Terkait dengan sistem pembayaran, Saat ini Bank Indonesia masih menghadapi risiko kredit sebagai akibat terjadinya saldo debet bank-bank yang mengalami kalah kliring. Meskipun hanya overnight, risiko kredit yang dihadapi oleh Bank Indonesia sebagai penyelenggara kliring masih relatif besar. Guna meminimalkan risiko tersebut, Bank Indonesia tengah mengkaji penerapan mekanisme Failure-to-Settle (FTS) sesuai dengan prinsip yang ditetapkan dalam Core Prin- ciples for Systemically Important Payment System (CP SIPS). FTS adalah suatu mekanisme agar apabila satu atau lebih peserta kliring gagal memenuhi kewajiban setelmen pada hari tertentu, maka setelmen tetap dapat dilaksanakan pada waktunya dengan menggunakan sumber dana yang disepakati. Sumber dana yang disepakati tidak berasal dari Bank Indone- sia (dalam bentuk overdraft), namun dikumpulkan dari bank-bank perserta kliring. Dengan demikian, segala risiko yang timbul sebagai akibat kliring sepenuhnya ditanggung oleh peserta kliring secara bersama-sama, sehingga BI terhindar dari risiko dimaksud.
Penerapan FTS merupakan salah satu tuntutan internasional sesuai dengan CP SIPS. CP SIPS mewajibkan kepada setiap penyelenggaraan kliring multilateral untuk memiliki kemampuan melaksanakan setelmen pada waktu yang telah ditetapkan dan untuk melakukan bail-out atas kegagalan setelmen salah satu atau lebih peserta kliring. Adapun minimum standar untuk bail out yang ditetapkan CP SIPS adalah sebesar nilai net debit terbesar (atau senilai Bilyet Saldo Kliring peserta kalah kliring). Nilai bail out tersebut dimanefestasikan dalam bentuk jaminan kliring baik dalam surat berharga, kas, atau dibagi secara prorata (loss-sharing) antar seluruh peserta kliring.
Sesuai dengan praktek internasional, pada saat ini terdapat beberapa alternatif metode FTS yang
juga dapat dipergunakan di Indonesia yaitu sebagai berikut:
1. Defaulter Pay
Dalam metode ini, kegagalan setelmen seluruhnya menjadi tanggung jawab peserta yang gagal (de- faulter). Metode ini nampaknya lebih fair dan tidak membebani peserta kliring yang lain. Kelemahannya adalah jika kegagalan setelmenjumlahnya sangat besar sedangkan kemampuan defaulter terbatas, maka de- faulter tidak akan mampu menutup seluruh kewajibannya dan pada akhirnya mengganggu sistem pembayaran. Sebagai konseksuensinya perlu disediakan agunan dalam jumlah besar yang harus disediakan oleh setiap peserta kliring.
2. Survivor Pay
Dalam metode ini, kegagalan setelmen menjadi tanggung jawab peserta yang tidak mengalami saldo negatif (survivors). Metode ini mempersyaratkan jumlah kolateral yang relatif lebih sedkit
dibandungkan dengan metode defaulters pay dan
probabilitas kegagalan setelmen juga lebih kecil. Namun demikian terdapat tantangan untuk untuk menetapkan bagian (share) kolateral setiap peserta secara fair.
3. Kombinasi Survivor dan Defaulter Pay
Dalam metoda ini, kegagalan setelmen pertama- tama ditanggung oleh defaulter sampai dengan batas maksimal kemampuan likuiditasnya, jika belum mencukupi baru ditanggung secara bersama-sama oleh survivors. Dengan metode ini, probabilitas terjadinya kegagalan setelmen lebih kecil sehingga kolateral yang dipersyaratkan juga lebih kecil dibandingkan dengan metode defaulter pay.
Terdapat beberapa alternatif sumber dana FTS yang sedang menjadi dipertimbangkan oleh Bank In- donesia, yaitu:
1. Cash deposit. Peserta kliring menyimpan sejumlah dana pada Bank Indonesia. Manfaat dari pendekatan ini adalah adanya kecepatan setelmen Namun demikian, terdapat kekhawatiran bank adalah bahwa dana yang disimpan di BI menjadi idle.
2. Pool of Collateral Peserta kliring menempatkan jaminan berupa SBI, Obligasi Pemerintah atau Surat Utang Negara lainnya yang sewaktu-waktu
dapat digunakan untuk menutup kekurangan dana (shortfall).
3. Loss-SharingPeserta kliring tidak menempatkan jaminan di penyelenggara, namun apabila terjadi default, maka yang akan menanggung adalah peserta sesuai dengan mekanisme yang disepakati, bukan penyelenggara.
4. Pemupukan DanaPeserta kliring mengumpulkan dana dengan cara “menabung” sehingga tercapai jumlah tertentu, minimum sebesar benchmark net debit terbesar. Adapun dana dari peserta kliring tersebut dikelola oleh Bank Indonesia.
Sumber Dana FTS Peserta kliring menyimpan sejumlah dana pada penyelenggara kliring (BI) Peserta kliring menyimpan jaminan berupa SBI/OP yang dapat digunakan untuk menutup kekurangan dana (shortfall) Apabila terjadi default peserta kliring akan menanggungnya, sesuai dengan proporsi dan mekanisme yang disepakati Peserta kliring mengumpulkan dana dengan cara
“menabung” sehingga tercapai jumlah tertentu, minimum sebesar net debit terbesar
KESIMPULAN
7
1. Stabilitas keuangan pada tahun 2002 secara umum
masih terjaga. Namun perlu diwaspadai beberapa indikasi yang dapat menimbulkan instabilitas jangka panjang yang disebabkan oleh :
• NPL (neto) yang belum dapat diturunkan
dibawah 5% untuk seluruh bank.
• Adanya potensi kenaikan NPL sebagai akibat adanya pembelian kembali unrestructured loan oleh bank-bank.
• Restructured loan yang ada diperbankan juga
akan dapat menjadi NPL apabila kondisi sector riil belum pulih dan adanya instabilisasi politik
• Sektor riil belum sepenuhnya pulih yang
ditandari dengan belum dapat diselesaikannya restrukturisasi perusahaan korporasi di BPPN maupun penutupan beberapa perusahaan PMA. • Terdapat potensi instabilitas politik berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu tahun 2004. Hal ini yang dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah sehingga dapat menimbulkan masalah likuiditas di industri perbankan sebagai akibat kenaikan suku bunga.
2. Permodalan perbankan secara agregat masih
berada diatas ketentuan wajib (Capital Adequacy Ratio (CAR) minimum 8% dari aktiva rata-rata
tertimbang menurut risiko). Namun demikian perlu diantisipasi adanya penurunan permodalan sebagai akibat:
• Terjadinya kenaikan NPL yang membutuhkan
pembentukan pencadangan (PPAP) sehingga menurunkan permodalan bank terutama unrestructured loan yang dibeli dari BPPN oleh beberapa bank.
• Rencana penyempurnaan ketentuan kebutuhan
modal minimum dengan memasukan unsur market risk di tahun 2003 dengan masa transisi akan dapat menurunkan CAR bank.
3. Hingga saat ini, belum terdapat kebijakan formal
dan mekanisme penyelesaian krisis yang memadai. Hal tersebut dapat menyebabkan penyelesaian krisis tidak efisien dan efektif serta dapat memicu krisis multi dimensi. Bank Indonesia telah menyusun kerangka kerja (blue-print) stabilitas system keuangan Indonesia termasuk kebijakan dan mekanisme penyelesaian krisis (crisis resolution) yang mutlak diperlukan untuk mendukung stabilitas keuangan di masa mendatang. Oleh karena itu, kerangka kerja tersebut perlu segera dibahas dengan berbagai lembaga terkait untuk merumuskannya menjadi suatu kebijakan formal.
A r t i k e l
1.
Meredesain Manajemen Krisis di Indonesia –
S. Batunanggar
2.
Market Risk di Perbankan Indonesia –
Wimboh Santoso & Enrico Hariantoro
3.
Analisis Empiris tentang Credit Migration
dalam Perbankan Indonesia –
Dadang Muljawan