• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laras Bahasa Peradilan

Dalam dokumen Kode Etik PP (Halaman 171-177)

PENANGANAN PERKARA

Ad 2) Laras Bahasa Peradilan

Bahasa peradilan adalah bagian dari bahasa hukum yang agak sulit diubah format dan

pengkalimatannya. Inilah karakteristik yang dimiliki oleh bahasa peradilan. Kendati mempunyai karakteristik tersendiri, tidak lah diartikan hanya dapat dimengerti oleh ahli hukum atau oleh orang-orang yang berkecimpung dalam bidang hukum. Oleh karena itu, secara tepat dikatakan bahwa bahasa dalam hukum, terutama bahasa peradilan, tidak semata-mata milik penegak hukum, ahli hukum, atau mahasiswa hukum saja, melainkan juga milik seluruh masyarakat. Masyarakat itu sendiri, seharusnya dituntut untuk memahami bahasa yang disusun atau ditulis oleh pembentuk hukum atau penegak hukum karena masyarakat tidak terlepas dari permasalahan hukum yang kemungkinan akan dihadapi. Keadaan seperti ini, harus diimbangi dengan

pemahaman para pembentuk hukum atau penegak hukum agar dalam menyusun kalimat hukum digunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat.

Dalam laras bahasa peradilan, pembelajaran dilakukan sesuai dengan tahapan sistem peradilan pidana terpadu (untuk kasus pidana) dan tahapan-tahapan proses perdata, tata usaha negara, agama, dan militer. Dalam bagian ini tidak seluruh proses peradilan dalam empat peradilan dijadikan pembelajaran secara detail, melainkan dicarikan permasalahan umum dikaitkan dengan penggunaan bahasa Indonesia dalam praktik di peradilan. Bahasa peraturan perundang-undangan pada dasarnya sudah banyak mewakili dalam bahasa peradilan dan bahasa kontrak.

Dalam praktik peradilan, penggunaan istilah-istilah hukum baik yang berasal dari bahasa asal maupun bahasa asing juga akan dijadikan pembelajaran. Tidak hanya menghafal sinonimnya, melainkan juga harus memahami isi atau makna kandungannya dalam rangka penyatuan pemahaman sehingga tidak terjadi interpretasi lain atau satu kata diartikan berbeda.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa selama ini terdapat permasalahan terkait dengan bahasa Indonesia hukum, yakni:

• Kebiasaan merumuskan hukum dalam kalimat yang panjang dan banyak anak kalimat;

BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 167

• Penggunaan istilah yang ganda/samar/ambigu;

• Kesulitan memperoleh jemahan yang tepat untuk kata/istilah asing dengan makna yang persis sama;

• Sarjana hukum sering enggan/pelit untuk memberikan penjelasan/pengertian;

• Format bahasa hukum dalam laras bahasa kontrak, peraturan perundang-undangan, notaris, BAP, surat dakwaan, dan putusan sulit untuk diubah;

• Ahli bahasa Indonesia sulit untuk mengoreksi kata atau kalimat bahasa hukum karena khawatir berubah makna.

• Masyarakat awam sering menyamaartikan istilah hukum dengan istilah bahasa Indonesia pada umumnya, padahal setiap istilah hukum mempunyai makna khusus yang telah diistilahkan dalam definisi atau pengertian yang selama ini dituangkan dalam peraturan atau telah ditetapkan dalam yurisprudensi.

Bahasa peradilan dalam proses hukum, titik akhir adalah pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan. Di sanalah hakim dan panitera bekerja untuk merumuskan suatu putusan beserta amarnya, termasuk pemahaman suatu surat dakwaan atau gugatan sebelum sidang diputus. Keseluruhan isi/materi Berita Acara pemeriksaan harus memuat keterangan- keterangan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana di bidang (misal: pajak/bea …………..) yang disangkakan yang merupakan kesimpulan dari jawaban atas pertanyaan sebagai berikut:

a. Siapakah? “siapakah” mengandung pengertian agar dapat menjawab pertanyaan- pertanyaan antara lain:

- siapa tersangkanya;

- siapa saksi yang menguntungkan/merugian tersangka; - siapa yang dirugikan.

b. Apakah? “Apakah” mengandung pengertian agar dapat menjawab pertanyaan antara lain: - Apakah yang telah dilakukan oleh …… atas tersangka tersebut?

- Apakah tindak pidana di bidang …. tersebut menimbulkan kerugian bagi negara? - Apakah perbuatan tersangka tersebut karena kealpaan atau karena kesengajaan. c. Berapakah? “Berapakah” mengandung pengertian agar dapat menjawab pertanyaan

BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 168 - Berapakah jumlah ….. yang tidak atau kurang bayar;

- Berapa lama perbuatan tindak pidana di bidang ……. tersebut telah dilakukan oleh tersangka;

d. Bilamanakah? “Bilamanakah” mengandung pengertian agar dapat menjawab pertanyaan antara lain:

- Bilamana atau kapan tindak pidana di bidang …. tersebut terjadi; - Bilamana atau kapan tindak pidana di bidang ….. tersebut diketahui.

e. Di manakah? “Di manakah” mengandung pengertian agar dapat menjawab pertanyaan antara lain: di manakah tindak pidana di bidang …… itu terjadi.

f. Bagaimanakah? “Bagaimanakah” mengandung pengertian agar dapat menjawab pertanyaan antara lain: bagaimanakah tindak pidana di bidang …… tersebut dilakukan. g. Dengan apakah? “Dengan apakah” mengandung pengertian agar dapat menjawab

pertanyaan antara lain: Dengan apakah tersangka melakukan tindak pidana di bidang ……... .

h. Mengapakah? “Mengapakah” mengandung pengertian agar dapat menjawab pertanyaan antara lain: mengapakah tersangka melakukan tindak pidana di bidang perpajakan.

Apabila berita acara pemeriksaan akan ditutup, diadakan pertanyaan- pertanyaan penututp yang isinya sebagaimana diatur dalam KUHAP, antara lain: – Apakah terperiksa sudah memberikan keterangan yang benar dan tidak berubah di kemudian hari, – Apakah masih ada keterangan lain yang perlu ditambahkan, – Apakah terperiksa bersedia mengangkat sumpah/janji untuk

menguatkan kebenaran semua keterangan yang telah dberikan.

Pelaksanaan pembuatan berita acara pemeriksaan pada dasarnya dapat berbentuk cerita atau pernyataan secara kronologis. Bentuk tanya jawab dan bentuk gabungan antara cerita dengan tanya jawab dapat dilakukan karena dapat memberikan gambaran atau konstruksi suatu tindak pidana di bidang …….. yang terjadi.

Ad. 4. Laras Bahasa Notaris

Notaris adalah sebuah profesi yang dapat dilacak balik ke abad ke 2-3 pada masa roma kuno, dimana mereka dikenal sebagai scribae, tabellius atau notarius. Pada masa itu, mereka adalah

BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 169 golongan orang yang mencatat pidato. Istilah notaris diambil dari nama pengabdinya, notarius, yang kemudian menjadi istilah/titel bagi golongan orang penulis cepat atau stenografer. Notaris adalah salah satu cabang dari profesi hukum yang tertua di dunia.

Jabatan notaris ini tidak ditempatkan di lembaga yudikatif, eksekutif ataupun yudikatif. Notaris diharapkan memiliki posisi netral, sehingga apabila ditempatkan di salah satu dari ketiga badan negara tersebut maka notaris tidak lagi dapat dianggap netral. Dengan posisi netral tersebut, notaris diharapkan untuk memberikan penyuluhan hukum untuk dan atas tindakan hukum yang dilakukan notaris atas permintaan kliennya. Dalan hal melakukan tindakan hukum untuk

kliennya, notaris juga tidak boleh memihak kliennya, karena tugas notaris ialah untuk mencegah terjadinya masalah.

Pada tahun 2000, dikeluarkan sebuah Peraturan Pemerintah Nomor 60 yang membolehkan penyelenggaraan spesialis notariat. PP ini mengubah program studi spesialis notaris menjadi program magister yang bersifat keilmuan, dengan gelar akhir magister kenotariatan. Yang mengkhendaki profesi notaris di Indonesia adalah Pasal 1868 KUHPerdata yang berbunyi: “Suatu akta otentik ialah suatu akta di dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, yang dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu ditempat dimana akta dibuatnya.” Sebagai pelaksanaan Pasal tersebut, diundangkanlah Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (sebagai pengganti statbald 1860 nomor 30).

Menurut pengertian Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 dalam Pasal 1 disebutkan definisi notaris, yaitu: “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana maksud dalam undang-undang ini.” Pejabat umum adalah orang yang menjalankan sebagian fungsi publik dari negara, khususnya di bidang hukum perdata.

Bentuk dan sifat akta notaris terdiri dari tiga bagian, yakni bagian awal akta atau kepala akta, badan akta, dan akhir kata atau penutup.

ad. 5. Istilah Hukum

Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yang menempatkan bahasa itu sebagai bahasa resmi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan bahasa pengantar pendidikan serta bahasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memerlukan pengembangan kata

BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 170 atau istilah dalam berbagai bidang. Kekayaan kosa kata suatu bahasa dapat menjadi indikasi kemajuan keberadaban bangsa pemilik bahasa itu karena kosakata, termasuk istilah, merupakan sarana pengungkap ilmu dan teknologi serta seni.

Sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama perkembangan hukum dan pembentukan peraturan perundang-undangan, perkembangan kosa kata atau istilah hukum terus menunjukkan perkembangan dan bertambah. Pertambahan ini diakibatkan karena perkembangan hukum itu sendiri, baik karena pengaruh hukum negara lain maupun karena hubungan internasional antarbangsa sehingga banyak serapan kata atau istilah hukum yang terus membanjiri pembentukan hukum.

Hukum di Indonesia tidaklah murni berasal dari bangsa sendiri, melainkan berasal dari negara lain, terutama negara yang telah menjajah negara kita, yakni Belanda, yang hampir 3 abad lamanya menduduki Indonesia. Pengaruh penjajahan Belanda sangat besar terhadap

perkembangan hukum di Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, pengaruh hukum lain, selain sistem hukum Kontinental yang dibawa oleh Belanda, juga berkembang di negara kita akhir- akhir ini yakni pengaruh hukum Anglo Saxon/Common Law System.

Penggunaan kata atau istilah hukum semakin meluas di Indonesia juga karena dipengaruhi oleh perubahan tatanan kehidupan dunia yang baru, yakni globalisasi dan batas-batas negara yang sudah tidak lagi bisa dipertahankan karena perkembangan teknologi dan transportasi. Tatanan tersebut telah mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat dalam berbagai sendi kehidupan. Penggunaan kata dan ungkapan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa. Bahasa hukum yang berasal dari sistem hukum Common Law (yang

berbahasa Inggris) berkembang sangat pesat di Indonesia, termasuk sistem hukum Islam dan hukum-hukum dari negara lain, misalnya, Cina, Rusia, dan Amerika Latin.

Bagi pengguna hukum, untuk memudahkan memahami suatu kata atau istilah hukum, selain buku-buku hukum, juga kamus hukum dan glosarium undang-undang. Kamus hukum yang beredar di Indonesia beragam cara pemaknaan atau pendefinisiannya, tergantung penulis atau pengumpulnya yang sering berbeda pemahaman antara yang satu dengan yang lain. Hal ini bukan karena pandangannya sendiri, melainkan karena para ahli hukum sering berbeda pendapat tentang suatu istilah. Sampai ke putusan pengadilan pun, pendapat hakim yang satu dengan yang

BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 171 lain bisa berbeda karena suatu istilah hukum dapat diinterpretasikan. Selain itu, istilah-istilah hukum tersebut bersemantik dan bersemiotik, baik dalam frasa, kata, maupun lambang.

Makna “di depan umum” dalam delik kesusilaan/kesopanan (zeden, eerbaarheid), misalnya, ada yang mengartikan “di tempat yang dapat dilihat dan dikunjungi oleh orang banyak” atau

“khalayak ramai” atau “cukup di muka orang lain, tidak perlu banyak”. Makna zeden atau

eerbaarheid itu sendiri juga dapat menimbulkan penafsiran yang berkepanjangan. Ada yang berpendapat bahwa kesusilaan tersebut diartikan adanya perasaan malu terkait dengan nafsu kelamin atau lebih luas daripada itu yakni merusak kehormatan.

Perhatikan istlah-istilah di bawah ini: badan hukum (diakui

sebagai subjek hukum) agitasi (hasutan) agamie (kumpul kebo) curatele (di bawah pengampuan) hak prerogatif investigasi

ius soli dan ius sanguinis interpretasi tantieme (keuntungan) taxatie (taksiran) batang tubuh korporasi delik formil delik materiil percobaan makar permufakatan jahat putusan keputusan penetapan pengesahan penyelidikan penyidikan putusan bebas putusan lepas ancaman kekerasan memalsu membuat palsu anak kekuasaan bapak transfer transito rahasia dagang rahasia bank zakat visa visa kerja visa wisata tindakan kepolisian polisional

BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 172 nepotisme wasiat waqaf dwangsom deponir deportasi bundel kompensasi restitusi eksibisionis penganiayaan cabul KDRT

nullum delictum sine praevia lege poenali ne bis in idem penghinaan penistaan meniru euthanasia partai mudarabah musyarakah penanaman modal utang utilitas umum gijzeling melawan hukum kontramemori banding maatregel

BAHASA INDONESIA BAKU DAN KEGIATAN BERKOMPOSISI

Dalam dokumen Kode Etik PP (Halaman 171-177)