• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. GAMBARAN UMUM PELAKSANAAN RETRET

A. Gambaran Umum tentang Retret

3. Model-model Retret

Ada banyak model yang dapat dipakai oleh pembimbing retret agar retret dapat bermakna bagi para peserta. Dari masing-masing model retret, yang sering dipergunakan oleh pembimbing retret ialah model retret Ignatian dan model retret Fransiskan.

a. Retret menurut model Ignatian

Ignatius dari Loyola merupakan salah seorang Putera Gereja yang digunakan Tuhan untuk mengadakan pembaharuan hidup. Dia dikenal sebagai pendiri tarekat religius, pendidik iman bagi semua orang (Darminta, 1993: 5). Ignatius menyusun buku Latihan Rohani kurang lebih selama 20 tahun. Mulai tahun 1521 sampai tahun 1541, dia membuat catatan-catatan tentang pengalaman batin dan rohaninya karena dia beranggapan bahwa itu akan berguna untuk membantu orang lain. Buku Latihan Rohani itu masih dibahas dan dikupas serta disempurnakan sampai akhirnya disetujui oleh Bapa Suci pada tahun 1548. Buku

Latihan Rohani bukan atas dasar suatu konsep, tetapi berdasarkan suatu pengalaman rohani maupun berdasarkan pengalaman memberi retret. Jadi latihan rohani Ignatius merupakan suatu bantuan untuk melatih diri dalam hidup rohani dan melatih daya-daya rohani manusia untuk menghayatinya (Darminta, tt: 35).

Latihan rohani adalah retret yang bertujuan mempersiapkan dan mengajak peserta untuk mencari dan menemukan kehendak Tuhan dalam hidup peserta. Latihan rohani menurut St. Ignatius dimulai dari kebenaran-kebenaran abadi yaitu penciptaan, dosa dan penyelamatan. Melalui pokok-pokok tersebut peserta retret diajak untuk berkonfrontasi dengan hidup peserta masing-masing. Latihan rohani juga dapat dikatakan sebagai sekolah pendidikan cinta yang paling mendalam artinya persiapan untuk masuk ke dalam kebenaran dan kerendahan hati agar semakin mampu dekat dengan pribadi Kristus dan ikut serta dalam karya pengabdian-Nya (Darminta, 1993: 8-9).

Retret dengan model Ignatian memberikan sumbangan yang berarti bagi orang Kristiani untuk semakin mengenal pengalaman rohaninya sendiri secara lebih mendalam (Tetlow, 1998: 1). Latihan rohani menurut Ignatius digambarkan sebagai perjalanan rohani (LR 1). Latihan rohani dengan model Ignatian adalah retret yang bertujuan mempersiapkan dan mengajak peserta untuk mencari dan menemukan kehendak Tuhan dalam hidupnya. Dengan kata lain Latihan Rohani menolong peserta untuk mengikuti Kristus lebih dekat (Darminta, 1993: 8). Latihan rohani dimulai dengan kebenaran-kebenaran abadi, yaitu penciptaan, dosa dan penyelamatan. Melalui pokok-pokok tersebut peserta retret diajak untuk berkonfrontasi dengan hidupnya sendiri. Kemudian ada waktu untuk memperdalam pengertian batin tentang Kristus agar semakin baik dalam mengikuti dan mengabdi-Nya. Untuk itu para peserta retret diajak mengontemplasikan misteri-misteri hidup Kristus, penderitaan dan kebangkitan-Nya. Puncak kontemplasi ini adalah mendapatkan cinta Ilahi (Darminta, 1993: 8).

Dipandang dari segi pengalaman pembentukan hidup rohani, latihan rohani dengan model Ignatian mengandung lima unsur yang perlu diperhatikan, agar latihan-latihan tersebut dapat mencapai tujuannya, yaitu: operasionalitas, ritme, isi, pribadi-pribadi, iklim atau suasana lingkungan dan struktur latihan rohani.

1). Operasionalitas

Latihan rohani merupakan pedagogi rohani yang tertuju pada manusia seutuhnya dalam perspektif pembentukan manusia sejati artinya manusia dalam kesatuan dengan Allah dan sesama dalam Kristus dengan daya kekuatan Roh Kudus. Malalui latihan rohani dengan model Ignatian ini, peserta diajak untuk mampu mengabdi sesama lewat kegiatan-kegiatan hidup, untuk mengungkapkan dan mewujudkan imannya dalam hidup sehari-hari (Darminta, 1993: 10).

2). Ritme

Operasionalitas pedagogi rohani lewat latihan dan pengalaman untuk membentuk manusia rohani perlu terlaksana dalam suatu ritme tertentu. Ritme yang ditawarkan oleh latihan rohani Ignatian terarah pada pribadi manusia dalam keseluruhan hidup. Maka yang menjadi titik pusat perhatian dalam latihan rohani adalah situasi pribadi-batin seseorang. Latihan rohani merupakan suatu perjalanan, maka perlu adanya langkah-langkah atau tahap-tahap yang dilakukan (Darminta, 1993: 12).

3). Pribadi-pribadi atau pelaku-pelaku

Dalam pola bimbingan latihan rohani selalu ada pembimbing atau pemberi latihan dan ada yang dibimbing atau yang melakukan latihan. Dalam proses tersebut terjadilah relasi yang aktif dan dinamis antara pemberi retret dan pelaksana retret. Relasi tersebut dapat digambarkan sebagai perjumpaan dan hubungan yang merupakan suatu bantuan atau sarana, agar peserta semakin mendalam membangun perjumpaan dan relasi dengan diri sendiri dan Tuhan. Hubungan antara dua pelaku tersebut bersifat dialogis dengan tujuan untuk menemukan kehendak Allah dan mencintainya serta melaksanakannya.

Adapun yang menjadi pusat dalam latihan rohani ini ialah peserta itu sendiri, sedangkan pembimbing hanyalah merupakan pembantu atau pemandu perjalanan rohani selama retret. Oleh karena itu, yang harus menyesuaikan ialah pembimbing retret. Di sini pembimbing harus peka dan mampu menempatkan diri secara tepat (Darminta, 1993: 13).

4). Isi

Dalam pedagogi latihan rohani, isi mencakup beberapa hal seperti tema, materi, gagasan-gagasan yang akan disampaikan dan dikomunikasikan. Isi juga berarti metode-metode latihan yang dipakai untuk menolong pembatinan lewat latihan rohani. Jadi dengan isi dalam pedagogi latihan rohani ialah semua saja yang diharapkan dapat membantu untuk membentuk diri secara rohani (Darminta, 1993: 14).

5). Suasana dan lingkungan

Suasana dan lingkungan dalam latihan rohani sangat penting untuk diperhatikan. Suasana dan lingkungan retret memberikan kemungkinan suasana kesungguhan yang menuju kepada kedalaman hidup namun penuh “kesantaian”, agar orang dapat menikmati perjalanan rohani. Begitu pula perlu diperhatikan suasana yang mendukung batin manusia, agar mampu menciptakan suasana dalam dirinya sendiri agar mau dan mampu membentuk diri secara optimal dengan kerja sama penuh tanggung jawab dengan Allah (Darminta, 1993:16-17).

6). Struktur latihan rohani

Latihan rohani Ignatian dibagi menjadi empat bagian, yang disebut empat minggu. Struktur dinamis latihan rohani Ignatian antara lain:

a). Pendahuluan: asas dan dasar (LR 23)

Asas dan dasar merupakan latihan pendahuluan untuk memperoleh kesadaran tentang hidup di hadapan dan bersama Allah. Latihan yang dipakai ialah mengadakan suatu pertimbangan dengan merasakan dinamika penciptaan Allah. Dari situ orang diajak untuk melihat bahwa semua ciptaan lain merupakan sarana yang dapat dipakai membantu manusia untuk mencapai tujuan hidup menurut rencana Allah. Oleh karena itu setiap manusia harus lepas bebas terhadap semua sarana hidup maksudnya ialah bahwa kehendak bebas manusia tidak lebih condong ke sarana atau keadaan tertentu saja. peserta diajak untuk melihat bahwa manusia berasal dan datang dari Allah, menuju serta kembali kepada kehendak Allah yang menciptaan dan menebus (Darminta, 1993: 18).

b). Minggu I: dosa dan kerahiman Allah (LR 45-72)

Minggu pertama berisikan mengenai latihan doa atas dosa dan akibat-akibatnya bagi hidup manusia dan seluruh alam ciptaan. Renungan mengenai dosa tidak hanya membawa orang ke dalam kesadaran atas kejahatan dan kebusukan dosa dengan segala akibatnya, melainkan membawa orang ke dalam kesadaran yang semakin mendalam atas cinta kasih Allah dalam hidup manusia. Semakin orang menyadari dosa-dosa mereka, semakin orang menyadari besarnya kasih Tuhan atas hidup manusia (Darminta, 1993: 19).

Pada tahap Minggu I ini peserta dilatih untuk mengalami penebusan dan pembebasan dari Tuhan, sebagai tindak lanjut penciptaan Allah. Minggu pertama ini bertujuan untuk merenungkan dosa di hadapan Yesus. Peserta dilatih untuk masuk ke dalam realitas dosa yang ada pada diri mereka dengan cara melibatkan diri secara afektif lewat percakapan-percakapan yang diadakan pada akhir setiap renungan. Bila latihan rohani ini dijalankan dengan baik, maka akan terjadi gerakan-gerakan batin yang merupakan petunjuk arah batin manusia (Darminta, 1993: 19-20).

c). Minggu II: mengikuti Yesus (LR 90-189)

Minggu I tidak hanya mengajak peserta untuk semakin beriman kepada belas kasih Allah, tetapi mengajak peserta untuk terlibat secara mendalam kepada karya Allah bersama Yesus, dengan demikian peserta siap untuk menjalani latihan-latihan rohani dari Minggu II (Darminta, 1993: 20).

Pada tahap Minggu kedua ini peserta diajak untuk mengkontemplasikan sejarah hidup publik Yesus sebagai manusia. Namun kontemplasi hidup dan

pribadi Yesus bertitik tolak pada visi mengenai Yesus. Dalam terang visi itulah kontemplasi-kontemplasi tentang misteri hidup Yesus diarahkan. Jalan yang ditempuh untuk memperjuangkan Kerajaan Allah ialah dengan jalan kemiskinan, kerendahan, derita dan salib serta penghinaan (LR 146) melawan jalan kerajaan setan (LR 142). Dinamika selama perjalanan Minggu II ini ialah permohonan rahmat agar semakin mengenal dan terbuka kepada Yesus Kristus, sehingga peserta semakin mencintai dan mengikuti-Nya (Darminta, 1993: 20).

d). Minggu III: kesengsaraan Yesus (LR 190-217)

Latihan rohani untuk mengenal Yesus yang hidup melaksanakan nilai-nilai Kerajaan Allah pada Minggu II, dilanjutkan pada Minggu III dengan kontemplasi tentang kesengsaraan Yesus. Dalam latihan rohani ini peserta yang mengikuti retret dibawa masuk ke misteri terdalam pergulatan Allah dalam kemanusian untuk menegakkan hidup berdasarkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Dari situ orang diajak untuk merasakan hakikat iman yang benar ialah berani menyerahkan kepada kuasa Allah untuk mengubah hidup manusia. Dengan demikian orang diharapkan dapat semakin berani menyerahkan diri dan masuk ke dalam jalan pilihan Tuhan, sebagai tindak lanjut keputusan yang sudah diambil dalam Minggu II. Minggu III dapat dikatakan sebagai saat peneguhan atau konfirmasi terhadap pilihan sebelumnya. Pengalaman peneguhan ini tidak bersadarkan atas derita dan salib yang merupakan konsekuensi atas pilihan, tetapi terlebih karena merasakan bahwa Tuhan menderita karena dosa-dosa orang yang mengikuti retret dan demi keselamatan orang yang retret (Darminta, 1993: 22-23).

Dinamika perjalanan selama Minggu III ialah ditandai dengan permohonan rahmat kesusahan bersama Yesus yang menderita, kahancuran hati bersama Yesus yang hancur hati, air mata, kesedihan mendalam atas sengsara yang diderita Kristus untuk manusia. Bila peserta dapat masuk dalam rasa dan perasaan Yesus dalam derita-Nya, maka peserta juga akan siap untuk masuk ke dalam misteri kemuliaan dan kegembiraan Yesus pada tahap Minggu IV (Darminta, 1993: 23).

e). Minggu IV: kemuliaan Yesus (LR 218-228)

Dalam Minggu IV ini peserta diajak untuk mengkontemplasikan Yesus yang bangkit dan mulia karena kuasa Allah. Peserta dibawa masuk ke dalam iman yang mengalahkan dunia, dosa dan maut. Iman dihayati dan dimengerti sebagai yang menyuburkan cinta dan menguatkan harapan, karena kuasa Allah yang bekerja di dalam hidup manusia melalui Yesus karena kuasa Roh Kudus yaitu cinta kasih (Darminta, 1993: 23-24). Kontemplasi tentang penampakan Yesus Kristus, mulai dengan penampakan Tuhan kepada Bunda Maria sampai Dia diangkat ke surga, merupakan pendalaman untuk mempertajam pengalaman bagaimana Tuhan sungguh menjadi sahabat, penguat dan penghibur, pemimpin yang penuh kasih. Hal itulah yang menjadi landasan kegembiraan hidup bersama Yesus yang mulia dan gembira. Oleh karena itu, permohonan rahmat pada Minggu IV ini ialah merasakan sedalam-dalamnya sukacita dan kegembiraan karena Kristus Tuhan kita begitu mulia dan gembira (Darminta, 1993: 24).

f). Latihan akhir menuju ke hidup sehari-hari: kontemplasi untuk mendapatkan cinta (LR 230-237)

Latihan rohani merupakan perjalanan rohani yakni proses pergulatan manusia untuk membiarkan Allah bertindak dalam hidup secara konkret dan real. Tujuan dalam latihan rohani ini bukan hanya dimaksud sebagai arah yang dituju pada suatu akhir perjalanan, melainkan suatu usaha dalam menciptakan kondisi hidup, yang membuat peserta mengambil keputusan dalam kesatuan dengan Tuhan (Darminta, 1993: 25).

Secara dinamis dalam latihan rohani peserta dibawa untuk bersatu dengan Allah menuju jalan Kristus dengan cara masuk ke dalam jalan pemurnian (pembebasan dari pihak Allah dan manusia), penerangan (pengarahan dan bimbingan dari pihak Allah dan pemahaman menuju ke ketaatan dan penyerahan diri dari pihak manusia), penyatuan (hidup menurut hukum kasih Allah). Dengan demikian peserta retret diharapkan mencapai kesadaran dalam Roh dan visi tentang dirinya, sesama, dunia, peristiwa, Gereja dan Allah, sebagaimana diungkapkan sebagai berikut: “segala sesuatu turun dari atas bagaikan sinar-cahaya turun dari matahari, dan bagaikan air mengalir dari sumber-sumbernya” (LR 237). Ungkapan tersebut peserta retret diajak untuk menyadari merasakan dalam iman bahwa segala sesuatu yang ada baik di dalam alam semesta maupun dalam dirinya merupakan pancaran kasih yang mengalir dari Allah. Oleh karena itu latihan rohani diakhiri dengan latihan kontemplasi untuk mendapatkan cinta agar orang dalam hidup sehari-hari menghayati hidup mereka dan diharapkan peserta mampu menemukan Allah dalam segala hal (Darminta 1993: 25).

b. Retret menurut model Fransiskan

Retret dengan model Fransiskan bertujuan untuk bertemu dengan diri peserta sendiri sebagai makhluk ciptaan Allah, sebagai orang kristen dan peminat Santo Fransiskus Asisi, supaya dalam pertemuan tersebut para peserta retret dihantar masuk ke dalam suasana ilahi, rahasia Allah. Seseorang dihantar masuk oleh Roh Kudus sendiri karena Dialah yang sesungguhnya pembimbing retret (Dister, 2000: 23).

1). Spiritualitas Fransiskus

Kisah-kisah kehidupan Fransiskus tidak hanya suatu tindakan terencana yang berhasil, namun lebih menggambarkan janji setia yang tulus kepada Allah. Kekhasan dari spiritualitas Fransiskus antara lain: kemiskinan yang radikal, semangat kekeluargaan dengan semua orang, kesatuan dengan alam, merangkul mereka yang memusuhi, menerima penderitaan, pencipta damai, kegembiraan dan persaudaraan (Stoutzenberger & Bohrer, 2000: 24).

a). Kemiskinan yang radikal

Fransiskus terkadang memandang rendah uang, karena menurutnya uang dapat memisahkan orang satu dengan yang lain. Fransiskus mengakui uang dapat memikat orang untuk menjauhi sesama, binatang dan makhluk-makhluk lain sebagai ciptaan Allah (Stoutzenberger & Bohrer, 2000: 25).

b). Kesatuan dengan alam

Fransiskus meyakini bahwa semua makhluk ciptaan Allah harus dihargai, dilindungi dan dipelihara. Fransiskus sungguh menghargai seluruh ciptaan Allah. Dalam Nyanyian Saudara Matahari, salah satu karya Fransiskus, ia menunjuk segenap ciptaan sebagai saudara-saudara dan saudari-saudari (Stoutzenberger & Bohrer, 2000: 27).

c). Merangkul mereka yang memusuhi

Yesus memerintahkan pengikut-Nya untuk mencintai orang-orang yang memusuhi mereka. Spiritualitas Fransiskus menunjukkan keinginannya untuk mencintai musuh-musuhnya dalam sikap dan perlakuannya terhadap orang-orang muslim. Dalam pandangan waktu itu, orang-orang muslim adalah orang jahat yang mencemari Tanah Suci dan mereka adalah musuh Kristus. Fransiskus bersikap lain, baginya mereka adalah saudara-saudari yang diberikan oleh pencipta yang sama. Fransiskus memerintahkan beberapa saudaranya untuk hidup di tanah muslim, bukan untuk memerangi mereka atau untuk mempertobatkan mereka, namun untuk menghidupkan kebajikan-kebajikan kristiani dan dengan cara itu suatu pengaruh yang positif dalam masyarakat muslim dapat terjadi (Stoutzenberger & Bohrer, 2000: 28).

d). Menerima penderitaan

Fransiskus merasakan bahwa penderitaan pribadi menjadi sarana yang membuat ia dapat masuk ke dalam penderitaan sesama, terutama penderitaan

Yesus. Fransiskus selalu menerima penderitan sebagai suatu anugrah yang terjadi dalam hidupnya (Stoutzenberger & Bohrer, 2000: 28).

e). Pencipta damai

Fransiskus mempunyai perhatian yang besar pada Perang Salib, perang yang terjadi antara orang kristen dan islam waktu itu. Pada waktu Perang Salib yang kelima, ia mengunjungi medan pertempuran dan menyaksikan terjadinya penjarahan dan percabulan oleh serdadu kristen yang bertujuan jahat. Fransiskus dan pengikutnya mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya pemilik bumi dan segala isinya. Mereka percaya bahwa berbagi harta milik khususnya dengan orang miskin dan yang membutuhkan merupakan syarat yang perlu untuk menciptakan hidup damai (Stoutzenberger & Bohrer, 2000: 31).

f). Kegembiran dan kedamaian

Kegembiraan Fransiskus adalah kegembiraan Sabda Bahagia. Kegembiraan Fransiskus ialah saat dekat dengan orang-orang yang menderita namun penuh sukacita (Stoutzenberger & Bohrer, 2000: 31).

2). Metode latihan rohani

Dalam retret menurut model Fransiskan ada beberapa macam metode yang dapat dipergunakan guna memperlancar jalannya latihan rohani, metode-metode tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

a). Mengulang doa pendek atau mantra

Salah satu cara untuk memusatkan doa adalah dengan menggunakan mantra atau kata doa. Mantra biasanya berupa sebuah ungkapan pendek yang diambil dari kutipan Kitab Suci. Sebagai contoh sebuah mantra untuk meditasi tentang keteguhan hati “Aku pergi mendahului engkau”, kalimat tersebut hendaknya diulang perlahan-lahan. Mantra itu membantu menempatkan hati dan pikiran peserta retret dalam satu tindakan (Stoutzenberger & Bohrer, 2000: 6).

b). Lectio divina

Lectio divina merupakan kesempatan bertemu dengan Allah dalam peristiwa hidup sekarang ini juga. Model meditasi ini adalah mempelajari hal-hal yang ilahi, sebuah refleksi yang dipusatkan kepada sabda Allah. Dalam lectio divina peserta akan sangat sering diajak untuk membaca suatu kutipan, kemudian memusatkan perhatian pada satu atau dua kalimat, merenungkan makna dan pengaruhnya bagi diri peserta (Stoutzenberger & Bohrer, 2000: 6-7).

c). Meditasi terpimpin

Dalam model meditasi ini, imajinasi peserta membantu mempertimbangkan tindakan yang dipilih dan kemungkinan akibatnya. Imajinasi membantu peserta mengalami cara baru dalam melihat Allah, sesama, diri sendiri dan alam semesta. Salah satu cara melakukan meditasi terpimpin adalah membaca adegan atau kisah beberapa kali sampai peserta tahu garis besarnya, dan dapat mengingatnya ketika masuk ke dalam refleksi. Atau sebelum masuk dalam waktu doa, peserta dapat merekam bahan meditasi dalam tape recorder. Jika demikian

sediakan waktu untuk berefleksi antar bagian dan untuk berbicara dengan berlahan-lahan dengan nada dan langkah yang tenang. Dalam doa, ketika peserta telah menyelesaikan bacaan dan penjelasan refleksi, peserta dapat membunyikan rekaman meditasi dan biarkan diri dipimpin olehnya (Stoutzenberger & Bohrer, 2000: 7).

d). Pemeriksaan kesadaran

Melalui refleksi peserta diminta untuk memeriksa bagaimana Allah telah berbicara kepada peserta dalam pengalaman masa lalu dan masa kini. Dengan kata lain, refleksi akan meminta peserta untuk memeriksa kesadaran akan kehadiran Allah dalam hidup peserta (Stoutzenberger & Bohrer, 2000: 8).

e). Catatan harian

Menulis adalah sebuah proses penemuan. Jika beberapa waktu peserta menulis dengan jujur apa yang ada dalam pikiran dan hati peserta, maka peserta akan menggali banyak hal tentang siapa diri peserta sendiri, bagaimana peserta berada bersama Allah, apa kerinduan mendalam yang ada di lubuk terdalam hati peserta. Dengan beberapa refleksi peserta diminta untuk menulis perbincangan dengan Yesus, dengan demikian peserta dapat berelasi dengan Yesus sendiri (Stoutzenberger & Bohrer, 2000: 9).

f). Doa dalam tindakan

Bentuk doa dalam tindakan dapat dilakukan dengan tindakan yang nyata seperti menyanyikan madah kegemaran peserta, ke luar berjalan-jalan ke alam

terbuka atau menjalankan beberapa aktivitas fisik lain (Stoutzenberger & Bohrer, 2000: 9).