BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada era globalisasi seperti sekarang ini, dunia bisnis mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal tersebut membuat persaingan antar bisnis semakin lama menjadi semakin ketat. Situasi seperti ini menuntut para pelaku bisnis untuk merumuskan sekaligus menerapkan strategi-strategi bisnis agar tidak hanya dapat bertahan dan mengembangkan bisnis yang dijalani namun juga dapat bersaing dalam merebut dan mengusai pangsa pasar yang ada, untuk itu strategi menjadi kunci dari pencapaian keunggulan bersaing dan keberhasilan sebuah bisnis.
Strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai tujuan (Rangkuti, 2014). Sedangkan menurut Pearce dan Robinson (2008) Strategi adalah rencana manajer yang berskala besar dan berorientasi kepada masa depan untuk berinteraksi dengan lingkungan persaingan guna mencapai sasaran-sasaran perusahaan. Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu strategi merupakan rencana jangka panjang dilakukan perusahaan untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan lingkungan perusahaan baik secara internal maupun eksternal untuk memperoleh keunggulan bersaing. Mengahadapi persaingan, pelaku bisnis membutuhkan suatu strategi yang terpadu yang dapat mengantisipasi dampak dari suatu kejadian dan mampu bertindak proaktif atau inovatif untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan bersaing.
Kemampuan untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan bersaing dapat dilakukan antara lain dengan menetapkan stategi bisnis yang tepat.
Dalam menghadapi persaingan pasar yang ketat, pembedaan dalam menetapkan kreativitas strategi yang dilakukan pelaku bisnis menjadi suatu keharusan. Keunggulan dasar yang diperoleh pelaku bisnis ketika mampu menerapkan kreativitas strategi yang dilakukan dapat meningkatkan kinerja pemasaran. Perilaku kreatif seseorang dipengaruhi oleh motivasi berkreativitas, kebebasan dan sumber daya manusia. Seseorang akan berperilaku kreatif jika mempunyai motivasi intrinsik tinggi, tertarik, menikmati, dan puas atas tantangan dalam pekerjaannya, dalam hal ini membuat strategi bisnis yang tepat guna.
Dalam memilih strategi keunggulan bersaing yang tepat untuk diterapkan oleh sebuah bisnis, pelaku bisnis perlu melihat situasi dan kondisi pasar serta menilai kedudukan atau posisi usaha bisnis di pasar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara analisis terhadap lingkungan bisnis baik lingkungan eksternal maupun lingkungan internal, biasanya disebut dengan analisis SWOT. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengidentifikasi peluang (opportunity) dan ancaman (threat) yang berasal dari lingkungan eksternal bisnis serta mengidentifikasi kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) yang berasal dari lingkungan internal bisnis. Saat ini, salah satu persaingan bisnis terjadi sangat ketat pada bisnis yang bergerak dibidang kuliner. Hal ini dikarenakan pesatnya perkembangan bisnis pada bidang kuliner diberbagai kota termasuk di Kota Medan.
Berdasarkan data dari Wikipedia, Kota Medan adalah Ibu kota provinsi Sumatera Utara. Kota ini merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Kota Medan merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan untuk menuju objek
wisata Berastagi di daerah dataran tinggi Karo, objek wisata Oragutan di Bukit Lawang dan Danau Toba. Kota Medan juga sebagai daerah pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka. Kota Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk) kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri (ekspor-impor). Posisi geografis Kota Medan telah mendorong perkembangan kota dalam pertumbuhan secara fisik yaitu daerah Belawan dan Kota Medan. Kehadiran Kota Medan sebagai suatu bentuk kota memiliki proses perjalanan sejarah yang panjang dan kompleks. Hal ini dibuktikan dengan perkembangan daerah yang disebut dengan ―Kota medan‖
yang menuju pada bentuk kota Metropolitan. Sebagai hari lahir Kota Medan adalah 1 Juli 1590 sampai saat ini usia Kota Medan tercapai 429 tahun.
Dari sekian banyak jumlah penduduk di Kota Medan, sebagian orang memilih berbisinis dibidang kuliner khususnya para pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) UMKM merupakan usaha produktif milik orang perorangan dan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana dibatasi di dalam undang-undang. Pemberdayaan Usaha UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) menjadi sangat strategis, karena potensinya yang besar dan mengerakkan kegiatan ekonomi masyarakat, dan sekaligus menjadi tumpuan sumber pendapatan sebagian besar masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan.
Tabel 1.1
Perkembangan Jumlah UMKM Menurut Sektor Ekonomi Tahun 2013-2017
PROVINSI Jumlah (unit)
2013 2014 2015 2016 2017
SumateraUtara 2.823.210 2.855.399 2.855.594 2.855.847 2.857.124 Sumber : Dinas Koperasi Sumut 2018
Tabel 1.1 Menurut Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sumatera Utara menunjukkan perkembangan jumlah usaha UMKM menurut sektor ekonomi tahun 2013-2017. Eksistensi dan peran UMKM pertumbuhannya sangat diperhatikan oleh pemerintah karena pertumbuhannya dari tahun ke tahun yang semakin meningkat, pencapaian untuk pengembangan Wirausahawan UMKM sebesar 50.47% di berbagai kegiatan dan pelatihan bagi UMKM di Sumatera Utara. Hal demikian akan mengurangi tingkat kemiskinan dalam perkembangan nasional.
Data Perencanaan Pembangunan Nasional, badan statistik memprediksi jumlah pelaku usaha mikro kecil, menengah (UMKM), Cafe sering dijadikan orang sebagai tempat nongkrong karena lokasinya yang startegis, sehingga sebagai tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu sambil ngobrol, memperluas jaringan pertemanan, mengerjakan tugas atau berdiskusi tentang topik-topik yang akan dibahas, tempat berkumpul sebuah keluarga atau kerabat, bahkan bisa dijadikan tempat meeting bagi para pekerja atau pengusaha dalam membicarakan pekerjaannya, dan masih banyak juga di lakukan oleh orang-orang di Cafe, oleh karena itu perkembangan Cafe sangat pesat di Kota Medan.
Berdasarkan Data Dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah usaha rumah makan atau Restoran berskala Menengah dan Besar di Sumatera Utara yaitu:
Tabel 1.2
Jumlah Usaha Restoran/Rumah Makan menurut Provinsi tahun 2010 PROVINSI JUMLAH USAHA PRESENTASE (%)
Sumatera Utara 167 5.7 %
Sumber : Badan Pusat Statistik 2010
Tetapi walaupun banyak juga Cafe di Kota Medan ada juga Cafe yang tidak dapat bertahan lama dalam menjalankan kegiatan usahanya karena kurang tepatnya startegi bisnis yang dilakukan. Oleh karena itu pengusaha dituntut untuk dapat menjalankan usahanya dengan strategi bisnis yang tepat untuk mempertahankan kelangsungan usahanya dari tahun ke tahun.
Cafe The Coffee Town yang berada di Jl. Ngumban Surbakti, Medan Selayang, di Kota Medan yang merupakan salah satu bisnis Usaha Menengah dibidang kuliner dengan nuansa modern yang mampu menyajikan berbagai macam menu makanan, walaupun namanya Coffee tetapi bisnis ini lebih bergerak pada bidang kuliner karena banyak jenis atau varian makanan di Menu Cafe ini dan juga jenis minuman-minuman rasa di Menu yang ditawarkan Cafe The Coffee Town. Berbagai macam strategi telah diterapkan pada Cafe The Coffee Town untuk dapat merebut dan menarik perhatian pelanggan serta dapat mengimbangi persaingan yang cukup ketat dalam dunia bisnis, mulai dari tempat yang bernuansakan modern yang memberikan kesan mewah, pelayanan yang sifatnya dapat memuaskan pelanggan untuk mendapatkan loyalitas pelanggan, serta cita rasa makanan yang baik.
Tidak cukup sampai disini saja, saat ini Cafe The Coffee Town lebih menekankan pada strategi kualitas produk, inovasi tempat dan mempertahankan cita rasa makanan, dan selalu berusaha membuat para pengunjung nyaman melalui fasilitas-fasilitas yang diberikan kepada pengunjung cafe serta menyajikan live music setiap harinya. Meskipun Cafe The Coffee Town berusaha memberikan yang terbaik untuk pelanggan.
Tetapi lokasi dan tempat berdirinya usaha bisnis ini tidak terlepas dengan persaingan dari beberapa Cafe yang serupa atau sama yang ada di sekitaran Cafe tersebut yaitu:
Tabel 1.3
Daftar Nama Pesaing Cafe
No Nama Cafe
1 Cafe D’Roez
2 Cafe My Burger Coffee 3 Kedai Rilex
4 Kedai KR 59
Untuk dapat mempertahankan bisnis serta mengadapi tantangan persaingan perlu diterapkan strategi yang paling tepat agar Cafe The Coffee Town dapat bertahan ditengah persaingan, harus dilihat dari kondisi perusahaan yaitu dengan menganalisis faktor internal dan eksternal perusahaan tersebut. Menurut Situmorang (2012:344), faktor internal meliputi kekuatan (strength) yaitu segala sesuatu yang menjadi keunggulan bagi suatu perusahaan, dan kelemahan (weakness) yaitu segala sesuatu yang menjadi kelemahan perusahaan. Faktor eksternal meliputi peluang (opportunities) yaitu segala sesuatu yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan sebagai kesempatan untuk meningkatkan
pendapatan dan tantangan (threats) yaitu segala sesuatu yang dapat menghambat kinerja perusahaan. Analisis yang menggunakan faktor eksternal dan internal ini disebut dengan anaisis SWOT.
Analisis SWOT digunakan antara lain untuk menetapkan strategi perusahaan/usaha dalam upaya mencapai tujuan dan agar dapat bersaing dari kompetitor yang ada di dalam suatu bisnis sejenis. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai ―Analisis Strategi Bersaing Pada aofe The Coffee Town dalam menghadapi persaingan Bisnis‖.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah ―Strategi apa yang diterapkan di Cafe The Coffee Town dalam menjalankan usahanya agar dapat bertahan dalam menghadapi persaingan bisnis?‖
1.3 Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis membatasi masalah untuk menghindari adanya penyimpangan ataupun pelebaran pokok permasalahan, agar penelitian ini lebih terarah dan memudahkan dalam pembahasan, sehingga tujuan penelitian dapat tercapai. Penelitian ini difokuskan pada identifikasi faktor internal dan identifikasi faktor eksternal dari Cafe The Coffee Town Medan agar dapat menganilis strategi bisnis yang tepat untuk diterapkan di Cafe The Coffee Town Medan.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang telah dijabarkan diatas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Strategi apa yang diterapkan di Cafe The Coffee Town dalam menjalankan usahanya agar dapat bertahan dalam menghadapi persaingan bisnis
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Adapun manfaat yang diharapkan oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini antara lain:
1) Bagi Penulis
Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman tentang analisis SWOT dalam penentuan strategi bersaing pada bisnis kuliner, khususnya pada Cafe The Coffe Town.
2) Bagi Perusahaan (Cafe The Coffee Town Medan)
Sebagai referensi dan bahan pertimbangan dalam menganalisis penentuan strategi bersaing dengan menggunakan analisis SWOT.
3) Bagi Program Studi
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pemahaman, refrensi, atau masukan serta perbandingan untuk penelitian selanjutnya dalam permasalahan atau bidang kajian yang sama dan mengembangkan di masa yang akan datang.
KERANGKA TEORI
2.1 Strategi
2.1.1 Pengertian Strategi
Menurut Anthony, Parrewe, dan Kacmar (1999) Strategi adalah sebagai formulasi misi dan tujuan organisasi, termasuk didalamnya adalah rencana aksi (action plans) untuk mencapai tujuan tersebut dengan secara eksplisit mempertimbangkan kondisi persaingan dan pengaruh-pengaruh kekuatan dari luar organisasi yang secara langsung atau tidak berpengaruh terhadap kelangsungan organisasi. Menurut Tjiptono (2006), strategi merupakan sekumpulan cara secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, sebuah rencana dalam kurun waktu tertentu. Menurut David (2004) Strategi adalah cara untuk mencapai tujuan jangka panjang. Strategi bisnis bisa berupa perluasan geografis, diversifikasi, akusisi, pengembangan produk, penetrasi pasar, rasionalisasi karyawan, divestasi, likuidasi, dan joint venture.
Menurut Tjiptono (2008) menjelaskan strategi dapat didefinisikan berdasarkan dua perspektif yang berbeda, yaitu dari perspektif apa yang satu organisasi ingin lakukan, dan dari perspektif apa yang organisasi akhirnya lakukan. Dari pengertian tersebut, maka ditariklah kesimpulan bahwa strategi merupakan proses perencanaan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan atau seseorang dengan dengan bahan pertimbangan berupa faktor-faktor internal dan eksternal perusahaan untuk mencapai sasaran yang dinginkan sehingga mampu unggul dari pesaingnya.
Proses strategi mewujudkan pendekatan ini untuk mengambil keputusan.
Hal tersebut mempresentasikan pendekatan yang logis, sistematis, dan objektif untuk menentukan arah perusahaan di masa yang akan datang. Hal ini membuat para penyusun strategi tidak dapat hanya menggunakan instuisi saja dalam memilih diantara berbagai alternatif tindakan. Para penyusun strategi yang sukses memikirkan bisnis mereka, posisi mereka bersama bisnis, dan apa yang mereka inginkan sebagai sebuah organisasi dan kemudian mengimplementasikan program-program yang ingin dicapai dalam sebuah bisnis.
2.1.2 Tipe-Tipe Strategi
Menurut Rangkuti (2015:6), pada prinsipnya strategi dapat dikelompokkan berdasarkan tiga tipe strategi yaitu:
1. Strategi Manajemen
Strategi manajemen meliputi strategi yang dapat dilakukan oleh manajemen dengan orientasi pengembangan strategi secara makro. Misalnya, strategi pengembangan produk, strategi penetapan harga, strategi akuisisi, strategi pengembangan pasar, strategi mengenai keuangan, dan sebagainya.
2. Strategi Investasi
Strategi ini merupakan kegiatan yang berorientasi pada investasi. Misalnya, apakah perusahaan ingin melakukan strategi pertumbuhan yang agresif atau berusaha mengadakan penetrasi pasar, strategi bertahan, strategi pembangunan kembali suatu divisi baru atau strategi divestasi, dan sebagainya.
3. Staregi Bisnis
Strategi bisnis ini sering juga disebut strategi bisnis secara fungsional karena strategi ini berorientasi pada fungsi-fungsi kegiatan manajemen, misalnya
strategi pemasaran, strategi produksi atau operasional, strategi distribusi, strategi organisasi, dan strategi-strategi yang berhubungan dengan keuangan.
2.1.3 Tingkatan Strategi
Menurut Robbins dan Coulter (2016: 253), terdapat tiga tingkatan strategi dalam organisasi, yaitu strategi korporat, strategi kompetitif, dan strategi fungsional.
1. Strategi Korporat
Menurut Robbins dan Coulter (2016:253), strategi korporat adalah strategi organisasi yang menspesifikasi bisnis apa yang akan digeluti atau yang ingin digeluti dan apa yang ingin dilakukan perusahaan dengan bisnis ini. Ini didasarkan pada misi dan tujuan organisasi serta peranan yang akan dimainkan setiap unit bisnis organisasi. Bagian lain dari strategi korporat adalah ketika manajer puncak memutuskan apa yang akan dilakukan dengan bisnis-bisnis tersebut:
mengembangkan, mempertahankan, atau memperbaharui mereka. Tiga jenis utama strategi korporat adalah pertumbuhan, stabilitas, dan pembaharuan.
a. Strategi Pertumbuhan
Menurut Robbins dan Coulter (2016: 253), strategi pertumbuhan adalah strategi korporasi yang digunakan ketika sebuah organisasi ingin mengembangkan jumlah pasar yang dilayani atau produk yang ditawarkan, baik dengan bisnis yang sudah ada saat ini maupun melalui bisnis baru. Karena strategi pertumbuhannya, sebuah organisasi dapat meningkatkan pendapatannya, jumlah karyawan, atau pangsa pasar. Organisasi tumbuh dengan menggunakan konsentrasi, integrasivertikal, integrasi horizontal, atau diversifikasi.
Strategi pertumbuhan menurut Kuncoro (2006:127) adalah bagaimana menggerakkan organisasi ke depan. Bergerak ke depan berarti manajer stratejik perusahaan berharap meningkatkan level operasinya, yakni tumbuh lebih cepat.
Caranya adalah dengan melihat bermacam strategi pertumbuhan perusahaan dan memilih salah satu atau lebih yang mendekati karakteristik dan sasaran organisasi pada situasi tertentu.
b. Strategi Bertahan/Strategi Stabilitas
Menurut Robbins dan Coulter (2016:254) strategi stabilitas adalah strategi korporat di mana organisasi tetap melakukan apa yang sedang dilakukansaat ini. Contoh strategi ini termasuk terus melayani klien yang sama dengan menawarkan produk atau layanan yang sama, mempertahankan pangsa pasar, dan menjaga operasi bisnis organisasi saat ini. Dengan jenis strategi ini, organisasi tidak bertumbuh, tetapi tidak juga tertinggal di belakang. Sedangkan menurut Kuncoro (2006:127), strategi stabilitas adalah strategi di mana organisasi mempertahankan ukuran organisasinya dan level operasi bisnisnya sekarang.
c. Strategi Pembaharuan
Menurut Robbins dan Coulter (2016:254), strategi pembaharuan adalah strategi yang digunakan untuk mengatasi kinerja yang menurun. Ada dua jenis utama strategi pembaharuan: strategi pengurangan biaya serta strategi pemutar balikan. Strategi pengurangan biaya adalah strategi pembaharuan jangka pendek yang digunakan untuk masalah kinerja minor. Jenis strategi ini membantu organisasi menstabilisasi operasi, mendayagunakan sumber daya dan kapabilitas perusahaan, serta mempersiapkan untuk bisa bersaing kembali. Apabila masalah yang dihadapi organisasi semakin serius, tindakan yang lebih drastis strategi
pemutar balikan akan diperlukan. Manajer akan melakukan dua hal dalam strategi pengurangan biaya dan pemutarbalikan: memangkas biaya dan merestrukturisasi operasi organisasi. Namun, dalam strategi pemutar balikan, ukurannya jauh lebih ekstensif ketimbang dalam strategi pengurangan biaya.
Sedangkan menurut Kuncoro (2006:128), organisasi sering mengalami penurunan terhadap kinerja dan tujuan strategi. Jelas terlihat disini bahwa manajer tidak melakukan pekerjaannya secara efektif dan tidak berhasil mengembangkan atau mengeksploitasi keunggulan kompetitif yang berkesinambungan. Sesuatu harus segera dilakukan untuk mengatasi masalah penurunan kinerja ini, atau organisasi tidak akan bisa bertahan. Strategi yang digunakan untuk mengatasi masalah dalam organisasi seperti ini adalah strategi pembaharuan.
2. Strategi Kompetitif/Strategi Bisnis
Menurut Robbins dan Coulter (2016:255) Strategi kompetitif/ Startegi bisnis adalah strategi tentang bagaimana organisasi akan bersaing dalam bisnisnya. Bagi organisasi kecil yang hanya berkecimpung dalam satu lini bisnis atau organisasi besar yang belum terdiversifikasi dalam berbagai produk atau pasar, strategi kompetitif menggambarkan bagaimana organisasi tersebut akan bersaing di pasar primer atau utamanya. Namun, bagi organisasi yang berkecimpung dalam berbagai bisnis, setiap bisnis mempunyai strategi kompetitifnya sendiri yang mendefinisikan keunggulan kompetitifnya, produk atau jasa yang ditawarkan, pelanggan yang ingin dijangkaunya, dan semacamnya.
Apabila organisasi bergerak dalam beberapa bisnis yang berbeda, bisnis tunggal yang bersifat independen dan memformulasikan strategi kompetitifnya sendiri tersebut seringkali disebut unit bisnis strategis.
Menurut Rangkuti (2015:13), perusahaan yang menghasilkan berbagai jenis produk akan bersaing di berbagai tingkatan bisnis atau pasar. Dengan demikian, strategi bisnisnya dapat ditekankan pada Strategic Business Units (SBU), Strategic Business Groups, Strategic Business Segments, Natural Business Unit atau Product Market Units (PMU). Abel dan Hammond dan Rangkuti (2015:13) mengungkapkan, pada prinsipnya Strategic Business Units memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Memiliki misi dan strategi.
b. Menghasilkan produk atau jasa yang berkaitan dengan misi dan strategi.
c. Menghasilkan produk atau jasa secara spesifik.
d. Bersaing dengan pesaing yang telah diketahui dengan jelas
Seperti yang dikemukakan oleh Rangkuti (2015:13), konsep strategi berkembang mulai dari sekadar alat untuk mencapai tujuan kemudian berkembang menjadi alat menciptakan keunggulan bersaing dan selanjutnya menjadi tindakan dinamis untuk memberi respons terhadap kekuatan-kekuatan internal dan eksternal sampai menjadi alat untuk memberikan kekuatan motivasi kepada stakeholder agar perusahaan tersebut dapat memberikan kontribusi secara optimal. Menjelang akhir abad ke-20, konsep strategi berubah menjadi pemahaman keinginan konsumen di masa yang akan datang dengan memperhatikan konsep dinamik dan pengembangan perencanaan strategis untuk merebut peluang dengan menggunakan konsep Kompetensi Inti.
Rangkuti (2015:13) mengutip dari Hamel (1995) konsep Kompetensi Inti adalah sekumpulan keterampilan dan teknologi dan bukan satu keterampilan atau teknologi yang berdiri sendiri. Persaingan perusahaan adalah perlombaan untuk
memahirkan kompetensi serta untuk memperoleh posisi pasar dan pengaruh pasar.Untuk memiliki kompetensi inti, perusahaan harus memiliki tiga kriteria:
a. Nilai bagi pelanggan (customer perceived value), yaitu keterampilan yang memungkinkan suatu perusahaan menyampaikan manfaat yang fundamental kepada pelanggan.
b. Diferensiasi bersaing (competitor differentiation), yaitu kemampuan yang unik dari segi daya saing. Jadi, ada perbedaan antara kompetensi yang diperlukan (necessary) dan kompetensi sebagai inti jika dia ada di mana-mana atau dengan kata lain mudah ditiru oleh pesaing.
c. Dapat diperluas (extendability). Karena kompetensi ini merupakan pintu gerbang menuju pasar masa depan, kompetensi ini harus memenuhi kriteria manfaat bagi para pelanggan dan keunikan bersaing. Selain itu, kompetensi inti harus dapat diperluas sesuai dengan keinginan konsumen masa depan.
Dengan demikian, kompetensi tidak menjadi usang meskipun kompetensi inti mungkin saja kehilangan nilainya sepanjang waktu.
3. Strategi Fungsional
Menurut Rangkuti (2015:14) Strategi yang dirumuskan bersifat lebih spesifik tergantung pada kegiatan fungsional manajemen. Jika di tingkat perusahaan telah menetapkan suatu strategi untuk membuat unit kegiatan baru ditingkat unit bisnis, misalnya unit pembelian, strategi fungsional yang disusun mengacu pada semua kegiatan pembelian, seperti membuat strategi penetapan harga standar berdasarkan persentase margin keuntungan tertentu untuk masing-masing jenis barang yang dibeli. Strategi pengendalian kualitas barang yang dibeli
juga dapat dilakukan atau bahkan diserahkan kepada pemasok yang sudah diseleksi secara ketat.
2.2 Manajemen Strategi
Menurut Amirullah (2015:5) manajemen strategi terbentuk dari 2 kata yaitu manajemen dan strategi, dimana manajemen strategi merupakan ilmu dalam membuat (formulating) menerapkan dan mengevaluasi keputusan-keputusan strategi antar fungsi-fungsi manajemen yang memungkinkan sebuah organisasi mempunyai tujuan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan dimana organisasi itu berada. Dalam hal ini manajemen strategi mencakup aliran keputusan, cara-cara membentuk strategi, membuat keputusan desain serta program perusahaan dan mengembangkan strategi-strategi yang efektif.
David (2009:5) mendefinisikan manajemen strategis sebagai seni dan pengetahuan dalam merumuskan, mengimplementasikan, serta mengevaluasi keputusan-keputusan lintas-fungsional yang memampukan sebuah organisasi mencapai tujuannya. Manajemen strategis berfokus pada usaha untuk mengintegrasikan manajemen, pemasaran, keuangan/akuntansi, produksi/operasi, penelitian dan pengembangan, serta sistem informasi komputer untuk mencapai keberhasilan organisasional.
Dengan demikian, manajemen strategi adalah suatu tindakan manajerial yang mencoba untuk mengembangkan potensi perusahaan didalam mengeksploitasi peluang bisnis yang muncul guna mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan berdasarkan misi perusahaan. Implikasi dari pengertian tersebut adalah perusahaan berusaha meminimalkan kekurangan (kelemahan), dan
berusaha melakukan adaptasi dengan lingkungan sekitar baik mikro maupun makro.
2.3 Keunggulan Bersaing
2.3.1 Pengertian Keunggulan Bersaing
Menurut Kotler (2001: 95) pengertian keunggulan bersaing yaitu:
―Keunggulan atas pesaing yang didapatkan dengan menyampaikan nilai pelanggan yang lebih besar, melalui harga yang lebih murah atau dengan menyediakan lebih banyak manfaat yang sesuai dengan penetapan harga yang lebih tinggi. Selanjutnya David (2009:275) menyatakan bahwa ada tiga tipe pilihan strategi generik yang dapat dilakukan perusahaan untuk memproleh keunggulan bersaing yaitu :
1. Strategi kepemimpinan biaya rendah (the cost of leadership)
Strategi kepemimpinan biaya rendah (the cost of ledership) yaitu serangkaian tindakan integratif yang dirancang untuk memproduksi dan menawarkan
Strategi kepemimpinan biaya rendah (the cost of ledership) yaitu serangkaian tindakan integratif yang dirancang untuk memproduksi dan menawarkan