BALAI BENIH IKAN SENTRA (BBIS) PURBOLINGGO
DAFTAR TABEL
1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit infeksi pada ikan mas mulai mewabah tahun 2001 di Jawa Barat yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas sp. seperti Aeromonas salmonicida.
Bakteri ini merupakan penyebab penyakit infeksi pada ikan-ikan salmonid yaitu penyakit furunculosis yang ditandai dengan munculnya hemoragi, luka berbentuk cekungan, mata menonjol dan warna tubuh menjadi gelap (Bernoth et al., 1997), namun laporan lain menunjukkan bahwa terdapat gejala infeksi bakteri A. salmonicida pada ikan–ikan cyprinid, yaitu penyakit carperytrodermatitis
(Irianto, 2005). Ikan yang terserang penyakit ini akan mengalami pendarahan pada bagian tubuh seperti dada, perut dan pangkal sirip, serta dapat menular dan dapat menyebabkan kematian pada ikan budidaya (Austin et al., 2007).
Penggunaan obat-obatan yang kadang tidak sesuai dengan dosis dapat menyebabkan dampak negatif seperti timbulnya resistensi pada bakteri, adanya residu dalam tubuh ikan, menyebabkan pencemaran, bahkan dapat menyebabkan penolakan ekspor oleh negara lain. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan pemberian vaksin (vaksinasi) (Astuti, 2015).
Vaksin adalah satu antigen yang biasanya berasal dari suatu jasad patogen yang telah dilemahkan atau dimatikan untuk meningkatkan ketahanan (kekebalan) ikan atau menimbulkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit tertentu. Vaksinasi merupakan proses pemberian vaksin ke dalam tubuh hewan (termasuk ikan) agar memiliki ketahanan terhadap serangan penyakit. Salah satu tujuan vaksinasi adalah untuk meningkatkan antibodi spesifik. Peningkatan antibodi tidak saja akan meningkatkan kemampuan pertahanan humoral tetapi juga pertahanan seluler. Respon humoral merupakan respon yang bersifat spesifik dilakukan oleh suatu substansi yang dikenal sebagai antibodi atau imunoglobulin, sedangkan respon seluler ikan bersifat non spesifik dilakukan oleh cell mediated immunity (Alifuddin, 2002; Soeripto, 2002).
Vaksin dapat diberikan sejak dini yaitu pada umur ikan minimal 3 minggu setelah menetas. (Tatang, 2014) menyatakan bahwa karena pada umur kurang dari
2 3 minggu, organ-organ yang berperan dalam sistem pembentukan antibodi belum sempurna. Organ-organ yang terlibat dalam sistem kekebalan tubuh ikan meliputi
reticulo endothelial (ginjal bagian depan, thymus, limfa, dan hati), limfosit, plasmosit dan fraksi serum protein tertentu. Dengan demikian bakteri patogen dapat menginfeksi ikan pada stadia larva.
Infeksi pada larva dapat dicegah melalui pemberian vaksin inaktif Whole cell A. salmonicida ke indukan yang siap memijah. Mor & Avtalion (1990) menyatakan bahwa pada golongan tilapia aktivitas antibodi yang terdapat pada embrio sama dengan induknya, sehingga dapat diasumsikan bahwa terdapat imunitas bawaan dari induk ke larva yang dihasilkan. Pernyataan tersebut sesuai dengan Davis et al., (2007) yang menyatakan bahwa vaksin yang disuntikkan ke indukan akan masuk ke dalam tubuh melalui darah dan ditransfer ke hati yang merupakan organ penting dalam pembentukan bakal kuning telur lalu terbawa ke dalam oosit dan terjadi proses vitelogenesis (pembentukan kuning telur). Penelitian sebelumnya membuktikan bahwa pemberian vaksin pada indukan dapat meningkatkan ketahanan tubuh benih ikan yang ditetaskan dengan SR mencapai 83% (Nur et al., 2004; Nur et al., 2006; Hadie et al., 2010)
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui pengaruh pemberian vaksin inaktif whole cell A. salmonicida
pada induk ikan mas (Cyprinus carpio) dengan dosis yang berbeda terhadap pembentukan titer antibodi pada induk dan larva.
2. Mengetahui pengaruh pemberian vaksin inaktif whole cellA. salmonicida
pada induk ikan mas (Cyprinus carpio) dengan dosis yang berbeda terhadap Survival rate (SR) dan Relative percent survival (RPS) larva dari hasil indukan yang divaksinasi
1.3 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai langkah awal dalam pengembangan vaksin A. salmonicida serta diharapkan dapat memberi tambahan informasi ilmiah
3 kepada pembudidaya ikan, serta pihak-pihak yang memerlukan tentang vaksinasi ikan, khususnya pada ikan mas terhadap infeksi A. salmonicida.
1.4 Kerangka Pemikiran
Penyakit bakterial yang disebabkan oleh A. salmonicida masih menjadi masalah bagi pembudidaya ikan mas. Penyakit ini dapat menular bahkan menyebabkan kematian pada ikan budidaya, terutama golongan cyprinid (Irianto, 2005; Austin et al., 2007). Tatang (2014) menyatakan bahwa, pada umur kurang dari 3 minggu, organ-organ yang berperan dalam sistem pembentukan antibodi belum sempurna, sehingga patogen dengan mudah dapat menginfeksi benih ikan mas.
Penggunaan obat-obatan saat ini sebagai metode pengobatan juga sudah tidak dianjurkan karena menyebabkan dampak negatif seperti timbulnya resistensi pada bakteri, adanya residu dalam tubuh ikan, menyebabkan pencemaran, bahkan dapat menyebabkan penolakan ekspor oleh negara lain. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan pemberian vaksin (vaksinasi) (Astuti, 2015).
Aplikasi pemberian vaksin inaktif whole cell A. salmonicida pada indukan ikan mas yang sudah matang gonad pada tahap oosit primer dilakukan dalam penelitian ini sebagai bentuk pencegahan awal agar larva memiliki kekebalan spesifik bawaan dari induk yang divaksinasi (Gambar 1). Hal ini sesuai dengan pendapat (Davis et al., 2007; Mor & Avtalion, 1990).
Respon imun spesifik dapat dilihat pada uji titer antibodi induk maupun larva. Apabila terdapat reaksi antara antigen A. salmonicida dan antibodi (reaksi aglutinasi) pada uji titer antibodi induk maka dapat dipastikan larva yang dihasilkan juga memiliki imunitas spesifik sama dengan induknya. Respon lainnya dapat diamati dari tingkat kelangsungan hidup dan tingkat kelangsungan hidup relatif. Reaksi hasil uji dapat dilihat setelah uji tantang larva dengan bakteri
A. salmonicida. Gudkovs (1988) menjelaskan bahwa, tingkat kelangsungan hidup (SR) rata-rata ikan yang baik berkisar 73,50 - 86,60 %. Sedangkan untuk RPS yaitu > 60%.
4 1.5 Hipotesis
Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah : Uji Titer Antibodi Induk dan Larva
H0 :µ1=µ2 Tidak ada perbedaan pengaruh pemberian dosis vaksin inaktif
whole cellA. Salmonicida yang berbeda pada induk ikan mas (C. carpio) terhadap titer antibody pada induk dan larva.
H1 :µ1 ≠ µ2 Sedikitnya ada satu perlakuan pemberian dosis vaksin inaktif whole cell A. salmonicida yang berbeda pada induk ikan mas (C. carpio) yang berpengaruh terhadap peningkatan titer antibodi induk dan larva
Uji Tantang Larva
H0 : Tidak ada perbedaan pengaruh pemberian dosis vaksin inaktif whole cell A. salmonicida yang berbeda pada induk ikan mas (C. carpio) terhadap SR dan RPS larva.
Pemberian vaksin inaktif A.salmonicida pada indukan ikan mas yang siap memijah
Penurunan sifat kekebalan tubuh pada larva ikan mas
Penyakit bakterial A. salmonicida sering menyerang larva ikan mas
Peningkatan respon imun spesifik, SR dan RPS larva ikan mas Gambar 1. Kerangka Pemikiran
5 H1 : Ada pengaruh setidaknya satu pemberian dosis vaksin inaktif whole cell A. salmonicida pada induk ikan mas (C. carpio) terhadap SR dan RPS larva.
6 II. METODE PENELITIAN
2.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2016 bertempat di Balai Benih Ikan Sentra (BBIS) Purbolinggo Lampung Timur sebagai lokasi pemeliharaan induk, kegiatan vaksinasi, uji titer antibodi dan uji tantang larva.
Pembuatan vaksin dilakukan di Laboratorium Budidaya Perikanan, Jurusan Perikanan dan Kelautan, Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Alur kegiatan penelitian secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 1.
2.2 Alat dan Bahan Penelitian
Alat dan bahan yang digunakan untuk mendukung penelitian ini,disajikan pada (Tabel 1 dan Tabel 2):
Tabel 1.Alat Penelitian
No Alat Spesifikasi Alat Kuantitas
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kolam induk Kolam pemijahan Aquarium larva Petridish Tabung reaksi Erlenmeyer Bunsen Autoklaf Hot strirer plate Alumunium foil Timbangan digital Inkubator Refrigerator LaminarAir flow Bak Aerator Sentrifuge Jarum ose Spectofotometer Kakaban Spuit Microdulution Plate 96 Kertas saring Tabung eppendorf Mikropipet pH meter DO meter Termometer
- Induk betina: 1x1 mdengan hapa - Induk jantan: kolam besar.
1x1 m 60cm x 80cm x 40cm Diameter:120mm Tinggi : 20mm 10ml 250ml Spirtus WISERCLAVE STUART Klin Pak 8m x 45m EP 1200C MEMMERT FOC 2151 NUAIRE, Series 11 30 L
Air pump kit aRotina35 - Spectronik-20 Tali rapiah 26 G 1 ml IWAKI 50cm - SOCOREX - - - 12 2 12 12 10 10 3 2 1 1 2 1 1 1 1 4 4 1 2 1 12 30 4 1 30 1 1 1 1
7 Tabel 2. Bahan Penelitian
No Bahan Spesifikasi Bahan Kuantitas
1