Krisis bahan bakar minyak fosil dan defisit neraca transaksi berjalan nasional akibat tingginya impor migas, menjadi isu yang mengkhawatirkan. Diperkirakan dalam 20 tahun ke depan, cadangan minyak bumi nasional dan dunia akan habis. Dewan Energi Nasional dalam cetak biru Kebijakan Energi Nasional me-nyebutkan bawah konsumsi energi masih didominasi oleh minyak sebesar 48%. Jumlah ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan penggunaan gas (20%), coal (24,7) dan EBT (6,9%). Untuk jangka pan-jang, porsi sumber energi yang berasal dari
minyak bumi diharapkan menjadi hanya se-be sar 23,7% saja. Sementara itu, sumse-ber Energi Baru dan Terbarukan (EBT) pada ta-hun 2025 dapat mencapai 25% dari total sumber energi nasional.
Perhatian pemerintah terhadap sumber EBT terutama biodiesel masih rendah. Biodiesel merupakan salah satu sumber EBT yang dapat diandalkan. Keseriusan pemerintah untuk mengembangkan dan memanfaatkan biodiesel lebih ditujukan untuk menutup defisit neraca transaksi perdagangan (lebih tepatnya mengurangi impor minyak) daripada mengembangkan industri biodiesel itu sendiri. Permasalahan lain adalah nilai keekonomian (harga) biodiesel yang diatur lebih rendah daripada harga solar, kurang memberikan potensi bisnis yang layak dan menguntungkan. Secara kualitas, biodiesel sesuai untuk digunakan sebagai campuran pada minyak solar. Namun, harga keekonomian biodiesel masih menjadi kendala dalam pengembangan dan pemanfaatan biodiesel nasional.
Fluktuatifnya harga bahan baku minyak sawit mentah (CPO) di pasar global mempengaruhi harga biodiesel nasional. Indonesia masih menguasai pasar minyak sawit mentah (CPO) di dunia karena menghasilkan 55% minyak sawit dunia, yaitu 23.081 juta ton pada tahun 2011. Walau demikian, minyak sawit mentah (CPO) Indonesia masih dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas tersebut di pasar global dan masih ditentukan oleh mekanisme pasar. Sebagai produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar dunia, seharusnya Indonesia mampu menjadi pengendali harga CPO dunia. Namun, referensi harga CPO justru terbentuk dari bursa di Eropa (Bursa Rotterdam) dan MPOB (Malaysia).
Kepastian hukum sangat diperlukan dalam pengembangan energi, namun masih terdapatdisharmoni regulasi pada sektor ini. Sebagian lapangan minyak dan gas bumi terdapat di lokasi marga satwa atau hutan konservasi. Bahkan untuk lokasi sumber panas bumi, sebanyak 40% berada di kawasan hutan kon ser-vasi. Lahan yang dibutuhkan untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi adalah sebesar 4-6 hektar untuk setiap pad rig pengeboran. Meskipun sudah diterbitkannya UU No. 2 tahun 2012 terkait dengan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum, khususnya untuk kegiatan minyak dan gas bumi (Pasal 7 ayat (2) dan Pasal 10), penerapan dari UU tersebut masih mengalami kendala di level pemerintah daerah atau masyarakat setempat. Sementara itu, untuk pengembangan panas bumi di daerah konservasi ditetapkan melalui Surat Keputusan Bersama melalui Menteri ESDM, Menteri Kehu tanan dan Menteri Lingkungan Hidup. Namun, SKB tersebut belum efektif dan belum bisa diterapkan karena masih berten-tangan dengan UU Kehutanan No. 41, 1999.
Tantangan lainnya adalah soal ketidakpastian per-pan jangan Kontrak Kerja Sama (KKS) kegiatan migas. Kegi atan hulu minyak dan gas bumi adalah kegi-at an padkegi-at modal, padkegi-at risiko, padkegi-at teknologi dan padat pengalaman. Selain itu, risiko geologis, teknis dan pasar melalui ketidakpastian harga mi-nyak mempe ngaruhi keputusan pengusaha mimi-nyak dan gas bumi. Dengan risiko yang ada, diperlukan kepastian khususnya dalam kebijakan pemerintah terkait perpanjangan KKS. Sebanyak 19 blok (wila-yah kerja) akan berakhir dalam kurun waktu 2015-2019. Ini menjadi tantangan bagi pemerintah un tuk memberikan kepastian apakah kontrak akan diper-panjang atau akan diambil alih oleh pemerintah.
Peningkatan produksi dan pengembangan biodiesel dari minyak sawit mentah yang tertuang di Perpres No.5 Tahun 2006 juga perlu didukung dengan kepastian usaha. Selama ini, dari kontrak selama 2 (dua) tahun dengan Pertamina, harga yang ditawarkan kepada produsen biodiesel dipatok dengan harga yang selalu di bawah harga pasar biodiesel di Singapura (MOPS). Referensi harga penting bagi pengusaha/produsen,
Inefisiensi birokrasi perizinan di sektor energi dan mineral masih mengkhawatirkan. Saat ini terdapat 69 jenis perizinan dan 284 proses perizinan. Jumlah izin dan proses permintaan izin ke pemerintah pusat dan daerah, serta ketidakpastian tata waktu penyelesaian izin akan menghambat proyek kegiatan hulu migas dan mengakibatkan biaya keekonomian yang sangat tinggi. Walaupun Menteri Koordinator Perekonomian telah berupaya untuk memangkas perizinan menjadi 8 jenis, tetapi saat ini implementasi belum dilaksanakan oleh Kementerian-kementerian terkait.
Minimnya infrastruktur dalam pengembangan energi dan mineral. Produksi minyak di Indonesia terus menurun disebabkan turunnya produksi di lapangan-lapangan tua terletak di bagian barat Indonesia. Dengan berkurangnya tekanan alamiah dari lapangan tersebut, minyak tidak mudah untuk dieksploitasi. Tambahan tekanan atau metode lain melalui Secondary Recovery atau Enhanced Oil Recovery (EOR) perlu dilakukan untuk melanjutkan produksi. Namun di sisi lain, usia kilang yang semakin tua berkontribusi terhadap produksi minyak bumi Indonesia. Di sektor hilir, penyulingan minyak yang ada di Indonesia belum memadai untuk mengolah minyak mentah dalam memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Sementara itu, kegiatan eksploitasi panas bumi masih terdapat 12 proyek dengan total 830 MW yang masih terkatung-katung disebabkan kesulitan pendanaan, permasalahan lahan dan belum tuntasnya negosiasi harga listrik dalam kontrak Power Purchase Agreement (PPA). Persoalan lain adalah masih minimnya storage – (penyimpanan) pasca eksplorasi untuk energi dan mineral.
Penetapan tarif sektor energi dan mineral ter-utama untuk harga BBM dan listrik masih men-jadi beban bagi APBN. Pemerintah harus me-nang gung subsidi karena masih mematok harga Premium, solar dan minyak tanah di mana Per tamina masih membeli produk minyak yang disubsidi dari luar negeri. Saat ini, dengan ke-butuhan konsumsi sebesar 1,5-1,6 juta barel/ hari, kapasitas kilang di Indonesia hanya sebe-sar 1,05 juta barel/hari. Dengan utilisasi kilang minyak yang hanya mampu mengolah 700.000-800.000 barel/hari, Pertamina ha-rus mendatangkan minyak yang disubsidi dari
luar negeri dengan harga pasar. Kenaikan harga minyak dunia berimplikasi pada peningkatan jumlah subsidi yang pada tahun 2013 bahkan mencapai Rp190 trilyun. Sementara itu, Tarif Dasar Listrik (TDL) PLN masih dibebankan berdasarkan golongan beban listrik. Dengan metode seperti ini, pemerintah dan PLN tidak perlu mengetahui relative kontribusi biaya energi terhadap nilai jual produk dari industri tersebut. Kebijakan pemerintah seharusnya menetapkan TDL tidak berdasarkan golongan voltage namun didasarkan pada porsi biaya energi yang industri tersebut keluarkan. Sehingga dengan marjin industri
atau IRR dan biaya energi yang rendah, diberikan harga listrik yang lebih murah. Metode seperti ini akan meningkatkan kompetisi untuk industri di pasar international dan menciptakan multiplier efect.