LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka
1. Lembar Kerja Siswa
a. Pengertian Lembar Kerja Siswa
Lembar kerja siswa atau yang biasa kita kenal dengan sebutan LKS merupakan salah satu bahan ajar cetak yang digunakan dalam suatu proses pembelajaran. Menurut Prastowo (2014: 69) LKS merupakan suatu bahan ajar cetak yang berupa lembar-lembar kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan siswa, baik bersifat teoretis atau praktis, yang mengacu kepada kompetensi dasar yang harus dicapai siswa dan penggunaannya tergantung dengan bahan ajar lain. LKS biasanya berupa petunjuk, langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya (Depdiknas, 2004: 18).
Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa LKS adalah bahan ajar cetak yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk untuk menyelesaikan suatu tugas yang harus dikerjakan oleh siswa
dan mengacu kepada kompetensi dasar yang harus dicapai siswa. b. Jenis-jenis Lembar Kerja Siswa
Menurut Prastowo (2014: 272) ada lima jenis LKS yang umum digunakan oleh siswa
1) LKS yang penemuan (Membantu siswa untuk menemukan suatu konsep)
LKS ini memuat hal-hal yang harus dilakukan oleh siswa, antara lain: melakukan, mengamati, dan menganalisis. Guru merumuskan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh siswa kemudian siswa mengamati fenomena dari hasil kegiatannya. Setelah itu, guru memberikan pertanyaan analisis yang membantu siswa untuk mengaitkan fenomena yang diamati dengan konsep yang dibangun oleh siswa dalam pikirannya. 2) LKS yang Aplikatif-Integratif (Membantu siswa menerapkan
dan mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan) LKS ini membantu siswa untuk menerapkan konsep yang telah dipelajari ke dalam kehidupan sehari-hari. Setelah siswa memahami suatu konsep akan sangat bermakna jika siswa tersebut dapat menggunakan pengetahuan yang dia pelajari dalam menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari. LKS Aplikatif-Integratif berisikan fenomena atau masalah yang dalam kehidupan sehari-hari yang dikemas dalam suatu bentuk pertanyaan (soal) yang nantinya akan dicari
jalan keluarnya (diselesaikan) oleh siswa. Dengan menggunakan LKS ini siswa akan mencoba menyelesaikan soal-soal tersebut dengan bantuan pengetahuan yang telah dia miliki atau kuasai sebelumnya.
3) LKS yang Penuntun (Berfungsi sebagai penuntun belajar) LKS ini berisi pertanyaan atau isian yang jawabannya ada di dalam buku. Sebelum mengerjakan LKS ini, siswa diminta untuk membaca buku pelajaran. Siswa dituntut untuk mencari, menghafal, dan memahami materi pelajaran yang terdapat dalam buku.
4) LKS yang penguatan (Berfungsi untuk penguatan)
LKS ini diberikan setelah siswa selesai mempelajari topik tertentu. Materi yang dikemas di dalam LKS lebih menekankan pada pendalaman dan penerapan materi pembelajaran yang terdapat di dalam buku ajar. LKS ini lebih tepat digunakan dalam pengayaan.
5) LKS yang Praktikum (Berfungsi sebagai petunjuk praktikum) Alih-alih memisahkan petunjuk praktikum ke dalam buku tersendiri, kita dapat menggabungkan petunjuk praktikum ke dalam kumpulan LKS. Dengan demikian, dalam LKS ini petunjuk praktikum merupakan salah satu konten LKS.
Berdasarkan penjelasan 5 jenis LKS di atas, LKS yang dikembangkan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah LKS yang
aplikatif-integratif (Membantu siswa menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan). LKS yang dikembangkan peneliti menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan pada materi bangun ruang sisi datar dengan menggunakan pendekatan matematika realistik. c. Fungsi, Tujuan, dan Manfaat Lembar Kerja Siswa (LKS)
Dalam Pembelajaran
1) Fungsi Lembar Kerja Siswa
Dalam kegiatan pembelajaran LKS mempunyai fungsi (Prastowo, 2014: 270) antara lain:
a) LKS sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik namun lebih mengaktifkan siswa.
b) LKS sebagai bahan ajar yang mempermudah siswa untuk memahami materi yang diberikan.
c) LKS sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya akan tugas untuk berlatih.
d) LKS memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada siswa. 2) Tujuan Lembar Kerja Siswa
Penyusunan LKS mempunyai tujuan (Prastowo, 2014: 270) antara lain:
a) Menyajikan bahan ajar yang memudahkan siswa untuk berinteraksi dengan materi yang diberikan.
b) Menyajikan tugas-tugas yang meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan.
c) Melatih kemandirian belajar siswa.
d) Memudahkan pendidik dalam memberikan tugas kepada siswa.
3) Manfaat Lembar Kerja Siswa
LKS memilki banyak manfaat bagi pembelajaran, diantaranya melalui LKS guru mendapat kesempatan untuk memancing siswa agar secara aktif terlibat di dalam materi yang dibahas (Prastowo, 2014: 270).
d. Unsur-unsur Lembar Kerja Siswa
Prastowo (2014: 273) menyatakan bahwa jika dilihat dari strukturnya ada 6 unsur utama dalam penyusunan LKS yang meliputi:
1) Judul
2) Petunjuk belajar
3) Kompetensi dasar atau materi pokok 4) Informasi pendukung
5) Tugas atau langkah kerja 6) Penilaian
e. Langkah-langkah Membuat Lembar Kerja Siswa
Sebagai salah satu bahan ajar LKS harus dibuat atau disusun dengan baik oleh guru. Prastowo (2014: 275) mengungkapkan beberapa langkah membuat lembar kerja siswa antara lain:
1) Melakukan analisis kurikulum tematik
Langkah ini bertujuan untuk menentukan materi pokok dan pengalaman belajar manakah yang membutuhkan bahan ajar berbentuk LKS.
2) Menyusun peta kebutuhan LKS
Peta ini sangat diperlukan untuk mengetahui materi apa saja yang harus ditulis dalam LKS. Peta ini juga digunakan untuk melihat urutan materi dalam LKS sehingga dapat menentukan prioritas dalam penulisan materi.
3) Menentukan judul LKS
Judul LKS disesuaikan dengan tema utama dan pokok bahasan yang diperoleh dari pemetaan kompetensi dasar dan materi pokok atau pengalaman belajar antar mata pelajaran di Sekolah.
4) Penulisan LKS
Untuk menuliskan LKS langkah-langkah yang perlu dilaksanakan, yaitu:
a) Merumuskan indikator dan atau pengalaman belajar antar mata pelajaran dari tema sentral yang telah disepakati.
b) Menentukan alat penilaian c) Menyusun materi
d) Menyusun materi berdasarkan struktur LKS 5) Mengembangkan LKS bermakna
LKS yang bermakna dapat dijadikan sebagai bahan ajar yang menarik bagi siswa. Hal ini mendorong siswa agar lebih tertarik dan belajar lebih giat. Beberapa langkah pengembangan LKS, yaitu:
a) Menentukan tujuan pembelajaran yang akan dimasukkan ke dalam LKS
b) Mengumpulkan materi
c) Menyusun elemen atau unsur-unsur LKS d) Pemeriksaan dan penyempurnaan
2. Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)
a. Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid (Sagala, 2014: 61). Sebagai penjelas untuk mempermudah bagi guru untuk memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan guru maka diperlukan suatu pendekatan pembelajaran.
Sagala (2014: 68) menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan intruktisional untuk suatu satuan instruksional tertentu. Akbar (2013: 45) juga menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran sebagai cara pandang untuk membelajarkan peserta didik melalui pusat perhatian tertentu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran adalah suatu jalan yang ditempuh oleh guru dan siswa untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran melalui pusat perhatian tertentu.
b. Pengertian Pendidikan Matematika Realistik Indonesia
Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) adalah pendidikan matematika sebagai hasil adaptasi dari Realistic Mathematics Education (RME) yang telah diselaraskan dengan kondisi budaya, geografi, dan kehidupan masyarakat Indonesia (Suryanto, 2010: 57). Oleh karena itu prinsip dan karakteristik dari PMRI tidak jauh berbeda dengan prinsip dan karakteristik dari RME atau Pendidikan Matematika Realistik (PMR). RME atau PMR adalah suatu pembelajaran matematika yang dikembangkan sejak tahun 1971 oleh sekelompok ahli matematika di Freudenthal Institute, Utrecht University di Negeri Belanda yang didasarkan pada pernyataan seorang ahli matematika yang namanya menjadi nama universitas tersebut yaitu Hans Freudenthal. Freudenthal
(dalam Suryanto, 2010: 57) menyatakan matematika merupakan suatu bentuk aktivitas manusia (human activity) dan pernyataan tersebut melandasi pengembangan Pendidikan Matematika Realistik (Realistic Matematics Education).
Menurut Zainurie (dalam Soviawati, 2011) matematika realistik adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Banyak pihak yang menganggap bahwa Pendidikan Matematika Realistik (PMR) adalah suatu pembelajaran matematika yang harus selalu menggunakan masalah sehari-hari (Wijaya, 2012: 20). Angapan tersebut muncul karena orang sering menyalahrtikan kata realistik sebagai dunia nyata. Realistik sebenarnya berasal dari bahasa Belanda zich realiseren yang berarti untuk dibayangkan. Jadi fokus PMR bukan hanya menunjukan koneksi dengan dunia nyata melainkan menempatkan penekanan penggunaan suatu situasi yang bisa dibayangkan oleh siswa
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) adalah suatu cara untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika dengan menggunakan situasi realistik di Indonesia yang bisa dibayangkan oleh siswa.
c. Pengertian Pendekatan Matematika Realistik Indonesia
yakni pendekatan pembelajaran dan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Pendekatan pembelajaran adalah suatu jalan yang ditempuh oleh guru dan siswa untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran melalui pusat perhatian tertentu. Sedangkan PMRI suatu cara untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika dengan menggunakan situasi realistik di Indonesia yang bisa dibayangkan oleh siswa.
Dari dua pengertian tersebut kita dapat merumuskan pengertian pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia adalah suatu jalan yang ditempuh oleh guru dan siswa untuk mencapai tujuan pada pembelajaran matematika dengan menggunakan situasi realistik yang bisa dibayangkan oleh siswa. d. Prinsip-prinsip Pendidikan Matematika Realistik
Menurut Gravenmeijer (dalam Y. Marpaung dan Hongki Julie, 2011) ada 3 prinsip utama dalam PMR, yaitu:
1) Penemuan kembali secara terbimbing (guided reinvention) dan matematisasi progresif (progressive mathematization)
Dalam mempelajari matematika siswa perlu dibimbing oleh orang dewasa untuk menemukan sendiri berbagai konsep, prinsip matematika dan sebagainya. Siswa menemukan konsep, prinsip, dan hal lainnya dengan mengorganisasi fenomena-fenomena tertentu. Menurut Gravemeijer dan Cobb (dalam Y. Marpaung dan Hongki Julie, 2011) jika seorang pembuat
materi ajar mau memunculkan prinsip penemuan kembali, orang tersebut harus berusaha untuk menemukan situasi-situasi yang dapat membuat siswa merasa membutuhkan untuk menemukan hasil berpikir secara matematis. Situasi-situasi tersebut dapat ditemukan oleh pembuat materi ajar dengan menganalisis hubungan antara hasil berpikir secara matematis dan fenomena-fenomena yang akan diorganisir oleh siswa. Dengan kata lain, seorang pembuat materi ajar harus bisa membuat lintasan belajar yang harus dilalui oleh siswa sedemikian hingga siswa dapat menemukan sendiri hasil berpikir secara matematis. Untuk menemukan hasil berpikir secara sistematis tersebut siswa dibimbing secara progresif. Dikatakan progresif karena terdiri dari dua langkah berurutan yaitu berawal dari masalah kontekstual yang diberikan dan berakhir pada matematika yang formal (matematisasi horizontal) dan kemudian dari matematika formal tersebut ke matematika formal yang lebih luas, lebih tinggi, atau lebih rumit (matematisasi vertikal).
2) Fenomenologi didaktis (didactical phenomenology)
Fenomenologi didaktis mengandung arti bahwa dalam mempelajari konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan materi-materi lain dalam matematika, para siswa perlu bertolak dari masalah (fenomena-fenomena) kontekstual, yaitu
masalah-masalah yang berasal dari dunia nyata atau masalah-masalah yang biasa dibayangkan oleh siswa sebagai masalah-masalah nyata. 3) Mengembangkan model-model sendiri (self-developed models)
Siswa perlu mengembangkan sendiri model-model atau cara menyelesaikan masalah ketika mempelajari konsep-konsep dan materi-materi matematika. Model-model tersebut kemudian digunakan sebagai sarana unruk mengembangkan proses berpikir siswa, dari proses berpikir yang mungkin masih bersifat intuitif ke arah proses berpikir yang lebih formal. Sedangkan menurut van den Heuvel-Panhuizen (dalam Marpaung, 2007) merumuskan sebagai berikut:
1) Prinsip aktivitas
Menggunakan pemahaman bahwa matematika adalah aktivitas manusia, maka siswa bukan merupakan seseorang yang pasif menerima apa yang disampaikan oleh guru, tetapi aktif baik mengolah dan menganalisis informasi, mengkonstruksi pengetahuan matematika.
2) Prinsip realitas
Artinya pembelajaran seharusnya dimulai dengan masalah-masalah yang realistik atau masalah-masalah yang dapat dibayangkan oleh siswa. Masalah realistik biasanya lebih menarik baik siswa karena lebih bermakna. Jika pembelajaran dimulai dengan masalah yang bermakna bagi mereka, siswa akan
tertarik untuk belajar. Selanjutnya siswa dibimbing ke masalah- matematis formal.
3) Prinsip berjenjang
Artinya dalam belajar matematika siswa perlu melewati berbagai jenjang pemahaman, yaitu dari mampu menemukan solusi suatu masalah kontekstual atau realistik secara informal, sampai mampu menemukan solusi suatu masalah matematis secara formal.
4) Prinsip jalinan
Artinya berbagai aspek atau topik dalam matematika jangan dipandang dan dipelajari sebagai bagian-bagian yang terpisah, tetapi saling berhubungan satu sama lain sehingga siswa dapat melihat hubungan antara materi-materi itu secara lebih baik.
5) Prinsip interaksi
Artinya matematika dipandang sebagai aktivitas sosial. Siswa perlu dan harus diberikan kesempatan menyampaikan strateginya menyelesaikan suatu masalah kepada yang lain untuk ditanggapi, dan menyimak apa yang ditemukan orang lain dan strateginya menemukan hal itu serta menanggapinya. 6) Prinsip bimbingan
Artinya guru menciptakan kondisi belajar bagi siswa untuk menemukan kembali (reinvent) pengetahuan matematika dan
mengkonstruki pengetahuan matematika mereka tersebut menjadi suatu pengetahuan matematika yang lebih formal. e. Karakteristik Pendidikan Matematika Realistik
Treffers (dalam Wijaya, 2012: 21-23) merumuskan lima karakteristik pendidikan matematika realistik, yaitu:
1) Penggunaan konteks
Konteks atau permasalahan realistik digunakan sebagai titik awal pembelajaran matematika. Melalui penggunaan konteks, siswa dilibatkan secara aktif untuk melakukan kegiatan eksplorasi permasalahan. Manfaat lain penggunaan konteks di awal pembelajaran adalah untuk meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa dalam belajar matematika.
2) Penggunaan model untuk matematisasi progresif
Dalam suatu proses pembelajaran matematika diperlukan sebuah jembatan untuk bergerak dari suatu masalah konkrit ke abstrak atau dari abstrak ke abstrak lainnya. Jembatan tersebut adalah model. Model itu dapat bermacam-macam, dapat konkret berupa benda, atau semikonkrit berupa gambar atau skema.
3) Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
Dalam PMR siswa ditempatkan sebagai subyek belajar. Hal ini mengacu pada pendapat Freundenthal bahwa matematika tidak diberikan kepada siswa sebagai suatu produk yang siap
pakai tetapi sebagai suatu konsep yang dibangun oleh siswa. Hasil kerja dan konstruksi siswa digunakan untuk landasan pengembanagn konsep matematika. Karakteristik yang ketiga ini tidak hanya bermanfaat dalam membantu siswa memahami konsep matematika, tetapi juga sekaligus mengembangkan aktivitas dan kreativitas siswa.
4) Interaktivitas
Proses belajar siswa akan menjadi lebih singkat dan bermakna ketika siswa saling mengkomunikasikan hasil kerja dan gagasan mereka. Selain mengomunikasikan anta sesama siswa, siswa juga dapat mengomunikasikan dengan sarana seperti memberikan penjelasan dalam menyelesaikan tugas pada LKS. Pemanfaatan interaksi dalam pembelajaran matematika bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan kognitif dan afektif siswa secara simultan.
5) Keterkaitan
Suatu konsep matematika pasti memliki keterkatian dengan konsep-konsep matematika yang lain. Melalui keterkaitan ini, satu pembelajaran matematika diharapkan bisa mengenalkan dan membangun lebih dari satu konsep matematika secara bersamaan (walau ada konsep yang dominan). Bukan hanya keterkaitan antar konsep matematika bahkan mungkin saja antara matematika dengan bidang pengetahuan lain.
f. Langkah-langkah umum pembelajaran PMRI
Suryanto (2010: 50-51) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran matematika secara umum dengan menggunakan pendekatan matematika realistik Indonesia sebagai berikut :
1) Persiapan kelas
a) Persiapan sarana dan prasarana pembelajaran yang diperlukan, misalnya buku siswa, alat peraga, LKS, dan sebagainya.
b) Pengelompokan siswa, jika perlu
c) Penyampaian tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar yang akan dicapai, serta kegiatan belajar yang akan dilaksanakan hari ini.
2) Kegiatan pembelajaran
a) Siswa diberi masalah kontekstual atau soal cerita (lisan atau tertulis) yang mudah dipahami oleh siswa.
b) Siswa yang belum memahami masalah atau soalnya diberi penjelasan singkat dan seperlunya.
c) Siswa secara berkelompok atau individual mengerjakan soal atau memecahkan masalah kontekstual yang diberikan dengan caranya sendiri.
d) Jika dalam waktu yang dipandang cukup, belum ada satupun siswa yang menemukan cara untuk memecahkan masalah, guru memberikan bimbingan atau petunjuk
seperlunya atau memberikan pertanyaan menantang.
e) Setelah waktu habis, beberapa siswa atau wakil kelompok menyampaikan hasil kerjanya.
f) Siswa ditawari untuk mengemukakan pendapatnya tentang cara penyelesaian yang dianggap paling tepat.
g) Guru memberikan penekanan pada cara penyelesaian yang dianggap paling tepat.
3. Bangun Ruang Sisi Datar
a. Pengertian bangun ruang sisi datar
Menurut Sumanto (2008: 58) bangun ruang dapat disebut juga bangun tiga dimensi. Bangun ruang adalah bangun matematika yang memiliki isi atau volume. Bangun ruang memiliki bagian-bagiannya seperti titik sudut, rusuk dan sisi. Bidang sisi atau sisi pada bangun ruang adalah bidang yang membatasi bagian dalam atau bagian luar suatu bangun ruang. Sisi bangun ruang dapat berbentuk bidang datar atau bidang lengkung.
Berdasarkan uaraian diatas maka dapat kita simpulkan bahwa bangun ruang sisi datar merupakan bangun matematika yang memilki isi atau volume dan sisi-sisi atau bidang-bidang yang membatasi berbentuk bidang datar.
b. Unsur-unsur bangun ruang sisi datar
Bangun ruang sisi datar mempunyai tiga unsur utama (Suharjana, 2011) yakni:
1) Sisi
Sisi pada bangun ruang adalah bidang yang membatasi ruang pada bangun tersebut. Dari gambar 2.1 terdapat enam buah sisi yang dimiliki bangun prisma ABCD.EFGH yaitu ABCD, EFGH, ADHE, BCGF, ABFE, dan DCGH.
2) Rusuk
Rusuk adalah ruas garis yang terbentuk dari perpotongan dua buah bidang sisi pada bangun ruang. Dari gambar 2.1 terdapat 12 buah rusuk yang dimiliki bangun prisma ABCD.EFGH yaitu ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ dan ̅̅̅̅ 3) Titik sudut
Titik sudut adalah titik pertemuan antara tiga rusuk atau lebih pada bangun ruang. Dari gambar 2.1 terdapat 8 buah titik sudut yang dimiliki bangun prisma ABCD.EFGH yaitu A, B, C, D,
Gambar 2.1: Prisma ABCD.EFGH
A B C D E F G H
E, F, G, dan H.
Selain tiga unsur tersebut terdapat unsur-unsur lain pada bangun ruang sisi datar antara lain:
1) Diagonal sisi
Diagonal sisi adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik sudut sebidang yang saling berhadapan. Dari gambar 2.1 terdapat 12 buah diagonal sisi yang dimiliki bangun prisma ABCD.EFGH yaitu ̅̅̅̅, ̅̅̅̅, ̅̅̅̅, ̅̅̅̅, ̅̅̅̅ , ̅̅̅̅, ̅̅̅̅, ̅̅̅̅, ̅̅̅̅,
̅̅̅̅, ̅̅̅̅, dan ̅̅̅̅. 2) Diagonal ruang
Diagonal ruang adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik sudut tidak sebidang yang saling berhadapan. Dari gambar 2.1 terdapat 4 diagonal ruang yang dimiliki bangun prisma ABCD.EFGH yaitu ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ ̅̅̅̅̅ dan ̅̅̅̅
3) Bidang diagonal
Bidang diagonal adalah bidang yang dibuat melalui dua buah rusuk yang saling sejajar tetapi tidak terletak pada satu sisi. Dari gambar 2.1 terdapat 4 diagonal ruang yang dimiliki bangun prisma ABCD.EFGH yaitu DBFH, ACGE, ABGH, dan CFED.
c. Macam-macam bangun ruang sisi datar 1) Prisma
Prisma adalah bangun ruang sisi datar yang dibatasi oleh dua bidang yang sejajar ( bidang alas dan bidang atas ) dan oleh bidang lain yang saling berpotongan menurut rusuk-rusuk sejajar (Ismunamto, 2011: 81). Prisma terdiri dari bidang alas, bidang atas, dan bidang tegak. Bidang tegak pada prisma berbentuk persegi panjang.
Ditinjau dari rusuk-rusuk prisma, prisma dibagi menjadi dua yaitu prisma tegak dan prisma miring. Prisma tegak adalah prisma yang rusuk-rusuk tegaknya tegak lurus terhadap bidang alas, sedangkan prisma miring adalah prisma yang rusuk-rusuk tegaknya tidak tegak lurus terhadap bidang alas.
Berdasarkan bentuk bidang alas, prisma dapat disebut sebagai prisma segi-n. Jika bidang alasnya berbentuk segitiga maka disebut prisma segitiga. Jika bidang alasanya berbentuk segiempat maka disebut prisma segiempat dan begitu seterusnya untuk bidang alas berbentuk segi-n.
Rumus Volume Prisma (tegak):
Rumus Luas Permukaan Prisma (tegak):
a) Balok
Balok merupakan bangun prisma tegak yang bidang alas dan bidang atas berbentuk persegi panjang. Menurut Ismunamto (2011: 75) balok adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh enam bidang datar yang berbentuk persegi panjang.
Rumus Volume Balok:
Rumus Luas Permukaan Balok:
( )
Dengan p adalah panjang balok, l adalah lebar balok, dan t adalah tinggi balok.
b) Kubus
Kubus merupakan bangun prisma tegak yang bidang alas dan bidang atas berbentuk bangun datar persegi yang kongruen. Menurut Ismunamto (2011: 68) kubus adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh enam sisi berbentuk persegi yang kongruen.
Rumus Volume Kubus:
Rumus Luas Permukaan Kubus:
2) Limas
Limas adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh sebuah bidang dasar atau bidang alas berbentuk segi-n dan oleh bidang-bidang berbentuk segitiga yang bertemu pada satu titik puncak (Ismunamto, 2011: 90). Limas diberi nama berdasarkan bentuk segi-n pada bidang alasnya. Misalnya alasnya berbentuk segitiga maka limas tersebut disebut limas segitiga dan seterusnya.
Rumus Volume Limas:
Rumus Luas Permukaan Limas:
B. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang dilaksanakan yaitu pengembangan LKS dengan pendekatan PMRI pada materi bangun ruang sisi datar. Penelitian yang relevan dengan penelitian ini sebagai berikut.
Pertama, Munawar (2016) melaksanakan penelitian yang berjudul Pengembangan LKS Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Subtema Indonesiaku, Bangsa yang Cinta Damai Mengacu Kurikulum 2013 Untuk Siswa Kelas V SD. Tujuan penelitian tersebut adalah ingin mengembangkan LKS dan mendeskripsikan LKS menggunakan Model
Pembelajaran Berbasis Masalah pada Sub tema Indonesiaku, Bangsa yang Cinta Damai mengacu Kurikulum 2013 untuk siswa kelas V SD. Dalam penelitian tersebut memiliki 10 langkah pengembangan, namun dalam penelitian ini, peneliti membatasi pada lima langkah pengembangan, karena keterbatasan waktu yang dibutuhkan dalam penelitian dan lembar kerja siswa ini disusun sebagai pegangan guru. Kelima langkah prosedur pengembangan antara lain, (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain. Penelitian ini menghasilkan produk berupa LKS dengan kualitas baik dengan skor rata-rata 4,14.
Kedua, Wijaya (2017) melakukan penelitian dengan judul Pengembangan Buku Guru dan Buku Siswa Mata Pelajaran Matematika