BAB II. GAMBARAN UMUM PELAKSANAAN RETRET
B. Pengertian Shared Christian Praxis
3. Langkah-langkah dalam Shared Christian Praxis
Dalam uraian di atas telah diungkapkan bahwa model Shared Christian Praxis merupakan salah satu model pelaksanaan katekese yang prosesnya menekankan penggalian pengalaman nyata dalam hidup peserta sendiri. Pengalaman itu berasal dari peserta dan dibagikan kepada semua peserta yang hadir dalam katekese. Pembagian pengalaman ini merupakan komunikasi iman karena masing-masing dari umat beriman membagikan pengalaman imannya akan Yesus Kristus yang dapat saling memperkokoh pada panggilannya sebagai umat kristen. Thomas H. Groome (1997: 5-7) menyatakan lima langkah dalam Shared Christian Praxis saling berurutan meskipun dalam pelaksanaan langkah dapat tergabungkan dengan langkah lain. Langkah-langkah tersebut antara lain:
a. Langkah pertama: mengungkap pengalaman hidup peserta
Kekhasan langkah ini adalah mengajak para peserta untuk mengungkapkan pengalaman hidup faktual yang sesuai dengan tema dasar. Pengalaman hidup faktual berupa pengalaman peserta sendiri. Keprihatinan yang diperjuangkan, kehidupan dan permasalahan yang terjadi di masyarakat atau di dalam Gereja. Peserta membagikan pengalaman dapat berupa puisi, tarian, drama, nyanyian, ekspresi, lukisan sehingga mempermudah peserta untuk menghayatinya (Groome, 1997: 10-11).
Langkah ini bertujuan untuk membantu dan menolong peserta supaya menyadari pengalaman mereka sendiri dan dapat membagikannya kepada peserta yang lain. Hasil sharing yang sungguh dialami oleh peserta akan memperkaya satu sama lain sehingga dapat saling meneguhkan (Groome, 1997: 11). Berdasarkan tema dasar, langkah ini membantu peserta untuk mengungkapkan pengalaman hidup faktual (Sumarno Ds, 2006: 19).
Peran pendamping sebagai fasilitator yang mempermudah jalannya katekese, menciptakan suasana di dalam pertemuan menjadi hangat dan akrab sehingga peserta dengan mudah dapat membagikan pengalamannya sesuai dengan tema. Untuk memperlancar proses dalam katekese ini, pendamping perlu merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang jelas, terarah dan tidak menyinggung harga diri seseorang dan sesuai dengan latar belakang peserta (Sumarno Ds, 2006: 19). Pertanyaan pada langkah pertama ini bersifat obyektif, artinya mempertanyakan apa yang terjadi, dan apa yang dilakukan. Pendamping perlu memperhatikan pedoman bagaimana membuat pertanyaan.
Peserta berperan untuk mengungkapkan sharing antara satu sama lain atau membagikan pengalaman hidup yang sungguh-sungguh terjadi dan ungkapan pengalaman tersebut tidak boleh ditanggapi sebagai suatu laporan pengalaman imannya (Sumarno Ds, 2006: 19). Contoh pertanyaan dengan tema ‘Kerendahan Hati sebagai Calon Katekis’ yang bisa digunakan misalnya: “ceritakanlah pengalaman kerendahan hati anda saat dianggap tidak mampu/lemah/tidak berharga oleh orang lain?”
b. Langkah kedua: mendalami pengalaman hidup peserta
Kekhasan dari langkah kedua ini yaitu refleksi yang meliputi ingatan kritis yaitu menunjuk pada masa lampau, akal budi kritis yaitu menunjuk pada masa sekarang dan imajinasi kritis yang menunjuk pada masa yang akan datang (Sumarno Ds, 2006: 20). Langkah kedua ini mengajak peserta untuk menyadari dan menempatkan praxis keterlibatan mereka dalam konteks sosial dan konteks historisnya (Groome, 1997: 14).
Dalam langkah kedua ini, diharapkan peserta dapat terdorong untuk merefleksikan secara kritis makna pengalaman hidup yang telah dikomunikasikan pada langkah pertama. Pada langkah ini tidak melupakan segi pemahaman, kenangan, imajinasi, yang bisa membantu memperdalam saat refleksi (Groome, 1997: 5).
Tujuan langkah kedua ini adalah memperdalam pengalaman yang diungkapkan oleh peserta dan mengantar peserta pada kesadaran kritis akan pengalaman hidup dan tindakan mereka yang meliputi alasan, minat, asumsi dan ideologinya (Groome, 1997: 43).
Pendamping diharapkan dapat menciptakan suasana yang saling menghormati, akrab dan menghargai setiap gagasan serta sumbang saran peserta agar peserta dapat sampai pada refleksi kritis atas pengalamannya. Selain itu pendamping diharapkan mampu mendorong peserta supaya mengadakan dialog dan penegasan bersama guna memperdalam pemahaman dan imajinasi peserta (Groome, 1997: 18).
Peran peserta dalam langkah ini yakni mencoba secara kritis mendalami serta memaknai pengalaman hidupnya. Dengan maksud meningkatkan kesadaran
kritis peserta pada hidup dan kondisi sosialnya, menguji dan menilai secara bersama praksis faktual agar peserta sampai pada visi dan sikap yang betul-betul disadari (Groome, 1997: 15). Contoh pertanyaan dengan tema ‘Kerendahan Hati sebagai Calon Katekis’ yang bisa digunakan misalnya: “cara-cara mana yang telah teman-teman gunakan untuk mengatasi rasa direndahkan oleh orang lain?”
c. Langkah ketiga: menggali pengalaman iman kristiani
Kekhasan dalam langkah ketiga ini yaitu mengajak peserta untuk mendialogkan “tradisi” dan “visi” hidup mereka dengan Tradisi Gereja sepanjang sejarah dan Visinya (Groome, 1997: 19). Pokok dari langkah ini adalah mengusahakan supaya Tradisi dan Visi kristiani menjadi lebih terjangkau, lebih dekat dan relevan bagi peserta pada zaman ini (Groome, 1997: 6). Dalam langkah ketiga ini tafsir Kitab Suci atau ajaran Gereja sungguh-sungguh diolah.
Tujuan utama dari langkah ini adalah tidak lain supaya perbendaharaan iman kristiani dapat terjangkau dan supaya peserta terdorong secara kritis dan kreatif mempribadikan makna dan kebenarannya (Groome, 1997: 19). Mengkomunikasikan nilai-nilai Tradisi dan Visi kristiani agar lebih terjangkau dan lebih mengena untuk kehidupan peserta yang konteks dan latar belakang kebudayaannya berlainan dengan kata lain tujuan langkah kedua ini ialah mengkomunikasikan pesan inti Kitab Suci sehubungan dengan tema (Sumarno Ds, 2006: 20).
Peranan pendamping dalam langkah ini yaitu mampu mengkomunikasikan nilai-nilai tradisi dan visi kristiani secara sederhana supaya lebih mengena pada
hidup peserta secara konkret dalam usaha mewujudkan nilai-nilai tradisi dan visi kristiani yang relevan dan konkret untuk hidupnya (Groome, 1997: 19).
Peserta diharapkan mampu menghubungkan antara isi Tradisi Kristiani dengan pengalaman hidupnya sesuai dengan perkembangan jaman sekarang, sehingga peserta semakin merasa diteguhkan dengan pengalaman-pengalaman hidupnya yang penuh makna. Contoh pertanyaan dengan tema ‘Kerendahan Hati sebagai Calon Katekis’ dengan Injil Markus 7:24-30 yang bisa digunakan misalnya: “ayat-ayat mana yang menunjukkan kerendahan hati? Sikap-sikap kerendahan hati mana yang ingin disampaikan dalam Injil kepada kita sebagai murid Kristus?”
d. Langkah keempat: menerapkan iman kristiani dalam situasi peserta konkret Kekhasan dalam langkah ini adalah peserta diajak untuk mendialogkan hasil pengolahan mereka pada langkah pertama, kedua dan ketiga. Dasar dialog mereka adalah mempertanyakan bagaimana nilai-nilai tradisi dan visi kristiani dapat meneguhkan, mengkritik atau mengundang kesadaran peserta untuk melangkah pada kehidupan yang baru demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia (Groome, 1997: 7).
Tujuan pada langkah ini adalah untuk memampukan peserta dalam menghayati dan mensosialisasikan Visi dan Tradisi kristiani menjadi miliknya sendiri. Dengan demikian peserta sampai pada suatu perkembangan hidup yang lebih dewasa (Groome, 1997: 30).
Peran pendamping dalam langkah keempat ini ialah berusaha menghargai hasil penegasan peserta serta meyakinkan bahwa mereka mampu mempertemukan
nilai pengalaman hidupnya dengan Visi dan Tradisi kristiani (Groome, 1997: 30). Selain itu, pendamping juga mampu mengajak peserta untuk mengekspresikan segala perasaan, pemikiran dan imajinasi sehingga peserta dapat menghayati dan menanggapi nilai-nilai Tradisi dan Visi kristiani.
Peran peserta di langkah ini adalah secara aktif dan kreatif mempribadikan nilai-nilai Kristiani dengan cara memperteguh nilai-nilai kekristenan mereka. Secara dialektis peserta mendialogkan praksis mereka yang faktual dengan nilai-nilai kristiani (Groome, 1997: 30). Pertanyaan bantuan yang diberikan pada langkah ini bersifat aktif, artinya mendorong peserta supaya secara kritis dan kreatif menemukan bagi dirinya sendiri nilai-nilai, kesadaran baru dari iman dan perjuangan hidup yang hendak diwujudkan serta ditingkatkan (Groome, 1997: 49). Contoh pertanyaan dengan tema ‘Kerendahan Hati sebagai Calon Katekis’ yang bisa digunakan misalnya: “sikap-sikap mana yang bisa kita perjuangkan agar dapat semakin menghayati kerendahan hati sebagai mahasiswa calon katekis di IPPAK-USD?”
e. Langkah kelima: mengusahakan suatu aksi konkret
Kekhasan dalam langkah kelima ini ialah menciptakan atau mengusahakan suatu dialog dan dinamika secara ekplisit mengundang peserta untuk sampai pada keputusan baik secara pribadi maupun kolektif sebagai puncak dari hasil nyata model SCP ini. Keterlibatan baru demi makin terwujudnya Kerajaan Allah mendorong peserta untuk sampai pada keputusan praksis yang dipahami sebagai tanggapan peserta terhadap pewahyuan Allah. Keputusan praktis berarti peserta
diharapkan sampai pada suatu niat yang akan diwujudkan secara pribadi maupun bersama ke dalam suatu tindakan nyata dan mudah dijangkau (Groome, 1997: 34). Tujuan langkah ini membantu peserta dalam mengambil keputusan yang secara moral, konseptual, sosial dan politik sesuai dengan nilai iman kristiani sehingga peserta dapat mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah ke dalam tindakan nyata setiap hari dengan jalan melakukan pertobatan secara terus menerus. Pokok yang perlu ditekankan ialah keputusan yang menyangkut keberadaan peserta sebagai subyek (yang merangkum aspek kognitif, afektif dan bersifat praktis) (Groome, 1997: 34).
Peran pendamping dalam langkah kelima ini mengusahakan suasana yang partisipatif dan dialogis yang mendukung setiap peserta sehingga secara antusias bersedia saling menerima sumbangan dan menunjukkan sikap yang penuh empati, bersedia mendengarkan dan mendukung setiap keputusan yang muncul (Groome, 1997: 37). Di sini pendamping juga perlu mendorong peserta agar sampai pada keputusan yang praktis, realistis dan tidak muluk-muluk (Groome, 1997: 50).
Peran peserta dalam langkah ini mengambil keputusan konkret dan bertanggung jawab yang mengarah ke masa depan dan hidup imannya menjadi lebih baik. Dalam langkah ini diharapkan dapat mendukung peserta untuk keterlibatan baru dengan mengusahakan pertobatan masing-masing pribadi sehingga peserta menemukan aksi konkret atau niat-niat yang akan dilaksanakan. Contoh pertanyaan dengan tema ‘Kerendahan Hati sebagai Calon Katekis’ yang bisa digunakan misalnya: “niat-niat apa yang hendak kita lakukan untuk semakin menjadi calon katekis yang rendah hati di IPPAK-USD?”
C. Retret Membantu Umat dalam Hidup Menggereja
Kegiatan umat untuk menggereja tergantung pada pemahaman atau penghayatan mereka tentang Gereja. Umat akan terlibat aktif dalam hidup menggereja jika ia mencintai dan memahami Gereja itu sendiri. Pada bagian ini penulis akan menguraikan tentang arti dan makna Gereja, pengertian hidup menggereja, tujuan hidup menggereja dan keterlibatan umat dalam hidup menggereja.