PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
6. Langkah V: Mengusahakan suatu aksi konkrit a. Pengantar
6. Langkah V: Mengusahakan suatu aksi konkrit a. Pengantar
Para suster yang terkasih, Yesus Kristus telah mengajarkan kepada kita untuk bersikap rendah hati dan meninggalkan segala sesuatunya bila hendak mengikuti-Nya. Kini Yesus juga mengutus kita untuk meneruskan sikap kerendahan hati itu dalam karya pelayanan kita dalam kongregasi OSF Sibolga. Setelah kita menggali bersama-sama apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai utusan-Nya. Meskipun kita sering mengalami kesulitan, tantangan dalam mewujudkan kerendahan hati kita hendaknya selalu menaruh pengharapan pada-Nya. Kita telah memiliki wawasan baru, cara pandang baru, semangat baru dan harapan baru untuk semakin menghayati sikap kerendahan hati sebagai suster OSF Sibolga. Dalam perutusan, kita perlu menyadari bahwa Allah sungguh bersama kita dan menyertai kita, bahkan apabila kita berada dalam kesulitan dan permasalahan yang kita hadapi. Marilah kita sekarang membangun niat dan tindakan apa yang dapat kita perbuat untuk meningkatkan penghayatan kerendahan hati kita dalam seluruh proses perjalanan panggilan kita selama ini. b. Memikirkan niat-niat untuk dapat memaknai penghayatan kerendahan hati dalam
1) Niat-niat apa yang hendak kita lakukan agar semakin menghayati sikap kerendahan hati!
2) Hal-hal apa saja yang perlu kita lakukan dalam mewujudkan niat-niat tersebut?
c. Selanjutnya peserta diberi kesempatan dalam suasana hening memikirkan sendiri- sendiri tentang niat-niat pribadi, untuk mendukung suasana hening diiringi musik “instrumen” yang tenang.
d. Niat-niat pribadi dapat diungkapkan untuk saling meneguhkan (para suster diberi kesempatan untuk mengungkapkannya)
e. Kemudian, peserta diajak untuk membicarakan dan mendiskusikan bersama guna menentukan niat bersama secara konkrit, yang dapat segera diwujudkan, agar mereka semakin memperbaharui sikap bersama/kelompok sebagai pengikut Kristus yang rendah hati.
7. Penutup
a. Kesempatan hening sejenak sambil diiringi musik instrumen, sementara itu lilin dan salib diletakkan ditengah lalu dinyalakan.
b. Doa umat secara spontan diawali oleh Pendamping dengan menghubungkan para murid yang bersedia menjadi pengikut Kristus yang rendah hati. Setelah itu doa umat disusul secara spontan oleh para peserta yang lain. Akhir doa umat ditutup dengan doa Bapa Kami dan diakhiri dengan doa Penutup.
c. Doa Penutup:
Ya Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur karena Engkau telah memanggil kami dengan segala kelemahan kami untuk menjadi pengikut-Mu dengan hidup dalam keutamaan kerendahan hati. Engkau memberi teladan bagi kami yakni St. Fransiskus Asisi yang telah menghayati kerendahan hati dengan sempurna. Kami telah berjanji untuk menjadi pengikut-Mu melalui persaudaraan OSF Sibolga. Kini kami menyadari bahwa kami manusia lemah yang mudah jatuh karena godaan dunia ini. Maka bantulah kami agar mampu mengikuti Engkau dalam keutamaan kerendahan hati seperti hamba-Mu St. Fransiskus Asisi yang setia mengabdi-Mu. Semoga dengan pertolongan-Mu kami senantiasa mampu mewujudkan kerendahan hati dalam persaudaraan dan pelayanan bagi setiap orang. Kami memuji Engkau kini dan sepanjang masa. Amin.
d. Lagu Penutup : Lagu-lagu Fransiskan No. 67 ”Fransiskus Pengabdi”
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Upaya meningkatkan penghayatan nilai-nilai spiritualitas St. Fransiskus Asisi dalam pembinaan hidup religius bagi para suster yunior OSF perlu selalu diupayakan terus-menerus, baik secara pribadi maupun secara bersama dalam persaudaraan agar nilai-nilai spiritualitas St. Fransiskus Asisi tidak menjadi kabur.
Pada zaman sekarang, menghayati spiritualitas St. Fransiskus Asisi tidak mudah, banyak tantangan dan godaan yang mampu menarik perhatian semua orang. Hal ini dipengaruhi oleh tuntutan zaman yang membuat orang ingin hidup dengan cara instan. Kenyataan, bahwa gaya hidup instan sudah menjadi gaya hidup masyarakat pada umumnya. Dalam hidup religius gaya hidup yang bersifat duniawi ini telah mempengaruhi sikap dan tindakan para suster OSF Sibolga. Para suster tidak lagi memberi perhatian pada penghayatan nilai-nilai spiritualitas St. Fransiskus Asisi. Terkadang spiritualitas St. Fransiskus hanya sebatas pemahaman saja sedangkan penghayatan dan penerapannya secara konkrit dalam hidup persaudaraan belum terlaksana secara utuh.
Saat Fransiskus menemukan hidup dalam pertobatan melalui penampakan Yesus yang tersalib di Gereja San Damiano dan pertemuan dengan orang kusta serta pengaruh penghayatannya akan Injil, St. Fransiskus dengan gigih dan tegas menolak keinginan yang bersifat duniawi, misalnya keinginan akan kekuasaan, kenikmatan
dan kekayaan. Fransiskus meninggalkan segala impian dan kenikmatan duniawi secara total. Bahkan dia melaksanakan Injil Yesus Kristus dengan sangat radikal. Fransiskus sangat mengagumi dan mencintai pribadi Yesus yang merendahkan diri sampai wafat di salib. Perendahan diri Yesus sebagai Putera Allah menjadi semangat bagi Fransiskus untuk meninggalkan kekayaan dan segala kenikmatan duniawi. St. Fransiskus telah memberikan teladan hidup bagi para pengikutnya untuk hidup dalam kerendahan hati sebagaimana Kristus dan bunda Maria.
Para suster pendiri OSF Sibolga telah hidup sesuai dengan semangat dan teladan hidup St. Fransiskus Asisi. Mereka hidup sederhana dan rela meninggalkan segala milik dan kenikmatan duniawi demi mengikuti Yesus Kristus yang telah telah memberikan diri secara total demi keselamatan umat manusia. Para suster pendiri OSF Sibolga bersedia menanggung penderitaan dan berbagai macam kesulitan demi mengabdi kepada Kristus dan melayani sesama sesuai teladan hidup St. Fransiskus Asisi. Semangat kerendahan hati yang telah diwariskan para suster pendiri OSF Sibolga dan St. Fransiskus Asisi hendaknya juga menjadi semangat hidup bagi para suster yunior OSF Sibolga pada saat ini.
Dalam petuah-petuah St. Fransiskus Asisi artikel XIX tentang hamba Allah yang tetap rendah, dikatakan berbahagialah hamba yang tidak menganggap dirinya lebih baik apabila ia dipuji dan dihormati orang lain daripada apabila dipandang hina, bodoh dan nista oleh orang lain. Maka berbahagialah hamba yang diberi kedudukan bukan atas kehendaknya sendiri dan selalu rela menjadi tumpuan kaki bagi orang lain. Oleh karena itu penting selalu ada usaha untuk memiliki sikap rendah hati agar para
suster mampu menghayati nilai-nilai spiritualitas St. Fransiskus Asisi. Usaha penyadaran ini diharapkan dapat mengatasi tantangan dan kesulitan dalam diri maupun di luar diri para suster yunior OSF Sibolga.
Dalam anggaran dasar artikel 11 dikatakan para suster membentuk diri sepenuhnya sesuai dengan Injil suci, merenungkan di dalam hati dan melaksanakan firman Tuhan Yesus Kristus, Sabda Bapa serta firman Roh Kudus yang merupakan roh dan hidup. Maka setiap suster dalam proses pematangan pribadi hendaknya selalu berpedoman pada Injil, hidup menurut bimbingan roh dan menghayati nilai-nilai spiritualitas St. Fransiskus Asisi dalam hidup persaudaraan.
Untuk itulah, penulis menawarkan salah satu cara untuk membantu meningkatkan penghayatan nilai-nilai spiritualitas St. Fransiskus Asisi melalui katekese model Shared Christian Praxis. Melalui katekese model Shared Christian Praxis, para suster yunior akan diajak untuk mengkonfrontasikan pengalaman konkrit dalam menghayati nilai-nilai spiritualitas St. Fransiskus Asisi yang direfleksikan secara kritis dan dihayati menurut teladan hidup St. Fransiskus sehingga menumbuhkan sikap dan kesadaran baru yang memberi motivasi dan semangat melaksanakan spiritualitas St. Fransiskus Asisi dalam hidup sehari-hari.
B. Saran
Demi membantu para suster yunior dalam menghayati dan menerapkan nilai-nilai spiritualitas St. Fransiskus Asisi dalam persaudaraan OSF Sibolga, penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Sebagai pengikut St. Fransiskus Asisi hendaknya para suster yunior selalu berusaha memaknai pengalaman hidup sesuai dengan Injil suci Yesus Kristus. 2. Sebaiknya, para suster yunior OSF Sibolga selalu berusaha menggali lebih
mendalam nilai-nilai spiritualitas St. Fransiskus Asisi, Anggaran Dasar dan Konstitusi OSF Sibolga.
3. Sebagai seorang yang terpanggil, hendaknya para suster yunior berusaha menghayati perutusannya sesuai semangat dan kharisma para suster pendiri OSF Sibolga.
4. Keterbukaan dan tanggungjawab menjadi sikap yang mampu menghantar para suster yunior OSF Sibolga untuk semakin matang dalam menjalani panggilannya.
5. Kerendahan hati dan kesiapsediaan dalam memberi diri secara tulus dalam tugas pelayanan akan menjadi kesempatan dalam mengembangkan diri dan mewujudkan cintakasih.
6. Agar para suster semakin mendekatkan diri kepada kepenuhan akan Kristus melalui pembaharuan hidup maka perlu dilakukan pembinaan terus-menerus, on going formation
7. Dalam skripsi ini, penulis menyiapkan sebuah usulan program katekese yang merupakan salah satu alternatif dalam memotivasi demi usaha peningkatan penghayatan nilai-nilai spiritualitas St. Fransiskus Asisi. Maka, ada baiknya jika program dan usulan katekese ini dapat diterima dan dilaksanakan dalam komunitas-komunitas. Program ini dapat disesuaikan dengan situasi peserta berkaitan dengan waktu dan tempat.