PENANGANAN PERKARA
3. Menerima Informasi melalui IT (Case Tracking System (CTS) /Informasi Penelusuran Perkara (SIPP), email, Digital Audio Recording (DAR)).
a. SistemInformasi Penelusuran Perkara (SIPP/Case Tracking System).
b. Digital Audio Recording/Rekaman Audio Digital. Kualitas berita acara akan berkurang bila informasi yang diterima tidak dimengerti atau tidak ditangkap secara detil. Untuk meningkatkan kualitas berita acara, beberapa pengadilan negeri telah dilengkapi oleh alat perekam audio digital seperti sistem FTR Gold dan sistem portable FTR Reporter Deck. Pengadilan-pengadilan yang paling sering menggunakan alat perekam audio digital tersebut telah menyatakan bahwa unit-unit tersebut menjadi sangat bermanfaat untuk meninjau dan mencatat kejadian-kejadian yang terjadi dalam persidangan, terutama untuk perkara yang tergolong berat dan kompleks.
c. Email/Website Persiapan Komunikasi 3.
Prinsip dasar yang harus dijadikan pedoman dalam mempersiapkan pertemuan untuk berkomunikasi:
BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 139 Why? Mengapa komunikasi perlu diselenggarakan? Hal ini untuk menentukan
urgensi dari komunikasi tersebut.
What? Apa masalah yang akan dibicarakan dalam pertemuan tersebut? Hal ini untuk mempersiapkan agenda pertemuan komunikasi.
Who? Siapa saja yang akan diundang dalam pertemuan tersebut? Hal ini untuk menentukan peserta pertemuan yang diundang.
Where? Di mana pertemuan akan diselenggarakan? Hal ini untuk menentukan tempat penyelenggaraan pertemuan.
When? Kapan komunikasi akan diselenggarakan? Hal ini untuk menentukan hari, tanggal dan waktu pertemuan untuk berkomunikasi akan diselenggarakan.
How? Bagaimana komunikasi tersebut akan diselenggarakan ? Hal ini untuk menentukan apakah komunikasi tersebut akan diselenggarakan secara berkala atau hanya satu kali, tertutup atau terbuka, dengan bahan komunikasi yang dibagikan terlebih dahulu, atau dengan menggunakan LCD projector, tape, video dan alat lainnya Teknik Mendengar Secara Aktif (Active Listening)
4.
Mendengarkan secara aktif adalah ketika anda melakukan usaha secara sadar untuk mendengarkan bukan hanya kata-kata yang diucapkan orang lain, tapi yang lebih penting adalah berupaya untuk memahami pesan yang disampaikan secara menyeluruh.
Berikut ini adalah beberapa teknik untukj mendengar secara aktif: i. Pilihlah suatu lingkungan yang kondusif untuk mendengarkan ii. Bersihkan pikiran anda
iii. Ulangilah frasa-frasa/istilah-istilah penting dalam hati iv. Akuilah si pembicara
v. Dorong pembicara untuk terus berbicara.
vi. Jangan siapkan bantahan pada saat pembicara sedang berbicara vii. Ajukan pertanyaan klarifikasi apabila anda tidak mengerti viii. Catatlah frasa-frasa penting pada sehelai kertas
BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 140 x. Usahakan untuk menetralisir emosi yang negative
xi. Berikan respon yang layak
L = Look interested – get interested Tampak tertarik
I = Involve yourself by responding Libatkan diri anda dengan memberikan tanggapan S = Stay on Target Tetaplah berada pada Target
T = Test Your Understanding Uji Pemahaman Anda E = Evaluate the Message Evaluasi Pesannya N = Neutralize Your Feelings Netralkan Pesan Anda
Penjelasan singkat mengenai keterampilan menerima informasi 5.
Keterampilan menerima informasi (language arts, language skills) dalam hal ini dibagi menjadi empat segi yaitu:
Keterampilan menyimak (listening skills) Keterampilan berbicara (speaking skills) Keterampilan membaca (reading skills) Keterampilan menulis (writing skills)
Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan ketiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Dalam keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang terakhir mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita membaca dan menulis. Dari keempat keterampilan tersebut diatas pada dasarnya merupakan satu kesatuan dan catur tunggal.
Setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya, semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti melatih keterampilan berpikir
BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 141 Teknik mencatat secara efektif (mind mapping)
6.
Mind Mapping adalah sebuah cara mencatat dengan memanfaatkan bagaimana otak bekerja. Teknik ini diperkenalkan oleh Tony Buzan, seorang ahli dan penulis produktif di bidang psikologi, kreativitas dan pengembangan diri. Menurut Buzan, otak bekerja dengan gambar dan asosiasi, dan cara mencatat Mind Mapping juga mengandalkan gambar dan asosiasi tersebut.
Pada teknik Mind Mapping, Anda akan mencatat menggunakan kata kunci (keyword) dan gambar. Perpaduan dua hal tadi akan membentuk sebuah asosiasi di kepala Anda dan ketika Anda melihat gambar tersebut maka akan terjelaskan ribuan kata yang diwakili oleh kata kunci dan gambar tadi.
Berikut contoh sederhana: Coba bayangkan kata “jeruk”. Ketika Anda membayangkan sebuah jeruk, maka Anda melihat buah yang berwarna kuning, rasa yang kadang manis dan kadang sedikit asam, atau segelas jus jeruk yang menyegarkan.
Pernahkah ketika mendengar kata jeruk yang terbayang di benak Anda adalah huruf-huruf J-E-R-U-K? Kecil kemungkinan hal itu yang Anda bayangkan. Demikianlah dalam Mind Mapping, Anda cukup menuliskan kata kunci yang mewakili dan gambar yang paling sesuai dengan asosiasi dan preferensi Anda
Teknik membaca dan memahami tulisan dengan cermat dan efektif 7.
Untuk dapat membaca efektif, pertama, harus memahami tujuannya. Pastinya, membaca dilakukan untuk memperoleh informasi, menambah wawasan, atau sekadar menghibur diri. Berikut sejumlah teknik yang lazim digunakan dalam membaca, disesuaikan dengan tujuannya.
1. Membaca sekilas (scanning). Teknik lni digunakan untuk mencari informasi tertentu dari suatu buku atau makalah, seperti sebuah definisi atau judul bab tertentu. Misalnya, jika sedang membuat tinjauan tentang sebuah novel dan mendadak lupa nama salah seorang tokoh yang mati dalam pertempuran. Pembaca tidak perlu membaca keseluruhan novel untuk mengetahui hal itu, cukup membaca sekilas pada bagian yang memuat kejadian pertempuran tersebut.
BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 142 2. Skimming. Teknik ini mirip dengan scanning, hanya saja tujuannya untuk mendapat
gambaran ringkas akan isi suatu buku atau makalah. Jika seseorang mendapat tugas membaca lima judul buku dan harus membuat tinjauannya dalam waktu kurang dari tiga hari, mungkin tidak dapat menyelesaikannya jika harus membaca buku itu satu per satu. Cukup membaca secara skimming dan kembangkan tinjauan berdasarkan gambaran umum yang diperoleh. 3. Teknik Pengulangan. Teknik ini banyak digunakan untuk membaca materi pelajaran yang baru. Membaca dilakukan dengan lebih perlahan, mendalam dan terkadang diulang-ulang, sehingga terserap dalam ingatan. Untuk mengulang, dapat digunakan teknik skimming. 4. Mengeja. Teknik ini digunakan jika menyangkut istilah asing atau teknis, misalnya fenilpropanolamina HCI. Tujuannya agar pengejaan nama tidak salah dan nama tersebut benar-benar masuk dalam ingatan.
5. Mencatat. Kalau sudah menyangkut materi bacaan yang banyak, catatan-catatan kecil berupa kata kunci atau jembatan keledai akan sangat membantu mengingat keseluruhan bacaan.
Teknik untuk me-review
8.
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat melakukan review laporan/jurnal/ artikel/karya ilmiah, adalah sbb:
1. Jangan pernah percaya bahwa sebuah naskah/tulisan/laporan itu sempurna. Harus diasumsikan bahwa pasti ada data yang dapat diperbaiki atau ditambahkan. 2. Bacalah bagian pengantarnya, dan coba cari informasi berikut:
a. Tujuan dari laporan/tulisan yang dibuat.
b. Mengapa penulis membuat laporan/tulisan itu? Sisi manakah yang menarik dan signifikan?
c. Apakah penelitian itu mengemukakan satu pendekatan baru terhadap masalah yang sudah ada, ataukah memakai metode yang sudah ada untuk memecahkan satu aplikasi baru yang menarik, ataukah baik pendekatan maupun aplikasinya semua baru?
d. Masalah apakah yang ingin dijawab oleh penulis? (problem formulation) 3. Bacalah bagian diskusi, dan coba cari informasi berikut:
BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 143 a. Solusi apakah yang dipakai oleh penulis untuk menjawab pertanyaan yang kjerap
muncul?
b. Bagaimana penulis merancang eksperimen untuk menguji sistem yang dibuat ? c. Apakah eksperimen itu berhasil ?
d. Apakah ada contoh eksperimen yang tidak berhasil ? (mestinya selalu ada, karena tidak ada penelitian yang sempurna). Bagaimana penulis membahas penyebabnya ? Ataukah penyebab itu tidak dibahas sama sekali ?
4. Bacalah bagian kesimpulan/conclusion dan coba cari informasi berikut:
a. Apakah kesimpulan itu menjawab semua pertanyaan yang diajukan pada bagian sebelumnya?
b. Dimanakah letak kontribusi terbesar dari tulisan itu ? c. Apakah ada masalah yang masih belum diselesaikan ?
5. Apakah anda memiliki ide lain untuk memecahkan masalah yang sama?
6. Dimanakah kelemahan dari naskah/tulisan/laporan yang anda baca? (isi, penyajian, dsb) 7. Bisakah anda memperbaiki kelemahan tersebut?
Teknik menulis cepat 9.
Seseorang mampu menulis dengan cepat dan tepat apabila yang bersangkutan menguasai tiga hal yaitu:
1. Memahami materi yang akan ditulisnya
2. Menguasai bahasa yang dipergunakan untuk menuliskan materi 3. Disiplin (mentaati dead-line).
Tanpa ketiga hal tersebut di atas, menulis cepat dan tepat akan sulit diwujudkan. Teknik mind-mapping, seperti yang telah disebut di atas, juga efektif dalam membantu menulis cepat. Mind-mapping tersebut juga sering disebut sebagai “Menulis Dalam Kepala”. ‘Menulis dalam kepala (MDK) menurut pengalaman berbagai ahli komunikasi sangat cocok diterapkan oleh mereka yang dituntut menulis cepat. Hal ini ditegaskan oleh pengalaman Gary Provost yang menulis buku laris berjudul 100 Ways To Improve Your Writing.
BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 144 MDK bisa dilakukan dengan lancar apabila yang menjalankannya dengan senang, rileks dan menganggap itu suatu kebutuhan hidup. Maka dari itu, meskipun tidak sedang di depan mesin tulis, maka berlaku/bertindak seperti sedang di depan mesin tulis. Yang dilakukan antara lain:
1. Membuat/menentukan judul 2. Menentukan plot tulisan
3. Menganalisa hal-hal yang perlu ditonjolkan dalam tulisan 4. Membuat kesimpulan
5. Memikirkan strukur 6. Mereka-reka gaya bahasa 7. Memikirkan panjang tulisan
Apabila kita sudah menguasai ketujuh unsur di atas, maka teknik untuk menulis cepat akan lebih mudah untuk segera dikuasai, yang akan sangat membantu dalam proses membuat berita acara persidangan, tugas pokok Panitera Pengganti yang bisa dibilang paling penting.
Agar tetap in the mood sebagai penulis cepat, maka perlu memposisikan diri sebagai pencatat yang produktif dalam persidangan. Maksudnya, pencatat yang mampu menulis sesuai dengan tugas yang diberikan dalam persidangan. Kuncinya, harus senantiasa memposisikan diri sebagai penulis cepat dengan bekal:
1. Terus mengembangkan dan memperluas wawasan pengetahuan yang diperlukan untuk menulis cepat. Cara yang paling baik adalah membaca buku-buku yang ada kaitannya dengan materi tersebut.
2. Banyak bergaul (mingle) dengan para pakar dan praktisi yang ada kaitannya dengan Butir 1, agar dapat menghasilkan berita acara yang mudah dibaca dan sistematis. 3. Meningkatkan kemampuan menulis (berikut editing) melalui praktik menulis dan
membaca tulisan Panitera Pengganti senior yang Anda anggap baik dalam hal penulisan berita acara persidangan.
4. Meningkatkan kemampuan penguasaan bahasa (multi bahasa) untuk memperkuat gaya penulisan.
BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 145 6. Menjaga kesehatan secara optimal agar tahan menulis berjam-jam atau menulis
dalam kondisi tekanan (dikejar deadline).
7. Rajin mempraktikkan metode MDK (menulis dalam kepala). AKTIVITAS
C.
Aktivitas Waktu
Peserta langsung diperkenalkan kepada penulisan mind mapping yang kemudian dipraktikkan selama mata pelajaran ini.
Lembar Tugas 8 – Membuat mind mapping untuk sesi ini.
90 menit
Lembar Tugas 9 – Mind Mapping dari simulasi/video persidangan 75 menit
Kesimpulan 15 menit
BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 146 SUMBER-SUMBER
D.
Pada daftar di bawah ini dapat dilihat uraian bahan bacaan terkait setiap sub pokok bahasan yang akan disampaikan oleh pemberi materi. Untuk memudahkan proses pembelajaran, bahan-bahan bacaan yang ada di dalam daftar ini telah disediakan pada bagian lampiran dalam bahan ajar ini:
1. Peraturan Perundang-undangan.
a. Indonesia, Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
b. Indonesia, UndangUndang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik
c. Indonesia, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
d. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.0543 a/U/1987, tg l 9 September 1987, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan,
Pustaka Widyatama, Jakarta, 2006. 2. Literatur.
a. Edmon Makarim, Pengantar Hukum Telematika, Rajawali, Jakarta, 2005 b. Suranto Aw, Komunikasi Interpersonal, Graha Ilmu, Jakarta, 2011
c. Buku-buku tentang praktek-praktek komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pedoman Pelaksanaan
a. SEMA dan PERMA terkait .
b. Buku II Mahkamah Agung tentang Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan
BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 147
BAB 7 – BAHASA INDONESIA UNTUK PROFESI HUKUM
TUJUAN HASIL BELAJAR
A.
Peserta dapat menjelaskan dasar-dasar (asas-asas) bahasa Indonesia untuk bidang hukum;
Peserta dapat menggunakan istilah istilah hukum; Peserta dapat mengerjakan kegiatan berkomposisi;
Peserta dapat memilih penggunakan kata/frasa bahasa asing yang sesuai;
Peserta dapat menggunakan bahasa Indonesia praktis sehari hari dengan tepat dan benar;
Peserta dapat membaca cepat dengan pemahaman yang tepat dan benar;
Peserta dapat mengembangkan berbagai gagasan dan menuliskannya dengan tepat dan benar untuk kebutuhan hukum.
URAIAN MATERI
B.
Pokok bahasan ini berisi penjelasan mengenai bahasa indonesia hukum dan penerapannya yang meliputi kemampuan lisan, menulis, maupun membaca cepat. Pemberi materi
diharapkan dapat memaparkan konsep berbahasa Indonesia yang baik (misalnya cara merumuskan suatu kalimat dengan jelas) dan penggunaannya dalam putusan/penetapan. Materi kemampuan berbahasa lisan dan menggunakan struktur dan tata bahasa Indonesia yang baik.
Latar Belakang
Bahasa Indonesia hukum termasuk bahasa Indonesia sehingga bahasa Indonesia hukum harus tunduk pada kaidah tata bahasa Indonesia, baik yang menyangkut pembentukan kata,
penyusunan kalimat, maupun pengejaannya. Namun perlu disepakati bahwa bahasa Indonesia hukum mempunyai corak atau gaya yang khas yang bercirikan kejernihan pengertian.
BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 148 Sebagaimana dipahami bahwa kejelasan dan kepastian hukum sangat diperlukan oleh
pengguna (masyarakat) dan pemerintah (pelaksana) karena kejelasan dan kepastian hukum adalah bagian dari efektivitas dari hukum tersebut yang ditandai dengan adanya kepatuhan masyarakat terhadap hukum dan terwujudnya penegakan hukum yang dilaksanakan oleh penegak hukum (penyidik, penuntut umum, hakim, dan advokat).
Bagian yang lain dari bahasa Indonesia hukum adalah istilah-istilah hukum yang diserap (atau belum/sulit diserap) ke dalam bahasa Indonesia yang mempunyai makna khas. Istilah-istilah hukum tersebut sering digunakan dalam bahasa laras-laras bahasa hukum (terkait dengan semantik dan semiotik, baik dalam frasa, kata, maupun lambang).
Pemahaman bahasa Indonesia hukum dan istilah-istilah hukum oleh pengguna hukum harus mudah, sama, dan satu pendapat (pengertian) agar tidak terjadi salah tafsir. Pemahaman ini merupakan dilema bagi pengguna hukum karena di satu sisi pengguna harus hati-hati
membacanya satu demi satu, tetapi di sisi lain, pengguna hukum juga dituntut untuk membaca secara cepat karena tuntutan penyelesaian perkara yang begitu banyak. Jika pengguna hukum sudah dilandasi oleh penguasaan kosa-kata/perbendaharaan kata (terutama istilah hukum) yang banyak, maka membaca dengan cepat bukanlah masalah.
Deskripsi Singkat
Sengaja judul ini dipilih Bahasa Indonesia Hukum mengingat ruang lingkup judul ini
mempunyai arti yang lebih luas karena meliputi laras bahasa peraturan perundang-undangan, laras bahasa notaris, laras bahasa kontrak, dan laras bahasa peradilan sebagai bagian dari bahasa hukum. Telah kita ketahui bersama bahwa bahasa hukum di atas adalah bahasa Indonesia yang tunduk pada kaidah tata bahasa Indonesia, baik yang menyangkut pembentukan kata, penyusunan kalimat, maupun pengejaannya.
Maksud dari penulisan modul ini adalah agar para pengguna hukum atau peserta diklat dapat lebih memahami mengenai bahasa Indonesia hukum yang kemudian akan digunakan dalam membuat putusan atau penetapan di pengadilan. Adapun mata pendidikan dan pelatihan ini menjelaskan mengenai dasar-dasar bahasa Indonesia hukum, kegiatan berkomposisi,
BAHAN AJAR DIKLAT CALON PANITERA PENGGANTI LINGKUNGAN PERADILAN UMUM | 149 penggunaan kata atau frasa bahasa asing, penggunaan istilah hukum dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan cara memahami bahasa praktis.