• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Alat Ukur Skala Syukur Versi Dewasa (SS-VD)

Skala Syukur-Versi Dewasa dikembangkan oleh peneliti dan dosen pembimbing yakni Dina Nazriani, M.A (2021). Skala ini menerapkan 2 (dua) metode pengukuran gratitude yang direkomendasikan oleh Watkins (2014). Pertama, metode self-report akan dicapai dengan pembuatan seperangkat pernyataan dan respon.

Kedua, metode pengamatan perilaku akan dicapai dengan memberikan pertanyaan mengenai perilaku-perilaku yang relevan dengan gratitude. Daftar perilaku ini berasal dari sintesis hasil-hasil penelitian sebelumnya mengenai gratitude. Syukur adalah

penilaian terhadap kondisi internal dan eksternal yang terjadi pada individu adalah berasal dari Tuhan. Syukur terdiri dari 3 dimensi yaitu kognitif, afektif dan konatif yang setiap dimensinya memiliki indikator yang berbeda sebagai berikut:

a. Dimensi kognitif

Syukur dalam perspektif kognitif adalah keyakinan individu bahwa Tuhan adalah penyebab dari segala hal yang terjadi baik internal maupun eksternal. Individu yang bersyukur mengetahui hal apa saja yang perlu disyukuri (C1) dan mengasosiasikan hal-hal yang terjadi sehari-hari dengan kebersyukuran (C2). Individu juga membiasakan diri untuk bersyukur (C3) dan merincikan hal-hal yang perlu disyukuri dalam semua hal (C4). Individu dapat menanggulangi kejadian buruk dengan mengkaitkan kepada syukur (C5) dan membandingkan setiap kejadian untuk mendapatkan rincian mengenai hal yang perlu disyukuri (C6). Dimensi kognitif terdapat pada aitem-aitem sebagai berikut:

1. Kesehatan adalah rezeki dari Tuhan.

2. Keluarga adalah pemberian Tuhan yang dapat menggantikan harta yang paling mahal sekalipun.

3. Sepertinya tidak ada hal yang secara khusus diberikan Tuhan kepada saya 4. Tidak ada teman yang perlu saya apresiasi

5. Saya bisa bersekolah karena lingkungan saya mendukung 6. Semua yang saya miliki hari ini adalah kebaikan Tuhan 7. Kondisi perekonomian keluarga adalah anugerah dari Tuhan 8. Semua hal saya dapatkan semata-mata karena kerja keras.

9. Bekerja dengan baik sudah cukup mendatangkan kehidupan yang baik 10. Orang tua yang kaya dengan jabatan yang bagus adalah kunci kesuksesan.

11. Ibadah rutin yang saya lakukan adalah bentuk terima kasih kepada Tuhan 12. Saya percaya Tuhan menjaga saya setiap kali saya keluar rumah

13. Saya yakin dengan selalu mengucapkan kata pujian kepada Tuhan, semua urusan saya akan lancar

14. Ibadah rutin tidak perlu, yang paling penting adalah percaya pada Tuhan.

15. Saya tetap sejahtera, meskipun sering melupakan ibadah.

16. Ketika saya mendapatkan sesuatu yang saya inginkan saya akan berusaha

17. Ketika uang saya dicuri, saya akan berpikir bahwa saya kurang sedekah 18. Ketika saya tertimpa bencana, saya bersyukur masih diberi keselamatan 19. Saya senang dengan gadget yang saya miliki walaupun ketinggalan zaman 20. Ketika rumah saya kebanjiran saya akan mengutuk hujan

21. Saya akan mensyukuri apapun yang terjadi kepada saya

22. Ketika saya mengalami kejadian buruk saya akan mencoba mengikhlaskannya 23. Ketika hal buruk menimpa saya, saya akan menanam kan di benak saya bahwa

semua akan berlalu

24. Saya beranggapan segala sesuatu nya yang terjadi karena kehendak saya sendiri

25. Ketika kejadian buruk menimpa saya, saya akan terpuruk dan mengutuk diri saya sendiri

26. Saya mengingat beberapa kejadian yang membuat saya patut bersyukur

27. Ketika melihat orang yang lebih sulit hidupnya, saya berpikir Tuhan sangat baik kepada saya

28. Setiap kejadian baik yang saya alami, membuat saya semakin bersyukur 29. Saya bersyukur setiap kali saya mengingat kejadian baik ataupun buruk yang

pernah terjadi pada saya

30. Saya tidak suka membandingkan kejadian yang saya alami untuk disyukuri b. Dimensi afektif

Syukur dalam perspektif afektif adalah kondisi emosional subjektif individu terhadap peran Tuhan dalam segala hal yang terjadi baik internal maupun eksternal.

Afek adalah perubahan perasaan yang terjadi ketika individu menanggapi stimulus yang berkaitan dengan peran aktif Tuhan dalam kehidupan. Individu yang merasa bersyukur dapat menerima kehidupan sebagai pemberian dari Tuhan (A1). Individu mengekspresikan emosi positif dalam kehidupan sehari-hari (A2) dan memiliki keyakinan bahwa segala kebaikan dan keburukan adalah hal yang perlu disyukuri (A3). Individu mampu mengelola emosi negatif dengan sebaik mungkin (A4) serta mengubah diri menjadi lebih baik (A5). Dimensi afektif terdapat pada aitem-aitem sebagai berikut:

31. Apa yang saya dapat hari ini, harus saya syukuri

32. Saya menikmati aktivitas keseharian saya walau terkadang sulit

33. Kehidupan yang saya jalani saat ini merupakan hadiah terbaik dari Tuhan 34. Saya mengeluhkan apa yang telah Tuhan berikan dalam kehidupan saya 35. Terkadang saya merasa sia-sia dalam bekerja karena keinginan saya tidak diberikan Tuhan

36. Saya bangga pada hasil yang sudah saya capai

37. Saya bersyukur masih diberikan oksigen gratis sampai saat ini 38. Saya mencintai pekerjaan yang sedang saya kerjakan

39. Ketika saya dihadapkan pada situasi yang rumit saya selalu tenang menghadapinya

40. Saya senang membantu orang-orang di sekitar saya

41. Saya percaya segala sesuatu yang sudah ditakdirkan untuk saya itu yang terbaik 42. Saya merasakan hikmah Tuhan dalam setiap kegagalan yang terjadi

43. Saya menikmati setiap kejadian yang terjadi dalam hidup saya 44. Saya kurang menghargai hal yang terjadi dalam hidup saya

45. Saya meremehkan perbuatan baik dari orang yang menolong saya.

46. Saya merasa senang melakukan aktivitas yang sama setiap hari 47. Saya menghargai pekerjaan yang diberikan kepada saya

48. Saya harus bertanggung jawab penuh dalam mengerjakan pekerjaan saya 49. Saya mengeluh dalam melakukan aktivitas yang sama setiap harinya 50. Saya meremehkan hasil pekerjaan saya yang kurang memuaskan 51. Saya selalu semangat dalam mengerjakan tiap hal yang saya lakukan 52. Saya tidak jenuh dalam mengerjakan aktivitas saya

53. Saya tidak berlarut-larut dalam perasaan bersalah yang saya alami 54. Saya bersikap sombong ketika mendapat pencapaian yang bagus 55. Saya memperhatikan kekurangan diri dibandingkan kemampuan diri c. Dimensi Konatif

Syukur dalam perspektif konatif adalah kecenderungan berperilaku individu berkaitan dengan peran Tuhan yang ada dalam segala hal yang terjadi baik internal maupun eksternal. Individu yang bersyukur dapat mengatur kegiatan sehari-hari agar mampu melakukan kegiatan untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan (K1).

Individu melatih diri sendiri untuk selalu melakukan kegiatan yang berasosiasi dengan

berasosiasi dengan syukur (K3) serta mengungkapkan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari (K4). Dimensi konatif terdapat pada aitem-aitem sebagai berikut:

56. Saya sering meluangkan waktu untuk berdoa kepada Tuhan sebelum menjalankan aktivitas sehari-hari

57. Saya bekerja sebaik-baiknya karena pekerjaan sangat berharga 58. Sebelum menyantap makanan, saya akan berdoa terlebih dahulu 59. Saya sering menghujat Tuhan ketika keinginan saya tidak terpenuhi 60. Saya hanya berdoa kepada Tuhan saat keinginan saya terpenuhi

61. Ketika saya mendapatkan rezeki, saya akan beramal kepada orang yang kurang mampu

62. Saya akan menolong orang lain karena saya pernah menerima bantuan

63. Saya membantu orang lain dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan imbalan 64. Rezeki yang saya terima adalah hasil kerja keras saya dan layak dinikmati sendiri 65. Saya sering mengeluh ketika saya mengalami kesulitan

66. Ketika ada waktu luang saya lebih suka membantu orang lain daripada berdiam diri

67. Saya memilih belajar daripada bermain game untuk meningkatkan pengetahuan saya

68. Ketika saya sedang stress saya memilih istirahat daripada menggunakan obat-obatan

69. Ketika ada waktu luang saya lebih suka berdiam diri daripada membantu orang lain

70. Saya memilih bermain game daripada belajar

71. Saya mengucapkan terima kasih ketika menerima pertolongan orang lain 72. Saya senang ketika bisa membantu orang lain

73. Ketika mendapatkan kebaikan saya bersyukur kepada Tuhan 74. Saya menjaga sesuatu yang diberikan kepada saya

75. Saya merasa pertolongan yang saya dapatkan merupakan hal yang biasa saja Skala Syukur-Versi Dewasa pada awalnya terdiri dari 75 aitem dengan 30 aitem pada dimensi kognitif, 25 aitem pada dimensi afektif dan 20 aitem pada dimensi konatif. Kemudian, peneliti akan melakukan uji coba aitem tersebut melalui evaluasi psikometri terdiri dari analisis aitem (daya beda aitem), validitas dan reliabilitas yang

diharapkan memperoleh jumlah aitem sebanyak 15 aitem dengan 6 aitem pada dimensi kognitif, 5 aitem pada dimensi afektif dan 4 aitem pada dimensi kognitif.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif. Menurut Hadi (2000), metode deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan suatu fenomena tanpa bertujuan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan, menggambarkan dan mendeskripsikan gratitude pada mahasiswa yang bekerja paruh waktu.

Dokumen terkait