Pada bulan Juli 1988, Basel Committee mengeluarkan laporan berjudul International Convergerence
of Capital Measurement and Capital Standards (Accord 88) yang memuat beberapa rekomendasi, antara
lain: (i) perlunya lembaga perbankan (khususnya internationally active banks) memiliki permodalan minimum sebesar 8% untuk meminimalisir risiko insolvency dan memperkecil perbedaan kompetitif sehingga tercipta level of playing field, dan (ii) penghitungan permodalan yang menggunakan konsep
“forward looking”, yaitu memperhitungkan credit risk dalam portofolio aset perbankan yang berpotensi
merugikan bank. Penghitungan tersebut dilakukan dengan mengelompokkan aset bank kedalam beberapa kategori risiko dan memberikan bobot (weights) untuk setiap kategori tersebut sesuai jenis debitur (0%, 20%, 50%, dan 100%). Selanjutnya, Accord 88 menetapkan persentase modal yang harus dimiliki perbankan terhadap total asset tertimbang menurut risiko (risk-weighted assets), yaitu sebesar 8%.
Dalam penerapannya, Accord 88 banyak mendapat kritikan karena memiliki beberapa kelemahan, antara lain: (i) kategori dalam pembobotan risiko sangat luas, misalnya kategori risiko untuk kredit kepada sektor swasta sebesar 100% tidak mencerminkan gradasi risiko kredit yang sebenarnya; (ii) mengabaikan implikasi diversifikasi portofolio; (iii) menciptakan pengaturan yang menempatkan bank pada posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan pesaing non bank; dan (iv) belum mencakup perkembangan risiko keuangan dalam pasar modal.
Didasari oleh beberapa pertimbangan tersebut, pada tahun 1996 Accord 88 disempurnakan melalui
Market Risk Amendments, yang bertujuan untuk menyesuaikan pengaturan capital requirements dengan
memasukkan unsur market risk yang terkait dengan equity, debt, interest rate dan commodity risk. Beberapa substansi dari Amendment tersebut antara lain: (i) perlunya memasukkan market risk dalam penghitungan permodalan, mengingat perbankan secara aktif terlibat dalam aktivitas pasar keuangan yang terpapar pada berbagai risiko, antara lain interest rate risk dan foreign exchange risk; (ii) memberikan peluang bagi perbankan untuk mengembangkan model sendiri dalam mengukur market risk atas persetujuan otoritas pengawas.
Selanjutnya pada bulan Juni 1999, Basel Committe on Banking Banking Supervision dari Bank for
International Settlements (BIS) mengeluarkan First Consultative Package on The New Accord yang
bertujuan untuk menggantikan Basel Accord 1988 (Accord 88) dengan kerangka pemikiran perhitungan permodalan bank yang lebih risk sensitive. Pada bulan Januari 2001, Basel Committe mengeluarkan
Second Consultative Package mengenai New Basel Capital Accord. Proposal tersebut bertujuan untuk
meningkatkan kesehatan dan keamanan sistem keuangan dengan lebih menitikberatkan perhatian pada manajemen dan pengawasan internal bank, supervisory review process dan market discipline. Berdasarkan
rencana kerja Basel Committee, New Accord secara resmi akan difinalisasikan dan dipublikasikan pada tahun 2003 dan selanjutnya diimplementasikan secara keseluruhan untuk negara-negara G-10 pada tahun 2009.
TUJUAN NEW BASEL CAPITAL ACCORD
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa Accord 88 menggunakan pendekatan umum (ones size
fits all) dalam menghitung kebutuhan permodalan bank. Elemen utamanya adalah credit risk (single
risk measure). Seiring dengan perkembangan sistem keuangan yang semakin dinamis dan kompleks,
volume dan jenis-jenis risiko yang dihadapi bank juga mengalami peningkatan. Sebagai dampaknya, bank membutuhkan teknik-teknik baru dalam menghitung kebutuhan modal yang lebih sesuai dengan profil risiko yang mereka hadapi (risk sensitive capital allocation). Mengantisipasi perkembangan tersebut,
Basel Committe mengeluarkan proposal New Basel Capital Accord (New Accord) dengan cakupan yang
lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan Accord 88. Konsep ini mencoba membuat garis hubungan yang lebih dekat antara permodalan dengan risiko-risiko yang dihadapi bank dengan memberikan beberapa alternatif pendekatan dalam pengukuran credit risk, market risk maupun operational risk. Proposal
New Accord juga memberikan peran pada supervisory review process dan market discipline sebagai
elemen utama dalam penetapan kebutuhan modal minimum bank. Substansi lainnya yang diperkenalkan dalam proposal New Accord adalah peranan yang lebih besar pada banks’ own assessment dalam mengukur setiap risiko yang terkait dengan kebutuhan permodalan mereka.
Tujuan utama dari proposal New Accord antara lain adalah meningkatkan keamanan dan kesehatan sistem keuangan dan sekurang-kurangnya mempertahankan tingkat permodalan yang berlaku saat ini; meningkatkan kesetaraan dalam persaingan (level playing field); menciptakan pendekatan yang lebih komprehensif dalam mengantisipasi risiko; memberikan beberapa alternatif pendekatan dalam menghitung kecukupan modal yang sesuai dengan tingkat risiko dari setiap posisi dan transaksi yang dilakukan bank; dan fokus pada internationally active banks, meskipun prinsip-prinsip dasarnya dapat diterapkan pada berbagai jenis bank dengan tingkat kerumitan dan kompleksitas yang berbeda-beda.
Proposal New Accord memiliki 3 pilar utama yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan diatas yakni: minimum capital requirements, supervisory review process,dan market discipline. Ketiga pilar tersebut merupakan satu paket dan tidak dapat diterapkan secara terpisah. Penerapan sebagian dari ketiga pilar tersebut tidak akan memberikan kontribusi yang memadai untuk mencapai tingkatan yang sehat dalam sistem keuangan. Dalam kaitan ini, jika suatu negara tidak dapat menerapkan ketiga pilar tersebut secara bersamaan maka langkah-langkah konstruktif menuju penerapan pilar-pilar yang lain
merupakan faktor penting yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menilai keamanan dan kesehatan sistem keuangan di negara tersebut. Namun kondisi tersebut diharapkan hanya bersifat sementara dan penerapan ketiga pilar tersebut secara bersamaan merupakan target utama dari setiap kebijakan.
POKOK-POKOK PERUBAHAN ACCORD 88 MENJADI NEW BASEL CAPITAL ACCORD
Dalam proposal New Accord, definisi modal serta persyaratan permodalan minimum sebesar 8%
(capital adequacy ratio ) tetap dipertahankan sebagaimana ditetapkan dalam Accord 88 termasuk
ketentuan mengenai Tier 2capital yang dapat diperhitungkan dalam modal bank (maksimum sebesar 100% dari Tier 1 capital). Perubahan terfokus pada aktiva tertimbang menurut risiko yang diperhitungkan dalam menghitung CAR yang tidak hanya mencakup credit risk tetapi juga meliputi market risk dan
operational risk, serta prinsip consolidated basis.
Perubahan utama dalam perhitungan credit risk adalah beberapa alternatif pendekatan yang disediakan yang mencakup standardised approach dan internal rating-based approach. Pendekatan
internal rating-based terdiri dari 2 menu pilihan yaitu foundation dan advanced. Disamping perubahan
dalam perhitungan credit risk, juga diperkenalkan credit risk mitigation techniques yang mencakup agunan, garansi dan credit derivatives, netting, serta assets securitisation. Hal ini diharapkan menjadi insentif bagi bank untuk meningkatkan manajemen dan pengelolaan risk mitigation factors.
Komponen lainnya yang dimasukkan dalam perhitungan kebutuhan modal bank adalah market risk
dan operational risk. Pendekatan dalam mengukur market risk menggunakan pendekatan yang
diperkenalkan dalam Amendment to the Capital Accord to Incorporate Market Risk tahun 1996. Sementara itu, untuk menghitung besarnya operational risk diberikan 3 alternatif pendekatan yaitu basic indicator
approach, standardised approach, dan advanced measurement approach. Basic indicator approach
menggunakan 1 indikator utama untuk menghitung capital charges terhadap seluruh aktivitas bank.
Standardised approach menggunakan beberapa indikator yang berbeda untuk masing-masing lini bisnis
bank sedangkan advanced measurement approach menggunakan internal loss data yang dimiliki bank untuk menghitung estimasi kebutuhan modal.
Perubahan lainnya dalam New Accord adalah pilar kedua dan ketiga yaitu supervisory review pro- cess dan market discipline. Supervisoryreview process mensyaratkan otoritas pengawas untuk memastikan bahwa setiap bank memiliki proses penilaian internal dalam menghitung kecukupan modalnya yang dikaitkan dengan profil risiko bank. Otoritas pengawas bertanggungjawab untuk mengevaluasi metode yang digunakan tersebut. Selanjutnya, terhadap proses internal tersebut dimungkinkan dilakukan
intervensi dan supervisory review jika diperlukan. Persyaratan utama dari penerapan pilar II ini adalah dialog yang intensif antara bank dengan otoritas pengawas.
Pilar ketiga dari proposal New Accord bertujuan untuk mendorong market discipline dengan memperluas aspek pengungkapan informasi (disclosure) bank. Pengungkapan informasi (disclosure) yang efektif merupakan hal yang mendasar guna memastikan bahwa para pelaku pasar dapat memahami profil risiko bank secara menyeluruh serta kecukupan modal yang disediakan.