• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Manfaat Penelitian

Sesuai dengan latar belakang di atas, adapun manfaat dalam penelitian ini, yaitu :

1.5.1 Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dalam studi kajian pragmatik, khususnya mengenai jenis-jenis tindak tutur Ilokusi beserta fungsinya yang terdapat dalam film Full Circle karya Zhang Yang.

1.5.2 Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini dapat menambah wawasan peneliti dan para pembaca tentang kajian Tindak tutur Ilokusi dalam film Full Circle karya Zhang Yang, dan dapat digunakan sebagai acuan dan pedoman dalam penelitian-penelitian selanjutnya serta memberi manfaat untuk adik-adik Program Studi Sastra Cina FIB USU dalam mengkaji pragmatik terkhusus mengenai tindak tutur Ilokusi .

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

Secara umum konsep memiliki pengertian yaitu sebagai salah satu serangkaian pernyataan, ide dan gagasan yang saling terkait tentang berbagai kejadian atau peristiwa dan menjadi dasar atau petunjuk dalam melakukan penelitian.

Menurut Soedjadi (2000:14) mengatakan bahwa ”konsep merupakan salah satu ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata (lambang bahasa)”.

Menurut Singarimbun dan Effendi (2009:34) mengatakan bahwa “konsep merupakan suatu kesatuan pengertian tentang suatu hal atau persoalan yang dirumuskan”.

Menurut Umar (2011:4) mengatakan bahwa “konsep merupakan sejumlah teori yang berkaitan dengan suatu objek”.

2.1.1 Pragmatik

Secara umum pragmatik merupakan salah satu cabang ilmu linguistik yang menjadi objek bahasa dalam penggunaannya, seperti komunikasi lisan maupun tertulis.

Menurut Leech (1993: 8) mengatakan bahwa ”pragmatik adalah studi yang mengkaji tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) yang meliputi unsur-unsur penyapa dan yang disapa, konteks, tujuan, tindak ilokusi, tuturan, waktu, dan tempat”.

Menurut Nababan (1987:2) mengatakan bahwa “pragmatik adalah aturan-aturan pemakaian bahasa, yaitu pemilihan bentuk bahasa dan penentuan maknanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaannya.

Menurut Levinson (1983: 9) mengatakan bahwa “pragmatik adalah suatu kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa”. Di sini, pengertian atau pemahaman bahasa menunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan dan ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya.

2.1.2 Tindak tutur Ilokusi

Secara umum tindak tutur Ilokusi merupakan suatu tindak tuturan yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan oleh si penutur.

Menurut Wijana (1996:18-19) berpendapat bahwa “tindak tutur Ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi daya ujar”.

Tindak tuturan tersebut diidentifikasikan sebagai tindak tutur yang bersifat untuk menginformasikan sesuatu dan melakukan sesuatu, serta mengandung maksud dan daya tuturan. Tindak tutur Ilokusi tidak mudah diidentifikasi, karena tindak tutur

Ilokusi berkaitan dengan siapa petutur, kepada siapa, kapan dan di mana tindak tutur itu dilakukan dan sebagainya. Tindak tutur ini merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam memahami tindak tutur.

Menurut Chaer dan Leonie (2010:53) menyatakan bahwa “tindak tutur Ilokusi adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit”. Tindak tutur Ilokusi ini biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terimakasih, menyuruh, menawarkan dan menjanjikan.

Menurut Austin (2000:51) “tindak tutur Ilokusi merupakan inti dari tindak pertuturan itu sendiri, yang menunjukkan sebuah aksi dengan cara menuturkan sebuah kalimat”.

2.1.3 Film

Secara umum film merupakan fenomena sosial, psikologi, dan estetika yang kompleks yang merupakan dokumen yang terdiri dari cerita dan gambar yang diiringi kata-kata dan musik.

Menurut Himawan Pratista (2008: 1) ”Sebuah film terbentuk dari dua unsur yaitu , unsur naratif dan unsur sinematik”. Unsur naratif berhubungan dengan aspek cerita atau tema film. Setiap film cerita tidak mungkin lepas dari unsur naratif dan setiap cerita pasti memiliki unsur-unsur seperti tokoh, masalah, konflik, lokasi, waktu, serta lainnya-lainnya. Seluruh elemen tersebut membentuk unsur naratif secara keseluruhan. Aspek kausalitas bersama unsur ruang dan waktu merupakan elemen-elemen pokok pembentuk suatu narasi.

Menurut Palapah dan Syamsudin (1986: 114) mendefinisikan

“film sebagai salah satu alat media yang berkarakteristik massal yang merupakan kombinasi antara gambar-gambar bergerak dan perkataan”.

Menurut Rabiger (2009: 8) mengatakan bahwa “film merupakan hasil karya yang bersifat unik dan menarik sehingga ada banyak cara yang dapat digunakan dalam suatu film dokumenter untuk menyampaikan ide-ide tentang dunia nyata”.

2.1.4 Film Full Circle

Film Full Circle diproduksi oleh sebuah sutradara yang bernama Zhang Yang. Film ini mulai diterbitkan pada tahun 2012. Film Full Circle ini memiliki durasi 1 jam 44 menit 47 detik, film ini menceritakan di sebuah kota di provinsi Ningxia, Cina utara. Lao Ge (Xu Huanshan) adalah pensiunan sopir bus berusia pertengahan 70-an yang putranya Lao Ge (Han Tongsheng) tidak berbicara dengannya. Istri kedua Lao Ge sudah meninggal enam bulan lalu. Lalu Terpaksa pindah karena Lao Ge diusir oleh putranya . Lao Ge pergi untuk tinggal bersama teman lamanya Lao Zhou (Wu Tianming) yang juga seorang pensiunan sopir bus, yang berbagi kamar dengan Lao Jin yang gila (Niu Ben) di Rumah Rakyat Tua Guanshan. Lao Ge begitu tertekan pada bagaimana hidupnya berakhir kelak , Lao Ge merenungkan dan mencoba bunuh diri lagi , tetapi ia masih diberi harapan oleh Lao Zhou. Lao Zhou telah merekrut beberapa dari mereka untuk melakukan sketsa komik yang ia harapkan akan masuk ke kompetisi TV Jepang yang akan diadakan di Tianjin. Saat latihan, salah satu grup mereka ada yang terluka, dan kepala rumah (Yan Bingyan) melarang mereka pergi ke Tianjin. Tapi Zhou tidak

dibujuk dengan mudah, Lao Zhou dan Lao Ge, berserta empat orang lainnya, membuat rencana rahasia untuk "melarikan diri" dari sana karena inilah harapan mimpi mereka untuk orang-orang dikasihinya terutama pada Lao Zhou. Lao Zhou ingin mencari anak perempuannya yang telah lama hilang apabila ia dapat memenangkan pada lomba tersebut. Namun , takdir berkata lain, Lao Zhou akhirnya meninggal sehingga teman-teman Lao Zhou terutama Lao Ge melanjutkan mimpi Lao Zhou yang hampir menang.

Dalam film Full Circle karya Zhang Yang ini memiliki beberapa tokoh, yaitu : Xu Huanshan (Lao Ge) ,Wu Tianming (Lao Zhou ),Li Bin (Lao tai tai),

Yan Bingyan (Kepala Perawat), Wang Deshun (Lao Lin), Cai Hongxiang (Lao Qian II) Tang Zuohui (Lao Huang) , Jiang Hualin (Lao Zhang), Jia Fengsen

(Lao Zheng) Niu Ben (Lao Jin), Han Tong Sheng (Anaknya Lao Ge), Gao Ge (Cucu Lao Ge) Liu Dong (Lao qian) , Zhang Huaxun (Lao Sun), Wang Liansheng (Lao Zhao) Yao Gang (Hai Zi de Qian/Mr.Qian) , Shang Tiantong (Perawat) , Hu Ming (Mr.Cui), Xu Fan (Anaknya Lao Ge) , Feng Jing 'en (Istri dari putranya Lao Ge II) Shi Yulin (Penjaga Pintu), Jin Hong (Supir Bus), Si Changqing (Lao Chen), Chen Ping (Istri dari putranya Lao Ge I ), Zhang Zhengyuan (Senior Berandalan, Huang Suying (Kakak Senior yang paling dituakan), Siqin Gaowa (Lao Ma Ma ), Chen Kun (Dokter), Dai Jun (Mr.Chen), Guo Jinglin (MC ).

Film Full Circle merupakan film yang dikenal oleh masyarakat china dan populer, yang ditangani dengan sentuhan ringan yang baru pada film-film sutradara penulis oleh Zhang Yang. Pembuat film yang tidak dapat dikategorikan dan diragukan lagi , yang telah menangani berbagai subjek dalam 15 tahun

terakhir mulai dari Spicy Love Soup (1997), melalui drama obat-obatan terlarang

(2001) dan kisah keluarga Sunflower (2005), hingga drama Driverless (2010).

Kunci dalam film Full Circle tahun 2012 ini adalah sebuah kesederhanaan, semangat dan perjuangan. Dari urutan pertama Wu tianming yang diperankannya dengan karakter Lao Zhou yang dimainkan dengan semangat hebat, Wu tianming yang sudah berusia 72 tahun merupakan seorang direktur / produser kunci tahun 1980-an yang sudah memiliki judul film seperti Life (1984), Old Well (1987), ditambah kemudian King Masks (1996) yang juga ikut berperan di atas panggung di depan para pendengarnya yang sudah berusia lanjut. Zhang memberi suatu isyarat bahwa ini akan menjadi penghangat hati dengan beberapa kejutan.

Yang terbesar dari itu bahwa Full Circle bukan hanya komedi ringan tentang sekelompok tua yang sial dan kesepian, dan bukan hanya film jalan di mana sebuah petualangan, penonton sudah mengetahui karakter Lao Zhou dan Lao Ge dengan sangat baik .

Full Circle lebih menceritakan tentang kemampuan orangtua untuk mewujudkan impian mereka di usia berapa pun, dan untuk membuktikannya melalui salah satu karakter, bahwa ada saatnya dalam kehidupan orang tua ketika mereka harus memikirkan diri mereka sendiri sekali, setelah seumur hidup diri dan berkorban untuk anak-anak mereka, tidak ada yang orisinal dalam ide ini, tetapi cara penanganannya oleh Zhang dan penulis reguler Huo Xin sebagian besar menghindari yang sudah jelas. Konflik merupakan bagian yang relatif kecil dari film ini, tidak seperti di Getting Home , yang dimana titik utamanya sebagian besar ada di sana untuk membandingkan ruang terbuka lebar yang mereka lalui

(termasuk padang rumput Mongolia Dalam) dengan tradisional rumah tua di mana mereka ditempatkan. Sepanjang jalan pembuatan film , Zhang terus mengendalikan potensi film untuk melodrama dan kelucuan, tanpa terlalu banyak membelenggu para pemeran.

Lao Ge yang sudah menjadi tua-tua keladi yang kehilangan tempat tinggal karena kehendak anaknya, Xu Huanshan (Lao Ge) yang sudah sekarang berusia pertengahan tahun 70-an, membawa martabat lembut ke bagian yang kurang dimainkan di seluruh bagian. Ternyata, sebenarnya Lao Zhou yang menjadi pusat emosi film ini, sebagian besar berkat permainan Wu tianming yang blak-blakan dari seorang tokoh yang kisahnya sama yang tidak lebih menyedihkan daripada kisah kehidupan Lao Ge. Meskipun tema yang sedang berjalan bagaimana perasaan orang tua dikecewakan oleh anak-anak mereka, kisah masing-masing hanya secara sekilas dirujuk. Satu-satunya pengecualian adalah Lao Ge yang tampaknya menjadi contoh bagi mereka semua yang kisah hidup ceritanya cukup rumit yaitu seorang putra yang tidak mau berbicara dengannya dan seorang cucu yang ingin menyatukan mereka berdua .

Di antara para pemeran pendukung yang kuat, Yan Bingyan seorang aktris TV yang jarang mendapatkan peran layar lebar Teeth of Love (2007) yang pantas diterimanya, menonjol sebagai kepala muda yang keras di rumah. Zhang telah mengemas film ini dengan pemain yang lebih tua yang berbaur bersama dengan lebih muda. Namun, dalam sebuah langkah yang agak menggelegar, dia juga mengemasnya dengan akting cemerlang dengan nama-nama besar yang lebih

memukau daripada yang lain. Xu Fan yang muncul sebagai anak Lao Ge II yang serakah, dan bahkan Chen Kun sebagai dokter Tianjin.

Dengan teknisi yang sangat sempurna, mulai dari penyuntingan yang lancar oleh Yang Hongyu hingga musik sederhana oleh San Bao (1999); The Road Home (1999), yang tidak pernah lebih lembut atau lebih halus daripada di puitis, Yang Tao yang berjudul Little Red Flowers (2006) The Sun Also Rises (2007), yang bekerja untuk pertama kalinya dengan Zhang yang memunculkan beberapa gambar layar lebar yang mencolok, dari warna musim gugur rumah tua, ruangan terbuka lebar di mana para tua yang wanita ikut berperan dengan bus tua mereka. Selaras dengan nada realis-dongeng film, judul cina secara kasar berarti

"The Flying Old People's Home".

2.1.5 Dialog

Dialog adalah percakapan antara 2 orang atau lebih dan dialog dapat diartikan juga sebagai komunikasi yang mendalam yang mempunyai tingkat dan kualitas yang tinggi yang mencangkup kemampuan untuk mendengarkan dan juga saling berbagi pandangan satu sama lain.

Menurut Akhmad Saliman (1996 : 98) dialog adalah salah satu unsur yang paling penting dalam berkomunikasi agar terjalinnya suatu interaksi untuk berbicara dengan lawan bicaranya dan merupakan sebuah tiruan dari kehidupan kesehariannya.

2.2 Landasan Teori

Teori adalah suatu susunan definisi, konsep, dan menyajikan pandangan mengenai suatu fenomena dengan menunjukkan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya.

Menurut Siswoyo (2003:42) mengatakan bahwa” Teori diartikan sebagai seperangkat konsep dan definisi yang saling berhubungan yang mencerminkan suatu pandangan sistematik mengenai fenomena dengan menerangkan hubungan antar variable, dengan tujuan untuk menerangkan dan meramalkan fenomena.

Adapun teori yang dipakai dalam penelitian ini sangat berkaitan dengan pragmatik, yaitu teori tindak tutur Ilokusi berdasarkan pendapat dari Searle (1969) serta teori fungsi tuturan Ilokusi oleh Leech (1993).

2.2.1 Tindak Tutur Ilokusi

Pragmatik merupakan suatu maksud ujaran, yakni untuk apa ujaran dilakukan, menanyakan apa maksud ujaran, dan mengaitkan makna dengan siapa pembicara, dimana, bilamana, dan bagaimana (Leech (1993:164)) dan Tindak tutur juga merupakan kajian unsur dari pragmatik tersebut.

Tindak tutur mula-mula diperkenalkan oleh Austin dalam bukunya yang berjudul How Things With Words tahun 1962. Austin mengemukakan bahwa aktivitas bertutur tidak hanya terbatas pada penuturan sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu atas dasar itu.

Pendapat Austin didukung oleh pendapat Searle yang mengemukakan bahwa tindak tutur adalah produk atau hasil dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan salah satu kesatuan terkecil dari komunikasi bahasa.

Pendapat tersebut didasarkan pada pendapat bahwa (1) tuturan merupakan sarana utama komunikasi dan (2) tuturan baru memiliki makna jika direalisasikan dalam tindak komunikasi yang nyata.

Menurut Austin dalam Chaer (2004: 53) membagi tindak tutur menjadi tiga klasifikasi, yaitu (i) tindak tutur lokusi, (ii) tindak tutur ilokusi (iii) tindak tutur perlokusi. Oleh karena itu , dalam penelitian ini berfokus pada tindak tutur Ilokusi. Tindak tutur Ilokusi merupakan tuturan yang berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu, selain itu dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak tutur Ilokusi ini dapat diidentifikasikan jika sebelumnya telah dipertimbangkan siapa penutur dan lawan tutur, kapan, dan dimana tindak tutur terjadi. Tindak tutur Ilokusi merupakan bagian sentral untuk memahami tindak tutur.

Secara khusus , Searle ( 1969 : 23-24) menggolongkan Tindak tutur Ilokusi itu ke dalam lima macam bentuk tuturan yang masing-masing memiliki fungsi komunikatif. Kelima macam bentuk tuturan yang menunjukkan fungsi itu dapat dirangkum sebagai berikut:

1. Asertif adalah tindak tutur yang menunjukkan keyakinan penutur terhadap

kebenaran ekspresi pikiran dan ini membawa nilai kebenaran.

Tindak tutur ini mengekspresikan keyakinan penutur, seperti dalam tindak tutur

menerangkan, menyimpulkan, penegasan, pendeksripsian dan menyatakan kesimpulan .

2. Direktif merupakan tindak tutur yang memperlihatkan usaha penutur dalam membuat mitra tutur agar melakukan sesuatu. Tipe ini mengekspresikan keinginan penutur terhadap mitra tutur agar melakukan sesuatu, seperti dalam tindak tutur permohonan , memerintah, mengajak, pemberian pesan dan saran, serta bertanya.

3. Komisif merupakan tindak tutur yang mengungkapkan janji penutur terhadap tindakan yang akan dilakukan di masa depan. Tipe ini mengekspresikan maksud penutur dalam melakukan sesuatu, seperti berjanji, bersumpah dan menolak

4. Ekspresif merupakan tindak tutur yang mengekspresikan sikap psikologis atau pernyataan dari penutur, seperti kesenangan, kesedihan, dan suka/tidak suka, seperti dalam tindak tutur meminta maaf, kegembiraan, kesedihan , kemarahan kebencian, penyesalan, kekaguman , kekuatiran, kepuasan, menuduh, memberi selamat, memuji, dan berterimakasih.

5. Deklaratif merupakan tindak tutur yang memberi efek perubahan secara langsung melalui beberapa pernyataan dalam suatu peristiwa. Tipe ini juga disebut performasi institusi. Dalam hal ini, penutur memberi dampak kepada masyarakat melalui isi pikirannya dan dunia, seperti mengesahkan, melarang dan memutuskan.

2.2.2 Fungsi Tuturan

Di dalam kegiatan bertutur tentu ada perihal pokok yang menjadi perhatian umum. Dalam perihal pokok tersebut mudah dipahami oleh orang lain yang harus dibahasakan, harus memperhatikan kaidah bahasa dan pemakaiannya.

Perihal pokok yang dimaksud merupakan pusat perhatian untuk dibicarakan atau dibahasakan adalah topik tutur, sedangkan tuturan adalah topik tutur yang sudah dibahasakan (lihat Suyono, 1990: 23).

Tindak tutur merupakan sebuah suatu aktivitas. Menuturkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan (act) (lihat Purwa, 1990). Tindak tutur suatu tindakan tidak ubahnya sebagai tindakan seperti menendang dan mencium.

Hanya berbeda perannya dalam setiap anggota tubuh. Pada tindakan menendang kaki yang berperan, sedangkan mencium adalah bagian muka yang berperan.

Tindak tutur tidak akan lepas dari analisis situasi tuturan (Speech situation).

Situasi tutur adalah situasi yang melahirkan tuturan (lihat Rustono, 1999: 25).

Situasi tutur di dalam komunikasi ada dua pihak peserta yang penting yaitu penutur dan mitra tutur, atau pengirim amanat dan penerimanya.

Supaya komunikasi ini berlangsung di antara pihak yang berkomunikasi harus ada kontak berdekatan. Secara fisik kontak berdekatan belum berarti terciptanya situasi tutur. Penutur harus mengambilperhatian pihak yang akan dan sedang diajak bicara atau berkomunikasi. Di dalam komunikasi tersebut terdapat fungsi tindak tutur. Fungsi tindak tutur dari satu bentuk tuturan melebihi satu fungsi. Fungsi yang dikehendaki oleh penutur dan yang kemudian dipahami oleh

mitra tutur bergantung pada konteks yang mengacu ke tuturan yang mendahului atau mengikuti tuturan.

Kenyataan bahwa satu bentuk tuturan dapat mempunyai lebih dari satu fungsi adalah kenyataan di dalam komunikasi bahwa satu fungsi dapat dinyatakan, dialami, dan diutarakan dalam berbagai bentuk tuturan. Bahasa dapat dikaji dari segi bentuk dan fungsi. Kajian dari segi bentuk menggunakan pendekatan formalisme, yaitu pendekatan telaah bahasa yang menekankan bentuk-bentuk bahasa semata-mata. Sementara itu, kajian dari segi fungsi menggunakan pendekatan nonformalisme, yaitu pendekatan telaah bahasa yang bertitik tolak dari tindak tutur (speech act) dan melihat fungsi tindak tutur itu dalam komunikasi bahasa dalam fenomena sosial (lihat Gunarwan, 1992).

Teori fungsional adalah teori yang mendefinisikan bahasa sebagai sebuah bentuk komunikasi dan yang ingin memperlihatkan bagaimana bahasa bekerja dalam sistem-sistem masyarakat manusia yang lebih besar. Istilah-istilah yang menandai hadirnya fungsionalisme ialah , maksud , tujuan, sasaran, rencana.

Teori fungsional digunakan untuk membahas ilokusi-ilokusi atau makna dari segi maksud. Selain itu, mereka membicarakan sifat-sifat bahasa dengan menggunakan istilah fungsi (lihat Grice (1957), Searle (1969) dalam Leech (1993) menyatakan di dalam teori tindak ujar, tuturan mempunyai dua jenis makna, yaitu:

1. Makna Proposisional (yang disebut juga locutonary meaning) merupakan dasar yang bersifat teratur yang dinyatakan oleh kata-kata dan struktur tertentu yang terdapat di dalam tuturan itu sendiri.

2. Makna Ilokusi (yang dikenal sebagai illocutionary force) merupakan dampak dari ujaran atau teks tulis yang ada pada pembaca atau pendengar (lihat Djajasudarma, 2012: 80).

Untuk itu, menurut Leech (dalam Oka , 1993: 162) fungsi Ilokusi dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis sesuai dengan hubungan fungsi-fungsi tersebut dengan tujuan-tujuan sosial berupa pemeliharaan perilaku yang sopan.

Adapun fungsi tindak tutur Ilokusi yaitu, (1) kompetitif, (2) konvivial, (3) kolaboratif, dan (4) konfliktif. Fungsi-fungsi tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Kompetitif (Bersaing)

Fungsi kompetitif atau bersaing adalah tuturan yang tidak bertatakrama (discourteous), misalnya meminta pinjaman dengan nada memaksa, sehingga di sini melibatkan sopan santun. Tujuan tindak tutur Ilokusinya sama dengan tujuan sosial. Pada Ilokusi yang berfungsi kompetitif ini mempunyai sifat sopan santun dan tujuannya mengurangi ketidakharmonisan, misalnya memerintah, meminta, menuntut, dan mengemis.

2. Konvivial (Menyenangkan)

Fungsi konvivial atau menyenangkan adalah tuturan yang bertatakrama.

Tujuan tindak tutur Ilokusinya sejalan dengan tujuan sosial. Pada fungsi ini, sopan santun lebih positif bentuknya dan bertujuan mencari kesempatan untuk beramah tamah, misalnya menawarkan, mengajak atau mengundang, menyapa, menyambut, mengucapkan terima kasih, dan mengucapkan selamat.

3. Kolaboratif (Kerja Sama)

Fungsi kolaboratif atau kerja sama adalah tidak melibatkan sopan santun karena pada fungsi ini sopan santun tidak relevan. Tujuan tindak tutur Ilokusinya tidak melibatkan tujuan sosial, misalnya menyatakan, melaporkan, mengumumkan, dan menginstruksikan.

4. Konfliktif (Bertentangan)

Fungsi konfliktif atau bertentangan tidak mengandung unsur sopan santun sama sekali karena fungsi ini pada dasarnya bertujuan menimbulkan kemarahan.

Tujuan tindak tutur Ilokusi bertentangan dengan tujuan sosial, misalnya mengancam, menegur, dan mencerca.

2.3 Tinjauan pustaka

Tinjauan pustaka adalah peninjauan kembali pustaka-pustaka yang relevan dengan penelitian yang sedang dikerjakan. Dalam penelitian ini memiliki beberapa tinjauan pustaka oleh beberapa penelitian terdahulu, yaitu :

Khifdiatullutfiah (2013) , Penelitian ini berjudul “Tindak tutur Ilokusi Direktif tokoh dalam novel hujan karya Tere Liye : Kajian pragmatik”.

Novel ini menceritakan tentang percintaan yang dimana seorang perempuan mencintai laki-laki yang telah menyelamatkan hidupnya di masa lalu, ketika bencana alam terjadi dan merusak hampir seluruh penjuru dunia. Perempuan ini ingin sekali menghapus kenangan yang menyakitkan yang disebabkan oleh laki-laki tersebut dalam hidupnya. Dalam komunikasi yang terjalin diantara penokohan ini ditemukan jenis tindak tutur yaitu Tindak tutur Direktif.

Penelitian tersebut memberikan kontribusi bagi penulis untuk mengetahui dan memahami konteks tuturan selain bukan dari Rustono melainkan menurut Hymes (1968) unsur-unsur konteks mencakup berbagai komponen yang disebutnya dengan akronim , yaitu : SPEAKING. Adapun perbedaan penelitian yang telah dilakukan dengan penelitian ini adalah objek, dan teori yang digunakan sama.

Penelitian ini membahas tentang jenis dan fungsi tindak tutur dalam novel Tere Liye yang mengacu pada teori tindak tutur oleh Searle.

Mitra ( 2013 ), Penelitian ini berjudul “Analisis Tindak Tutur dalam Acara Variety Show Running Man 《奔跑吧兄弟》: Kajian Pragmatik”. Acara ini menceritakan tentang variety show siaran Cina di ZRTG. Televisi Zhejiang Ini adalah spin-off dari variety show asli Korea Selatan Running Man oleh SBS . Ini pertama kalinya ditayangkan pada 10 Oktober 2014. Acara ini diklasifikasikan sebagai permainan variety show, di mana MC dan tamu menyelesaikan misi untuk memenangkan perlombaan. Dalam komunikasi yang terjalin diantara penokohan ini ditemukan jenis tindak tutur yaitu Tindak tutur Ilokusi . Penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi bagi penulis untuk memahami makna dan fungsi dari tindak tutur . Adapun perbedaan penelitian yang telah dilakukan dengan penelitian ini adalah objek, dan teori yang digunakan sama. Penelitian ini

Mitra ( 2013 ), Penelitian ini berjudul “Analisis Tindak Tutur dalam Acara Variety Show Running Man 《奔跑吧兄弟》: Kajian Pragmatik”. Acara ini menceritakan tentang variety show siaran Cina di ZRTG. Televisi Zhejiang Ini adalah spin-off dari variety show asli Korea Selatan Running Man oleh SBS . Ini pertama kalinya ditayangkan pada 10 Oktober 2014. Acara ini diklasifikasikan sebagai permainan variety show, di mana MC dan tamu menyelesaikan misi untuk memenangkan perlombaan. Dalam komunikasi yang terjalin diantara penokohan ini ditemukan jenis tindak tutur yaitu Tindak tutur Ilokusi . Penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi bagi penulis untuk memahami makna dan fungsi dari tindak tutur . Adapun perbedaan penelitian yang telah dilakukan dengan penelitian ini adalah objek, dan teori yang digunakan sama. Penelitian ini

Dokumen terkait