Pengembangan sumber energi selain minyak fosil. Pemerintah periode 2014-2019 harus mengurangi ke-tergantungan terhadap minyak bumi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemanfaatan biodiesel sebagai sumber energi baru dan terbarukan untuk mendukung (a) peningkatan kebutuhan energi nasional akibat pertumbuhan jumlah penduduk dan perekonomian nasional, (b) penipisan cadangan minyak, (c) ketidakstabilan harga bahan bakar minyak domestik dan dunia, (c) degradasi daya dukung lingkungan, (d) defisit neraca transaksi berjalan akibat peningkatan impor BBM. Biodiesel me-rupakan bahan bakar masa depan, ramah lingkungan, dan dapat diperbarui sehingga menjadi salah satu pilihan utama sumber bahan bakar alternatif pengganti atau campuran (blending) dalam porsi minyak solar untuk menekan konsumsi solar. Selain itu, proses produksi biodiesel menggunakan teknologi yang relatif sederhana sehingga investasi mudah dan terjangkau. Disamping itu, sumber energi lain yang perlu dikembangkan adalah Liquified Natural Gas (LNG), geotermal (panas bumi), tenaga surya, tenaga angin, dan tenaga uap. Oleh karenanya, pemerintah perlu mendorong pengembangan investasi kegiatan eks-plorasi melalui penerbitan instruksi presiden (Inpres).
Pemerintah harus melakukan review dan sinkronisasi peraturan dan perizinan terkait sektor energi dan mineral.
1. Memberikan kepastian terhadap status Kontrak Kerja Sama (KKS) minyak dan gas. Masa pe-merintahan 2014-2019 adalah masa penting penentuan status KKS terutama di sektor hulu minyak dan gas mengingat sebagian besar blok akan habis masa kontraknya pada periode tersebut. 2. Review terhadap UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah khususnya pasal 7 ayat 2 dan
pasal 10 dan revisi PP Nomor 67 Tahun 2005 tentang Infrastruktur agar memasukan kerjasama kemungkinan kerjasama pemerintah dan swasta untuk pembangunan kilang minyak.
3. Peninjauan kembali Surat Keputusan Bersama melalui Menteri ESDM, Menteri Kehutanan dan Menteri Lingkungan Hidup tentang pengembangan panas bumi yang berada dilihat konservasi. Review terhadap SKB ini dapat harus diikuti dengan revisi UU Kehutanan terkait eksplorasi panas bumi yang bersifat lex spesialis (panas bumi tidak bisa dipindah), terutama yang berada di kawasan konservasi hutan.
4. Revisi atas perubahan PP 9/2010 mengenai Rencana kenaikan tarif royalti batubara perlu dikaji kembali; dan rencana kenaikan tarif royalti menunjukkan sikap ketidakkonsistenan pemerintah dalam mengembangkan tambang-tambang batubara berkalori rendah
5. Revisi atas perubahan PP 23/2010 mengenaiPengaturan tentang kewajiban pengolahan pertam-bangan batubara perlu dikaji lebih lanjut; dan persyaratan divestasi saham asing tidak menarik bagi investor yang sangat diharapkan dapat berinvestasi mengembangkan kegiatan eksplorasi
pertam-6. Penerbitan Inpres peningkatan nilai tambah batubara. Inpres tersebut serupa dengan Inpres No. 3/2013 terkait percepatan hilirisasi pertambangan mineral. Dengan Inpres maka kebijakan yang dihasilkan bisa lebih objektif memetakan design kebijakan yang tepat untuk mendorong pengem-bangan sektor pertampengem-bangan batubara.
7. Review peraturan pelaksana UU Nomor 4 Tahun 2009 yang meliputi 1] PP No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara; 2]PP No 5 Tahun 2010 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara; 3] Permen ESDM No 7 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengelolaan dan Pemurnian Mineral; 4] Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2012 tentang Perubahan Aturan Menteri ESDM No 7 Tahun 2012 terkait pelarangan ekspor komoditas mineral setelah tanggal 12 Januari 2014.
Penetapan tarif dan harga di sektor energi dan mineral perlu dipertimbangkan dengan matang terutama terkait dengan:
1. Penyesuaian harga BBM dengan harga keekonomian. Penyesuaian tersebut akan mengurangi sub sidi sebagai beban anggaran pemerintah sehingga anggaran tersebut dapat dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, seperti kilang minyak, penyulingan atau subsidi langsung untuk masyarakat yang memang membutuhkannya. Selain itu, penyesuaian harga BBM akan mendorong energi alternatif lain untuk masuk ke dalam pasar energi.
2. Penetapan Tarif Dasar Listrik (TDL) tidak berdasarkan golongan voltage namun didasarkan pada porsi biaya energi yang dikeluarkan oleh industri. Sehingga dengan marjin industri atau IRR dan biaya energi yang rendah, diberikan harga listrik yang lebih murah. Metode seperti ini akan meningkatkan kompetisi untuk industri di pasar international dan menciptakan multiplier efek. 3. Penetapan harga beli PLN untuk panas bumi harus dilakukan dengan harga maksimal (ceiling
price). Hal ini perlu dilakukan dengan pertimbangan subsidi listrik, subsidi bunga, atau insentif awal ekplorasi lapangan panas bumi (financing). Alternatif terkait dengan insentif tersebut adalah untuk mengurangi risiko di pihak pengembang dan menaikkan pengembalian investasi. Pemerintah 2014-2019 dapat menanggung keuangan atau pembiayaan masa eksplorasi melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP). Setelah dipastikan bahwa panas bumi dapat dikomersialisasikan dengan harga kesediaan membayar PLN (Persero), maka Pemerintah akan melakukan lelang Plan of Development (PoD) untuk tahap pengembangan kepada pihak swasta
Mengembangkan skema pembiayaan dan investasi untuk sektor energi dan mineral. Besarnya biaya yang diperlukan dalam pengembangan energi dan mineral terutama untuk sektor hulu memerlukan dukungan pemerintah terutama dalam eksplorasi minyak bumi, LNG, gas, dan panas bumi, mekanisme sharing untuk cost recovery perlu ditinjau lebih lanjut terkait alokasi pemerintah dan swasta dalam pembiayaan kegiatan eksplorasi energi dan mineral.
Pembangunan infrastruktur sektor energi dan mineral:
1. Pembangunan kilang baru dan penyulingan (refinary) untuk mengolah minyak mentah Indo-nesia. Pemerintah harus mengarahkan kegiatan minyak dan gas bumi ke daerah Timur Indonesia yang masih memiliki cadangan besar dan berada di laut dalam yang perlu didukung dengan teknologi khusus dan biaya tinggi.
2. Pembangunan Penyediaan Tenaga Listrik berdasarkan nilai ketahanan energi Indonesia, bukan berdasarkan permintaan masyarakat. Pembangunan kelistrikan harus didasarkan pada pertumbuhan yang diinginkan dan ditetapkan oleh pemerintah, seperti penugasan elektrifikasi, listrik pedesaan, transmisi dan distribusi. Pemerintah yang lebih mengetahui kebutuhan listrik di daerah terpencil dan bagaimana menjaga ketahanan energi di daerah tersebut. Pemerintah harus mencegah terjadinya disintegrasi bangsa hanya disebabkan masyarakat yang kekurangan listrik, seperti masyarakat di daerah perbatasan. Disamping itu, pemerintah juga harus mendukung program Independent Power Producer (IPP) untuk bersaing dengan pembangkit-pembangkit listrik PLN sehingga pembangkit listrik PLN lebih efisien.
3. Melakukan zonasi industri untuk efisiensi penyediaan listrik bagi dunia usaha dimana pe nen-tuan lokasi pembangunan listrik ditentukan oleh Independent Power Producer (IPP) dan PLN daerah tersebut dengan penetapan harga listrik berdasarkan business to business.
4. Pengembangan pembangkit listrik yang dibangun sesuai dengan karakter uap (panas bumi) yang ada di reservoir. Dengan karakateristik dan besarnya cadangan panas bumi yang ada di Indo nesia, maka pengembangan energi panas bumi akan memberikan keuntungan untuk bangsa Indonesia dan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan bangsa Indonesia.
5. Meningkatkan jumlah dan kapasitas smelter dalam kegiatan hilirisasi pertambangan dan pembangunan storage (gudang) penyimpangan.
VI. PENGEMBANGAN SEKTOR FINANSIAL
VISI UTAMA
Mendorong terjadinya pendalaman finansial (financial deepening) dan terciptanya inklusi finansial dalam memudahkan akses keuangan bagi seluruh masyarakat dan sektor usaha di Indonesia.
REKOMENDASI PROGRAM 1 TAHUN PERTAMA
Mendorong terjadinya inklusi finansial untuk kemudahan akses bagi seluruh sektor usaha di indonesia.
REKOMENDASI PROGRAM TRANSFORMASI 5 TAHUN
1. Melakukan pendalaman pasar (financial deepening) jangka panjang terutama untuk meng atasi permasalahan mismatch di perbankan dan pasar keuangan.
2. Melakukan revisi dan peninjauan terhadap regulasi di bidang institusi finansial meli-puti: 1) Peraturan Pemerintah tentang Sisa Anggaran Lebih (SAL) OJK; 2) UU Perbankan, UU BUMN, UU Penanggulangan Bencana; 3) Perpres tentang aturan kepemilikan asing di per-bankan nasional; 4) Peraturan Kementerian Keuangan agar tidak ada pajak berganda untuk pembiayaan kembali (sales and lease back) untuk bisnis leasing; 5) Membuat aturan yang jelas mengenai outsourcing di bidang Perbankan.
3. Peningkatan kapasitas tenaga kerja yang handal di bidang institusi finansial. Upaya yang dapat dilakukan yaitu: 1)Pelatihan dan sertifikasi bagi agen asuransi dan aktuaris de-ngan melakukan kerjasama pelatihan dan kerja praktek antara lembaga pendidikan dede-ngan pihak swasta (pengusaha); 2) Peningkatan kemampuan pengelolaan portofolio dari manaje-men asuransi via pelatihan dan sertifikasi
4. Mendorong efisiensi institusi finansial dalam rangka konsolidasi dan peningkatan daya saing. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan merger dan akuisisi perbankan agar sesuai dengan cetak biru Arsitektur Perbankan Indonesia (API); Pendirian Biro Informasi Risiko & klaim asuransi; Implementasi merger perusahaan reasuransi BUMN;
5. Memberikan Insentif untuk institusi finansial. Insentif ini dapat berupa Insentif pajak untuk transaksi M&A; penerapan PPH progresif bagi perusahaan di bursa berdasarkan free-float; penghapusan pajak deviden dan transaksi bagi investor; mempertimbangkan premi asuransi jiwa diperhitungkan sebagai komponen pengurang penghasilan kena pajak (khusus komponen asuransi).
6. Mengembangkan tingkat literasi finansial masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan memasifkan program sosialisasi keuangan, menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pen-tingnya sektor keuangan dan meningkatkan akses finansial bagi semua lapisan masyarakat dan usaha.