• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potret Sektor Infrastruktur Di Indonesia

Salah satu tantangan dari sebuah negara berpendapatan menengah adalah untuk bisa meloloskan diri dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap). Hal ini bisa dilakukan kalau Indonesia mampu mengalihkan ketergantungan dari sektor yang kurang produktif ke sektor yang lebih produktif. Dengan kata lain, Indonesia harus mendiversifikasi dan meningkatkan produktivitas ekonominya untuk mampu meningkatkan pendapatan per-kapita-nya hingga setara negara maju.

Indonesia saat ini sangat ter-tinggal dalam bidang infra-struk tur, dengan ranking 82 diantara 114 negara (The Global Competitiveness Report 2013-2014), lebih rendah dari negara tetangganya, Malaysia (25) dan Thailand (61).

Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga menuntut peningkatan kapasitas ekonomi, terutama di kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya. Keterbatasan infrastruktur untuk memfasilitasi kegiatan ekonomi tentu akan menyia-nyiakan berbagai kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Keterbatasan infrastruktur akan menjadi penghalang bagi investasi di sektor manufaktur, ber-kontribusi bagi inflasi, membatasi daya saing industri, dan menjadi alasan tidak langsung terhadap defisit neraca transaksi berjalan.

Pengeluaran negara terhadap infrastruktur masih terlalu kecil. Rasio pengeluaran kapital terhadap GDP di Indonesia hanyalah 1.2% di 2012, lebih rendah dari negara tetangga (Thailand 2.3%, Malaysia 5.1%, dan Vietnam 6.9%). Investasi infrastruktur telah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (4-5% dari GDP), tetapi belum mencapai tingkat sebelum krisis 1997 (7%), sementara itu infrastruktur Cina dan India telah mencapai 8-10% dari GDP.

Sementara itu, partisipasi swasta untuk infrastruktur juga belum terinstitusi dengan baik. Target 20% pendanaan swasta dalam Public-Private Partnership (PPP) di proyek-proyek strategis akan sulit dinuhi jika pihak swasta harus menanggung seluruh resiko proyek tanpa akuntabilitas memadai dari pe-merintah.

Institusi dan birokrasi yang kurang efisien karena terlalu banyaknya pemangku kepentingan yang terlibat masalah pembebasan lahan, dan masalah pengambilan keputusan dalam tender. Permasa-lahan tersebut tentunya akan mengakibatkan investor enggan untuk membiayai proyek dengan ketidak-pastian yang tinggi.

Secara spesifik, isu infrastruktur dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Infrastruktur transportasi

Kondisi jalan Indonesia saat ini buruk, sehingga menurunkan kecepatan kendaraan. Kualitas jalan di Indonesia, terutama di daerah, sangat rendah, menyebabkan waktu tempuh di Indonesia saat ini mencapai 2.6 jam untuk jarak 100 km, lebih lambat dari Vietnam (2 jam per 100 km), Thai-land (1.35 jam per 100 km), dan Cina (1.2 jam per 100 km). Kondisi ini juga mengakibatkan kemacetan

Tahun 2013 Indonesia Malaysia Thailand Vietnam Filipina

Infrastruktur 82 25 61 110 98 Jalan 78 23 42 102 87 Kereta Api 44 18 72 58 89 Pelabuhan 89 24 56 98 116 Angkutan Udara 68 20 34 92 113 Listrik 89 37 58 95 93 Telepon Seluler 62 27 49 21 81 Telepon Tetap 82 79 96 88 109

dan tingkat kecelakaan yang tinggi. Diperkirakan 50 jiwa melayang setiap harinya di jalan raya. Mana jemen kapasitas dan performa jalan juga sangatlah lemah dikarenakan kurangnya pendanaan.

Lambatnya pembaharuan dan pembangunan pada sektor kereta api. Jalur ganda di sektor kereta api hanya 7.7% dari total 4.800 km dimana kereta penumpang dan barang ada pada jalur yang sama, mengakibatkan efisiensi yang rendah. Kurangnya utilisasi kereta untuk barang membuat besarnya beban transportasi darat pada jalan raya.

Kurang berimbangnya komposisi moda dalam transportasi. Kendaraan pribadi sangatlah dominan di kota-kota besar, menyebabkan kemacetan yang parah, dan tentunya inefisiensi. Peng-gunaan kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 62%, mengindikasikan 10 juta komuter terjadi setiap hari.

Inefisiensi sektor pelabuhan. Waktu bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok ( Jakarta) mencapai 8 hari, sangat lama dan tidak efisien dibandingkan dengan pelabuhan di Thailand yang hanya 5 hari, bahkan Singapura yang hanya 1.2 hari.

Jaringan transportasi udara yang melebihi kapasitas. Peningkatan transportasi udara meningkat hingga double-digit tiap tahunnya sejak deregulasi pada tahun 2004. Sementara itu bandara cukup lambat dalam merespon permintaan tersebut dengan perluasan.

2. Buruknya kinerja dalam bidang infrastruktur sumber daya air

Hanya 70% dari cadangan air yang dipakai untuk irigasi. Manajemen irigasi yang buruk menyebabkan rendahnya surplus produksi padi yang hanya mencapai 1.81 juta ton, padahal untuk mencapai ketahanan pangan dibutuhkan 10 juta ton. Kapasitas tampung per kapita Indonesia adalah 54 m3/kapita (standar dunia 1975 m3/kapita), hanya sedikit lebih baik dari Ethiopia, negara yang selalu kekeringan. Sementara itu hanya setengah dari penduduk kota yang memiliki akses pipa air, dan hanya 37 juta penduduk yang kebanyakan orang desa masih minum dari sumber air yang tidak terlindungi. Hal ini diperburuk dengan lemahnya performa operasional dan perbaikan, terutama dalam Dana Alokasi Khusus (DAK).

3. Rendahnya jangkauan sanitasi

Hanya 55% penduduk yang memiliki akses terhadap sanitasi yang layak, dibawah rata-rata Asia Tenggara, 67%. Jamban terbuka masih mencapai 40% sejak 1990. Hanya 2% dari wilayah kota yang terkoneksi dengan pembuangan dan pengolahan air limbah. Indonesia kehilangan US$ 6.3 milyar karena sanitasi yang buruk, meliputi biaya kesehatan, kehilangan produktivitas, kematian dini, kehilangan sumber air dan perikanan, turunnya nilai tanah, dan kehilangan potensi wisata.

4. Rendahnya rasio elektrifikasi (krisis energi)

Rasio elektrifikasi hanyalah 32% di pedesaan, jauh lebih rendah dari Thailand (99%), Malaysia (98%), bahkan Vietnam (85%), sebuah jumlah yang mengindikasikan rendahnya fasilitas penunjang kegiatan

ekonomi. Meskipun telah memiliki kapasitas listrik nasional 30,000 MW yang cukup besar di regional, jumlah ini tidak besar jika dilihat per kapita. Beberapa poin yang harus menjadi perhatian:

Kebutuhan akan investasi yang besar. Kebutuhan akan energi selalu meningkat, ditambah dengan rendahnya elektrifikasi saat ini, PLN perlu meningkatkan peran PPP untuk menghasilkan 2-9% pertumbuhan penyediaan listrik per tahun.

Tarif saat ini tidak cukup untuk menutup ongkos penyediaan listrik. Dibutuhkan rasionalisasi sistem tarif yang menyesuaikan dengan keadaan ekonomi sehingga bisa meninggalkan ketergan-tungan dengan subsidi.

Hambatan peraturan dan institusi. Ketidakpastian hukum dan kerangka kerja peraturan mem-persulit investasi swasta, salah satunya mengakibatkan sedikitnya Independent Power Producer (IPP) yang berinvestasi. Selain itu restrukturisasi internal PLN juga tersendat karena krisis, mem-perlemah kemampuan pemerintah untuk membiayai pembangunan.

Tantangan lingkungan. Rencana untuk mengurangi ketergantungan akan minyak dan beralih ke batu bara dari 35% menuju 70% di 2020 akan berefek pada peningkatan gas rumah kaca Indonesia dengan lebih cepat. Sementara itu potensi energi terbarukan seperti geothermal, tenaga air, dan biomass belum terlalu dimanfaatkan karena mahalnya teknologi, rendahnya insentif dan kepastian hukum, lemahnya institusi nasional terkait.