Mahasiswa sebagai tunas harapan bangsa diharapkan dapat mempertahankan eksistensi bangsa di era yang akan datang. Mahasiswa sudah seharusnya menjadi fokus utama guna mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas agar mereka dapat bersaing dalam era sekarang ini dan era yang akan datang. Mahasiswa dikatakan oleh Susetyo (2006) sebagai salah satu komponen generasi muda yang sedang kuat-kuatnya mengembangkan diri dengan belajar di perguruan tinggi, berkembang dalam budaya akademis yang kritis, asertif, terbuka, dan berorientasi pada prestasi.
Secara rinci kebutuhan mahasiswa guna kelaksanaan melancarkan pendidikan sangat beragam dan harus terpenuhi agar kebutuhannya akan pendidikan tidak terganggu, di antaranya seperti membayar UKT (Uang Kuliah Tunggal), membeli alat tulis lengkap, membeli buku teks/buku tulis, biaya fotokopi, biaya pelatihan, biaya riset/penelitian, biaya praktek bidang studi, akses internet, dan berbagai pembiayaan lain untuk memenuhi tuntutan pendidikan khususnya di perguruan tinggi (Quipper, 2020). Terlebih tambahan untuk biaya hidup mahasiswa, seperti biaya makan.
Kebutuhan hidup yang kian meningkat pula membuat mahasiswa harus mencari cara untuk mencukupi kebutuhannya untuk biaya pendidikan dan juga untuk biaya hidupnya. Beberapa mahasiswa mencari jalan keluar dengan cara bekerja.
Fenomena peran ganda mahasiswa, yakni kuliah sambil bekerja sudah banyak ditemukan (Robert, 2012). Umumnya mahasiswa akan memilih bekerja dengan sistem kontrak dalam jangka pendek (short-term contract) dan kerja paruh waktu (part-time jobs) (van der Meer & Wielers, 2001). Namun mahasiswa akan lebih memilih kerja paruh waktu dikarenakan lebih fleksibel dan tipe pekerja ini tidak memiliki kontrak kerja (Mardelina, 2017). Selain itu, bekerja paruh waktu memiliki waktu yang lebih sedikit dari itu, biasanya per hari hanya membutuhkan waktu sekitar 3-5 jam.
Persentase pekerja paruh waktu di Indonesia berdasarkan survei angkatan kerja nasional pada tahun 2020 mengalami peningkatan dari 23,83% menjadi 27,09%
di tahun 2021 dari total angkatan kerja (Badan Pusat Statistik, 2021). Badan Pusat Statistik mencatat, tingkat pekerja paruh waktu di Indonesia mencapai 27,09% pada Februari 2021. Secara rinci, perempuan yang bekerja paruh waktu mencapai 37,1%
pada Februari 2021, naik 0,81% dibandingkan pada Agustus 2020. Artinya 37 dari 100 perempuan yang bekerja merupakan pekerja paruh waktu. Sedangkan, laki-laki yang menjadi pekerja paruh waktu tercatat sebesar 20,40% pada Februari 2021.
Sebagaimana dengan perempuan, persentase laki-laki yang bekerja paruh waktu juga mengalami peningkatan sebesar 1,01%. Jumlah jam kerja yang dilakukan oleh pekerja paruh waktu juga sebanding dengan pendapatan perbulan (upah minimum) yang berjumlah Rp 4.130.279,00 di kota Batam (Badan Pusat Statistik, 2020).
Saat menjalani masa perkuliahan sambil bekerja, mahasiswa memiliki beberapa tuntutan yang harus dihadapi dalam kesehariannya. Tuntutan tersebut dapat berupa keharusan untuk menjalankan tugas yang lebih banyak, keharusan untuk mengelola waktu dengan tepat, kemampuan untuk membagi perhatian dan energi untuk menuntaskan tugas di pekerjaan maupun kampus, serta kemampuan untuk menyesuaikan diri di lingkungan yang berbeda. Muniarsih (2013) juga menyebutkan bahwa tuntutan berkesinambungan yang dialami oleh mahasiswa bekerja dapat menimbulkan permasalahan, seperti permasalahan dalam pergaulan atau permasalahan keluarga. Mahasiswa yang hanya kuliah saja memiliki waktu yang lebih luang untuk menyelesaikan tugas, laporan atau belajar. Berbeda dengan mahasiswa bekerja yang memiliki waktu terbatas, karena terlalu banyak kegiatan yang dijalani.
Sehubungan dengan hal itu, mahasiswa tidak terlepas dari masalah yang bersumber dari tuntutan dan dapat mempengaruhi kondisi psikologisnya. Dengan jumlah jam kerja di bawah 35 jam per minggunya, mahasiswa mengalami dampak yang dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Penelitian dilakukan pada populasi mahasiswa di Inggris yang mengungkapkan bahwa mahasiswa yang bekerja memiliki tingkat kesehatan mental yang rendah (Roberts dkk, 1999). Roberts melaporkan bahwa kesehatan mental yang buruk juga dapat dipengaruhi oleh jumlah jam kerja yang lebih banyak dari biasanya. Demikian pula, sebuah laporan oleh Kepala Layanan Konseling Universitas (Association for University and College Counselling, 1999)
menyatakan untuk sejumlah besar mahasiswa, beban tambahan dari pekerjaan paruh waktu dapat memicu gangguan psikologis. Lebih lanjut, Unite (2005) melaporkan bahwa mahasiswa merasa stres setiap mengikuti perkuliahan. Kondisi pandemi COVID-19 juga turut memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental mahasiswa.
Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian Browning dkk (2021) terhadap 2.534 mahasiswa di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa mahasiswa menghadapi masalah depresi, kecemasan, dan gangguan mental lainnya pada tingkat yang lebih tinggi dibanding masa-masa sebelum COVID-19 menyerang.
Donsu (2017) menyebutkan bahwa tuntutan adalah sesuatu yang jika tidak dipenuhi akan menimbulkan konsekuensi yang tidak menyenangkan bagi individu, seperti stres. Sebelumnya, oleh Lazarus (1976) berpendapat stres terjadi jika seseorang mengalami tuntutan yang melampaui sumber daya yang dimilikinya untuk melakukan penyesuaian diri, hal ini berarti bahwa kondisi stres terjadi jika terdapat kesenjangan atau ketidakseimbangan antara tuntutan dan kemampuan. Dalam lingkungan kerja, stres merupakan pengalaman yang paling sering dialami oleh para mahasiswa. Hal tersebut dikarenakan banyaknya tuntutan akademik yang harus dihadapi, seperti ujian, tugas-tugas, dan lain sebagainya. Sejumlah peneliti telah menemukan bahwa mahasiswa yang mengalami stres akan cenderung menunjukkan kemampuan akademik yang menurun (Rafidah, Azizah, Norzaidi, Chong, Salwani, &
Noraini, 2009; Talib & Zia-Ur-Rehman, 2012), kesehatan yang memburuk (Chambel
& Curral, 2005), depresi (Das & Sahoo, 2012), dan gangguan tidur (Waqas, Khan, Sharif, Khalid, & Ali, 2014).
National Center of Education Statistics (NCES) dalam Metriyana (2014: 10) juga menemukan bahwa mahasiswa yang bekerja lebih dari 16 jam ke atas memiliki pengaruh terhadap prestasi yang lebih rendah dibanding yang tidak bekerja. Menurut Gleason, 1993 dalam Metriyana (2014: 10) bahwa mahasiswa yang kuliah sambil bekerja cenderung mendapat gaji akan tinggi, memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan setelah lulus, namun hal tersebut dapat mahasiswa kekurangan waktu dan sebagai hasilnya mereka menerima nilai yang lebih rendah.
Menurut National Health Ministries (dalam Putri, 2016), mahasiswa memiliki banyak penyebab sumber stres, antara lain adalah tekanan akademis, perubahan lingkungan
menghadapi individu-individu baru dengan beragam ide, mulai membuat keputusan yang besar, mengenal identitas dan orientasi seksual, dan mulai mempersiapkan kehidupan setelah kuliah.
Survei awal yang dilakukan oleh peneliti juga dapat memberikan informasi terkini dari mahasiswa yang bekerja terkait dengan kondisi yang mereka alami.
Sebanyak dua belas mahasiswa yang bekerja merasa kelelahan dengan aktivitas yang mereka lakukan setiap harinya dan merasa kesulitan dalam membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Proses yang dialami ketika dua peran itu terjadi, dapat menjadikan mahasiswa cenderung merasa kelelahan. Hal tersebut diprediksikan dapat menurunkan performa individu sebagai mahasiswa dan juga produktivitasnya sebagai karyawan (Ginting, 2019).
Lebih lanjut mengenai survei di atas, beberapa mahasiswa juga merasa bahagia dan termotivasi dalam melaksanakan keseharian mereka. Namun sembilan dari dari dua puluh dua mahasiswa belum merasa puas dengan apa yang mereka miliki, dengan alasan masih banyaknya kebutuhan yang harus mereka cukupi baik itu kebutuhan sendiri, keluarga, dan masih jauh dari harapan yang diinginkan. Dua mahasiswa mengungkapkan ketidakpuasan yang mereka rasakan sudah menjadi kodratnya sebagai manusia yang tidak akan pernah puas. Hal tersebut tidak sejalan dengan pendapat Watkins dkk (2003) yang menyatakan bahwa gratitude yang dimiliki oleh seseorang dapat mengindikasikan seberapa jauh ia merasa bahagia dilihat dari kepuasan hidupnya.
Terlepas dari masalah yang dihadapi oleh mahasiswa, banyak hal yang membuat mahasiswa untuk tetap bertahan melakukan pekerjaan paruh waktu.
Menurut Jacinta (2002) yang mendasari seorang mahasiswa untuk bekerja diantaranya adalah kebutuhan finansial, kebutuhan sosial relasional, dan kebutuhan aktualisasi diri. Penelitian Dirmantoro (2015), mahasiswa yang aktif sebagai peserta didik dan disamping itu juga menjalankan aktivitas bekerja, bersedia menjalankan usaha atau berusaha mengerjakan suatu tugas berupa karya agar dapat mendatangkan upah, uang, kepuasan, atau barang yang dapat dinikmati.
Untuk mampu memberikan intervensi yang tepat kepada individu diperlukan data yang akurat mengenai kondisi psikologis. Fredrickson (2009) telah meneliti sepuluh macam emosi positif, antara lain sukacita (Joy), rasa syukur (Gratitude), rasa
damai (Serenity), minat (Interest), harapan (Hope), bangga (Pride), gembira (Amusement), inspirasi (Inspiration), terpesona/takjub (Awe), dan cinta (Love). Pada penelitian ini akan berfokus pada gratitude. Orang-orang dengan grateful personality menjadikan gratitude sebagai salah satu nilai yang memandu hidupnya, sehingga dapat mensyukuri segala hal yang baik, juga hal yang tidak baik, di saat senang maupun susah. Menurut Seligman & Csikszentmihalyi (2000), tujuan pendekatan psikologi positif ini adalah untuk mengubah fokus ilmu psikologi, dari yang hanya terpaku dalam perbaikan hal buruk menjadi berfokus pada pemaksimalan kualitas positif yang dimiliki manusia.
Menurut Park, Peterson, dan Seligman (2004), salah satu karakter positif yang paling memberikan keuntungan bagi diri individu adalah gratitude. Cicero (1851;
dalam Emmons & Tsang, 2004) juga mengatakan bahwa gratitude bukan hanya keutamaan yang paling besar, tapi merupakan induk dari seluruh keutamaan. Selain itu, gratitude merupakan hal yang dianggap bernilai tinggi dalam ajaran agama Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, dan Budha (Carmen & Streng, 1989; dalam Emmons
& McCullough, 2003). Gratitude diartikan sebagai perasaan yang menyenangkan dan penuh terima kasih sebagai respon dari penerimaan kebaikan yang membuat seseorang menyadari, mengerti, dan tidak menyalahgunakan pertukaran keuntungan dengan orang lain (McCullough, Kimedorf, & Cohen, 2008).
Lebih lanjut mengenai gratitude, Wood (dalam Kim-Prieto, 2014) berpendapat bahwa gratitude adalah karakter luas yang meliputi orientasi hidup yang lebih besar terhadap pembentukan dan penghargaan hal positif. Individu dengan orientasi hidup bersyukur melihat dunia melalui sebuah lensa yang cenderung untuk memperjelas pikiran, emosi, dan perilaku yang berhubungan dengan gratitude.
Hal tersebut juga sejalan dengan pendapat McCullough, dkk (2002) yang menyimpulkan bahwa gratitude mampu menunjukkan dasar dari karakter kepribadian karena mampu mengungkap dengan jelas mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan kepribadian manusia dan fungsi sosial. Orang-orang yang skor grateful personality-nya lebih tinggi menyatakan bahwa mereka lebih mudah memaafkan dan lebih puas akan hidup (Adler & Fagley, 2005), lebih banyak merasakan emosi positif daripada negatif dibandingkan dengan mereka yang skornya lebih rendah
Gratitude juga memberikan banyak manfaat seperti mampu menurunkan gejala depresi, terhindar dari stres, serta meningkatkan well-being dan tingkat religiusitas pada individu (Harbaugh & Vasey, 2014, hlm. 535; Watkins, dkk, 2003, hlm. 440; dan ; Wood, Maltby, Gillett, Linley, & Joseph, 2008, hlm. 854). Makhdlori (2007) berpendapat bahwa dengan bersyukur, individu dapat lebih tenang dalam menghadapi masalah.
Sehubungan dengan paragraf di atas, diperlukan penelitian yang bertujuan memberikan gambaran mengenai gratitude pada mahasiswa yang bekerja. Penelitian sebelumnya mengenai gratitude telah dilakukan, beberapa di antaranya adalah penelitian oleh Laksana (2017) yang memberikan gambaran gratitude pada masyarakat Aceh. Penelitian lain juga dilakukan oleh Sutisna (2011) yang juga memberikan gambaran gratitude pada tunanetra. Juga penelitian oleh Aniyatussaidah dkk (2021) terkait gratitude di masa pandemi pada usia produktif dan dapat disimpulkan bahwa tingkat gratitude usia produktif di Jakarta memiliki tingkat gratitude tinggi dalam menghadapi masa pandemi COVID-19. Dalam hal ini, penelitian mengenai Gambaran Gratitude pada Mahasiswa yang Bekerja Paruh Waktu sangat diperlukan untuk penelitian lebih lanjut terkait gratitude.
Dari uraian di atas, peneliti ingin melihat sebuah fenomena gratitude yang tetap dilakukan meskipun dalam kendala yang tengah dihadapi oleh mahasiswa yang bekerja paruh waktu. Penelitian ini diangkat dengan judul “Gambaran Gratitude pada mahasiswa yang bekerja paruh waktu.”