• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Penggunaan Narkotika dan Psikotropika

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 175-179)

KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN

4.2 Laporan Penggunaan Narkotika dan Psikotropika

Penggunaan narkotika dan psikotropika di Puskesmas Kecamatan Jatinegara diawasi dengan ketat. Pengawasan penggunaannya dilakukan dengan cara pencatatan manual pada setiap perubahan stok narkotika dan psikotropika pada kartu stok setiap harinya. Selain itu, setiap ada resep dari dokter, penggunaan narkotika dan psikotropika juga dicatat dalam lembar khusus yang berisi tanggal, nama pasien, alamat pasien, nomer resep, nama dokter yang meresepkan dan instalasi atau Poli yang meresepkan, narkotika dan psikotropika yang digunakan serta jumlahnya. Hal ini dapat menjamin bahwa narkotika dan psikotropika yang tersedia di Puskesmas Jatinegara tidak disalahgunakan untuk tujuan yang tidak tepat.

Setiap bulannya, Puskesmas Kecamatan Jatinegara melakukan pelaporan penggunaan narkotika dan psikotropika ke Suku Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten, Dinas Kesehatan Propinsi, dan Kementerian Kesehatan menggunakan sistem online melalui program SIPNAP (Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika) dengan kode unit layanan UL-102361. Sistem ini dikembangkan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI sejak tahun 2008. Program SIPNAP ini mengalami perkembangan dan pembaharuan pada tahun 2012. Pada akhir tahun 2012 program ini sudah diperkenalkan oleh Dinas Kesehatan Propinsi kepada Suku Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dan sudah dapat dioperasikan sejak tahun 2013.

Daftar obat golongan narkotika dan psikotropika yang diatur dan harus dilaporkan penggunaannya. Akan tetapi dari keseluruhan daftar narkotika dan psikotropika yang tercantum, Puskesmas Kecamatan Jatinegara hanya menyediakan obat narkotika berupa codein tablet 10 mg. Sedangkan untuk obat

klorpromazin HCl tablet salut 100 mg, haloperidol tablet 1,5 mg dan 0,5 mg; dan amitriptilin tablet salut 25 mg. Persediaan obat narkotika dan psikotropika ini didasarkan pada prevalensi penyakit pasien dan pola peresepan dokter sehingga tidak terjadi over stok atau stok mati.

Codein tablet 10 mg digunakan sebagai analgesik kuat dan antitusif. Clobazam tablet 10 mg digunakan sebagai antikonvulsi, antiansietas, sedatif, pelemas otot dan amnestik. Diazepam tablet 2 mg digunakan untuk mengatasi gelisah, kejang dan pengobatan jangka pendek pada gejala ansietas. Diazepam injeksi 10 mg/ml digunakan untuk pengobatan kejang dan gejalan ansietas pada kondisi khusus atau darurat seperti tidak sadarkan diri atau ingin membutuhkan onset yang cepat dan segera. Klorpromazin tablet 100 mg digunakan untuk menurunkan gejala dan tanda-tanda psikosis. Haloperidol 0,5 mg dan 1,5 mg tablet digunakan untuk mengobati kondisi gugup, gangguan emosional, dan mental (misalnya, skizofrenia). Amitriptilin tablet digunakan sebagai antidepresan untuk mengatasi gejala psikoaktif. Sedangkan fenobarbital atau luminal tablet 30 mg digunakan sebagai antikonvulsan dan untuk mengobati epilepsi pada dosis subhipnotis.

Berdasarkan Tabel 4.2. dapat dilihat bahwa hanya codein tablet 10 mg yang digunakan dan dilaporan dalam SIPNAP sesuai dengan daftar narkotik yang tercantum pada formulir SIPNAP. Penggunaan codein tablet 10 mg dalam periode Januari – Desember 2013 sangat besar hingga mencapai 9.745 tablet, dengan konsumsi rata-rata tiap bulan sebesar 812 tablet. Hal ini disebabkan karena codein tablet 10 mg banyak diresepkan dokter untuk pasien dengan batuk yang sering dan juga untuk menghilangkan rasa nyeri yang berat terutama pada lansia karena golongan analgesik opoid yang disediakan hanyala h codein tablet 10 mg.

Tabel 4.2. Jumlah Penggunaan Obat Golongan Narkotika di Puskesmas Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur Periode Januari – Desember 2013

No Nama Produk Satuan Total Rata-rata

Tiap Bulan 1 Codein Tablet 10 mg Tablet 9.745 812

Kecamatan Jatinegara diketahui jumlah pemakaian psikotropika terbanyak selama periode Januari sampai Desember 2013 berturut-turut adalah diazepam tablet 2 mg sebanyak 17.099 tablet dengan konsumsi rata-rata tiap bulan 1425 tablet, klorpromazin HCl tablet salut 100 mg sebanyak 10.650 tablet dengan konsumsi rata-rata tiap bulan 888 tablet, phenobarbital tablet 30 mg sebanyak 5.490 tablet dengan konsumsi rata-rata tiap bulannya 458 tablet, haloperidol tablet 1,5 mg sebanyak 2531 tablet dengan konsumsi rata-rata tiap bulan 211 tablet, haloperidol tablet 0,5 mg sebanyak 1.010 tablet dengan konsumsi rata-rata perbulan 84 tablet, amitriptilin tablet salut 25 mg sebanyak 520 tablet dengan konsumsi rata-rata tiap bulan sebanyak 43 tablet dan clobazam tablet 10 mg sebanyak 248 tablet dengan konsumsi rata-rata 21 tablet tiap bulannya. Akan tetapi, diazepam injeksi 10 mg/ml selama periode Januari – Desember 2013 tidak ada pemakaian. Diazepam tablet 2 mg banyak diresepkan oleh dokter-dokter untuk mengobati penyakit kejang, ansietas dan obat penenang serta epilepsi. Hal ini didasarkan pada pola penyakit di Kecamatan Jatinegara yang banyak menderita epilepsi dan stress ringan sehingga membutuhkan obat penenang yang aman. Namun, penggunaan dalam bentuk sediaan injeksi tidak banyak digunakan karena pasien-pasien yang datang ke Puskesmas di Kecamatan Jatinegara tidak dalam kondisi darurat, sekalipun darurat banyak pasien yang lebih memilih rumah sakit dibandingkan Puskesmas.

Tabel 4.3. Jumlah Penggunaan Obat Golongan Psikotropika di Puskesmas Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur Periode Januari – Desember 2013

Nama Produk Satuan Total Rata-rata

Diazepam Tablet 2 mg Tablet 17.099 1.425

Klorpromazin HCl tablet salut 100 mg (HCL) Tablet 10.650 888 Phenobarbital Tablet 30 mg Tablet 5.490 458 Haloperidol tablet 1,5 mg Tablet 2.531 211 Haloperidol tablet 0,5 mg Tablet 1.010 84 Amitriptilin tablet salut 25 mg (HCL) Tablet 520 43 Clobazam Tablet 10 mg Tablet 248 21

Gambar 4.2. Grafik Penggunaan Narkotika dan Psikotropika di Puskesmas Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur Periode Januari – Desember 2013

Pada kenyataannya program SIPNAP 2013 yang telah mengalami perkembangan dan pembaharuan ini masih memiliki kekurangan-kekurangan. Hambatan secara umum misalnya pada unit pelayanan kesehatan, masih banyak mengalami keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang mengerti dan mampu menggunakan teknologi tersebut; sarana dan prasarana yang menunjang, termasuk koneksi internet. Sedangkan pada suku dinas kesehatan, masih terbatasnya sarana dan prasarana yang menunjang, termasuk koneksi internet. Hambatan-hambatan tersebut dapat diatasi dengan adanya pelatihan, sosialisasi, dan forum konsultasi; penyediaan sarana dan prasarana yang menunjang, serta pengembangan program SIPNAP (Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian, 2012).

Sistem SIPNAP ini juga dirasakan belum sempurna. Nama-nama obat psikotropik yang diatur dalam SIPNAP tidak merepresentasikan data keseluruan jenis psikotropik yang disediakan di puskesmas. Hal ini menyebabkan pelaporan narkotika ini belum sepenuhnya baik. Contohnya, di Puskesmas Jatinegara memiliki obat-obat psikotropika seperti diazepam tablet 2 mg, klorpromazin HCl, phenobarbital tablet 30 mg, haloperidol tablet 1,5 mg, haloperidol tablet 0,5 mg

10650 5490 2531 1010 520 248 9745 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 Ju m la h ( u n it )

mencantumkan psikotropik jenis klorpromazin HCl, haloperidol tablet 1,5 mg, haloperidol tablet 0,5 mg, amitriptilin tablet salut 25 mg. Obat-obat psikotropik yang tidak tercantum tersebut hanya terlapor dalam LPLPO saja.

Namun, adanya program SIPNAP ini akan lebih mempermudah pemerintah dalam melakukan pengawasan penggunaan narkotika dan psikotropika. Hal ini akan lebih baik lagi apabila ditunjang program yang lebih bermutu dalam hal kapasitas penggunaan dan kecepatan akses web sehingga kinerja program dapat lebih optimal. Dengan adanya program ini diharapkan pula unit pelayanan kesehatan lebih patuh dalam melaporkan penggunaan narkotika dan psikotropika.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 175-179)