• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suku Dinas Kesehatan Seksi Sumber Daya Kesehatan

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 65-71)

SEKSI SUMBER DAYA KESEHATAN

4.1 Suku Dinas Kesehatan Seksi Sumber Daya Kesehatan

Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) merupakan Unit Kerja lini Dinas Kesehatan dalam pelaksanaan pembinaan, pengembangan, dan pengendalian sumber daya kesehatan. Bidang ini dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas.

4.1.1 Koordinasi Tenaga Kesehatan

Seksi Tenaga Kesehatan merupakan Satuan Kerja Bidang Sumber Daya Kesehatan dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan tenaga kesehatan. Bagian ini dipimpin oleh seorang koordinator dan memiliki tugas antara lain: a. Memberikan rekomendasi/perizinan praktek tenaga kesehatan.

b. Melaksanakan kegiatan bimbingan teknis tenaga kesehatan.

c. Menyusun peta kebutuhan pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan berdasarkan analisa kebutuhan pendidikan dan pelatihan.

d. Melaksanakan monitoring dan pemetaan sumber daya kesehatan.

Analisis ketersediaan tenaga kesehatan di puskesmas dilakukan berdasarkan jumlah minimal tenaga kesehatan yang harus tersedia di puskesmas tingkat kecamatan dan kelurahan. Perhitungan rasio dilakukan untuk melihat kecukupan dan penyebaran tenaga kesehatan di masing-masing kecamatan dan kelurahan dilihat dari jumlah penduduk di setiap kecamatan dan kelurahan.

e. Melaksanakan pemberian perizinan tenaga kesehatan

Terdapat dua jenis izin yang harus dimiliki oleh tenaga kesehatan, yaitu izin kewenangan dan izin kerja atau praktek. Dengan adanya otonomi daerah, ada beberapa izin kerja yang menjadi wewenang sudinkes, yaitu Surat Izin Kerja Asisten Apoteker, Surat/Sertifikat Penanggung Jawab Industri Rumah Tangga Pangan, dan Surat Izin Praktek Tenaga Medis (SIPTM), seperti Surat Izin Praktk Dokter Gigi, Surat Izin Praktek Bidan, Surat Izin Praktek Perawat, dan Surat Izin Praktek Refraksi Optisian.

4.1.2 Koordinasi Standarisasi Mutu Kesehatan

Seksi Standardisasi Mutu Kesehatan merupakan Satuan Kerja Bidang Sumber Daya Kesehatan dalam pengembangan sistem manajemen mutu di Dinas Kesehatan. Bagian ini dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan. Tugas dari bagian ini antara lain:

a. Melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi tingkat kepatuhan petugas kesehatan terhadap standar pelayanan.

b. Melaksanakan kegiatan audit internal dan audit eksternal mengenai penerapan sistem manajemen mutu.

c. Melaksanakan survey kepuasan pelanggan kesehatan.

d. Melaksanakan kegiatan bimbingan, konsultasi, dan pendampingan penerapan sistem manajemen mutu kepada puskesmas.

e. Melaksanakan kegiatan pengembangan mutu melalui forum dan fasilitator. f. Melaksanakan fasilitasi peningkatan kemampuan tenaga fasilitator,

instruktur, assessor, dan auditor mutu pelayanan kesehatan.

4.1.3 Koordinasi Farmasi, Makanan dan Minuman

Seksi Farmasi, Makanan, dan Minuman (Farmakmin) merupakan Satuan Kerja Bidang Sumber Daya Kesehatan dalam pelaksanaan pembinaan, pengawasan, dan pengendalian farmasi, makanan, dan minuman. Bagian ini dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan.

4.1.3.1 Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO)

LPLPO merupakan sarana yang digunakan untuk pencatatan dan pelaporan obat di Puskesmas. LPLPO yang dibuat oleh petugas Puskesmas harus tepat data, tepat isi, dan dikirim tepat waktu serta disimpan dan diarsipkan dengan baik. LPLPO juga dimanfaatkan untuk analisis penggunaan, perencanaan kebutuhan obat, pengendalian persediaan dan pembuatan laporan pengelolaan obat. Data LPLPO merupakan kompilasi dari data LPLPO sub unit. LPLPO dibuat 3 (tiga) rangkap, diberikan ke Dinkes Kabupaten/Kota melalui instalasi

Farmasi Kabupaten/Kota (koordinator Farmasi Makanan dan Minuman). Setelah ditandatangani oleh kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, satu rangkap untuk Kepala Dinas Kesehatan, satu rangkap untuk Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota dan satu rangkap dikembalikan ke Puskesmas. LPLPO sudah harus diterima oleh Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota paling lambat tanggal 10 setiap bulannya.

4.1.3.2 Sistem Pelaporan Narkotik dan Psikotropik

Penggunaan Narkotik dan psikotropik harus dilakukan pelaporan ke Suku Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Saat ini sistem pelaporan SIPNAP dilakukan secara online yang mulai digunakan sejak Januari 2013. Pelaporan narkotika dan psikotropika dilakukan paling lambat tanggal 10 tiap bulannya secara online dan juga dikirim ke Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan dalam bentuk

hardcopy 1 rangkap dan 1 rangkap disimpan sebagai arsip Farmasi di Puskesmas.

Namun, pelaksanaan pelaporan penggunaan narkotik dan psikotropik dengan menggunakan sistem online ini belum berjalan dengan baik di seluruh Puskesmas Kecamatan yang berada di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur, ini disebabkan karena beberapa hal seperti kurang trampil dan terbiasanya apoteker yang bertanggung jawab di puskesmas dengan sistem pelaporan SIPNAP yang baru yang disebabkan kurang berhasilnya proses sosialisasi yang sudah dilakukan oleh Suku Dinas Kesehatan kabupaten/kota terutama mengenai sistem beserta cara mengatasi masalah apabila terjadi kendala teknis seperti kesalahan ataupun gangguan pada sistem.

4.1.3.3 Perizinan Sarana Keseharan Farmasi, Makanan, dan Minuman

Berdasarkan rekapitulasi data yang telah diperoleh, dapat diketahui jumlah data perizinan sarana Farmakmin diantaranya apotek, apotek rakyat, toko obat, dan industri rumah tangga pangan (IRTP) di wilayah Jakarta Timur selama periode Januari hingga Desember 2013.

Tabel 4.1 Jumlah perizinan sarana Farmakmin Jakarta Timur selama tahun 2013 per kabupaten No Kecamatan Jumlah Apotek Apotek Rakyat

Toko Obat PIRT

1 Duren Sawit 18 - 3 6 2 Kramat Jati 10 1 2 3 3 Pasar Rebo 5 1 2 4 4 Cipayung 15 - - 4 5 Ciracas 11 1 2 1 6 Jatinegara 9 6 1 2 7 Matraman 5 9 1 4 8 Makasar 2 - - 3 9 Cakung 6 - 1 3 10 Pulo Gadung 7 1 2 6 Jumlah 88 19 14 36

Tabel 4.2 Pemantauan waktu pelayanan perizinan sarana Farmakmin yang telah

diterbitkan izinnya periode Januari – Desember 2013

No Sarana Jumlah Sarana Memenuhi Standar (<12 HK) Tidak Memenuhi Standar (>12 HK) Jumlah % Jumlah % 1 Apotek 88 88 100 0 0 2 Apotek Rakyat 19 19 100 0 0 3 Toko Obat 14 14 100 0 0 4 PIRT 36 36 100 0 0

Dalam pelayanan perizinan farmasi, makanan, dan minuman, kegiatan monitoring dan evaluasi tingkat kepatuhan petugas kesehatan terhadap standar pelayanan merupakan salah satu tugas Seksi Sumber Daya Kesehatan (SDK), Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Kota Administrasi. Hal ini tercantum dalam Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 150 Tahun 2009 tentang

Kebijakan sistem perizinan dari Kota Administrasi Jakarta Timur adalah melalui sistem satu pintu, yaitu seluruh berkas permohonan dari pemohon harus masuk melalui customer service yang berada di walikota. Setelah itu, dilanjutkan ke Seksi Sumber Daya Kesehatan Koordinator Farmasi, Makanan, dan Minuman di Suku Dinas Kesehatan. Koordinator Farmakmin akan memeriksa kelengkapan berkas sesuai dengan persyaratan kelengkapan berkas. Jika berkas yang ada belum lengkap, staf Koordinator Farmakmin mengembalikan berkas pemohon ke

customer service dan disertai dengan surat pemberitahuan untuk melengkapi

berkas seusai dengan persyaratan.

Jika berkas lengkap, staf Koordinator Farmakmin melakukan proses berkas tersebut untuk diteliti dan ditelaah, lalu membuat ringkasan hasil telaah dan menyerahkannya ke Kepala Seksi SDK. Apabila persyaratan perizinan dinyatakan lengkap, maka Kepala Seksi SDK membuat surat tugas yang telah ditandatangani oleh Kepala Sudinkes untuk melakukan peninjauan lokasi. Hasil peninjauan lokasi dilaporkan ke Kepala Sudinkes untuk diteliti dan dinilai, lalu diserahkan kembali ke Kepala Seksi SDK untuk dibuatkan Surat Keputusan tentang Izin Sarana Kesehatan Farmasi Makanan Minuman sesuai dengan permohonan. Setelah sertifikat perizinan ditandatangani oleh Kepala Sudinkes, berkas tersebut diserahkan ke customer service kantor walikota kemudian diberikan kepada pemohon. Alur lengkap perizinan mulai dari berkas masuk di

customer service sampai surat izin diterbitkan dapat dilihat pada Lampiran 1.

Agar proses perizinan dapat dikontrol, maka harus ditulis dalam buku kendali perizinan. Di dalam buku ini harus tertera tanggal terima berkas pemohon dari customer service di walikota dan tanggal diterimanya berkas permohonan oleh Seksi SDK di Sudinkes, kemudian tanggal diterbitkan surat izin dan keterangan-keterangan lain yang dibutuhkan. Apabila terjadi keterlambatan dalam proses pengeluaran surat izin, maka dapat ditelusuri melalui buku kendali perizinan tersebut. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya, pencatatan pada buku kendali perizinan tidak berlangsung dengan baik, hal ini ditunjukkan dengan adanya beberapa perizinan sarana Farmakmin yang datanya tidak tertulis lengkap di buku kendali, seperti tidak ada pencatatan tanggal surat izin keluar. Sehingga pada proses rekapitulasi data, harus melihat kembali berkas perizinan sarana

Farmakmin yang bersangkutan atau menanyakan langsung kepada petugas yang bertanggung jawab, baru kemudian data di buku kendali tersebut dilengkapi sebagaimana mestinya. Berikut pembahasan mengenai masing-masing sarana Farmakmin di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur yang ada selama bulan Januari hingga Desember 2013.

Jumlah total perizinan apotek yang diterbitkan pada periode Januari 2013 hingga Desember 2013 adalah sebanyak 88 sarana meliputi 77 perizinan baru, 9 perizinan apotek karena pergantian APA, 1 perizinan apotek karena pergantian PSA dan 1 persetujuan instalasi farmasi di rumah sakit. Jumlah total apoteker yang terdaftar bekerja di apotek adalah sebanyak 88 apoteker sebagai apoteker penanggung jawab (APA) dan 34 apoteker pendamping pada apotek tersebut. Hal ini disebabkan karena tidak semua apotek memiliki apoteker pendamping, namun ada 3 apotek yang memiliki 2 orang apoteker pendamping. Berdasarkan waktu perizinan sarana pelayanan FARMAKMIN yang dibutuhkan tidak lebih dari 12 hari kerja.

Jumlah total perizinan apotek rakyat yang diterbitkan pada periode Januari 2013 hingga Desember 2013 adalah sebanyak 19 sarana meliputi 14 perizinan baru dan 5 perizinan apotek rakyat karena pergantian APA. Jumlah total apoteker yang terdaftar bekerja di apotek rakyat adalah sebanyak 19 apoteker sebagai apoteker penanggung jawab (APA) dan tidak ada apoteker pendamping pada apotek rakyat tersebut. Berdasarkan waktu perizinan sarana pelayanan FARMAKMIN yang dibutuhkan tidak lebih dari 12 hari kerja.

Untuk sarana Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP), dapat dilihat bahwa selama tahun 2013 terdapat 36 PIRT yang mengajukan permohonan SPP-IRT.dari 36 permohonan tersebut, ada IRTP yang mendaftarkan produk baru, menambah jenis produknya, maupun yang melakukan penyesuaian nomor terhadap produk yang telah mereka daftarkan sebelumnya. Selain ke 36 PIRT, pada prosesnya ada 1 permohonan PIRT yang melebihi waktu seharusnya (12 hari kerja), yaitu pengurusan izinnya 14 hari kerja. Ketika dikonfirmasi ke penanggung jawab untuk IRTP, hal ini dikarenakan memang IRTP yang bersangkutan cukup bermasalah. Dan sertifikat izin yang diterbitkan pun belum diserahkan ke IRTP tersebut dikarenakan masih ada beberapa poin yang harus diperbaiki.

Dari data yang diperoleh, waktu pengurusan perizinan sarana pelayanan farmakmin (dihitung dari berkas lengkap) yang dibutuhkan tidak lebih dari 12 hari kerja. Hal tersebut menunjukkan kinerja yang baik dan memenuhi peraturan perizinan yang berlaku.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 65-71)