebagai komponen penyerap energi.

Kemampuan material komposit serat bambu (Dendrocalamus giganteous Munro) yang ditanam di perkebunan the Catholic University of Rio de Janeiro (PUC-Rio) dengan matriks diglycidyl ether of the bisphenol-A (DGEBA) epoxy

resin di evaluasi oleh Pereira et al. (2015) pada penelitian penyerapan energi balistik berkecepatan tinggi yang ditembakkan ke body armor yang terbuat dari material komposit hibrida logam dan bambu epoxy resin. Hasil penelitiannya menunjukkan material komposit serat bamboo-epoxy resin mampu menggantikan bahan konvensional yang terbuat dari aramid.

Nurul Fazita et al. (2016) melakukan penelitian penggunaan komposit serat bambu dengan matriks Polylactic Acid untuk kemasan produk. Hasil pengamatan yang dilakukan meliputi ketahanan impak, kemampuan untuk didaur ulang, biodegradability, dan dapat digunakan sebagai komponen packaging.

Apolinario et al. (2016) meneliti tentang penyerapan air oleh flax fiber composite dan membandingkannya dengan glass fiber composite. Hasilnya flax fiber composite menyerap air jauh lebih besar. Sifat mekaniknya berubah, modulus tariknya berkurang 37%, ultimate stress meningkat 34%. Perlakuan dengan silanes menyebabkan penyerapan air menurun 9%, modulus tariknya meningkat 22%.

Studi pengaruh triggering pada crash box yang terbuat dari GFRP dievaluasi oleh Hussain et al. (2017). Hasil pengamatannya menunjukkan beban puncak pada crash box tanpa trigger paling tinggi, sedangkan kemampuan penyerapan energinya paling rendah. Triggering menyebabkan pola perubahan bentuk menjadi teratur.

2.1.8 Ringkasan tinjauan pustaka

Berdasarkan uraian di atas dan berdasarkan penelusuran di WIPO dan US paten belum ada yang menggunakan material ini untuk membuat crash box, sehingga dapat diambil kesimpulan keaslian penelitian ini terletak pada,

a. Penggunaan serat bambu strip dengan ukuran rata-rata 210 x 10 x 1 mm yang dibuat dari tanaman bambu yang ditanam di daerah Ngoro, Kota Jombang, Jawa timur, Indonesia dengan matriks Epoxy resin tipe Bakelite EPR 174 un-modified, liquid standard epoxy resin based on bisphenol-A dan Epoxy hardener versamid 140 untuk membuat crash box.

b. Komposit laminasi dibuat dengan serat bambu strip yang tidak mengalami perlakuan kimia apapun dan sebelum digunakan serat bambu dijemur pada temperatur kurang lebih 32o C. Proses curing dilakukan secara manual dan dengan vakum infus.

c. Proses pembuatan prototipe crash box ini, dengan struktur laminasi sepuluh lapis serat bambu strip, yang disusun pada cetakan dengan gap (celah) 1 mm.

Pembuatan celah antar lapis serat bambu strip dengan karet gelang.

Ringkasan pustaka yang digunakan seperti pada Tabel 2.1, Tabel 2.2, Tabel 2.3, Tabel 2.4, Tabel 2.5, Tabel 2.6, dan Tabel 2.7.

Tabel 2.1 Ringkasan pustaka untuk tinjauan umum

No. Tahun Authors Publised/Jurnal Hasil Penelitian

1 1999 Kalafatis Journal of Consumer Marketing Moral dalam berperilaku terhadap produk yang eco-friendly

2 2003 Ma dan Lu

Proceedings of the FISITA 2012 World Automotive Congress, Lecture Notes in Electrical Engineering 196,

Pembuatan produk yang lebih baik dengan penggunaan life cycle methods dengan evaluasi dari segi ekonomi, pemilihan material ringan dan teknologi.

3 2003 Abramowicz Thin-Walled Structures Struktur berdinding tipis untuk alat keamanan kendaraan.

4 2006 Eurobarometer Special report Eurobarometer in energy issue

Eropa terdiri dari 25 negara dan mengonsumsi 450 juta energi. Peningkatan penggunaan energi 1-2% per tahun. lebih dari 80% energi yang digunakan berbasis fossil fuels - gas, oil dan coal. Dalam 10 tahun akan menggunakan lebih dari 10% energi.

5 2009

Conrad-Koeller iBusiness, 2009

Studi tentang green behavior dengan harapan adanya perubahan perilaku setiap individu yang lebih ramah lingkungan.

6 2011 Awad Journal of Islamic Marketing Studi tentang green marketing consumer

No. Tahun Authors Publised/Jurnal Hasil Penelitian

7 2011 Szeteiova Technologies, M., & Republic, S.

Automotive Materials. Institute of Production Technology, Sloval University of Technology Bratislava

Penggunaan material plastik di industri automotif

8 2012 Ali dan Ahmad

Pakistan Journal Engineering Technology Science

Studi tentang pengaruh perilaku konsumen dalam konsumsi produk ramah lingkungan 9 2014 Thakur International Journal of Aerospace and

Mechanical Engineering

Penggunaan material komposit di industri automotif

Tabel 2.2 Ringkasan pustaka perancangan kendaraan

No. Tahun Authors Publised/Jurnal Hasil Penelitian

1 1998 Scott dan Antonsson

Proceedings of the 10th

International Conference on Design Theory and Methodology ASME, Paper Number DETC98/DTM-5646

Penggunaan Methods of Imprecision (MoI) dalam perancangan kendaraan

2 2003 Abramowicz Thin-Walled Structures

Kajian menyeluruh di seluruh sektor transportasi.

Kajian menyeluruh di seluruh sektor transportasi.

Dokumen terkait