Bab IV Usulan Program
FRANSISKANES SIBOLGA
E. Dinamika Pembinaan Yuniorat
2. Pembinaan bagi Kematangan Pribadi Yunior
Dalam pembinaan yuniorat diwarnai oleh adanya dukungan yang dapat membantu yunior untuk perkembangan dan pertumbuhan pribadi mereka. Di sini akan dibahas hal-hal yang mendukung proses pembinaan suster yunior.
a. Keterbukaan dan Kepercayaan
Dalam pembinaan religius muda keterbukaan dan kepercayaan perlu diciptakan agar mereka dapat berkembang sesuai spiritualitas kongregasi. Keterbukaan dan kepercayaan kepada pemimpin, sesama suster dalam komunitas dan diri sendiri perlu ditanamkan dalam diri religius muda sekarang. Begitu pula kepercayaan dari pemimpin maupun dari sesama anggota komunitas kepada seorang religius muda.
Formatio religius hendaknya mendukung dan menunjang pengembangan kematangan manusiawi dan rohani yang memungkinkan orang mengambil keputusan secara pribadi dan bertanggungjawab maupun merdeka dalam menjawab panggilannya (Darminta, 1983: 5).
Bila dalam pembinaan religius muda terciptakan suasana keterbukaan dan kepercayaan, maka dimungkinkan bagi seseorang dapat mengambil keputusan secara bebas dan bertanggungjawab.
b. Komunitas
Setiap perkembangan dan pertumbuhan pribadi dipengaruhi oleh lingkungan komunitas tempat tinggal yang mendukungnya. Komunitas di mana dia tinggal sangat
berpengaruh terhadap suatu perkembangan dan pertumbuhan kedewasaan seorang yunior. Darminta (1994: 42) menuliskan: ”Proses pertumbuhan dan perkembangan penghayatan panggilan religius muda tergantung kepada mutu hidup komunitas dalam menghayati nilai-nilai kerohanian serta cara hidup Tarekat.” Komunitas yang bermutu dapat diketahui sejauhmana komunitas diwarnai suasana persaudaraan, saling mengampuni, saling mendukung dan anggota komunitas mampu menghayati hidup kaul, hidup doa, baik secara pribadi maupun bersama. Religius muda juga membutuhkan keteladanan dari anggota komunitas yang lebih senior dalam menghayati hidup religius.
Sebaliknya komunitas yang diwarnai sikap saling curiga, acuh tak acuh, saling menjatuhkan, saling mengucilkan, persaingan, iri hati dan kebencian akan menghambat dan merusak pertumbuhan dan perkembangan panggilan suster yunior karena Religius muda masih dalam tahap pembinaan sehingga dibutuhkan suasana yang memberi semangat hidup melalui keteladanan, kesederhanaan dan semangat mengabdi serta spiritualitas dari sesama suster lainnya.
Dokumen gerejani Pedoman Pembinaan dalam Lembaga-lembaga Religius no. 16 tentang pelaku-pelaku dan lingkungan pembinaan menulis:
Bahwa hidup komunitas menyangkut soal relasi. Relasi antar pribadi perlu ditandai oleh sikap kesahajaan dan kepercayaan, karena didasarkan pada iman dan cintakasih. Komunitas dibentuk setiap hari oleh tindakan Roh Kudus dengan membiarkan dirinya dinilai dan ditobatkan oleh Sabda Allah, dimurnikan oleh pertobatan, dibangun oleh Ekaristi dan dihidupkan oleh perayaan-perayaan liturgis (Dok. Gerejani, 1992. no. 27).
c. Pendampingan dan Bimbingan
Pendampingan dan bimbingan merupakan bagian dari pembinaan religius muda. Fungsi dari pendampingan dan bimbingan dapat membantu religius muda untuk semakin mampu menghayati nilai-nilai hidup religius. Pada dasarnya formasi selalu menuju kepada kematangan manusiawi yang lebih mendalam dan utuh.
Pendampingan dan bimbingan harus dapat menghantar religius muda sampai kepada kedewasaan iman. Orang beriman yang dewasa adalah orang beriman yang selalu mencari tanpa henti dan terus bergerak menuju ketinggian-ketinggian yang baru. Powell (1991: 148) Untuk membantu religius muda mencapai kedewasaan iman tidak cukup dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan, tetapi yang dikembangkan lebih kepada pandangan dan sikapnya. Dengan demikian diharapkan pribadi tersebut dapat berkembang menjadi pribadi yang kuat dan memiliki kepedulian yang mendalam kepada sesama dan Tarekatnya.
d. Pembina
Dalam pembinaan religius muda, peranan pembina cukup menentukan dalam pembentukan pribadinya. Dikatakan bahwa pendidik utama itu adalah Tuhan sendiri. Namun dalam pembinaan religius muda dibutuhkan pengantara secara formal dalam hal ini seorang pembina atau pembimbing rohani. Pembina hendaknya peka terhadap unsur personal, perbedaan dan keunikan setiap pribadi mengingat bahwa pribadi seorang religius muda memiliki keunikan masing-masing.
Para pembina mempunyai tanggungjawab untuk memberi dengan berbagai cara, bantuan untuk menyuburkan panggilan baik yang bersifat pelajaran, pengarahan rohani dan berbagai keterampilan sesuai dengan tahap pembinaan. Keteladanan menjadi sangat penting bagi hidup religius muda (Darminta, 1994: 45).
Berhadapan dengan permasalahan dalam hidup religius muda dibutuhkan seorang pembina yang memiliki pengalaman akan Allah, kepekaan untuk menanggapi dan mendengarkan, memiliki kematangan emosi serta memiliki cinta terhadap pribadi-pribadi yang dibimbingnya. Dalam membina religius muda harus ada pandangan demi kemajuan dan perkembangan religius muda.
e. Tanggungjawab Pribadi
Panggilan seorang religius bukan hanya keinginan atau perasaan hati saja tetapi dituntut suatu sikap yang baik dan kemampuan untuk menanggung beban hidup membiara (Jacobs, 1987: 265). Oleh karena itu pembinaan juga menjadi tanggungjawab pribadi seorang religius muda dalam proses pembinaan religius tersebut. Proses pembinaan religius muda akan sangat membantu kalau pribadi tersebut memiliki kemampuan untuk menjawab panggilan Allah. Oleh karena itu perlu adanya kesadaran akan pentingnya tanggungjawab dalam membina diri mereka sendiri dan menanamkan di dalam kalbu nilai-nilai hidup religius. Pembina perlu memperhatikan dan menyesuaikan irama hidup setiap individu. Hal yang tidak dapat dikesampingkan adalah kepercayaan akan rahmat Allah. Dengan demikian pribadi religius muda tidak hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri dalam menjawab
panggilan Allah. Jadi mutu panggilan sangat tergantung dari mutu pribadi tersebut dalam menjawab panggilan Allah dengan penuh tanggungjawab (Darminta, 1994: 43).
f. Pengolahan diri
Manusia saat ini semakin menyadari pentingnya memiliki pijakan yang kuat untuk menghadapi dunia sekular. Hidup beriman mendasarkan pengalaman akan Allah secara lebih personal dan mendalam agar mampu menghadapi arus hidup yang semakin menawarkan nilai-nilai duniawi atau manusiawi. Untuk sampai kepada kedalaman hidup batin orang memperkembangkan metode pengolahan hidup berdasarkan ilmu psikologi. Ilmu psikologi mencoba memahami batin manusia yang terbuka dan relasi dengan yang Ilahi. Walaupun ilmu psikologi menggunakan disiplin ilmu empiris namun tetap dalam persfektif hidup beriman. Pengolahan hidup yang dikembangkan oleh psikologi tidak pernah lepas dari kenyataan hidup manusia dalam relasinya dengan Yang Ilahi. Pengolahan hidup berdasarkan psikologi mengajak orang untuk mengolah hidupnya dalam persfektif hidup dalam Tuhan. Peranan doa dalam pengolahan hidup dan pengarahan hidup memiliki peran yang sangat penting (Darminta, 1995: 357).
1) Doa
Berdoa berarti berbicara dengan Allah. Berdoa pada dasarnya merupakan saat mengadakan kontak dengan Allah. Melalui iman Allah menyapa manusia dengan
daya kekuatan rasa Ilahi yang ditanamkan dalam diri dan hati manusia. Allah menyatakan diri maka manusia dapat melihat dan mendengar Allah yang menyapa dan mendatangi batin manusia lewat Yesus Kristus, Kitab Suci dan Gereja-Nya. Lewat itu semua Allah bersabda dengan satu tujuan yakni mengundang manusia untuk hidup bersama diri-Nya dengan demikian manusia semakin menyerupai Allah dalam Putra dengan hidup dalam cinta kasih penuh kemerdekaan yang dilandasi kepercayaan. Allah sendiri yang berkarya membentuk manusia menjadi beriman hidup dalam kepercayaan, bebas dari ketakutan. Manusia mengembangkan kepercayaan diri berdasarkan rasa mendalam bahwa dirinya dicintai oleh Allah. Pengalaman dicintai itulah yang memungkinkan manusia memiliki keberanian untuk hidup dalam cinta dan mencintai. Rasa religius ini menjadi dasar bagi manusia untuk mampu mengembangkan kemampuan untuk berelasi dengan Allah (Darminta, 1995: 360).