Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan di atas diantaranya:
1. Perbaikan rantai nilai (value chain) produk pangan dan pertanian
Rantai nilai harus diintegrasikan dari hulu (sisi produksi pada sektor pertanian), tengah (pengo-lahan produk pertanian atau agro-industri) hingga ke sektor hilir (produk turunan agroindustri) dengan nilai tambah yang tinggi. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan efisiensi industri pangan, terutama industri kecil dan menengah (IKM), pengurangan susut komoditas dan hilang masa transfer, positioning jelas terhadap sertifikasi komoditas tingkat global dan pengembangan pangan fungsional.
Perbaikan pada infrastruktur logistik, seperti jalan produksi, jalan desa, jalan kabupaten, hingga jalan negara akan meningkatkan stabilitas harga di sentra-sentra konsumsi pangan dan produk pertanian lainnya, sehingga rantai nilai terjaga daya saingnya. Keberhasilan integrasi ini juga akan memperhalus dan meningkatkan kualitas transformasi struktural dari sektor pertanian ke industri dan servis.
2. Reformasi kebijakan dukungan langsung kepada Petani
Dukungan terhadap petani harus diorientasikan pada peningkatan produktivitas, alih-alih untuk input seperti dalam bentuk subsidi pupuk dan bibit. Padahal, jika subsidi keduanya digabungkan jumlahnya adalah Rp 22.6 triliun pada 2014 dan melebihi jumlah anggaran belanja Kementerian Pertanian. Anggaran tersebut akan tepat guna jika dialokasikan untuk peningkatan produktivitas, seiring dengan meningkatnya Total Factor Productivity (TFP) Indonesia di sektor pertanian periode 2002-2011 dengan peningkatan rata-rata 0.45% per tahun. Alokasi tersebut hendaknya diprioritaskan pada:
a. Riset dan Pengembangan
Data pada World Bank pada tahun 2007 menunjukkan bahwa investasi Indonesia pada riset dan pengem-bangan di bidang pertanian hanya 0.27% dari PDB dari pertanian, hampir sama dengan Laos (0.24%) dan cukup jauh dibawah Malaysia (1.92%) dan Filipina (0.46%). Riset harus difokuskan pada peningkatan produksi dan produktivitas pangan pokok dan strategis melalui aplikasi teknologi baru. Dunia usaha harus dirangkul bersama perguruan tinggi dan pusat penelitian pangan dalam suatu kemitraan strategis dalam skema penelitian dan pengembangan (R and D) dan penelitian untuk pengembangan (R for D). Kedepannya, riset dan pengembangan diharapkan mampu merespon dua dinamika yang sedang ber-kembang: (1) perubahan iklim global, misalnya dengan melakukan rekayasa genetika untuk menciptakan bibit unggul yang adaptif terhadap cuaca yang tidak tentu; dan (2) meningkatnya kesadaran konsumen akan produk pangan yang aman, bermutu, dan bergizi, misalnya dengan mengembangkan pupuk yang ramah lingkungan (biofertilizer).
b. Teknologi
Pemanfaatan teknologi sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi di tengah keterbatasan lahan yang terus terkonversi untuk pemukiman. Hal ini bisa dilakukan melalui optimalisasi teknologi yang ada ataupun dengan pengembangan/inovasi teknologi. Aplikasi dalam bioteknologi harus mampu menjawab tantangan ekonomi pangan yang lebih beragam, kompleks, dan strategis. Selain dalam budidaya tanam-an, teknologi juga dibutuhkan dalam pengolahan paska panen, terutama untuk menjaga hasil panen agar tetap baik dan segar sebelum beralih ke konsumen.
c. Penyuluhan
Penyuluhan difungsikan sebagai proses alih teknologi dimana para petani diharapkan dapat meng apli-kasikan dengan baik beragam teknologi yang telah dibuat oleh para inventor maupun peneliti. Tenaga penyuluh yang kurang harus ditambah hingga mencapai rasio ideal satu penyuluh untuk satu desa.
3. Perbaikan skala ekonomi pangan dan pertanian
Pembangunan pertanian harus keluar dari orientasi swasembada yang menekankan pada pening-katan volume produksi menuju optimasi nilai dari suatu sektor produksi pertanian. Skala usaha pertanian yang tidak memenuhi syarat keekonomian akan menghasilkan output yang tidak optimal jika dipaksakan. Optimasi pun tidak hanya berfokus pada pembudidayaan tanaman (on-farm), tapi juga harus mempertimbangkan aktivitas di luar budidaya (off-farm) yang memberikan nilai tambah yang lebih tinggi seperti pengolahan, pemasaran, dan jasa-jasa penunjang.
Pangan dan pertanian harus dikembangkan sebagai satu kesatuan bisnis, yaitu dengan membangun unit pengelolaan dengan pendekatan wilayah skala kecil/menengah, misalnya untuk Jawa dengan skala unit pengelolaan 1.000-2.000 ha, dan luar Jawa dengan 5.000-10.000 ha. Penyatuan beberapa pro duksi (misalkan beras, bawang, jagung) dalam satu unit pengelolaan juga akan mendorong efisiensi tahap-tahap sebelum dan sesudah produksi, dan menurunkan biaya penanganan maupun transportasi.
4. Memperbaiki investasi sektor pertanian
Investasi tidak hanya diorientasikan pada peningkatan produktivitas hasil pertanian, melainkan juga pada nilai tambah produk pertanian. Investasi on-farm harus diprioritaskan pada irigasi untuk meningkatakan produktivitas. Sedangkan aktivitas off-farm, khususnya dalam teknologi, pengelolaan pasca panen, pengolahan produk, distribusi dan logistik, relatif membutuhkan investasi yang lebih besar. Untuk melaksanakannya, diperlukan insentif dari pemerintah ke swasta agar tertarik di sektor off-farm.
Iklim investasi dan usaha yang kondusif harus selalu dikedepankan untuk menarik minat investasi, meliputi kestabilan makro ekonomi, kepastian kebijakan, perizinan yang mudah, dan infrastruktur yang memadai. Selain dengan menarik investor baru, peningkatan investasi juga dapat dilakukan de-ngan mempermudah pelaku-pelaku usaha tani untuk meningkatkan kapasitas faktor produksinya, seperti dengan menyediakan kredit murah untuk pembelian hand tractor untuk petani.
5. Perbaikan supply response petani
Supply response dapat ditingkatkan melalui kebijakan pemerintah dalam stabilisasi harga panen dan skema perlindungan harga produk pertanian kepada petani. Pemerintah turut membantu stabilisasi harga ketika terjadi ekskalasi harga ketika paceklik dan fluktuasi harga pada masa panen, yang akan merugikan petani dan konsumen miskin di perkotaan. Para Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah perlu aktif memberdayakan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang selain melibatkan pejabat moneter dan fiskal daerah, juga melibatkan akademisi.
6. Perbaikan pada isu-isu energi, infrastruktur, ketenagakerjaan, pertanahan, dan keterpaduan pemerintah pusat-daerah
Prioritas utama dari infrastruktur publik adalah pada jaringan irigasi, yang saat ini 48% rusak dan menghambat intensifikasi untuk meningkatkan produksi dan ekstensifikasi untuk mencetak sawah-sawah baru. Untuk membangun irigasi ini, hendaknya pemerintah mengalokasikannya dari subsidi pupuk dan bibit. Infrastruktur lainnya, seperti bendungan (besar dan kecil), jalan desa, jaringan komunikasi, gudang, alat angkut, pelabuhan bongkar/muat, dan jarigan listrik juga harus menjadi per-hatian pemerintah jika ingin serius meningkatkan produktivitas pertanian.
Dalam sektor ketenagakerjaan, diperlukan peningkatan penyerapan tenaga kerja pada sektor tengah dan hilir, karena pertanian menyerap 34.2% tenaga kerja Indonesia (2013). Pendidikan harus menanamkan bahwasanya pangan dan pertanian adalah suatu industri yang jika dikelola dengan baik akan menghasilkan nilai tambah yang tinggi. Peningkatan keterampilan bagi tenaga kerja di desa juga tidak dibatasi untuk sektor pertanian, melainkan juga non-pertanian. Tenaga kerja wanita di pedesaan ha rus ditingkatkan karena akan meningkatkan pendapatan keluarga dan membantu pengentasan ke-miskinan.
Perbaikan dalam bidang hukum harus segera dilakukan untuk menghentikan konflik pemanfaatan lahan. Undang-undang (UU Pokok Agraria, UU Sumber Daya Air, UU Pertanahan, UU Perkebunan, dan UU Minerba) harus disinkronisasi, perizinan pusat-daerah harus diperjelas, perlindungan terhadap lahan pertanian, dan kejelasan mengenai tanah adat/ulayat. Insentif harus diberikan dengan keringanan Pajak Bumi dan Bangunan pada lahan pertanian dan penegakan hukum yang tegas diberikan terhadap pelanggar peraturan. Sertifikasi lahan oleh petani juga harus secepatnya diimplementasikan secara masif, karena akan meningkatkan kepastian dan keamanan lahan, serta mengamankan akses petani terhadap kredit.
Sedangkan mengenai kerja sama pusat-daerah seharusnya mampu diperkuat dan dibantu oleh insentif fiskal dari kementerian pertanian untuk berkolaborasi dengan pegawai di daerah untuk membentuk manajemen yang lebih kuat dan disiplin. Penarikan pajak hendaknya memfokuskan pada ketersampaian, dibandingkan pada tingginya rate pajak. Koordinasi juga diperlukan dalam menghi-langkan kebijakan-kebijakan di daerah yang cenderung mendisinsentif investasi.
IV. PENGEMBANGAN SEKTOR JASA
VISI UTAMA
Menciptakan sektor jasa yang bersifat sebagai enabling industry agar mampu men du-kung pertumbuhan perekonomian Indonesia sekaligus menjamin pemerataan de ngan menjadi input yang lebih efisien, berkualitas tinggi serta dapat diandalkan.
REKOMENDASI PROGRAM 1 TAHUN PERTAMA
1. Membangun koordinasi lintas sektor jasa melalui pembentukan Dewan Pengembangan Jasa Nasional. Dewan ini merupakan badan pemerintahan yang bertanggungjawab dalam memberikan saran pengembangan dan perencanaan sektor jasa pada tingkat makro secara komprehensif.
2. Penerapan service level agreement secara tegas dalam pelayanan publik meliputi standar lama waktu perizinan, birokrasi, dan perumusan regulasi dengan melibatkan masyarakat untuk memberikan masukan maximum 60 hari.
3. Pengurangan restriksi penanaman modal dalam bidang jasa. Aturan dalam permohonan dan pemberian izin operasi untuk berbagai sektor jasa yang tidak terlalu memerlukan peni-laian teknis secara rumit sebaiknya dapat dipermudah
4. Meningkatkan kualitas pelayananinternet broadband mengingat perannya dalam pertum-buhan ekonomi yang cukup signifikan (World Bank 2009).
REKOMENDASI PROGRAM TRANSFORMASI 5 TAHUN
1. Merumuskan prioritas Sektor Jasa dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasio-nal 2015-2019.
2. Meningkatkan nilai tambah sektor jasa sebagai sektor penyerap tenaga kerja dengan produktivitas yang lebih tinggi, inovatif dan efisien.
3. Harmonisasi dan sinergi regulasi dalam meningkatkan kepastian hukum di sektor Jasa me liputi UU Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, PP, Regulasi yang terkait dengan pro-se dur dan persyaratan lipro-sensi, kualifikasi standar teknis penyedia jasa.
4. Memberikan kemudahan dalam proses rekruitmen serta outsourcing, menjadi hal yang perlu diperhatikan, termasuk kemudahan untuk mendapatkan tenaga kerja terampil dari luar negeri.
5. Mendukung pengembangan industri kreatif nasional baik melalui peningkatan talenta, pe ngetahuan, maupun penyerapan teknologi dan mendukung start ups di bidang TI untuk industri kreatif.
6. Menambah jumlah pelabuhan yang dijadikan hub dalam perdagangan international yang disertai dengan pengelolaan pelabuhan (soft infrastructure) yang efektif dan efisien. 7. Mendorong pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dengan sistem logistik nasional
dan sistem transportasi nasional.
8. Peningkatan kualitas dan kompetensi, terutama dengan mengadopsi berbagai standar dan prosedur yang berlaku secara internasional, dan membangun jaringan internasional yang lebih luas.
9. Mendukung industri health care terutama dalam kaitannya dengan pemberlakuan BPJS yang fokus pada kapasitas supply dalam merespon dan menyediakan pelayanan kesehatan secara merata baik berdasarkan kelas pelayanan maupun sebaran geografis.